26/09/2026
H-7 sebelum akad, kakakku mengaku hamil anak calon suamiku. Lebih menyakitkan, orang tuaku justru memintaku mengikhlaskan mereka menikah di gedung yang sudah kubayar sendiri.
Aku menolak menyerah. Pernikahanku tetap berlangsung, hanya mempelai prianya yang diganti.
Saat kakakku mencibir tak ada pria yang mau menikahiku secara dadakan, aku membuktikan sebaliknya.
Tapi, tak disangka, pria yang menjadi suami penggantiku ternyata ...
****
#2
2.
"Kamu gi la, Nika! Mana ada laki-laki gi la yang mau menikahi perempuan secara dadakan dalam waktu seminggu?!"
Suara Ayah menggelegar, memecah hening di ruang tamu. Wajahnya yang memerah padam menatapku penuh amarah dan ketidakpercayaan. Di sampingnya, Ibu menggeleng-gelengkan kepala dengan raut wajah panik, seolah aku baru saja mengucapkan sebuah lelucon paling tidak masuk akal di dunia.
"Nika, istighfar, Nak!" Ibu melangkah mendekat, mencoba memegang bahuku, tetapi aku langsung mundur satu langkah membiarkan tangannya mengawang di udara. "Kamu ini bicara apa? Jangan asal ceplos karena emosi! Mana bisa pernikahan diganti pengantin prianya seenak jidat dalam waktu tujuh hari? Kamu mau mempermalukan keluarga kita lebih jauh?!"
"Mempermalukan keluarga?" Aku tertawa sumbang, menatap Ibu dengan tatapan paling dingin yang kupunya. "Bukan aku yang memulainya, Bu. Yang bikin malu keluarga itu Mbak Ema dan calon suamiku yang berzi na di belakangku sampai hamil!"
"Nika!" bentak Ayah sambil menudingkan telunjuknya. "Jangan kurang ajar kamu ya! Mbakmu itu sudah mengakui kesalahannya! Dia sedang hamil anak Zacky, cucu Ayah! Harusnya kamu sebagai adik bisa ikhlas! Kenapa kamu pelit sekali cuma soal gedung?!"
"Aku sudah ikhlas, Yah," potongku cepat. Suaraku kini berganti menjadi begitu datar dan tenang, sebuah ketenangan yang justru menusuk. "Aku sudah ikhlas melepas Mas Zacky. Ambil saja laki-laki gak berguna itu untuk Mbak Ema. Aku sudah gak berminat lagi. Tapi untuk gedung, katering, dekorasi, dan semua acara di sana ... Gak akan pernah aku ikhlaskan untuk mereka!"
Mbak Emara yang masih sesenggukan di sofa mend**gak. Matanya yang sembap menatapku penuh rasa tidak percaya sekaligus kemarahan yang tertahan. "Nika ... kamu kok jahat banget sama Mbak? Kasihan anak di kandungan Mbak, Nika! Kalau gedung itu gak dipakai kami, terus kami mau nikah di mana? Waktunya tinggal seminggu!"
"Itu bukan urusanku, Mbak," jawabku tanpa beban. "Mau nikah di balai RW, di KUA, atau di lapangan kompleks sekalipun, aku gak peduli. Gedung mewah itu dibayar pakai keringatku sendiri. Setiap rupiahnya keluar dari rekeningku. Jadi hak penuh ada di tanganku."
"Kamu jangan kekanak-kanakan!" sela Ibu dengan nada memohon yang dipaksakan. "Memangnya kamu pikir ada laki-laki di dunia ini yang mau diajak nikah dadakan cuma buat nemenin kamu di pelaminan? Nggak ada, Nika! Jangan halusinasi! Daripada gedungnya kosong dan uangmu hangus terbuang sia-sia, lebih baik kasihkan ke Mbakmu!"
"Siapa bilang uangku bakal hangus?" Aku menaikkan sebelah alisku, menatap Ibu dan Ayah bergantian. "Pernikahan di gedung itu tetap akan berlangsung nanti. Aku yang akan berdiri di pelaminan itu sebagai pengantin wanita. Masalah siapa pengantin prianya, itu urusanku. Masih ada tujuh hari untuk mencarinya."
"Halu kamu!" cibir Mbak Emara tiba-tiba, suaranya tak lagi bergetar ketakutan, melainkan dipenuhi nada meremehkan. "Mana ada pria mapan dan beres yang mau dipungut secara dadakan buat jadi suami pengganti? Paling kalau ada, cuma tukang ojek pasar atau pria frustrasi yang butuh uang! Kamu mau malu seumur hidup karena dapet suami seadanya?!"
Belum sempat aku membalas cibiran Mbak Emara, suara deru mobil yang sangat kukenal terdengar berhenti tepat di halaman rumah. Suara pintu mobil ditutup terburu-buru disusul langkah kaki tergesa-gesa mendekati ruang tamu.
