29/06/2026
Mondy: Cinta Segitiga antara Ketulusan, Pengertian, dan Kecemburuan
Sesama anak Kalijaya, ada malam yang hanya pantas dikenang. Malam ketika kami duduk bersama, meneguk minuman, mengobrol ngalor-ngidul tanpa arah, sambil menghabiskan batang demi batang rokok hingga subuh. Obrolan mengalir ringan, kadang diselingi tawa, kadang berubah menjadi kisah hidup yang penuh luka. Sesama jamaah Pesbukiyah, kami berbagi cerita tentang hidup yang ternyata tak pernah sesederhana yang terlihat di media sosial.
Saya salut kepada Mondy. Di balik penampilannya yang bagi sebagian orang dianggap di luar kelaziman, ia justru mampu menjadi sosok yang fenomenal. Viewers yang fantastis, pujian yang berdatangan, hingga hujatan dari para netizen, semuanya ia hadapi sebagai konsekuensi dari pilihannya tampil apa adanya. Dari perjalanan itu, ia mampu menghidupi dirinya dan kedua anaknya dengan hasil jerih payah sendiri.
Malam itu saya mencoba menggali kisah hidupnya. Menjadi anak punk bukan sekadar gaya hidup, tetapi sebuah pelarian sekaligus pilihan. Baginya, hidup harus dijalani dengan santai, tanpa terlalu memikirkan penilaian orang lain. Pergaulan yang bebas membawanya pada banyak pengalaman, termasuk kisah cinta yang berujung pada kehamilan tanpa adanya tanggung jawab dari lelaki yang seharusnya menjaga dan menghormatinya.
Lalu hadir Faisal, yang akrab dipanggil Kodok. Seorang lelaki sederhana yang memilih mencintai Mondy tanpa syarat. Ia menerima masa lalu Mondy apa adanya, menyayangi kedua anaknya seperti darah dagingnya sendiri, dan perlahan berhasil mencuri hati perempuan yang selama ini terbiasa hidup dengan luka. Ketulusan Kodok menjadi tempat pulang bagi Mondy, dan kasih sayang itu tumbuh menjadi hubungan yang saling menguatkan.
Bagi saya, Mondy adalah perempuan yang memiliki pesona. Tato yang memenuhi tubuhnya tidak menghilangkan kecantikan yang ia miliki. Di balik penampilan yang keras, saya melihat sosok perempuan yang tetap menyimpan kelembutan, harapan, dan keinginan untuk dicintai dengan tulus.
Namun hidup sering kali menghadirkan akhir yang tak pernah kita duga. Kabar meninggalnya Kodok secara tragis begitu mengejutkan. Kepergiannya meninggalkan duka yang mendalam bagi orang-orang yang mengenalnya. Peristiwa itu menjadi pengingat bahwa cinta yang kehilangan arah, dibayangi emosi, kecemburuan, dan amarah, dapat berakhir menjadi sebuah tragedi yang menyisakan penyesalan bagi banyak orang.
Selamat jalan, Kodok. Semoga segala amal baikmu diterima, segala khilafmu diampuni, dan Allah SWT melapangkan jalanmu menuju rahmat-Nya. Al-Fatihah.