Nadine

Nadine bekerja sambil berdoa✅ promosi novel✅
Follow komen bagikan kalau s**a✅
JASPROM👉081333935583

5. "Bu rung komandan beneran lo yo?" Aku terpaksa dinikahkan dengan polisi lum puh dan kabarnya perku tutnya juga lo yo....
22/05/2026

5. "Bu rung komandan beneran lo yo?"

Aku terpaksa dinikahkan dengan polisi lum puh dan kabarnya perku tutnya juga lo yo. Jangankan memberikan anak, memenuhi naf kah ba tinku pasti tak akan sanggup.
Namun saat ma lam pertama aku dibuat terkejut karena...

BAB 5

Keesokan paginya, suasana di depan rumahku sudah ramai. Mama Hanum memang membuka warung sayur dan lauk matang di halaman depan rumah kami.

Dari balik jendela kamarku yang sedikit terbu ka, suara percakapan ibu-ibu tetangga terdengar sangat jelas. Di antara suara-suara itu, nada bicara Bu Anik yang ting gi dan mendo minasi udara pagi.

"A naknya Bu Hanum kan memang na sib nya tidak bagus," cele tuk Bu Anik tanpa sungkan. Suaranya sengaja dilebihkan.

Tanganku yang sedang mengetik di atas keyboard otomatis terhenti. Aku mena jamkan
pendengaran.

"Makanya Bu Hanum, kalau punya a nak perempuan itu disekolahkan yang benar. Kerja
jauh-jauh ke kota cuma jadi penga suh aja. Ru gi, Bu," lanjut Bu Anik dengan nada mere mehkan di depan ibu-ibu yang sedang memilih sayuran. "Sudah ong kos ke Jakartanya ma hal, kerjanya cuma man diin ba yi sama ngurusin orang mela hirkan. Kalau cuma begitu, di kampung juga bisa."

"Betul, Bu Anik," sahut salah seorang tetangga yang selalu menjadi pendengar setia go sipnya. "Kasihan ya Bu Hanum. Padahal warungnya laris, tapi a naknya malah jadi ba bu di kota."

Da rahku mulai mengha ngat. Aku bang kit dari kursi kerjaku dan melangkah mendekati pintu ka mar yang terhub**g langsung ke area dapur dan warung.

"Contoh d**g Dena, a nak saya," suara Bu Anik kembali terdengar, kali ini penuh dengan kebang gaan yang meluap-luap. "Saya sekolahkan tinggi-tinggi. Jadi bi dan sarjana. Nanti dia mau kerja di kota juga, tapi di klinik gede yang terkenal. Ga jinya pasti pu luhan ju ta. Tidak seperti a nak Ibu yang kerjanya serabutan."

"Wah, hebat sekali Dena ya, Bu," puji ibu yang lain.

"Jelas d**g! Belum lagi urusan jodoh." Bu Anik tertawa bang ga. "Dena itu sekarang calon suaminya ab di negara. Polisi, pang katnya tinggi, ba dannya sehat bu gar, dan pe waris tunggal lagi, beda sama yang kemarin sudah ditinggalkan! Tidak seperti Naraya. Memangnya Bu Hanum tak ma lu punya a nak yang tak la ku-la ku begitu? Umur sudah tiga puluh lebih kok masih betah sendiri. Jangan-jangan memang tidak ada laki-laki yang mau karena mukanya ditutup-tutup terus?"

"Hus, Bu Anik. Jangan begitu," tegur seorang tetangga lain dengan suara pelan.

"Loh, saya kan bicara fakta, Bu! Pera wan tu a itu penyakit keturunan lho kalau dibiarkan," cibir Bu Anik lagi.

Aku mendengarkan dari balik dinding pembatas. Tanganku menge pal kuat. Aku
benar-benar tak s**a dengan sikap Bu Anik yang terus menci bir dan meren dahkan
keluargaku.

"Bu Anik, tolong jaga ucapannya," suara Mama akhirnya terdengar. Nada bicara ibuku bergetar menahan ama rah. "Pekerjaan anak saya itu halal. Dan soal jodoh, itu takdir Allah."

"Takdir Allah atau memang karena tidak la ku, Bu Hanum?" potong Bu Anik cepat, disusul tawa menge jek. "Makanya, dandan yang cantik. Jangan pakai baju kedo doran terus. Laki-laki mana yang mau meli rik?"

"A nak saya tidak butuh dili rik sembarang laki-laki!" balas Mama tegas. Terdengar suara sayuran diletakkan dengan ka sar ke atas meja kayu. "Memangnya ibu-ibu di sini tidak tahu kalau Naraya di kota itu sebenarnya bekerja sebagai—"

"Ma," panggilku cepat seraya melangkah keluar dari balik dinding.

Semua mata di warung itu langsung menoleh ke arahku. Aku melangkah mendekat dengan penampilan sederhanaku saat di kam pung. Hanya menge nakan gamis katun po los berwarna marun dan kerudung instan yang menutupi da da, lengkap dengan cadar hitamku.

