Nadine

Website

Nadine bekerja sambil berdoa✅ promosi novel✅
Follow komen bagikan kalau s**a✅
JASPROM👉081333935583

H-7 sebelum akad, kakakku mengaku hamil anak calon suamiku. Lebih menyakitkan, orang tuaku justru memintaku mengikhlaska...
26/09/2026

H-7 sebelum akad, kakakku mengaku hamil anak calon suamiku. Lebih menyakitkan, orang tuaku justru memintaku mengikhlaskan mereka menikah di gedung yang sudah kubayar sendiri.

Aku menolak menyerah. Pernikahanku tetap berlangsung, hanya mempelai prianya yang diganti.
Saat kakakku mencibir tak ada pria yang mau menikahiku secara dadakan, aku membuktikan sebaliknya.
Tapi, tak disangka, pria yang menjadi suami penggantiku ternyata ...

****
#2

2.

"Kamu gi la, Nika! Mana ada laki-laki gi la yang mau menikahi perempuan secara dadakan dalam waktu seminggu?!"
Suara Ayah menggelegar, memecah hening di ruang tamu. Wajahnya yang memerah padam menatapku penuh amarah dan ketidakpercayaan. Di sampingnya, Ibu menggeleng-gelengkan kepala dengan raut wajah panik, seolah aku baru saja mengucapkan sebuah lelucon paling tidak masuk akal di dunia.

"Nika, istighfar, Nak!" Ibu melangkah mendekat, mencoba memegang bahuku, tetapi aku langsung mundur satu langkah membiarkan tangannya mengawang di udara. "Kamu ini bicara apa? Jangan asal ceplos karena emosi! Mana bisa pernikahan diganti pengantin prianya seenak jidat dalam waktu tujuh hari? Kamu mau mempermalukan keluarga kita lebih jauh?!"

"Mempermalukan keluarga?" Aku tertawa sumbang, menatap Ibu dengan tatapan paling dingin yang kupunya. "Bukan aku yang memulainya, Bu. Yang bikin malu keluarga itu Mbak Ema dan calon suamiku yang berzi na di belakangku sampai hamil!"

"Nika!" bentak Ayah sambil menudingkan telunjuknya. "Jangan kurang ajar kamu ya! Mbakmu itu sudah mengakui kesalahannya! Dia sedang hamil anak Zacky, cucu Ayah! Harusnya kamu sebagai adik bisa ikhlas! Kenapa kamu pelit sekali cuma soal gedung?!"

"Aku sudah ikhlas, Yah," potongku cepat. Suaraku kini berganti menjadi begitu datar dan tenang, sebuah ketenangan yang justru menusuk. "Aku sudah ikhlas melepas Mas Zacky. Ambil saja laki-laki gak berguna itu untuk Mbak Ema. Aku sudah gak berminat lagi. Tapi untuk gedung, katering, dekorasi, dan semua acara di sana ... Gak akan pernah aku ikhlaskan untuk mereka!"

Mbak Emara yang masih sesenggukan di sofa mend**gak. Matanya yang sembap menatapku penuh rasa tidak percaya sekaligus kemarahan yang tertahan. "Nika ... kamu kok jahat banget sama Mbak? Kasihan anak di kandungan Mbak, Nika! Kalau gedung itu gak dipakai kami, terus kami mau nikah di mana? Waktunya tinggal seminggu!"

"Itu bukan urusanku, Mbak," jawabku tanpa beban. "Mau nikah di balai RW, di KUA, atau di lapangan kompleks sekalipun, aku gak peduli. Gedung mewah itu dibayar pakai keringatku sendiri. Setiap rupiahnya keluar dari rekeningku. Jadi hak penuh ada di tanganku."

"Kamu jangan kekanak-kanakan!" sela Ibu dengan nada memohon yang dipaksakan. "Memangnya kamu pikir ada laki-laki di dunia ini yang mau diajak nikah dadakan cuma buat nemenin kamu di pelaminan? Nggak ada, Nika! Jangan halusinasi! Daripada gedungnya kosong dan uangmu hangus terbuang sia-sia, lebih baik kasihkan ke Mbakmu!"

"Siapa bilang uangku bakal hangus?" Aku menaikkan sebelah alisku, menatap Ibu dan Ayah bergantian. "Pernikahan di gedung itu tetap akan berlangsung nanti. Aku yang akan berdiri di pelaminan itu sebagai pengantin wanita. Masalah siapa pengantin prianya, itu urusanku. Masih ada tujuh hari untuk mencarinya."

"Halu kamu!" cibir Mbak Emara tiba-tiba, suaranya tak lagi bergetar ketakutan, melainkan dipenuhi nada meremehkan. "Mana ada pria mapan dan beres yang mau dipungut secara dadakan buat jadi suami pengganti? Paling kalau ada, cuma tukang ojek pasar atau pria frustrasi yang butuh uang! Kamu mau malu seumur hidup karena dapet suami seadanya?!"

Belum sempat aku membalas cibiran Mbak Emara, suara deru mobil yang sangat kukenal terdengar berhenti tepat di halaman rumah. Suara pintu mobil ditutup terburu-buru disusul langkah kaki tergesa-gesa mendekati ruang tamu.
Sosok pria tinggi dengan kemeja kantor yang agak kusut muncul di ambang pintu. Mas Zacky. Calon suamiku atau lebih tepatnya mantan calon suamiku. Napasnya terengah-engah, matanya menyapu isi ruangan hingga tatapannya jatuh tepat padaku. Telepon dari Mbak Emara beberapa menit lalu jelas berhasil membawanya berlari ke sini.

