Nadine

Nadine bekerja sambil berdoa✅ promosi novel✅
Follow komen bagikan kalau s**a✅
JASPROM👉081333935583

“Mbak, datang ke wisudaku, ya. Aku mau mengenalkan calon suamiku.” Aku sengaja mengundang Kakak tiriku yang bekerja menj...
23/08/2026

“Mbak, datang ke wisudaku, ya. Aku mau mengenalkan calon suamiku.”

Aku sengaja mengundang Kakak tiriku yang bekerja menjadi pembantu karena ingin melihat wajahnya shock berat saat tahu kekasihnya yang seorang tentara kini menjadi milikku. Tapi saat dia datang, kenapa semua orang justru berdiri menyambutnya?

BAB 2

Binar masih berdiri tenang ketika panitia yang sejak tadi terlihat berlari tergesa-gesa semakin mendekat ke arah mereka.

Reva yang sedari tadi menahan napas langsung menegakkan tubuh. Matanya mengikuti langkah panitia itu dengan cemas.

Jangan-jangan... Kakaknya memang benar-benar diundang oleh seorang rektor?

Jantung Reva berdetak semakin cepat. Namun, beberapa detik kemudian, panitia itu justru melewati mereka begitu saja.

“Selamat datang, Prof!”

Reva mengerjapkan mata.

“Hah?”

Ia buru-buru menoleh.

Sebuah mobil hitam baru saja berhenti tepat di depan gedung. Pintu belakangnya terbuka, lalu turun seorang lelaki paruh baya dengan setelan jas hitam yang tampak begitu berwibawa.

Begitu melihat lelaki itu, beberapa panitia yang berada di sekitar mereka langsung bergegas menyambut.

“Selamat datang, Pak Rektor.”

“Selamat datang, Prof.”

“Kami sudah menunggu kedatangan Bapak.”

Reva terdiam.

Perlahan, rasa tegang yang sejak tadi memenuhi dadanya menghilang.

Ternyata...

Panitia itu berlari untuk menyambut Pak Rektor. Bukan untuk menemui Binar. Reva mengembuskan napas lega. Bahkan tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat. Hampir saja dia percaya.

Reva kemudian kembali menoleh kepada Binar.

Perempuan itu masih berdiri dengan tenang seolah tidak terjadi apa-apa.

Melihatnya, Reva justru terkekeh.

“Ya ampun, Mbak!” Reva sampai menutup mulutnya sendiri untuk menahan tawa. “Tadi aku sempat deg-degan, loh.”

Binar mengernyit.

“Deg-degan kenapa?”

“Aku kira panitia tadi benar-benar mau datang menemui kamu. Ternyata ada Pak Rektor datang.”

Reva tertawa lagi. Kali ini terdengar lebih lega dari sebelumnya.

Binar tidak menjawab.

Tatapannya justru beralih kepada lelaki yang baru saja disambut para panitia tersebut. Pak Rektor berjalan memasuki gedung bersama beberapa orang. Namun, sebelum benar-benar masuk, langkahnya sempat terhenti.

Lelaki itu menoleh. Tatapannya sempat bertemu dengan Binar meski hanya beberapa detik.

Pak Rektor bahkan sempat memberikan senyum tipis sebelum akhirnya kembali melangkah masuk ke dalam gedung.

Binar membalas tatapan itu dengan tenang. Sayangnya, Reva tidak menyadarinya. Ia justru semakin berani mengejek kakak tirinya.

“Lihat, Mbak.”

Reva menunjuk ke arah gedung.

“Pak Rektor saja nggak kenal sama kamu. Katanya kamu diundang rektor? Rektor yang mana?”

Reva semakin menyeringai.

“Oh... atau jangan-jangan rektornya majikan kamu?”

“Memang iya.” Binar akhirnya bersuara.

Jawaban Binar yang begitu datar justru membuat Reva dan kedua orang tuanya saling pandang.

Kemudian ibu tiri Binar tertawa terbahak-bahak.

“Ya ampun, Binaaar!”

Ia sampai memegangi perutnya sendiri karena geli dengan tingkah Binar yang dianggap konyol. “Kirain kamu diundang jadi tamu kehormatan. Astaga... Diundang sama majikan kamu? Ah, paling juga bukan diundang, tapi cuma disuruh datang aja ke sini buat bantuin jaga anaknya.”

Ayah Binar ikut menggeleng. “Bapak tadi hampir kegocek sama omonganmu, Bin.”

Reva langsung memasang wajah penuh kemenangan. “Nah, betul itu kata Ibu. Mungkin kamu salah tangkap maksud majikanmu Mbak. Lagian, kalau memang benar kamu diundang ke sini, coba bilang. Rektor yang mana yang mengundang kamu?”

“Aku disuruh datang sendiri.”

“Ya ampun, Mbak.” Reva terkekeh sambil menggeleng-gelengkan kepala.

“Saking nggak maunya ditolong sama aku, kamu sampai berhalusinasi begini ya?”

Binar menatapnya tanpa ekspresi.

“Aku punya bukti undangannya kalau kalian nggak percaya.”

“Sudahlah, Mbak. Jangan bikin malu diri sendiri.”

Reva kemudian melangkah mendekat. “Atau jangan-jangan kamu memang sengaja datang ke sini karena penasaran mau melihat calon suamiku?”

Binar menatapnya lurus pada mata adiknya.

“Calon suamimu?”

Reva mengangguk seraya tersenyum penuh arti.

“Itu kan alasan utama kamu datang ke sini?”

Binar justru tersenyum tipis. “Maaf. Urusanmu sama sekali nggak penting.”

Senyum di wajah Reva langsung menghilang.

“Kamu ini benar-benar, ya, Mbak! Dikasih hati malah minta jantung! Ya sudah kalau nggak mau dikasihani, jangan salahin aku kalau kamu diusir dari sini!” gertaknya.

Binar tidak membalas. Ia justru membuka tas yang dibawanya. Tangannya masuk ke dalam, lalu mengeluarkan sebuah amplop berisi kertas undangan.