"Naraya lagi pengen dimasakin nasi goreng, Ma," ucapku lembut, sengaja memo tong
kalimat Mama. Aku menatap ibuku dengan sorot mata menenangkan. "Ayo masuk, Ma. Belanjanya sudah selesai dila yani kan?"

Bu Anik menci bir si nis melihat kehadiranku. Mata wanita pa ruh baya itu memindai
penampilanku dari atas sampai bawah.

"Nah, ini dia a naknya baru keluar," sin dir Bu Anik sambil berka cak ping gang. "Hobi sekali bangun siang. Matahari sudah tinggi baru keluar kamar. Pema las sekali jadi perempuan. Pantas saja tak ada pria yang mau mendekat. Mertua mana yang mau punya menantu pema las begini?"

Mama Hanum langsung melebarkan matanya. Wajah ibuku merah pa dam.

"Jangan sembarangan bicara ya, Bu Anik! Naraya itu—"

"Ma, ayo," selaku cepat. Aku mena rik pelan lengan sang ibu agar tidak memb**gkar
identitas asliku di depan wanita penuh deng ki ini.

Aku menatap Bu Anik dengan tenang. "Maaf, Bu Anik. Saya bangun sebelum subuh dan
sudah menyelesaikan pekerjaan saya. Saya permisi ke dalam dulu. Silakan dilanjutkan belanjanya."

Tanpa menunggu balasan dari mu lutnya, aku membawa Mama masuk ke dalam rumah dan menutup pintu penghub**g warung rapat-rapat.

Begitu sampai di ruang tengah, Mama Hanum langsung menghen takkan tangannya
dengan ke sal. Na pasnya memburu.

"Kenapa kamu cegah Mama, Ra?!" Mama berseru ge ram sendiri. Beliau mondar-mandir di depan meja makan. "Harusnya kamu biarkan Mama memb**gkar identitas kamu yang sebenarnya! Mama mau kasih tahu mereka kalau kamu itu Dokter Spesialis Kanl dungan! Punya klinik sendiri di Jakarta! Biar mu lut som b**g Bu Anik itu b**g kam sekalian!"

Aku tersenyum tipis di balik cadarku. Aku berjalan mendekati ibuku dan mengusap
ba hunya dengan lembut.

"Sabar, Ma. Istigfar," bujukku pelan. "Mama dari tadi sudah nahan-nahan emo si, kan? Kalau Mama ma rah, teka nan da rah Mama bisa naik lagi."

"Mama dari tadi udah nahan-nahan loh, Ra! Tapi mu lutnya itu lho, astaghfirullah!" Mama duduk di kursi makan dengan ka sar. "Dia meren dahkan kamu seolah-olah Dena itu manusia paling sempurna di bumi ini!"

"Tak usahlah, Ma," ucapku tenang sambil menuangkan segelas air putih untuk ibuku. "Biarin saja mereka bicara ses**a hati. Kalau Mama kasih tahu mereka sekarang, Bu Anik tidak akan percaya. Dia pasti malah menu duh kita berbo hong atau mengira klinik Naya itu hasil dari hal yang tidak benar."

"Tapi Mama tidak terima kamu dibilang pera wan tu a yang tidak la ku, Nduk!"

"La ku tidaknya seorang wanita tidak ditentukan dari seberapa cepat dia menikah,
Ma. Tapi dari seberapa baik dia menjaga kehor matannya," balasku logis. "Lagipula, nanti kita lihat saja waktu Dena mulai bekerja di Jakarta. Mela deni Bu Anik dengan para tetangga yang ju lid di sini cuma bikin habis tenaga kita saja. Biarin aja, Ma. Anggap saja trans fer pahala."

Mama meminum air putihnya dengan cepat, lalu menghela na pas panjang. Wajahnya perlahan mulai rileks meskipun gurat keke salannya masih tersisa.

"Kamu ini persis sekali seperti bapakmu. Sabarnya kele watan," omel ibuku, namun
nada suaranya sudah melembut. "Oiya, ngomong-ngomong soal la ku. Bagaimana dengan polisi ka ku yang kemarin sore melamarmu itu? Dia benar-benar serius?"

Aku memi jat pang kal hidungku. Mendengar sebutan polisi ka ku itu membuat kepalaku
kembali pe ning.

"Jangan dibahas dulu, Ma. Dia itu orang a neh. Keputusannya murni pakai logi ka, tidak ada perasaannya sama sekali," keluhku jujur. "Raya tidak mau memikirkan pria itu. Biar saja waktu yang membuat dia sadar kalau tawarannya itu sangat kon yol."

Judul : Dinikahi Komandan Lum puh
Apk : KBM
Author : Ririn R. Hidayanti

"Mbak, makasih ya. Setelah pacaran sama Mbak, suami saya jadi nggak s**a marah-marah lagi. Semoga kalian langgeng."Part ...
22/05/2026

"Mbak, makasih ya. Setelah pacaran sama Mbak, suami saya jadi nggak s**a marah-marah lagi. Semoga kalian langgeng."

