Renungan Percikan Sabda

Renungan Percikan Sabda Kump**an Renungan Harian menurut Liturgi Gereja Katolik dari berbagai sumber dan Doa Devosi

03/10/2026
๐ŸŒน Memohon Pertolongan dalam Kesulitan KeuanganUntuk kamu yang sulit tidur memikirkan tagihan, cicilan, dan kebutuhan kel...
03/10/2026

๐ŸŒน Memohon Pertolongan dalam Kesulitan Keuangan

Untuk kamu yang sulit tidur memikirkan tagihan, cicilan, dan kebutuhan keluargaโ€”

Keadaan keuanganmu sedang sulit, tetapi itu tidak membuatmu kurang berharga.

Mari membawa kekhawatiran ini kepada Yesus bersama Bunda Maria. Kita memohon pertolongan, kebijaksanaan mengelola yang ada, dan keberanian mengambil langkah yang perlu.

๐Ÿค Maria Dalam Doa

 *BUAH KERAJAAN ALLAH*Minggu 04 Okt 2026_Sebab itu, Aku berkata kepadamu, bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari padamu ...
03/10/2026



*BUAH KERAJAAN ALLAH*

Minggu 04 Okt 2026

_Sebab itu, Aku berkata kepadamu, bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu (Mat 21:43)_

Para nabi telah mewartakan kerajaan Allah kepada bangsa Yahudi. Yesus datang ke dunia untuk mewartakan kerajaan Allah dan menyatakan kepada dunia bahwa Ia sendiri adalah Kerajaan Allah itu. Yesus menunjukkan dengan jelas hal tersebut melalui hidup dan karya yang nyata. Meskipun melakukan tanda-tanda ajaib, banyak orang Yahudi menolak Dia. Mereka tidak percaya pada-Nya. Lalu, bagaimana kerajaan Allah itu diwartakan?

Kerajaan Allah diberitakan kepada bangsa-bangsa lain yang mau menerima dan percaya. Setiap orang kristen dipanggil untuk bekerja di kebun anggur Tuhan. Mereka telah menghasilkan anggur yang manis dan bermanfaat bagi sesamanya. Kemuliaan Allah telah nyata atas mereka dan menghasilkan damai, kebenaran, sukacita dan persekutuan kasih. Mereka telah menghasilkan buah-buah kerajaan Allah. Allah meraja atas mereka. Apakah kita sungguh mengalami Kerajaan Allah di dunia ini?

*_Rm. Patrisius de Yesus, CSE_*

Minggu 04 Okt 2026
Hari Minggu Biasa XXVII
Yes 5:1-7 Mzm 80:9.12-16.19-20 Flp 4:6-9; Mat 21:33-43

Sumber:
*Buku renungan harian "SABDA KEHIDUPAN"*
https://www.renunganpkarmcse.com

*Join WA-Grup RenunganPKarmCSE, klik (pilih salahsatu)*
https://chat.whatsapp.com/L5LwkJsLw1YH6UfZTF3L8C
atau
https://renunganpkarmcse.com/wagrup

PERCIKAN SABDAMinggu, 4 Oktober 2026Hari Minggu Biasa XXVII(Matius 21:33-43)Injil hari ini menceritakan perumpamaan tent...
03/10/2026

PERCIKAN SABDA
Minggu, 4 Oktober 2026
Hari Minggu Biasa XXVII
(Matius 21:33-43)

Injil hari ini menceritakan perumpamaan tentang penggarap kebun anggur. Perumpamaan ini berbicara keras tentang keserakahan, penolakan, dan penyalahgunaan kepercayaan.

Tuan kebun telah menyiapkan segala sesuatu dengan baik, lalu mempercayakan kebunnya kepada para penggarap. Namun ketika tiba waktunya untuk memberikan hasil, mereka justru merampas apa yang bukan milik mereka, bahkan membunuh para utusan dan anak sang tuan.

Kisah ini bukan hanya tentang orang lain. Ini juga tentang kita.

Segala sesuatu yang kita miliki sesungguhnya adalah titipan Tuhan: kehidupan, keluarga, pekerjaan, jabatan, harta, kemampuan, bahkan waktu. Tuhan mempercayakannya kepada kita bukan supaya kita menjadi penguasa yang semena-mena, tetapi supaya kita menghasilkan buah bagi kebaikan.

Masalah muncul ketika kita mulai merasa bahwa semuanya adalah milik kita. Kita lupa bahwa kita hanyalah pengelola, bukan pemilik mutlak. Kita ingin menerima berkat Tuhan, tetapi tidak mau memberikan buahnya kepada Tuhan dan sesama.

Lebih menyakitkan lagi, sering kali Tuhan sudah berkali-kali mengetuk hati kita. Ia hadir melalui suara hati, nasihat orang lain, pengalaman hidup, firman-Nya, bahkan melalui orang-orang yang mengingatkan kita untuk kembali ke jalan yang benar. Namun, apakah kita mau mendengarkan?

Sabda ini mengingatkan kita bahwa hidup bukan tentang seberapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, tetapi seberapa banyak buah kasih yang kita hasilkan dari apa yang Tuhan percayakan.

Jangan tunggu sampai Tuhan mengambil kembali apa yang selama ini kita anggap milik kita. Belajarlah bersyukur, berbagi, melayani, dan setia.

Sebab pada akhirnya Tuhan tidak bertanya berapa banyak yang kita miliki, tetapi apa yang telah kita lakukan dengan segala sesuatu yang dipercayakan-Nya kepada kita.