"Nika!" Mas Zacky melangkah cepat mendekatiku. Wajahnya tampak panik dan penuh rasa bersalah. "Nika ... tolong dengarkan Mas dulu. Mas memohon sama kamu ..."

"Jangan mendekat, Mas," ucapku dingin, mengangkat sebelah tanganku untuk menahannya. "Ada jarak yang harus kamu jaga sekarang. Kamu itu calon suami kakakku."

Kalimatku sukses membuat langkah Mas Reno terhenti seketika. Wajahnya makin pucat pasi. "Nika, Mas tahu Mas salah. Mas khilaf dan Mas benar-benar minta maaf atas semua yang terjadi antara Mas dan Ema. Mas pria jahat, Mas ngaku ..."

Ia mencoba meraih tanganku, tetapi aku langsung menepisnya kasar. Mas Zacky menarik napas panjang, menatapku dengan sorot mata memohon yang membuatku merasa sangat mual.

"Tapi Nika ... tolong kasihanilah Ema dan anak di kandungannya," lanjut Mas Zacky, suaraku yang tadinya penuh penyesalan kini berubah menjadi nada membujuk yang licik. "Ema sedang hamil anak Mas. Kita gak punya waktu lagi untuk mengurus izin atau sewa gedung baru. Tolong ... relakan gedung dan acara minggu depan untuk pernikahan kami. Biar Mas dan Ema yang pakai. Mas janji, nanti semua biaya gedung yang sudah kamu keluarkan bakal Mas ganti pelan-pelan setelah kami menikah."

Aku tertawa kencang, sebuah tawa keji yang membuat semua orang di ruangan itu bungkam.

"Mengganti pelan-pelan?" kataku menatap Mas Zacky dari atas ke bawah. "Mas, jangankan buat ganti biaya gedung puluhan juta rupiah, buat bayar DP katering aja kamu kemarin pinjam uangku! Mau ganti pakai apa? Pakai janji manismu yang gak berharga itu?"

"Nika! Jaga mulutmu!" bentak Ayah membela calon menantu kesayangannya itu. "Zacky sudah berniat baik minta maaf dan mau bertanggung jawab ganti uangmu!"

"Niat baik gak bisa dipakai buat bayar gedung, Yah!" balasku lantang, lalu kembali menatap Mas Zacky lurus-lurus. "Dengar ya, Mas. Aku sudah mengikhlaskan kamu. Kamu mau menikah dengan Mbak Ema hari ini, besok, atau detik ini juga, aku sama sekali gak peduli. Tapi gedung pernikahan itu milikku. Sampai mati pun, aku gak akan pernah mengizinkan kalian berdua tersenyum bahagia di panggung yang kubayar pakai uangku!"

"Nika, jangan keras kepala!" Mas Zacky mulai kehilangan kesabarannya. "Kamu mau pakai gedung itu buat apa?! Memangnya ada pria yang mau nikah sama kamu seminggu lagi?! Nggak akan ada, Nika! Jangan bikin acara itu batal dan bikin malu semua orang!"

"Siapa bilang batal?" Aku melangkah mendekati Mas Zacky, menatap tepat ke dalam manik matanya dengan senyuman paling tajam. "Acara itu tetap jalan. Dan aku pastikan, pria yang berdiri di sampingku di pelaminan nanti ... punya kelas yang jauh di atas pria pengkhianat seperti kamu."

Tanpa memedulikan teriakan Ayah dan makian Mbak Ema yang membahana di ruang tamu, aku berbalik dan berjalan mantap keluar dari rumah. Dengung cibiran mereka masih terngiang di telingaku, meyakini bahwa tak akan ada pria yang sudi menikahiku secara dadakan.

Aku mengepalkan tangan erat-erat sambil menyalakan motor, lalu pergi sejauh mungkin dari rumah. Hingga tak lama kemudian menepi dan merogoh ponsel di dalam saku.

​Begitu layar menyala, aku langsung menekan tombol panggil ke nomor Karina, sahabatku di kantor. Nada sambung baru berbunyi sekali sebelum suaranya terdengar dari balik telepon.

​"Rin, pegawai baru di perusahaan kita yang katanya lagi keteteran cari calon istri itu ... kirim nomornya sekarang."

Selengkapnya baca di aplikasi KBM apps
Judul : Menggantimu 7 Hari Sebelum Akad
Penulis : Queensunrise

Sejak kecil, saudari tiriku merebut semua yang aku miliki. Kamarku. Rumahku. Papaku. Dan sekarang dia ingin memiliki sua...
26/09/2026

Sejak kecil, saudari tiriku merebut semua yang aku miliki. Kamarku. Rumahku. Papaku. Dan sekarang dia ingin memiliki suamiku yang kaya raya. Dia berhasil. Suamiku menjadikan dia selingkuhan. Aku mengetahui itu. Tapi aku berpura-pura bodoh. Kuikuti semua permainan mereka, sambil menyusun rencana besar yang akan membuat mereka menangis darah.

**

POV Ditha

Aku hanya perlu memencet bel satu kali, detik kemudian Mama langsung keluar. Begitu melihatku berdiri di depan pintu, wajahnya seketika berubah cerah. Senang sekali melihatku datang. Mungkin karena sudah cukup lama aku tidak mampir ke rumah.

“Papa ada, Ma?” Aku celingukan. Tatapanku melewati bahu Mama.

“Sudah berangkat ke kantor.” Mama membuka pintu lebih lebar. “Tumben sekali kamu mampir ke rumah. Biasanya ogah-ogahan. Malah nyuruh kami yang datang ke apartemenmu.”

Aku tersenyum. “Karena aku punya kejutan besar untuk Mama.”

Mama langsung mengernyit penasaran. “ Kejutan apa?”

