Mas Al Rantau

Mas Al Rantau Cerita Kehidupan✅
Saling Support✅
Berbagi Itu Indah✅
Pro novel KBMapp✅ Wa👉0881036236365
Jual halaman siapkan konten👈
(3)

"Mama itu udah t u a, wajar kalau Papa cari yang muda! Jangan minta ce rai, nanti aku jajan pake apa?!" ben tak Aretha, ...
14/05/2026

"Mama itu udah t u a, wajar kalau Papa cari yang muda! Jangan minta ce rai, nanti aku jajan pake apa?!" ben tak Aretha, putri yang kubesarkan dengan penuh kasih sayang, justru kini berdiri membentengi ayahnya yang hi dung be lang.

***

Nada

“Mas,” panggil Elsa.

Aku membuka mataku kembali. Mungkin Elsa minta ja tah lagi, tapi kita sudah seharian olah raga di tempat ti dur. Aku butuh jeda. S i a l memang. Tapi aku bukan lagi laki-laki usia 20 an, bahkan 30 an. Sekarang staminaku ada batasnya.

“Apa, sayang?” kataku sambil mengedipkan sebelah mata.

Elsa menghampiri lalu duduk di sampingku. Dia me me luk lenganku erat. Wajahnya yang tadi p u a s kini berubah cemberut.

“Kapan mau ce rai kan istri tua kamu?” tanyanya. “Kamu kan udah janji. Aku nggak mau terus-menerus jadi istri simpen4n. Toh perempuan sund4l itu juga udah tau.”

Aku menghela na pas panjang, lalu meletakkan cangkir kopiku ke meja. Mood-ku yang mulai membaik kembali te ru s*k. “Sabar dulu, sayang. Nggak segampang itu.”

“Apanya yang su sah?” Elsa me re ngek. “Dia kan udah tau semuanya. Udah tantang kamu juga. Ya udah, ta lak aja sekalian. Biar pernikahan kita bisa diresmikan. Aku capek Mas, jadi istri siri terus. Teman-temanku taunya aku nikah sama pengusaha kaya, tapi masa nggak ada pestanya? Aku juga mau diakuin.”

Aku memandang wajah Elsa. Cantik, muda, dan super s e k s i. Sayangnya dia terlalu banyak menuntut. Elsa memang berbeda dengan Nada. Nada dikasih u-ang belanja pas-pasan diam saja, jarang minta barang branded. Kalau Elsa? Perawatannya saja seharga ga ji manajer. Belum sewa apartemen ini, belum gaya hi dup nya kalau nongkrong sama teman-temannya.

Aku tidak to lol. Aku juga tau, mana ada perempuan yang mau dinikahin laki-laki yang 20 tahun lebih tua kalau bukan karena d u i t. Perempuan muda yang mau diajak susah, mau mulai segalanya dari nol, biasanya suaminya juga muda. Biar bisa sama-sama merintis. Kalau nikah sama laki-laki yang usianya beda jauh, tentu konsepnya cuma tinggal nadahin tangan.

Pikiran untuk men ce rai kan Nada memang sudah melintas di kepalaku. Tapi tidak sekarang, tidak langsung. Pelan-pelan, lihat s*kon dulu. Perusahaanku baru mulai na pas lagi setelah di ha jar pandemi. Proyek memang mulai ada, tapi belum banyak.

Secara logika, melepaskan Nada adalah solusi paling masuk akal untuk menyelamatkan ke-u-ang-an. Tapi men ce rai kan Nada saat ini? Itu sama saja bu nuh di ri.

Nada sedang e mo si berat. Dia nggak mungkin bersedia diajak damai. Otaknya pasti mau pe rang. Apalagi dia punya video saat aku dan Elsa lagi in de hoy di atas meja kantor.

“Sayang,” kataku mencoba memberi pengertian, suaraku kulembutkan. “Kamu kan tau sendiri, Nada punya rekaman video kita di kantor. Itu harus diamankan dulu. Mas pasti akan ce rai kan dia, tapi jangan sampai atas dasar perselingkuhan. Yang itu orang nggak boleh tau.”

“Tapi kita kan nggak se ling kuh, Mas,” kata Elsa ngo tot. “Kita udah nikah.”

“Nikah siri itu tidak diakui negara, sayang,” kataku akhirnya. “Kalau Nada bawa video kita ke polisi, kita tetap bisa dipidanakan.”

“Yah, jangan sampai, d**g,” katanya santai. “Apa kek yang kita lakukan. Itu video kan ada di HP, suruh aja Aretha hapus.”

“Itu bisa,” kataku. “Nanti Mas bisa minta tolong Aretha. Tapi Nada itu nggak b0doh-bod0h amat. Dia kan S1. Bagaimana kalau dia kopi ke emailnya, mana Aretha tau?”

Elsa kini meng hen tak kan kakinya. “Terus gimana, d**g?”

Aku menghela na pas pelan. “Maka dari itu,” kataku. “Biarin Mas pikirin pelan-pelan. Kamu kan tau, dari awal Mas sudah punya rencana men ce rai kan dia. Tapi bukan karena Mas punya perempuan lain.”

“Yah udah, sih,” kata Elsa sambil mengendikkan bahunya. “Biarin aja, nanti juga hilang sendiri. Mau bagaimana lagi?”

“Nggak bisa, sayang,” kataku sambil mencoba bersabar. “Kalau klien-klien kita tau istri Mas lihat seorang perempuan tel*njang di atas meja kerja Mas, sementara Mas, kamu taulah lagi ngapain, itu menandakan ke bo bro kan m0ral. Se ling kuh saja udah pa rah, eh ini dilakukan saat di ruang kerja saat jam kantor. Itu bisa buat Mas kehilangan kredibilitas.”

Elsa terdiam, tapi bi-bir-nya masih mengerucut.

