Mas Al Rantau

Mas Al Rantau Cerita Kehidupan✅
Saling Support✅
Berbagi Itu Indah✅
Pro novel KBMapp✅ Wa👉0881036236365
Jual halaman siapkan konten👈
(2)

“Ayo, masuk! Kamu boleh kok, tidur di kamarmu yang dulu itu. Yuk, masuk, yuk, kita rujuk. Aku akan segera menceraikan Da...
14/08/2026

“Ayo, masuk! Kamu boleh kok, tidur di kamarmu yang dulu itu. Yuk, masuk, yuk, kita rujuk. Aku akan segera menceraikan Dahlia!”

Dulu aku yang sujud-sujud, memohon untuk tidak diceraikan. Sekarang dia yang sujud sujud memohon ingin rujuk, sampai mengancam ingin ….

****

“Jingga! Aku minta maaf! Aku tidak jadi menceraikan kamu! Bagaimana kalau kita perbaiki hubungan kita, mulai dari nol lagi! Aku janji, aku akan menceraikan Dahlia! Toh aku dan Dahlia baru menikah siri. Jadi untuk bercerai, itu sangat mudah. Tidak perlu ke pengadilan agama.”

"Azam!” Aku membentak lelaki itu, tanpa embel-embel Mas lagi di depan namanya.

Kutepis tangannya dengan sedikit kasar.

"Pliss, Jingga! Aku ingin rujuk sama kamu. Aku menyesal, waktu itu telah menceraikan kamu!”

Azam bahkan hampir saja sujud di kakiku. Namun aku langsung memundurkan tubuhku.

“Ayo, masuk! Kamu boleh kok, tidur di kamarmu yang dulu itu. Yuk, masuk, yuk!" Lelaki itu berusaha meraih tanganku.

“Maaf. Aku ke sini bukan untuk kembali. Tapi karena aku mengantar ibumu p**ang."

Perhatian lelaki itu pun kini beralih kepada ibunya yang nampak sangat compang camping.

“Ibu, kenapa, Bu?" tanya Azam seperti orang kebingungan.

“Motor Ibu, mana? Bukannya tadi perginya bawa motor bareng ibu-ibu yang lain, ya?" tanya lelaki itu lagi.

“Ibu dibegal, Zam! Ibu apes. Semua ludes! Dibawa begal itu. Semuanya!" Ibu mertua langsung menjerit histeris sambil memeluk anak lelakinya.

"Untung, Ibu bertemu Jingga di jalan. Jadi nyawa Ibu masih bisa selamat. Hu … hu … hu …." Mantan ibu mertuaku itu, menangis tergugu.

Dia bahkan mengguncang-guncang tubuh anak lelakinya dengan lumayan keras.

Dan saat itu juga, saat mereka lengah, aku langsung kembali naik ke mobilku tanpa berpamitan.

Azam yang semula masih dipeluk oleh ibunya, begitu mengetahui kalau aku sudah masuk ke mobil, ibunya justru didorong, dan lelaki itu langsung berjalan cepat menghampiri mobil yang kutumpangi.

"Jingga! Jingga! Tolong dengarkan aku!” Dia mengetuk-ngetuk kaca mobil.

Davin melihat ke arahku. Seolah sedang bertanya, apa yang harus dia lakukan. Dan aku memberikan kode untuk segera berjalan. Mobil pun kemudian melaju keluar dari halaman, meninggalkan Azam yang berlari mengejar.

Sudah seperti film India saja. Mobil yang berlari, terus dikejarnya. Davin yang melihat, bahkan sampai tertawa terpingkal-pingkal dibuatnya.

"Dikejar pangeran tuh, Jingga!” celetuk Davin masih sambil tertawa.

"Kamu bisa saja.” Aku ikut tertawa. Padahal menurutku tidak ada lucu-lucunya.

Barulah ketika mobil berbelok memasuki jalan raya, Azam sudah tidak terlihat lagi batang hidungnya.

Di perjalanan, aku menyempatkan diri ingin menelpon baby sitternya putraku untuk menanyakan apakah Rangga rewel apa tidak.

Namun baru juga ponsel kubuka, ternyata sudah ada banyak sekali notifikasi pesan dari Azam. Rupanya sudah sejak sore tadi dia berusaha menghubungiku.

Pesan-pesan yang isinya mengajak rujuk, bahkan berderet-deret memenuhi layar ponselku.

[Pliss, Jingga, p**anglah ke rumah.]

[Bukankah kita pernah berjanji untuk menua bersama.]

[Sudah berjanji untuk sehidup semati.]

[Pliss, angkat telponku, aku mau bicara.]

[Aku rindu, ingin mendengar suaramu.]

[Aku bisa mati jika ditinggal olehmu.]

[Mati, Jingga, beneran, aku bisa mati.]

[Aku akan Bu n u h d i r i ]

Aku pun mengetikkan sebuah balasan.

[B u n u h d i r i saja, tidak apa-apa.]

Terkirim.

Dan langsung centang dua berwarna biru.

Namun kemudian aku berfikir. Bagaimana jika nanti dia b u n u h diri, dan polisi menemukan riwayat chat kami? Bisa-bisa aku malah ikut terseret-seret ke kantor polisi.

Bersambung ….

Cerbung ini sudah ending di KBM app.

Judul : DIAM-DIAM MILYARDER
Penulis : Eniky

“I–ini mobilmu? Terus siapa yang ngajarin kamu nyetir mobil? Kamu kan sudah tahu, aku tidak s**a jika kamu bisa menyetir...
13/08/2026

“I–ini mobilmu? Terus siapa yang ngajarin kamu nyetir mobil? Kamu kan sudah tahu, aku tidak s**a jika kamu bisa menyetir mobil. Jangan-jangan, kalian juga mesra-mesraan, pas belajar nyetir. Iya?!”

Mantan suamiku kebakaran jenggot, melihat aku bersama laki-laki lain. Padahal dia juga sudah bersama istri mudanya.

Bedanya, aku mengendarai city car yang super mewah, sementara dia hanya mengendarai mobil sejuta umat!

Pingin ketawa, tapi takut dosa ….

😂😂😂😂😂

*****

“Jingga! Bisa-bisanya kamu belajar nyetir. Tidak patuh sama suami. Kamu kan sudah tahu, aku tidak s**a jika kamu bisa menyetir mobil. Jangan-jangan, kalian juga mesra-mesraan, pas belajar nyetir. Iya?! Atau, dia memang selingkuhan kamu?! Iya?!” Azam berbicara panjang lebar dengan nafas tersengal-sengal.

