Mitologi Bumi Sulawesi

Mitologi Bumi Sulawesi YAYASAN BUDAYA BUGIS MAKASSAR

2025 bukan tahun yang mudah bagi Mitologi Bumi Sulawesi.Ada masa kami harus berhenti sejenak, hiatus beberapa bulan, tim...
02/01/2026

2025 bukan tahun yang mudah bagi Mitologi Bumi Sulawesi.
Ada masa kami harus berhenti sejenak, hiatus beberapa bulan, timbul tenggelam dalam menjaga komitmen untuk terus merawat dan menyuarakan Sejarah, Adat, Budaya dari Bumi Sulawesi.

Setahun ini adalah tentang bertahan
Tentang jatuh, bangkit, ragu, lalu kembali melangkah
Tentang mempertahankan api kecil agar tetap menyala di tengah banyaknya dinamika perjalanan

Meski tak selalu hadir secara konsisten, kami berusaha semaksimal mungkin untuk tetap eksis tetap setia pada tujuan awal: mengenalkan kebesaran warisan Bumi Sulawesi kepada dunia.

Terima kasih untuk semua teman, kerabat, dan tim yang telah berjuang bersama sepanjang tahun ini. Keringat, waktu, dan tenaga kalian adalah pondasi yang membuat perjalanan ini terus berjalan.

Terima kasih juga untuk para pencinta budaya yang tidak pernah berhenti memberi dukungan. Di titik inilah kami sadar, perjalanan ini bukan tentang kami semata tetapi tentang kepercayaan yang teman-teman titipkan.

Di tahun 2026, semoga langkah kami lebih kuat, lebih konsisten, dan tetap setia merawat ingatan, nilai, dan jati diri Sulawesi.

Selamat Tahun Baru 2026
Salam Budaya!

#2026

Dadendate merupakan tradisi lisan khas masyarakat Desa Taripa, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi T...
26/12/2025

Dadendate merupakan tradisi lisan khas masyarakat Desa Taripa, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah, yang disampaikan melalui syair panjang dalam bentuk sajak bernyanyi. Kesenian ini berakar dari seni Kimbaa sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam bahasa Kaili, Dadendate berasal dari kata dade (lagu) dan ndate (panjang atau berada di atas bukit). Menurut Muhammad Jaruki dari Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Dadendate telah berkembang di Desa Taripa sejak sekitar tahun 1714 atau awal abad ke-18.

Pada awalnya, Dadendate bukanlah nyanyian, melainkan alat berbentuk perahu kecil untuk meluapkan kerinduan berlayar ke laut. Seiring waktu, ia berkembang menjadi kesenian lisan berbalas pantun yang diiringi kecapi, gimba kodi, mbasi-mbasi, yori, dan pare’e, serta dipentaskan dalam pesta panen, perkawinan, khitanan, selamatan, dan hari-hari besar.

Pertunjukan Dadendate awalnya menggunakan vokal tunggal, kemudian diperkaya dengan kecapi dan mbasi-mbasi. Kini, bentuk pertunjukannya umumnya melibatkan tiga pemain kecapi—dua laki-laki dan satu perempuan sebagai vokalis—serta satu pemain mbasi-mbasi, dengan repertoar seperti Andi Anona, Dadendate, Andi-andi, Inalele, Tabe la laindo, dan I Gani.

Keunikan Dadendate terletak pada syairnya yang dilantunkan secara spontan dan puitis tanpa naskah, mengandalkan improvisasi pelantun dalam bahasa Kaili subetnik Rai, dengan tema sejarah, silsilah, perjuangan, hingga romantisme. Meski telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Kemendikbud RI pada tahun 2015, keberadaan Dadendate kini semakin terdesak oleh arus hiburan modern dan perubahan zaman.