“Dunia bisnis itu riskan, sayang. Kalau banyak klien membatalkan kontrak, perusahaan b4ngkrut,” lanjutku menekan kan faktanya agar dia paham situasinya. “Kalau b4ngkrut, Mas nggak punya d u i t. Kalau Mas nggak punya d u i t, kamu mau makan apa? Skincare kamu siapa yang ba yar? Apartemen ini siapa yang se wa?”

Mendengar kata b4ngkrut dan nggak punya d u i t , pegangan tangan Elsa di lenganku mengencang. Wajahnya berubah pa nik. “Jangan d**g, Mas. Jangan sampe b4ngkrut.”

“Makanya,” kataku sambil mengelus rambutnya. “Kita harus bisa lebih sabar. Aku pasti akan ce rai kan Nada. Tapi alasannya nggak boleh karena per se ling ku han. Nggak boleh karena ada kamu. Citra Mas harus tetap bersih.”

“Tapikan ada videonya?” tanya Elsa.

“Itulah mengapa kita harus bertahan beberapa bulan,” kataku. “Po li ga mi dulu. Mas harus bisa adil dulu. Biar Nada lupa niatnya minta ce rai. Nada itu Islamnya kuat. Kalau seorang suami bisa adil, istri nggak boleh minta ce rai. Kalau sudah begitu, nanti saat kita ber ce rai, itu video sudah nggak valid lagi.”

“Tapi itu berapa lama, Mas?” re ngek Elsa. “Kayaknya ri bet banget.”

Memang ri bet. Itu harus kuakui. Saat ini Nada di atas angin, dia punya video aku berhubungan suami istri dengan seorang perempuan saat jam kantor.

Aku membayangkan skenario itu di kepalaku. Orang-orang harus tetap melihatku sebagai kor ban keadaan. Pengusaha sukses yang ga gal mempertahankan rumah tangga karena perbedaan visi, bukan karena syah wat yang tak terkendali.

“Nggak akan lama,” janjiku. Padahal aku sendiri belum tau kapan waktu yang tepat. Yang penting Elsa diam dulu dan tidak bikin ulah. “Asal kamu nurut, jangan mancing-mancing e mo si Nada. Biar Mas yang atur permainannya. Kamu percaya kan sama Mas?”

Elsa menatapku lama, lalu akhirnya mengangguk pelan. “Iya, deh. Tapi janji ya, Mas? Begitu Mas ce rai, kita langsung ke KUA. Aku harus punya buku nikah.”

“Iya, sayang. Pasti.”

Aku tersenyum menenangkannya. Namun dalam ha ti, o-tak-ku terus berputar mencari cara. Bagaimana membuat Nada setuju ber ce rai tanpa harus me le dak kan b o m waktu yang ada di HP nya itu. Ini akan rumit, dan aku tak boleh salah langkah.

S i a l ! Kenapa juga perempuan s i a l a n itu pake datang saat ulang tahunku kemarin?

***

Cerita ini bisa dibaca di KBM App.
Nama Penulis : Sandra Soraya
Judul : Bawa A nak Dur ha ka Itu Bersamamu, Mas!

Suami direbut adik sendiri. Istri ha mil justru disuruh mengalah. Masuk akal? ***“Apa Mega sudah tahu kalau suaminya men...
13/05/2026

Suami direbut adik sendiri. Istri ha mil justru disuruh mengalah. Masuk akal?

***

“Apa Mega sudah tahu kalau suaminya mengh*mili adiknya sendiri?” tanya Bu Rania lagi. Dia mere mas ujung sofa supaya tidak ja tuh.

“Sudah, Jeung,” kata Bu Tisha. “Davin kasih tahu Mega karena dia merasa bersalah dan harus bertanggung jawab terhadap bayi ini.”

Bu Rania terdiam lama. “Jadi Mega dan Davin akan segera ber ce rai supaya Davin bisa menikahi Dilla? Tapi itu harus segera, jangan sampai Dilla keburu bun cit perutnya.”

Kini Bu Tisha dan putrinya, Lena, berpandang-pandangan. Waktunya untuk berbo hong. Makanya mereka tak ingin Dilla ada di sana saat mereka katakan kebo ho ngan itu pada Bu Rania.

“Seperti yang tadi saya katakan, Jeung,” kata Bu Tisha. “Davin merasa sangat bersalah, karena pada dasarnya dia orang baik. Ibadahnya nggak pernah tinggal. Sayangnya, niat baik putra saya itu terhadang dua kendala.”

“Dua kendala?” tanya Bu Rania. Keningnya berkerut. “Apa itu, Mbak?”

Bu Tisha tak langsung menjawab. Dia mengambil saputangan dari tasnya dan mulai mengusap air mata buaya-nya. “Mega pasti terpu kul sekali. Masalahnya, Mega jadi den dam. Dia menolak bercer*i baik-baik dan me ngan cam akan memperpanjang urusan. Bahkan mau lapor polisi segala, Jeung.”

Bu Rania memejamkan matanya yang sudah basah oleh air mata. “Astagfirullah….”

“Bukan itu saja, Tante,” Lena kembali melibatkan diri dalam pembicaraan. “Masalah yang harus Davin hadapi bukan hanya Mega, tapi juga Dilla.”

Bu Rania membuka matanya. “Kenapa dengan Dilla?”

Bu Tisha dan Lena berpandang-pandangan sebelum Bu Tisha kini mena ngis keras. Lena meme luk Ibunya sambil terus bicara. “Dilla mau menggugurkan bayi dalam perutnya, Tante. Dia bilang dia nggak s**a ha mil, nanti tu buhnya jadi je lek. Dia juga nggak mau mengurus bayi, katanya masih ingin bersenang-senang. Masih muda.”

“Astagfirullah,” kata Bu Rania sambil mengurut da da. “Masa Dilla bilang begitu? Meng gu gur kan kandungan itu do sa. Padahal sudah berzin*h. Dosanya dua kali.”

“Itulah yang kita katakan, Tante,” kata Lena karena Bu Tisha masih mena ngis meraung-raung. “Kami: Davin, Mama, dan saya sendiri berkali-kali mencoba membujuk Dilla untuk tetap mempertahankan bayinya. Kalau soal memelihara, kita bisa bantu.”

