Serba Serbi

Serba Serbi Konten kreator

Bismillah...Koleksi foto-fotonya dulu.InsyaAlláh, tahun 2025 bisa datang ke sana. Aamiin 🤲 #
24/11/2024

Bismillah...

Koleksi foto-fotonya dulu.
InsyaAlláh, tahun 2025 bisa datang ke sana. Aamiin 🤲
#

Takdir yang Ku MintaBy: Ummu NajwaAku pernah berdoaAgar Alláh merubah sesuatu yang mungkin bukan takdirkuBahkan aku pern...
06/11/2024

Takdir yang Ku Minta
By: Ummu Najwa

Aku pernah berdoa
Agar Alláh merubah sesuatu yang mungkin bukan takdirku
Bahkan aku pernah dengan berani berjanji
Resiko apapun akan kuterima dan kuhadapi

Kini aku menjalani takdir yang ku minta sendiri
Dan dengan segala resiko yang menguras emosi
Satu hal yang tak henti aku syukuri
Alláh masih begitu menyayangiku
Dia tahu aku akan sakit bertubi-tubi
Di sela-sela tangisku
Dia hadirkan takdir-takdir lain menghiburku

Kini dalam setiap doaku
Aku hanya menengadah memohon ampun
Atas semua kelancangan yang pernah kulakukan
Seakan aku bisa mengatur jalan hidup
Memilih jalan terjal dan berliku
Yang nyatanya hanya fatamorgana

Madiun, 6 November 2024

15/10/2024

SENJA

Entah mengapa aku begitu menyukai senja
Semburat jingganya di ufuk barat
Larikan tipis awan putihnya

Entah mengapa aku begitu menyukai senja
Pendar cahayanya memukau mata
Ia yang meredup
Namun meninggalkan kesan indah

Senja tak akan pernah lekang
Meski malam datang merenggut
Senja akan selalu datang
Dengan keindahan abadi
Bagi jiwa-jiwa yang merindukan

Duhai semesta
Siapakah yang menjadi senja
Aku ...
Ataukah dia ...

Madiun, 15 Oktober 2024

21/05/2023

Judul : Diaryndu
Penulis : Ummu Najwa
Platform : KBM Apps.

Bab 4 Keutamaan Menjadi Hafizah
-------

Ibu sebenarnya tahu, kemampuanmu untuk menghafal di atas rata-rata. Itu kalau kamu niat dan mau. Tapi sekali lagi, ibu tidak ingin memaksa atau menargetkan apapun. Ibu ingin kelak kamu menyadari sendiri kelebihanmu itu. Saat kamu ikhlas menjalani proses menjadi seorang hafizah, ibu sudah bahagia luar biasa.

Percayalah, Mbak. Seorang penghafal Al-Qur'an, apalagi yang menerapkan nilai-nilainya dalam kehidupan, tidak akan pernah mengalami kemalangan dalam hidupnya. Karena Allah berjanji, Dia akan menjaganya. Allah sendiri yang akan menata kehidupannya.

Adakah penjagaan yang lebih baik selain Dia Yang Maha Penjaga? Meski saat ini hati ibu terlunta karena menahan rindu, tetapi setidaknya ibu punya satu penghiburan. Bahwa ini semua tak akan lama. Toh, ibu masih bisa mendengar dan mengetahui kondisimu di sana. Ibu masih bisa memastikan bahwa kamu baik-baik saja. Dia Al-Hafiz yang menjadi Manggala sejatimu, mengayomi lewat asuhan para asatidmu.

Ibu pernah membaca satu ayat dalam Al-Qur'an yang menyatakan bahwa Allah subhanahu wa ta'ala sendirilah yang akan memelihara kitab suci-Nya. Ibu yakin, para ustazahmu juga telah mengabarkan tentang ayat yang indah ini.
Surah Al-Hijr ayat 9: Innā naḥnu nazzalnaż-żikra wa innā lahụ laḥāfiẓụn. Yang artinya sangat dalam, menurut ibu: Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.

