21/05/2023
Judul : Diaryndu
Penulis : Ummu Najwa
Platform : KBM Apps.
Bab 4 Keutamaan Menjadi Hafizah
-------
Ibu sebenarnya tahu, kemampuanmu untuk menghafal di atas rata-rata. Itu kalau kamu niat dan mau. Tapi sekali lagi, ibu tidak ingin memaksa atau menargetkan apapun. Ibu ingin kelak kamu menyadari sendiri kelebihanmu itu. Saat kamu ikhlas menjalani proses menjadi seorang hafizah, ibu sudah bahagia luar biasa.
Percayalah, Mbak. Seorang penghafal Al-Qur'an, apalagi yang menerapkan nilai-nilainya dalam kehidupan, tidak akan pernah mengalami kemalangan dalam hidupnya. Karena Allah berjanji, Dia akan menjaganya. Allah sendiri yang akan menata kehidupannya.
Adakah penjagaan yang lebih baik selain Dia Yang Maha Penjaga? Meski saat ini hati ibu terlunta karena menahan rindu, tetapi setidaknya ibu punya satu penghiburan. Bahwa ini semua tak akan lama. Toh, ibu masih bisa mendengar dan mengetahui kondisimu di sana. Ibu masih bisa memastikan bahwa kamu baik-baik saja. Dia Al-Hafiz yang menjadi Manggala sejatimu, mengayomi lewat asuhan para asatidmu.
Ibu pernah membaca satu ayat dalam Al-Qur'an yang menyatakan bahwa Allah subhanahu wa ta'ala sendirilah yang akan memelihara kitab suci-Nya. Ibu yakin, para ustazahmu juga telah mengabarkan tentang ayat yang indah ini.
Surah Al-Hijr ayat 9: Innā naḥnu nazzalnaż-żikra wa innā lahụ laḥāfiẓụn. Yang artinya sangat dalam, menurut ibu: Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.
Mbak Naj, ibu sungguh merasa beruntung. Allah telah mengamanahkan salah satu pemelihara Kalam-Nya untuk tumbuh di rahim ibu. Allah telah mempercayakanmu untuk besar dalam asuhan ibu. Kamu seharusnya tahu, bukan ibu atau ayah yang memintamu menjadi seorang hafizah. Tetapi sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah menuliskan takdirmu itu di Lauhul Mahfuz. Ibu, saat ini, sedang berusaha menikmati prosesnya. Dan semoga, begitu juga kamu di sana.
Terkadang ibu berpikir dalam-dalam, kebaikan apa yang telah kami lakukan di masa lalu, sehingga kamu dianugerahkan, dipercayakan kepada kami, ibu dan ayahmu. Kamu tahu, ketika kamu lahir pun, kami berdua masih belum sepenuhnya menjalankan Islam secara kafah.
Memang benar apa yang dikatakan oleh para ulama terdahulu. Seorang anak bisa menjadi wasilah orang tuanya mendapatkan hidayah. Nyata terjadi dalam kehidupan ibu. Sejak kamu hadir, perlahan Nur Ilahi mulai menerangi keluarga ini.
Pernah juga ibu membaca sebuah hadis yang diriwayatkan oleh imam Ahmad, An-Nasa'i dan Ibnu Majah. Dalam hadis itu Rasulullah bersabda, "Allah memiliki keluarga dari kalangan manusia.” Sahabat bertanya, “Siapakah mereka wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ahlul Quran, mereka adalah keluarga Allah, dan orang yang memiliki keistimewaan di sisi-Nya."
Subhanallah, Mbak Naj. Menjadi keluarga Allah. Alangkah indahnya sebutan itu. Menjadi keluarga presiden saja, ah, jangan presiden, sepertinya terlalu hiperbola. Menjadi keluarga walikota saja, orang sudah bangga kan? Dan kamu, dengan menjadi hafizah, Allah Ta'ala akan menahbiskanmu menjadi keluarga-Nya. Adakah kedudukan yang lebih tinggi dari itu?
Kamu tahu, banyak orang mengira, ibu---dengan penampilan yang sekarang, bergamis dan bercadar---adalah alumni pesantren dan belajar ilmu agama sejak usia dini. Subhanallah, betapa ibu mengharap itu benar adanya.
Ibu tidaklah sebaik itu. Ibu hanya seorang yang bisa mengaji. Semua karena keberkahan yang Allah berikan melalui kehadiranmu, calon keluarga-Nya. Ibu sering mengibaratkan diri sebagaimana Halimatus Sa'diyah, yang ikut mendapatkan kemuliaan, asbab beliau menyusui Rasulullah shalallahu 'alaihi wasalam.
Mungkin ketika membaca catatan ibu ini, kamu akan bilang kalau ibu terlalu berlebihan. Bisa jadi ibu memang eksesif, tetapi begitulah kamu di mata dan di hati ibu. Kamu titipan Sang Pemilik Hidup, ibu tidak ingin Dia yang menitipkanmu kecewa jika ibu tidak merawatmu dengan segenap kemampuan ibu.
Ah, kelak kamu akan mengerti jika sudah tiba saatnya.
--------