12/06/2026
Bab 10
“Mbak Bilqis, tolong pilihkan warna yang paling cocok untuk calon pengantin ini. Orangnya ganteng, tinggi, wajahnya tipe-tipe manager sukses gitu. Calon istrinya juga cantik banget, seleranya tinggi, maunya kain sutra premium yang motifnya nggak pasaran.”
Suara Linda, salah satu pelanggan setia Bilqis yang juga dikenal sebagai makelar seragam pesta kelas atas, terdengar begitu antusias. Di meja kasir toko Bilqis yang megah di Blok B Tanah Abang, tumpukan katalog kain sutra terbaru sudah terbuka.
Bilqis tersenyum profesional, meski kepalanya masih sedikit berat karena kepindahan mendadaknya ke apartemen semalam. “Tentu, Mbak Linda. Untuk kulit yang kuning langsat atau putih, warna-warna earth tone atau rose gold sedang sangat tren tahun ini. Calon pengantinnya mau konsep apa?”
“Konsepnya intimate, Mbak. Katanya akad siri dulu minggu depan, baru nanti resepsinya menyusul. Tapi ya itu, keluarganya mau semua seragam saudara-saudaranya pakai kain terbaik dari toko Mbak Bilqis. Sebentar, saya perlihatkan fotonya ya, biar Mbak bisa bantu cocokan gradasi warnanya. Soalnya ini sepupu saya sendiri, saya nggak mau malu-maluin.”
Linda merogoh tasnya, mengeluarkan sebuah ponsel pintar mahal, lalu menggeser layar beberapa kali.
“Nah, ini dia Mas calon pengantinnya. Namanya Mas Farhan. Gagah, kan?”
Jantung Bilqis seolah berhenti berdenyut tepat di detik matanya menangkap gambar di layar ponsel Linda. Dunianya seketika sunyi, seolah suara bising pasar Tanah Abang di sekelilingnya lenyap ditelan bumi.
Di layar itu, tampak Farhan—suaminya yang mengaku sedang dinas luar kota—sedang duduk merapat dengan seorang wanita cantik bergaun merah marun yang sangat seksi. Mereka berfoto di sebuah meja makan yang sangat Bilqis kenal: meja makan di rumah Ibu Rahma. Di sana juga ada Ibu Rahma dan Sarah yang tersenyum lebar ke arah kamera, seolah sedang merayakan kemenangan besar.
“Mbak Bilqis? Kok melamun? Gimana? Cocoknya warna apa kalau buat Mas Farhan yang kulitnya sawo matang begini?” Linda bertanya heran, tidak menyadari bahwa wanita di hadapannya sedang berusaha sekuat tenaga agar tidak pingsan atau berteriak histeris.
Darah Bilqis mendidih. Rasa panas menjalar dari ujung kaki hingga ke ubun-ubun. Bukan hanya karena dikhianati, tapi karena betapa terencana dan terorganisirnya pengkhianatan ini.
Realitas yang Menghancurkan
Bilqis mencengkeram pinggiran meja kaca tokonya hingga buku-buku jarinya memutih. Otaknya berputar cepat, menyusun kepingan-kepingan fakta yang menyakitkan:
Alibi Palsu: Farhan bilang dinas luar kota tiga minggu, ternyata dia sedang mempersiapkan pernikahan di rumah ibunya.
Betrayal Terstruktur: Ibu mertua dan adik iparnya tidak hanya tahu, tapi mereka adalah otak di balik perjodohan ini.
Status Hukum: Gugatan cerainya baru saja didaftarkan kemarin sore. Secara hukum, Farhan masih suaminya yang sah. Dan pria itu berniat menikah siri minggu depan tanpa rasa malu sedikit pun.
“Mbak ... Bilqis? Mbak sakit?” Linda menyentuh lengan Bilqis, membuyarkan lamunan yang mengerikan itu.
Bilqis menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan. Ia adalah seorang pengusaha. Ia tidak akan membiarkan emosinya menghancurkan martabatnya di depan orang lain. Dengan kekuatan yang entah datang dari mana, ia memaksakan sebuah senyum tipis—senyum yang mengandung racun.
“Maaf, Mbak Linda. Tiba-tiba saya teringat sesuatu. Oh, jadi ini calon suaminya? Mas Farhan ya namanya?” Bilqis mengambil ponsel Linda, menatap foto itu lebih dekat. Matanya berkilat tajam. “Wajahnya memang terlihat... sangat terpercaya ya. Dan ini calon istrinya? Riri, kalau tidak salah?”
Linda terbelalak. “Lho, Mbak Bilqis kok tahu namanya Riri?”
“Ah, saya hanya menebak dari tipe wajahnya yang ... modern,” bohong Bilqis lancar. “Mbak Linda bilang minggu depan mereka mau akad?”
“Iya, Mbak. Di rumah ibunya Mas Farhan. Makanya ini saya ditugaskan borong kain. Ibunya Mas Farhan itu, Bu Rahma, cerewet banget. Maunya yang paling mahal tapi kalau bisa dapet harga diskon saudara. Katanya mumpung anaknya lagi naik jabatan jadi manager.”
