Clicky

Yazku Enterprise

Yazku Enterprise penerbit buku islam Insya Allah akan menerbitkan buku-buku Islam yang berkualitas.

Operating as usual

AN-NAWAWI SANG WALI DAN KARYA-KARYANYA; Sebuah ResensiOleh; Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin)***  Judul yang sa...
01/12/2019
AN-NAWAWI SANG WALI DAN KARYA-KARYANYA; Sebuah Resensi - IRTAQI | كن عبدا لله وحده

AN-NAWAWI SANG WALI DAN KARYA-KARYANYA; Sebuah Resensi

Oleh; Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin)
***

Judul yang saya pilih untuk buku ini adalah “An-Nawawi Sang Wali dan Karya-Karyanya”. Sempat terpikir untuk memilih judul yang lebih “cetar” semisal “An-Nawawi Pendekar Ahlussunnah”, atau “An-Nawawi Pendekar Mazhab Asy-Syafi’i”, atau “An-Nawawi Sang Pembasmi bid’ah” atau judul semisal. Hanya saja, akhirnya saya memilih judul yang lebih mencerminkan isi meskipun kurang “cetar” di telinga.

Penyebutan An-Nawawi sebagai “Sang Wali” dalam judul ini adalah bentuk husnuzan kepada beliau bahwa beliau adalah salah satu dari kekasih-kekasih Allah. Dengan demikian, beliau adalah salah satu orang salih dalam sejarah umat Islam yang layak untuk diteladani dalam ilmu dan amal. Buku ini memang serius mengekspolarasi dua hal itu, yakni aspek keilmuan An-Nawawi dan aspek amal beliau. Sudah diketahui, din seseorang diketahui kualitasnya apakah baik ataukah tidak hanyalah dilihat dari dua kriteria ini; ilmu dan amal.

Adapun frasa “dan Karya-Karyanya”, maka buku ini juga bersungguh-sungguh meresensi semua kitab-kitab An-Nawawi yang telah dicetak dan tersebar luas di dunia Islam. Dengan demikian, kaum muslimin menjadi lebih mengenal pemetaan kitab-kitab An-Nawawi sehingga paling tidak memiliki landasan kuat pada saat ingin mengkaji kitab-kitab An-Nawawi, terutama ketika hendak memutuskan ingin mengkaji dari kitab mana dulu.

Adapun An-Nawawi yang dimaksud dalam buku ini, tentu saja kemasyhuran beliau sudah tidak perlu lagi untuk dikenalkan. An-Nawawi adalah pengarang kitab-kitab populer yang dikaji jutaan kaum muslimin di berbagai tempat. Beliaulah pengarang kitab Riyadhu Ash-Sholihin, Al-Arba’in, Al-Adzkar, At-Tibyan, dan puluhan kitab populer lainnya.

Lihatlah bagaimana pujian Ibnu Azh-Zhohir terkait kualitas keilmuan An-Nawawi. Ibnu Azh-Zhohir menegaskan bahwa keilmuan An-Nawawi sesungguhnya telah berada di atas keilmuan Ibnu Ash-Sholah, seorang ulama besar ahli hadis dan ahli fatwa dalam mazhab Asy-Syafi’i. Ibnu Al-‘Atthor menukil ucapan Ibnu Azh-Zhohir sebagai berikut,

مَا وَصَلَ الشَّيْخُ تَقِيُّ الدِّيْن ابْنُ الصَّلاَحِ إِلى مَا وَصَلَ إِلَيْهِ الشَّيْخُ مُحْيِي الدِّيْن مِنَ العِلْمِ وَالفِقْهِ وَالحَدِيْث وَاللُّغَة وَعُذُوْبَةِ اللَّفْظِ وَالعِبَارَة”

Artinya: “Syekh Taqiyyuddin Ibnu Ash-Sholah belum mencapai kualitas ilmu yang dicapai oleh syekh Muhyiddin (An-Nawawi), yakni dalam hal ilmu fikih, ilmu hadis, ilmu bahasa, kefasihan lafaz, dan kefasihan ungkapan.”

