23/09/2026
Dear Pak Koster,
Kami masih ingat foto Bapak menanam mangrove di Tanjung Benoa. Manis. Penuh senyum. Bibit ditanam satu per satu di depan kamera.
Tapi di Serangan, cerita yang berbeda sedang terjadi.
1.373 hektare hutan mangrove Tahura Ngurah Rai, yang seharusnya jadi benteng pesisir Bali, kini justru mengering. Bukan karena kekeringan alami. Diduga karena lindi, cairan beracun dari TPA Suwung, yang mengalir bebas menuju akar-akarnya. Menutup. Meracuni. Membunuh dari bawah, pelan-pelan, tanpa banyak yang menyadari.
Dan ini bukan kejadian kemarin sore, Pak. Ini sudah berlangsung lama. Mangrove yang mati pun sudah lama ditanam kembali. Ditanam, lalu mati lagi, karena akar masalahnya tidak pernah benar-benar disentuh.
Jadi kami mau tanya, Pak Koster.
Menanam mangrove baru itu bagus. Tapi kalau sumber racunnya masih mengalir setiap hari, apa gunanya menanam seribu bibit kalau seribu yang lain sedang sekarat di tempat lain?
Di mana mitigasinya, Pak? Di mana rencana jangka panjang supaya kejadian ini tidak terus berulang, dari tahun ke tahun, dari mangrove yang satu ke mangrove yang lain?
Bali tidak butuh lebih banyak foto menanam pohon.
Bali butuh yang menjaga pohon itu tetap hidup.