Dengan tenang, Binar menyerahkannya kepada Reva.

“Ini undangannya. Kamu bisa lihat sendiri.”

Reva mengernyit.

Dengan sedikit keraguan, ia mengambil amplop tersebut. Tangannya membuka bagian dalam amplop. Seketika matanya tertuju pada sebuah kartu undangan.

Ia membaca tulisan di sana. Kemudian diam. Nama Binar tercetak jelas. Bukan sebagai pendamping. Bukan sebagai tamu biasa. Melainkan... sebagai tamu undangan khusus dalam acara wisuda tersebut.

Wajah Reva perlahan berubah.

Ia membaca sekali lagi.

Lalu sekali lagi.

Seolah berharap tulisan itu akan berubah jika dilihat lebih lama.

“Ini...”

“Kenapa?”

Reva menggenggam kartu itu semakin erat.

“Ini pasti palsu.”

Binar mengernyit.

“Palsu?”

“Kalaupun asli, pasti udah kamu edit!”

Nada suara Reva mulai meninggi.

Binar menatap kartu itu sekilas, lalu kembali menatap Reva.

“Logo dan nama universitasnya jelas. Kamu punya mata, kan, Rev?”

“Mau logonya asli sekalipun, aku tetap yakin ini palsu,” ucap Reva denial.

“Oh ya? Kamu tahu dari mana kalau ini palsu?” tanya Binar santai.

“Karena pembantu seperti kamu nggak mungkin dapat undangan seperti ini!”

Binar hanya tersenyum tipis.

Menarik.

Baru digertak sedikit saja, wajah Reva sudah sepucat kertas. Bagaimana kalau dia menunjukkan semuanya?

Namun, sebelum Binar sempat berkata apa-apa, Reva tiba-tiba mengangkat kartu undangan itu tinggi-tinggi.

“Kamu pasti mencurinya!”

Mata Binar langsung membelalak.

“Kamu apa-apaan sih Rev!”

“Ngaku saja, Mbak. Nggak usah mengelak!”

Reva semakin yakin dengan tuduhannya sendiri.

“Ini pasti undangan majikanmu, kan? Kamu mencurinya dari rumah majikanmu, lalu mengeditnya jadi namamu sendiri!”

“Aku nggak mencuri. Jangan asal menuduh!” balas Binar. Lama-lama ia mulai kehilangan kesabarannya.

“Terus dapat dari mana?”

“Ya dikasih lah.”

“Bohong!"

Reva mendengus.

“Ngapain coba majikanmu ngasih undangan seperti ini sama pembantunya? Memangnya kamu orang penting hah?!”

Beberapa orang di sekitar mereka mulai melirik karena suara Reva yang semakin keras. Namun, Reva seolah tidak peduli. Ia malah mengangkat kartu undangan itu lebih tinggi.

“Ya ampun! Di sini ada pencuri undangan!” Suaranya sengaja dibuat keras agar perhatian orang-orang tertuju kepadanya.

Beberapa tamu langsung menoleh. Bisik-bisik mulai terdengar dari berbagai arah.

Binar berdiri kaku. Tangannya mengepal di kedua sisi tubuhnya.

Bukan karena takut. Melainkan karena menahan amarah yang sudah di ubun-ubun. Ia bisa saja membongkar semuanya sekarang.

Bisa saja.

Namun, Binar masih bersikeras menahannya.

Sampai tiba-tiba—

“Siapa yang mencuri?”

Sebuah suara berat terdengar dari belakang mereka. Sekejap, keributan di sekitar Binar seolah terhenti.
**
Selengkapnya di KBM App ya gaes.
Judul : Tamu Kehormatan
Karya : Brata Yudha
Gaes, buat yang udah mampir ke aplikasi jangan lupa subscribe yaww biar othornya makin semangat.

Nggak sanggup, BESTie, punya suami kelewat alim 😭. Subuh-subuh udah dibangunin suruh ibadah, pakai baju harus nutup semu...
22/08/2026

Nggak sanggup, BESTie, punya suami kelewat alim 😭. Subuh-subuh udah dibangunin suruh ibadah, pakai baju harus nutup semua badan. Tiap sore suruh kumpul ama ibu-ibu pengajian. Udah gitu tiap hari Senin dan Kamis gak boleh makan, puasa katanya 😭
Akhirnya aku sewa velakorrr buat godain dia biar selingkuh, tp ternyata....

***

100juta Untuk Sang Penggoda

Bab 10 (POV Cantika)

Aku menahan tawa saat melihat adegan Ustaz Cakra mengaji di hadapan istrinya yang sedang berjemur di tepi pantai dengan bikini pinknya. Kontras banget.

Antara ayat-ayat suci dan lekuk tubuh yang dijemur tanpa dosa. Heran juga, suami tampan dan alim kayak gitu malah disia-siakan dan mau dibuang. Tapi itu bukan urusanku. Tugasku cuma satu: buat si Ustaz jatuh cinta kepadaku dan menyingkirkan si istri sah dengan cara yang tetap elegan. Aku karyawan, bukan penjahat. Setidaknya itu pembenaranku.

Di kursi pantai sebelah, aku menyandar santai sambil menikmati sosis bakar dan es kelapa muda. Sinar matahari menghangatkan kulitku, dan semilir angin membuat suasana Bali siang itu terasa sempurna. Aku baru saja menggigit potongan sosis ketika ponselku bergetar. Nama Clara muncul di layar.

[Malam ini, rencana tahap dua. Aku kirim rinciannya. Jangan gagal, Cantika]. Begitu isi chat-nya.

Aku hanya membalas singkat, [Oke, noted.] Karena Clara itu seperti atasan: banyak perintah, sedikit penjelasan. Aku cuma pelaksana, dan selama uang mengalir, aku nggak banyak tanya.

