Mitologi Bumi Sulawesi

Mitologi Bumi Sulawesi YAYASAN BUDAYA BUGIS MAKASSAR

Al-Qur’an tua tulisan tangan yang tersimpan di Masjid Nur Yaqin, Pulau Barrang Lompo, menjadi salah satu peninggalan sej...
26/05/2026

Al-Qur’an tua tulisan tangan yang tersimpan di Masjid Nur Yaqin, Pulau Barrang Lompo, menjadi salah satu peninggalan sejarah Islam paling berharga di kawasan tersebut. Masjid ini berada tepat di samping Makam Syech Alwi Bin Abdullah Bin Ahmad Syarif Assegaf, seorang tokoh Sayyid yang sangat dihormati masyarakat dan lebih dikenal dengan sebutan Tuan Karama’.

Pulau Barrang Lompo sendiri dikenal sebagai salah satu wilayah yang memiliki jejak kuat keturunan Nabi dan para Sayyid. Di p**au ini terdapat beberapa makam tua para ulama dan tokoh penyebar Islam, termasuk makam Syech Alwi Bin Abdullah Bin Ahmad Syarif Assegaf serta sebuah makam tua lain yang hingga kini belum diketahui secara pasti identitasnya.

Menurut informasi masyarakat dan keturunan Sayyid di Barrang Lompo, Syech Alwi Bin Abdullah Bin Ahmad Syarif Assegaf pernah menjadi M***i Kerajaan Gowa, meskipun belum diketahui secara pasti masa jabatannya. Beliau datang ke Makassar pada tahun 1683 M, pada masa pemerintahan Sultan Abdul Jalil Imappadulung Karaeng Sanro Bone. Dalam perjalanan hidupnya, beliau kemudian menikah dengan putri Raja Gowa pada masa itu, sehingga memiliki hubungan erat dengan lingkungan kerajaan.

Salah satu warisan penting yang masih terjaga hingga sekarang adalah Al-Qur’an tulisan tangan peninggalan beliau yang disimpan di Masjid Nur Yaqin. Mushaf kuno tersebut diyakini ditulis langsung oleh Syech Alwi Bin Abdullah Bin Ahmad Syarif Assegaf dan menjadi bukti perkembangan Islam serta tradisi keilmuan di Pulau Barrang Lompo pada masa lampau.

Sayyid Alwi Bin Abdullah Bin Ahmad Syarif Assegaf wafat pada tahun 1717 M. Berdasarkan usia peninggalannya, Al-Qur’an tulisan tangan tersebut diperkirakan telah berumur lebih dari 300 tahun. Keberadaannya menjadikan Masjid Nur Yaqin dan kawasan makam di Pulau Barrang Lompo sebagai salah satu situs sejarah Islam yang memiliki nilai budaya, religi, dan sejarah yang sangat penting di Makassar.

Ritual Mallekke’ Toja, yang berarti pengambilan air untuk pensucian, merupakan bagian penting dalam rangkaian pembersiha...
26/05/2026

Ritual Mallekke’ Toja, yang berarti pengambilan air untuk pensucian, merupakan bagian penting dalam rangkaian pembersihan benda pusaka Arajang sebelum pelaksanaan Mattompang Arajang. Tradisi ini menjadi tahap awal untuk mempersiapkan benda-benda pusaka Kerajaan Bone agar berada dalam kondisi terbaik sebelum memasuki prosesi inti.

Dalam pelaksanaannya, Mallekke Uwwai dilakukan dengan mengambil air dari sejumlah sumur bersejarah di wilayah Kota Watampone, seperti Sumur Lacokkong, Sumur Bubung Itello, Sumur Bubung Parani, Sumur Lagaruang di Bukaka, serta Sumur Pabbaeani di Toro. Air dari sumur-sumur tersebut kemudian disatukan dalam satu wadah untuk digunakan dalam proses pembersihan benda pusaka kerajaan sebelum ditompang dan disossoro.