Part 3

Pukul lima pagi alarm ponsel Dissa berbunyi nyaring. Kebetulan ia tengah kedatangan tamu bulanan, membuatnya bangun sedikit terlambat. Dan biasanya kegiatan pertama yang dilakukan perempuan itu setelah bangun akan membalas chat selamat pagi dari Angga sambil setengah mengantuk. Namun pagi ini ia justru mematikan alarm tanpa semangat. Kepalanya pusing dan matanya panas karena semalaman menangis.

Dissa duduk pelan di tepi ranjang sambil menatap langit-langit kamar yang masih gelap. Dadanya masih terasa sesak memikirkan semua percakapan tadi malam. Setelahnya ia mengusap wajah beberapa kali, lalu berjalan ke kamar mandi. Air dingin yang membasahi tubuh juga wajahnya sama sekali tidak membantu menenangkan pikirannya.

Setelah mandi, Dissa bersiap dan berdiri di depan cermin tanpa ekspresi. Ia menatap dirinya sendiri cukup lama. Wajah itu terlihat lelah dan kurang tidur. Dan untuk pertama kalinya sejak mengenal Angga, ia merasa malu pada dirinya sendiri.

"Aku bukan pelakor," ujarnya pelan. "Aku cuma ...."

Kata-katanya terhenti karena Dissa pun bingung harus menyebut dirinya apa sekarang? Perempuan yang mencintai suami orang, apa sebutan yang pantas selain pelakor?

"Tapi aku nggak tau kalo ternyata Mas Angga udah punya istri, ini bukan sepenuhnya salahku," ujarnya pelan, pada dirinya sendiri di cermin.

Dissa lantas menghela napas panjang dan segera bersiap-siap untuk melakukan aktivitas seperti biasanya. Dan Dissa baru menyadari selama satu tahun menjalin hub**gan dengan Angga, tidak pernah sekalipun pria itu menawarinya untuk dijemput seperti yang ia lakukan saat pulang kerja. Dan sekarang ia tahu alasannya.

Sebelum berangkat kerja, Dissa beranjak ke dapur kontrakannya yang kecil. Ia membuat kopi instan lalu duduk sambil membuka ponsel. Pesan dari Angga sudah masuk sejak tadi.

[Selamat pagi cantik.]

Biasanya pesan sederhana seperti itu selalu berhasil membuatnya tersenyum. Namun sekarang justru terasa menyakitkan.

Karena di jam yang sama mungkin Angga juga sedang sarapan bersama keluarganya. Mereka tertawa menikmati kebahagiaan selayaknya keluarga cemara. Sedangkan dia? Statusnya yang yatim piatu kian pilu setelah tahu dirinya hanya seorang selingkuhan.

Dissa menarik napas panjang sebelum membalas singkat.

[Pagi.]

Tidak lama kemudian ponselnya berdering. Nama Angga muncul di layar. Dissa sempat ragu sebelum akhirnya menerima panggilan itu.

“Udah mau berangkat?” Suara laki-laki yang baru saja mengantar anak sulungnya ke sekolah itu terdengar lembut seperti biasa.

“Hm.”

“Kamu sakit?”

“Nggak.”

“Kok suaranya lemes banget?”

Dissa memejamkan mata sejenak. Laki-laki itu masih terdengar begitu perhatian. Dan itu membuat semuanya terasa semakin rumit.

“Aku cuma kurang tidur.”

“Masih kepikiran omongan semalem ya? Kamu jadi ragu sama aku, gara-gara aku belum siap nikahin kamu?”

Dissa tidak langsung menjawab.

Di ujung sana Angga menghela napas pelan. “Dissa, aku tuh beneran sayang dan serius sama kamu. Aku cuma butuh waktu, tolong sabar dulu ya, Sayang.”

Kalimat itu kembali membuat dadanya nyeri.

“Mas ....” Suara Dissa terdengar lirih. “Aku sebenernya capek.”

“Capek kenapa, Sayang?”

“Capek nunggu sesuatu yang nggak jelas dari hub**gan kita,” ujar Dissa yang sengaja memancing.

Suasana langsung hening beberapa detik.

Angga yang bingung kenapa Dissa tiba-tiba membahas terus tentang hal itu segera berdeham kecil sebelum akhirnya bicara lagi. “Pokoknya kamu jangan mikir aneh-aneh dulu. Percaya sama aku.”

“Mikir aneh-aneh gimana? Aku kan cuma nanya masa depan hub**gan kita.”

“Iya, dan aku kan udah bilang semuanya butuh proses.”

Jawaban aman lagi. Selalu begitu. Dissa tersenyum tipis meski mata mulai terasa panas.

“Kadang aku mikir ...,” ucapnya pelan, “Kalau kita pisah suatu saat nanti, hidup kamu apa bakal tetap baik-baik aja, Mas?”

“Ngapain ngomong kayak gitu sih, Sayang?”

“Ya jawab aja.”

Angga terdiam cukup lama. Dan diamnya kali ini seperti sebuah jawaban bagi Dissa. Karena laki-laki yang benar-benar takut kehilangan sesuatu biasanya tidak perlu berpikir selama itu untuk menjawab.

“Udahlah, lupain aja. Aku mau berangkat dulu,” ujar Dissa cepat sebelum suaranya berubah gemetar.