Baru saja aku menaruh ponselku kembali di atas meja kecil, ponsel itu berdering lagi. Kali ini nama ayah tiriku yang muncul. Aku mendesah malas. Biasanya kalau dia menelepon, artinya satu hal: uang.

Panggilan telepon itu kuabaikan dua kali. Tapi saat panggilan ketiga masuk, muncul rasa tak enak. Kutekan tombol hijau.

"Halo?"

"Tika... Tika... Ini Ibu, Nak..." suara serak Ibuku terdengar di latar. Aku langsung tegak duduk.

"Ayah, tolong ubah ke video call. Aku mau lihat Ibu!"

Gambar video menyambung. Di layar kulihat wajah Ibuku, pucat dan berlinang air mata. Ia tergolek lemah di atas dipan tua. Hati ini langsung nyeri.

"Kenapa Ibu begini? Mana obatnya yang kemarin?"

Suara ayah tiriku masuk, canggung dan terbata. "Obat 800 ribu udah nggak mempan, Tika. Kemarin yang cocok itu, yang harga lima juta, tapi... tapi uangnya udah nggak ada. Hutang kemarin belum lunas..."

"Uang kemarin ke mana lagi? Jangan bilang buat judi, Yah!" bentakku.

Aku tahu kebiasaannya. Ayah tiriku bisa berjudi pakai pulsa, pakai uang, bahkan pakai barang rumah.

"Bukan, Tika! Demi Tuhan, bukan! Ini semua buat obat Ibu kamu... buat makan juga udah nggak ada..."

Aku menatap mata Ibu di layar. Ibu menangis. Tubuhnya tampak makin kurus dan kesakitan.

"Sudah, aku transfer sekarang juga. Tapi jangan macam-macam! Aku transfer sepuluh juta, untuk lunasin hutang obat dan beli obat baru."

"Tika..." suara Ibu bergetar. "Maaf ya, Nak... Ibu nyusahin kamu terus..."

"Nggak apa-apa, Bu. Ibu jangan mikir begitu. Ibu sehat dulu, ya..."

Setelah video call kututup, aku langsung membuka aplikasi mobile banking dan mentransfer sepuluh juta. Rasanya dada ini sesak. Tapi belum sempat aku menyimpan ponselku, masuk lagi chat dari Ayah.

[Ayah Tiriku : Tika, buat makan juga udah nggak ada... tolonglah, tambah dua juta lagi buat beli bahan makanan ...]

Aku mengigit bibir bawahku, menahan marah dan air mata. Dalam diam, kukirim dua juta lagi.

Begitu dana terkirim, aku bersandar di kursi. Mataku memandangi pantai yang membentang indah, tapi semua keindahan itu terasa hambar. Dari lima puluh juta yang diberikan Clara, sekarang tinggal setengahnya saja. Kalau misi ini gagal, aku nggak cuma kehilangan sisa bayaranku, tapi bisa-bisa kena denda 200juta. Clara bukan orang sembarangan.

Aku menarik napas panjang.

"Fokus, Tika," gumamku. "Selesaikan pekerjaanmu. Dapatkan uangnya. Ibu harus sembuh."

Aku segera bangkit dari dari kursi pantai saat senja sudah berubah gelap, bersiap akan rencana besar dari Clara—Bosku itu.

**

Langit malam Bali bertabur bintang, tapi di cafe hotel lantai atas, cahaya temaram dan dentuman musik EDM justru menenggelamkan kedamaian malam itu.

Lampu warna-warni berputar liar di atas kepala, asap rokok bercampur parfum mahal memenuhi udara. Clara duduk di sofa pojok dengan wajah dingin, mengenakan gamis hitam dan jilbab hitam yang menyamarkan niat busuknya. Ia terlihat bercakap pelan dengan teman-temannya sambil sesekali melirik jam tangan, seolah sedang menanti sebuah momen penting.

Tak lama kemudian, pintu kaca terbuka. Ustaz Cakra muncul dengan jaket hitamnya, peci masih menempel rapi di kepala. Sejenak matanya menyapu ruangan yang gemerlap dan penuh dengan orang-orang berdansa, lalu jatuh pada Clara. Ia menarik napas, menghampiri istrinya, lalu duduk di sampingnya dengan tubuh yang masih tegak, menjaga jarak dari suara musik yang memekakkan.

Aku, Cantika, duduk beberapa meter dari mereka, memerhatikan diam-diam sambil sesekali melirik layar ponsel. Pesan dari Clara masuk lagi.

[Bersiaplah! Tunggu aku di depan lift!]

[Oke.]

Aku bisa melihat dari sini, saat Clara memasukkan obat ke air mineral milik suaminya.

Aku memandangi gelas bening di atas meja tempat Clara dan suaminya duduk. Benar saja, Ustaz Cakra meminumnya setelah Clara memberinya dengan senyum tipis. Entah apa yang ia masukkan ke dalamnya. Aku pun keluar dari cafe dan menuju lift sesuai perintah dari Bosku itu.

Jam 22.20, aku melihat Clara menggandeng Ustaz Cakra keluar dari lift menuju kamar. Wajah sang ustaz mulai tampak pucat, matanya berat, dan langkahnya goyah seperti sedang melawan kantuk yang luar biasa. Kupikir obat itu benar-benar bekerja.

Aku mengikuti mereka dari kejauhan. Sesuai rencana, Clara keluar dari kamar setelah membaringkan suaminya di tempat tidur. Ia mengunciku masuk dari luar, memberikan aba-aba cepat lewat ponsel:

Clara: [Kamera sudah standby. Lakukan apa yang perlu kamu lakukan. Aku butuh video itu sebagai bukti untuk cerai. Kalau kamu gagal, denda 200 juta.]

Tanganku bergetar memegang ponsel. Aku melirik ke arah ranjang. Ustaz Cakra terbaring di sana, pecinya masih menempel miring di kepalanya, tubuhnya bergerak resah seperti sedang bermimpi buruk. Dugaanku Clara telah memberikan obat pe-r*ngs*ng kepada suaminya itu.