Lihat pula pujian Abu Al-Mafakhir terkait kesalihan, kewalian dan sikap hidup bertakwa An-Nawawi. Beliau mengandaikan, seandainya Al-Qusyairi hidup di zaman An-Nawawi, pastilah beliau akan menjadikan An-Nawawi sebagai contoh, panutan dan teladan utama dalam ilmu pembersihan jiwa dan pribadi seorang kekasih Allah. Ibnu Al-‘Atthor menukil ucapan Abu Al-Mafakhir sebagai berikut,

قَالَ لِيْ شَيْخُنَا القَاضِيْ أَبُوْ الْمَفَاخِرِ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْقَادِرِ الأَنْصَارِيُّ رَحِمَهُ اللهُ “لَوْ أَدْرَكَ القُشَيْرِيُّ صَاحِبُ “الرِّسَالَةِ” شَيْخَكُمْ وَشَيْخَهُ ؛ لَمَا قَدَّمَ عَلَيْهِمَا فِيْ ذِكْرِهِ لِمَشَايِخِهَا أَحَداً؛ لِمَا جُمِعَ فِيْهِمَا مِنَ الْعِلْمِ، وَالْعَمَلِ، وَالزُّهْدِ، وَالْوَرَعِ، وَالنُّطْقِ بِالحِكَمِ، وَغَيْرِ ذلِكَ”.

Artinya: “Guru saya, Al-Qodhi Abu Al-Mafakhir Muhammad bin Abdul Qodir Al-Anshori rahimahullah berkata, ‘Seandainya Al-Qusyairi, pengarang kitab Ar-Risalah Al-Qusyairiyyah sempat bertemu guru kalian (An-Nawawi) dan gurunya, pastilah beliau tidak akan mengunggulkan seorang pun sebelum keduanya karena keduanya telah menghimpun ilmu, amal, zuhud, warak, mengucapkan kata-kata hikmah, dan lain-lain.’”

Memang, sungguh susah mengingkari ketinggian ilmu dan kualitas kesalihan An-Nawawi. Berkahnya kitab-kitab beliau, diakuinya beliau sebagai ulama internasional lintas mazhab, tersebarnya ilmu beliau di seluruh penjuru dunia, dan dimanfaatkannya ilmu beliau selama berabad-abad adalah bukti tak terbantahkan untuk berhusnuzon bahwa beliau adalah salah satu dari kekasih-kekasih Allah. Bahkan para pengkritik An-Nawawi sekalipun, mulai dari saat beliau masih hidup, setelah beliau wafat sampai zaman sekarang ini, mau tidak mau tetap tidak kuasa untuk tidak menaruh hormat seraya menundukkan kepala karena takzim, mengakui kemuliaan dan ketinggian pribadi An-Nawawi. Ibnu Taimiyyah yang dikenal mengkririk keras paham Asy’ariyyah sekalipun, tidak pernah dikenal satu hurufpun menulis tentang An-Nawawi dengan nada menyerang, gaya menghantam, apalagi merendahkan pribadi An-Nawawi. Ada kesan bahwa Ibnu Taimiyyah sangat segan dan sangat hormat kepada An-Nawawi, padahal jarak beliau dengan An-Nawawi sangatlah dekat (Usia Ibnu Taimiyyah sekitar 15 tahun saat An-Nawawi wafat pada tahun 676 H).

Terkait penyebab saya memutuskan untuk menulis kitab ini, ada dua hal utama yang mendorong saya. Pertama: Ingin mempopulerkan orang-orang salih. Kedua: Mengenalkan kitab-kitab An-Nawawi dan segala kitab yang bercabang darinya, supaya ilmu-ilmu berharga beliau bisa tersebar luas di tengah-tengah umat, terutama kaum muslimin di Indonesia.