“Dissa—”

Namun perempuan itu langsung mematikan telepon. Beberapa detik kemudian pesan dari Angga masuk bertubi-tubi.

[Jangan ngambek gitu.]

[Nanti malam kita ketemu ya.]

[Jangan overthinking terus.]

[Ini aku tf buat jajan, love you.]

Dissa hanya menatap layar tanpa membalas, dan memilih memesan taksi online.

Perjalanan menuju kantor pagi itu terasa sangat panjang. Dissa duduk menatap ke arah luar jendela, memandangi jalanan yang mulai ramai. Orang-orang sibuk berangkat kerja, membeli sarapan, dan menjalani hidup mereka masing-masing.

Sementara dirinya merasa seperti orang paling bodoh di dunia. Satu tahun. Satu tahun ia terlanjur percaya dan memberikan hati pada laki-laki yang tidak pernah benar-benar bisa dimiliki.

Sesampainya di kantor, Dissa mencoba bersikap normal. Ia menyapa satpam, tersenyum kecil pada resepsionis, lalu duduk di balik kerjanya. Namun pikirannya terus melayang. Beberapa kali ia salah membuat laporan, sampai Rani teman sekantornya menegur pelan.

“Kamu kenapa sih dari pagi bengong terus? Sakit?”

Dissa cepat menggeleng. “Nggak papa kok.”

Rani mencebik kesal. “Bohong. Mata kamu keliatan sembab banget tuh.”

“Masa? Aku cuma kurang tidur, begadang nonton netflix.”

Rani menatapnya curiga tetapi tidak melanjutkan pertanyaan. Dan saat jam makan siang tiba, Dissa memilih tetap duduk di meja kerjanya sembari menikmati sisa biskuit kemarin. Ia sama sekali tidak nafsu makan dan berbasa-basi dengan banyak orang.

Tiba-tiba ponselnya kembali bergetar, nama Angga dengan emoticon love merah muncul di layar.

[Sayang, aku jemput pulang nanti ya.]

Dissa langsung menutup layar ponselnya. Beberapa menit kemudian pesan lain masuk.

[Sekalian kita makan malam ya.]

Lalu satu lagi.

[Aku minta maaf kalo ada salah, Sayang.]

Dissa memejamkan mata. Dulu pesan-pesan itu selalu berhasil membuat hatinya menghangat. Namun sekarang justru terasa menyakitkan.

Karena semakin Angga bersikap manis, semakin Dissa sadar laki-laki itu memang terbiasa membagi perhatian. Dan nyatanya dirinya bukan satu-satunya perempuan yang pernah merasa spesial karena sikap Angga.

Menjelang sore, hujan turun deras di luar kantor. Dissa berdiri di dekat jendela sambil memandangi jalanan yang mulai macet. Kepalanya terasa penuh. Ia masih mencintai Angga dan itulah masalah terbesarnya sekarang. Kalau tidak cinta mungkin semuanya akan jauh lebih mudah.

Ponsel dalam genggamannya bergetar pelan.

[Sayang, aku udah di depan kantor.]

Dissa langsung melihat ke luar jendela dan benar saja, mobil hitam Angga sudah parkir di seberang jalan. Jantungnya tiba-tiba terasa berat. Biasanya Dissa akan buru-buru turun sambil tersenyum senang. Namun kali ini kakinya justru terasa sulit melangkah.

Beberapa detik kemudian pesan lain masuk.

[Aku tunggu, Sayang.]

Dissa menatap layar lama sekali. Karena untuk pertama kalinya ia merasa bingung, tidak tahu harus tetap mempertahankan hub**gan mereka atau mengakhiri sebelum semuanya semakin rumit dan menyakitkan. Karena Dissa merasa juga jadi korban di hub**gan ini.

Baca selengkapnya di KBM App
Judul: Rumah (Tanpa) Tangga
By. BintangPelangi

4. Setelah melakukan malam pertama, aku berusaha menghindar dan menjauhi istriku. Entah kenapa aku jijik sekali dekat de...
22/05/2026

4. Setelah melakukan malam pertama, aku berusaha menghindar dan menjauhi istriku. Entah kenapa aku jijik sekali dekat dengannya.

Sampai setahun kemudian, aku baru saja pulang dinas dari luar kota, ternyata istriku sudah melahirkan dan diapun telah...

Bab 4

Sudah hampir satu bulan Nayla dan Arsyad hidup serumah sebagai suami istri. Tapi sejak malam itu, keduanya seperti orang asing. Satu rumah. Dua dunia. Satu atap. Tapi hati... saling jauh.

Arsyad tetap jadi laki-laki yang dulu Nayla kenal pendiam. Tapi sekarang lebih dari itu. Diamnya menusuk. Tatapannya kosong. Sikapnya dingin.
Bukan dingin yang datar. Tapi dingin yang menggigit sampai ke tulang.

Kalau Nayla sapa, dijawab seadanya. Kalau Nayla tanya, kadang gak digubris sama sekali.
Nayla bukan gak tahu. Dia sadar banget...kalau Arsyad terlalu kecewa dengan sesuatu yang ia ragukan.

