31/12/2025
Lapar minta Bantuan Kenyang minta Merdeka?
Kilas Balik. Gini ya, gue mau mulai dari satu hal yg paling sering dibengkokin buzzer : sejarah itu selalu dipotong di bagian yg paling menguntungkan mereka. Mereka ambil satu frame, satu kalimat, satu kejadian, terus dipelintir sampai kelihatan seolah Aceh itu “peminta”, “beban”, “gak tau diri”.
Padahal kalau lo buka sejarahnya utuh, justru Indonesia yg pernah ada di posisi minta bantuan [ngemis] ke Aceh, bukan sebaliknya. Dan ini bukan opini, ini fakta sejarah yg tercatat.
Indonesia itu merdeka tahun 1945. Tapi jangan keburu bangga dulu, karena merdeka di atas kertas itu beda sama bertahan hidup sebagai negara. Tahun-tahun awal itu negara ini bukan negara mapan. Ini negara bayi prematur, lahir dipaksa, dikejar-kejar Belanda, diblokade, miskin, kas kosong, alat perang nyaris nol, dan komunikasi antar wilayah masih kacau balau.
Pemerintah berpindah-pindah, dan ibu kota pindah-pindah, pejabat hidup dari satu kota ke kota lain sambil ngumpet dari agresi militer. Dalam kondisi kayak gitu, pesawat itu bukan barang mewah, tapi nyawa sebuah negara.
Tanpa pesawat, pemerintah pusat lumpuh. Tanpa pesawat, diplomasi mati. Tanpa pesawat, republik ini gampang dipatahkan Belanda yang punya armada lengkap. Dan masalahnya: Indonesia gak punya duit buat beli pesawat. Nol. Nihil. Kas negara cekak. Negara ini literally hidup dari napas rakyatnya.
Terus apa yg dilakukan Presuden Soekarno? Dia keliling. Dia minta bantuan. Dan salah satu daerah yg dia datangi itu Aceh. Bukan karena Aceh lemah. Justru karena Aceh kuat. Aceh punya jaringan dagang. Aceh punya emas. Aceh punya kesadaran politik. Aceh punya ulama yang dihormati rakyatnya. Aceh bukan daerah minta-minta, Aceh itu daerah penopang.
Dan di titik ini, gue mau lo bayangin sebentar. Bayangin negara baru merdeka, presidennya datang ke daerah, bukan bawa proyek, bukan bawa janji manis, tapi minta tolong. Minta dana. Minta emas. Minta rakyat urunan buat beli pesawat. Itu bukan adegan heroik ala film. Itu adegan pahit. Itu pengakuan bahwa negara ini belum sanggup berdiri sendiri.
Dan Aceh jawab apa?
Aceh gak nanya, “balasannya apa?” Aceh gak nanya, “nanti kami dapat apa?” Aceh gak nanya, “jaminan pusat apa ke kami?”
Enggak.
Rakyat Aceh urunan. Emas diserahkan. Harta pribadi dilepas. Duit dikumpulin. Bukan satu dua orang, tapi kolektif. Dari ulama sampai rakyat biasa. Dan dari situ kebeli satu pesawat: Dakota DC-3. Pesawat itu dikasih nama Seulawah RI-001. Seulawah artinya Gunung Emas. Bukan simbol puitis doang, tapi literal: itu pesawat dibeli dari emas rakyat Aceh.
Sekarang gue mau berhenti sebentar dan bertanya?
Kalau Aceh itu “lapar, minta bantuan, kenyang, minta merdeka” seperti kata buzzer, logikanya di mana daerah lapar bisa nyumbang emas buat beli pesawat negara?
Daerah lapar itu justru yang ngemis. Yang nyumbang itu daerah yang punya daya. Yang punya posisi tawar. Yg sadar ini bukan sekadar transaksi ekonomi, tapi taruhan sejarah.
Pesawat Seulawah itu bukan cuma alat transportasi. Itu alat diplomasi. Itu alat bertahan hidup. Dari situlah penerbangan nasional Indonesia lahir. Dari situlah embrio maskapai nasional terbentuk. Dari situlah jalur komunikasi antarwilayah tetap hidup di tengah blokade Belanda. Kalau pesawat itu gak ada, Indonesia bukan cuma kesulitan, tapi bisa tamat lebih cepat.
Sekarang kita masuk ke skenario yang jarang dibahas, karena terlalu menampar.
Apa yang terjadi kalau Aceh gak bantu?
Jawabannya gak romantis.
