14/08/2026
“Ayo, masuk! Kamu boleh kok, tidur di kamarmu yang dulu itu. Yuk, masuk, yuk, kita rujuk. Aku akan segera menceraikan Dahlia!”
Dulu aku yang sujud-sujud, memohon untuk tidak diceraikan. Sekarang dia yang sujud sujud memohon ingin rujuk, sampai mengancam ingin ….
****
“Jingga! Aku minta maaf! Aku tidak jadi menceraikan kamu! Bagaimana kalau kita perbaiki hubungan kita, mulai dari nol lagi! Aku janji, aku akan menceraikan Dahlia! Toh aku dan Dahlia baru menikah siri. Jadi untuk bercerai, itu sangat mudah. Tidak perlu ke pengadilan agama.”
"Azam!” Aku membentak lelaki itu, tanpa embel-embel Mas lagi di depan namanya.
Kutepis tangannya dengan sedikit kasar.
"Pliss, Jingga! Aku ingin rujuk sama kamu. Aku menyesal, waktu itu telah menceraikan kamu!”
Azam bahkan hampir saja sujud di kakiku. Namun aku langsung memundurkan tubuhku.
“Ayo, masuk! Kamu boleh kok, tidur di kamarmu yang dulu itu. Yuk, masuk, yuk!" Lelaki itu berusaha meraih tanganku.
“Maaf. Aku ke sini bukan untuk kembali. Tapi karena aku mengantar ibumu p**ang."
Perhatian lelaki itu pun kini beralih kepada ibunya yang nampak sangat compang camping.
“Ibu, kenapa, Bu?" tanya Azam seperti orang kebingungan.
“Motor Ibu, mana? Bukannya tadi perginya bawa motor bareng ibu-ibu yang lain, ya?" tanya lelaki itu lagi.
“Ibu dibegal, Zam! Ibu apes. Semua ludes! Dibawa begal itu. Semuanya!" Ibu mertua langsung menjerit histeris sambil memeluk anak lelakinya.
"Untung, Ibu bertemu Jingga di jalan. Jadi nyawa Ibu masih bisa selamat. Hu … hu … hu …." Mantan ibu mertuaku itu, menangis tergugu.
Dia bahkan mengguncang-guncang tubuh anak lelakinya dengan lumayan keras.
Dan saat itu juga, saat mereka lengah, aku langsung kembali naik ke mobilku tanpa berpamitan.
Azam yang semula masih dipeluk oleh ibunya, begitu mengetahui kalau aku sudah masuk ke mobil, ibunya justru didorong, dan lelaki itu langsung berjalan cepat menghampiri mobil yang kutumpangi.
"Jingga! Jingga! Tolong dengarkan aku!” Dia mengetuk-ngetuk kaca mobil.
Davin melihat ke arahku. Seolah sedang bertanya, apa yang harus dia lakukan. Dan aku memberikan kode untuk segera berjalan. Mobil pun kemudian melaju keluar dari halaman, meninggalkan Azam yang berlari mengejar.
Sudah seperti film India saja. Mobil yang berlari, terus dikejarnya. Davin yang melihat, bahkan sampai tertawa terpingkal-pingkal dibuatnya.
"Dikejar pangeran tuh, Jingga!” celetuk Davin masih sambil tertawa.
"Kamu bisa saja.” Aku ikut tertawa. Padahal menurutku tidak ada lucu-lucunya.
Barulah ketika mobil berbelok memasuki jalan raya, Azam sudah tidak terlihat lagi batang hidungnya.
Di perjalanan, aku menyempatkan diri ingin menelpon baby sitternya putraku untuk menanyakan apakah Rangga rewel apa tidak.
Namun baru juga ponsel kubuka, ternyata sudah ada banyak sekali notifikasi pesan dari Azam. Rupanya sudah sejak sore tadi dia berusaha menghubungiku.
Pesan-pesan yang isinya mengajak rujuk, bahkan berderet-deret memenuhi layar ponselku.
[Pliss, Jingga, p**anglah ke rumah.]
[Bukankah kita pernah berjanji untuk menua bersama.]
[Sudah berjanji untuk sehidup semati.]
[Pliss, angkat telponku, aku mau bicara.]
[Aku rindu, ingin mendengar suaramu.]
[Aku bisa mati jika ditinggal olehmu.]
[Mati, Jingga, beneran, aku bisa mati.]
[Aku akan Bu n u h d i r i ]
Aku pun mengetikkan sebuah balasan.
[B u n u h d i r i saja, tidak apa-apa.]
Terkirim.
Dan langsung centang dua berwarna biru.
Namun kemudian aku berfikir. Bagaimana jika nanti dia b u n u h diri, dan polisi menemukan riwayat chat kami? Bisa-bisa aku malah ikut terseret-seret ke kantor polisi.
Bersambung ….
Cerbung ini sudah ending di KBM app.
Judul : DIAM-DIAM MILYARDER
Penulis : Eniky