23/08/2026
“Mbak, datang ke wisudaku, ya. Aku mau mengenalkan calon suamiku.”
Aku sengaja mengundang Kakak tiriku yang bekerja menjadi pembantu karena ingin melihat wajahnya shock berat saat tahu kekasihnya yang seorang tentara kini menjadi milikku. Tapi saat dia datang, kenapa semua orang justru berdiri menyambutnya?
BAB 2
Binar masih berdiri tenang ketika panitia yang sejak tadi terlihat berlari tergesa-gesa semakin mendekat ke arah mereka.
Reva yang sedari tadi menahan napas langsung menegakkan tubuh. Matanya mengikuti langkah panitia itu dengan cemas.
Jangan-jangan... Kakaknya memang benar-benar diundang oleh seorang rektor?
Jantung Reva berdetak semakin cepat. Namun, beberapa detik kemudian, panitia itu justru melewati mereka begitu saja.
“Selamat datang, Prof!”
Reva mengerjapkan mata.
“Hah?”
Ia buru-buru menoleh.
Sebuah mobil hitam baru saja berhenti tepat di depan gedung. Pintu belakangnya terbuka, lalu turun seorang lelaki paruh baya dengan setelan jas hitam yang tampak begitu berwibawa.
Begitu melihat lelaki itu, beberapa panitia yang berada di sekitar mereka langsung bergegas menyambut.
“Selamat datang, Pak Rektor.”
“Selamat datang, Prof.”
“Kami sudah menunggu kedatangan Bapak.”
Reva terdiam.
Perlahan, rasa tegang yang sejak tadi memenuhi dadanya menghilang.
Ternyata...
Panitia itu berlari untuk menyambut Pak Rektor. Bukan untuk menemui Binar. Reva mengembuskan napas lega. Bahkan tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat. Hampir saja dia percaya.
Reva kemudian kembali menoleh kepada Binar.
Perempuan itu masih berdiri dengan tenang seolah tidak terjadi apa-apa.
Melihatnya, Reva justru terkekeh.
“Ya ampun, Mbak!” Reva sampai menutup mulutnya sendiri untuk menahan tawa. “Tadi aku sempat deg-degan, loh.”
Binar mengernyit.
“Deg-degan kenapa?”
“Aku kira panitia tadi benar-benar mau datang menemui kamu. Ternyata ada Pak Rektor datang.”
Reva tertawa lagi. Kali ini terdengar lebih lega dari sebelumnya.
Binar tidak menjawab.
Tatapannya justru beralih kepada lelaki yang baru saja disambut para panitia tersebut. Pak Rektor berjalan memasuki gedung bersama beberapa orang. Namun, sebelum benar-benar masuk, langkahnya sempat terhenti.
Lelaki itu menoleh. Tatapannya sempat bertemu dengan Binar meski hanya beberapa detik.
Pak Rektor bahkan sempat memberikan senyum tipis sebelum akhirnya kembali melangkah masuk ke dalam gedung.
Binar membalas tatapan itu dengan tenang. Sayangnya, Reva tidak menyadarinya. Ia justru semakin berani mengejek kakak tirinya.
“Lihat, Mbak.”
Reva menunjuk ke arah gedung.
“Pak Rektor saja nggak kenal sama kamu. Katanya kamu diundang rektor? Rektor yang mana?”
Reva semakin menyeringai.
“Oh... atau jangan-jangan rektornya majikan kamu?”
“Memang iya.” Binar akhirnya bersuara.
Jawaban Binar yang begitu datar justru membuat Reva dan kedua orang tuanya saling pandang.
Kemudian ibu tiri Binar tertawa terbahak-bahak.
“Ya ampun, Binaaar!”
Ia sampai memegangi perutnya sendiri karena geli dengan tingkah Binar yang dianggap konyol. “Kirain kamu diundang jadi tamu kehormatan. Astaga... Diundang sama majikan kamu? Ah, paling juga bukan diundang, tapi cuma disuruh datang aja ke sini buat bantuin jaga anaknya.”
Ayah Binar ikut menggeleng. “Bapak tadi hampir kegocek sama omonganmu, Bin.”
Reva langsung memasang wajah penuh kemenangan. “Nah, betul itu kata Ibu. Mungkin kamu salah tangkap maksud majikanmu Mbak. Lagian, kalau memang benar kamu diundang ke sini, coba bilang. Rektor yang mana yang mengundang kamu?”
“Aku disuruh datang sendiri.”
“Ya ampun, Mbak.” Reva terkekeh sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Saking nggak maunya ditolong sama aku, kamu sampai berhalusinasi begini ya?”
Binar menatapnya tanpa ekspresi.
“Aku punya bukti undangannya kalau kalian nggak percaya.”