Setelah berakhirnya Musu Selleng pada awal abad ke-17 perang pengislaman yang berlangsung hampir dua dekade dan menjadi ...
25/12/2025

Setelah berakhirnya Musu Selleng pada awal abad ke-17 perang pengislaman yang berlangsung hampir dua dekade dan menjadi titik penting penerimaan Islam di Kerajaan Bone, La Maddaremmeng (1625–1643 M) naik takhta sebagai Arumpone ke-13 pada tahun 1625 M, menggantikan pamannya, La Tenripale, yang memerintah selama lima belas tahun. dan berbagai sumber Lontara menggambarkannya sebagai pemimpin dengan semangat keagamaan yang sangat kuat (Masse Magama), sejalan dengan menguatnya atmosfer religius di Bone saat itu.
Bernama Islam sebagai Sultan Muhammad Shaleh, La Maddaremmeng berupaya menerapkan syariat Islam secara lebih ketat. Salah satu kebijakan paling monumental yang ia dorong adalah penghapusan perbudakan, sebuah praktik yang telah lama mengakar di kalangan bangsawan Bone. Perdagangan budak ketika itu meningkat seiring berkembangnya produksi pertanian dan hasil laut, dan kebanyakan budak berasal dari daerah pegunungan yang masih menganut animisme, lalu dibawa ke wilayah dataran rendah yang telah memeluk Islam.
Kondisi tersebut membuat La Maddaremmeng geram karena bertentangan dengan ajaran Islam. Setelah naik takhta, ia menetapkan bahwa seluruh hamba sahaya di Kerajaan Bone harus dimerdekakan. Namun kebijakan radikal ini memicu gejolak besar. Para bangsawan, pejabat kerajaan, bahkan rakyat biasa menolak karena perbudakan telah lama menjadi bagian penting struktur sosial dan ekonomi. Penolakan paling keras datang dari lingkaran terdekatnya sendiri, termasuk ibunya, We Tenri Soloreng bergelar Makkalarue, yang memiliki ratusan budak.
Sultan Malikussaid, Raja Gowa ke-15, atas permintaan We Tenrisoleng, berulang kali mencoba mengajak La Maddaremmeng berdialog untuk mempertimbangkan ulang kebijakannya. Namun tekad sang Arumpone tetap teguh. Ia memegang prinsip dan menegakkan aturan secara tegas tanpa pandang bulu, demi menunaikan nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan dalam Islam.
Ketegangan mencapai puncaknya pada tahun 1640 ketika La Maddaremmeng menyerang Pattiro untuk mematahkan perlawanan kaum bangsawan reaksioner.

Lanjut di kolom komentar ‼️👇

24/12/2025

RAMBU SOLO : Gerbang Menuju Alam Roh “PUYA”

Suku Toraja memang dikenal memiliki kebudayaan yang sangat unik dan beragam. Salah satu contohnya adalah Rambu Solo yakni upacara pemakaman adat yang sudah dilakukan sejak abad ke-9. Rambu Solo adalah upacara pemakaman yang mewajibkan keluarga almarhum membuat sebuah pesta sebagai tanda penghormatan terakhir pada mendiang yang telah pergi. Upacara Rambu Solo adalah ritual yang dilakukan ketika matahari turun. Upacara ini memerlukan biaya yang sangat besar. Pada pesta kematian Rambu Solo dilakukan pemotongan ternak kerbau
yang tidak sedikit. Biaya yang tinggi tersebut disebabkan oleh banyaknya kerbau dan babi yang dikorbankan dan lamanya upacara dilaksanakan. Pemberian babi atau kerbau kepada keluarga yang ditinggalkan sebagai wujud ikatan kekeluargaan. Lama upacara Rambu Solo sekitar 3–7 hari. Upacara ini merupakan sebuah transaksi ekonomi raksasa yang melibatkan dan memberi keuntungan bagi banyak pihak. Rambu Solo merupakan upacara yang bertujuan untuk menghormati dan menghantarkan arwah seseorang yang telah meninggal menuju alam roh. Masyarakat setempat menyebutnya Puya.