Aku mengangkat tangan kiri, sengaja membiarkan cahaya mengenai benda yang sejak tadi melingkar manis di jari manisku. Sebuah cincin berlian. Mata Mama langsung tertuju ke sana.

“Kamu sudah punya pacar sekarang?”

“Iya d**g.”

“Siapa? Dia orang kaya, kan?”

Aku menatap wajahnya beberapa detik, menikmati rasa penasaran yang semakin jelas terlihat.

“Juan.”

Mama masih belum mengerti. “Juan siapa?” burunya. Keningnya berkerut-kerut.

Aku tertawa kecil. “Juan ... suaminya Tabina Khairunnisa. Anak tiri Mama.”

Tawaku langsung meledak. Rasanya bahagia sekali mengucapkan kalimat itu. Tapi Mama malah membeku. Untuk beberapa detik, dia hanya menatapku seolah baru saja salah mendengar.

“Jangan bercanda kamu, Ditha.”

“Gak bercanda.” Aku masuk tanpa perlu dipersilakan. Bahu kami saling bersentuhan saat aku melewati Mama.

“Ini serius, Mama. Aku dan Juan memang sudah pacaran sejak beberapa bulan yang lalu. Setelah perjuangan yang panjang, akhirnya aku bisa mendapatkannya juga.” Aku mengembuskan napas lega. Seolah merebut suami orang adalah prestasi yang paling bisa kubanggakan.

Mama mengikuti langkahku dengan tatapan tak percaya.

“Bagaimana bisa, Ananditha?”

Aku mengambil tempat di sofa. Lalu duduk santai sembari menyilangkan kaki. Senyumku tak jua sirna.

“Ya bisalah.” Aku menepuk dada.

“Aku memberikan apa yang gak bisa Tabina berikan.”

Mama terdiam. Aku tahu persis apa yang ada di kepalanya. Mama membenci Tabina. Kebencian itu bukan sesuatu yang pernah disembunyikannya dariku. Dia ingin melihat perempuan itu jatuh, kehilangan semuanya, merasakan sakit yang selama ini menurutnya pantas diterima Tabina.

Dan sekarang, aku datang membawa kabar bahwa salah satu hal paling penting dalam hidup Tabina sudah berpihak kepadaku. Suaminya. Meski begitu, Mama tetap tampak syok. Mungkin masih tak percaya bahwa aku berhasil melakukannya.

Mama tahu aku jahat. Tapi mungkin tak pernah berpikiran kalau aku sanggup mengambil suami Tabina.

“Kamu serius dengan Juan?”

“Serius d**g. Masa bercanda.”

“Lalu …Tabina tahu?”

Aku tersenyum. “Belum saatnya. Kita tunggu saja sebentar lagi. Mungkin dia akan pingsan atau kejang-kejang. Dan aku gak sabar menunggu waktu itu tiba.” Tawaku membahana di udara.

Mama mengembuskan napas panjang. Kemudian matanya kembali turun ke cincin di jariku.

“Jangan bilang kamu sudah hamil duluan, Ditha.”

Aku spontan terkekeh.“Ish, Mama ini. Enggaklah.”

Tapi tanganku perlahan turun ke perut. “Meski sebenarnya pengin banget sih hamil anak Juan. Siapa sih Ma yang gak pengen punya suami ganteng dan kaya. Pasti masa depan anak-anakku bakalan cerah.”

Aku membayangkan sebentar bagaimana hidupku nanti jika benar-benar memiliki anak dari Juan. Anak akan membuat hubungan kami jauh lebih sulit diputus. Aku tahu hubunganku dengannya beresiko. Juan bisa saja tergoda oleh perempuan lain. Sama seperti dia tergoda olehku kemarin.

Dengan adanya anak, pasti dia akan tetap tinggal di sisiku. Akan ada alasan untuk terus bersama. Ada tanggung jawab. Ada ikatan yang tidak mudah dihapus hanya dengan tanda tangan di atas kertas.

Tapi untuk sekarang, aku tidak perlu terburu-buru. Juan sudah ada di tanganku. Setidaknya, aku ingin percaya begitu.

“Dan Mama harus dengar kabar terbaiknya.” Aku sengaja menjeda obrolan agar Mama semakin penasaran.

“Apa? Kamu ih, seneng bener bikin Mama penasaran.” Mama mencubit lenganku. Dia pasti sudah tak sanggup menunggu.

“Binara Creative akan jadi milik Juan seutuhnya. Setelah menikah nanti, aku akan buat Juan memberikan perusahaan itu untukku. Ya … untukku saja. Aku gak boleh kalah sama Mama yang bisa mengendalikan Papa dalam hal apa saja.”

Mama terdiam sebentar, lalu tepuk tangannya mengambil tempat di udara. Kulihat matanya berbinar-binar bangga.

“Kamu memang putri Mama. Tidak salah perjuangan Mama membuatmu jadi secantik sekarang. Lanjutkan Ditha, buat Tabina menangis darah.” Setelahnya Mama memelukku erat. Aku bahkan bisa merasakan detak jantung dan semangat membara dalam dadanya.

Beberapa saat kemudian, aku berdiri dan merapikan tas. “Ya sudah, ya, Mah. Aku mau berangkat dulu.”

“Mau ke mana?”

“Juan nungguin di kantornya. Hari ini Bina gak masuk. Dia mengurus berkas-berkas alih nama perusahaan ke notaris. Jadi aku punya waktu untuk berduaan dengan Juan.”

Aku sengaja tersenyum sebelum melangkah menuju pintu. Mama masih berdiri di tempatnya. Aku bisa melihat keterkejutan itu belum sepenuhnya hilang dari wajahnya. Dan entah kenapa, melihat ekspresi Mama justru membuat langkahku terasa semakin ringan. Hari setelah hari ini aku ingin menjadi Ditha yang baru, Ditha yang tidak lagi harus bersembunyi. Dunia harus tahu siapa aku esok hari.