Pelaksanaan ritual ini dipercayakan kepada orang-orang yang ditunjuk oleh Dewan Adat, yang dahulu dijalankan oleh para Bissu. Biasanya, prosesi melibatkan tujuh orang yang bertugas mengambil air dari sumur-sumur bersejarah sambil diiringi irama Bali Sumange, bunyi gendang khas Kerajaan Bone yang menambah kekhidmatan suasana.

Tradisi pembersihan benda pusaka Kerajaan Bone kerap dianggap sebagai bid’ah oleh sebagian orang. Padahal, ritual tersebut sejatinya merupakan bagian dari warisan budaya leluhur yang memiliki nilai sejarah dan patut dilestarikan.

Salah satu momen penting dalam Malekke Uwai atau Malekke Toja adalah prosesi pengambilan air di sumur yang melibatkan beberapa Bissu. Sebelum prosesi dimulai, terlebih dahulu dilaksanakan Massimang sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi lama. Dalam kegiatan ini, masyarakat membawa makanan sesaji sehari-hari yang pada masa lampau dipersembahkan kepada raja, dan kini dimaknai sebagai upaya menjaga warisan adat dan budaya.

Leang Metanduno Pecahkan Sejarah DuniaDi kedalaman Leang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, ditemukan cap tangan ...
25/05/2026

Leang Metanduno Pecahkan Sejarah Dunia

Di kedalaman Leang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, ditemukan cap tangan merah purba yang kini tercatat sebagai seni cadas tertua di dunia. Berdasarkan penanggalan isotop uranium, lukisan tersebut diperkirakan berusia sekitar 67.800 tahun — lebih tua sekitar 1.100 tahun dibanding temuan serupa di Spanyol yang sebelumnya dianggap tertua.

Temuan ini semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat penting seni prasejarah dunia, melengkapi kawasan terkenal seperti Maros–Pangkep di Sulawesi Selatan dan Sangkulirang–Mangkalihat di Kalimantan Timur.

Leang Metanduno juga mencatat sejumlah rekor penting dalam sejarah seni manusia. Cap tangan non-figuratif tertua di dunia diperkirakan berusia ±67.800 tahun, sementara lukisan storytelling tertua diperkirakan berusia ±51.000 tahun. Selain itu, adegan berburu tertua atau hunting scene juga berasal dari kawasan ini dengan usia sekitar ±48.000 tahun.

Penelitian ini merupakan kolaborasi BRIN, Griffith University, dan Southern Cross University. Menariknya, cap tangan tertua berada jauh di bagian dalam gua, sedangkan lukisan di dekat mulut gua berasal dari periode yang lebih muda.

Guinness World Records Catat sebagai Lukisan Tertua di Dunia

Pada 19 Mei 2026, Guinness World Records resmi menetapkan Leang Metanduno sebagai lokasi cap tangan manusia tertua di dunia. Namun di balik nilai sejarahnya yang luar biasa, situs ini juga menghadapi tantangan konservasi. Paparan panas tubuh pengunjung serta uap udara di dalam gua berpotensi mempercepat kerusakan pada permukaan dinding dan lukisan cadas yang telah bertahan selama puluhan ribu tahun.

Siti Aisyah We Tenriolle adalah tokoh emansipasi perempuan dari suku Bugis, Tanete, Sulawesi Selatan. Ia merupakan Datu ...
21/04/2026

Siti Aisyah We Tenriolle adalah tokoh emansipasi perempuan dari suku Bugis, Tanete, Sulawesi Selatan. Ia merupakan Datu (Ratu) Kerajaan Tanete yang dikenal berkat perannya menerjemahkan epos La Galigo dari bahasa Bugis kuno ke bahasa Bugis umum, hingga membuat Tanete dikenal sampai Eropa.