Marilah Berdoa:
Tuhan Yesus, ajarilah aku menyadari bahwa hidupku adalah anugerah dan segala yang kumiliki adalah titipan-Mu. Jauhkan aku dari keserakahan dan kesombongan. Mampukan aku menghasilkan buah kasih, keadilan, dan kebaikan bagi sesama. Amin.

MINGGU BIASA 27, A; 4 Oktober 2026Yes. 5:1-7; Flp. 4:6-9; Mat. 21:33-43MASIH ADA KESEMPATAN UNTUK BERUBAH DAN BERTUMBUHP...
03/10/2026

MINGGU BIASA 27, A; 4 Oktober 2026
Yes. 5:1-7; Flp. 4:6-9; Mat. 21:33-43

MASIH ADA KESEMPATAN UNTUK BERUBAH DAN BERTUMBUH

Perumpamaan hari ini ditujukan Yesus kepada para pemimpin bangsa Yahudi. Untuk memahami maksud Yesus dengan perumpamaan ini, kita perlu mengerti latar belakang situasi ceritanya. Untuk menyiapkan kebun anggur, dilukiskan banyaknya pekerjaan: mencangkul, membuang batu-batu (yang sangat banyak di Israel) dan menanaminya dengan anggur pilihan. Lalu persiapan untuk panen: menara jaga untuk mengawasi kebun itu dari pencuri, tempat pemerasan anggur. Dalam Injil Mat, masih ditambahkan pagar sekelilingnya, untuk mencegah binatang buas atau ternak masuk dan merusak kebun itu. Tentu pemilik kebun itu mengharapkan hasil dari investasi besar yang sudah dilakukannya. Tindakan para penyewa yang tidak mau menyerahkan bagi hasil, sudah tidak benar. Yang paling buruk, mereka mencoba merampas tanah itu dengan membunuh akhli warisnya. Tanah adalah tanda berkat Allah kepada bangsa terpilih. Tanah sebagai hak waris, sedapat-dapatnya jangan dijual. Sekarang mereka mencoba merampasnya. Ini tindakan yang sangat tidak dapat diterima. Jadi jawaban para pemimpin bangsa Yahudi adalah jawaban logis. Orang yang seperti itu, layak dibunuh dan diganti oleh yang lebih bertanggung jawab.

Mereka menangkap maksud Yesus dengan perumpamaan ini. Mereka merasa tersindir, tetapi mereka berkeras tidak mau mengubah pandangan dan sikap hidup mereka. Yesus tetap dilihat sebagai yang membahayakan ketertiban masyarakat dan dapat menjadi ancaman penekanan dari pemerintah Romawi untuk bertindak lebih keras lagi kepada mereka. Mereka ingin mengamankan posisi dan kedudukan mereka dan menolak untuk menerima ajakan Yesus untuk melihat bahwa Allah sudah datang untuk menyelamatkan mereka. Mereka menolak untuk bertobat dan berubah.

Hal yang layak kita renungkan: apakah saya merasa bahwa saya seperti para penggarap kebun anggur itu? Tentu tidak! Tapi saya dapat menunjukkan siapa orang-orang yang seperti mereka. Jika kita menjawab demikian, maka kita tidak menangkap pesan Yesus. Tuhan Yesus mau memperlihatkan, betapa Allah itu mahasabar dan maha-ngotot. Tidak ada putus asa dalam usaha Allah untuk menawarkan pertobatan kepada manusia. Bahkan sampai menyerahkan PuteraNya sendiri.

Pesan bagi kita: Kalau sekarang hidup kita belum berbuah, masih ada kesempatan untuk memperbaikinya. Ubah hidup kita dari berpusat pada diri sendiri dan kepentingan diri kita, menjadi orang yang giat mencari Tuhan dan mengusahakan untuk menghasilkan yang baik untuk sesama.

Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku, bahwa sesungguhnya ini hanya titipan, bahwa mobilku hanya titipan Nya, bahwa rumahku hanya titipan Nya, bahwa hartaku hanya titipan Nya, bahwa putraku hanya titipan Nya.
Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya, mengapa Dia menitipkan padaku? Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku? Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini? Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya? Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah, kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka, kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku, aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil, lebih banyak rumah, lebih banyak pop**aritas, dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan, Seolah ... semua "derita" adalah hukuman bagiku. Seolah ... keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika: aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan Nikmat dunia kerap menghampiriku. Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih. Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku", dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,
Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah... "ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja" (WS Rendra)

Kita tidak merasa bahwa hidup dan seluruh kegiatan kita adalah titipan, kebun anggur Tuhan dimana kita jadi penggarapnya. Kita merasa bahwa kita pemilik, kita pengusaha dan semua hasilnya adalah milik kita. Seperti dikatakan Rendra, Tuhan itu kita perlakukan sebagai mitra dagang. Kita perlakukan hukum โ€˜tabur-tuaiโ€™. Saya sudah baik, maka berkat harus turun dan bencana harus jauh. Jika tidak, maka Tuhan tidak adil.