“Selingkuhan? Bukankah kalian itu sudah mantan, ya, bukan suami istri lagi?" Davin tertawa geli.

Azam semakin emosi.

“Mas ….”

Dahlia yang mungkin merasa tidak nyaman, pun memanggil Azam dengan suara manja bercampur kesal. Perempuan berbaju seksi itu, sedikit menghentakkan kakinya. Mungkin dia cemburu, laki-laki yang digadang-gadangkan akan segera menikahinya secara resmi itu, justru terancam berpaling kembali kepada mantan istrinya.

"Kita kan mau melihat rumah baru. Kok malah buang-buang waktu, sih? Waktuku nggak lama, loh, sebentar lagi, harus syuting lagiiiii …."

Dahlia segera menyeret Azam, membawa lelaki itu melangkah menjauhiku. Mata Dahlia yang memakai softlens berwarna biru itu, melirik tajam ke arahku.

Saat Azam diseret Dahlia masuk ke dalam, Azam masih sempat menoleh noleh ke arah belakang, melihat ke arahku.

Aku tersenyum. Sudah tidak ada lagi rasa cemburu seperti waktu dulu. Bagiku Azam sudah mati dari hatiku. Dulu mungkin aku akan menangis sepanjang hari sepanjang malam, karena tahu telah diselingkuhi.

Tapi sekarang, oh, no!

Aku sudah punya banyak uang.

“Ayo, kita masuk. Mau rumah ini, nggak?" Davin mencolek pundakku.

“Tapi u ang saya kurang, Mas … nggak cukup …."

"Kalau masalah u ang, gampang," jawab Davin dengan dingin dan tenang.

Lelaki itu kemudian berjalan menuju ke arah rumah. Aku mengikuti di belakangnya.

Di sebuah teras utama, aku melihat Dahlia dan Azam sedang berbicara dengan seseorang, yang mungkin diberikan mandat untuk melayani calon pembeli.

"Pak, saya mau melihat-lihat ke dalam. Boleh?” tanya Davin kepada lelaki setengah baya itu.

“Oh, boleh, Pak, silahkan, bersama-sama saja dengan ibu dan bapak yang ini. Beliau berdua juga ingin melihat-lihat ke dalam.” Lelaki itu menunjuk ke arah Azam dan Dahlia.

Kami berempat pun masuk ke dalam, didampingi oleh seorang perempuan yang mungkin salah satu pekerja di rumah ini.

Dahlia langsung menyeret Azam, mendahului kami. Seolah-olah dia takut, jika aku akan merebut kembali lelaki itu.

Ruang tamunya tampak mewah dan luas. Dengan lantai marmer, beberapa sofa berukuran besar, guci guci antik yang tersusun rapi, hiasan dinding yang estetik, juga lampu kristal yang menggantung indah.

Dahlia langsung menyeret Azam menjauhiku, mengajaknya duduk di sofa. Bahkan perempuan itu meminta untuk dipangku oleh Azam. Mungkin untuk memanas-manasi aku.

Tidak mempan. Aku tidak akan cemburu. Yang ada justru Azam yang terlihat tidak tenang dan berkali-kali melirikku.

“Mas, nanti kalau rumah ini sudah jadi milik kita, kita bisa bebas main di sini, Mas,” ucap Dahlia, mengecup Azam.

“Norak sekali!" Decak Davin singkat, dan terlihat muak.

"Kita lihat-lihat dalamnya saja.”

Kemudian Davin mengajakku jalan-jalan lebih masuk ke dalam lagi. Ke ruang makan, ruang keluarga, dapur.

Azam dan Dahlia ternyata juga mengikuti kami.

“Mas! Mas! Nanti kita juga main di sini.” Dahlia menunjuk sebuah meja dapur. Aku justru bergidik ngeri melihatnya.

"Kayak di Drakor Drakor itu loh, Mas. Pas istrinya mau masak, suaminya malah masuk dapur, terus digodain, terus lanjut …."

Astaghfirullah.

Sepertinya Dahlia memang maniak. Dari tadi yang dibahas hanya seputar itu itu saja. Pantas saja dia begitu mempertahankan Azam. Mungkin karena demi memenuhi kebutuhan biologisnya yang di luar nalar itu.

Menjijikkan!

Davin kemudian mengajakku naik ke lantai dua. Dimana ada tiga kamar di dalamnya. Semua kamar dilengkapi dengan balkon masing-masing.

Kami masuk ke kamar utama. Sebuah ranjang mewah dengan ukuran king size, lemari pakaian mewah, lemari sepatu mewah, lemari untuk menyimpan tas, meja rias, meja lampu tidur, juga kamar mandi yang hanya berdinding kaca.

"Mas, Mas! Coba naik ke ranjang, yuk!” Dahlia tiba-tiba menarik tangannya Azam, mengajak naik ke atas ranjang.

Namun tiba-tiba seorang wanita yang memandu kami, langsung berteriak melarang.

"Jangan!”

Kaki Dahlia yang sudah hampir naik ke ranjang, langsung diturunkan oleh wanita itu.

"Mohon maaf, Bu. Ranjang ini tidak boleh dicoba!" ucap wanita itu tegas.

“Kok, tidak boleh?" Dahlia balik bertanya dengan raut tidak s**a.

“Mohon maaf! Saya baru saja mendapatkan kabar dari bos saya, jika rumah ini, baru saja sudah laku."

“Sudah laku? Siapa yang membeli?" Dahlia menjerit, suaranya melengking tinggi.

“Nama pembelinya adalah Ibu Jingga Arsyila Maharani!”

Bukan hanya Azam dan Dahlia yang terkejut, mendengar namaku disebut. Aku pun juga.

“Aku, yang membeli? Kapan?” tanyaku terheran-heran.

“Aku yang sudah membayarnya untuk kamu."

Mas Daviiiiiin ….

Bersambung ….

Cerbung ini sudah ending di KBM app.

