14/05/2026
"Mama itu udah t u a, wajar kalau Papa cari yang muda! Jangan minta ce rai, nanti aku jajan pake apa?!" ben tak Aretha, putri yang kubesarkan dengan penuh kasih sayang, justru kini berdiri membentengi ayahnya yang hi dung be lang.
***
Nada
“Mas,” panggil Elsa.
Aku membuka mataku kembali. Mungkin Elsa minta ja tah lagi, tapi kita sudah seharian olah raga di tempat ti dur. Aku butuh jeda. S i a l memang. Tapi aku bukan lagi laki-laki usia 20 an, bahkan 30 an. Sekarang staminaku ada batasnya.
“Apa, sayang?” kataku sambil mengedipkan sebelah mata.
Elsa menghampiri lalu duduk di sampingku. Dia me me luk lenganku erat. Wajahnya yang tadi p u a s kini berubah cemberut.
“Kapan mau ce rai kan istri tua kamu?” tanyanya. “Kamu kan udah janji. Aku nggak mau terus-menerus jadi istri simpen4n. Toh perempuan sund4l itu juga udah tau.”
Aku menghela na pas panjang, lalu meletakkan cangkir kopiku ke meja. Mood-ku yang mulai membaik kembali te ru s*k. “Sabar dulu, sayang. Nggak segampang itu.”
“Apanya yang su sah?” Elsa me re ngek. “Dia kan udah tau semuanya. Udah tantang kamu juga. Ya udah, ta lak aja sekalian. Biar pernikahan kita bisa diresmikan. Aku capek Mas, jadi istri siri terus. Teman-temanku taunya aku nikah sama pengusaha kaya, tapi masa nggak ada pestanya? Aku juga mau diakuin.”
Aku memandang wajah Elsa. Cantik, muda, dan super s e k s i. Sayangnya dia terlalu banyak menuntut. Elsa memang berbeda dengan Nada. Nada dikasih u-ang belanja pas-pasan diam saja, jarang minta barang branded. Kalau Elsa? Perawatannya saja seharga ga ji manajer. Belum sewa apartemen ini, belum gaya hi dup nya kalau nongkrong sama teman-temannya.
Aku tidak to lol. Aku juga tau, mana ada perempuan yang mau dinikahin laki-laki yang 20 tahun lebih tua kalau bukan karena d u i t. Perempuan muda yang mau diajak susah, mau mulai segalanya dari nol, biasanya suaminya juga muda. Biar bisa sama-sama merintis. Kalau nikah sama laki-laki yang usianya beda jauh, tentu konsepnya cuma tinggal nadahin tangan.
Pikiran untuk men ce rai kan Nada memang sudah melintas di kepalaku. Tapi tidak sekarang, tidak langsung. Pelan-pelan, lihat s*kon dulu. Perusahaanku baru mulai na pas lagi setelah di ha jar pandemi. Proyek memang mulai ada, tapi belum banyak.
Secara logika, melepaskan Nada adalah solusi paling masuk akal untuk menyelamatkan ke-u-ang-an. Tapi men ce rai kan Nada saat ini? Itu sama saja bu nuh di ri.
Nada sedang e mo si berat. Dia nggak mungkin bersedia diajak damai. Otaknya pasti mau pe rang. Apalagi dia punya video saat aku dan Elsa lagi in de hoy di atas meja kantor.
“Sayang,” kataku mencoba memberi pengertian, suaraku kulembutkan. “Kamu kan tau sendiri, Nada punya rekaman video kita di kantor. Itu harus diamankan dulu. Mas pasti akan ce rai kan dia, tapi jangan sampai atas dasar perselingkuhan. Yang itu orang nggak boleh tau.”
“Tapi kita kan nggak se ling kuh, Mas,” kata Elsa ngo tot. “Kita udah nikah.”
“Nikah siri itu tidak diakui negara, sayang,” kataku akhirnya. “Kalau Nada bawa video kita ke polisi, kita tetap bisa dipidanakan.”
“Yah, jangan sampai, d**g,” katanya santai. “Apa kek yang kita lakukan. Itu video kan ada di HP, suruh aja Aretha hapus.”
“Itu bisa,” kataku. “Nanti Mas bisa minta tolong Aretha. Tapi Nada itu nggak b0doh-bod0h amat. Dia kan S1. Bagaimana kalau dia kopi ke emailnya, mana Aretha tau?”