Sejak pembahasan beberapa Minggu yang lalu tentang tidak adanya noda perawan, Nayla gak pernah bahas lagi.
Dia cuma berusaha jadi istri yang baik. Masakin, nyiapin bajunya, nyuci, nyetrika, bahkan nyemir sepatu Arsyad tiap malam.

Semua dilakukan tanpa paksaan. Karena Nayla masih berharap. Masih sangat mencintai, walau sekarang sering terluka. "Waktu yang akan menjelaskannya padamu mas. Dan aku akan setia menunggu waktu itu bersamamu." Tekad Nayla yang sudah terpatri.

Pagi ini, seperti biasa Nayla bangun duluan. Masak nasi goreng, buatkan teh, nyusun piring dan sendok di meja makan.

Suara langkah kaki Arsyad yang sudah Nayla tandai datang dengan nada yang sama, berat, malas, dan terburu-buru.

“Mas, makan dulu ya. Ini nasi goreng pake telur kes**aan Mas…” ucap Nayla lembut, sambil menyodorkan piring.

Arsyad duduk. Gak menjawab. Cuma ambil sendok, makan dua-tiga suap. Habis itu minum teh, berdiri.

“Mas, bawa bekal ini ya,” Nayla menawarkan kotak makan yang udah dib**gkus rapi.

“Gak usah. Aku bisa beli di luar.” Jawabannya datar, tapi nyesek.

Nayla gak bilang apa-apa lagi. Dia senyum. Tipis.
Senyum yang dipaksakan, supaya Arsyad gak lihat luka di balik wajahnya.

Setelah pintu tertutup, Nayla duduk lagi di meja makan. Melihat sisa teh Arsyad yang belum habis. Tangannya memegang gelas itu pelan, meraba dengan dua jari, bekas bibir yang menempel pada gelas sang suami yang masih basah dan setelah itu ia mengecup kedua jarinya itu dengan penuh perasaan dengan mata terpejam.

Belum lagi dengan pakaian kotor Arsyad yang selalu Nayla cium, Nayla hirup bau keringatnya. Setelah itu baru Nayla masukkan kedalam mesin cuci.

Aktivitas yang selalu ia lakukan tanpa siapapun tahu. Adegan gila. Gila karena cinta yang tulus.

"Kenapa ya, Mas..." bisiknya. “dalam beberapa hari ini aku merindukanmu." Ucapnya sendiri. Masih duduk dimeja makan dan termenung jauh.

***

Arsyad menyetir mobilnya ke kantor dengan wajah lelah. Bukan karena fisik. Tapi pikirannya gak pernah tenang. Hampir tiap malam, tiap bangun pagi, wajah Nayla selalu terbayang. Wajah lembut, penuh harap, tapi juga... membuat batinnya semakin berisik.

Dia tahu Nayla baik. Terlalu baik malah. Tapi hati Arsyad masih belum bisa menyingkirkan semua beban yang nempel di pikirannya.

Ada bekas luka yang belum sembuh.
Ada goresan keraguan yang masih mengambang.

"Kenapa aku gak bisa biasa aja sih?” gumamnya, sambil memukul setir mobil pelan. “Kenapa aku harus serumah sama orang yang aku sendiri masih ragu nerima?”

"Aku sayang kamu Nay, aku cinta sama kamu. Tapi kalau kita dekat, tiba tiba aku kecewa. Tiba tiba aku benci." Gumannya dengan helaan nafas yang sangat berat.

Benci saat hati kecilnya bilang Nayla gak salah. Tapi egonya bilang: “Jangan percaya.”

Dan akhirnya... Arsyad lebih memilih diam. Lebih gampang diam daripada berdebat dengan hati sendiri.

Seperti biasa, setiap malamnya, Nayla mengetuk pintu kamar kerja Arsyad. Membawa segelas susu hangat.

Tok… tok…

“Mas, ini susu malamnya…”

Tak ada jawaban.

Nayla buka pintu pelan. Arsyad duduk di meja kerja, nunduk, gak menoleh sedikit pun.

“Aku taruh di sini ya…”

Masih tak ada respon. Tapi Nayla gak marah. Dia letakkan gelas itu di samping laptop. Lalu kembali pergi keluar dari dalam ruang kerja sekaligus kamar tidur sang suami.

Ternyata tidur pisah kamar dan pisah ranjang masih tetap Arsyad pertahankan. Hanya beberapa jam mereka bersama, hanya beberapa jam mereka satu ranjang, dan setelah kejadian itu sampai sekarang. Arsyad masih memilih sendiri.

***

Pagi itu tak ada suara dari dapur. Tak ada aroma tumisan seperti biasa. Tak ada denting sendok, tak ada langkah kaki Nayla yang biasanya mondar-mandir menyiapkan segalanya untuk sang suami.

Arsyad turun dari kamar, kemeja setengah dikancingkan. Matanya sempat melirik meja makan. Kosong. Dapurnya juga sunyi. Tak ada Nayla.

Keningnya berkerut. Tapi bukan karena cemas. Hanya heran.
“Tumben…” gumam Arsyad pelan.