Jatuhnya Imperium Besar Kerajaan Gowa pada masa Sultan Hasanuddin meninggalkan berbagai situs sejarah yang masih dapat d...
22/12/2025

Jatuhnya Imperium Besar Kerajaan Gowa pada masa Sultan Hasanuddin meninggalkan berbagai situs sejarah yang masih dapat disaksikan hingga kini. Kekayaan sejarah dan budaya Kabupaten Gowa tercermin dari peninggalan Kerajaan Gowa yang menggambarkan kejayaan dan kekuatannya sebagai kerajaan maritim. Warisan tersebut meliputi Benteng Rotterdam, Istana Raja Gowa di Sungguminasa (Museum Balla Lompoa), kompleks makam-makam tua di Bulutana, Kompleks Makam Sultan Hasanuddin, makam Paccallaya pertama, Bungung Barania, Bungung Lompoa, dan Bungung Bissua.
David Bulbeck, peneliti arkeologi Sulawesi Selatan sejak 1980-an, mencatat bahwa di kawasan Benteng Kale Gowa terdapat puluhan situs yang telah ada sejak masa prasejarah. Menurut Bulbeck (1992) terdapat 43 situs di 12 wilayah pemukiman, sementara Perdana (2006) mengidentifikasi 35 situs berdasarkan kajian pola pemukiman makro.
Di antara peninggalan tersebut, tiga Bungung (sumur) memiliki kedudukan penting sebagai mata air suci kerajaan, yakni Bungung Lompoa, Bungung Barania, dan Bungung Bissua. Ketiganya tidak hanya berfungsi sebagai sumber air, salah satunya Bungung Lompoa juga digunakan dalam ritual pencucian benda pusaka kerajaan “Accera’ Kalompoang”
Bungung Lompoa terletak sekitar 50 meter di barat Kompleks Makam Sultan Hasanuddin, Desa Lakiung, Kelurahan Katangka, Kecamatan Somba Opu. Dalam disertasi Bulbeck (1992), Bungung Lompoa diketahui berada di kawasan pemukiman Datak Toa, yang merupakan nama awal Kompleks Katangka. Sumur ini telah ada sejak masa Raja Gowa pertama, Tumanurung Bainea, dan menjadi sumber kehidupan kerajaan hingga masa Sultan Abdul Jalil. ada masa tersebut, Bungung Lompoa dimanfaatkan oleh seluruh masyarakat Benteng Kale Gowa, baik kalangan istana maupun rakyat biasa, namun tidak diperbolehkan digunakan oleh kaum Bissu. Bungung Lompoa berperan penting dalam ritual Alleka Je’ne pada upacara Accera Kalompoang, di mana airnya digunakan khusus untuk mencuci pusaka Kerajaan Gowa.

Lanjut kolom komentar‼️👇

Mappogau Sihanua merupakan salah satu upacara adat paling penting bagi masyarakat Karampuang di Sinjai. Ritual tahunan i...
20/12/2025

Mappogau Sihanua merupakan salah satu upacara adat paling penting bagi masyarakat Karampuang di Sinjai. Ritual tahunan ini dilaksanakan sebagai bentuk syukur kepada Tuhan sekaligus sebagai ikhtiar untuk menolak bencana dan menjaga keseimbangan alam. Pelaksanaannya selalu bertepatan dengan musim panen atau menjelang masa tanam, sehingga sangat terkait dengan kehidupan agraris masyarakat setempat.
Sebagai pesta adat terbesar di Karampuang, Mappogau Sihanua senantiasa menyedot perhatian ratusan hingga ribuan pengunjung. Upacara kuno ini sangat kental dengan mitos Tomanurung dan kisah-kisah sakral yang menyertai perjalanan budaya pertanian leluhur. Tradisi megalitik masih dipertahankan, terlihat dari penggunaan benda-benda serta bahan tradisional sebagai perlengkapan ritual dan sesaji, menjadikan upacara ini sebagai jejak hidup dari warisan budaya yang dijaga turun-temurun.
Sehari sebelum berlangsungnya upacara, warga mendatangi rumah adat untuk menyerahkan sumbangan berupa beras, ayam, dan berbagai perlengkapan ritual lainnya. Mereka datang secara pribadi dan selalu ditemani oleh pinati, sesuai tata adat yang diwariskan leluhur. Dalam tradisi Karampuang tersimpan pesan suci: “Mappogau Sihanua Arungnge, Mabbissa Lompui GellaE, Makkaharui SanroE, Mattula Bala GuruE,” sebuah ungkapan yang menegaskan pembagian tanggung jawab adat bahwa Tomatoa/Arung memegang peran dalam ritual yang bersifat sakral dan berkaitan dengan dewata, sedangkan Gella bertanggung jawab terhadap ritual yang menyangkut tanah, pertanian, dan kehidupan rakyat.
Nama upacara ini berasal dari kata Mappogau yang berarti pesta dan Sihanua yang berarti satu kampung, menggambarkan sebuah perayaan besar yang menyatukan seluruh masyarakat Karampuang. Prosesi dimulai dengan Mabbahang atau musyawarah adat, dilanjutkan Mappaota sebagai permohonan izin dan restu kepada leluhur, kemudian Mabbaja-baja untuk pembersihan, dan Mappaenre sebagai penyerahan sumbangan masyarakat.