“Saya juga bisa bantu,” kata Bu Rania. “Bayi itu cucu saya juga.”

“Iya, Jeung,” kata Bu Tisha di sela-sela tangisnya. “Tapi Dilla ndak mau. Katanya dia akan mempertahankan bayinya dengan satu syarat.”

“Apa itu, Mbak?” tanya Bu Rania.

Bu Tisha tak langsung jawab, tangisannya kencang lagi. Lena yang menjawab, “Dilla ingin bayinya dipelihara dalam satu rumah tangga yang utuh. Dia minta Davin untuk tak mencer*ikan Mega. Dia ingin Mega dan Davin memelihara anak itu. Apakah sebagai anak angkat atau anak kandung bisa dipikirkan kemudian.”

Mata Bu Rania membulat lagi. “Dilla ingin bayinya dipelihara Mega?”

“Sebetulnya ini ide yang bagus juga, Jeung,” kata Bu Tisha melanjutkan kata-kata putrinya. “Dengan begitu, anak itu bisa merasakan kasih sayang dalam keluarga yang utuh. Mega yang man dul jadi bisa merasakan jadi Ibu dan Dilla tetap bisa punya masa depan yang gemilang tanpa harus diganggu oleh urusan anak.”

“Iya, Tante,” kata Lena. Dia dan Ibunya melakukan penyerangan secara tandem. “Dengan begitu semua orang bisa bahagia. Davin juga sudah memaafkan Mega yang merahasiakan surat rumah sa kit yang menyatakan kalau dia man dul. Tidak apa-apa punya anak hanya satu, yang penting ada anak dalam pernikahan mereka.”

Bu Rania terdiam.

Bu Tisha dan Lena berpandang-pandangan lagi. “Jadi…,” kata Bu Tisha perlahan. “Menurut Jeung Rania bagaimana?”

Lama Bu Rania tak menjawab. “Tapi bagaimana dengan masa depan Dilla kalau Davin tak menikahinya? Dia sudah ndak pera wan lagi.”

Lena menggigit bi birnya. Tampangnya ragu, seperti tak mau bicara, tapi kata-kata itu keluar juga dari mulutnya. “Dilla… Dilla sebetulnya sudah tidak perawan. Davin juga kaget ketika mereka berhubungan.”

Mata Bu Rania membelalak. “Tak mungkin!” katanya. Suaranya naik satu oktaf. “Dilla memang berbeda dari Mega. Dilla ndak mau pakai hijab dan bajunya agak se k si, tapi dia tetap menjaga diri. Dia janji sama saya dan Almarhum Ayahnya tidak akan melakukan hubungan s e k s sebelum nikah.”

“Tapi buktinya dia ha mil, Jeung,” sentil Bu Tisha. “Kalau dia gampang sekali berhubungan dengan Davin, mestinya ini bukan yang pertama.”

“Kalau memang begitu, bagaimana Mbak Tisha bisa yakin kalau anak yang dikandung Dilla memang anaknya Davin?” tantang Bu Rania. “Kalau anak saya ternyata perempuan gam pa ngan, mungkin saja itu bukan anaknya Davin, kan?”

Skak mat.

“Betul juga sih, Tante,” kata Lena. “Nanti kalau sudah lahir bisa test DNA. Untuk sekarang ini, Davin tetap merasa harus bertanggung-jawab.”

“Betul, Jeung,” kata Bu Tisha. “Davin ini pada dasarnya baik. Cuma sempat salah langkah. Kami pikir, ini jalan yang terbaik. Mega dan Davin saling memaafkan kesalahan masing-masing, kembali jadi suami-istri, dan memelihara anak itu berdua. Sementara Dilla bisa menjalani hidupnya sendiri, mudah-mudahan ini jadi pelajaran berharga baginya.”

“Kalau memang itu yang terbaik, saya setuju saja,” kata Bu Rania.

“Alhamdulillah,” kata Bu Tisha dan Lena serempak.

Keduanya lalu berpandang-pandangan. Lena lanjut bicara, “Masalahnya tidak semudah itu, Tante. Di sinilah kita butuh bantuan Tante.”

“Bantuan apa?” tanya Bu Rania.

“Tolong yakinkan Mega untuk kembali pada davin, Tante,” kata Lena. “Mereka berdua pernah salah. Mega sembunyikan bukti kalau dia man dul dan buat Davin mur ka. Tapi bukannya malah bicara dengan Mega, Davin lampiaskan pada Dilla. Keduanya salah, dan inilah yang terjadi. Walau begitu, pada dasarnya Davin dan Mega saling cinta.”

“Iya Jeung,” kata Bu Tisha. “Jangan sampai gengsi membuat Mega menyesal. Saya mengerti perasaan Mega sekarang. Pasti merasa terkhi*nati sekali. Tapi ini sebetulnya anugrah dari Allah buat Mega. Allah berikan Mega kepercayaan untuk menjadi Ibu walau itu bukan anak kandungnya sendiri.”

Bu Rania menghela napasnya. Da danya terasa sangat se sak. “Tidak semudah itu, Mbak,” katanya. “Mega itu pendiriannya kukuh. Apalagi ini perzin*han.”

“Tolong Jeung kasih pengertian yang baik,” kata Bu Tisha. “Tak pantas terlalu mengutamakan rasa ma rah, sifat ego is, dan mau menang sendiri. Davin masih sangat mencintai Mega, Mega juga begitu. Kenapa tidak saling memaafkan? Ini anugrah buat mereka, Jeung.”

“Tapi bagaimana kalau Mega tetap menolak, Mbak?” tanya Bu Rania.

“Menolak apa? Saya akan menolak apa?”

***

Cerita dapat dibaca di KBM App.
Nama Penulis : Sandy2379
Judul : Rekening Rahasia Milik Bunda

Part 3“Pemeriksaannya sudah cukup. Celananya bisa ditutup kembali. Saya akan tuliskan resep obatnya," ucap Qistina, si d...
13/05/2026

Part 3

“Pemeriksaannya sudah cukup. Celananya bisa ditutup kembali. Saya akan tuliskan resep obatnya," ucap Qistina, si dokter yang tak lain adalah mantan istriku itu.