Judul : DIAM-DIAM MILYARDER
Penulis : Eniky

“I–ini mobilmu? Terus siapa yang ngajarin kamu nyetir mobil? Kamu kan sudah tahu, aku tidak s**a jika kamu bisa menyetir...
11/08/2026

“I–ini mobilmu? Terus siapa yang ngajarin kamu nyetir mobil? Kamu kan sudah tahu, aku tidak s**a jika kamu bisa menyetir mobil. Jangan-jangan, kalian juga mesra-mesraan, pas belajar nyetir. Iya?!”

Mantan suamiku kebakaran jenggot, melihat aku bersama laki-laki lain. Padahal dia juga sudah bersama istri mudanya.

Bedanya, aku mengendarai city car yang super mewah, sementara dia hanya mengendarai mobil sejuta umat!

Sukurin!!!

*****

“Eh, ada mantan suamimu, bersama istri mudanya!" ucap Davin, dan spontan aku pun menoleh ke arah yang ditunjukkan oleh lelaki itu.

Ya, saat ini kami sedang ingin mengecek sebuah rumah yang ingin dijual, untuk kubeli. Tapi ternyata, tanpa diduga, ada mantan suamiku dan juga istri mudanya, yang sepertinya juga berminat ingin membeli rumah ini.

Bedanya, aku naik city car yang super mewah. Sementara, mantan suamiku yang dulu sempat selingkuh dan menceraikan aku itu, hanya naik mobil sejuta umat.

“Ayo turun, jangan malah bengong. Tuh, suamimu dan istri mudanya juga tertarik mau membeli rumah ini.” ucap Davin melirik ke arah mereka berdua.

Kami pun kemudian turun. Baru saat itulah, tatapan kami bertemu. Azam dan Dahlia nampak sangat terkejut, melihatku turun dari kursi kemudi.

Azam kemudian langsung mendekatiku.

“Jadi benar, ini mobilmu?" tanya lelaki itu, meneliti mobilku dengan begitu seksama.

“Memangnya, kenapa?" Aku balik bertanya.

“Uang dari mana, bisa kebeli mobil sebagus ini?" tanya lelaki itu lagi.

“Tentu saja dari hasil kerjaku."

Aku sudah tidak bisa menutup nutupi lagi.

“Masa iya, cuma penulis skenario, bisa langsung kebeli mobil seperti ini?" Tatapan itu terlihat semakin menyelidik.

"Hahaha … Mas, Mas. Kamu itu.” Dahlia tiba-tiba tertawa, mendekat ke arahku.

"Kamu itu kayak nggak tahu saja. Dia itu kan kemana-mana pakai fasilitas dari bosnya. Bukan milik dia sendiri! Kayak nggak hafal saja, bagaimana kelakuannya! Ini pun dia sok sokan lihat-lihat rumah, juga pastinya disuruh bosnya! Dia mana punya, uang dua puluh milyar! Hahaha!"

Lagi-lagi, Dahlia tertawa. Namun aku sempat melihat kekhawatiran di raut wajahnya. Tawanya terlihat dibuat-buat dan dipaksakan. Bukan tawa yang lepas seperti kemarin-kemarin ketika dia sedang berada di atas angin.

"Mas, penulis skenario itu, satu episode cuma sejuta. Mana bisa beli mobil dengan harga milyaran–"

Belum juga Dahlia menyelesaikan ucapannya, aku langsung mengeluarkan STNK yang kupunya. Atas nama Jingga Arsyila Maharani.

Azam langsung syok. Matanya tampak melotot.

“Ja–jadi be–be–nar i–i–ni mob–bil–muuuu …." Terbata-bata, lelaki itu bertanya kepadaku.

Aku tersenyum. Dan langsung kutarik dengan cepat, STNK yang hampir saja direbutnya itu. Dan langsung kumasukkan ke dalam tasku.

Azam kelabakan. Dia memutari mobilku, melihat lihat semuanya. Dari rodanya, bodynya, bahkan bagian dalam pun juga dilihatnya.

Sempat diusap-usap juga, body mobilnya.

"Awas! Jangan nempel-nempel, nanti alarm anti malingnya, bunyi!” ucap Davin, dengan nada datarnya.

Azam terkejut. Kemudian beralih menatap Davin.

"Kamu siapanya istriku?” tanya Azam tiba-tiba.

"Tidak penting, aku siapanya Jingga,” jawab Davin, tanpa sedikit pun melihat ke arah Azam.

“Terus, yang mengajari Jingga nyetir mobil, siapa? Kamu?” Muka Azam tampak memerah.

"Kalau aku memang kenapa?” Davin balik bertanya.

Azam nampak geram. Tangannya mengepal, seperti ingin memukul Davin, tapi masih menahan. Sementara, ekspresi Davin terlihat sangat santai, sedikit pun tidak terprovokasi oleh tingkah mantan suamiku itu.

“Jingga!" Kini Azam melihat ke arahku.

“Bisa-bisanya kamu belajar nyetir. Tidak patuh sama suami. Kamu kan sudah tahu, aku tidak s**a jika kamu bisa menyetir mobil. Jangan-jangan, kalian juga mesra-mesraan, pas belajar nyetir. Iya?!”

Hanya cuplikan.

Selengkapnya, sudah ending di KBM app.

Judul : DIAM-DIAM MILYARDER
Penulis : Eniky

"Eh, ada calon janda. Mau ngapain? Mau jual cincin kawin? Sudah kehabisan u ang, setelah dilepeh oleh Mas Azam?”Aku dibu...
10/08/2026

"Eh, ada calon janda. Mau ngapain? Mau jual cincin kawin? Sudah kehabisan u ang, setelah dilepeh oleh Mas Azam?”

Aku dibuat terkejut, saat sampai di toko perhiasan, tiba-tiba bertemu dengan suamiku dan istri mudanya. Sepertinya mereka sedang memilih perhiasan. Dikiranya, aku tidak punya u ang. Padahal kedatanganku ke sini, karena mau memborong perhiasan.

*****

“Mbak saya mau kalung yang dua ratus gram," pintaku pada pelayan, sengaja untuk memanasi pelakor.

“Mas, aku juga mau perhiasan yang dua ratus gram, Mas!” Dahlia langsung merengek-rengek kepada Mas Azam. Dia tidak mau kalah.

Pelayan pun kemudian memberikan kalung kepadaku, dan juga kepada Dahlia.

“Mas, tolong pasangkan, d**g …." pinta Dahlia kepada Mas Azam, dengan suara manjanya.