Dan aku ingin Tabina tahu bahwa kebahagiaan yang selama ini dia pikir aman di tangannya, ternyata bisa direbut kapan saja.

--Mh—

“Mau ketemu siapa, Mbak?”

Perempuan yang bernama Rina itu menatapku dari ujung sepatu hingga kepala. Aku risih, tapi coba menyabar-nyabarkan hati. Dia hanya belum tahu siapa aku. Nanti kalau Juan sudah resmi jadi pemilik tunggal Binara Creativ, aku akan mendepak gadis sombong ini. Dia pikir Tabina bisa membantunya, hah?”

“Pak Juan.”

“Oh beliau lagi sibuk, Mbak. Tunggu sebentar, saya lihat dulu ke ruangannya.”

“Gak perlu. Saya bisa sendiri. Dan Juan pasti gak akan marah kalau saya masuk tanpa seizin kamu. Ngerti?”

Rina akhirnya menunduk saja. Barangkali dia sudah sadar diri. Setelahnya aku melangkah anggun menelusuri tiap jengkal lantai Binara Creativ. Tanpa mengetuk aku langsung masuk ke ruangan Juan. Kekasihku itu benar-benar sedang sibuk sekarang. Tapi dia tetap melayaniku dengan ramah.

“Mau minum apa, Sayang?”

“Gak perlu, aku sudah kembung karena di jalan tadi beli kopi.”

“Oh …”

Lalu kami bercengekrama. Tentang impian masa depan. Tantang rencana besar untuk Binara Creativ. Tentang keinginanku untuk punya beberapa anak dari Juan. Sampai kami terlena dibuatnya. Hingga perempuan sialan itu mengetuk pintuku lagi. Benar-benar tak bisa kumaafkan wanita yang bernama Rina itu.

“Mas, Mbak Tabina nunggu di luar.”

Kalimat itu mengguncang ruang kerja Juan. Wajah lelaki itu langsung merah. ketakutannya juga menular kepadaku. Bagaimana tidak? Jika Bina tahu semuanya sekarang, tentu dia tidak akan mau memberikan perusahaan ini untuk Juan. Bisa langsung miskin Juan dibuatnya.

Setelah menyuruh Rina keluar, Juan segera bangkit dan memintaku untuk sembunyi di bawah kolong meja. Aku patuh saja. Otakku juga sedang buntu untuk memikirkan jalan keluar dari ketegangan ini. Langsung aku buka sendal dan berjongkok, lalu masuk ke bawah meja. Lalu Juan duduk rapi. Berdeham beberapa kali, untuk menenangkan dirinya.

Satu menit kemudian, kudengar suara Tabina. Kalimat-kalimatnya riang sekali. Sepertinya dia sedang dalam suasana hati yang bagus. Aku terkekeh di bawah meja. Menertawakan kebodohan saudari tiriku itu. Untuk pertama kalinya aku mendukung sikap mama yang selalu menghardik Tabina sejak kecil. Karena itu saat dewasa dia menjadi sangat bego seperti ini.

Lalu mereka saling ngobrol. Kalimat-kalimat Tabina dan Juan tak benar-benar masuk ke dalam kepalaku. Punggungku terasa sakit karena menunduk terlalu lama. Tapi aku harus bertahan demi mendapatkan Binara Creatif. Aku gak boleh menyerah sekarang. Sakit punggung ini akan hilang saat Juan dan Bina sudah menandatangani semuanya nanti.

Sekarang hening, hanya ada suara kertas yang dibalik-balik. Kupikir Juan mungkin sedang membubuhkan tandatangannya sekarang. Agak lama dia melakukannya. Aku yang tak tahan, lalu menjulurkan kaki sedikit. Berharap bisa mengurangi kesemutan pada kaki kananku. Tapi aku tak sadar saat kakiku terlalu menjulur ke celah kecil di bawah meja, dan Tabina tak sengaja menginjak jempolku dengan tumit sepatunya yang runcing.

Sialan. Sakit sekali rasanya. Jika tidak lekas menutup mulut, teriakanku mungkin sudah ke mana-mana.

“Kamu sudah sangat yakin memberikan semuanya kepadaku kan, Sayang?” Kalimat Juan yang itu menyelamatkan kakiku. Bina segera menggeser kakinya, hingga jempolku bisa kutarik kembali.

Baca di KBM App atau telegram yuk

Judul : Membuat Kalian Menangis darah
Penulis : Mande hanifah

Sementara itu, Ibu Ramita, Witri dan Ibu Karmina sedang membuka tempat amplop."Yang benar saja?" Witri kaget. Bab 3"Kura...
25/09/2026

Sementara itu, Ibu Ramita, Witri dan Ibu Karmina sedang membuka tempat amplop.

"Yang benar saja?" Witri kaget.

Bab 3

"Kurang ajar kamu Vena!" tekan Bu Ramita, tapi Vena tak mendengarnya sebab sudah keluar dari tempat acara.

Ibu Ramita mempertajam mata melihat sekeliling. Tak ada orang yang tersisa kecuali kedua orangtua Larima yang berdiri tak jauh dari panggung. Tadinya kedua besannya itu lagi mengajak bicara seseorang, tapi karena tiba-tiba pesta jadi kacau begitu, keduanya pun hanya bisa terdiam menyaksikan.

"Duh, malunya," gumam Ibu Ramita.

Sosok wanita paruh baya itu mencari tempat duduk yang nyaman buat menetralkan perasaannya yang kacau. Dan ia memilih turun dari panggung. Di sana Witri sudah mengambilkan kursi.