Sementara di bawah sana… “si pisang joni” justru sedang berdiri gagah tanpa malu.

Aset berharga yang selama ini selalu kubanggakan itu… rasanya sekarang ingin aku lenyapkan saja dari muka bumi.

Sumpah.

Harga diri yang sejak tadi berada di ambang keruntuhan, kini benar-benar runtuh tanpa sisa.

Dan si4lnya... Yang menyaks*kan keruntuhan itu adalah mantan istri yang dulu kusia-siakan. Perempuan yang bahkan belum pernah kusentuh sekali pun saat masih sah menjadi istriku.

Sekarang aku tidak punya pilihan selain membuka mata. Aku mengembuskan napas panjang yang berat.

Si4l. Benar-benar si4l.

Diam-diam aku meliriknya.

Mata di balik maskernya tetap datar seperti tadi. Tidak ada sedikit pun rasa kaget melihat “si pisang joni” tiba-tiba bangun dan berdiri tanpa permisi. Seakan-akan pemandangan itu sudah terlalu biasa baginya.

Eh itu artinya…

Dia sudah sering lihat “pisang joni” cowok d**g?

4njirrr. Sudah berapa pria yang dia tangani seperti ini?

Aisshhh. Kenapa juga menjadi kepo begini? Toh, dia sudah jadi mantan istri. Lagi p**a, semasa dia masih jadi istriku pun aku tidak pernah mencintainya.

SREKKK.

Cepat-cepat kutarik resleting celana. Kupaksa “si pisang joni” kembali ke sangkarnya.

Masuk!

Tidur!

Jangan bikin malu lagi!

Setelah pemeriksaan dianggap selesai, Qistina melangkah kembali ke meja konsultasi.

Aku beringsut dari r4njang periksa kemudian duduk kembali di kursi konsultasi, di hadapannya.

“Ini resep obatnya.” Dia meletakkan kertas di meja, lalu menggeser kertas itu dengan telunjuknya ke arahku. Bunyinya 'sruttt' yang terdengar begitu menggelikan telinga. Setelah itu, tangannya langsung ditarik kembali.

Njirrr, benar-benar tidak ada lembut-lembutnya nih dokter!

“Jangan lupa obatnya nanti diminum sesuai aturan. Jaga kebersihan aset Anda dengan baik. Bersihkan setelah buang air, jangan jorok. Jangan pakai celana dalam terlalu ketat. Ganti setidaknya sehari sekali.”

Dia berhenti sebentar. “Dan terakhir…”

Tatapan matanya terangkat, menatapku lekat. “… jangan lupa pakai pengaman saat sedang melakukan hubungan suami istri.”

Aku terdiam.

Kalimat itu seperti sindiran. Atau mungkin memang hanya saran medis?

Setelah itu dia menghela napas panjang. “Proses pemeriksaan Anda selesai. Silakan keluar.”

Seharusnya aku berdiri lalu pergi dari sini. Seharusnya kalau dia pura-pura tidak kenal, maka aku juga pura-pura tidak pernah mengenalnya. Seharusnya aku keluar dengan kepala tegak, lalu menganggap hari ini tidak pernah terjadi.

Namun sialnya… aku justru tetap duduk di depannya. Kutatap wajahnya lekat-lekat.

“Qis… jangan bilang lo benar-benar lupa sama gue. Sama pernikahan kita lima tahun yang lalu. Dan sama semua yang sudah terjadi pada—”

“Cukup.” Dia menyela cepat sebelum ucapanku selesai.

Dia melepas masker dengan gerakan tegas lalu meletakkannya di atas meja. Kini wajahnya terlihat utuh. Semakin cantik. Semakin dewasa. Jauh berbeda dari gadis polos yang dulu kusia-siakan.

“Di sini Anda dan saya hanya sebatas dokter dan pasien. Saya hanya melayani konsultasi kesehatan, bukan masalah pribadi," katanya dengan nada dingin dan t4jam.

“Tapi, Qis… gue perlu tahu. Gue ini mantan suami lo. Gue—”

Ceklek.

Ucapanku kembali terhenti. Dan ini karena pintu yang tiba-tiba terbuka.

Seorang bocah laki-laki, mungkin berusia empat atau lima tahun, berlari masuk tanpa ragu.

Tubuh kecil itu langsung menubruk Qistina. “Bunda!!!”

“Bunda kenapa kok lama banget p**angnya sih?”

JDERRR.

Duniaku langsung terasa berhenti.

Bunda?

Dia memanggil Qistina… Bunda?

Apa itu artinya… Qistina sudah punya anak? Dia sudah menikah lagi?

T-tapi Kenapa wajah bocah itu mirip sekali denganku?

Bersambung
Baca selengkapnya di aplikasi KBM App
Judul: Bu Dokter, Ayo Rujuk!
Penulis: Dewi Diyu

"Cek cctv di semua area kantor.""Siap, Bos.""Kalau udah ketemu siapa orangnya, kirim ke saya.""Baik."Aldi terkekeh setel...
13/05/2026

"Cek cctv di semua area kantor."

"Siap, Bos."

"Kalau udah ketemu siapa orangnya, kirim ke saya."

"Baik."

Aldi terkekeh setelah telpon terputus. Segampang itu padahal melihat siapa dalang dari semuanya yang telah merencanakan hal ini.

Pria itu merasa menang banyak sekarang dari istrinya. Ia berjoget-joget ria karena sebentar lagi akan mendapatkan apa yang dia inginkan dari sang istri.

Tak butuh waktu lama, satu pesan masuk ke ponsel pria itu. Dengan cepat ia membukanya. Cctv menunjukan kejadian saat ada seseorang yang mengambil barang dan dengan sengaja memas**annya di tas Rania.

