06/10/2025
Pada tanggal 6 Oktober 1981, langit Kairo tampak cerah. Ribuan warga Mesir berkumpul di Nasr City untuk menyaksikan
parade militer memperingati kemenangan Mesir dalam Perang Yom Kippur tahun 1973 melawan Israel. Suasana yang semula penuh semangat nasionalisme dan kebanggaan berubah menjadi tragedi dalam hitungan detik.
Presiden Anwar Sadat, mengenakan seragam militer dan kacamata hitam khasnya, duduk di podium kehormatan bersama sejumlah pejabat tinggi, termasuk Wakil Presiden Hosni Mubarak dan Menteri Pertahanan Abdel Halim Abu Ghazala. Sadat dikenal sebagai tokoh penting dalam sejarah modern Mesir — bukan hanya karena perannya dalam Perang Yom Kippur, tetapi juga karena langkah beraninya menandatangani perjanjian damai dengan Israel pada tahun 1979 melalui Camp David Accords.
Namun, langkah damai ini membuatnya menjadi target kebencian dari kelompok-kelompok radikal, yang menganggapnya telah mengkhianati perjuangan Arab dan umat Islam.
Saat parade berlangsung, sebuah truk militer yang merupakan bagian dari pertunjukan berhenti di depan panggung utama. Tiba-tiba, beberapa pria bersenjata melompat keluar dari truk dan mulai menembakkan senjata otomatis serta melemparkan granat ke arah podium. Dalam kekacauan yang terjadi, Presiden Sadat terkena tujuh tembakan, termasuk di bagian dada dan bahu. Beberapa pejabat lainnya juga terluka atau tewas dalam serangan tersebut.
Para penyerang adalah anggota dari kelompok Egyptian Islamic Jihad, sebuah organisasi ekstremis Islam yang menentang pemerintahan Sadat dan menuntut penerapan hukum Islam secara penuh. Salah satu pelaku utama adalah Letnan Khalid al-Islambuli, seorang perwira di Angkatan Darat Mesir yang berhasil menyusup ke dalam parade.
Sadat langsung dilarikan ke rumah sakit militer di Maadi,tetapi upaya medis tidak berhasil menyelamatkannya. Ia dinyatakan meninggal dunia beberapa jam kemudian pada usia 62 tahun. Dunia pun dikejutkan oleh berita ini.
---
# # # **Dampak Politik dan Reaksi Dunia**
Pembunuhan Anwar Sadat mengejutkan dunia. Pemimpin-pemimpin dunia mengutuk aksi keji tersebut. Presiden Amerika Serikat saat itu, Ronald Reagan, menyebut Sadat sebagai "pahlawan perdamaian". Negara-negara Barat memandang Sadat sebagai jembatan penting antara dunia Arab dan Barat.
Di dalam negeri, keadaan darurat diberlakukan. Ribuan orang yang dicurigai terlibat dalam jaringan ekstremis ditangkap. Pemerintah Mesir bergerak cepat untuk memastikan stabilitas negara. Hosni Mubarak, wakil Sadat, diangkat sebagai Presiden baru dan segera memulai pemerintahan yang akan berlangsung selama tiga dekade ke depan.
Ironisnya, Sadat terbunuh dalam parade yang dirancang untuk merayakan kemenangan militernya — namun ia justru dikenang lebih luas sebagai tokoh perdamaian yang berani mengambil risiko demi masa depan yang lebih damai bagi negaranya.