20/01/2026
𝙈𝙖𝙧𝙞 𝙈𝙚𝙢𝙗𝙖𝙘𝙖 𝙋𝙖𝙥𝙪𝙖
Mari membaca Papua,
tanah surga di timur sana,
di mana gunung memeluk langit,
hutan hijau berbisik tentang cinta yang pernah abadi.
Namun, di balik damai alamnya,
ada luka yang tak sembuh oleh waktu,
ada tangis yang ditelan sunyi,
dan mimpi yang terkubur oleh ambisi.
Kolonialisme,
ia datang bukan hanya dalam wujud senjata,
tapi dalam janji yang palsu,
merampas hak atas tanah,
mengubah rumah menjadi pasar,
dan budaya menjadi komoditas.
Ancaman datang tanpa suara,
merampas harapan anak-anak Papua,
yang ingin belajar di bawah bintang,
namun terhalang bayang-bayang kekuasaan.
Mari membaca Papua,
bukan dari buku sejarah yang bias,
tetapi dari suara rakyatnya,
dari tarian mereka yang mengabarkan pesan,
dari nyanyian yang bertahan di tengah badai.
Mari membaca Papua,
dengan hati yang terbuka,
dengan keberanian untuk berkata:
"Tanah ini bukan milik penjajah,
tanah ini milik mereka yang mencintainya."
***
Eko-vinsent