Dalam sebuah kelompok doa, ada seorang bapak sharing demikian: โ€œSaya bekerja itu sekarang untuk Tuhan. Apa yang saya usahakan, saya lakukan sedapat-dapatnya untuk kemuliaan Tuhan dan kesejahteraan sesama. Dan di luar pekerjaan saya juga mencoba menyisihkan waktu untuk kegiatan Gereja dan masyarakat.โ€ Sesudah syaring seseorang berkata: โ€œWah, hidup bapak penuh dengan Tuhan dan kegiatan sosial. Pasti Tuhan akan memberkati bapak, ya.โ€ Tetapi bapak itu menjawab: โ€œSaya tidak melakukan ini untuk mengharapkan berkat Tuhan. Maaf. Bukan saya mau sombong. Saya melakukan ini untuk membayar hutang saya kepada Tuhan. BerkatNya sudah lama, dari dulu sudah saya terima dengan limpahnya. Sekarang saya sedang berusaha mengembalikan apa yang sudah dikurniakanNya kepada saya. Semoga saya dapat membayarnya sedikit dari begitu banyak kebaikan Tuhan kepada saya.โ€

Kita lupa bahwa semua kehidupan kita adalah kebun anggur yang diinvestasikan Allah dalam hidup kita. Allah yang sudah mempersiapkan segala-galanya untuk kita. Kita dipercaya dan diberi kesempatan untuk menggarapnya. Semoga hidup kita menjadi buah bagi diri kita, saudara-saudari kita dan sesama kita. Jika kita belum bisa menjadi berkat, semoga hidup kita sekurang-kurangnya memudahkan hidup orang lain demi kemuliaan Tuhan. Amin.

โ€ข Lihat ulang sikap hati setiap pagi โ€” tanyakan: โ€œApa yang bisa aku kelola hari ini sebagai titipan Tuhan?โ€
โ€ข Buat satu tindakan kecil yang nyata โ€” pilih satu hal sederhana: membantu, mendengarkan, atau meringankan beban orang lain.
โ€ข Syukuri dan kembalikan dalam bentuk pelayanan โ€” setiap berkat yang diterima, langsung wujudkan dalam satu aksi pelayanan tanpa menunggu โ€œmoodโ€ atau situasi ideal.

hans jw
n2-bali

MUTIARA IMANBUAH DARI KERAJAAN4 Oktober 2026โ€œSebab itu, Aku berkata kepadamu, bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari pad...
03/10/2026

MUTIARA IMAN

BUAH DARI KERAJAAN
4 Oktober 2026

โ€œSebab itu, Aku berkata kepadamu, bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu.โ€
(Mat 21:43)

Lectio
Yes 5:1-7; Mzm 80:9,12,13-14,15-16,19-20; Flp 4:6-9; Mat 21:33-43

Suatu malam, seminggu setelah Anna meraih juara pertama dalam lomba menyanyi tingkat kota, ia mengikuti Mamanya menghadiri pertemuan lingkungan.

Dalam pertemuan itu, Agus, ketua lingkungan, bertanya kepada Anna:
โ€œAnna, apakah kamu berkenan bergabung dalam koor lingkungan?โ€

Namun Lukas, salah seorang umat, segera berkata:
โ€œPak, Anna kan sebentar lagi akan mengikuti lomba tingkat provinsi. Kalau ikut koor lingkungan, takutnya nanti justru kita yang tidak bisa mengimbanginya.โ€

Mendengar itu, Mama Anna tersenyum dan berkata:
โ€œBiarlah Anna sendiri yang memutuskan.โ€

Dalam perjalanan p**ang, Anna bertanya kepada Mamanya:
โ€œMa, menurut Mama, apakah aku harus ikut menjadi anggota koor lingkungan?โ€
Mama menjawab:
โ€œMenurut kamu sendiri bagaimana?โ€
Anna terdiam sejenak, lalu berkata:
โ€œMa, bukankah Tuhan yang memberikan kepadaku suara yang indah? Bahkan aku boleh menjadi juara pertama tingkat kota. Kalau begitu, masa suara yang Tuhan berikan kepadaku tidak boleh aku gunakan untuk melayani dan memuji-Nya? Aku justru mau sekali, Ma.โ€
Mendengar jawaban itu, mata Mamanya berkaca-kaca.
โ€œSyukur kepada Allah. Mama bangga karena kamu mau menggunakan karunia Tuhan bukan hanya untuk dirimu sendiri, tetapi juga untuk melayani-Nya.โ€

Karunia dari Tuhan bukanlah milik kita semata. Karunia adalah titipan yang harus menghasilkan buah bagi Tuhan dan bagi sesama.

Apakah semua yang Tuhan percayakan kepada kita telah menghasilkan buah bagi Kerajaan Allah?

Inilah buah Kerajaan Allah: ketika apa yang kita terima dari Tuhan kita kembalikan kepada-Nya melalui kasih, pelayanan, kerendahan hati, dan kesetiaan.

Seperti nasihat St. Fransiskus dari Assisi:

โ€œJanganlah kita menjadi bijak dan pandai menurut ukuran dunia, tetapi hendaklah kita menjadi sederhana, rendah hati, dan murni.โ€

Oratio
Ya Tuhan,
jadikanlah aku penggarap kebun anggur-Mu yang setia. Amin.

Missio
Marilah kita menjadi penggarap kebun anggur Tuhan yang setia, rendah hati, dan berbuah, dengan menggunakan setiap karunia yang Tuhan berikan untuk melayani-Nya dan menjadi berkat bagi sesama.
Have a Blessed Sunday.