"Ya Tuhan ...." bisikku lirih, dengan hati yang dilema, bingung harus apa. Aku tak menyangka kalau Clara akan menyuruhku menodai suaminya, ini gil@!

Aku duduk di ujung ranjang, jantungku berdentum lebih keras dari musik di cafe tadi. Badanku panas dingin. Aku bukan gadis baik-baik, aku tahu. Tapi ini... ini sudah terlalu jauh. Mata Ustaz Cakra terbuka sesaat, menatap ke arahku dengan pandangan kosong sebelum kembali tertutup.

"Ustaz...?" Aku memanggil pelan.

Tak ada jawaban.

Aku menyentuh keningnya. Hangat. Obat itu kuat sekali. Aku menggigit bibir. Dalam hatiku muncul ribuan pertanyaan—apa benar ini sepadan dengan uang yang kubutuhkan? Dengan pengorbanan yang harus kubayar?

Ponselku kembali bergetar.

Clara: [Cepat, Cantika. Rekamannya harus jelas. Aku nggak mau gagal. Langsung eksekusi dia, berikan sentuhan mautmu!!]

Aku mendekat ke ranjang perlahan, lalu berhenti.

"Maafkan aku, Ustaz..." bisikku.

***

Baca selengkapnya di KBM App

Judul : 100juta Untuk Sang Penggoda

Penulis : Evhae Naffae19

🥰🥰🥰

Tepat 7 hari sebelum menikah, aku mengetahui Sahabat dan calon suamiku diam-diam memiliki hubungan di belakangku, aku ya...
22/08/2026

Tepat 7 hari sebelum menikah, aku mengetahui Sahabat dan calon suamiku diam-diam memiliki hubungan di belakangku, aku yang dermawan tentu langsung mengikhlaskan nya.

Bahkan semua seserahan dan pesta serta gaun pengantin ku berikan kepada sahabatku, tapi kenapa setelah aku pergi Calon suamiku malah marah dan menggila mencariku? Bukankah dia tidak mencintaiku?

Part 11

"Siapa yang telpon Mas?" Ameera berdiri dengan tatapan lembut ke arah suaminya. Yang baru beberapa jam menikahinya itu.
Malik bangkit, ia mengeluarkan ponselnya dan mengelus kepala Ameera.
"Maaf, saya tidak bermaksud untuk tidak sopan. Tapi sejak tadi ponselnya terus berdering, saya takut itu hal penting,"
Ameera tersenyum, ia menatap ponselnya.
"Tidak apa. Mas adalah suami Ameera, di antara kita tidak ada yang perlu di tutupi, bukankah tadi kita sudah sepakat. Jika kita akan terbuka dalam hal apapun, agar Ameera dan juga Mas bisa terbiasa bersama."

Mendengar itu Malik tersenyum dan meraih tangan Ameera dan mengecup keningnya.
"Apakah Mas boleh memintanya saat ini?" Bisiknya dengan suara serak.
Ameera yang mendengar itu sontak merona, kulit putih ke pink pinkan miliknya kini terlihat memerah
"Em, anu Mas. Ameera belum bisa memberikannya." Ameera menunduk karena merasa tidak enak.
Wajah Malik langsung terlihat berbeda.
"Apakah Ameera belum bisa menerima Saya?"
Ameera langsung mengangkat kepalanya dan menggeleng.
"Tidak. Bukan seperti itu."
"Lalu apa? Bukankah kita sudah sah, atau karena lelaki itu?" Tatapan Malik terlihat begitu kecewa.
Ameera langsung menggengam tangan Malik.
"Demi Tuhan Mas, Ameera tidak memikirkan siapapun. Ameera tidak bisa, karena Ameera lagi datang tamu bulanan." Ucapnya sambil menunduk malu.
Malik yang mendengar itu sontak kaget dan langsung tersenyum. Bahkan ia langsung memeluk Ameera.

"Alhamdulilah, Saya pikir kamu belum bisa menerima saya. Hati saya sudah langsung kecewa, karena di tolak oleh bidadari di hadapan saya ini."
Ameera yang mendengar itu langsung merengek manja dan mencubit lengan suaminya. Hingga membuat suasan mencair.

-----

"Gus, sekarang Gus mau ngapain? Saya lihat kamu seperti hendak memakan orang Gus. Istigfar!"

"Saya tidak Terima di perlakukan seperti ini Basir, Jika Ameera benar sudah menikah, kenapa mereka tega mengkhianati saya. Bukankah pernikahan kami akan segera di gelar!" Bagas membuka kopiahnya dan menendang batu
Basir menghela nafas.
"Gus. Bukankah harusnya Gus bersyukur jika Ning Ameera sudah menikah dengan lelaki lain, itu artinya Gus bisa bersatu dengan wanita yang selama ini Gus s**a."
Mendengar itu Bagas terdiam.
"Tapi, bukan seperti ini yang saya mau Bas! "
"Lalu mau seperti apa Gus? Hidup bersama Ning Ameera tapi setiap hari menyakitinya dengan cara yang sama? Setiap hari yang Gus bahas hanya Zahra, bahkan Gus mengabaikan Ning Ameera hanya demi Zahra!"

Ucapan Basir seperti tamparan untuk Bagas.
"Tapi Sir. Aku menikahi Ameera itu bukan karena cinta. Semua itu karena... "
"Karena balas budi? Iya? Lalu kenapa di saat Gus tidak harus melakukan itu sekarang Gus terlihat kelimpungan. Apakah sebenarnya Gus sudah mencintai Ning Ameera tanpa di sadari oleh Gus sendiri?"

Bagas semakin di buat tidak bisa berpikir. Ia berdecak.
"Tidak. Tidak mungkin aku mencintai wanita yang dzolim seperti Ameera."