Mas Azam pun memasangkan pada lehernya Dahlia. Tapi dengan tangan yang gemetar, dan keringat dingin yang nampak keluar.

Dahlia kemudian menatap cermin yang ada di sampingnya, dan tersenyum lebar.

“Cantik banget kan, Mas?" ucap Dahlia selanjutnya.

“Nggak usah dilepas ya, Mas, sekalian dipakai, sayang banget ini, sudah nempel di leherku?"

"Apa nggak kegedean, Sayang?” tanya Mas Azam.

"Memang kenapa, kalau kegedean?”

"Ya kalau kegedean kan, stylenya jadi kayak artis kabupaten …." Lelaki itu berusaha membujuk Dahlia.

“Enggak kegedean, ah! Lagian banyak, itu yang lebih gede. Nggak kayak artis kabupaten juga. Artis artis top papan atas juga sering makai, kok. Malah tambah keren, tuh dilihat!" Dahlia ngeyel, tidak mau kalah berdebat.

“Mbak, ini harganya, berapa?" tanya Mas Azam pada pelayan.

“Itu harganya, lima ratus juta, seratus dua puluh lima ribu, Pak!"

Begitu pelayan menyebut harganya, Mas Azam langsung merebut kalung itu dari tangannya Dahlia, dan mengembalikannya kepada pelayan.

Dahlia langsung nampak kecewa. Sangat, kecewa.

Aku pun memilih kalung yang lainnya. Seberat lebih dari dua ratus sepuluh gram. Biar pelakor makin kepanasan.

“Ini berapa harganya, Mbak?” tanyaku pada pelayan.

"Ini perhiasan dengan kadar tertinggi, Kak. Seratus persen emas murni. Total harganya enam ratus tiga puluh juta.”

"Ya sudah, tidak apa-apa. Saya bayar.” Aku mengeluarkan kartu hitamku.

“Jingga, kamu punya black card?" tanya Mas Azam dengan raut tidak percaya. Dan lagi-lagi, aku memilih untuk tidak menjawabnya.

"Tambah gelang berlian, Mbak, sama cincinnya sekalian.”

Akhirnya, aku pun membeli dua lagi. Gelang dan cincin mewah yang ada berliannya.

“Mas, aku juga ingin kalung. Ingin gelang, ingin cincin seperti itu."

Terdengar suara rengekan manja Dahlia, sembari melirik ke arah perhiasanku.

“Dahlia! Besok lagi saja, ya, belinya," Mas Azam berbicara dengan lirih dan geram.

“Nggak mau!" Dahlia menghentakkan kakinya.

Kini giliran aku, yang menertawakan mereka.

“Mbak! Mbak! Kalung yang seperti tadi dibeli oleh orang ini, masih ada, tidak?" tanya Dahlia kepada pelayan.

“Itu sudah tidak ada, Mbak, itu limited edition. Tapi kalau Mbak mau, ada, loh, yang lebih bagus dari itu. Bertabur berlian. Tapi yaitu tadi. Harganya hampir satu milyar."

“Yang mana?" tanya Dahlia nampak begitu penasaran.

Pelayan pun kemudian mengeluarkan sebuah kalung.

“Mbak! Coba dekatkan kepada saya. Saya ingin melihatnya.”

"Tidak boleh, Mbak. Mbak tidak boleh menyentuhnya. Hanya boleh melihatnya. Nanti kalau sudah deal, sudah dibayar, baru boleh dicoba.”

"Loh, kenapa?”

"Soalnya barang ini sangat ekslusif sekali, Mbak.”

"Alah, nanti juga kubeli, Mbak. Jangankan cuma satu milyar. Sepuluh milyar juga suamiku punya u ang. Mbak tahu, tidak? Saya itu artis terkenal." Dahlia berbicara sambil menunjuk nunjuk ke arah wajahnya sendiri.

“Kenal saya, kan, saya Dahlia putri Edelweis. Artis papan atas,” ucap Dahlia dengan begitu bangganya.

"Sini, biar kulihat kalungnya!”

Dan tiba-tiba, tangan Dahlia sudah merogoh lewat bagian bawah kaca penghalang. Kalung itu langsung diambilnya.

"Belikan ya, Mas, cuma satu milyar, kok.” ucap Dahlia setengah merajuk.

"Jangan, Dahlia, kubilang besok ya besok.” Mas Azam mulai hilang kesabaran.

"Tapi aku pingin banget!" Dahlia sudah melingkarkan kalung itu di lehernya.

Mas Azam menariknya. Dahlia berusaha mempertahankannya. Terjadilah tarik menarik, dan akhirnya … kalung itu … putus di tangan mereka.

Bersambung ….

Cerbung ini sudah ending di KBM app.
Judul : DIAM-DIAM MILYARDER
Penulis : Eniky

"Eh, ada calon janda. Mau ngapain? Mau jual cincin kawin? Sudah kehabisan u ang, setelah dilepeh oleh Mas Azam?”Aku dibu...
10/08/2026

"Eh, ada calon janda. Mau ngapain? Mau jual cincin kawin? Sudah kehabisan u ang, setelah dilepeh oleh Mas Azam?”

Aku dibuat terkejut, saat sampai di toko perhiasan, tiba-tiba bertemu dengan suamiku dan istri mudanya. Sepertinya mereka sedang memilih perhiasan. Dikiranya, aku tidak punya u ang. Padahal kedatanganku ke sini, karena mau memborong perhiasan.

****

“Kalau mau jual cincin kawin, nggak apa-apa, kok, jual saja, aku ikhlas. Jangan malu-malu!" Kini giliran Mas Azam yang mengejekku.

“Awas, ya, kalau nanti kepengen perhiasanku yang dibelikan oleh Mas Azam. Kamu jangan ngarep. Jangan sampai minta dibelikan perhiasan sama Mas Azam. Mas Azam cuma mau membelikan buat aku. Bukan buat kamu!” ucap Dahlia dengan ketusnya.

“Mas, sebaiknya diawasi baik-baik itu, Mbak Jingga. Jangan sampai dia mencuri emas dan bikin malu kita," ucap Dahlia kepada suami sirinya.

"Siapa yang mau menjual cincin kawin? Siapa p**a yang mau mencuri? Aku ke sini mau beli perhiasan. Lagian cincin kawinku dulu dengan Mas Azam, sudah kubuang ke selokan," jawabku dengan tenang.

"Dibuang ke selokan?”

