22/05/2026
5. "Bu rung komandan beneran lo yo?"
Aku terpaksa dinikahkan dengan polisi lum puh dan kabarnya perku tutnya juga lo yo. Jangankan memberikan anak, memenuhi naf kah ba tinku pasti tak akan sanggup.
Namun saat ma lam pertama aku dibuat terkejut karena...
BAB 5
Keesokan paginya, suasana di depan rumahku sudah ramai. Mama Hanum memang membuka warung sayur dan lauk matang di halaman depan rumah kami.
Dari balik jendela kamarku yang sedikit terbu ka, suara percakapan ibu-ibu tetangga terdengar sangat jelas. Di antara suara-suara itu, nada bicara Bu Anik yang ting gi dan mendo minasi udara pagi.
"A naknya Bu Hanum kan memang na sib nya tidak bagus," cele tuk Bu Anik tanpa sungkan. Suaranya sengaja dilebihkan.
Tanganku yang sedang mengetik di atas keyboard otomatis terhenti. Aku mena jamkan
pendengaran.
"Makanya Bu Hanum, kalau punya a nak perempuan itu disekolahkan yang benar. Kerja
jauh-jauh ke kota cuma jadi penga suh aja. Ru gi, Bu," lanjut Bu Anik dengan nada mere mehkan di depan ibu-ibu yang sedang memilih sayuran. "Sudah ong kos ke Jakartanya ma hal, kerjanya cuma man diin ba yi sama ngurusin orang mela hirkan. Kalau cuma begitu, di kampung juga bisa."
"Betul, Bu Anik," sahut salah seorang tetangga yang selalu menjadi pendengar setia go sipnya. "Kasihan ya Bu Hanum. Padahal warungnya laris, tapi a naknya malah jadi ba bu di kota."
Da rahku mulai mengha ngat. Aku bang kit dari kursi kerjaku dan melangkah mendekati pintu ka mar yang terhub**g langsung ke area dapur dan warung.
"Contoh d**g Dena, a nak saya," suara Bu Anik kembali terdengar, kali ini penuh dengan kebang gaan yang meluap-luap. "Saya sekolahkan tinggi-tinggi. Jadi bi dan sarjana. Nanti dia mau kerja di kota juga, tapi di klinik gede yang terkenal. Ga jinya pasti pu luhan ju ta. Tidak seperti a nak Ibu yang kerjanya serabutan."
"Wah, hebat sekali Dena ya, Bu," puji ibu yang lain.
"Jelas d**g! Belum lagi urusan jodoh." Bu Anik tertawa bang ga. "Dena itu sekarang calon suaminya ab di negara. Polisi, pang katnya tinggi, ba dannya sehat bu gar, dan pe waris tunggal lagi, beda sama yang kemarin sudah ditinggalkan! Tidak seperti Naraya. Memangnya Bu Hanum tak ma lu punya a nak yang tak la ku-la ku begitu? Umur sudah tiga puluh lebih kok masih betah sendiri. Jangan-jangan memang tidak ada laki-laki yang mau karena mukanya ditutup-tutup terus?"
"Hus, Bu Anik. Jangan begitu," tegur seorang tetangga lain dengan suara pelan.
"Loh, saya kan bicara fakta, Bu! Pera wan tu a itu penyakit keturunan lho kalau dibiarkan," cibir Bu Anik lagi.
Aku mendengarkan dari balik dinding pembatas. Tanganku menge pal kuat. Aku
benar-benar tak s**a dengan sikap Bu Anik yang terus menci bir dan meren dahkan
keluargaku.
"Bu Anik, tolong jaga ucapannya," suara Mama akhirnya terdengar. Nada bicara ibuku bergetar menahan ama rah. "Pekerjaan anak saya itu halal. Dan soal jodoh, itu takdir Allah."
"Takdir Allah atau memang karena tidak la ku, Bu Hanum?" potong Bu Anik cepat, disusul tawa menge jek. "Makanya, dandan yang cantik. Jangan pakai baju kedo doran terus. Laki-laki mana yang mau meli rik?"
"A nak saya tidak butuh dili rik sembarang laki-laki!" balas Mama tegas. Terdengar suara sayuran diletakkan dengan ka sar ke atas meja kayu. "Memangnya ibu-ibu di sini tidak tahu kalau Naraya di kota itu sebenarnya bekerja sebagai—"
"Ma," panggilku cepat seraya melangkah keluar dari balik dinding.
Semua mata di warung itu langsung menoleh ke arahku. Aku melangkah mendekat dengan penampilan sederhanaku saat di kam pung. Hanya menge nakan gamis katun po los berwarna marun dan kerudung instan yang menutupi da da, lengkap dengan cadar hitamku.