Wajah Aldi yang semula sangat bahagia, kini wajahnya datar kembali karena ternyata orang itu memakai jaket hitam dan tidak terlihat wajahnya.

"Eh, tapi kan sudah tau kalau bukan Rania yang lakuin." Wajah pria itu kembali berseri, dan dengan penuh percaya diri keluar dan ingin menunjukan keajdian itu pada karyawannya.

Ia meminta semuanya untuk kumpul dan melihat kejadian yang sebenarnya. Kapan waktu orang itu mengambil barang, dan saat itu sedang di mana Rania berada.

Semua orang di sana mengangguk dan merasa bersalah karena telah terlanjur menuduh Rania. Sebagian dari mereka ada yang meminta maaf, tapi juga yang hanya diam dan menganggap semua ini hanya keisengan semata.

Aldi meminta mereka untuk kembali bekerja. Sedangkan Siska dan Nita diam-diam mengacungkan jempol satu sama lain. Mereka berpikir mereka itu pintar karena terpikir lebih dulu untuk tidak menampakan wajah.

"Kamu ikuti saya."

Rania dengan malas membuntuti suaminya itu. Di dalam, Aldi tersenyum penuh arti, sedangkan Rania menatap dengan bingung karena suaminya itu senyum-senyum sendiri sedari tadi.

"Ada apa?" tanya Rania, ia tidak ingin lama-lama ada di ruangan berdua dengan suaminya itu.

"Kamu lupa perjanjian kita?"

"Enggak," kata Rania.

"Bagus kalau begitu. Ya udah, langsung aja. Aku mau...."

"Mau apa? Kan perjanjiannya juga kita semua tau siapa yang udah lakuin itu, siapa yang udah memfitnah aku. Baru kamu bisa minta sesuatu. Ini pelakunya aja belum ditangkap udah minta-minta aja. Udah ah, aku sibuk!"

Rania pergi kembali ke tempatnya. Sedangkan Aldi hanya bisa menganga mendengar ucapan istrinya. Jika di pikir lagi, ada benarnya juga. Kan pelakunya belum diketahui siapa.

Aldi tertunduk dengan tubuh yang mendadak tak semangat. Gagal deh mendapat apa yang ia mau selama ini.

***
Setelah makan malam, semua orang sudah masuk ke kamar. Aldi yang juga sudah di ranjang tapi masih memainkan ponsel dan duduk. Ia merasa mual dan ingin muntah.

Cepat ia berlari ke kamar mandi, dan mengeluarkan semua makana yang tadi. Ia merasa kepalanya pusing dengan badan yang keringat dingin.

Jalan pun sampai ingin jatuh, beruntung Rania yang baru masuk setelah menidurkan Azka, dia dengan sigap menahan agar sang suami tidak jatuh ke lantai.

"Mas, kamu kenapa?"

Lesu sekali Aldi menggelengkan kepalanya. Rania membawanya untuk tidur di ranjang.

"Kamu keringat dingin begini. Pusing?"

"Iya, aku mual, pusing. Badanku gak enak rasanya."

Rania meminta Aldi untuk diam di atas kasur. Ia mencari-cari koin di tasnya, kemudian mengambil minyak angin yang biasa ia bawa.

"Buka bajunya!"

"Hah? Ja—jangan sekarang, aku lagi begini. Nanti kamu gak puas lagi."

"Ishh, pikirannya." Rania menggeleng, pusing lama-lama menghadapi suaminya itu.

Ia membantu Aldi untuk duduk. Dan tanpa ba-bi-bu ia membuka baju yang dikenakannya, dan membalikan badan pria itu.

"Aaaa!" Aldi yang tak biasa di kerok, ia berteriak kesakitan sampai badannya melenting-melenting seperti pria tulang lunak.

"Suttt, diem! Ini kamu masuk angin."

"Iya tapi sakiitt!"

"Udah diem dulu. Tuh merah banget!"

Aldi menggigit selimut untuk melampiaskan rasa sakitnya. Ia berbapas tersegal-segal saat Rania sudah selesai mengerok badannya.

Wanita itu mengambil tempat obat dan memberikan obat masuk angin pada sang suami.

"Pake lagi bajunya, dan minum obat ini. Aku mau bikinin kamu teh anget dulu."

Dia ke bawah membuat teh, kemudian kembali lagi. Tapi saat ingin menaiki tangga, Mbok Nem yang keluar dari kamarnya tersenyum pada Rania.

"Jangan kenceng-kenceng, Neng, kasian Den Aldinya."

Mendengar itu Rania hanya bisa bengong, otaknya tak sampai mencerna kata-kata si Mbok Nem.

Ia kembali ke atas, di sana Aldi sedang duduk bersandar di kepala ranjang.

"Nih minum tehnya. Biar badannya angetan." Ia mengusap-usap pundak sang suami saat Aldi meminum teh itu sampai tandas.

"Dah istirahat. Kalau besok masih kurang enak badan, gak usah kerja, ya."

"Hmmm." Aldi membenarkan posisi tidurnya yang miring menghadap Rania.

Sedangkan wanita itu memijat kepala sang suami yang membuat Aldi menikmatinya dan tak lama ia tertidur.

Diam Rania memperhatikan wajah suami keduanya itu. Halisnya tebal, hidungnya mancung. Wajahnya bersih, jujur ia akui Aldi memang tampan, mungkin karena itu lah banyak perempuan yang terobsesi padanya.

"Sayang sekali kamu, Mas. Dengan parasmu yang tampan, usahamu yang sukses. Kamu malah melanjutkan hidup dengan seorang wanita yang sudah pernah berumah tangga. Dengan seorang wanita yang ditinggal meninggal oleh suaminya. Harusnya kamu sekarang hidup bahagia dengan seseorang yang sepadan denganmu. Dan itu bukan aku."

Rania kembali merasa bersalah, ia bangkit dan membuka sedikit gorden. Ia menatap kosong ke arah bulan. Sejauh mana takdir akan membawanya.

