25/03/2026
Fenomena iklim ekstrem yang dijuluki "Godzilla El Nino" kini tengah menjadi perbincangan hangat setelah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) merilis peringatan dini mengenai potensinya di tahun 2026. Istilah "Godzilla" merujuk pada intensitas El Nino yang sangat kuat, ditandai dengan pemanasan suhu permukaan laut yang signifikan di Samudra Pasifik ekuator. Kondisi ini diprediksi akan mulai berkembang pada April hingga Oktober 2026, yang bertepatan dengan periode musim kemarau di Indonesia.
Pakar iklim dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin, menjelaskan bahwa fenomena ini patut diwaspadai karena berpotensi muncul bersamaan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Kombinasi keduanya akan menekan pertumbuhan awan hujan di wilayah Indonesia bagian barat dan selatan secara drastis. BRIN memperingatkan bahwa situasi ini dapat memicu kekeringan ekstrem yang mengancam ketahanan pangan nasional.
"Pemerintah perlu mewaspadai dampak kekeringan yang dapat mengancam lumbung pangan nasional, khususnya di wilayah Pantura Jawa," ujar Erma Yulihastin dalam keterangan resminya.
Dampak dari "Godzilla El Nino" ini diprediksi tidak akan merata di seluruh nusantara. Sementara wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara bersiap menghadapi kekeringan panjang, wilayah timur seperti Sulawesi dan Maluku justru berpotensi mengalami anomali curah hujan tinggi yang bisa memicu banjir. Selain itu, risiko Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Sumatra dan Kalimantan juga meningkat tajam, sehingga langkah mitigasi dan penghematan cadangan air menjadi prioritas utama bagi masyarakat dan pemerintah saat ini.