Putri dari bangsawan La Tunampare’ (To Apatorang) dan Colliq Poedjie ini sempat mendapat penolakan saat naik takhta. Namun, atas kehendak La Rumpang, ia tetap memimpin. Kecintaannya pada sastra mendorongnya mengumpulkan dan merawat naskah-naskah La Galigo dari berbagai kerajaan seperti Goa, Tallo, dan Bone, bahkan menelitinya selama sekitar 20 tahun.

Di bidang pendidikan, Siti Aisyah We Tenriolle menunjukkan visi yang melampaui zamannya. Pada tahun 1908, ia mendirikan sekolah rakyat dengan sistem pendidikan modern yang terbuka bagi semua kalangan, baik perempuan maupun laki-laki, tanpa diskriminasi ekonomi, sosial, maupun gender. Menariknya, sekolah ini berdiri tanpa bantuan dari pemerintah kolonial Belanda.

Dalam narasi sejarah Indonesia, nama Kartini kerap menjadi simbol emansipasi perempuan. Namun, semangat itu tidak hanya tumbuh di tanah Jawa. Sulawesi juga memiliki “Kartini-Kartini”-nya sendiri—perempuan tangguh yang berjuang dalam sunyi, membangun peradaban dari daerahnya. Siti Aisyah We Tenriolle adalah salah satunya: sosok pemimpin yang tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga memperjuangkan pendidikan modern bagi rakyatnya di tengah keterbatasan dan tekanan masa penjajahan.

Ia wafat pada tahun 1919 di Pancana, Tanete ri Lau, dan dikenang sebagai sosok perempuan visioner yang memperjuangkan ilmu, budaya, dan kesetaraan.

Musik Pakacaping adalah salah satu kesenian tradisional dari Kabupaten Gowa yang sudah ada sejak lama dan terus diwarisk...
16/04/2026

Musik Pakacaping adalah salah satu kesenian tradisional dari Kabupaten Gowa yang sudah ada sejak lama dan terus diwariskan dari generasi ke generasi. Dulu, musik ini lebih sering dimainkan untuk hiburan pribadi Para Pelaut ulung suku Makassar untuk sekadar menghibur diri di tengah laut. Namun seiring waktu, Pakacaping mulai berkembang dan kini sering ditampilkan dalam berbagai acara adat maupun pesta di tengah masyarakat.

Pakacaping sendiri merupakan perpaduan antara musik dan vokal. Bisa dimainkan oleh satu orang, tapi juga sering dibawakan berpasangan. Dalam pertunjukannya, pemain memainkan alat musik yang disebut kacaping (kecapi), sambil menyanyikan kelong atau syair lagu. Menariknya, syair ini biasanya dibawakan secara saling berbalasan atau yang dikenal dengan istilah sibali-bali.

Kalau dilihat dari namanya, “pakacaping” punya arti sederhana: “pa” berarti pemain, dan “kacaping” adalah alat musiknya. Jadi, pakacaping bisa diartikan sebagai pemain kecapi.

Untuk membuat alat kacaping, biasanya digunakan kayu dari pohon maja (poko’ bilah). Kayu ini dipilih karena mudah dibentuk dan dipahat, serta bisa menghasilkan suara yang jernih dan nyaring. Sebelum digunakan, kayu yang sudah dipotong biasanya dijemur dulu di bawah sinar matahari supaya kering dan siap diolah.

Musik Pakacaping tidak hanya dikenal di kalangan masyarakat Makassar saja, tapi juga di beberapa etnis lain di Sulawesi Selatan, seperti Bugis, Mandar, dan Toraja. Konon, kesenian ini berasal dari leluhur yang sama, yaitu pelaut Bugis-Makassar. Walaupun begitu, tiap daerah tetap punya ciri khasnya masing-masing dalam memainkan dan mengembangkan Pakacaping.

Di Gowa sendiri, khususnya di masyarakat Makassar, Pakacaping masih terus hidup dan berkembang. Sampai sekarang, musik ini tetap jadi bagian dari hiburan tradisional yang sering hadir dalam berbagai acara dan keramaian masyarakat.