Mbak Naj, ibu sungguh merasa beruntung. Allah telah mengamanahkan salah satu pemelihara Kalam-Nya untuk tumbuh di rahim ibu. Allah telah mempercayakanmu untuk besar dalam asuhan ibu. Kamu seharusnya tahu, bukan ibu atau ayah yang memintamu menjadi seorang hafizah. Tetapi sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah menuliskan takdirmu itu di Lauhul Mahfuz. Ibu, saat ini, sedang berusaha menikmati prosesnya. Dan semoga, begitu juga kamu di sana.

Terkadang ibu berpikir dalam-dalam, kebaikan apa yang telah kami lakukan di masa lalu, sehingga kamu dianugerahkan, dipercayakan kepada kami, ibu dan ayahmu. Kamu tahu, ketika kamu lahir pun, kami berdua masih belum sepenuhnya menjalankan Islam secara kafah.

Memang benar apa yang dikatakan oleh para ulama terdahulu. Seorang anak bisa menjadi wasilah orang tuanya mendapatkan hidayah. Nyata terjadi dalam kehidupan ibu. Sejak kamu hadir, perlahan Nur Ilahi mulai menerangi keluarga ini.

Pernah juga ibu membaca sebuah hadis yang diriwayatkan oleh imam Ahmad, An-Nasa'i dan Ibnu Majah. Dalam hadis itu Rasulullah bersabda, "Allah memiliki keluarga dari kalangan manusia.” Sahabat bertanya, “Siapakah mereka wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ahlul Quran, mereka adalah keluarga Allah, dan orang yang memiliki keistimewaan di sisi-Nya."

Subhanallah, Mbak Naj. Menjadi keluarga Allah. Alangkah indahnya sebutan itu. Menjadi keluarga presiden saja, ah, jangan presiden, sepertinya terlalu hiperbola. Menjadi keluarga walikota saja, orang sudah bangga kan? Dan kamu, dengan menjadi hafizah, Allah Ta'ala akan menahbiskanmu menjadi keluarga-Nya. Adakah kedudukan yang lebih tinggi dari itu?

Kamu tahu, banyak orang mengira, ibu---dengan penampilan yang sekarang, bergamis dan bercadar---adalah alumni pesantren dan belajar ilmu agama sejak usia dini. Subhanallah, betapa ibu mengharap itu benar adanya.

Ibu tidaklah sebaik itu. Ibu hanya seorang yang bisa mengaji. Semua karena keberkahan yang Allah berikan melalui kehadiranmu, calon keluarga-Nya. Ibu sering mengibaratkan diri sebagaimana Halimatus Sa'diyah, yang ikut mendapatkan kemuliaan, asbab beliau menyusui Rasulullah shalallahu 'alaihi wasalam.

Mungkin ketika membaca catatan ibu ini, kamu akan bilang kalau ibu terlalu berlebihan. Bisa jadi ibu memang eksesif, tetapi begitulah kamu di mata dan di hati ibu. Kamu titipan Sang Pemilik Hidup, ibu tidak ingin Dia yang menitipkanmu kecewa jika ibu tidak merawatmu dengan segenap kemampuan ibu.
Ah, kelak kamu akan mengerti jika sudah tiba saatnya.

--------

13/05/2023

Bab 1 Ketika Kamu Jauh
----------------------------------------

Assalamu'alaikum, Mbak Najwa.

Bagaimana kabar kamu? Ibu sudah sangat ... sangat ... sangat rindu. Rindu yang harus ibu tahan sejak sepuluh hari yang lalu, ketika kamu harus kembali pada proses jihadmu menjadi seorang penghafal Kalamullah, Al-Qur'anul Karim.

Tetapi malam ini hati ibu membuncah bahagia. Ibu bisa melihatmu kembali. Meskipun hanya tampak jilbab lebarmu di balik mushaf berwarna biru dalam foto yang mampir di WA ibu. Ustaz yang baik itu mengatakan, kalau kamu sengaja menutupkan mushaf ketika tahu beliau sedang mengambil fotomu.