Baca di KBM App: UniTari977
Judul: Malam Pertama Kedua

Seperti isi chat di ponsel Kang Irwan, tepat pukul tiga sore, dia sudah datang ke resto dan menunggu di tempat parkir. D...
13/05/2026

Seperti isi chat di ponsel Kang Irwan, tepat pukul tiga sore, dia sudah datang ke resto dan menunggu di tempat parkir. Dia memakai baju rapi sekali dan stylis. Seperti anak muda yang mau pergi berkencan.

Aku mengawasinya dari tempat yang aman dan lumayan dekat. Sedangkan Zyad, dia ada si rumah Rahma bersama Syifa dan dijaga saudaranya Ilham, suaminya Rahma.

Karyawan sudah saatnya ganti shift, terlihat Lestari juga sudah keluar dan mendekati Kang Irwan. Mereka saling sapa dengan malu-malu.

“Kita ke mana dulu sekarang?” Kang Irwan menatap Lestari lembut sekali dengan senyuman di bibirnya.

“Terserah Akang. Mau jalan-jalan dulu atau mau ke kostan?” tanya Lestari manja.

“Kamu maunya gimana?” Kang Irwan malah balik bertanya lagi.

“Sebenarnya, sih, gerah banget ini.” Perempuan berkulit putih itu mengibaskan telapak tanganya di depan. “Pengen mandi dulu biar seger,” ucapnya.

“Ya udah, kita ke kostan kamu aja dulu.”

“Ya udah, kita jalannya malem aja, ya, Kang?”

“Siap … terserah Tuan Putri aja.” Kang Irwan mengacungkan jempol tangan kanan.

“Akang bisa aja.” Lestari terkikik.

Mereka pun pergi. Sebelumnya, Kang Irwan memasangkan helm ke Lestari. Satu hal yang pernah dilakukannya juga kepadaku dulu waktu awal kenalan.

Gegas aku menuju sepeda motor yang sudah tersedia. Lalu, mengikuti mereka yang terus bercanda sepanjang jalan sambil tertawa.

Lestari bahkan memeluk Kang Irwan dan sesekali menyandarkan kepalanya di bahu laki-laki yang masih berstatus sebagai suamiku itu.

Aku terus mengikutinya.

Ternyata, tempat indekost Lestari tidak jauh. Kurang dari sepuluh menit, mereka masuk ke sebuah area.

Tempatnya di dalam gang, dan di sana ada sekitar sepuluh atau lebih kamar kontrakan.

Aku berhenti beberapa meter dari pagar tempat indekost itu. Setelah beberapa menit, aku baru masuk ke halamannya tanpa melepas helm dan masker.

Ada tiga orang yang sedang duduk di teras. Anak-anak muda yang tengah mengobrol sambil memegang ponsel.

Mereka hanya melirikku.

Tadinya, aku mau bertanya kamar Lestari. Namun, ketika melihat sepatu Kang Irwan ada di depan salah satu pintu, akhirnya urung.

Aku mendekat ke kamar itu. Beberapa saat aku berdiri mendengarkan suara dari dalam. Sepertinya, kamar indekost ini hanya satu petak dan tidak besar.

“Akang duduk aja dulu, ya, aku mau mandi,” ucap Lestari dengan suara yang mendayu-dayu.

“I-iya,” jawab Kang Irwan.

Aku masih berdiri. Mengumpulkan tenaga dan keberanian untuk memergoki mereka.

Bagaimanapun, aku tidak menyangka jika Kang Irwan akan tega berbuat hingga sejauh ini. Aku pikir, dia hanya tidak peka dan tidak mau peduli denganku karena ocehan keluarganya. Nyatanya, dia berani berselingkuh dan dari percakapan mereka tadi, aku bisa menangkap kalau mereka akan melakukan sesuatu yang haram.

Astagfirullahal adzim ….

Mungkin, ada tiga menit aku berdiri. Hingga anak-anak muda tadi melirik. Sepertinya, mereka bingung kenapa aku tidak kunjung mengetuk pintu.

Mereka terlihat bangkit, dan aku pun mengetuk pintu kamar indekost itu.

Terdengar Kang Irwan memberi tahu Lestari kalau ada yang mengetuk pintu.

“Buka aja, Kang. Mungkin itu temenku,” jawabnya hampir samar.

Tidak lama, pintu pun terbuka. Dan Kang Irwan tampak sangat terkejut ketika menyadari siapa yang sedang berdiri di depannya.

“K-kamu, kenapa ada di sini?” tanyanya tergagap.

“Kamu yang sedang apa di sini?” Aku balik bertanya.

“A-akang, lagi … ehm … kamu jangan salah paham dulu, ya?” Kang Irwan langsung memasang masker.

Dua orang anak muda yang sudah mendekat.

“Salah paham apa?” tanyaku masih tenang.

“Akang di sini cuma mampir bentar aja. Mau numpang ke kamar mandi,” jawabnya.

“Siapa, Kang?” tanya Lestari yang keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk.

“Numpang ke kamar mandi atau nungguin yang lagi mandi?” tanyaku sambil melirik Lestari yang langsung masuk kamar mandi lagi.

“Ada apa, Teh?” tanya anak muda yang tadi.

“Gak apa-apa, Dek. Cuma lagi ngobrol sama suami saya ini. Tapi, dianya katanya lagi nunggu penghuni kostan ini yang lagi mandi,” jawabku tenang.

“Wah … seru, nih,” ucap salah satu anak muda itu yang ternyata sejak tadi sudah merekam semuanya. “Mereka selingkuh, ya, Teh?”

“Kurang tahu saya, Dek. Tapi, yang pasti mereka sedang berduaan di dalam kamar, pintunya dikunci dan si perempuannya cuma pake handuk. Tadi kelihatan, kan?” Aku melirik Kang Irwan yang sekarang sudah memakai helm juga.

Sepertinya, dia ingin menyembunyikan identitasnya.

“Gak dijambak, Teh, si pelakornya?”