Terkait motivasi pertama, sunggguh sangat menyedihkan jika di zaman canggih saat ini banyak orang Islam yang tidak mengenal pribadi-pribadi hebat dalam sejarah umat Islam. Generasi muda sekarang, oleh karena rapat dan intimnya mereka dengan media sosial berbasis internet, hari ini lebih banyak mengenal para Youtuber, Selebgram, Aktivis Tiktok, artis korea dan aktor-aktor Hollywood. Akan tetapi jika ditanya, siapa itu An-Nawawi, kebanyakan bengong karena sama sekali tidak mengenalnya. Oleh karena itu, saya berharap dengan karya ini mudah-mudahan ke depan bangkit sejumlah pemuda Islam yang peduli dengan umatnya, lalu berkreasi membuat konten-konten bermutu untuk mengisi media sosial dan membanjiri informasi pengguna internet dengan sejarah hidup orang-orang salih seperti An-Nawawi ini. Cepat atau lambat apa yang sering membombardir otak manusia akan berpengaruh terhadap prinsip hidup, perilaku dan cara berfikirnya.

Terkait motivasi kedua, saya melihat An-Nawawi mencapai tingkat keterkenalan yang tinggi di negeri kita. Hanya saja, kitab-kitab beliau yang populer baru beberapa saja. Hal ini tentu sungguh sayang. Ada puluhan karya beliau baik yang sudah tercetak maupun yang masih berupa manuskrip. Dengan karya buku ini saya berharap banyak ilmu beliau yang nantinya lebih banyak tersebar. Syukur-syukur jika ada sejumlah pemuda cerdas dan bersemangat untuk dinnya yang berminat mentahqiq kitab-kitab An-Nawawi yang masih berupa manuskrip. Patut dicatat, semua kitab yang saya resensi dalam buku ini saya sertakan pula data lokasi manuskripnya. Dengan begitu siapapun yang berminat meneliti dan menerbitkan manuskrip itu, paling tidak beliau mendapatkan data awal yang penting untuk dikembangkan dan dieksplorasi lebih jauh.

Lagi pula, siapapun yang mengkaji kitab An-Nawawi, berarti An-Nawawi adalah salah satu gurunya. Seorang guru kata An-Nawawi adalah seorang ayah dalam din. Bahkan jasa guru lebih besar daripada jasa ayah biologis. Sebab guru menyelamatkan seseorang di akhirat, semantara ayah biologis umumnya hanya menjaga keselamatan anak di dunia saja. Salah satu hak guru adalah dikenal lebih dalam, dihormati dan didoakan. Jadi penulisan buku ini juga dimaksudkan untuk memenuhi hak-hak An-Nawawi sebagai guru kita bersama.

Lebih dari itu, Allah memerintahkan untuk mencintai karena Dia. Tentu saja mencintai karena Allah adalah cinta kepada orang-orang salih. Oleh karena itu, buku ini juga bisa diharapkan sebagai wasilah untuk mencintai An-Nawawi karena Allah. Sebab, tidak mungkin orang akan mencintai jika tidak mengenali.

Tentu saja buku-buku terkait biografi An-Nawawi yang ditulis dalam bahasa Arab jumlahnya lumayan banyak. Hanya saja, buku yang mengulas biografi An-Nawawi dan karya-karyanya dalam bahasa Indonesia, sepertinya masih langka atau bahkan masih belum ada sama sekali. Oleh karena itu, saya juga berharap buku ini bisa menjadi rujukan paling lengkap dalam bahasa Indonesia bagi siapapun yang ingin mengenal An-Nawawi lebih dalam.