"Duduk sini Bu."

"Wit, kenapa acaranya jadi seperti ini?" gumamnya sambil duduk, perlahan. Mimik wajahnya sedih, sangat sedih.

Tatapan Bu Ramita kembali mengarah pada orangtua Larima. Bu Ramita terlihat tidak enak hati pada besannya tersebut.

"Ini semua gara-gara Vena, Bu. Kita harus m e m b a l a s dendam," b a l a s Witri. A m a r a h nya berapi-api.

"Ya, harus! Wit, ambilkan ibu air."

Witri menatap nanar deretan kursi plastik yang kini kosong melompong. Tenda hajatan yang tadinya riuh mendadak sunyi, hanya menyisakan sampah yang berserakan dan pandangan mencemooh dari beberapa tetangga yang berbisik di luar pagar. Pesta megah yang dirancang untuk memamerkan kemenangan keluarga mereka justru berakhir menjadi panggung aib terbesar di kampung ini.

"Ini semua gara-gara Vena! Awas saja kamu!"

Witri membuka kotak air, lalu ia ambil dua dan dibawanya ke ibunya.

Pesta pernikahan Guna yang diharapkan meriah hancur. Semua orang pada pergi. Tinggallah keluarga Guna dalam keadaan pikiran mereka tak stabil. Wajah-wajah mereka terlihat begitu menyedihkan.

Larima yang bernama lengkap Deana SyahnaLarima, tak kalah sedih. Pengantin baru itu kini berada dalam dekapan ibunya. Menangis melihat kekacauan dalam acaranya.

"Bu, sepertinya harapanku dicintai setelah menikah hanya sia-sia. Lihat saja betapa m a r a h nya Mas Guna melihat mantannya dilamar," bisik Larima seraya mengusap air mata. Ia tak lagi dipeluk. Wanita berkebaya putih itu berdiri di antara ibu dan bapaknya.

“Sudah bapak peringatkan dari awal, Larima!" tegas Pak Ahmad dengan suara bergetar menahan a m a r a h. "Kamu memaksakan diri menikah dengan pria yang hatinya masih tertinggal pada masa lalu. Sekarang lihat! Belum genap satu malam kamu jadi istri, martabat keluarga kita sudah diinjak-injak di depan orang sekampung!"

"Bapak, t o l o n g jangan bicara begitu..." Larima terisak di balik riasan pengantinnya yang mulai luntur.

"Bapak mau p**ang. Terserah bagaimana caramu dan suamimu menanggung malu ini," potong Pak Ahmad dingin sebelum melangkah pergi meninggalkan tenda.

Istrinya hendak menyusul tapi ditahan oleh Larima.

"Bu, tidak perlu. Biarkan bapak menenangkan hati. Ayo kita menemui Ibu mertuaku. Sepertinya dia sangat syok."

"Ayo."

Keduanya berjalan menuju arah Bu Ramita dan Witri. Di sana sudah ada Guna memijit pelipis.

"Bu Karmina, maaf atas semua yang sudah terjadi. Tapi tidak perlu khawatir, a n a k kita 'kan sudah sah jadi suami istri. Mereka sudah nikah di KUA, ini hanya pestanya, doang," kata Bu Larima.

"Tidak perlu minta maaf, Bu. Sudah takdir. Tapi seandainya Ibu mengikuti keinginan kami. Pesta a n a k - a n a k kita tidak akan sehancur ini," b a l a s Karmina—ibunya Larima.

"Ya, saya tahu tapi kami 'kan tidak tahu pestanya akan hancur. Kalau kami tahu, tentu saja pesta diadakan di rumah Ibu, bukan di sini."

"Sudahlah semuanya sudah terjadi," sahut Guna setelah hanya diam menjadi pendengar. Padahal di sini yang paling bersalah adalah dirinya.

"Ya, dan kita menjadi obrolan hangat di desa ini. Entah ke mana saya menenggelamkan diri biar tak mendengar gunjingan-gunjingan mereka." Ibu Karmina bersedekap, sekilas melirik Guna dan besannya dengan tatapan tak s**a.

"Tidak ada yang bersalah di sini. Ini semua salahnya wanita s i a l itu! Dia penye–"

Seketika Witri terdiam saat Guna memotong ucapannya.

"Cukup! Kalian jangan menyalahkan Vena! Ini semua salah saya karena menerima perjodohan dari kalian. Argkh!"

Di sudut panggung yang berantakan, Guna berdiri mematung dengan rahang mengeras. Jas pengantin yang melekat di tubuhnya terasa mencekik. Kilatan cincin di jari Vena dan senyum tenang wanita itu saat digandeng Arwan terus berputar di kepalanya seperti r a c u n. Bukan hanya kehilangan Vena untuk selamanya, ia kini harus menelan kenyataan pahit: sepupunya sendiri baru saja merebut kembali h a r g a diri yang dulu ia campakkan.

"Sejak kapan mereka b e r h u b u n g a n? Setahu saya Arwan dan Vena hanya satu kali bertemu." Di bawah pohon mangga belakang rumah, Guna melempar pandangan pada hamparan sawah yang cukup luas milik ibunya dan sebagian milik warga desa setempat.

Sementara itu, Ibu Ramita, Witri dan Ibu Karmina sedang membuka tempat amplop.

"Yang benar saja?" Witri kaget.

Ibu Ramita dan Karmina pun sama. Entah apa yang membuat mereka se-kaget itu.