Malamnya. Setelah salat isa berjamaah di masjid. Bagas kembali mendatangi Abi yang baru keluar dari masjid.
"Assalamualaikum Abi, "
"Waalaikum salam."
"Bi. Saya tau Abi masih marah sama saya, saya minta maaf atas apa yang saya perbuat. Tapi tolong kasih tahu saya di mana keberadaan Ning Ameera. Pernikahan kami akan di gelar sebentar lagi, tapi Ning Ameera tidak ada."
Abi bukannya menjawab. Ia malah menatap Bagas. Bahkan Abi tersenyum miring.
Ia menepuk pundak Bagas.
"Lupakan anak saya. Pernikahan kalian tidak akan pernah ada. Yang akan ada adalah pernikahan kamu dengan wanita pujaanmu."
Mendengar itu Bagas tentu kebingungan dan juga kaget.
"Bi, kenapa Abi berkata seperti itu?"
Bagas terus mengejar Abi sambil meminta penjelasan
"Nanti kamu akan tahu sendiri Bagas." Balas Abi sambil tersenyum.
"Saya sudah memaafkan kamu, saya anggap apa yang kamu lakukan itu adalah pemutus hubungan kamu dengan putri saya. Saya tidak akan menyalahkan kamu."

Mendengar itu lagi, membuat Bagas semakin gelisah dan ada rasa takut yang amat besar.
Dadanya terasa sesak. Bahkan untuk berdiri saja ia tidak bisa. Basir yang sejak tadi berdiri di belakangnya langsung menangkap tubuh tegap Bagas.
"Gus?"
"Bantu saya untuk duduk di sana Sir. Rasanya sesak dan lemas."
Basir mengangguk.
"Gus. Apakah kita butuh ke rumah sakit untuk periksa?"
Bagas menggeleng dan saat ia mencoba menghirup udara untuk membuatnya tenang. Mobil mewah melewati mereka dan di dalamnya ada Ameera yang sedang tersenyum dan di sampingnya tentu ada Ustad Malik. Seketika Bagas bangkit dan memanggil Ameera.
"Ameera?!"
Ameera yang mendengar namanya di panggil sontak menoleh. Saat ia melihat Bagas berdiri di ujung sana. Ameera hanya tersenyum dan senyuman itu membuat Bagas kembali merasa sesak dan hampir terjatuh.

Dulu, saat masih SMA, aku memaksa pacarku ehemmm. Aku berjanji akan bertanggung jawab kalau dia ha m ! l.Tujuh tahun kem...
22/08/2026

Dulu, saat masih SMA, aku memaksa pacarku ehemmm. Aku berjanji akan bertanggung jawab kalau dia ha m ! l.

Tujuh tahun kemudian, kami bertemu lagi di acara reuni. Saat memperkenalkan anak dan istriku, aku terkejut mengetahui anaknya sudah mau SD dan wajah bocah itu sangat mirip denganku. Jangan2 ...

Part 7

“Selesaikan yang harus diselesaikan. Segera. Jangan berlarut-larut, atau kamu akan kehilangan aku seperti kamu kehilangan dia di masa lalu!”

“Honey …, kenapa kamu jadi begini?”

“Kenapa aku jadi begini? Seharusnya aku yang bertanya kenapa kamu jadi begini!” Bulan terengah. Sebagai seorang istri, dia yakin feelingnya tidak akan salah.

“Kamu begitu peduli pada Embun saat mendengar dia pingsan sampai hampir setengah melompat dari kursi untuk membantunya. Setelah itu, kamu terus memikirkan dia sepanjang perjalanan pulang hingga salah memanggil namaku dengan namanya. Malam harinya, kamu juga memimpikan dia hingga mengigau memanggil namanya. Masih bertanya kenapa aku jadi begini?!”

Angkasa terdiam mendengar ucapan istrinya. Dia jelas akan kalah jika terus mendebat Bulan. Lelaki itu tentu belum lupa kalau istrinya pernah menjadi perwakilan universitas untuk mengikuti lomba debat dan menang satu kali di tingkat nasional, dua kali di tingkat provinsi. Kemampuan public speaking dan kecepatan berpikir kritis Bulan tidak main-main.

“Kita pulang saja. Aku tidak minat melanjutkan makan diluar.”

Angkasa menghela napas panjang. Lelaki itu akhirnya mengangguk dan mulai mengemudikan mobil. Sepanjang perjalanan pulang, mereka tidak saling bicara. Keduanya sama-sama sibuk dengan pikiran masing-masing.

Bulan jelas tidak terima kalau Angkasa terus-terusan terbawa suasana karena reuni kemarin. Sementara Angkasa sedang berada dalam kekalutan yang teramat sangat mengetahui dia memiliki seorang ank dengan Embun.

Kaget.

Bingung.

Merasa bersalah karena Angkasa tahu betul Embun pasti melalui masa-masa yang sangat sulit selama tujuh tahun ini.

Semua perasaan itu terasa menyesakkan bagi Angkasa. Dia tidak tahu harus bagaimana dan berbuat apa. Tidak mungkin dia akan mengabaikan begitu saja anknya yang kini bersama Embun, tapi dia juga bingung bagaimana menjelaskannya pada Bulan. Sedang dengan Embun saja, dia masih bingung harus seperti apa bersikap.

“Verona sudah t ! d u r. Kamu bersih-bersih dan makan saja dulu, Lan. Dia anteng tuh di baby box dekat sofa.”

Bulan yang langsung menuju ruang keluarga begitu sampai di rumah mengangguk mendengar ucapan mertuanya. Bukannya masuk ke k a m a r, dia malah duduk selonjoran di dekat mertuanya yang sedang santai di ruang keluarga.

“Kenapa? Ada masalah di kantor?” Rissa langsung menanyai menantunya saat melihat Bulan sepertinya lesu sekali. Biasanya, Bulan selalu ceria.

“Mama tahu Embun?”

“Embun?” Rissa menautkan alis. Perasaannya seperti ter c u b ! t saat mendengar nama itu lagi. Bayangan wajah Embun yang menangis saat dia u s ! r di depan gerbang rumah tujuh tahun yang lalu menari-nari di pelupuk mata.