Lanjut kolom komentar‼️👇

Bone, yang dikenal sebagai Bumi Arung Palakka, merupakan salah satu kerajaan besar di Sulawesi Selatan yang memiliki kek...
18/12/2025

Bone, yang dikenal sebagai Bumi Arung Palakka, merupakan salah satu kerajaan besar di Sulawesi Selatan yang memiliki kekayaan seni tari tradisional, di antaranya Pajaga Andi Makkunrai, Pajoge Makkunrai, Pajoge Angkong, dan Pajaga Welado. Kesenian ini tumbuh dan mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Bone, menjadi bagian penting dari identitas budaya daerah.
Asal-usul Tari Pajaga Welado berawal pada masa pemerintahan Raja Bone ke-7, La Tenrirawe RibongkangE Matinroe Ri Guccinna (1560–1564). Pada masa ini, para Patudang (pengurus istana) membentuk pasukan penjaga khusus kerajaan yang disebut Pajaga. Pembentukan pasukan ini merupakan pemenuhan permintaan We Tenri Pakkiyu Arung Timurung, Raja dari Timur yang hendak memasuki Kerajaan Bone. Pasukan Pajaga bertugas melindungi dan menjaga keselamatan raja siang dan malam, dan sistem penjagaan ini terus dipertahankan oleh raja-raja Bone pada masa berikutnya.
Para prajurit dari Timurung yang bertugas menjaga istana kemudian berinisiatif menciptakan hiburan untuk mengatasi kejenuhan saat berjaga. Dari inisiatif inilah lahir gerak-gerak dasar yang menjadi cikal bakal tari Pajaga.
Perkembangan penting terjadi sekitar 300 tahun kemudian, pada masa pemerintahan Ratu Bone We Fatimah Banri Datu Citta Matinroe Ri Bolompare’na (1871–1895), seorang pemimpin yang dikenal memiliki kepekaan dan bakat seni yang kuat. Ia memerintahkan adiknya, La Pawawoi, panglima atau dulung Ajangale saat itu, untuk memilih laki-laki terbaik sebagai pengawal istana. La Pawawoi kemudian menunjuk sekelompok lelaki dari wilayah Welado yang dinilai memiliki kemampuan menjaga ratu dengan baik.

Pue Lasadindi, yang lebih dikenal dengan sebutan Mangge Rante, merupakan seorang ulama kharismatik sekaligus pejuang tan...
15/12/2025