๐“๐”๐‡๐€๐ ๐Œ๐„๐๐‚๐€๐‘๐ˆ ๐๐”๐€๐‡, ๐๐”๐Š๐€๐ ๐’๐„๐Š๐€๐ƒ๐€๐‘ ๐ƒ๐€๐”๐๐Œ๐ข๐ง๐ ๐ ๐ ๐ฎ ๐๐ข๐š๐ฌ๐š ๐—๐•๐ˆ๐ˆ โ€“ ๐Œ๐š๐ญ ๐Ÿ๐Ÿ:๐Ÿ‘๐Ÿ‘-๐Ÿ’๐Ÿ‘; ๐…๐ฅ๐ฉ ๐Ÿ’:๐Ÿ”-๐Ÿ—; ๐˜๐ž๐ฌ ๐Ÿ“:๐Ÿ-๐Ÿ•     Bayangkan seseorang me...
03/10/2026

๐“๐”๐‡๐€๐ ๐Œ๐„๐๐‚๐€๐‘๐ˆ ๐๐”๐€๐‡, ๐๐”๐Š๐€๐ ๐’๐„๐Š๐€๐ƒ๐€๐‘ ๐ƒ๐€๐”๐
๐Œ๐ข๐ง๐ ๐ ๐ ๐ฎ ๐๐ข๐š๐ฌ๐š ๐—๐•๐ˆ๐ˆ โ€“ ๐Œ๐š๐ญ ๐Ÿ๐Ÿ:๐Ÿ‘๐Ÿ‘-๐Ÿ’๐Ÿ‘; ๐…๐ฅ๐ฉ ๐Ÿ’:๐Ÿ”-๐Ÿ—; ๐˜๐ž๐ฌ ๐Ÿ“:๐Ÿ-๐Ÿ•
Bayangkan seseorang menanam pohon mangga di halaman rumah. Bertahun-tahun ia merawatnya: menyiram, memupuk, memangkas rantingnya. Pohon itu tumbuh besar, daunnya rimbun dan tampak indah. Tetapi setiap musim tiba, tidak pernah ada buah. Yang tampak justru daun-daun kering yang berserakan di halaman.
Sampai kapan pemiliknya akan puas hanya melihat daun?
Itulah gambaran yang muncul dalam bacaan hari ini. Nabi Yesaya berkisah tentang Tuhan yang memiliki kebun anggur. Ia mencangkul tanahnya, membuang batu-batunya, menanaminya dengan pokok anggur pilihan, bahkan mendirikan menara penjaga. Tetapi ketika dinantikan buah anggur yang baik, yang dihasilkan justru buah yang masam.
Yesus meneruskan gambaran itu dalam Injil. Seorang tuan tanah mempercayakan kebun anggurnya kepada para penggarap. Ketika musim panen tiba, ia mengutus hamba-hambanya untuk mengambil hasil yang menjadi haknya. Tetapi mereka dipukuli dan dibunuh. Bahkan ketika sang pemilik mengutus anaknya sendiri, mereka berkata, โ€œIa adalah ahli waris. Mari kita bunuh dia.โ€
Perumpamaan ini memang berbicara tentang penolakan terhadap para nabi dan akhirnya terhadap Yesus sendiri. Tetapi sabda ini juga mengajak kita bercermin: ๐“๐ฎ๐ก๐š๐ง ๐ญ๐ž๐ฅ๐š๐ก ๐ฆ๐ž๐ฆ๐ฉ๐ž๐ซ๐œ๐š๐ฒ๐š๐ค๐š๐ง โ€œ๐ค๐ž๐›๐ฎ๐ง ๐š๐ง๐ ๐ ๐ฎ๐ซโ€ ๐ค๐ž๐ฉ๐š๐๐š ๐ค๐ข๐ญ๐š. ๐๐ฎ๐š๐ก ๐š๐ฉ๐š ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐ค๐ข๐ญ๐š ๐ก๐š๐ฌ๐ข๐ฅ๐ค๐š๐ง?
Kebun anggur itu bisa berupa keluarga kita, pekerjaan kita, komunitas kita, pelayanan kita, bahkan hidup kita sendiri. Semuanya dipercayakan Tuhan kepada kita. ๐Š๐ข๐ญ๐š ๐›๐ฎ๐ค๐š๐ง ๐ฉ๐ž๐ฆ๐ข๐ฅ๐ข๐ค ๐ฆ๐ฎ๐ญ๐ฅ๐š๐ค. ๐Š๐ข๐ญ๐š ๐š๐๐š๐ฅ๐š๐ก ๐ฉ๐ž๐ง๐ ๐ ๐š๐ซ๐š๐ฉ.
Di sinilah muncul sebuah paradoks: ๐ฆ๐š๐ง๐ฎ๐ฌ๐ข๐š ๐ฆ๐จ๐๐ž๐ซ๐ง ๐ฆ๐ž๐ฆ๐ข๐ฅ๐ข๐ค๐ข ๐ฌ๐ž๐ฆ๐š๐ค๐ข๐ง ๐›๐š๐ง๐ฒ๐š๐ค, ๐ญ๐ž๐ญ๐š๐ฉ๐ข ๐ฌ๐ž๐ซ๐ข๐ง๐  ๐ฆ๐ž๐ซ๐š๐ฌ๐š ๐ฌ๐ž๐ฆ๐ฎ๐š๐ง๐ฒ๐š ๐ฆ๐ข๐ฅ๐ข๐ค๐ง๐ฒ๐š ๐ฌ๐ž๐ง๐๐ข๐ซ๐ข. Kita mempunyai waktu, kemampuan, harta, jabatan, bahkan orang-orang yang mengasihi kita. Perlahan-lahan kita lupa bertanya, โ€œUntuk apa Tuhan mempercayakan semuanya ini kepadaku?โ€
Tuhan tidak hanya mencari daun-daun yang rimbun: penampilan religius, kata-kata indah, doa yang panjang, atau aktivitas pelayanan yang banyak. Tuhan mencari buah.
Buah itu dijelaskan Paulus dalam bacaan kedua: โ€œ๐’๐ž๐ฆ๐ฎ๐š ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐›๐ž๐ง๐š๐ซ, ๐ฌ๐ž๐ฆ๐ฎ๐š ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐ฆ๐ฎ๐ฅ๐ข๐š, ๐ฌ๐ž๐ฆ๐ฎ๐š ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐š๐๐ข๐ฅ, ๐ฌ๐ž๐ฆ๐ฎ๐š ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐ฌ๐ฎ๐œ๐ข, ๐ฌ๐ž๐ฆ๐ฎ๐š ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐ฆ๐š๐ง๐ข๐ฌ, ๐ฌ๐ž๐ฆ๐ฎ๐š ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐ฌ๐ž๐๐š๐ฉ ๐๐ข๐๐ž๐ง๐ ๐š๐ซโ€ฆ ๐ฉ๐ข๐ค๐ข๐ซ๐ค๐š๐ง๐ฅ๐š๐ก ๐ฌ๐ž๐ฆ๐ฎ๐š๐ง๐ฒ๐š ๐ข๐ญ๐ฎ.โ€
Maka ukuran iman kita bukan hanya seberapa sering kita menyebut nama Tuhan, tetapi ๐š๐ฉ๐š ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐ญ๐ฎ๐ฆ๐›๐ฎ๐ก ๐๐š๐ซ๐ข ๐ค๐ž๐ก๐ข๐๐ฎ๐ฉ๐š๐ง ๐ค๐ข๐ญ๐š. Apakah kehadiran kita membuat keluarga lebih damai? Apakah perkataan kita menyembuhkan atau melukai? Apakah orang yang berjumpa dengan kita mengalami kasih, kejujuran, pengampunan, dan harapan? Pada akhirnya Tuhan tidak bertanya seberapa rimbun daun kita.
Ia mencari buah.
๐‰๐š๐ง๐ ๐š๐ง ๐ก๐š๐ง๐ฒ๐š ๐ฆ๐ž๐ง๐ฃ๐š๐๐ข ๐จ๐ซ๐š๐ง๐  ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐ค๐ž๐ฅ๐ข๐ก๐š๐ญ๐š๐ง ๐๐ž๐ค๐š๐ญ ๐๐ž๐ง๐ ๐š๐ง ๐“๐ฎ๐ก๐š๐ง. ๐‰๐š๐๐ข๐ฅ๐š๐ก ๐จ๐ซ๐š๐ง๐  ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐ก๐ข๐๐ฎ๐ฉ๐ง๐ฒ๐š ๐ฆ๐ž๐ง๐ ๐ก๐š๐ฌ๐ข๐ฅ๐ค๐š๐ง ๐›๐ฎ๐š๐ก ๐›๐š๐ ๐ข ๐ฌ๐ž๐ฌ๐š๐ฆ๐š. ๐’๐ž๐›๐š๐› ๐ค๐ž๐›๐ฎ๐ง ๐š๐ง๐ ๐ ๐ฎ๐ซ ๐ค๐ž๐ก๐ข๐๐ฎ๐ฉ๐š๐ง ๐ข๐ง๐ข ๐๐ข๐ฉ๐ž๐ซ๐œ๐š๐ฒ๐š๐ค๐š๐ง ๐ค๐ž๐ฉ๐š๐๐š ๐ค๐ข๐ญ๐š ๐›๐ฎ๐ค๐š๐ง ๐ฎ๐ง๐ญ๐ฎ๐ค ๐๐ข๐ฆ๐ข๐ฅ๐ข๐ค๐ข, ๐ฆ๐ž๐ฅ๐š๐ข๐ง๐ค๐š๐ง ๐ฎ๐ง๐ญ๐ฎ๐ค ๐ฆ๐ž๐ง๐ ๐ก๐š๐ฌ๐ข๐ฅ๐ค๐š๐ง ๐›๐ฎ๐š๐ก. (pdw)