“Gak usah, lah, Dek. Kasihan. Nanti dia malu,” jawabku. “Gimana, Kang? Ada yang mau disampaikan ke aku?” Aku menatap Kang Irwan tajam.

“Kita p**ang.” Kang Irwan menarikku keluar.

Aku segera melepaskan pegangannya. “Sebentar, Kang. Aku pengen ngomong dulu sama Lestari,” ucapku sambil masuk.

“Lestari, mau diambilin baju?” tanyaku setengah berteriak.

“Kamu pergi aja, deh. Jangan sok baik.”

“Siapa yang sok baik? Aku beneran baik, kok,” jawabku sambil terkekeh. “Kang Irwan katanya mau p**ang, gak mau sun tangan dulu? Masa mau handukan doang?”

“Pergi aja kalian!” teriak Lestari.

“Kamu pengen Kang Irwan, kan? Aku bakal kasihin tenang aja.”

“Gak kamu kasihin juga Kang Irwan udah milih aku! Gak tahu, kan?”

“Owh, gitu, ya? Oke kalau gitu. Selamat berbahagia. Jangan lupa, nanti kalau keluar tebelin mukanya.”

“Pergi kamu! Pergi!” teriak Lestari lagi.

“Biasa aja, kali. Gak usah teriak-teriak,” ucapku sambil membalikkan badan.

Namun, ternyata orang-orang yang berkumpul sudah lebih banyak dan sebagian besarnya sedang merekam.

Aku tersenyum. Ini justru baik. Karena beritanya akan viral lebih cepat.

Judul: Sejumput Gula
Username KBM app: Athfah_Dewi

Sudah cukup aku diperlakukan seperti pembantu di rumahku sendiri, saatnya membalas semua perlakuan kakak iparku yang ter...
13/05/2026

Sudah cukup aku diperlakukan seperti pembantu di rumahku sendiri, saatnya membalas semua perlakuan kakak iparku yang ternyata …

Part 8.

Selesai berbicara, ponsel Calya berbunyi …
Drtt …. Drrtt … Drtt ….
Dengan cepat dia meraih ponsel di dlam tas miliknya.
Saat manik matanya menangkap sebuah nama di layar ponsel tersebut, kedua alisnya berkerut.
Calya bergumam sebelum mengangkat panggilan telepon tersebut.
“Wali kelasnya Ayunda?”
Gala yang mendengar juga ikut terkejut, ekspresi wajah lelaki itu pun sama terkejutnya dengan Calya.
“Ada apa Mbak? Ada apa sama Ayunda? Kenapa wali kelasnya telpon ke Mbak?”
Gala mengajukan banyak pertanyaan, dengan perasaan khawatir.
Calya meliriknya dengan ketus dia menjawab, “Mana aku tahu? Ini juga belum dijawab.”
“Buruan angkat Mbak?” lanjut Gala, dia berdiri di depan Calya dengan wajahnya yang terlihat cemas, menatap ponsel yang ada di tangan Calya.

Melihat s*kap Gala, Calya mendengus dan berkata, “Santai aja kenapa sih.”
“Siapa tahu itu penting Mbak, buruan angkat. Wali kelas Ayunda nggak mungkin nelpon kalau nggak penting kan?”
“Issh …. Beris*k!” sewot Calya, dia menekan satu jarinya ke bibirnya sendiri memberi isyarat pada Gala agar diam sebelum dia mengangkat panggilan telepon tersebut.
Gala yang melihat instruksi Calya, yang mata wanita itu juga melotot kepadanya langsung menutup mulutnya.
Di seberang ruangan, sosok wanita tengah tersenyum melihat adegan di dalam ruangan tersebut.
Siapa lagi kalau bukan Karina.
“Dasar cowok menyek-menyek, sama kakaknya aja takut. Kalau bukan karena uangnya, gue malas menggodanya. Tapi, gue masih penasaran masak iya sih, dia nggak tergoda sama gue.”
Karina manyun, dia awalnya tersenyum detik berikutnya dia manyun teringat cicilan tagihan kartu kredit miliknya yang mulai membengkak.

Salah sendiri sudah tahu gaji pas-pasan tapi hobbinya belanja barang mewah.
Gala diam membeku menatap kakaknya yang sedang mengangkat telepon.
“Hallo, dengan Mbak Calya?” suara dari panggilan telepon, wali kelas Ayunda.
“Iya, saya sendiri.” Jawab Calya dengan suara lembut sekali.
Itu kontrak dengan sifat aslinya dan s*kapnya barusan kepada Gala.
Meski Gala tahu akan hal itu, tapi dia tidak peduli, Gala lebih khawatir tentang Ayu, putri semata wayangnya.

“Mbak Calya, ada berita yang harus saya sampaikan kepada Mbak, sebelumnya saya minta maaf karena terlambat menghubungi Mbak Calya, karena saya baru selesai meeting dengan kepala sekolah.”
“Oh, nggak apa-apa Ibu, ada apa ya?” tanya Calya, sungguh suaranya sangat jauh berbeda dengan s*kap asli Calya biasanya.
Wanita ini sungguh pandai bersandiwara, bagaimana dia bisa melakukan itu.
Dia bisa mengikuti kontes artis bukan?

Karina yang melihat perubahan eskpresi wajah Calya dari kejauhan mencibir.
Ruangan Karina dengan ruangan Gala memang hanya terpisah dengan sekat, jadi apa pun bisa dia lihat dari ruangannya, meski suara tidak terdengar dari tempatnya.
“Ih … dasar nenek lampir, dia pantes tuh main sinetron di televisi ikan terbang.” Gerutu Karina masih menatap Calya yang terus tersenyum.
Sejak kapan dia, Calya bisa tersenyum manis seperti itu? Karina sewot sendiri, dengan kesal dia kembali duduk dan menyelesaikan pekerjaannya.
Ada banyak tugas yang diberikan Gala dan Calya kepadanya, mencari pengrajin, kalau tidak perusahaan ini akan segera tutup.