“Iya, Embun, teman SMAnya Mas Angkasa.”

“Dulu pernah dengar sesekali. Kenapa memangnya dia?” Rissa menahan napas saat menantikan jawaban menantunya. Perasaannya mulai tidak nyaman karena khawatir kalau sampai ada apa-apa lagi antara Embun dan Angkasa. Dia kira, setelah tujuh tahun berlalu dan sudah menikah, putranya akan melupakan wanita miskin dan yatim piatu itu. Tak disangka, belum satu bulan di Indonesia, dia sudah mendengar nama Embun keluar dari mulut menantunya.

“Dia–” Ucapan Bulan terputus karena Verona merengek. Dia bergegas menghampiri anknya dan meng g 3 n d o n g Verona hingga tenang kembali. “Ma, aku ke k a m a r dulu sekalian mindahin Verona.” Bulan meninggalkan mertuanya yang mengangguk pelan, seperti ada yang sedang dipikirkan.

Di tempat berbeda, keesokan harinya. Embun tersenyum lebar melihat Langit menghabiskan sarapan. Anknya memang tidak pernah rewel urusan makanan. Apa yang ada akan dimakan dengan lahap asalkan sudah siap santap. Bahkan, dari mulai MPAS!, Langit tidak pernah GTM satu kalipun.

“Langit, nanti Ibu mau wawancara kerja. Kamu pulang sekolah langsung ke warung Nenek Rasti saja ya? Ibu sudah bilang ke Nenek buat masuk kerja sore saja hari ini karena belum tahu juga nanti wawancara kerjanya berapa lama.”

“Iya, Ibu, semoga Ibu diterima kerja dan cepat punya uwhang banyak biar bisa bel! motor biar Ibu tidak pegal-pegal lagi kakinya.”

“Aamiin.” Embun meng e l u s kepala anknya. Selama ini, mereka seringnya jalan kaki kalau mau kemana-mana. Embun sesekali mengeluh kakinya pegal dan dipijat oleh Langit kalau malam, terutama saat harus bolak-balik ke kampus dan warung saat masih kuliah dulu.

Ah … jangankan untuk membel! motor, bahkan untuk mem b a y a r s e w a kost saja Embun tidak mampu. Selama tujuh tahun ini, mereka tinggal di gudang belakang warung. Makan tiga kali sehari memang ditanggung oleh pemilik warung, tapi u p a h harian yang diterima Embun juga tidak banyak. U p a h yang sedikit itu dia bagi-bagi untuk keperluan membel! buku dan b ! a y a tugas kuliah. Meski mendapat beasiswa, tapi untuk keperluan seperti itu dia jelas harus merogoh kocek sendiri. Jadilah mereka hidup berhemat sekali.

Setelah lulus kuliah, Embun mulai membel! baju yang pantas untuk persiapan melamar pekerjaan dari t a b u n g a n yang dia kumpulkan ser!bu dua r!bu setiap hari selama bertahun-tahun ini. Meski murah, tapi cukup sopan dan pantas untuk dikenakan. Dia juga harus memikirkan kebutuhan Langit karena anaknya mulai masuk sekolah.

Di usia yang masih sangat muda, dia sudah harus memikirkan semua. Kalau keluar, orang-orang malah mengira mereka Kakak dan Adik, bukan Ibu dan Ank. Langit juga s**a iseng memanggil Embun Kakak kalau sedang ada diluar. Senang saja dia menggoda ibunya.

“Bismillahirrohmanirrohim ….” Embun menghela napas panjang saat memasuki gedung kantor. Ini sudah wawancara tahap akhir. Kalau diterima, dia bisa hidup dengan layak dan bisa memastikan Langit tidak akan kekurangan.

Embun sangat percaya diri karena dari semua tahapan tes yang dilaksanakan, nilainya selalu paling tinggi. Kecerdasannya jelas tidak diragukan, dia lulus dengan predikat cumlaude meski waktu belajar sangat terbatas karena fokusnya terbagi antara bekerja di warung dan mengurus Langit.

“Mutiara Embun, mohon persiapkan diri sebaik mungkin karena akan langsung diwawancarai oleh Wakil Direktur Utama.”

Embun menghela napas panjang saat namanya disebut. Menurut kabar yang dia dengar dari peserta lain tadi, mereka akan diwawancarai oleh jajaran direksi hari ini. Ada tiga direksi yang terlibat ditambah wakil direktur utama juga turun langsung, mengingat pentingnya program MT ini karena bertujuan untuk menyeleksi calon leader perusahaan di masa depan.

“Mutiara Embun, silakan.”

Embun menghela napas panjang sambil berjalan menuju ruangan yang ditunjuk. Dia terus berdoa dalam hati agar diberi kelancaran saat menjawab pertanyaan nanti. Embun berusaha menenangkan diri karena degup jantungnya yang berdetak lebih kencang dari biasanya.

“Selamat siang, perkenalkan saya Embun dari universitas–” Perkenalan diri Embun terputus saat beradu pandang dengan lelaki yang juga sedang menatap dirinya tidak berkedip. Napasnya tercekat seketika.

Angkasa Mahardika.

Embun tidak menyangka ternyata semesta masih belum puas bercanda dengan dirinya. Diantara empat orang jajaran direksi yang melakukan wawancara hari ini, kenapa harus wakil direktur utama yang mewawancarai dirinya?

Baca selengkapnya di KBM App.
Judul : Sempat Memilikimu.
Penulis : Asda Witah Busrin.

“Mbak, datang ke wisudaku, ya. Aku mau mengenalkan calon suamiku.” Aku sengaja mengundang Kakak tiriku yang bekerja menj...
22/08/2026

“Mbak, datang ke wisudaku, ya. Aku mau mengenalkan calon suamiku.”

Aku sengaja mengundang Kakak tiriku yang bekerja menjadi pembantu karena ingin melihat wajahnya shock berat saat tahu kekasihnya yang seorang tentara kini menjadi milikku. Tapi saat dia datang, kenapa semua orang justru berdiri menyambutnya?