Masjid Besar Taqwa Tompong berdiri di Dusun Tompong, Kelurahan Letta, Kecamatan Bantaeng, Kabupaten Bantaeng. Masjid ini...
21/03/2026

Masjid Besar Taqwa Tompong berdiri di Dusun Tompong, Kelurahan Letta, Kecamatan Bantaeng, Kabupaten Bantaeng. Masjid ini dibangun pada masa pemerintahan Karaeng Panawang, Raja Bantaeng ke-29 yang berkuasa antara tahun 1877 hingga 1913. Gagasan pendiriannya datang dari La Bandu, seorang saudagar kaya asal Wajo yang memiliki ikatan keluarga dengan masyarakat Bantaeng.

Setelah memperoleh restu dari sang raja, pembangunan masjid pun dimulai dengan melibatkan seorang arsitek bernama La Pangewa bersama seorang tukang ahli dari Kerajaan Bone. Proses pembangunannya berlangsung dari 11 Maret 1885 hingga selesai pada tahun 1887.

Secara arsitektur, masjid ini memiliki atap bertingkat tiga yang sarat makna, melambangkan akidah, syariat, dan akhlak sebagai fondasi utama dalam kehidupan seorang muslim. Di bagian puncaknya terdapat sebuah guci kuno peninggalan Dinasti Ming (1368–1644), menambah nilai historis yang unik. Masjid ini juga dilengkapi lima pintu dan enam jendela yang merepresentasikan rukun Islam dan rukun iman.

Struktur bangunannya ditopang oleh empat tiang utama atau soko guru di bagian tengah, masing-masing berukuran 80 x 80 cm, yang menjadi penyangga utama atap.

Keunikan lainnya terlihat pada langit-langit masjid yang dihiasi 17 elemen kayu, sebagai simbol jumlah rakaat dalam salat wajib. Di bagian dalam, terdapat mimbar berbahan kayu merbau yang dihiasi ukiran kaligrafi dan relief yang dibuat di Singapura.

Tak hanya itu, masjid ini juga menyimpan Al-Qur’an kuno yang ditulis tangan serta sebuah bedug tua yang memiliki nilai sejarah tinggi, menjadikan Masjid Taqwa Tompong bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga warisan budaya yang sarat makna.

Tedong-Tedong Minanga merupakan situs pemakaman kuno yang berada di Desa Buntu Balla, Mamasa, Sulawesi Barat. Kompleks p...
13/03/2026

Tedong-Tedong Minanga merupakan situs pemakaman kuno yang berada di Desa Buntu Balla, Mamasa, Sulawesi Barat. Kompleks pemakaman ini diperkirakan berusia lebih dari 400 tahun dan dikenal karena bentuk makamnya yang unik. Dalam bahasa Mamasa, tedong berarti kerbau, sehingga makam-makam di sini dibuat dari kayu besar yang diukir menyerupai kerbau.

Di dalam peti kayu tersebut tersimpan tulang-belulang nenek moyang masyarakat Mamasa. Setiap peti dapat menampung lebih dari satu jenazah dan dibuat dari kayu uru, jenis kayu yang dipercaya sangat kuat dan mampu bertahan hingga ratusan tahun.

Di kompleks ini terdapat sebelas makam berbentuk tedong dengan ukuran sekitar tiga meter panjang, satu meter lebar, dan satu setengah meter tinggi. Selain itu terdapat tujuh makam duba-duba, yaitu makam berbentuk silinder panjang dengan bagian dalam dipahat rapi. Kedua bentuk makam ini menunjukkan keterampilan seni pahat leluhur Mamasa serta keyakinan mereka terhadap perjalanan jiwa setelah kematian.