Kemudian Arsyad membuka kulkas, mengambil air putih, lalu duduk sendiri. Menyesap diam-diam, sambil melirik ke arah kamar Nayla yang pintunya tertutup.

Arsyad tak bertanya. Tak juga memanggil.
Hanya menghela napas dan berangkat kerja seperti biasa. Dan hari itu pun berlalu… seperti biasa, hampa.

Suasana yang sama juga terjadi dipagi kedua dan ketiga. Kesunyian yang sama. Tapi entah kenapa... terasa lebih nyata. Nayla gak kelihatan.

Baju kerja Arsyad masih tergantung kusut di balik pintu. Sepatunya belum dibersihkan. Handuknya juga masih basah dari semalam.
Semua hal kecil yang biasanya Nayla urus, kini terbengkalai.

Arsyad bingung sebenarnya, tapi gengsinya lebih besar dari rasa ingin tahu. Matanya sempat melirik ke arah pintu kamar Nayla.
Lama.
Tapi hanya sampai situ. Dia memilih diam.
Lalu pergi, lagi-lagi tanpa berpamitan.

Esok harinya.
Heningnya rumah mulai mengganggu fikiran Arsyad. Bukan hanya soal sarapan atau baju yang belum disetrika. Tapi tentang kehadiran seseorang yang biasanya selalu ada.
Dan kini... menghilang diam-diam.

Dan akhirnya ego itu patah sedikit, meninggalkan kekhawatirannya. Begitu pulang kerja dan sampai dirumah, Arsyad langsung masuk ke kamar utama untuk melihat Nayla untuk yang pertama kalinya.

Lampu kamar masih mati. Tirai tertutup.
Udara dalam ruangan lembab dan pengap.

Di atas ranjang, tubuh Nayla terbaring lemas. Meringkuk. Wajahnya pucat. Bibirnya kering. Rambutnya acak-acakan.

Perlahan Arsyad mendekati Nayla. Pelan. Dan hatinya berdesir, tapi tak ia tunjukkan di wajah.

“Nayla,” panggilnya pelan.

Tak ada gerakan.

“Nayla,” ulangnya, lebih tegas.

Tubuh Nayla menggeliat. Lalu buru-buru bangkit, menutup mulut, dan lari ke kamar mandi.
Suara muntah terdengar jelas. Berat. Menyesakkan.

Arsyad berdiri mematung. Tak tahu harus bagaimana.
Beberapa menit kemudian, Nayla keluar dari kamar mandi. Jalannya goyah. Wajahnya makin pucat. Nafasnya terputus-putus.

“Maaf, Mas…” ucapnya pelan. “Tiga hari ini aku cuma... lemas. Aku pikir bakal baikan...tapi"

Baru aja selangkah menuju ranjang, tubuh Nayla jatuh ke lantai. Lemas. Tak sadarkan diri.

Arsyad kaget. Tapi reaksinya tertahan dan bingung. Kemudian Arsyad angkat tubuh itu dengan gerakan kaku. Jantungnya berdetak cepat, tapi wajahnya tetap dingin.

Judul : Cinta Retak Di hari Pernikahan
Penulis Mayamaharani3f
Baca cerita selengkapnya hanya di KBM app

4. Gara-gara dianggap bau amis, kekasihku melempar ikan ke tubuhku, padahal ikan itu kiriman ibuku untuknya. Baik, aku a...
22/05/2026

4. Gara-gara dianggap bau amis, kekasihku melempar ikan ke tubuhku, padahal ikan itu kiriman ibuku untuknya. Baik, aku akan buat kamu menyesal!

🐟🐟🐟

"Derajatnya jauh lebih mulia daripada seluruh harta kekayaan yang Anda somb**gkan hari ini!" lanjut Hanum lantang.

Napas perempuan anggun itu berembus pelan. Matanya menatap lurus ke depan. Sorot matanya seolah menembus langsung ke dasar kesomb**gan. Kelembutan Hanum yang biasa ia tunjukkan lenyap ditiup angin. Berganti dengan aura pelindung mengintimidasi siapa pun yang berani merendahkan keluarganya.

Senyum congkak di wajah Noval memudar perlahan. Laki-laki itu tertegun di sebelah mobil mewahnya. Ia sama sekali tidak menyangka g a d i s selembut Hanum bisa mengeluarkan aura sedingin es batu. Lidah lelaki arogan itu kelu. Ia bahkan tanpa sadar memundurkan langkahnya sedikit menjauh dari Hanum.

"Hanum, kamu salah paham. Aku cuma …," ucap Noval terbata.

"Saya tidak butuh penjelasan Anda," potong Hanum cepat. "Anda pikir u a n g dan mobil mewah ini memberi Anda hak untuk menghina orang lain di depan umum?"

Noval menelan ludah. Ia melirik ke arah beberapa mahasiswa yang kini mulai berbisik sambil menatap ke arah mereka. Gengsinya t e r l u k a parah.

"Aku cuma mengingatkan kamu, Num. Laki-laki miskin kayak dia tidak pantas ada di dekat kamu. Lingkungan kita beda sama dia," bela Noval dengan suara seolah kehilangan tenaga.