“Beli perhiasan? Hahaha …." Mereka langsung kompak menertawakan.

“Punya uang dari mana? Pengangguran sok-sokan mau beli perhiasan!”

Aku tidak menanggapi mereka. Aku lebih memilih untuk melihat-lihat perhiasan yang ada. Biar saja, mereka menganggapku pengangguran dan tidak punya u ang. Mereka tidak tahu saja, bahwa aku baru saja mendapatkan proyek besar.

Karena ucapan mereka terus kuabaikan, akhirnya dua cecunguk itu melanjutkan memilih perhiasan. Memilihnya pun, juga sambil pamer kemesraan. Mereka pikir, aku akan cemburu. No! Tidak sama sekali. Dulu aku memang sempat nangis-nangis dan sujud sujud, kala Mas Azam membawa p**ang perempuan itu dan mengusirku. Tapi setelah aku punya banyak u ang, lekaki itu sudah tidak penting lagi, bagiku.

"Mas, aku pingin yang ituuuuu ….” ucap Dahlia dengan manja, sembari menunjuk salah satu kalung dengan liontin yang ada berliannya.

"Ini berapa harganya, Mbak?” tanya Azam kepada pelayan toko.

"Dua ratus, juta, kakak,” jawab pelayan dengan sangat ramah.

“Mas, boleh, ya, ini cuma dua ratus juta, loh." Dahlia mulai membujuk Mas Azam.

"I–iya, boleh, Sayang,” jawab Mas Azam, gelagapan.

"Mbak, saya mau yang itu, kalung yang dua ratus gram."

Tidak mau kalah dengan pelakor, aku pun langsung menunjuk pada sebuah kalung yang lebih mewah.

Dua orang itu pun terkejut, mendengar ucapanku.

“Mas, sepertinya istrimu sudah mulai gila, gara-gara mau diceraikan oleh kamu,” bisik Dahlia kepada Mas Azam.

“Hahaha! Halunya kebangetan. Jangankan emas dua ratus gram. Emas setengah gram pun aku yakin, kamu nggak bakalan mampu beli." Mas Azam kembali menertawakanku dengan geli.

Sebenarnya, jika mereka merasa geli, aku pun bahkan lebih merasa geli lagi, jika membayangkan bagaimana reaksi mereka nanti, saat mengetahui kalau aku punya banyak uang.

"Jingga, mendingan kamu p**ang saja, jangan bikin malu." ucap Azam lagi, kepadaku.

"Nih, kukasih dua puluh ribu, buat naik ojek.” Dia memberikan uang dua puluh ribu kepadaku, dan tentu saja, aku menolaknya.

“Yang ini, kan, Mbak, kalungnya?” tanya pelayan, memastikan.

Aku pun mengangguk.

Pelayan pun berniat hendak mengambilkan kalung yang kuinginkan, untuk kulihat. Tapi Dahlia buru-buru menghalanginya.

“Mbak! Mbak, jangan diberikan kalung itu padanya! Nanti dibawa lari! Dia itu tidak punya uang!" ucap Dahlia dengan suara keras.

Pelayan nampak bingung. Menatapku, dan menatap Dahlia bergantian.

Dan dengan tenang, aku mengeluarkan KTP-ku dan kartu debitku.

“Silahkan dicek ya, Mbak, saldo saya cukup apa tidak, untuk membayar perhiasan ini?"

Pelayan pun menggesek kartuku. Aku menekan PIN. Dan nampaklah saldonya.

“Cukup, Kak, lebih dari cukup. Bahkan masih tersisa sangat banyak!”

Aku pun langsung memperlihatkan saldo di layar itu kepada suamiku dan perempuan murahan itu. Dan mereka berdua langsung ….

Cerbung ini sudah ending di KBM app.
Judul : DIAM-DIAM MILYARDER
Penulis : Eniky

“Paling-paling kamu mau ngambil sisa saldomu yang tinggal lima puluh ribu itu, kan? Hahaha!”"Atau jangan-jangan, kamu ma...
08/08/2026

“Paling-paling kamu mau ngambil sisa saldomu yang tinggal lima puluh ribu itu, kan? Hahaha!”

"Atau jangan-jangan, kamu mau mengajukan hut4ng?”

Tidak sengaja, aku bertemu suamiku dan istri mudanya, beserta adik iparku dan juga ibu mertuaku. Mereka kompak menghinaku. Namun begitu mereka tahu jumlah saldo tabunganku, mereka langsung ….

****

Paginya, pagi-pagi sekali, Dahlia, istri mudanya suamiku, sudah datang.

“Aduh, menantu Ibu yang paling cantik. Wanita karir, wanita independen.” Ibu langsung menyambut kedatangan menantu kesayangannya.

Mereka pun kemudian bercipika-cipiki.

“Wangi banget, ya? Beda sama Jingga yang miskin dan pengangguran. Tidak ada wangi-wanginya. Yang ada malah bikin mual, hahaha!” Lagi-lagi, Ibu mertua menghinaku.

"Ibu bisa aja, hihihi,” ucap Dahlia, sambil tertawa kecil dan kemudian melirikku.

Mas Azam pun kemudian melangkah maju. Memeluk perempuan itu.

"Baru semalam nggak ketemu, aku sudah kangen banget sama kamu, tahu, nggak?” ucap lelaki itu, merayu istri mudanya.

"Aku juga kangen, Sayang … tapi kan semalam aku ada syuting. Oh, iya, Mas, temenku semalam beli ponsel keluaran terbaru. Canggih banget. Kamu mau nggak, beliin buat aku? Biar aku nggak ketinggalan. Cuma tiga puluh juta kok, Mas, nggak mahal!" ucapnya, sembari memamerkan kemesraannya kepadaku.

“Tiga puluh jut–”

Mas Azam nampak terkejut, mendengar permintaan istri mudanya. Aku pun ikut berceletuk, menyambung pembicaraan itu.

“Hah! Katanya perempuan independen! Cuma ponsel saja, kok minta sama laki-laki?" ceketukku sambil berjalan di dekat mereka.

“Apaan, sih, Jingga? Kamu iri, ya? Jangan iri begitu. Kamu sama Dahlia ini beda level! Dahlia memang cocoknya pakai ponsel mahal, keluaran terbaru, karena dia itu cantik, dan artis terkenal. Sementara, kamu cocoknya pakai ponsel bekas yang layarnya sudah retak-retak. Soalnya kalau mau beli ponsel yang sesuai dengan seleranya Dahlia, sampai mati pun kamu juga tidak akan kuat membeli!” Mas Azam menghinaku, sambil mencium pipinya Dahlia berulang kali.

