30/05/2026
Judul: Kereta yang Tidak Kunaiki
Malam itu, aku berdiri sendirian di sebuah stasiun yang tidak ada namanya.
Langit berwarna biru tua. Lampu-lampu tua memantulkan cahaya kekuningan di lantai yang basah oleh hujan.
Tidak ada suara selain derit rel dan angin yang berembus perlahan.
Lalu sebuah kereta datang.
Di jendelanya, aku melihat seorang perempuan.
Aku mengenalnya.
Itu aku.
Namun bukan aku yang sekarang.
Perempuan itu sedang menjalani kehidupan yang dulu pernah kuimpikan. Ia tampak bahagia. Di sampingnya ada orang-orang yang mencintainya. Wajahnya tenang. Matanya berbinar seperti seseorang yang menemukan tempatnya di dunia.
Kereta itu berhenti sesaat.
Pintunya terbuka.
Tetapi aku tidak naik.
Karena itu bukan keretaku.
Tak lama kemudian kereta itu pergi, membawa kehidupan yang tidak pernah sempat kujalani.
Lalu datang kereta kedua.
Di dalamnya ada versi lain dari diriku.
Ia tinggal di kota yang dulu ingin kutinggali. Ia berani mengambil kesempatan yang dulu kutolak. Ia berhasil menjadi seseorang yang pernah kubayangkan saat masih muda.
Kereta itu juga berhenti.
Dan lagi-lagi aku hanya melihatnya berlalu.
Setelah itu datang kereta ketiga.
Keempat.
Kelima.
Puluhan kereta.
Ratusan kereta.
Masing-masing membawa seorang perempuan yang wajahnya sama denganku.
Namun hidupnya berbeda.
Ada yang lebih kaya.
Ada yang lebih terkenal.
Ada yang lebih dicintai.
Ada yang lebih berani.
Ada yang lebih bahagia.
Dan ada p**a yang lebih terluka.
Aku memperhatikan semuanya lewat jendela.
Hingga akhirnya aku menyadari sesuatu.
Setiap kereta yang lewat memang membawa kehidupan yang mungkin lebih indah.
Tetapi tak satu pun dari mereka membawa seluruh diriku.
Mereka hanya membawa kemungkinan.
Sedangkan aku membawa kenyataan.
Aku membawa semua luka yang membentukku.
Semua kegagalan yang mengajariku.
Semua kehilangan yang membuatku mengerti arti syukur.
Semua orang yang kutemui di perjalanan ini.
Lalu, jauh di ujung malam, sebuah kereta terakhir datang.
Jendelanya gelap.
Aku tidak bisa melihat siapa yang ada di dalamnya.
Ketika pintunya terbuka, tidak ada seorang pun yang turun.
Di pintunya hanya tertulis:
"KEHIDUPAN YANG MASIH TERSISA."
Saat itulah aku mengerti.
Aku menghabiskan terlalu banyak waktu menatap kereta-kereta yang telah pergi.
Padahal satu-satunya kereta yang masih bisa kunaiki adalah yang belum berangkat.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, aku melangkah maju.
Bukan menuju masa lalu.
Melainkan menuju kehidupan yang masih menungguku.