Karena usianya yang sangat tua, sumber tertulis mengenai asal-usul dan filosofi makam ini hampir tidak ditemukan. Informasi yang ada lebih banyak berasal dari penelitian budaya dan cerita lisan masyarakat. Dokumentasi tahun 1998 melalui wawancara J. Demmangapi dengan dua peneliti budaya mencatat beberapa tokoh yang diyakini dimakamkan di tempat ini, seperti Pua’ Bonggapasilong, Pua’ Karua, Papa’ M Bontik, hingga Ambe’ P Upo, tokoh adat yang dikenal sebagai pemimpin, penata hukum adat, sekaligus pemimpin spiritual masyarakat pada masanya.

Pada tahun 1825 M, pada akhir masa pemerintahan I Mappatunru’ I Manginnyarrang Karaeng Lembangparang Sultan Abdul Rauf T...
08/03/2026

Pada tahun 1825 M, pada akhir masa pemerintahan I Mappatunru’ I Manginnyarrang Karaeng Lembangparang Sultan Abdul Rauf Tumenanga ri Katangka (1816–1825), Raja Gowa ke-30, Kerajaan Gowa diguncang sebuah tragedi berdarah. Peristiwa kelam itu dipicu oleh amukan I Mannyenderi Daeng Pasawi, Tu Niposoa Karaeng Bori, setelah Raja Gowa mengingkari janji yang sebelumnya ia buat sendiri.
I Mannyenderi Daeng Pasawi adalah putra I Manrakkai Daeng Labba dan pemimpin Kampung Borisallo, dikenal atas keberanian, ketegasan, serta kontribusinya yang besar bagi Kerajaan Gowa. Tragedi ini bermula ketika Raja Gowa mengirimkan sepucuk surat kepadanya. Isi surat tersebut membuat Daeng Pasawi marah karena mengandung pelanggaran atas kesepakatan dan aturan yang telah ditetapkan raja sendiri.
Setelah membaca surat itu Daeng Pasawi segera menuju Balla Lompoa, kediaman raja. Ia datang dengan amarah yang memuncak hingga menunggang kuda menaiki tangga istana. Sebelum berangkat, para penasehat adat sempat menegurnya agar tidak pergi saat emosi, bahkan mengingatkan bahwa hari itu hari Kamis dianggap sebagai hari yang tidak baik. Namun Daeng Pasawi menjawab singkat dan kesal, “Bukan saya yang menentukan hari,” lalu bersikeras berangkat seorang diri ke istana di Mangasa.
Setibanya di istana, meledaklah pertarungan sengit antara Daeng Pasawi dan ratusan prajurit pilihan Kerajaan Gowa. Pertempuran berlangsung tiga hari tiga malam, dan tak satu pun dari pasukan itu mampu menaklukkannya. Kesaktian Daeng Pasawi menyulitkan siapa pun yang mencoba menghentikannya, sebab ia menguasai ilmu “Mate Tatappuka” dikenal p**a sebagai ajian Rawarontek yang membuatnya kebal terhadap segala jenis senjata tajam. Pemilik ilmu ini hanya dapat dibunuh apabila kepala dipisahkan dari tubuh tanpa menyentuh tanah.
Berbagai cara dilakukan untuk menahan dan menghabisinya: ia ditimpa dan diinjak menggunakan sampang (pagar bambu) hingga kelelahan; ia diladung atau ditenggelamkan namun tubuhnya tetap mengapung; ia ditusuk bambu namun bambu itu patah; bahkan ia dibiarkan lapar selama tujuh hari di bawah terik matahari namun tetap tidak mati.

Lanjut kolom komentar ‼️👇

Benteng Ujung Pandang “Benteng Pannyua” merupakan benteng peninggalan Kerajaan Gowa yang berdiri di pesisir barat Kota M...
01/03/2026

Benteng Ujung Pandang “Benteng Pannyua” merupakan benteng peninggalan Kerajaan Gowa yang berdiri di pesisir barat Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Benteng ini pertama kali dibangun pada tahun 1545 atas perintah Raja Gowa ke-9, Daeng Matanre Karaeng Tumapa’risi’ Kallonna. Pembangunannya menandai kuatnya posisi Gowa sebagai kerajaan maritim yang disegani di Nusantara.