"Ponsel seperti ini, yang kamu maksud?”

Sudah hilang kesabaran, aku pun langsung menunjukkan ponsel yang kemarin baru saja kubeli.

Mereka semua melongo, melihat ponselku. Namun tiba-tiba saja, Dahlia langsung tertawa.

"Jangan kaget begitu, kalian, woi! Palingan itu cuma casingnya saja!” ucap Dahlia, kemudian melanjutkan tawanya.

"Casingnya saja?” tanyaku kepadanya.

"Iya, casingnya saja. Kalau cuma casing sih, pengemis juga mampu beli. Harganya paling juga cuma tiga puluh ribu. Kalau ponselnya, ya harganya tiga puluh juta. Kamu pasti nggak bakal mampu beli. Hihihi!” Dahlia tertawa lagi.

"Iya, Mbak Jingga! Kamu pikir kami ini kump**an anak kecil, bisa dibohong-bohongi?” Alika ikut ikutan menimpali.

"Sudahlah, Jingga! Jangan permalukan dirimu sendiri. Kalau kamu juga kepingin ponsel baru, besok aku belikan, yang harganya sejuta. Ponsel bekas yang sudah retak-retak. Yang pantas buat kamu!”

"Mas! Coba buka mata lebar-lebar! Perhatikan baik-baik! Apakah ini cuma casing saja? Iya?”

Aku bahkan sampai melepas casing ponselku. Dan tampaklah isinya. Nampaklah bentuk formasi kamera kamera belakangnya.

Alika langsung berjalan cepat ke arahku. Dan dengan secepat kilat, tangan kanannya sudah menyambar ponselku.

Dia mengusap-usap layarnya begitu saja, seolah benda itu adalah miliknya. Untung saja, aku sudah mengunci layarnya.

“Mbak, ini gimana, membukanya?" tanya Alika dengan begitu antusiasnya.

Aku pun mengambil benda itu dari tangannya. Kemudian kubuka dengan mengetikkan angka sandinya.

“Ih, asli! Beneran asli!" pekik Alika dengan suara nyaring sekali.

Mas Azam dan Dahlia akhirnya mendekat ke arah Alika. Ikut ikutan melihat ponselku.

“Ini buat aku, ya, Mbak? Aku pingin banget! Temenku yang anak orang kaya juga kemarin baru beli. Kalau aku juga punya, kan, nanti aku bisa temenan sama di–”

"Enak saja!”

Aku langsung ….

Bersambung ….

Cerbung ini sudah ending di KBM app.
Judul : DIAM-DIAM MILYARDER
Penulis : Eniky

“Paling-paling kamu mau ngambil sisa saldomu yang tinggal lima puluh ribu. Hahaha!”"Atau jangan-jangan, kamu mau mengaju...
08/08/2026

“Paling-paling kamu mau ngambil sisa saldomu yang tinggal lima puluh ribu. Hahaha!”

"Atau jangan-jangan, kamu mau mengajukan hut4ng?”

Tidak sengaja, aku bertemu suamiku dan istri mudanya, beserta adik iparku dan juga ibu mertuaku. Mereka kompak menghinaku. Namun begitu mereka tahu jumlah saldo tabunganku, mereka langsung ….

*****

“Eh, ada orang udik!" ucap ibu mertuaku sambil tertawa, kala tidak sengaja kami bertemu di bank.

Aku sendirian saja, sementara Ibu mertuaku bersama suamiku, bersama istri barunya suamiku, dan bersama Alika, adik iparku.

"Orang udik kok mainnya ke bank!” ucap Alika, tidak kalah menghina.

Dan mereka berempat pun kemudian tertawa, sambil menatapku dari ujung kaki sampai ke ujung kepala.

“Mau apa, ke sini?" tanya Mas Azam dengan raut tidak s**anya.

"Sengaja menguntitku, iya?” tuduhnya kepadaku, dengan begitu percaya dirinya.

“Jangan asal bicara ya, Mas? Memangnya siapa yang mau menguntitmu?" Karena kesal, aku pun menjawab pertanyaannya, namun masih dengan nada sewajarnya.

"Alah, bilang saja, menguntit. Kamu masih cinta kan, sama aku? Kangen sama aku? Kalau nggak menguntit, ngapain, tiba-tiba ada di sini?” tanya lelaki itu, sengaja sambil memeluk Dahlia, istri mudanya. Mungkin dia sengaja ingin memamerkan kemesraannya kepadaku.

“Ini tempat umum, Mas, siapa pun, berhak ada di sini. Kamu jangan GR!" Aku menjawab dengan santai.

“Mas, paling-paling Mbak Jingga ini mau ngambil sisa saldonya yang tinggal lima puluh ribu. Hahaha!” Alika tertawa.

"Atau jangan-jangan, mbak Jingga mau mengajukan hut4ng?” Kali ini Dahlia ikut berbicara.

Aku tidak menjawab.

“Kasihan, ya? Belum juga dicerai, hidupnya sudah ndlosor. Sampai-sampai mau cari ut4ngan ke bank. Salah sendiri, sih, pengangguran. Makanya, jadi perempuan itu, kerja, jangan nganggur. Akhirnya dilepeh kan, sama Azam?” Ibu mertua menatapku dengan sangat meremehkan.

Aku pun memilih untuk segera mengambil nomor antrian. Daripada meladeni mereka, nanti menjadi ribut tidak karuan.

Setelah mengambil nomor antrian, aku segera mencari tempat duduk. Mereka berempat pun ikut duduk di dekatku.

"Saldo yang cuma sisa lima puluh ribu, kira-kira bisa diambil nggak ya, Bu?” tanya Alika mengejekku.

"Bisa, tapi paling cuma dua puluh ribu yang bisa diambil. Cuma bisa kebeli seblak! Hahaha!”

Dan lagi-lagi, mereka tertawa. Bahkan tawanya sampai terpingkal-pingkal, sambil memegangi perutnya.

Dan saat mereka masih tertawa itulah, tiba-tiba seorang security berjalan mendekatiku.

"Dengan Ibu Jingga Arsyila Maharani?" tanya petugas security dengan begitu sopannya.