Pue Lasadindi, yang lebih dikenal dengan sebutan Mangge Rante, merupakan seorang ulama kharismatik sekaligus pejuang tangguh dari Tanah Kaili, Sulawesi Tengah. Lahir sekitar tahun 1828, ia dikenal luas karena kebijaksanaan, kedalaman ilmu, keberanian, serta keajaiban yang menyertai perjuangannya melawan penjajah Belanda.
Dalam tradisi lisan masyarakat Kaili, Pue Lasadindi digambarkan sebagai Ulama yang memiliki karamah, yakni kekuatan spiritual yang diyakini berasal dari perlindungan Ilahi. Ia berkali-kali ditangkap dan dipenjara oleh pihak kolonial, namun selalu berhasil meloloskan diri dengan cara yang sulit dijelaskan secara logika. Karena sering dirantai namun selalu bebas tanpa bekas, masyarakat menjulukinya Mangge Rante, yang berarti “paman yang dirantai.”
Kisah kesaktiannya menyebar luas di kalangan masyarakat Bumi Tadulako, dari pesisir Donggala, hingga Lembah Palu dan Kabupaten Sigi. Cerita-cerita tentang perjuangan dan karamahnya diwariskan secara turun-temurun, menjadi bagian penting dari identitas spiritual dan sejarah masyarakat Sulawesi Tengah.
Selain sebagai pejuang, Pue Lasadindi juga dikenal sebagai seorang pendidik dan ulama yang menanamkan semangat cinta tanah air melalui ajaran Islam yang berjiwa perjuangan. Ia mengajarkan nilai-nilai moral dan keagamaan kepada murid-muridnya, sekaligus menumbuhkan kesadaran akan pentingnya kebebasan dari penjajahan. Pada tahun 1917, ia bergabung dengan organisasi Sarekat Islam (SI) sebagai wujud komitmennya memperjuangkan kemerdekaan melalui jalur dakwah dan politik.
Dalam perjalanan hidupnya, Pue Lasadindi turut berperan dalam berbagai perlawanan besar melawan kolonial Belanda, di antaranya Perang Kayumalue (1888) dan Perang Malonda (1902), serta sejumlah pertempuran lainnya. Di samping sebagai pejuang perlawanan, ia juga dikenal sebagai guru spiritual yang mengajarkan berbagai ajaran tradisi dan nilai-nilai kehidupan, seperti Pangaji Tonji, Kana Maavali, dan Tau Nggomi, yang menuntun masyarakat menuju keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat.

Tongkonan adalah rumah adat suku Toraja yang berarti tempat duduk (tongkon = duduk). Bentuknya rumah panggung persegi pa...
10/12/2025

Tongkonan adalah rumah adat suku Toraja yang berarti tempat duduk (tongkon = duduk). Bentuknya rumah panggung persegi panjang dengan tiga struktur utama: kaki (alam bawah), badan (alam manusia), dan atap (alam atas). Makna ini berakar pada ajaran Aluk Todolo, yang menempatkan kehidupan sebagai harmoni antara tiga lapisan alam.
Perkembangan arsitektur Tongkonan melalui empat tahap:
Banua Pandoko Dena (bentuk awal berdinding daun), Banua Lenton (empat tiang), Banua Tamben (susunan kayu berselang-seling), dan Banua Tolo (menggunakan pasak besar). Bangunannya dibuat dari kayu uru, beratap bambu mirip perahu, dan selalu menghadap utara, arah Puang Matua—sebagai simbol penghormatan kepada Sang Pencipta.

Struktur ruang dalam juga penuh makna: Sumbung di selatan untuk kepala keluarga, Sali di tengah sebagai ruang berkumpul, dapur, sekaligus tempat jenazah sebelum disemayamkan, serta Tengalok di utara sebagai ruang tamu, sesaji, dan tempat tidur anak. Tongkonan dihiasi ukiran khas Toraja yang mencerminkan status sosial dan marga pemiliknya, karena Tongkonan adalah pusat kehidupan komunal, martabat keluarga, dan identitas orang Toraja.

Dalam sejarah adat, Tongkonan terbagi menjadi Tongkonan Layuk sebagai pusat kekuasaan dan perintah adat, Tongkonan Pekaindoran/Kaparengngesan sebagai pusat pemerintahan adat wilayah, dan Tongkonan Batu A’riri sebagai pengikat persatuan serta warisan keluarga.