Karina tidak ingin itu terjadi, kalau sampai perusahaan ini bangkrut, itu berarti dia …
Karina menggelengkan kepalanya dengan kuat, ‘Nggak bisa, gue harus berusaha, tempat ini satu-satunya harapan gue untuk tetap hidup nyaman kalau sampai bangkrut, dan cicilan gua … ah gue bakalan dikejar-kejar … nggak …’
Karina stres sendiri, tapi dia dengan cepat mengetik dan mencari nama-nama orang yang ingin dia hubungi segera.
Sementar Calya masih berbicara dengan wali kelasnya saat Karina sudah fokus kembali pada pekerjaannya.

Meski Karina seperti itu, dia adalah karyawan yang sangat diandalkan oleh Calya dan juga Gala.
“Mbak Calya, Ayunda … kondisi Ayunda saat ini …”
“Iya, kenapa ibu? Ada apa dengan putri saya?”
Putri saya?
Bahkan Calya mengklaim Ayunda adalah putrnya pada wali kelas Ayunda.
Wali kelas Ayunda tidak terkejut dengan apa yang dikatakan Calya, sejak dia tahu wanita yang sedang dia hubungi ini adalah sosok yang terobsesi dengan Ayunda, sejak wali kelas merawat Ayunda selama kelas empat dan mendapat kabar dari mantan wali kelas Ayunda sebelumnya bagaiman Calya bers*kap.

Si wali kelas terus berusaha bers*kap baik dan apa pun akan dia informas*kan pada Calya tentang Ayunda dari pada ke ibunya, Nala.
Bukan tanpa alasan, wali kelas Ayunda melakukan hal seperti itu.
Karena insiden sebelumnya, Calya mengamuk di sekolah Ayunda dan membuat gempar satu sekolah.
Maka pihak sekolah memutuskan untuk melakukan apa pun yang diinginkan Calya, salah satunya menjadi wali murid Ayunda.
Padahal ibunya, Nala masih hidup.
“Ada apa dengan Ayunda?” teriak Calya pada akhirnya.
Gala yang mendengar matanya langsung melotot, dia gugup menunggu percakapan sang kakak dan wali kelas Ayunda.

“Hm … gini Mbak Calya, karena saya tadi sedang meeting jadi Ayunda yang sempat pingsan dilarikan ke rumah sakit dan guru piket menghubungi ibunya, saya mohon maaf ya.”
“Hah? Ayunda pingsan? Ka-kamu …”
Calya sudah ingin marah saat Gala langsung memegang tangan perempuan itu.
Gala menggelengkan kepalanya, Calya melotot.
Di seberang telepon si wali kelas dengan gugup menjawab, “Mbak Calya, maafkan saya.”
“Aduh, kamu ini … sekarang Ayunda ada di mana?”
“Di rumah sakit dekat sekolah, rumah sakit yayasan sekolah kami dan kabarnya Ayunda sudah sadarkan diri.”
“Ya udah, aku tutup teleponnya.”
Setelah itu terdengar suara panggilan telepon terputus.
Tuuuttt ….
Tuuuttt ….
Tuuutttt ….

Wali kelas langsung bernapas lega saat sambungan telepon terputus, dia mengelus dadanya.
Rekan guru lain yang melihatnya mengangkat tangan kanan mereka dengan mengepalkan tangan memberinya semangat.
Siapa yang tidak mengenal Calya di sekolah Ayunda.
Sejak Ayunda masuk sekolah tersebut, Calya melebihi peran ibunya sebagai wali murid.
Semua pihak sekolah sangat mengenal temperamen Calya.
Bukan tanpa alasan mereka melakukan itu, lebih mengalah, karena mereka tidak ingin mengganggu ketentraman para murid dan guru di sekolah.
“Mbak, Ayu kenapa?” tanya Gala.
Calya langsung meraih tas dan berbali berjalan menuju ke pintu.
Gala masih terdiam …
Calya menoleh …

“Kamu nggak ikut?” bentak Calya sambil melotot pada Gala.
“Eh … iya … tapi Mbak bentar …” jawab Gala dengan gugup, Calya menggelengkan kepalanya dengan kesal melihat betapa tidak bergunanya adik satu-satunya ini, dia terlalu lamban dan lemot.
Gala meraih gagang telepon, “Hallo, Karin, aku keluar sebentar sama Mbak Calya, kalau ada yang urgent kamu nanti bisa hubungi saya via telepon ya.”
“Baik Pak.”
Jawab Karina dengan suara super duper lembut dan terdengar imut itu membuat Gala mengerutkan dahinya, lalu setelahnya dia membanting gagang telepon dengan keras dan berbalik.
“Ayo Mbak.” Ucap Gala berjalan menghampiri Calya yang sudah berdiri di ambang pintu.
Keduanya keluar berjalan bersama.
Tiba di halaman parkir mobil, keduanya langsung masuk mobil dan Calya tanpa basa-basi langsung membawa mobil miliknya dengan kecepatan tinggi.
Gala hanya bisa diam dengan menahan napas saat kakaknya itu membawa mobilnya dengan mengebut.

Cara mengemudi Calya memang tidak diragukan lagi, mereka tiba hanya dalam waktu setengah jam saat jam kantor.
Setelah mobil di parkit, Calya langsung berlari menuju ke ruangan UGD.
Di sana saat dia memasuki ruangan, melihat perempuan mengenakan daster dan seperti biasa terlihat kusut.
Nala terkejut melihat Calya datang dengan tergesa-gesa.
“Mbak Calya …. “ sapa Nala.
Calya yang terlihat panik dan emosi melihat adik iparnya itu langsung melayangkan tangan kanannya sekuat tenaga ke arah wajah Nala.
PLAK!
Suara tamparan keras terdengar saat itu juga.
Semua orang yang ada di ruangan terkejut melihat perlakuan Calya tersebut.

Judul : Kubalas Kakak Iparku Dengan Elegan
Penulis : Rida Ratna
Sudah ending di KBM.

Address

Lamongan

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Mas Al Rantau posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share