Padahal, bukankah sebelumnya kamu selalu bilang, kalau ada kamera mengarah, kamu akan segera memasang muka. Dengan senyum lebar yang khas di wajahmu yang cubby. Sebab tahu, ibu akan selalu mencari sosokmu di antara tebaran senyum santriwati di pesantren yang sering di-upload oleh para pengasuh.

Andai kamu tahu, sejak kamu balik ke pondok sore itu, ibu terus menghitung hari. Tidak bisa berhenti memikirkanmu. Seolah ini pertama kalinya kamu pergi. Padahal, saat ini sudah hampir tahun ketiga sejak kamu menjadi santri di pondok itu. Mungkin karena kali ini kamu terlihat semakin tegar dan tabah. Ah, apakah kehidupan di sana telah cukup menempa pribadimu?

Terkadang, ibu mengeluh sendiri. Mengapa harus ada masa karantina selama 40 hari di pesantrenmu selepas liburan?

Setelah hampir dua pekan menikmati kebersamaan, mengganggumu ketika ibu sedang bosan menulis, atau merangkum cerita yang hanya sepenggal-sepenggal keluar dari bibirmu dan tidak berurutan, dari rutinitasmu di pondok. Kemudian selama 40 hari ibu harus menahan diri setengah mati untuk tidak bertemu denganmu ataupun sekedar mendengar suaramu.

Kamu tahu, Mbak Naj, ibu tak mau lagi bercerita tentang kerinduan ini pada mereka, orang-orang rese' yang sering mematahkan hati ibu. Tahu apa mereka tentang kasih seorang ibu? Tahu apa mereka tentang keinginan terbesar ibu ketika mengirimmu ke pondok itu?

Lalu jika ibu mengatakan ibu rindu padamu, mereka akan dengan sinis mencela ibu. "Punya anak cuma satu kok dipondokne, nggak kasihan sama anaknya."

Ya Allah, ibu hanya bisa mengelus dada mendengarnya. Justru karena hanya mempunyai kamu, ibu tak ingin menjadikanmu hidup dalam kesia-siaan. Kamu harus tumbuh menjadi orang baik dan terbiasa hidup dalam lingkungan yang baik. Kamu harus punya dasar agama dan iman yang kuat untuk bekal masa depanmu nanti, saat ibu tak lagi ada di sisimu untuk menjaga dan mengawasi.

Lingkungan seperti itu, yang kondusif dan bernuansa religi hanya akan kamu dapatkan dalam pesantren, Nduk. Sebab jika di rumah, ibu tak yakin akan bisa mendidikmu dengan baik dan benar sesuai fitrah yang diberikan Allah Ta'alaa padamu.

Apalah ibu dan ayahmu? Memang ibu seorang guru ngaji, tapi ibu hampir buta tentang hukum-hukum muamalah. Yang ibu paham hanyalah hukum tajwid dan ghorib yang seuprit itu. Itupun kadang ibu masih membuka kitab yang diberikan guru ibu.

Apakah kamu tahu, mengapa ibu memilih pondok tahfiz untuk melatih kemandirianmu? Bukan pondok yang bernuansa salaf? Itu karena ibu tidak sanggup membuatmu lebih bersusah payah. Mungkin kamu akan menjadi pribadi kuat jika berguru di pondok yang benar-benar menerapkan filosofi tirakat, seperti Gontor misalnya. Tapi apakah bisa ibu menjalani hari-hari ibu dengan bayangan susah payahmu di sana?

Itu juga yang menjadi salah salah satu alasan ibu tidak ingin melepasmu jauh ke pesantren yang berada di luar kota. Bagaimana kalau ibu tak bisa menahan rindu? Lucu memang, dan memang tak perlu orang-orang itu tahu.

Seringkali, jika sudah menggunung keinginan untuk bertemu, ibu lalu mengajak ayah untuk sekedar lewat di depan gedung pesantrenmu. Berhenti sebentar di depan gerbang belakang selepas subuh. Memasang telinga, siapa tahu di antara suara-suara mengaji itu ada suaramu. Kalau kamu pergi jauh ke luar kota, ibu tidak bisa melakukannya lagi setiap kali ibu rindu.