Namun, Warisan penuh makna ini mengalami luka pada Jum’at, 5 Desember 2025 lalu Di Tongkonan Ka’pun, Kelurahan Ratte Kurra, Kecamatan Kurra, Tana Toraja, terjadi pembongkaran lahan adat yang mengakibatkan 6 alang (lumbung padi), 3 Tongkonan salah satunya berusia lebih dari 300 tahun—dan 2 rumah semi permanen diratakan dengan alat berat. Ribuan warga dan keturunan menyaksikan dengan duka: yang runtuh bukan hanya bangunan kayu, tetapi ruang ritual, memori leluhur, dan ikatan keluarga yang telah diwariskan turun-temurun. Tokoh adat menilai pendekatan hukum formal yang mengabaikan nilai historis dan kultural adalah bentuk ketidakadilan serta pelecehan terhadap warisan leluhur.

Di balik tebing karst menjulang di kawasan Leang-Leang, Maros, tersembunyi jejak peradaban purba yang akhirnya terungkap...
07/12/2025

Di balik tebing karst menjulang di kawasan Leang-Leang, Maros, tersembunyi jejak peradaban purba yang akhirnya terungkap. Pada dinding dan langit-langit gua cadas, tampak lukisan bercorak merah yang menggambarkan babi hutan, manusia pemburu, dan adegan naratif lainnya seni prasejarah yang menjadi saksi perjalanan manusia lebih dari 51.000 tahun silam.

Lukisan di Leang Karampuang, Maros, berupa seekor babi dan tiga figur manusia diperkirakan berusia 51.200 tahun, menjadikannya karya seni figuratif tertua di dunia. Temuan ini mematahkan Rekor sebelumnya adalah sebuah lukisan figuratif berusia 45.500 tahun. Lukisan menggambarkan babi kutil (Sus celebensis), di Leang Tedonge, Pangkep, Sulawesi Selatan.

Adhi Agus Oktaviana dari Pusat Riset Arkeometri BRIN menjelaskan bahwa penanggalan ulang dilakukan dengan mengambil sampel kapur dari delapan titik di dua lokasi tersebut. Analisis dilakukan menggunakan peralatan khusus di laboratorium Southern Cross University, Australia, hingga akhirnya usia lukisan di Leang Karampuang terkonfirmasi sebagai yang tertua.

Penemuan ini mengguncang peta ilmu arkeologi dunia: lima puluh ribu tahun lalu, manusia bukan hanya sekadar berkomunikasi, tetapi sudah mampu bercerita melalui gambar, menyusun adegan dan narasi visual.

Mengutip jurnal Nature, Alistair Pike dari Universitas Southampton menilai, sapuan gambar di Indonesia tampak seperti guratan kuas, berbeda dengan lukisan kuno di Eropa yang cenderung seperti coretan jari. Selain usianya yang lebih tua, karya seni cadas Sulawesi juga dinilai lebih kompleks dan sarat simbolisme.

Kajao Lalliddong adalah gelar yang diberikan Raja Bone kepada La Mellong (1507–1586), seorang pemikir besar dari kampung...
06/12/2025