Elsa kini meng hen tak kan kakinya. “Terus gimana, d**g?”
Aku menghela na pas pelan. “Maka dari itu,” kataku. “Biarin Mas pikirin pelan-pelan. Kamu kan tau, dari awal Mas sudah punya rencana men ce rai kan dia. Tapi bukan karena Mas punya perempuan lain.”
“Yah udah, sih,” kata Elsa sambil mengendikkan bahunya. “Biarin aja, nanti juga hilang sendiri. Mau bagaimana lagi?”
“Nggak bisa, sayang,” kataku sambil mencoba bersabar. “Kalau klien-klien kita tau istri Mas lihat seorang perempuan tel*njang di atas meja kerja Mas, sementara Mas, kamu taulah lagi ngapain, itu menandakan ke bo bro kan m0ral. Se ling kuh saja udah pa rah, eh ini dilakukan saat di ruang kerja saat jam kantor. Itu bisa buat Mas kehilangan kredibilitas.”
Elsa terdiam, tapi bi-bir-nya masih mengerucut.
“Dunia bisnis itu riskan, sayang. Kalau banyak klien membatalkan kontrak, perusahaan b4ngkrut,” lanjutku menekan kan faktanya agar dia paham situasinya. “Kalau b4ngkrut, Mas nggak punya d u i t. Kalau Mas nggak punya d u i t, kamu mau makan apa? Skincare kamu siapa yang ba yar? Apartemen ini siapa yang se wa?”
Mendengar kata b4ngkrut dan nggak punya d u i t , pegangan tangan Elsa di lenganku mengencang. Wajahnya berubah pa nik. “Jangan d**g, Mas. Jangan sampe b4ngkrut.”
“Makanya,” kataku sambil mengelus rambutnya. “Kita harus bisa lebih sabar. Aku pasti akan ce rai kan Nada. Tapi alasannya nggak boleh karena per se ling ku han. Nggak boleh karena ada kamu. Citra Mas harus tetap bersih.”
“Tapikan ada videonya?” tanya Elsa.
“Itulah mengapa kita harus bertahan beberapa bulan,” kataku. “Po li ga mi dulu. Mas harus bisa adil dulu. Biar Nada lupa niatnya minta ce rai. Nada itu Islamnya kuat. Kalau seorang suami bisa adil, istri nggak boleh minta ce rai. Kalau sudah begitu, nanti saat kita ber ce rai, itu video sudah nggak valid lagi.”
“Tapi itu berapa lama, Mas?” re ngek Elsa. “Kayaknya ri bet banget.”
Memang ri bet. Itu harus kuakui. Saat ini Nada di atas angin, dia punya video aku berhubungan suami istri dengan seorang perempuan saat jam kantor.
Aku membayangkan skenario itu di kepalaku. Orang-orang harus tetap melihatku sebagai kor ban keadaan. Pengusaha sukses yang ga gal mempertahankan rumah tangga karena perbedaan visi, bukan karena syah wat yang tak terkendali.
“Nggak akan lama,” janjiku. Padahal aku sendiri belum tau kapan waktu yang tepat. Yang penting Elsa diam dulu dan tidak bikin ulah. “Asal kamu nurut, jangan mancing-mancing e mo si Nada. Biar Mas yang atur permainannya. Kamu percaya kan sama Mas?”
Elsa menatapku lama, lalu akhirnya mengangguk pelan. “Iya, deh. Tapi janji ya, Mas? Begitu Mas ce rai, kita langsung ke KUA. Aku harus punya buku nikah.”
“Iya, sayang. Pasti.”
Aku tersenyum menenangkannya. Namun dalam ha ti, o-tak-ku terus berputar mencari cara. Bagaimana membuat Nada setuju ber ce rai tanpa harus me le dak kan b o m waktu yang ada di HP nya itu. Ini akan rumit, dan aku tak boleh salah langkah.
S i a l ! Kenapa juga perempuan s i a l a n itu pake datang saat ulang tahunku kemarin?
***
Cerita ini bisa dibaca di KBM App.
Nama Penulis : Sandra Soraya
Judul : Bawa A nak Dur ha ka Itu Bersamamu, Mas!