Bersambung

DILAMAR DI ACARA PERNIKAHAN MANTAN
By Equinox Astra

Tamat di apk KBM App

Baru menikah suamiku sudah bahas perceraian. Tapi giliran aku disapa pria lain di kantor, presdir dingin ini mendadak pa...
25/09/2026

Baru menikah suamiku sudah bahas perceraian. Tapi giliran aku disapa pria lain di kantor, presdir dingin ini mendadak panik!
•••

​"Memangnya saya bikin salah apa, ya? Sampai Pak Rendra manggil saya?" tanyaku memecah keheningan di sela-sela perjalanan menuju lantai dua puluh.

​Dimas tersenyum tipis.

​"Kalau itu saya kurang tahu, Mbak."

​"Tapi memang biasanya beliau manggil staf langsung begini?"

​"Jarang."

​Nah, kan! Perasaanku makin nggak enak, tapi aku nggak tahu penyebabnya.

​"Mbak akan tahu setelah bertemu dengan beliau."

​Aku hanya mengangguk pelan.

​Lift berhenti di lantai dua puluh. Dimas mengantarku sampai di depan ruang Presiden Direktur.

​"Silakan, Mbak."

​Aku menarik napas panjang, lalu mengetuk pintu.

​"Masuk."

​Aku membuka pintu perlahan.

​Rendra masih duduk di balik meja kerjanya yang besar. Jemarinya sibuk membolak-balik beberapa berkas tanpa sedikit pun menoleh ke arahku.

​"Permisi, Pak."

​"Hm."

​"Bapak memanggil saya?"

​Setelah menunggu beberapa detik tanpa tanggapan, Rendra mengangkat kepala.

​"Iya."

​Aku menarik napas perlahan, mengumpulkan kekuatan sebelum mendengar apa yang akan disampaikan suami dinginku ini.

​"Ada yang bisa saya bantu, Pak?"

​Rendra menunjuk tumpukan map yang berada di sisi meja kerjanya.

​"Pilah dokumen-dokumen itu."

​Aku mengikuti arah telunjuknya. Mataku membulat sempurna.

​Tumpukan map itu hampir setinggi satu lenganku.

​"Jadikan satu sesuai kategorinya," imbuh Rendra.

​Aku menatap tumpukan map itu, lalu kembali menatap pria yang duduk santai di balik meja kerjanya.

​"Ini semua, Pak?"

​"Iya. Kurang jelas?"

​"Tapi ini bukan pekerjaan saya."

​Rendra menatap tajam padaku.

“Kamu sudah bosan bekerja di Mahesa Grup?”

​“Bu-bukan begitu, Pak,” balasku sedikit panik. Meski aku istrinya, tapi hanya istri kontrak, aku tetap butuh pekerjaan ini untuk menyiapkan masa depan ketika nanti kami bercerai.

​“Kalau begitu cepat kerjakan!”

​“Baik, Pak.”

​"Harus selesai sebelum jam makan siang."

​Aku menarik napas panjang.

​“Baik, Pak.”

​Aku benar-benar ingin mengacak-acak rambutku sendiri. Kalau bukan karena dia Presdir, eh, salah.

​Kalau bukan karena dia Presdir sekaligus suamiku. Pasti sudah kuhempaskan map ini ke mejanya, biar nggak semena-mena.

​Hampir dua jam aku berkutat dengan dokumen-dokumen itu. Mengurutkan, memberi label, menyusun ulang.

​Padahal semua ini harusnya divisi Legal yang mengerjakan. Aku benar-benar dikerjain. Entah apa salahku?

​Akhirnya map terakhir berhasil kususun di tempatnya.

​Aku mengembuskan napas lega sambil meluruskan punggung yang mulai pegal.

​"Sudah selesai, Pak."

​Rendra yang sejak tadi sibuk menatap layar laptop mengalihkan pandangan.

​"Hm."

​Kupikir pekerjaanku selesai. Ternyata tidak. Rendra mengambil secarik kertas dari atas mejanya, lalu menyodorkannya kepadaku.

​"Ini."

​Aku berdiri, menghampiri, dan menerimanya sambil mengernyit.

​"Apa ini, Pak?"

​"Daftar pesanan untuk makan siang."

​Aku membaca satu per satu isi kertas itu. Nama restorannya mampu membuatku menahan napas.

​Astaga! Restoran ini, kalau jam makan siang antriannya bisa bikin orang kehilangan kesabaran.

​"Belikan," titah Rendra sembari memberiku beberapa lembar uang seratus ribu.

​Aku menatap memelas pada Rendra.

​"Sekarang?"

​"Iya."

​"Tapi—"

​"Kamu punya waktu satu jam."

​Aku melirik jam dinding. Lalu kembali menatap daftar pesanan di tanganku. Satu jam?

​Serius?

​Perjalanan ke sana saja hampir dua puluh menit. Belum antre, belum menunggu pesanan, belum perjalanan p**ang. Aku mencoba tersenyum setenang mungkin.

​"Pak ... satu jam kayaknya—"

​"Ada masalah?" Rendra memberiku sebuah kartu. Kartu member VVIP restoran itu.

​Aku langsung menggeleng.

​"Nggak ada, Pak."

​"Bagus."

​Aku menggigit bibir pelan. Ya sudahlah, nggak ada gunanya juga aku berdebat dengannya. Bismillah.

​“Saya pamit, Pak.”

​“Hhmm.”

​Seperti dugaanku, menjelang makan siang restoran itu penuh. Untungnya, kartu VVIP yang diberikan Rendra benar-benar bekerja.

​Aku tidak perlu mengambil nomor antrean seperti pengunjung lain. Salah satu pelayan bahkan langsung mengantarku ke meja kasir khusus.

​Sayangnya, status VVIP ternyata tidak bisa membuat makanan matang dalam hitungan detik. Dapur tetap saja penuh, pesanan tetap harus menunggu giliran.