Adapun sumber referensi buku ini, ada banyak kitab yang saya manfaatkan. Kitab Tuhfatu Ath-Tholibin karya Ibnu Al-‘Atthor adalah referensi utama yang saya gunakan. Alasannya, kitab itu adalah kitab tertua yang menulis biografi An-Nawawi dan penulisnya adalah murid An-Nawawi sendiri, bahkan murid kesayangan beliau. Selain itu saya juga memanfaatkan kitab Al-Manhal Al-‘Adzbu Ar-Rowiyy karya As-Sakhowi dan Al-Minhaj As-Sawiyy karya As-Suyuthi. Trio kitab ini adalah sumber utama semua karya-karya tentang biografi An-Nawawi sesudahnya. Tidak mungkin orang yang mengkaji biografi An-Nawawi bisa melepaskan diri dari tiga kitab ini. Karya ulama kontemporer juga saya manfaatkan. Terutama sekali dua karya, yakni karya Ad-Daqr yang berjudul Al-Imam An-Nawawi Syekhu Al-Islam wa Al-Muslimin wa Umdatu Al-Fuqoha’ wa Al-Muhadditsin dan karya Al-Haddad yang berjudul Al-Imam An-Nawawi wa Atsaruhu fi Al-Hadits wa ‘Ulumihi. Tentu saja masih banyak lagi referensi yang lainnya yang semuanya saya tulis secara lengkap pada bab khusus dalam buku ini yang saya beri judul Rujukan Biografi An-Nawawi. Secara keseluruhan daftar pustaka yang saya pakai untuk menyusun buku ini adalah 152 referensi.

Adapun gambaran isinya, secara umum saya membaginya menjadi tiga bagian.

Pertama: Biografi An-Nawawi
Kedua: Resensi karya-karya An-Nawawi
Ketiga: Keteladanan amal An-Nawawi

Untuk biografi, saya mengupas banyak hal dari beliau. Mulai dari lingkungan hidup, kelahiran, nasab, keluarga, masa kecil, keputusan beliau tidak menikah, bentuk fisik, sifat, perjalanan intelaktual, guru-guru, murid-murid, bidang kepakaran beliau, peran beliau dalam mazhab Asy-Syafi’i, pemikiran beliau, akidah beliau, sampai sikap beliau terhadap politik dan khilafah.

Terkait resensi kitab, saya memberikan perhatian tinggi terhadap kitab-kitab beliau yang sudah dicetak. Dalam resensi itu saya bahas makna judul kitab, validitas pen*sbahan kitab kepada An-Nawawi, motivasi penulisan kitab, pujian ulama terhadap kitab, gambaran isi, sistematika kitab, kitab-kitab yang terpancar darinya, data lokasi manuskrip, dan data penerbitan kitab. Adapun kitab yang masih berupa manuskrip, maka saya hanya membahasnya sekilas dan saya kumpulkan dalam satu tulisan khusus. Kitab-kitab yang diragukan atau dipastikan bukan karangan An-Nawawi (tapi diklaim ditulis An-Nawawi) juga saya bahas dalam satu tulisan tersendiri.

Adapun kelemahan kitab ini, sebagian saya singgung dalam pengantar penulis. Minimal ada dua hal yang saya beri catatan

Pertama: Dalam hal dhobt nama kitab dan nama ulama. Tentu saja saya sudah berusaha menulis dhobth nama secara akurat. Hanya saja, saya akui bahwa pada beberapa nama kitab, terutama kitab-kitab cabang yang berasal dari kitab induk tertentu kadang-kadang saya hanya bertaklid pada satu dua referensi. Sangat dimungkinkan ada kekurang tepatan pelafalan pada nama-nama tersebut ketika sudah ditransliterasi dalam bahasa Indonesia.

Kedua; Informasi-informasi tentang An-Nawawi yang bersifat pernak-pernik, lathoif, dan nukat. Sangat besar peluang ada informasi yang bersinggungan dengan An-Nawawi yang belum saya catat dalam buku ini meskipun saya telah menggunakan 152 referensi untuk menyusun buku ini.

Oleh karena itu, saya sangat membutuhkan peran para alim, para ulama, para kyai, dan para syaikh untuk memberikan masukan, tambahan dan koreksi, baik masukan yang bersifat teknis maupun substansi sehingga dalam terbitan berikutnya bisa diperbaiki.

Buku ini dicetak dengan ketebalan 902 halaman dan saya memberikan keseriusan ekstra saat menyusunnya. Sekitar satu tahun penuh saya habiskan untuk menuntaskannya.

