Mar'ah Gallery

Mar'ah Gallery Mencoba Memberikan Manfaat ke Yang Laen

Selamanya Dalam Genggaman (Versi Harapan)Sinar sore menerobos gorden, menimpa dua pasang tangan yang saling menggenggam....
23/05/2026

Selamanya Dalam Genggaman
(Versi Harapan)

Sinar sore menerobos gorden, menimpa dua pasang tangan yang saling menggenggam. Keriput, urat menonjol, ada bekas luka di punggungnya. Tangan Pak Harto dan Bu Lastri. 52 tahun pernikahan terukir di sana.

"Pak..." Bu Lastri menahan tangis. Sudah 3 hari suaminya koma. Dokter bilang harapan tipis. Kanker paru-paru itu menggerogoti tubuhnya.

Tiba-tiba, jari Pak Harto bergerak. Pelan, tapi Bu Lastri merasakannya.

"Las..." suara itu serak, nyaris tak terdengar. Bu Lastri tersentak. "Pak? Bapak sadar?"

Mata Pak Harto terbuka sedikit. "Maafin bapak ya... bapak mimpi buruk. Mimpi ninggalin kamu sendirian."

Air mata Bu Lastri tumpah seketika. "Nggak, Pak. Bapak nggak boleh pergi. Janji kita kan menua sampai jadi kakek-nenek buyut."

Flashback 1972.
"Dik Lastri, aku nggak punya apa-apa," kata Harto muda. "Kalung lamaran ini cuma 2 gram. Tapi aku janji, aku kerja sekuat tenaga buat bahagiakan kamu."

Dan janji itu ia tepati. Tangan inilah yang menarik Lastri dari banjir 1978. Yang memeluknya saat anak pertama mereka, Budi, meninggal. Yang jadi kuli bangunan biar tiga anaknya sarjana.

Kembali ke sore ini.

"Bapak kira udah waktunya," bisik Pak Harto. Napasnya masih berat. "Bapak capek, Las. Tapi pas bapak mau pergi, bapak denger kamu manggil. Kamu bilang belum ridho."

"Karena memang belum!" Bu Lastri menggenggam tangan itu lebih erat. "Bapak belum nepatin janji. Katanya mau lihat Cucu kita nikah tahun depan. Katanya mau ngajarin ngaji cicit kita."

Pak Harto tersenyum lemah. "Bapak takut, Las. Takut ngerepotin kamu kalau sakit-sakitan terus."

"Sejak kapan bapak ngerepotin?" Bu Lastri mencium punggung tangan itu. "52 tahun bapak yang urus ibu. Sekarang gantian ibu yang rawat bapak. Itu namanya cinta, Pak. Bukan repot."

Pintu kamar terbuka. Dokter masuk dan melongo lihat Pak Harto sadar. "Subhanallah, Pak. Ini keajaiban. Tadi pagi organ bapak udah mulai gagal..."

Pak Harto melirik istrinya. "Bukan keajaiban, Dok. Ini doa istri saya yang nggak mau saya pergi."

Seminggu kemudian, Pak Harto sudah bisa duduk di kursi roda. Di pangkuannya, ada kotak beludru kecil.

"Buka, Las," katanya malu-malu.

Isinya kalung emas 20 gram.

"Bapak nabung dari 10 tahun lalu. Katanya mau nepatin janji kasih kalung yang lebih bagus dari 2 gram. Maaf lama ya... bapak pikir nggak bakal sempat ngasihnya."

Bu Lastri memakai kalung itu sambil nangis. "Bapak curang. Bikin ibu nangis terus."

Setahun kemudian, di pernikahan cucu pertama mereka, Pak Harto berdiri pelan pakai tongkat. Dia jadi wali nikah. Suaranya bergetar waktu bilang "Saya nikahkan...".

Dan di barisan depan, Bu Lastri menggenggam tangan keriput itu lagi. Sama seperti di foto. Sama seperti 53 tahun lalu.

Karena cinta yang tulus nggak kenal kata menyerah. Bahkan maut pun disuruh nunggu dulu.

04/12/2025

Hidup itu lebih ringan dan terasa plong jika alami dan jujur apa adanya...

Address

Jalan Hastrodirono 40
Kudus
59382

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Mar'ah Gallery posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share