“Sudahlah, Mbak. Jangan bikin malu diri sendiri.”
Reva kemudian melangkah mendekat. “Atau jangan-jangan kamu memang sengaja datang ke sini karena penasaran mau melihat calon suamiku?”
Binar menatapnya lurus pada mata adiknya.
“Calon suamimu?”
Reva mengangguk seraya tersenyum penuh arti.
“Itu kan alasan utama kamu datang ke sini?”
Binar justru tersenyum tipis. “Maaf. Urusanmu sama sekali nggak penting.”
Senyum di wajah Reva langsung menghilang.
“Kamu ini benar-benar, ya, Mbak! Dikasih hati malah minta jantung! Ya sudah kalau nggak mau dikasihani, jangan salahin aku kalau kamu diusir dari sini!” gertaknya.
Binar tidak membalas. Ia justru membuka tas yang dibawanya. Tangannya masuk ke dalam, lalu mengeluarkan sebuah amplop berisi kertas undangan.
Dengan tenang, Binar menyerahkannya kepada Reva.
“Ini undangannya. Kamu bisa lihat sendiri.”
Reva mengernyit.
Dengan sedikit keraguan, ia mengambil amplop tersebut. Tangannya membuka bagian dalam amplop. Seketika matanya tertuju pada sebuah kartu undangan.
Ia membaca tulisan di sana. Kemudian diam. Nama Binar tercetak jelas. Bukan sebagai pendamping. Bukan sebagai tamu biasa. Melainkan... sebagai tamu undangan khusus dalam acara wisuda tersebut.
Wajah Reva perlahan berubah.
Ia membaca sekali lagi.
Lalu sekali lagi.
Seolah berharap tulisan itu akan berubah jika dilihat lebih lama.
“Ini...”
“Kenapa?”
Reva menggenggam kartu itu semakin erat.
“Ini pasti palsu.”
Binar mengernyit.
“Palsu?”
“Kalaupun asli, pasti udah kamu edit!”
Nada suara Reva mulai meninggi.
Binar menatap kartu itu sekilas, lalu kembali menatap Reva.
“Logo dan nama universitasnya jelas. Kamu punya mata, kan, Rev?”
“Mau logonya asli sekalipun, aku tetap yakin ini palsu,” ucap Reva denial.
“Oh ya? Kamu tahu dari mana kalau ini palsu?” tanya Binar santai.
“Karena pembantu seperti kamu nggak mungkin dapat undangan seperti ini!”
Binar hanya tersenyum tipis.
Menarik.
Baru digertak sedikit saja, wajah Reva sudah sepucat kertas. Bagaimana kalau dia menunjukkan semuanya?
Namun, sebelum Binar sempat berkata apa-apa, Reva tiba-tiba mengangkat kartu undangan itu tinggi-tinggi.
“Kamu pasti mencurinya!”
Mata Binar langsung membelalak.
“Kamu apa-apaan sih Rev!”
“Ngaku saja, Mbak. Nggak usah mengelak!”
Reva semakin yakin dengan tuduhannya sendiri.
“Ini pasti undangan majikanmu, kan? Kamu mencurinya dari rumah majikanmu, lalu mengeditnya jadi namamu sendiri!”
“Aku nggak mencuri. Jangan asal menuduh!” balas Binar. Lama-lama ia mulai kehilangan kesabarannya.
“Terus dapat dari mana?”
“Ya dikasih lah.”
“Bohong!"
Reva mendengus.
“Ngapain coba majikanmu ngasih undangan seperti ini sama pembantunya? Memangnya kamu orang penting hah?!”
Beberapa orang di sekitar mereka mulai melirik karena suara Reva yang semakin keras. Namun, Reva seolah tidak peduli. Ia malah mengangkat kartu undangan itu lebih tinggi.
“Ya ampun! Di sini ada pencuri undangan!” Suaranya sengaja dibuat keras agar perhatian orang-orang tertuju kepadanya.
Beberapa tamu langsung menoleh. Bisik-bisik mulai terdengar dari berbagai arah.
Binar berdiri kaku. Tangannya mengepal di kedua sisi tubuhnya.
Bukan karena takut. Melainkan karena menahan amarah yang sudah di ubun-ubun. Ia bisa saja membongkar semuanya sekarang.
Bisa saja.
Namun, Binar masih bersikeras menahannya.
Sampai tiba-tiba—
“Siapa yang mencuri?”
Sebuah suara berat terdengar dari belakang mereka. Sekejap, keributan di sekitar Binar seolah terhenti.
**
Selengkapnya di KBM App ya gaes.
Judul : Tamu Kehormatan
Karya : Brata Yudha
Gaes, buat yang udah mampir ke aplikasi jangan lupa subscribe yaww biar othornya makin semangat.