Kajao Lalliddong adalah gelar yang diberikan Raja Bone kepada La Mellong (1507–1586), seorang pemikir besar dari kampung Lalliddong. Ia menjadi tokoh intelektual utama Kerajaan Bone pada abad ke-16, terutama di masa Raja Bone VI La Uliyo Bote’E (1543–1568) dan Raja Bone VII La Tenri Rawe BongkangngE (1568–1584). Di era ini Bone berkembang pesat berkat kebijaksanaan dan gagasan pemerintahan yang ia rumuskan.
Sebelum dikenal sebagai penasihat kerajaan, La Mellong adalah pemuda cerdas yang kemudian diberi gelar La Mellong Tosuwalle Tautongeng Maccae ri Lalliddong. Sejak itu ia menjadi penasihat, juru bicara, diplomat, hingga “ahli nujum istana”, yang kewibawaannya digambarkan sebagai kekuatan Bone “di ujung lidah seorang Kajao”.
Dalam diplomasi, ia menata hubungan politik dengan Wajo, Soppeng, dan Sidenreng, serta menggagas konsep persatuan Sempugi melalui perjanjian Lamumpatue ri Timurung, demi mencegah perang antar kerajaan dan memperkuat keamanan dari ancaman luar.
Seluruh pemikirannya dihimpun dalam Lontara, yang mencakup tiga aspek penting: pendidikan, sosial, dan politik-ketatanegaraan. Dalam aspek pendidikan, ia menekankan sembilan nilai utama: lempue, ade’, siri’e, awaraningeng, acca, assitinajang, getteng, reso, dan appesona ri Dewata Seuwae. Sementara pada aspek politik ia merumuskan sistem Pangngadereng yang menjadi dasar hukum Bone, terdiri atas Ade’ (aturan hidup masyarakat), Bicara (peradilan adil), Rapang (perbandingan keputusan terdahulu maupun negeri lain), dan Wari (batas kewenangan, hak, dan kewajiban).
Ajaran politiknya yang terkenal berbunyi:
“Luka taro arung telluka taro ade, luka taro ade telluka taro anang”,
yang menegaskan bahwa keputusan raja bisa dibatalkan dewan adat, dan keputusan adat pun dapat dibatalkan oleh suara rakyat banyak. Pemikirannya menempatkan kekuasaan sebagai amanah, bukan alat memaksa berbanding terbalik dengan filsuf Italia sezamannya, Niccolò Machiavelli, yang mengutamakan kekuasaan di atas etika.

Perahu-perahu bercadik dengan layar tinggi mengarungi Laut Mandar, bentuknya ramping layar segitiganya khas, menandakan ...
03/12/2025

Perahu-perahu bercadik dengan layar tinggi mengarungi Laut Mandar, bentuknya ramping layar segitiganya khas, menandakan bahwa ini bukan perahu modern, melainkan perahu tradisional suku Mandar yang dikenal sebagai lopi sandeq. Suku Mandar, penghuni pesisir Sulawesi Barat, telah lama dikenal sebagai pelaut ulung. Dalam The Bugis, Christian Pelras menyebut keunggulan mereka bukan pada teknologi canggih, tetapi pada kemampuan mengembangkan alat perikanan lokal seperti rumpon (roppong) dan perahu sandeq.
Sandeq merupakan hasil evolusi panjang dari perahu-perahu terdahulu seperti baqgo, palari, lambo, dan pakur yang digunakan masyarakat Mandar untuk berlayar dan menangkap ikan. Di antara semuanya, pakur dianggap sebagai cikal bakal sandeq dan merupakan warisan nenek moyang Austronesia. Pakur memiliki cadik, layar tanjaq berbentuk segi empat, serta badan yang lebih lebar. Dahulu perahu ini digunakan untuk mengangkut kopra dari Mandar ke Pulau Jawa, namun layar tanjaq membuatnya kurang lincah di lautan.
Setelah para pelaut Mandar berinteraksi dengan kapal-kapal di Makassar, Surabaya, hingga Tumasik (Singapura), mereka mulai meninggalkan pakur. Terinspirasi oleh layar segitiga Eropa, seperti dijelaskan dalam buku Muhammad Ridwan Alimuddin dalam Sandeq: Perahu Tercepat Nusantara, para pembuat perahu Mandar mengembangkan bentuk layar baru yang kemudian melahirkan sandeq perahu yang lebih cepat dan efisien.
Menariknya, ketika seorang peneliti Jepang berupaya menelusuri penyebaran manusia melalui jalur laut, ia justru memilih pakur dan Jomon sebagai perahu khas Mandar yang mewakili tradisi paling tua—bahkan lebih khas daripada sandeq itu sendiri. Kini, pakur telah punah di tanah Mandar, meski bangkainya masih dapat ditemukan di beberapa tempat. Di Desa Manjopai’, Kecamatan Tinambung (Polman), bangkai pakur masih memiliki dek dan baratang, sementara di Desa Luwaor, Kecamatan Pamboang (Majene), yang tersisa hanya bagian balakang berupa kayu gelondongan yang dikeruk.

Address

Jln. Usman Salengke Kav. A No. 1-2
Makassar
921111

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Mitologi Bumi Sulawesi posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Mitologi Bumi Sulawesi:

Share