Bilqis tertawa kecil. Tawa yang membuat Linda sedikit merinding tanpa tahu sebabnya. “Tentu, Mbak Linda. Untuk pengkhianat... maksud saya, untuk calon pengantin sehebat Mas Farhan, saya akan berikan kain yang 'paling berkesan'.”
Bilqis berdiri, berjalan menuju rak kain paling belakang yang terkunci rapat. Ia mengambil dua gulung kain sutra dengan motif yang sangat indah, namun ia tahu ada satu rahasia pada kain tersebut: motifnya eksklusif dan terbatas, serta harganya selangit.
“Gunakan ini, Mbak Linda. Ini kain sutra edisi limited. Saya akan buatkan nota resminya sekarang. Karena Mbak Linda yang bawa, saya kasih harga khusus, tapi tetap harus masuk ke laporan keuangan perusahaan.”
Bilqis menuliskan nota dengan tangan yang tenang namun mantap. Di kepalanya, ia sudah menyusun rencana. Jika mereka ingin bermain kotor, maka ia akan memberikan panggung yang paling megah untuk kehancuran mereka.
“Ini notanya. Totalnya tiga puluh lima juta rupiah untuk sepuluh gulung kain seragam keluarga dan kain akad pengantinnya. Bilang pada mereka, ini kain terbaik yang pernah ada di Tanah Abang. Tidak akan ada yang menyamai di hari pernikahan mereka nanti.”
Linda tersenyum puas. “Waduh, Mbak Bilqis memang paling top! Pasti sepupuku dan Tante Rahma seneng banget. Oh iya, nanti kalau sudah jadi, boleh ya saya bawa penjahitnya ke sini buat konsultasi desain?”
“Silakan, Mbak Linda. Kapan saja,” jawab Bilqis dingin.
Setelah Linda pergi dengan membawa sampel kain, Bilqis langsung terduduk lemas di kursi kerjanya. Ia menutup wajah dengan kedua tangannya. Isak tangis yang ia tahan sejak tadi akhirnya pecah, namun bukan tangis kesedihan. Itu adalah tangis amarah yang luar biasa.
“Kalian benar-benar iblis,” bisik Bilqis di balik telapak tangannya. “Kamu bilang aku mandul, Mas? Kamu bilang aku pengemis? Dan sekarang kamu pakai uang yang aku tabung selama ini untuk membiayai pernikahan sirimu dengan wanita itu?”
Bilqis teringat tagihan-tagihan rumah yang selama ini ia bayar. Ia teringat bagaimana Farhan selalu beralasan tidak punya uang untuk check-up ke dokter kandungan, padahal ternyata uangnya dikumpulkan untuk melamar Riri. Ia teringat Sarah yang merusak gaun pelanggannya, sementara sekarang mereka memesan kain baru darinya untuk merayakan pengkhianatan ini.
Bilqis menyambar ponselnya. Ia tidak menelepon Farhan. Ia tidak akan merendahkan dirinya dengan memaki pria itu lewat telepon. Ia menelepon Pak Hermawan, pengacaranya.
“Halo, Pak Hermawan. Tolong tambahkan satu poin lagi dalam berkas perceraian saya. Perzinaan dan rencana pernikahan siri tanpa izin istri sah. Saya punya bukti fotonya. Dan Pak ... tolong pastikan surat panggilan dari pengadilan sampai ke rumah Ibu Rahma tepat tiga hari lagi. Saya mau mereka menerimanya saat mereka sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan pesta.”
“Lalu soal perusakan gaun yang dilakukan adiknya, Mbak?” suara Pak Hermawan terdengar di seberang.
“Teruskan proses pidananya, Pak. Saya baru saja menjual kain kepada mereka senilai tiga puluh lima juta. Pastikan saat polisi datang menjemput Sarah, kain-kain itu disita sebagai bagian dari aset yang mereka miliki untuk ganti rugi. Saya mau mereka tidak punya baju untuk dipakai di hari pernikahan itu.”
Bilqis menutup telepon dengan perasaan puas yang pahit. Ia menatap ke arah cermin di tokonya. Wajahnya yang sembab kini terlihat jauh lebih tegar.
“Kalian pikir aku gembel yang tidak berdaya?” Bilqis berbicara pada bayangannya sendiri. “Kalian pikir kalian bisa menjadikanku pembantu gratis setelah kalian mengkhianatiku? Mari kita lihat, siapa yang akan benar-benar menjadi pengemis saat semua ini berakhir.”
Bilqis kembali ke meja kerjanya. Ia mengambil draf pesanan kain Linda tadi. Ia tersenyum sinis. Ia akan memastikan kain itu sampai ke tangan Ibu Rahma. Ia ingin mereka memakai kain hasil keringatnya di hari "pesta" mereka, tanpa mereka tahu bahwa kain itu adalah kain kafan bagi reputasi dan harga diri mereka.
Judul : Istri G.e.m.b.e.lku Ternyata Bos Tanah Abang
Penulis : Rifalsahramadhan
Baca di KBM App