Material penyusunnya didatangkan dari berbagai wilayah di Sulawesi batu dari pegunungan karst Maros, batu kapur dari Selayar, serta kayu dari Tanete dan Bantaeng. Benteng ini memiliki enam bastion, dikelilingi dinding setinggi tujuh meter dan parit sedalam dua meter. Jika dilihat dari atas, bentuknya menyerupai seekor penyu, sehingga dalam bahasa Makassar dikenal sebagai Benteng Pannyua—simbol kejayaan Gowa di darat dan di lautan.

Perjalanan sejarahnya berubah drastis setelah kekalahan Gowa dalam perang melawan VOC. Sultan Hasanuddin dipaksa menandatangani Perjanjian Bungaya pada 18 November 1667. Melalui perjanjian itu, benteng diserahkan kepada VOC untuk diduduki. Namanya kemudian diubah menjadi Benteng Fort Rotterdam, mengikuti nama tempat kelahiran Cornelis J Speelman. VOC membangun ulang benteng ini dengan gaya arsitektur Belanda dan menjadikannya markas komando pertahanan, pusat perdagangan, kediaman pejabat tinggi, sekaligus pusat pemerintahan.

Lanjut kolom komentar 👇

Pada masa kejayaan Kerajaan Gowa pada abad ke-17, Tari Salonreng berfungsi sebagai tarian sakral untuk memuja Batara, pe...
23/02/2026

Pada masa kejayaan Kerajaan Gowa pada abad ke-17, Tari Salonreng berfungsi sebagai tarian sakral untuk memuja Batara, penguasa bumi dan langit, sekaligus sebagai penghormatan kepada arwah leluhur. Tarian ini hanya dipentaskan dalam upacara tertentu, terutama dalam ritual accera’ ase, dan menjadi bagian penting yang tidak dapat dihilangkan.

Sebagai tarian ritual masyarakat Makassar yang diwariskan turun-temurun, Tari Salonreng berkaitan erat dengan tradisi persembahan yang sarat simbol. Tarian ini diyakini sebagai sarana komunikasi spiritual antara Tuhan, manusia, dan leluhur. Secara filosofis, tarian ini berlandaskan konsep appa’ sulapa’, yaitu pandangan hidup masyarakat Makassar tentang keseimbangan unsur kehidupan.

Selain dalam ritual accera’ ase dan attammu taung, Tari Salonreng juga hadir dalam prosesi pernikahan bangsawan pada tahap akkorontigi. Kehadirannya dipercaya membawa keselamatan, kesejahteraan, dan kebahagiaan bagi kehidupan rumah tangga.

Dalam pelaksanaannya, Tari Salonreng dipandang sebagai penghubung antara alam manusia dan alam gaib, yang menjaga keseimbangan antara mikrokosmos dan makrokosmos. Gerak tari sering muncul dari kondisi trans penari yang dipercaya membuka hubungan spiritual.

Tarian ini tersebar di wilayah etnis Makassar seperti Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Bulukumba, dan Kep**auan Selayar. Pada masa Kerajaan Gowa, tarian ini ditarikan oleh empat perempuan dewasa sesuai konsep appa’ sulapa’, sementara di daerah lain biasanya dibawakan oleh remaja putri dengan jumlah genap.

Secara keseluruhan, Tari Salonreng mencerminkan pengikhlasan dan penyerahan diri kepada Sang Pencipta. Keharmonisan gerak, iringan musik, serta suasana ritual menjadikannya bukan sekadar pertunjukan, melainkan bagian dari spiritualitas dan identitas budaya masyarakat Makassar.

Address

Jln. Usman Salengke Kav. A No. 1-2
Makassar
921111

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Mitologi Bumi Sulawesi posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Mitologi Bumi Sulawesi:

Shortcuts

Share