“Iya, Pak, saya."

Aku pun berdiri.

“Silahkan ikut saya, Bu," ucap security sambil membungkukkan badan, dengan gestur yang sangat sopan sekali.

“Loh, loh, loh! Ini bagaimana konsepnya? Kami mengambil nomor antrian terlebih dahulu, kenapa dia malah duluan dipanggil?!" Ibu mertua langsung berdiri sambil berkacak pinggang.

“Mohon maaf, Bu, Ibu Jingga ini adalah nasabah prioritas kami. Jadi saya diperintah untuk membawanya ke ruang VVIP, agar lebih nyaman, tidak berbaur menjadi satu dengan nasabah umum," ucap security, memberikan penjelasan.

Tawa yang sedari tadi menggema, kini langsung sirna seketika. Mereka kompak melongo menatapku, kemudian menatap security secara bergantian.

“Nasabah prioritas?" Alika menutup mulutnya.

"Pak, syarat untuk menjadi nasabah prioritas, itu seperti apa, ya?” tanya Mas Azam dengan penasaran.

"Jadi begini ya, Pak, untuk menjadi nasabah prioritas di Bank kami, itu syaratnya minimal harus punya tabungan satu milyar,” jawab security itu lagi.

"Satu milyar?!” Ibu mertua tampak syok bukan kepalang.

"Iya, Bu. Minimal satu milyar! Itu pun sumber u4ngnya juga harus jelas. Bukan dari hasil money loundry atau sejenisnya." Satpam menerangkan dengan suara tenang.

“Ta–tapi tidak mungkin, menantu saya yang udik ini punya saldo satu milyar. Dia itu pengangguran. Terakhir bekerja, sudah tiga bulan yang lalu, sebagai asisten pribadinya seorang penulis. Itu pun gajinya sudah habis untuk nombokin bisnisnya suaminya–”

Jleb.

Sadar jika dirinya keceplosan, Ibu mertua buru-buru menutup mulutnya. Bola matanya bergerak liar ke kiri dan ke kanan, menatap kami semua bergantian.

"Maksud saya, gajinya sudah dihabiskan untuk dia foya-foya! Begitu maksudnya, Pak satpam!” Ibu mertua buru-buru meralat ucapannya.

Mas Azam kemudian melangkah maju, mendekat ke arah security.

“Memangnya saldonya Bu Jingga ini ada beberapa, Pak?" tanya Mas Azam sambil melirikku sekilas.

Di sini, jantungku sudah tidak terkontrol. Berdetak-detak dengan begitu cepat.

“Dua puluh milyar!"

“Dua puluh milyar?!"

Dan mereka langsung ….

Bersambung ….

Cerbung ini sudah ending di KBM app.

Judul : DIAM-DIAM MILYARDER
Penulis : Eniky

"Kita cerai! Aku sudah sewa pengacara! Kamu tidak perlu datang ke pengadilan, biar prosesnya cepat dan tidak bertele-tel...
06/08/2026

"Kita cerai! Aku sudah sewa pengacara! Kamu tidak perlu datang ke pengadilan, biar prosesnya cepat dan tidak bertele-tele! Aku mau menikah secara resmi dengan Dahlia!"

Aku dipaksa menandatangani surat cerai, dan kemudian diusir dengan kejam. Namun saat tiba-tiba saja ada mobil mewah yang datang menjemputku, mereka langsung ….

****

"Bu, Ibu kenapa yakin banget, kalau Dahlia bakal jadi pemeran utama?” tanyaku padanya.

"Ya yakinlah, masak nggak yakin? Kamu itu kenapa sih? Iri? Dengki? Iya?” Ibu mertua balik bertanya dengan nada jumawa.

"Bukan iri, Bu. Hanya saja–”

"Alah, apaan! Hanya saja! Hanya saja! Bilang saja kamu iri dan ingin mempengaruhi ibu-ibu yang ada di sini, supaya segera p**ang dan tidak jadi nobar sinetronnya Dahlia!”

"Bu! Sedikit pun saya tidak iri–"

“Jika memang tidak iri, ya sudah, ikuti saja acara ini. Duduk yang manis. Ikut nobar sinetronnya Dahlia!”

“Masalahnya, pemeran utamanya itu, bukan Dahlia, Bu …."

“Sekarang begini saja! Kita t4ruhan!"

“T4ruhan, Bu?" tanyaku memastikan.

“Iya, t4ruhan! Takut?" Ibu mertua tersenyum sinis ke arahku.

"Bukan takut, Bu. Tapi kan t4ruhan itu dilarang oleh agama. Tidak boleh, Bu.”

"Alah, bilang saja kamu takut. Pakai alasan agama dibawa-bawa! Basi! Sok suci!”

Otakku pun tersulut, mendengar cemoohan itu.

"Memangnya mau t4ruhan apa, Bu?” tanyaku kemudian.

“Sepuluh juta! Bagaimana?” Ibu mertua tersenyum meremehkan.

“Sepuluh juta?” Aku balik bertanya.

"Iya, sepuluh juta. Kaget? Tidak punya u4ng sebanyak itu?”

“Bukannya tidak punya u4ng, Bu. Hanya saja–”

"Bilang saja tidak punya u4ng! Honormu kan cuma sejuta satu episode. Itu pun belum cair, kan? Nah aku berikan keringanan buat kamu. Berhubung kamu itu miskin, pengangguran, dan tidak punya u4ng, maka cara mainnya seperti ini. Kalau Dahlia tidak jadi pemeran utama, maka sepuluh juta ini buat kamu! Tapi kalau Dahlia jadi pemeran utama, maka kamu harus jalan merangkak dari rumah makan ini, menemui Dahlia ke lokasi syuting, dan meminta maaf! Berani, tidak?”

"Siapa takut, Bu!” Akhirnya itulah jawaban yang kuberikan.

"Hai, Ibu-ibu!” Ibu mertua langsung berdiri, memberikan pengumuman kepada para tetangganya.

“Jingga mengajak saya untuk t4ruhan. Tapi karena Jingga tidak punya u4ng, maka t4ruhannya seperti ini! Ini u4ng sepuluh juta!" U4ng itu setengah dilempar ke atas meja dengan sombongnya. Kemudian dia kembali berbicara.