Ibu jadi ingat keinginanmu yang lucu akhir-akhir ini. Baik ketika penelponan maupun ketika liburan. Kamu mengatakan kalau ingin pindah pondok yang terletak di luar kota. Ibu hanya bisa beralasan, kita akan bicara lain kali saja kalau pas kamu pulang liburan.

Ternyata kamu tidak lupa. Sehari sebelum jadwal "balik pondok", kamu kembali bertanya, apa boleh pindah pondok yang di luar kota.

Jujur saja, ibu tidak ingin kamu kemana-mana. Tapi sungguh, ibu tidak sampai hati mengatakan tidak. Meskipun batin ibu meronta, mengapa justru kamu ingin menjauh dari kami, orang tuamu yang kian renta.

Prasangka ibu bermacam-macam sudah. Apakah ada teman yang membuatmu tidak nyaman? Apakah fasilitas pondok membuatmu tidak kerasan? Atau mungkin ada peristiwa buruk yang membuatmu trauma?

Ya Allah, ternyata, alasanmu ingin pindah pesantren membuat tawa ibu hampir meledak. ..

   Bab 1 Keajaiban Yang Tak Terduga--------Astaghfirulllah, tiba-tiba aku teringat pada teman-teman jamaah yang mendoaka...
26/01/2023





Bab 1 Keajaiban Yang Tak Terduga

--------

Astaghfirulllah, tiba-tiba aku teringat pada teman-teman jamaah yang mendoakanku supaya bisa menjadi tamu Allah, tetapi justru kuremehkan dan sering kuanggap sebagai sindiran, dan berakhir dengan kata 'Aamiin' setengah hati dan kesal yang terpendam.

Doaku yang menjadi ustazah mereka saja belum dikabulkan, apalagi mereka yang masih banyak salah membaca Al Qur'annya. Aku selalu membatin seperti itu, meskipun lisanku mengucapkan 'aamiin' atas doa mereka.

Ya Allah, ternyata doa itu telah menembus langit dan dikabulkan. Aku memejamkan mata, air mata penyesalan sepertinya tak cukup untuk menebus kesalahanku. Ampuni hamba-Mu yang begitu sombong ini, Ya Allah.

Entah berapa lama aku berada di posisi itu ketika terdengar suara Najwa, putriku, memanggil, membuyarkan ketakjubanku pada deretan pilar setinggi 20 meter yang kokoh terpancang di antara ratusan umat yang hilir mudik di bawah payungnya.

------

Kisah selengkapnya ada di buku solo perdana mimin yang insyaAllah terbit 2 bulan mendatang , sementara spoilernya saja ya 😍

Puisi Seruni Yang PatahOleh Ummu Najwaklik link di bawah ini
14/11/2022

Puisi Seruni Yang Patah
Oleh Ummu Najwa

klik link di bawah ini

Seruni ...Entah mengapa semua terasa begitu sulitMengakui takdir yang kian rumitMelangkah bersama namun tanpa rasaMerajut asa dalam kepingan luka mengangaSeruni ...Andai lebih awal kita bersuaTak 'kan kubiarkan dia mencabut akarmuLalu membuatmu mati dan layuDengan mematahkan setiap tangkaimuSeruni ....

Resensi buku yang layak dibaca Klik :
10/11/2022

Resensi buku yang layak dibaca

Klik :

Identitas Novel :Judul : Kun ... FayakunPengarang : Andi BombangPenerbit : Diva PressKota Terbit : JogjakartaTahun Terbit : 2007Cetakan ke-3 : April 2008Tebal Buku : 626 halamanPanjang Buku : 20 cmLebar Buku : 14 cmSinopsis :Novel yang ditulis Andi Bombang ini mengisahkan perjalanan hidup seorang pr...

27/08/2022

Tidak perlu mengemis pada orang yang meninggalkanmu
Itu tandanya, dia tak lagi baik untukmu
Sambutlah yang datang dengan kerendahan dan kelembutan hati
Tinggalkan mereka yang menertawaimu dengan angkuh
Yang dengan sombong mengatakan
"Aku tak butuh!"

-quote of the day-

Address

Madiun

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Serba Serbi posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share