Sosok pria tinggi dengan kemeja kantor yang agak kusut muncul di ambang pintu. Mas Zacky. Calon suamiku atau lebih tepatnya mantan calon suamiku. Napasnya terengah-engah, matanya menyapu isi ruangan hingga tatapannya jatuh tepat padaku. Telepon dari Mbak Emara beberapa menit lalu jelas berhasil membawanya berlari ke sini.
"Nika!" Mas Zacky melangkah cepat mendekatiku. Wajahnya tampak panik dan penuh rasa bersalah. "Nika ... tolong dengarkan Mas dulu. Mas memohon sama kamu ..."
"Jangan mendekat, Mas," ucapku dingin, mengangkat sebelah tanganku untuk menahannya. "Ada jarak yang harus kamu jaga sekarang. Kamu itu calon suami kakakku."
Kalimatku sukses membuat langkah Mas Reno terhenti seketika. Wajahnya makin pucat pasi. "Nika, Mas tahu Mas salah. Mas khilaf dan Mas benar-benar minta maaf atas semua yang terjadi antara Mas dan Ema. Mas pria jahat, Mas ngaku ..."
Ia mencoba meraih tanganku, tetapi aku langsung menepisnya kasar. Mas Zacky menarik napas panjang, menatapku dengan sorot mata memohon yang membuatku merasa sangat mual.
"Tapi Nika ... tolong kasihanilah Ema dan anak di kandungannya," lanjut Mas Zacky, suaraku yang tadinya penuh penyesalan kini berubah menjadi nada membujuk yang licik. "Ema sedang hamil anak Mas. Kita gak punya waktu lagi untuk mengurus izin atau sewa gedung baru. Tolong ... relakan gedung dan acara minggu depan untuk pernikahan kami. Biar Mas dan Ema yang pakai. Mas janji, nanti semua biaya gedung yang sudah kamu keluarkan bakal Mas ganti pelan-pelan setelah kami menikah."
Aku tertawa kencang, sebuah tawa keji yang membuat semua orang di ruangan itu bungkam.
"Mengganti pelan-pelan?" kataku menatap Mas Zacky dari atas ke bawah. "Mas, jangankan buat ganti biaya gedung puluhan juta rupiah, buat bayar DP katering aja kamu kemarin pinjam uangku! Mau ganti pakai apa? Pakai janji manismu yang gak berharga itu?"
"Nika! Jaga mulutmu!" bentak Ayah membela calon menantu kesayangannya itu. "Zacky sudah berniat baik minta maaf dan mau bertanggung jawab ganti uangmu!"
"Niat baik gak bisa dipakai buat bayar gedung, Yah!" balasku lantang, lalu kembali menatap Mas Zacky lurus-lurus. "Dengar ya, Mas. Aku sudah mengikhlaskan kamu. Kamu mau menikah dengan Mbak Ema hari ini, besok, atau detik ini juga, aku sama sekali gak peduli. Tapi gedung pernikahan itu milikku. Sampai mati pun, aku gak akan pernah mengizinkan kalian berdua tersenyum bahagia di panggung yang kubayar pakai uangku!"
"Nika, jangan keras kepala!" Mas Zacky mulai kehilangan kesabarannya. "Kamu mau pakai gedung itu buat apa?! Memangnya ada pria yang mau nikah sama kamu seminggu lagi?! Nggak akan ada, Nika! Jangan bikin acara itu batal dan bikin malu semua orang!"
"Siapa bilang batal?" Aku melangkah mendekati Mas Zacky, menatap tepat ke dalam manik matanya dengan senyuman paling tajam. "Acara itu tetap jalan. Dan aku pastikan, pria yang berdiri di sampingku di pelaminan nanti ... punya kelas yang jauh di atas pria pengkhianat seperti kamu."
Tanpa memedulikan teriakan Ayah dan makian Mbak Ema yang membahana di ruang tamu, aku berbalik dan berjalan mantap keluar dari rumah. Dengung cibiran mereka masih terngiang di telingaku, meyakini bahwa tak akan ada pria yang sudi menikahiku secara dadakan.
Aku mengepalkan tangan erat-erat sambil menyalakan motor, lalu pergi sejauh mungkin dari rumah. Hingga tak lama kemudian menepi dan merogoh ponsel di dalam saku.
Begitu layar menyala, aku langsung menekan tombol panggil ke nomor Karina, sahabatku di kantor. Nada sambung baru berbunyi sekali sebelum suaranya terdengar dari balik telepon.
"Rin, pegawai baru di perusahaan kita yang katanya lagi keteteran cari calon istri itu ... kirim nomornya sekarang."
Selengkapnya baca di aplikasi KBM apps
Judul : Menggantimu 7 Hari Sebelum Akad
Penulis : Queensunrise