02/01/2025
Kronologis Puluhan Oknum Anggota Polda Sulbar Kroyok Kader HMI Cab. Manakarra di Aspuri IPM Mateng
Pada malam Rabu, 1 Januari 2025, sekitar pukul 8 malam, sebuah insiden kekerasan yang melibatkan puluhan oknum polisi mengguncang Kota Mamuju, Sulawesi Barat. Sekitar 50 oknum polisi yang mengaku sebagai Bintara Remaja (Baja) Angkatan 51 melakukan penyerangan brutal terhadap Asrama Putri Ikatan Pelajar Mahasiswa Mamuju Tengah (IPM Mateng) yang terletak di Jalan Baharuddin Lopa, Kelurahan Rimuku. Dalam serangan tersebut, seorang mahasiswa kader HMI Cabang Manakarra, Ramli, yang juga menjabat sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Botteng, menjadi korban pengeroyokan hingga harus dilarikan ke rumah sakit akibat luka-luka serius yang dialaminya.
Insiden ini tidak hanya mengejutkan korban, tetapi juga masyarakat sekitar yang awalnya mencoba melerai, namun justru menjadi sasaran kekerasan dari oknum-oknum polisi tersebut. Tindakan brutal ini menambah daftar panjang kekerasan yang melibatkan aparat, dan mencoreng citra kepolisian di mata publik.
Kado Awal Tahun untuk Polda Sulbar
Kejadian ini menjadi "kado" yang sangat tidak diinginkan bagi Polda Sulawesi Barat di awal tahun 2025. Peristiwa tersebut memunculkan pertanyaan besar mengenai profesionalisme dan etika kepolisian, serta pengawasan terhadap anggotanya. Kekerasan yang terjadi mengundang kemarahan publik, khususnya di kalangan mahasiswa dan aktivis yang menuntut keadilan dan transparansi dalam proses penegakan hukum. Polda Sulbar dan Polresta Mamuju pun menghadapi tekanan besar untuk memberikan penjelasan dan memastikan bahwa para oknum yang terlibat dalam insiden ini diproses sesuai hukum.
Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Geruduk Kantor Polresta Mamuju
Tidak hanya berhenti pada insiden tersebut, kejadian ini memicu gelombang protes dari mahasiswa dan masyarakat setempat. Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat yang terdiri dari berbagai elemen organisasi kepemudaan dan kemasyarakatan mulai menggelar aksi solidaritas untuk menuntut keadilan. Dalam aksi tersebut, massa yang jumlahnya mencapai sekitar 300 orang bergerak menuju Kantor Polresta Mamuju, mendesak agar Kapolda Sulbar dan Kapolresta Mamuju bertanggung jawab atas tindakan oknum anggotanya.
Aksi tersebut berlangsung hingga larut malam, dengan ketegangan yang memuncak ketika massa aksi berusaha masuk ke halaman Polresta Mamuju dan menghadapi perlawanan dari aparat kepolisian. Kericuhan pun tak terhindarkan, di mana beberapa peserta aksi, termasuk seorang mahasiswa kader PMII Cabang Mamuju bernama Dafri, mengalami cedera akibat bentrokan dengan polisi. Meskipun demikian, massa aksi tetap teguh pada tuntutannya agar oknum-oknum polisi yang terlibat dalam pengeroyokan segera diproses secara hukum.
Peristiwa ini menambah kompleksitas hubungan antara aparat dan masyarakat, yang semakin menunjukkan adanya ketidakpercayaan terhadap kepolisian. Dengan janji dari Kapolda Sulbar untuk memproses para oknum yang terlibat, kini tinggal menunggu apakah komitmen tersebut akan terwujud dalam tindakan nyata atau hanya sekadar pernyataan tanpa bukti konkret.
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Apakah insiden ini akan membawa perubahan dalam pola komunikasi dan hubungan antara masyarakat dengan kepolisian? Akankah masyarakat mendapatkan keadilan bagi korban yang menjadi sasaran kekerasan? Ini adalah pertanyaan yang terus menggema di tengah gerakan mahasiswa dan masyarakat yang semakin menguat, sambil menunggu langkah konkret dari pihak berwenang untuk menuntaskan kasus ini.