๐ŸŒป Morning Prayer HD ๐ŸŒป October 4, 2026 โ€” 27th Sunday in Ordinary Time A Isa 5:1-7 | Ps 80:9, 12-16, 19-20 | Phil 4:6-9 | ...
03/10/2026

๐ŸŒป Morning Prayer HD ๐ŸŒป
October 4, 2026 โ€” 27th Sunday in Ordinary Time A
Isa 5:1-7 | Ps 80:9, 12-16, 19-20 | Phil 4:6-9 | Mt 21:33-43

Merciful Father,
You planted a vineyard with love.
You prepared the soil, planted the choicest vine, protected it, and entrusted it to tenants who could make it fruitful.

Yet the tenants forgot something essential:
the vineyard was never theirs.

Lord, how easily I can do the same. I receive my life, my time, my abilities, my relationships, my resources, even my faith, and slowly begin to think, โ€œThis is mine.โ€
But everything I have is Your gift, and I am only a steward.

In todayโ€™s Gospel, the tenants reject Your servants and finally kill Your Son. Yet what humanity rejects, You make the cornerstone of Your saving plan. The rejected Son becomes the foundation of a new Kingdom.

Father, Your response to our rebellion is not to abandon us. You keep calling us back. Your mercy keeps giving us another opportunity to bear fruit.

So today, help me look honestly at my vineyard.
What fruit am I giving You?
Is there love?
Forgiveness?
Justice?
Peace?
Generosity?
Faithfulness?
Or am I keeping everything for myself?

Through St. Paul, You remind us not to live in anxiety, but to bring everything to You in prayer and thanksgiving. Guard my heart with Your peace, and teach me to trust You with what I cannot control.

Father, take what You have entrusted to me and make it fruitful for Your Kingdom.
My life is not about me.
It belongs to You.