Tanpa pesawat : – Pemerintah RI makin terisolasi
– Diplomasi internasional makin lemah
– Distribusi logistik lumpuh
– Pergerakan tokoh nasional terhambat
– Blokade Belanda makin efektif
Dan dalam kondisi kayak gitu, jangan sok suci bilang “Indonesia pasti tetap berdiri”. Sejarah itu gak kerja pake doa doang. Sejarah kerja pake logistik, akses, dan alat. Negara bisa kalah bukan karena rakyatnya bodoh, tapi karena kehabisan napas duluan.
Kalau Aceh waktu itu bilang, “maaf, kami fokus diri kami sendiri”, itu sah. Tapi mereka gak ngelakuin itu. Mereka justru jadi tulang punggung. Dan ironisnya, puluhan tahun kemudian, mereka difitnah sebagai pengemis kemerdekaan.
Ini yang bikin gue muak.
Narasi buzzer itu keji bukan cuma karena menghina Aceh, tapi karena menghapus kontribusi sejarah. Mereka bikin seolah Aceh itu cuma beban. Padahal Aceh itu pernah jadi penyelamat. Dan yang lebih busuk lagi, narasi itu dipakai buat membenarkan sikap dingin, represif, dan merendahkan terhadap Aceh hari ini.
“Lah dulu minta bantuan, sekarang minta merdeka.” Kalimat itu licik. Karena menyamakan hak bersuara dengan utang moral. Seolah-olah karena Aceh pernah bantu Indonesia, maka Aceh harus tutup mulut selamanya.
Ini logika penjajah, bukan logika negara merdeka.
Kalau kita pakai logika buzzer, maka harusnya daerah-daerah yang dulu nyumbang darah, emas, dan nyawa itu kehilangan hak kritik. Harusnya diam. Harusnya nurut. Dan itu bukan negara kesatuan, itu negara feodal dengan pusat merasa paling berjasa.
Aceh itu gak minta merdeka karena kenyang. Aceh ribut karena sejarahnya panjang dilukai. Karena janji otonomi dilanggar. Karena sumber daya dikeruk. Karena konflik diselesaikan pake senjata, bukan keadilan. Dan itu cerita lain yang panjang, tapi tidak pernah menghapus fakta bahwa Aceh pernah berdiri di depan ketika republik ini hampir kehabisan napas.
Jadi setiap kali lo lihat narasi buzzer model:
“miskin, ngemis pesawat, gak tau terima kasih”
Jawaban lo harus dingin tapi nusuk: Indonesia bukan dikasih pesawat oleh Aceh karena Aceh minta apa-apa, tapi karena Aceh percaya republik ini layak diselamatkan.
Dan kepercayaan itu bukan utang yang bisa ditagih balik buat membungkam suara.
Kalau hari ini Aceh protes, itu bukan karena lupa sejarah. Justru karena mereka ingat sejarah terlalu jelas, sementara pusat pura-pura amnesia.
Ini bukan soal merdeka atau tidak. Ini soal menghentikan kebiasaan busuk menistakan daerah yang dulu justru berdiri paling depan.
Dan buzzer-buzzer itu?
Mereka cuma hidup dari potongan sejarah. Karena kalau sejarahnya dibuka utuh, narasi mereka langsung runtuh.
*suara hati saudara kita di Aceh!!
Kita mesti memahami dengan menyeluruh konteks akar segala masalah. Tahun 2004 Aceh kena Tsunami dan 21th berikutnya kena banjir bandang Sumatera Utara dan sumatra Barat, ini sangat berat!!
Ditambah lagi dengan proses penanganan bencana yg berbeda, mereka saudara kita yg terdampak bencana sangat merasakannya. Belum lagi Sebab bencana yg bias ditambah dengan status bencana yg belum nasional?
"Komitmen seluruh rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke sangat mencintai Ibu Pertiwi sangat mencintai Indonesia tercinta!!"
Tapi kita melihat sendiri dan merasakannya apa yg dilakukan pemerintah pusat masih jauh dari harapan dan keinginan seluruh rakyat.
Apalagi saudara kita yg terdampar bencana Sumatera, lebih pedih perih dan sakit hati. Kita semua berdoa untuk para korban dan keluarga yg ditinggalkan semoga diberikan kekuatan!!
Tahun 2025 ini secara keseluruhan adalah tahun yg berat, dalam keadaan normatif aja untuk sekedar bisa bertahan hidup susah, apalagi ditambah dengan musibah bencana.
"Selamat Tinggal Tahun 2025 Yang Berat!!"
Semoga tahun depan bisa lebih baik, agar seluruh masyarakat merasakan keadilan, mendapatkan kesejahteraan Amin YRA.
Berikan opini pendapat dan perspektif yg bebas tapi sopan untuk menambah wawasan dan pengetahuan sharing sinau ya teman2.