​Beberapa kali aku melirik jam tangan. Lalu melirik layar monitor yang menampilkan status pesananku. Beberapa menit kemudian aku kembali melihat jam.

​Ya Allah. Kalau begini caranya, satu jam mana cukup?

​Begitu seluruh pesanan selesai dikemas, aku hampir berlari keluar restoran demi mengejar batas waktu yang Rendra berikan. Sama saja aku sudah melewati batas satu jam. Aku menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan sebelum akhirnya masuk ke dalam taksi online yang kupesan.

​Sesampainya di kantor, aku buru-buru menuju lantai dua puluh.

​Napas masih memburu ketika tiba di depan ruang Presiden Direktur. Namun, ruangan itu kosong.

​Aku menoleh ke arah meja sekretaris yang sedang sibuk menikmati makan siang di mejanya.

​"Maaf, Mbak. Pak Rendra di mana?"

​Sekretaris itu mengangkat kepala.

​"Beliau sudah berangkat jamuan makan siang bersama klien."

​Aku terdiam. "Hah? Yang bener aja, Mbak. Udah lama?"

​"Kurang lebih ... hampir satu jam yang lalu."

​Satu jam? Bukankah itu hanya beberapa menit setelah aku berangkat ke restoran?

​Aku menatap kantong makanan di tanganku. Jadi, aku capek-capek mengejar pesanan ini, buat siapa?

​“Ada pesan buat naruh makanannya dimana nggak, Mbak? Taruh di ruangan atau titip ke Mbak?”

​“Wah, nggak ada tuh.”

​“Oohh, gitu. Ya sudah, Mbak. Terima kasih.”

​Aku menghembuskan napas kasar, mencari tempat yang sepi. Emosiku sudah di ubun-ubun, belum lagi nahan lapar.

​Aku langsung mengeluarkan ponsel. Aku harus protes. Panggilan akhirnya tersambung tanpa menunggu lama.

​"Selamat siang Pak Rendra yang terhormat."

​"Iya."

​"Bapak di mana?"

​"Jamuan makan siang."

​Aku menggertakkan gigi.

​"Mohon maaf, Pak. Saya sudah kembali ke kantor dan membawa makanan pesanan bapak—”

​"Kamu terlambat," potong Rendra

​Aku memejamkan mata.

​"Pak, saya sudah pakai kartu VVIP yang Bapak kasih. Tapi restonya memang ramai, dapur penuh, pesanannya tetap harus nunggu dimasak."

​"Itu bukan alasan."

​Rasanya aku ingin mengomel panjang lebar pada orang di seberang sana.

​"Pak, saya sudah usaha secepat mungkin."

​"Hm."

​"Terus makanan ini gimana?"

​"Habisin saja."

​Aku terdiam beberapa detik.

​"Hah?"

​"Itu untuk kamu."

​Sambungan telepon langsung terputus. Aku melongo menatap layar ponsel.

​Kalau memang dari awal buat aku, kenapa harus kasih waktu aku satu jam, membuatku lari-larian sampai nyaris kehabisan napas.

​Aku menghembuskan napas ke arah atas untuk menyibak anak rambut yang menutupi bagian kening.

​Dasar kulkas dua pintu!

​Kalau nyebelin dapat penghargaan, orang ini pasti langganan juara satu.

***

Judul: Ssttt! Jangan Bilang Aku Istri Presdir
Penulis: Cassandra Ruby
Platform: KBM App

***

Sepuluh tahun menikah, tidak pernah diberi u ang oleh suami. Hanya beras 15 Kg setiap bulan. Aku pernah beberapa kali me...
25/09/2026

Sepuluh tahun menikah, tidak pernah diberi u ang oleh suami. Hanya beras 15 Kg setiap bulan. Aku pernah beberapa kali meminta, jawabnya selalu sama, tidak ada.

Hari ini anak kami kritis, masuk ICU. Suamiku sedang berlibur bersama keluarganya. Aku menelepon, meminjam u ang satu juta. Dia tidak mau, katanya takut aku lama mengganti.

Jika terjadi sesuatu pada anak kami, aku bersumpah tidak akan pernah memaafkannya!

***

"Kali ini saja, Mas. Aku mohon." Aku terisak di ujung telepon. "Naya kritis, Mas."

"Tidak ada u ang, Kartika. Apa yang mau diberi?" sahutnya santai.

"Tolong usahakan, Mas." Aku rasanya ingin berteriak, kesal bercampur frustrasi.

Suamiku sedang berlibur bersama keluarganya. Tidak mungkin tidak punya u ang. Mereka keliling Jawa - Bali. Kami bahkan tidak diajak.

Saat dia akan berangkat, Naya bahkan menangis meraung minta ikut, menahan tangan Mas Wisnu. Namun, suamiku itu bahkan menepisnya hingga Naya tersungkur, lalu pergi tanpa menoleh sama sekali.

Malamnya Naya langsung demam, mengigau memanggil ayahnya, mengatakan ingin ikut.

Kukira hanya demam biasa karena dia sedih ditinggal. Sebab setelah tiga hari demamnya turun. Tidak kusangka, hari ke empat dia demam lagi dan lebih tinggi. Aku membawanya ke rumah sakit, dokter mengatakan Naya menderita demam berdarah.

"Kamu tahu aku sekarang sedang liburan, keperluan di sini banyak. Penginapan, makan, tiket masuk wahana wisata, persediaan tiket p**ang. Bukan cuma aku sendiri. Ibu, Bapak, saudara-saudaraku juga. Kamu mengertilah sedikit," ucapnya tanpa beban.