"Naraya lagi pengen dimasakin nasi goreng, Ma," ucapku lembut, sengaja memo tong
kalimat Mama. Aku menatap ibuku dengan sorot mata menenangkan. "Ayo masuk, Ma. Belanjanya sudah selesai dila yani kan?"
Bu Anik menci bir si nis melihat kehadiranku. Mata wanita pa ruh baya itu memindai
penampilanku dari atas sampai bawah.
"Nah, ini dia a naknya baru keluar," sin dir Bu Anik sambil berka cak ping gang. "Hobi sekali bangun siang. Matahari sudah tinggi baru keluar kamar. Pema las sekali jadi perempuan. Pantas saja tak ada pria yang mau mendekat. Mertua mana yang mau punya menantu pema las begini?"
Mama Hanum langsung melebarkan matanya. Wajah ibuku merah pa dam.
"Jangan sembarangan bicara ya, Bu Anik! Naraya itu—"
"Ma, ayo," selaku cepat. Aku mena rik pelan lengan sang ibu agar tidak memb**gkar
identitas asliku di depan wanita penuh deng ki ini.
Aku menatap Bu Anik dengan tenang. "Maaf, Bu Anik. Saya bangun sebelum subuh dan
sudah menyelesaikan pekerjaan saya. Saya permisi ke dalam dulu. Silakan dilanjutkan belanjanya."
Tanpa menunggu balasan dari mu lutnya, aku membawa Mama masuk ke dalam rumah dan menutup pintu penghub**g warung rapat-rapat.
Begitu sampai di ruang tengah, Mama Hanum langsung menghen takkan tangannya
dengan ke sal. Na pasnya memburu.
"Kenapa kamu cegah Mama, Ra?!" Mama berseru ge ram sendiri. Beliau mondar-mandir di depan meja makan. "Harusnya kamu biarkan Mama memb**gkar identitas kamu yang sebenarnya! Mama mau kasih tahu mereka kalau kamu itu Dokter Spesialis Kanl dungan! Punya klinik sendiri di Jakarta! Biar mu lut som b**g Bu Anik itu b**g kam sekalian!"
Aku tersenyum tipis di balik cadarku. Aku berjalan mendekati ibuku dan mengusap
ba hunya dengan lembut.
"Sabar, Ma. Istigfar," bujukku pelan. "Mama dari tadi sudah nahan-nahan emo si, kan? Kalau Mama ma rah, teka nan da rah Mama bisa naik lagi."
"Mama dari tadi udah nahan-nahan loh, Ra! Tapi mu lutnya itu lho, astaghfirullah!" Mama duduk di kursi makan dengan ka sar. "Dia meren dahkan kamu seolah-olah Dena itu manusia paling sempurna di bumi ini!"
"Tak usahlah, Ma," ucapku tenang sambil menuangkan segelas air putih untuk ibuku. "Biarin saja mereka bicara ses**a hati. Kalau Mama kasih tahu mereka sekarang, Bu Anik tidak akan percaya. Dia pasti malah menu duh kita berbo hong atau mengira klinik Naya itu hasil dari hal yang tidak benar."
"Tapi Mama tidak terima kamu dibilang pera wan tu a yang tidak la ku, Nduk!"
"La ku tidaknya seorang wanita tidak ditentukan dari seberapa cepat dia menikah,
Ma. Tapi dari seberapa baik dia menjaga kehor matannya," balasku logis. "Lagipula, nanti kita lihat saja waktu Dena mulai bekerja di Jakarta. Mela deni Bu Anik dengan para tetangga yang ju lid di sini cuma bikin habis tenaga kita saja. Biarin aja, Ma. Anggap saja trans fer pahala."
Mama meminum air putihnya dengan cepat, lalu menghela na pas panjang. Wajahnya perlahan mulai rileks meskipun gurat keke salannya masih tersisa.
"Kamu ini persis sekali seperti bapakmu. Sabarnya kele watan," omel ibuku, namun
nada suaranya sudah melembut. "Oiya, ngomong-ngomong soal la ku. Bagaimana dengan polisi ka ku yang kemarin sore melamarmu itu? Dia benar-benar serius?"
Aku memi jat pang kal hidungku. Mendengar sebutan polisi ka ku itu membuat kepalaku
kembali pe ning.
"Jangan dibahas dulu, Ma. Dia itu orang a neh. Keputusannya murni pakai logi ka, tidak ada perasaannya sama sekali," keluhku jujur. "Raya tidak mau memikirkan pria itu. Biar saja waktu yang membuat dia sadar kalau tawarannya itu sangat kon yol."
Judul : Dinikahi Komandan Lum puh
Apk : KBM
Author : Ririn R. Hidayanti