May I never forget that I am not the owner, but Your beloved tenant, called to bear fruit.
Jesus, I trust in You. Amen.

๐Ÿ•ฏ๏ธA Little Light

The vineyard is Godโ€™s gift.๏ฟฝ The fruit is my response.๏ฟฝ The Cornerstone is Christ.

Today, instead of asking, โ€œWhat do I get from God?โ€
let us ask:
โ€œFather, what fruit are You asking me to give back?โ€

๐Ÿ“–https://bible.usccb.org/bible/readings/100426.cfm

โ˜˜๏ธHDโ˜˜๏ธ

LUMEN CHRISTIโ€œEngkaulah tempat perlindunganku dan perisaiku; aku berharap kepada firman-Muโ€ (Bdk. Mzm 119:114)Tahun A - ...
03/10/2026

LUMEN CHRISTI
โ€œEngkaulah tempat perlindunganku dan perisaiku; aku berharap kepada firman-Muโ€ (Bdk. Mzm 119:114)
Tahun A - II

Minggu, 04 Oktober 2026 Hari Minggu Biasa XXVII

Bacaan I: Yes 5:1-7 "Kebun anggur Tuhan semesta alam ialah kaum Israel."

Mazmur Tanggapan: Mzm 80:9+12.13-14.15-16.19-20; Ul: Yes 5:7 "Kebun anggur Tuhan ialah umat Israel"

Bacaan II: Flp 4:6-9 "Lakukanlah semua yang telah kamu lihat padaku, maka Allah, sumber damai sejahtera, akan menyertai kamu."

Bait Pengantar Inji: Yoh 15:16 "Aku telah memilih kamu dari dunia, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah, dan buahmu itu tetap, sabda Tuhan."

Bacaan Injil: Mat 21:33-43 "Kebun anggur itu akan ia sewakan kepada penggarap-penggarap lain."

warna liturgi hijau

Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini

Kebun anggur Tuhan adalah umat Israel. Kita mengetahui rencana indah Allah dari Perjanjian Lama, yang menunjukkan betapa Yerusalem merupakan tempat yang sangat berharga bagi-Nya. Tempat itu menjadi gambaran awal tentang seperti apa surga kelak. Kita semua akan bersama Allah di surga. Allah menghendaki hal-hal yang luar biasa bagi bangsa Israel. Namun, sebagaimana kita dengar dalam bacaan tadi, jika bangsa Israel tidak menghasilkan buah, Allah akan membiarkan terjadinya kehancuran besar di tengah masyarakat mereka. Bahkan Yerusalem punโ€”seperti yang kita ketahuiโ€”mengalami kehancuran Bait Allah yang megah, dan bangunan itu tidak pernah dibangun kembali. Bayangkan segala ketegangan yang ada di sana, baik ketegangan agama maupun politik. Ketika Yesus datang, Ia membuka pintu lebar-lebarโ€”bukan hanya bagi bangsa Israel, melainkan bagi kita semuaโ€”untuk menjadi murid-murid-Nya, serta membiarkan Perjanjian Lama digenapi melalui kedatangan Yesus yang mengajarkan kita cara hidup dan cara mengasihi. Dengan demikian, hati kita dapat terbuka terhadap karunia-karunia indah yang ingin Allah berikan agar kita menghasilkan buah. Namun, jika kita tidak menghasilkan buah, kehancuran dan kemerosotan akan terus terjadi, bahkan di tempat tinggal kita sendiri. Seperti yang banyak dari kita ketahui, bertahun-tahun yang lalu. Kita juga tahu bahwa budaya telah mengalami kompromi dan tantangan selama bertahun-tahun. Jadi pertanyaannya adalah, apa yang akan terjadi di masa depan kita? Saya berani mengatakan bahwa hal itu sangat bergantung pada bagaimana kita membuka hati terhadap rahmat Allah dan menghasilkan buahโ€”bukan hanya dalam cara-cara yang sudah kita jalani, tetapi juga dalam segala hal yang Ia siapkan bagi kita di masa depan. Kita perlu membiarkan rahmat Allah mengalir melalui diri kita dengan cara yang indah dan mendalamโ€”sesuatu yang hanya dapat dilakukan oleh Allah dengan memberikan rahmat yang kita butuhkan.

Namun, kita juga menyadari bahwa kita hanyalah manusia biasa. Kita menghadapi hambatan manusiawi maupun hambatan adikodrati yang menyulitkan kita untuk senantiasa melakukan kehendak Allah dan membiarkan Allah berkarya secara berbuah melalui diri kita. Kita tahu bahwa akibat dosa asal, kita semua memiliki kecenderungan hawa nafsu yang tidak teratur. Dan terkadang, hasrat-hasrat itu tumbuh lebih kuat daripada apa yang dikatakan akal sehat harus kita lakukanโ€”apalagi dibandingkan dengan apa yang diajarkan iman dan panggilan kasih kepada kita. Kita mengalami hal-hal tersebut dalam berbagai bentuk, baik itu ketegangan rasial maupun ketegangan politik. Setiap kali kita tidak mengutamakan untuk mendengarkan karya Allah dalam hidup kita, kita cenderung mengambil kendali atas hal-hal tersebut dengan cara kita sendiri. Dan saat itulah segalanya mulai berantakan. Di tengah semua itu, kita tahu ada kelemahan manusiawi lainnya. Kita semua memilikinya. Salah satu kelemahan tersebut dibahas dalam bacaan kedua kita hari ini, yaitu kecemasan.