Aku kian tergugu mendengar kalimatnya. Pedih sekali rasanya. Dia lebih memikirkan kesenangannya, ketimbang keselamatan darah dagingnya. Dia mengutamakan tiket masuk wahana wisata, daripada anaknya yang berjuang hidup dan mati.

"Kamu selalu begitu setiap aku bersama keluargaku, ada saja pintanya. Kamu memang enggak pernah s**a dengan keluargaku," tuduhnya.

Emosiku seketika memuncak.

"Kapan aku enggak pernah s**a pada keluargamu, Mas?" balasku cepat. Suaraku meninggi dan sedikit bergetar.

"Kapan aku melarang kamu bersama keluargamu? Sepuluh tahun menikah, aku tidak protes kamu mau apa dengan keluargamu dan mengabaikan kami. Aku tidak pernah meminta u ang. Baru kali ini aku minta, itu pun untuk pengobatan Naya."

Sejujurnya di kondisi seperti ini, aku sama sekali tidak punya tenaga meladeni tuduhannya itu. Aku tidak mengerti, bagaimana dia bisa menuduhku seperti itu. Padahal selama ini, aku tidak pernah mengganggunya dengan keluarganya, apalagi melarangnya.

Aku sudah hampir mati rasa. Dia memberi kami 15 kg beras setiap bulan selama sepuluh tahun, sementara sering kudengar, dia kerap memberi Ibu, Bapak, Adik, dan Kakaknya jutaan.

Ponakannya sering dipegangi jajan seratus ribu, sementara Naya minta dua ribu pun dia marah dan bilang, jajan terus. Dan tidak pernah diberi, menyuruh Naya meminta padaku.

Beras 15 kg itu pun bukan kami saja yang makan. Dia ikut makan dan lebih banyak porsinya, menuntut lengkap dengan lauk dan sayur yang harus aku usahakan. Jika aku sedang tidak punya uang dan hanya mampu membeli tempe, dia mengomel.

Dia juga kerap mengataiku boros, menuduhku menjual beras jika beras cepat habis.

Aku bukan wanita karir, hanya ibu rumah tangga. Aku jungkir balik bekerja menutupi kebutuhan rumah, mengambil upah cucian, gosok, membantu tetangga jika butuh tenaga, mengambil pesanan lauk matang dan kue jika ada tetangga hajatan atau arisan, hingga berjualan keliling. Semua kulakoni, asal halal.

"Berobat kan pakai BPJS. Lagi p**a Naya cuma demam, kritis apanya? Kamu hanya mengada-ada untuk mengganggu cutiku dan meminta u ang dariku."

Aku memejamkan mata, menahan sakit yang menyesak dada.

Ya Tuhan ....

Sesakit ini meminta bantuan dari suami sendiri, untuk anak yang merupakan darah dagingnya sendiri.

"Naya terkena demam berdarah, Mas. Sudah komplikasi. Sekarang Naya di ICU. Dokter mengatakan, peralatan di sini tidak memadai. Dia harus dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar. Aku perlu pegangan, Mas."

"Hanya untuk pegangan, u angmu kan ada."

"Kalau ada, aku enggak minta kamu, Mas."

"Ya, salah sendiri kamu boros, enggak bisa nabung. Hidup itu harus hemat!"

"Apa yang mau ditabung, Mas? Aku hanya jualan. Penghasilanku kecil. Kebutuhan rumah banyak."

"Makanya jadi perempuan itu yang becus, kerja yang bener, yang gajinya besar."

"Mas ....." tangisku kian pecah. Kalimatnya barusan seumpama batu besar yang dihantamkan ke dadaku.

"Lagi p**a kebutuhan rumah banyak apanya? Beras sudah aku cukupi! Harga beras itu hampir tiga ratus ribu, Tika! Itu baru banyak! Sementara kamu hanya beli sayur dan telur saja. Ayam cuma sesekali, itu pun seperempat. Seringnya telur. Telur tiga biji tidak sampai lima ribu. Sayur sering kamu dapat metik."

Astaghfirullahal'azim.

Tubuhku melorot di dinding depan ICU. Aku sedang meminta u ang untuk perta rungan hidup dan ma ti anaknya, tetapi dia justru melontarkan kalimat-kalimat yang menggores hati.

Apa dia pikir beras bisa jadi nasi tanpa gas? Apa dia pikir, listrik yang menerangi rumah bisa menyala tanpa beli token? Apa dia pikir, air PDAM untuknya mandi bisa terus mengalir, tanpa dibayar? Apa dia pikir, telur bisa matang tanpa minyak, garam, dan lainnya. Belum lagi sabun, piring, alat makan dan masak.

Aku lelah menjelaskan.

"Kalau begitu aku pinjam saja, Mas. Satu juta saja, untuk pegangan. Nanti kalau Naya sudah sembuh dan aku sudah bisa bekerja, aku kembalikan," ucapku pelan, berharap dia bersedia karena akan diganti.

"Enggak ada! Kamu gantinya pasti lama. Ya, kalau diganti. Kalau enggak, aku rugi. Satu juta itu banyak. Aku enggak mau ambil resiko," balasnya, "Satu lagi. Jangan ju al kondisi Naya supaya aku kasihan dan memberimu u ang, aku tidak akan tertipu." Sambungan terputus.

Aku menjatuhkan ponsel dari telinga ke pangkuan, duduk bersila, menunduk dengan tubuh berguncang. Dadaku sesak, sakit sekali rasanya berjuang sendiri.

Naya satu-satunya alasanku bertahan dalam pernikahan ini. Malam ini jika sesuatu terjadi pada Naya, aku tidak akan pernah memaafkannya.

Judul : Nafkah 15 Kg Beras Sebulan
Penulis : Nyemas Sarifah
Baca di KBM APP

Address

Lamongan

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Nadine posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share