BAB 1
“Mbak, besok datang ke acara wisudaku, ya. Aku tunggu, loh. Tapi ingat, pakai baju yang bagus. Jangan baju buat lap pel! Hahaha!”

Reva tertawa dari seberang telepon.

Binar yang sedang duduk di tepi tempat tidur hanya tersenyum tipis mendengar ucapan adik tirinya itu.

“Iya. Besok aku datang.”

“Serius?”

“Iya.”

“Bagus! Sekalian aku mau ngenalin seseorang yang spesial ke kamu Mbak.”

Senyum Binar langsung menghilang. Ia tahu betul siapa orang spesial yang dimaksud Reva. Lelaki yang selama hampir dua tahun terakhir menjadi kekasihnya. Lelaki yang dua hari lalu tiba-tiba memutuskan hubungan mereka.

Binar masih ingat betul bagaimana lelaki itu menyampaikan keputusannya.
“Maaf, Bin. Kita nggak bisa lanjut.”

Binar yang saat itu duduk berhadapan dengannya langsung mengernyit.

“Kenapa?”

“Ibuku nggak setuju.”

“Karena?”

“Katanya weton kita nggak cocok.”

Binar sampai tertawa saking tidak habis pikir dengan alasan konyol itu.

“Weton?”

Lelaki itu hanya menunduk.

“Kenapa baru sekarang?”

“Maaf aku nggak bisa melawan ibu, Bin. Kata Ibu kalau nggak cocok wetonnya nanti rumah tangga kita nggak bakal langgeng," jawabnya.

Binar menatap kekasihnya lama. “Dua tahun kita pacaran, kamu baru ingat weton kita nggak cocok, Mas?”

Lelaki itu tetap diam. Dan dari sikapnya, Binar tahu kalau itu bukan alasan sebenarnya.

Benar saja.

Malamnya, Binar menemukan bukti kalau lelaki itu sudah berselingkuh. Bukan dengan orang jauh, tapi dengan orang terdekatnya sendiri. Reva, adik tirinya. Perempuan yang sekarang dengan santainya mengundang Binar ke acara wisudanya untuk memperkenalkan seseorang yang spesial, katanya. Padahal, dari hasil keringatnya lah gadis itu bisa sekolah kebidanan. Memang benar kata pepatah, jangan memelihara macan di dalam rumah, karena bisa memakan tuannya sendiri. Sekarang, Binar mengalaminya.

Binar menarik napas panjang untuk mengontrol emosinya. “Kalau begitu, sampai besok ya, Rev.”

“Jangan lupa datang, ya, Mbak. Aku tunggu loh.”

“Oke.”

Telepon ditutup. Binar menatap layar ponselnya dengan tatapan datar.

Jadi besok Reva mau pamer?

Silakan.

Binar justru ingin melihat seberapa tinggi adik tirinya itu akan mengangkat kepala setelah berhasil merebut lelaki yang selama ini menjadi kekasihnya. Karena sebenarnya... ia sendiri sudah punya kejutan.

Namun, belum sempat Binar kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda, ponselnya kembali berdering. Kali ini nama ibu tirinya yang muncul. Binar mengangkat telepon itu.

“Halo, Bu?”

“Bin, transfer uang sekarang!” perintahnya tanpa basa-basi.

Binar mengernyit.

“Uang apa ya?” jawab Binar santai.

“Buat biaya makeup sama salon Reva besok.”

Binar terdiam beberapa detik.

“Bukannya Reva yang mau wisuda?”

“Iya.”

“Terus kenapa aku yang harus bayar?”

“Karena kamu kan sudah kerja. Masa adik sendiri mau wisuda nggak kamu bantu sih? Jangan perhitungan sama saudara sendiri kamu!” omelnya.

Binar menghela napas. “Maaf Bu, tapi aku belum gajian.”

“Alah, jangan banyak alasan! Pokoknya ibu nggak mau tahu, kirim uangnya sekarang juga.”

“Loh kalau belum gajian mau gimana?”

“Cari pinjaman lah! Kan bisa ngutang dulu ke bosmu apa ke temenmu yang sesama pembantu, masa uang segitu aja nggak ada sih!” paksanya.

Binar mulai kesal.

“Kenapa aku yang harus ribet cari pinjaman untuk biaya makeup wisuda si Reva? Suruh anak ibu cari uang sendiri! Kalau nggak mampu dandan, nggak usah make up kan bisa.”

“Binar! Jangan kurang ajar kamu!” Suara ibu tirinya meninggi.

Binar memejamkan mata.

Dari dulu memang selalu seperti ini. Kalau Reva membutuhkan sesuatu, semua orang harus mencari dan menyediakannya. Lagaknya seperti tuan puteri yang ingin dilayani. Dan bodohnya, Binar mau-mau saja.

“Maaf, Bu. Aku benar-benar nggak bisa. Mau ibu maksa juga aku tetap nggak akan kasih. Jangan ngerepotin orang deh. Udah ya, aku masih sibuk mau kerja.”

“Nggak usah sok sibuk lah, kerja cuma ngosek WC aja belagu kamu. Awas ya Bin, Ibu bakal aduin ke bapakmu kalau kamu nggak kirim uangnya sekarang!” ancamnya.

Binar malah tersenyum. Kalau dulu dia akan takut dan buru-buru minta maaf, tapi sekarang tidak lagi. Ia justru berkata, “Silakan saja.”

Tuut.
Telepon langsung ditutup. Binar meletakkan ponselnya. Namun belum sampai satu menit, telepon kembali masuk. Kali ini dari nomor ayahnya. Binar langsung mengangkatnya.

“Binar!” Suara sang ayah langsung terdengar menggelegar dari seberang. “Kamu kenapa bikin ibumu marah?”

Binar diam.