Melihat Noval tidak juga sadar diri, Hanum menarik napas dalam. Bibirnya setengah terbuka. Ia bersiap memb**gkar identitas asli laki-laki berjaket pudar di belakangnya. Ia hampir menyebutkan status kepemilikan saham absolut Z.K Corpora. Ia ingin melihat wajah Noval memucat saat tahu siapa yang baru saja ia usir ke tempat sampah asalnya.

"Laki-laki yang Anda panggil miskin ini adalah …."

Tepat sebelum kata itu meluncur bebas, Jay melangkah maju membelah jarak. Tangan besar Jay menyentuh bahu Hanum dengan sangat lembut.

"Sudah, Dek. Jangan kotori lisanmu untuk meladeni hal yang tidak penting," lerai Jay tenang.

Hanum menoleh menatap abang sepupunya itu. Matanya menyiratkan ketidakrelaan.

"Tapi dia sudah keterlaluan, Mas. Aku harus kasih tahu dia siapa Mas Jay sebenarnya," bisik Hanum dengan suara bergetar.

"Tidak perlu," jawab Jay pelan menggelengkan kepala diiringi senyum tipis terukir di bibir.

"Simpan suaramu buat hal yang lebih berguna. Kita pulang saja sekarang."

Jay menepuk pelan pundak Hanum memberikan isyarat agar adik sepupunya itu segera naik ke atas boncengan motor. G a d i s berjilbab itu menuruti perintah meski hatinya masih mendidih tidak karuan.

Jay memutar kunci motor matic tua lalu menyala berderik pelan. Mereka membelah jalanan dan meninggalkan Noval yang masih berdiri mematung dengan wajah memerah menahan malu di tengah keramaian kampus.

Motor matic tua itu melaju menembus lalu lintas sore yang mulai padat. Beberapa belas menit kemudian, kendaraan roda dua itu berhenti di sebuah taman kota yang sepi dan sejuk. Daun kering berguguran pelan menyentuh tanah berumput. Jay dan Hanum duduk bersisian di atas bangku kayu panjang yang menghadap ke sebuah danau buatan kecil.

Tiba-tiba bahu Hanum mulai bergetar pelan. Perempuan itu menundukkan wajahnya dalam-dalam. Air mata jatuh menetes membasahi punggung tangannya yang menggenggam erat kain gamisnya.

"Loh, kenapa menangis, Dek?" tanya Jay terkejut saat mendengar isakan pelan di sebelahnya.

"Aku tidak terima, Mas," isak Hanum tertahan.

"Kenapa Mas Jay diam saja dihina seperti itu? Aku s a k i t hati dengernya. Kenapa orang-orang di kota ini gampang sekali menilai h a r g a diri seseorang dari pakaiannya?"

Hanum menangis bukan karena t a k u t kepada ancaman Noval. Hatinya hancur berkeping-keping. Ia tidak rela abang kesayangannya direndahkan layaknya sampah di depan banyak orang. Ia sangat tahu betapa mulia hati laki-laki di sebelahnya ini.

Jay tersenyum hangat. Ia merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan selembar tisu bersih. Tangan kasarnya menghapus air mata Hanum dengan penuh kasih sayang.

"Sudah, jangan menangis lagi. Nanti cantiknya luntur," bujuk Jay lembut.

"Mas Jay tidak m a r a h dibilang g e m b e l? Dibilang b a b u b a u amis?" tanya Hanum lagi.

"Buat apa m a r a h, Num? Hinaan mereka tidak akan mengurangi sedikit pun rezeki yang Allah kasih buat kita. Hinaan mereka juga tidak membuat kita benar-benar jadi g e m b e l, kan?" jawab Jay tenang.

Hanum mengusap pipinya sendiri. Matanya menatap Jay dengan penuh rasa sayang bercampur kesal.

"Tapi kamu punya segalanya. Mas Jay bisa bikin laki-laki somb**g tadi sujud minta maaf detik itu juga. Tinggal telepon Bang Ken dan suruh dia bereskan semuanya sampai laki-laki itu menangis memohon."

"Dan kalau Mas lakukan itu, apa bedanya kita sama orang somb**g tadi?" balas Jay cepat.

Pertanyaan itu membuat Hanum terdiam. Angin sore kembali meniup helaian pinggiran hijabnya.

"Ingat pesan Abah, Num. Padi yang berisi itu merunduk. Biarkan saja ilalang yang somb**g tertiup angin sampai patah sendiri," ucap Jay lembut.

"Orang yang paling harus kita kasihani itu justru orang yang merasa dirinya hebat hanya karena punya harta. Padahal harta itu cuma titipan yang bisa diambil kapan saja."

Hanum mengangguk pelan. Ia kini bisa menguasai e m o s inya kembali. Nasihat abangnya selalu berhasil menjernihkan pikirannya. Ia menarik napas panjang dan membuangnya perlahan.

Di saat yang sama, suara langkah sepatu berhak tinggi memecah keheningan taman sore itu.

Dari arah jalan setapak berbatu, Marta berjalan santai membawa segelas kopi mahal berlogo hijau di tangan kanannya. Usai jam makan siang, sudah pasti ia hendak kembali ke kantor. Matanya menyipit saat menangkap siluet dua orang yang duduk di bangku taman.