Buku ini dicetak dengan sampul hard cover dengan ukuran 23,5 X 15,5 oleh penerbit Pustaka Yazku tahun 1441 H/2019.

رحم الله النووي رحمة واسعة
اللهم اجعلنا من محبي العلماء الصالحين
Versi Situs: http://irtaqi.net/2019/12/01/nawawi-sang-wali-dan-karya-karyanya-sebuah-resensi/

***
4 Rabi’ul Akhir 1441 H

Oleh : Ustaz Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin) Judul yang saya pilih untuk buku ini adalah “An-Nawawi Sang Wali dan Karya-Karyanya”. Sempat terpikir untuk memilih judul yang lebih “cetar” semisal “An-Nawawi Pendekar Ahlussunnah”, atau “An-Nawawi Pendekar Mazhab Asy-Syafi’i.....

AKHIRNYA OPEN PO..!!!!ADA DISKON BESAR UNTUK MARKERTER..Assalamualaikum.....Buku yang telah lama di nantikan, karya usta...
30/11/2019

AKHIRNYA OPEN PO..!!!!
ADA DISKON BESAR UNTUK MARKERTER..

Assalamualaikum....
.
Buku yang telah lama di nantikan, karya ustaz muafa akhirnya akan segera di terbitkan..
.
.
kami membuka PO dan juga memberi peluang bagi yang berminat untuk bergabung menjadi markerter...

Untuk order PO silakan hub bit.ly/OrderAnNawawi

Untuk pendaftaran markerter silahkan hub
bit.ly/DaftarMarketerAnNawawi

Yazku Enterprise
29/11/2019

Yazku Enterprise

Yazku Enterprise's cover photo
29/11/2019

Yazku Enterprise's cover photo

Yazku Enterprise
29/11/2019

Yazku Enterprise

Bukan sekedar novel biasa, tapi Novel islami dengan banyak mengandung ilmu di dalamnya..Novel ini insyaAllah salah satu ...
18/10/2019

Bukan sekedar novel biasa, tapi Novel islami dengan banyak mengandung ilmu di dalamnya..

Novel ini insyaAllah salah satu yang akan di terbitkan, mohon doanya..

====================================

“Yā ayyuhā al-lażīna āmanū ittaqullāha haqqa tuqātihī walā tamūtunna illā waantum muslimūn.”

“Yā ayyuha al-nāsu ittaqū rabbakumu al-lażī khalaqakum min nafsin wāhidatin wakhalaqa minhā zaujahā wabaṡṡa minhumā rijālan wanisā’an. Wattaqullāha al-ladzī tasā’alūna bihī wa’arhām. Innallāha kāna ‘alaikum raqīban.”

“Yā ayyuhā al-lażīna aamanu ittaqullāha waqūlū qaulan sadīdan yuṣliḥlakum a’mālakum wayagfirlakum ẓunūbakum. Waman yuṭi’illāha warasūlahu faqad fāza fauzan ‘aẓīman.”

Takwa, yang bermakna melindungi diri dari segala sesuatu yang berpotensi membuat Allah murka. Takwa adalah hati yang senantiasa takut kepada Allah sekalipun tak ada makhluk yang menyaksikan perbuatannya. Takwa, yang jaminannya, diberikan jalan keluar oleh Allah, apa pun masalah yang menimpa, kemudian diberi rezeki dari arah yang tak disangka-sangka.

Seolah-olah, penghulu itu berkata padaku, “Wahai Khansa, takutlah kepada Allah, bertakwalah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya menjadi istri bukanlah suatu perkara yang mudah. Awas! Allah senantiasa mengawasimu! Kelak engkau akan dihisab. Kelak Allah akan bertanya padamu, bagaimana engkau memperlakukan suamimu, bagaimana engkau mengurus keluargamu.”

==================================

“Kata para mufasir,” ucapku mengawali, “surah Al-Insan adalah surah yang menggambarkan kondisi paling indah tentang surga.”