“Disuruh bantu adikmu saja susah. Besok itu hari pentingnya adikmu Bin. Hari penting keluarga kita!Bapak nggak mau tahu, kirim uangnya sekarang!”

“Pak, aku udah bilang ke Ibu kalau belum gajian,” jawab Binar, menahan kesabarannya.

“Alasan! Transfer sekarang!”

Binar menarik napas panjang. “Pak, Binar memang belum gajian. Lagian seminggu lalu kan juga sudah dikirim buat uang makan bapak. Binar capek, masa semua kebutuhan harus ditanggung aku sih?”

“Ya terus kamu kerja buat apa kalau bukan buat bantu keluarga?!” bentak sang ayah.

Binar terdiam. Kemudian ia tersenyum getir.

“Maaf, Pak. Binar bukan sapi perah.”

“Apa maksud kamu?”

“Binar capek jadi tulang punggung keluarga, tapi semua usaha Binar nggak pernah dihargai. Malah yang ada disepelein. Jadi mulai sekarang, silahkan kalian cari makan sendiri!”

“Ngomong apa kamu hah?! Kamu mau jadi anak durhaka?” hardiknya.

Binar menggigit bibirnya. Dadanya terasa sesak.

Kalimat itu lagi.

Setiap kali ia mencoba menolak sesuatu, selalu saja disebut anak durhaka.

“Kalau boleh memilih… Binar lebih baik jadi anak durhaka daripada jadi sapi perah seumur hidup.”

“Kamu!”

Binar langsung mematikan sambungan telepon itu sebelum mendengar semburan ayahnya lebih lama. Ia menatap layar ponselnya dengan napas berat. Matanya mulai berkaca-kaca.

Binar kembali teringat masa kecilnya. Sejak dulu ia selalu dibandingkan dengan Reva. Ketika Reva mendapat nilai bagus, ayahnya langsung bangga. Ketika Binar mendapat nilai lebih tinggi, ayahnya biasa saja. Ketika Reva meminta sesuatu, mereka berusaha memberikannya. Sedangkan Binar? Ia harus bekerja sendiri untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.

Binar mengepalkan tangannya. Dulu mungkin ia akan diam dan mengalah ketika dihina dan disakiti. Namun sekarang tidak lagi.
*
Keesokan harinya, Binar datang ke tempat acara wisuda Reva. Begitu turun dari kendaraan, ia langsung melihat keluarganya berdiri di dekat pintu masuk.

Ibu tirinya langsung memasang wajah tidak s**a saat melihat kehadirannya. “Kamu datang juga ternyata?”

Binar diam saja.

“Sudah nggak mau kasih uang buat makeup, sekarang malah datang buat numpang nama ke Reva? Tebel banget mukamu. Dasar nggak tahu malu!” sindirnya.

Binar mengernyit. “Aku datang karena diundang. Jadi ngapain harus malu?”

Bapak Binar langsung menyela. “Siapa yang ngundang kamu? Kamu bahkan belum minta maaf sama kami!”

Binar tersenyum tipis. Minta maaf buat apa? Minta maaf karena sudah jadi orang idi_0t yang mau saja dimanfaatkan dan diperas oleh orang-orang tidak tahu diri seperti mereka maksudnya?

“Pulang sana!” usir sang ayah.

Binar menatap ayahnya tanpa rasa takut. “Bapak nggak punya hak ngusir aku. Seperti yang aku bilang, aku datang ke sini karena diundang!"

“Dasar kepala batu. Giliran adiknya sukses, baru muncul!” cibir ibu tirinya.

Binar menarik napas panjang. Ia sebenarnya sudah menduga akan mendapatkan sambutan seperti itu. Namun tetap saja, mendengarnya secara langsung membuat hatinya terasa sakit.

Bapak Binar bahkan sudah hendak menarik lengannya ketika Reva tiba-tiba datang.

“Pak, jangan.”

Reva memegang tangan ayah mereka.

“Sudahlah, kamu jangan membela Mbakmu, Reva.”

“Gapapa, Pak...” Reva menatap Binar sambil tersenyum palsu.

“Mbak Binar sudah jauh-jauh datang dari luar kota untuk menghadiri wisudaku loh. Kasihan kalau disuruh pulang lagi.”

Ayah Binar langsung melunak.

“Nah, kamu lihat sendiri kan? Mulia sekali hati adikmu. Ini baru namanya anak kebanggaan orang tua,” pujinya.

Reva tersenyum.

“Bagaimanapun Mbak Binar kan tetap kakak Reva Pak. Masa aku wisuda Kakak nggak diundang sih?”

“Kamu memang anak baik, Reva, makanya takdir kamu bagus, bisa lulus jadi bidan dan angkat derajat keluarga kita. Nggak seperti Mbak mu tuh yang cuma jadi pembantu aja sombong,” puji ibu tirinya sambil menyindir Binar. Padahal, puteri kesayangannya bisa lulus kebidanan karena dibiayai oleh orang yang dia hina.

Binar menunduk sebentar. Lalu tersenyum tipis. Ia sudah terlalu sering mendengar perbandingan seperti itu. Namun kali ini, Binar rasanya sudah terlalu muak.

“Maaf. Tapi aku ke sini bukan diundang sama kamu. Jadi nggak usah sok jadi pahlawan kesorean!”

Reva mengernyit bingung. “Terus diundang siapa? Masa diundang sama kambing? Ada-ada aja sih kamu Mbak." Ia terkekeh sambil sengaja mengeraskan suaranya. Beberapa orang di sekitar mereka bahkan sampai menoleh.

Binar tidak membalas, ia justru tersenyum tenang.
“Aku diundang rektormu.”

Seketika raut wajah Reva berubah terkejut. “Hah?”

Binar tidak menjawab. Ia hanya melirik ke arah pintu utama gedung. Di sana, seorang panitia wisuda terlihat berlari tergesa-gesa ke arah mereka.

Selengkapnya di KBM App
Judul : Tamu Kehormatan
Karya : Brata Yudha

Address

Lamongan

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Nadine posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share