Langkah perempuan itu melambat. Ia mengenali betul jaket pudar di atas jok motor dan postur tubuh laki-laki berambut coklat itu.

Marta memiringkan kepalanya sedikit. Matanya beralih menatap t a j a m ke arah perempuan yang sedang menunduk di sebelah Jay. Marta memindai Hanum dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan sangat teliti.

Ia melihat balutan gaun sutra yang memancarkan kemewahan meski tanpa logo merek yang mencolok. Ia melihat jam tangan melingkar elegan di pergelangan tangan Hanum. Ia juga melihat tas kulit asli yang diletakkan Hanum di sisi bangku. Tas yang h a r g anya setara dengan g a j i Marta berbulan-bulan bekerja di kantor.

Di mata materialistis Marta, Hanum hanyalah seorang perempuan kaya raya yang naif, terlalu baik, dan sangat mudah ditipu.

Sebuah pikiran kotor langsung memenuhi kepala perempuan 24 tahun itu. Ia yakin seratus persen mantan kekasihnya sedang mencari mangsa baru untuk dikuras hartanya.

Marta melangkah lebar menghampiri bangku itu dengan dada dibusungkan ke depan. Hak sepatunya sengaja dihentakkan keras ke aspal jalanan untuk menarik perhatian orang-orang yang lewat. Langkahnya berhenti tepat di depan Jay dan Hanum.

"Wah, wah, wah. Dunia sempit sekali ya," sapa Marta lantang.

Tawa meremehkan keluar dari bibir berlipstik tebal itu. Marta melabrak mereka berdua dengan gaya paling angkuh yang ia miliki. Ia menatap Hanum dengan raut kasihan yang sengaja dibuat-buat.

"Halo, Mbak. Maaf ya saya ikut campur. Tapi sebagai sesama perempuan, saya cuma mau memperingatkan kamu. Hati-hati sama laki-laki g e m b e l di sebelahmu ini," ucap Marta tanpa sungkan.

Hanum perlahan mengusap sisa air matanya. Perempuan anggun itu mengangkat wajah dan menatap Marta dengan dahi berkerut bingung. Ia belum pernah melihat wajah perempuan ini sebelumnya. Namun, wangi parfum menyengat dan gaya bicaranya langsung membuat Hanum merasa tidak nyaman.

"Maksud Anda apa, ya?" tanya Hanum dengan suara pelan dan sopan.

"Kamu pasti orang kaya yang baru kenal sama dia, kan? Kamu pasti kasihan lihat penampilannya yang butut ini? Jangan mau ditipu, Mbak," tuduh Marta seenaknya.

Jay hanya menarik napas pelan. Laki-laki itu membuang pandangannya jauh ke arah danau buatan di depan mereka. Ia menautkan jemarinya di atas paha. Ia enggan menatap wajah Marta sedikit pun. Ia muak melihat wajah cantik yang tidak memiliki adab kepada orang tuanya itu.

"Saya ini mantannya, Mbak. Baru kemarin sore saya usir dia dari kafe karena dia miskin dan b a u amis. Dia datang bawa ikan asap b a u busuk ke tempat nongkrong elite saya. Bikin malu saja," cerita Marta dengan bangga. Ia mengibaskan rambutnya ke belakang.

"Mbak pasti belum tahu kelakuan aslinya, kan? Laki-laki ini cuma b e n a l u miskin yang kerjanya numpang hidup di rumah Kenzie. Kerjanya cuma meminta-minta belas kasihan."

Hanum tertegun. Jadi ini perempuan bernama Marta yang menyakiti hati keluarganya kemarin? Perempuan yang melempar ikan asap buatan Bude ke tubuh abangnya?

D a r a h Hanum kembali mendidih. Mata lembutnya berubah dingin seketika. Ia menatap Marta dari atas sampai bawah.

"Saya rasa Anda yang salah paham di sini. Tolong jangan ganggu waktu kami," tegur Hanum tegas.

Marta sama sekali tidak mempedulikan peringatan Hanum. Ia justru menoleh ke arah Jay yang masih diam menatap ke arah air danau. Sikap diam Jay justru membuat ego Marta semakin tersulut hebat. Ia merasa diremehkan karena Jay sama sekali tidak memohon kepadanya atau membela diri di depan mangsa barunya.

Marta melipat kedua tangannya di depan dada. Ujung matanya menatap wajah tenang Jay dengan tatapan merendahkan. Bibirnya menyeringai penuh kemenangan.

"Oh, jadi ini alasanmu pura-pura sabar di depanku?" cibir Marta j i j i k.

Suara perempuan itu melengking tajam merobek ketenangan taman sore itu.

"Setelah gagal numpang hidup sama Kenzie, sekarang kamu merayu ukhti-ukhti tajir ini? Hebat juga mental b e n a l umu, Jay!"

Bersamb**g

#4

Eksklusif di KBMApp

Judul : Anak Sultan Dilempar Ikan
Penulis : Zhandriecka

Address

Lamongan

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Nadine posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share