Kembali kuhela napas. “Dulu, setiap kali Mas Rama bikin ulah atau ketika ingat sikap Mas Rama yang menyebalkan itu … aku baca surah ini.” Aku menatap matanya. Mencari tahu apa yang ia rasakan saat mendengarkan penuturan yang keluar begitu saja.

Setelah yakin kalimatku tak membuatnya terusik, aku melanjutkan, “Di situ ada ayat, ‘wajazāhum bimā ṣabarū jannatan waḥarīran’. Allah itu, … akan membalas orang-orang yang ṣabr, yang tangguh, dengan surga dan sutra.

“Jadi, … tiap kali aku jengkel sama Mas Rama, aku memotivasi diri untuk ṣabr. Mas Rama itu, ujian terbesarku, tahu?”

Terdengar Mas Rama mendengkus. “Iyakah?”

“Iya,” jawabku sambil merengut.

“Maaf.”

“Kan, udah dimaafin.”

Lelaki itu tertawa lirih lalu mendekapku. “Terus?”

“Kata Nabi, ṣabr itu ada empat. Ṣabr saat menerima pukulan pertama, ṣabr ketika melakukan hal-hal yang diwajibkan Allah, ṣabr ketika menjauhi apa-apa yang tidak disukai Allah, dan ṣabr saat diuji.”

“Emang, apa bedanya sabar dengan ṣabr? Bukannya, ṣabr itu bermakna sabar?” tanya Mas Rama.

“Mmm … kalau di bahasa kita sih, kesannya sama aja. Padahal beda. Sabar itu, identik dengan lamban marah, tidak tergesa-gesa. Istilah Arabnya hilm. Kalau ṣabr itu menahan diri dari keluh kesah. Jadi, lebih tepat kalau ṣabr itu dimaknai tangguh.”

“Hmmm ….” Suamiku manggut-manggut. “Jadi, tiap kali jengkel sama Mas, trus baca surah itu?”

Aku tertawa kecil. “Nggak cuma surah Al-Insan, sih. Ya, di mana ada ayat tentang balasan ṣabr. Mungkin yang sering terlintas di kepala, surah Al-Insan. Pendek-pendek. Bunyi ujung ayatnya sama. Jadi terdengar indah. Gitu.”

“Contoh ayat yang lain, apa?”

“Mmm ….” Sambil menatap langit, otakku mengingat-ingat. “Innamā yuwaffa al-ṣābirūna ajrahum bigairi hisāb. Pahala ṣabr itu tanpa batas. Itu potongan ayat di surah Az-Zumar. Ayatnya panjang-panjang.”
.......
.

30/09/2019
Nafkah kerabat, solusi yang sering terabaikan

Boleh jadi kondisi yang tengah dihadapi oleh kerabat kita membutuhkan uluran tangan kita. Hanya saja, kita tidak merasa bahwa itu merupakan kewenangan kita. Terkadang kita lebih tergerak untuk berinfaq pada orang-orang yang membutuhkan di luar kerabat kita, karena ketidaktahuan kita akan kondisi kerabat.

Seandainya fikih nafkah kerabat ini diterapkan, niscaya akan berkurang banyak kesenjangan di antara kerabat dan hubungan kerabat akan semakin kuat.

Inilah pentingnya ilmu sebelum amal, dan tepat menempatkan amal secara prioritas. Dari sini kita juga bisa mengambil kesimpulan bahwa beramal benar itu didahulukan dari beramal baik.

Silakan share video ini. Semoga bermanfaat

Address

Malang
65145

Opening Hours

Monday 09:00 - 17:00
Tuesday 09:00 - 17:00
Wednesday 09:00 - 17:00
Thursday 09:00 - 17:00
Friday 09:00 - 17:00
Saturday 09:00 - 17:00
Sunday 09:00 - 17:00

Telephone

+6282223332183

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Yazku Enterprise posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Yazku Enterprise:

Videos

Category

Nearby media companies


Other Publishers in Malang

Show All