Saya tidak tahu bagaimana pengalaman hidup Anda, tetapi saya sendiri telah berkali-kali mengalami kecemasan selama bertahun-tahun. Saat masih kecil, saya tumbuh dalam keluarga dengan lima anak laki-laki; saya adalah anak keempat dari lima bersaudara. Postur tubuh saya tergolong kecil untuk anak seusia saya. Kami memiliki banyak sepupu, dan banyak di antaranya adalah anak laki-laki yang lebih tua. Akibatnya, saya sering menjadi orang terakhir yang dipilih masuk tim, dan sering kali menjadi orang yang paling sering tertindih di dasar tumpukan pemain saat kami bermain sepak bola. Bisa dibilang, saya punya alasan kuat untuk merasa takut. Memang benar demikian. Namun, rasa takut dan pengalaman semacam itu bisa terbawa ke aspek lain dalam hidup kita, membuat kita merasa terhambat atau takut akan berbagai hal.

Coba ingat kembali saat pertama kali Anda diminta untuk tampil dan berbicara di hadapan orang banyak. Saya merasa sangat takut. Saat pertama kali memberikan kuliah, kaki saya gemetar hebatโ€”saya bahkan tak bisa membayangkan seberapa parah gemetarnyaโ€”karena itulah yang terjadi saat saya merasa sangat gugup, dan hal itu sudah terjadi lebih dari sekali pada diri saya. Kecemasan, yang sering kali bersumber dari rasa takut, muncul karena kita tidak mengetahui hasil akhirnya. Kita takut akan hasilnya; kita khawatir kalau-kalau hasilnya tidak baik. Kita merasa takutโ€”misalnya, takut terlihat bodoh atau takut akan terjadinya sesuatu yang burukโ€”dan ketakutan itu bisa menjadi begitu mendominasi hidup kita, terutama jika kita pernah mengalami peristiwa yang sangat traumatis. Siapa pun yang pernah mengalami trauma dalam hidupnya pasti memahami betapa kuatnya dampak ketakutan dan kecemasan. Hal ini tidak hanya dapat memicu depresi situasional, tetapi tentu saja ada p**a orang-orang yang bergulat dengan depresi klinis, yang sangat sulit untuk dilawan. Lantas, bagaimana mungkin kita bisa mendengar Santo Paulus berkata agar kita sama sekali tidak merasa cemas?

Pada zaman sekarang ini, mungkin ada banyak alasan yang membuat kita diliputi rasa takut. Tentu saja ada dampak dari segala hiruk-pikuk politik, serta berbagai hal lain yang menciptakan situasi tidak menentu. Semua itu menimbulkan rasa takut. Jadi, apa yang harus kita lakukan dengan ketakutan kita? Tuhan mengajarkan saya sebuah pelajaran yang sangat penting, dan itu baru saja terjadi belum lama ini. Bayangkan saja rasanya menerima suatu panggilan yang datang secara tiba-tiba itu, lalu harus memberikan jawaban. Saya tahu apa yang harus saya lakukan. Saya tahu saya harus segera berlari menuju Kapel Adorasi secepat mungkin. Berlutut di hadapan Tuhan dan mengajukan satu pertanyaan: "Tuhan, apa yang Engkau ingin aku lakukan?" Sebab saya tahu, jika saya mulai memikirkannya, maka akan muncul. Ada begitu banyak ketakutan dan kecemasan yang berkecamuk di kedua sisi. Takut akan apa yang saya tinggalkan dan segala penyesuaian yang harus dilakukan. Takut akan apa yang menanti di depan dan tugas apa yang akan dibebankan kepada saya. Dalam artian tertentu, secara manusiawi, saya punya segala alasan untuk merasa sangat takut.

Bagi siapa pun yang diminta melakukan sesuatu yang jauh di luar zona nyaman, rasa takut adalah hal yang wajar. Namun, inilah pelajaran yang Tuhan ajarkan kepada saya. Saat saya berdoa di sana dan berusaha mendengarkan Tuhan jauh di lubuk hati, Dia begitu baik dan penuh kasih karunia kepada saya, karena Dia adalah Allah yang lembut dan murah hatiโ€”jika kita rendah hati dan memohon pertolongan-Nya. Tentu saja, berkali-kali dalam hidup saya, saya telah memohon agar kecemasan itu disingkirkan. Saya sangat berharap Tuhan akan membangkitkan rasa percaya diri secara manusiawi dalam diri saya agar mampu menghadapi segala ketakutan, termasuk ketakutan untuk berdiri di hadapan orang banyak dan berkhotbah. Namun, saat saya berlutut di sana, saya menerima kasih karunia istimewa yang mengubah cara saya memandang dan mengatasi kecemasan. Kasih karunia itu datang ketika saya mengajukan pertanyaan:

"Tuhan, apa yang Engkau ingin aku lakukan?"

Jawaban-Nya sangat jelas dan tegas, dalam momen kasih karunia yang nyata.

"Aku ingin engkau berkata 'ya', dan Aku akan memberikan segala yang engkau butuhkan."

Seketika itu juga, terjadi perubahan drastis dalam cara saya memandang ketidakamanan dan ketakutan saya sendiri. Secara manusiawi, saya sadar sepenuhnya bahwa saya tidak memiliki segala yang saya butuhkan, bahwa saya pasti akan berbuat salah, dan bahwa saya tidak mampu melakukan hal-hal yang bersifat adikodrati. Saya tahu Tuhan mampu melakukannya, namun perbedaannya terletak pada saat Dia berfirman,

"Aku akan memberikan segala yang engkau butuhkan."