"Jingga itu iri hati! Dengki! Dia bilang, bahwa pemeran utamanya bukan Dahlia menantu kesayanganku. Dia bahkan mengajakku t4ruhan. Jadi kalau nanti Dahlia tidak jadi pemeran utama, maka u4ng ini untuk Jingga! Anggap saja u4ng kerohiman dari calon mantan ibu mertua, kepada calon mantan menantunya! Ya?”

Sekejam itu ibu mertua menghinaku. Sampai-sampai menyebut u4ng itu sebagai u4ng kerohiman. Tapi tidak apa-apa. Aku ikuti saja permainannya.

“Bahkan kalau memang bukan Dahlia pemeran utamanya, saya rela, deh, menjadi pembantunya Jingga! Hahaha!” Ibu mertua tertawa menghina.

“Tapi jika Dahlia nanti terbukti menjadi pemeran utama, maka dia katanya mau berjalan kaki sambil merangkak dari restoran ini ke lokasi syuting, untuk meminta maaf kepada Dahlia, karena telah merendahkannya! Adil, tidak? Adil, d**g, aku kan sudah mempertaruhkan u4ng! Masa dia tidak mempertaruhkan apa-apa?” Ibu mertua tertawa.

"Bagaimana, Mbak Jingga?” Beberapa orang bertanya kepadaku.

"Tidak apa-apa! Saya terima tantangannya!” jawabku dengan tenang, setenang hatiku yang yakin akan kemenangan. Aku tahu benar, jika bukan Dahlia yang jadi pemeran utamanya. Ya karena aku adalah penulis skenarionya.

“Deal, ya? Kalian semua saksinya! Jangan sampai nanti dia mangkir! Jangan sampai ingkar! Dia dia kalah, pastikan nanti dia benar-benar jalan merangkak, meminta maaf kepada Dahlia! Aku juga tidak rela, punya mantu cantik artis terkenal, kok dihina-hina!”

Aku hanya tersenyum, mendengar ucapan Ibu mertua. Ibu mertua pun kemudian kembali duduk. Kita lihat saja nanti siapa yang akan ingkar. Siapa yang akan menang. Dasar mertua Etdyan!

"Satu menit lagi, sinetronnya sudah mulai!”

Ibu mertua sudah sangat tidak sabar. Para tetanggaku pun juga demikian.

“Nanti kira-kira beneran Dahlia bukan, ya, yang jadi pemeran utamanya? Jika benar Dahlia, kira-kira lawan mainnya, siapa, ya?" tanya salah satu tetanggaku.

"Pemeran utama laki-lakinya, aktor yang ganteng itu, loh. Yang sedang di puncak karirnya, itu! Noah Satria Nugraha!”

"Oh, apa nggak njomplang kalau beneran sama Dahlia? Bukannya tua’an Dahlia, ya? Noah kan masih dua puluh lima tahun.”

"Kalau Dahlia, berapa tahun, ya? Tiga puluh lima mungkin, ya? Sama Mas Azam saja sepertinya lebih tua’an Dahlia!"

“Iya, lebih tua Dahlia! Hanya saja kan, Dahlia dempulnya tebal, jadi nggak nampak tua tua banget. Tapi kalau aku sih, ya masih mending Mbak Jingga. Cantik dan masih muda.”

"Lah Dahlia, malah sudah turun mesin empat kali.”

"Heran, ya, sama laki-laki. Kok sering kayak nggak pakai logika. Menjandakan istri sendiri demi seorang janda!"

“Ya maklumlah, namanya juga puber kedua!”

"Kasihan Jingga. Padahal masih punya bayi. Ibaratnya sakitnya melahirkan saja belum hilang, malah suami mau nikah lagi."

“Iya, sama janda anak empat, lagi, hihihi!"

Para tetangga saling bersahut-sahutan, menggunjing Mas Azam dan Dahlia.

“Kalian ini kenapa, sih? Aku yang traktir kalian, kenapa kalian justru ghibahin anak laki-laki dan menantu kesayanganku?” Ibu mertua berbicara dengan sewot. Mungkin telinganya terasa panas, dari terus digunjing berganti-gantian oleh para tetangganya.

Semua orang pun terdiam, saling sikut menyikut, sambil menahan senyuman.

Hingga akhirnya, sinetron itu benar-benar mulai tayang.

Di detik pertama, TV layar lebar itu menayangkan sebuah tulisan dan logo Sultan Films, dilanjutkan dengan tulisan ‘mempersembahkan’. Dilanjutkan dengan judul sinetron dan nama penulis skenario.

“Itu nama penulis skenarionya Jingga Arsyila Maharani! Kok sama persis dengan namanya Mbak Jingga?" Salah satu tetanggaku, tiba-tiba bertanya.

"Em ….” Aku masih bingung mau menjawab bagaimana.

"Bukan! Bukan!” Dan Ibu mertua, sudah langsung memotong kata-kataku.

“Cuma sama namanya aja! Kebetulan! Tapi bukan Jingga yang ini! Kalau menantuku yang ini, itu nggak bisa apa-apa. Bisanya ya cuma makan tidur sama buang air besar. Jangankan jadi penulis skenario. Ngurus rumah sama suami aja nggak becus. Makanya, dilepeh sama si Azam. Azam jauh lebih memilih Dahlia. Ya kali, mau tetap bertahan sama Jingga yang pengangguran dan kampungan. Rugi b4ndar!" Ibu mertua menjawab dengan semangat berkobar-kobar.

Dia tetap tidak mau mengakui, bahwa penulis skenario itu adalah memang aku. Padahal dia sudah tahu. Tapi ya sudahlah, tidak apa-apa. Aku tidak butuh pengakuan dari perempuan tua itu. Aku juga bukan tipe orang yang haus validasi.

Kemudian musik pun mulai mengalun merdu. Dua pemain utamanya, muncul di detik berikutnya di layar kaca, diiringi dengan soundtrack-nya.

“Kok, tokoh utamanya bukan Dahlia?" seketika, salah satu tetangga langsung bertanya.

“Iya, Bukan Dahlia!"

“Bukan Dahlia!"

"Bukan Dahlia!”

Para tetangga saling bersahutan. Dan Ibu mertuaku, langsung ….

Hanya cuplikan.

Selengkapnya, sudah ending di KBM app.
Judul : DIAM-DIAM MILYARDER
Penulis : Eniky

Address

Lamongan

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Mas Al Rantau posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share