04/06/2026
"Kalau saya punya uang 18 juta rupiah untuk disedekahkan, saya lebih memilih menyerahkannya kepada satu guru ngaji selama setahun daripada mencetak ratusan mushaf Al-Qur'an."
Kalimat ini mungkin akan membuat sebagian orang terkejut.
Karena selama ini kita terbiasa menganggap bahwa semakin banyak mushaf Al-Qur'an yang dicetak dan dibagikan, semakin besar p**a manfaatnya.
Memang benar, membagikan mushaf Al-Qur'an adalah amal yang mulia.
Tidak ada yang salah dengan itu.
Namun ada satu pertanyaan yang layak kita renungkan bersama:
Siapa yang akan mengajarkan isi Al-Qur'an kepada masyarakat?
Karena sejarah menunjukkan bahwa perbaikan masyarakat tidak dibangun oleh kertas.
Perbaikan masyarakat dibangun oleh manusia.
Bukan mushaf yang berjalan dari rumah ke rumah mengajarkan adab.
Bukan mushaf yang mendatangi anak-anak lalu mengajari mereka membaca.
Bukan mushaf yang mengetuk pintu masyarakat untuk mengingatkan sholat Subuh.
Yang melakukan semua itu adalah manusia.
Guru-guru yang sabar.
Guru-guru yang istiqamah.
Guru-guru yang mengorbankan usia, tenaga, pikiran, dan waktunya untuk membimbing umat.
Maka untuk kondisi masyarakat hari ini, jika ada seseorang memiliki dana 18 juta rupiah dan bertanya kepada saya,
"Lebih baik saya gunakan untuk apa?"
Maka saya cenderung akan menjawab:
Cobalah pertimbangkan untuk membantu penghidupan satu guru ngaji terlebih dahulu.
Misalnya 1,5 juta rupiah setiap bulan selama satu tahun.
Mungkin nominal itu belum membuat beliau kaya.
Belum membuat hidupnya mewah.
Tapi paling tidak, ada satu beban yang berkurang dari pundaknya.
Ada satu kecemasan yang sedikit lebih ringan.
Ada ruang yang lebih luas baginya untuk fokus membina masyarakat.
Karena realitasnya, banyak guru ngaji hari ini bukan kekurangan semangat.
Mereka bukan kekurangan niat baik.
Mereka bukan kekurangan kepedulian terhadap umat.
Mereka justru sering kekurangan waktu dan tenaga karena harus memikirkan kebutuhan dapurnya terlebih dahulu.
Pagi bekerja.
Siang bekerja.
Sore bekerja.
Malam baru mengajar.
Lalu kita berharap kualitas pembinaan umat meningkat pesat.
Tentu bisa.
Tapi jauh lebih berat.
Bayangkan jika ada seorang guru yang kebutuhan dasar keluarganya relatif aman.
Beliau memiliki waktu lebih banyak untuk membaca.
Lebih banyak untuk belajar.
Lebih banyak untuk menghadiri majelis ilmu.
Lebih banyak untuk menyiapkan materi.
Lebih banyak untuk mendampingi anak-anak didiknya.
Lebih banyak untuk memikirkan bagaimana memperbaiki kualitas masyarakat.
Bukankah manfaatnya akan menjalar ke mana-mana?
Karena sesungguhnya yang menghidupkan Al-Qur'an bukan tinta.
Yang menghidupkan Al-Qur'an adalah manusia yang menjadikan Al-Qur'an sebagai jalan hidupnya.
Kalaupun hari ini ada sejuta mushaf Al-Qur'an dibagikan ke berbagai daerah, tetapi tidak ada guru yang istiqamah membimbing masyarakat dengan adab dan akhlak Al-Qur'an, maka sebagian besar mushaf itu berisiko hanya menjadi penghias lemari.
Diletakkan di rak.
Dibersihkan sesekali.
Dipandang dengan hormat.
Namun jarang dibaca.
Lebih jarang lagi diamalkan.
Bahkan tidak sedikit yang akhirnya berdebu, lapuk dan dimakan rayap.
Sebaliknya, kalau di sebuah kampung ada satu guru Al-Qur'an yang benar-benar hidup bersama Al-Qur'an, mendalaminya, mengamalkannya, lalu mendidik generasi dengan ruh Al-Qur'an, maka pengaruhnya bisa melampaui jutaan mushaf.
Karena beliau mengajarkan bukan hanya bacaan.
Beliau mengajarkan keteladanan.
Beliau mengajarkan kesabaran.
Beliau mengajarkan amanah.
Beliau mengajarkan akhlak.
Beliau mengajarkan bagaimana Al-Qur'an diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Beliau menjadi teladan.
Bahkan dalam kondisi yang sangat sederhana sekalipun, seorang guru tetap bisa mengajarkan Al-Qur'an.
Dengan tulisan tangannya.
Dengan lisannya.
Dengan keteladanannya.
Dengan adabnya.
Dengan karakter hidupnya.
Karena generasi tidak hanya belajar dari apa yang mereka baca.
Generasi jauh lebih banyak belajar dari siapa yang mereka lihat setiap hari.
Inilah sebabnya mengapa membangun manusia hampir selalu lebih sulit dibanding membangun benda.
Mencetak mushaf bisa selesai dalam hitungan hari.
Membangun seorang guru dengan ilmu, adab, akhlak dan amal Al-Qur'an membutuhkan bertahun-tahun.
Mencetak buku bisa dilakukan mesin.
Mencetak manusia berkualitas membutuhkan kesabaran, pengorbanan, dan pembinaan yang panjang.
Maka jika suatu hari kita dihadapkan pada pilihan antara memperbanyak benda atau memperkuat manusianya, jangan terlalu cepat memilih benda.
Karena benda yang baik akan mencapai manfaat maksimal ketika berada di tangan manusia yang baik.
Sedangkan manusia yang baik sering kali tetap mampu menghadirkan manfaat besar meskipun fasilitas yang dimilikinya sangat terbatas.
Sebab pada akhirnya, kemajuan sebuah masyarakat lebih sering ditentukan oleh kualitas manusianya daripada banyaknya barang yang mereka miliki.
Dan di antara manusia yang paling layak mendapatkan perhatian itu adalah para guru yang mengajarkan Al-Qur'an, membimbing generasi, serta menjaga agar cahaya ilmu tetap menyala di tengah masyarakat.
Karena ketika satu guru Al-Qur'an bertumbuh kuat, sering kali satu kampung ikut bertumbuh bersamanya. Insya'Alloh.
Tulisan ini mengajak untuk mari lebih peduli dan peka dengan guru-guru ngaji kita di kampung-kampung, di Masjid-Masjid, di Musholla, di Pondok Pesantren dan di berbagai tempat-tempat perjuangan perbaikan masyarakat.
*Cak Ibra Masjid