Saya pun mampu menerima keyakinan yang berasal dari Tuhan, bukan sekadar keyakinan manusiawi. Oleh karena itu, saya mengajak kita semuaโ€”saat menghadapi ketakutan dalam hidup, baik ketakutan yang wajar maupun ketakutan yang bersifat adikodratiโ€”untuk berpaling kepada Tuhan dan memohon keyakinan dari-Nya, memohon karunia pengharapan dan keteguhan hati, serta segala karunia adikodrati yang memampukan kita untuk berdiri teguh dalam menghadapi setiap bahaya yang mengancam. Bahkan terhadap saudara-saudara sayaโ€”namun kini saya memiliki tongkat untuk menghadap mereka, jadi saya sama sekali tidak takut lagi pada mereka. Terjadi peralihan dari mengandalkan keyakinan diri manusiawi menuju menerima keyakinan yang berasal dari Allah. Saya tahu bahwa saya berada dalam genggaman tangan-Nya. Saya tahu Dia memiliki rencana untuk masa depan. Rencana itu mungkin sangat, sangat berbeda dari rencana saya. Ya, Anda dan saya mungkin harus menderita saat menjalaninya, namun penderitaan itu terasa sangat berbeda ketika kita tidak berusaha memaksakan keberanian dari diri kita sendiri. Sebab keberanian manusiawi itu selalu terbatas. Sedangkan keberanian dari Allah tidak pernah terbatas. Dan hal itulah yang memampukan saya untuk melangkah menjalani seluruh pengalaman ini sejak saat itu.

Sebagaimana bisa dibayangkanโ€”dan tentu saja saya mengalaminya sendiriโ€”saya memiliki segala alasan untuk merasa takut, cemas, dan khawatir menghadapi perubahan besar dalam hidup ini. Namun, saat saya terus memandang kepada Tuhan, saya merasakan damai sejahtera. Ketika saya mengalihkan pandangan dari Tuhanโ€”seperti Petrus yang berjalan di atas air lalu menatap ombak yang mengamuk, perubahan hidup, serta ketidakpastian masa depanโ€”saya kehilangan damai sejahtera itu karena saya tidak lagi hidup dalam keyakinan yang berasal dari Allah.

Saudara-saudari sekalian, di masa-masa penuh tantangan yang kita jalani ini, marilah kita jangan takut. Salah satu ungkapan yang paling sering diucapkan Yesus dalam Kitab Suci adalah "jangan takut." Begitu p**a Santo Yohanes Paulus II yang agung; saat pertama kali muncul di balkon setelah diumumkan sebagai Paus yang baru, ia menyerukan, "Jangan takut." Saudara-saudari, marilah kita menaruh keyakinan kita kepada Allah. Marilah kita berdoa memohon rahmat untuk menerima keyakinan dari Allah, untuk mengikuti dorongan rahmat-Nya ke mana pun Ia menuntun kita, dan tidak mencoba memahaminya hanya dengan akal budi kita, melainkan membiarkan Roh Allah memimpin serta mencukupi kebutuhan kita di setiap saat. Demikianlah cara kita menghadapi ketakutan dengan cara yang berkenan bagi Allah, sebab kasihโ€”kasih Allahโ€”melenyapkan segala ketakutan. (DD)

Doa Umat

Tuhan berfirman kepada kita: carilah dahulu Kerajaan Allah, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Kita mengkhawatirkan banyak hal dalam hidup ini. Rasul Paulus mengatakan kepada kita bahwa tidak perlu ada kekhawatiran, melainkan kita harus memohon kepada Allah melalui doa dan ucapan syukur atas apa yang kita butuhkan.

Bagi Gereja Allah: Semoga kebun anggur Tuhan yang terkasih dapat menghasilkan buah dalam kemuliaan. Marilah kita mohon.
Tuhan, dengarkanlah umat-Mu.

Bagi bangsa kita tercinta: Semoga para wakil rakyat menjadikan Allah sebagai kekuatan penuntun mereka. Marilah kita mohon:
Tuhan, dengarkanlah umat-Mu.

Bagi para pembawa damai: Semoga upaya mereka mendatangkan kedamaian sejati dalam keluarga, di dalam negeri, dan antarbangsa. Marilah kita mohon.
Tuhan, dengarkanlah umat-Mu.

Bagi para pria yang sedang dalam masa pergumulan panggilan menuju imamat, serta para wanita yang sedang dalam masa pergumulan panggilan hidup membiara dari paroki kita. Marilah kita mohon.
Tuhan, dengarkanlah umat-Mu.

Bagi kerabat dan sahabat kita yang telah meninggal dunia: Semoga mereka menerima Kerajaan yang telah disiapkan bagi mereka, marilah kita mohon:
Tuhan, dengarkanlah umat-Mu.

Ya Allah, Putra-Mu adalah batu yang telah ditolak. Kami menerima-Nya dengan penuh syukur dan dengan penuh keyakinan menyampaikan doa-doa ini kepada-Mu dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.



โ€œTuhan, bantulah aku menjalani hari ini dengan tenang dan ringan. Bersandar pada kekuatan-Mu yang agung dengan penuh kepercayaan dan ketenteraman. Menantikan terwujudnya kehendak-Mu dengan sabar dan damai. Menjumpai sesama dengan damai dan sukacita. Menghadapi hari esok dengan penuh keyakinan dan keberanian.โ€ (Santo Fransiskus dari Assisi)


๐ŸŒพ๐ŸŒฟ๐Ÿ•Š๐Ÿ™๐Ÿ•Š๐ŸŒฟ๐ŸŒพ

Address

Manado

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Renungan Percikan Sabda posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share