Al-Fatih 12RA

  • Home
  • Al-Fatih 12RA

Al-Fatih 12RA 📹📷Blog dan Vlog💻🔦
Akun Resmi Fans Page Al-Fatih 12RA

Ready stok edisi Bulan Suci Ramadhan...✅ Bukhur Al-Fatih ✅ Perfum Kasturi Ruqyah Al-Fatih✅ Siwak ukuran sedang & jumbo✅ ...
02/03/2026

Ready stok edisi Bulan Suci Ramadhan...

✅ Bukhur Al-Fatih
✅ Perfum Kasturi Ruqyah Al-Fatih
✅ Siwak ukuran sedang & jumbo
✅ Minyak Telon Bidara Ruqyah ASWAJA

Minat & Info inbox
🙏🏻🙏🏻😊

MENGAPA ALLAH ﷻ TIDAK MERAHASIAKAN MALAM NIFSU SYA'BAN TETAPI MERAHASIAKAN MALAM LAILATUL QADAR ?السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ و...
01/02/2026

MENGAPA ALLAH ﷻ TIDAK MERAHASIAKAN MALAM NIFSU SYA'BAN TETAPI MERAHASIAKAN MALAM LAILATUL QADAR ?

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

Seringkali ada yang bertanya-tanya,
Mengapa Allah ﷻ Tidak Merahasiakan malam Nisfu Sya'ban,
tetapi merahasiakan Malam Lailatul Qadar?
Padahal keduanya sama-sama malam yang dipenuhi limpahan rahmat Allah ﷻ.

Malam Nisfu Sya’ban memiliki keutamaan yang besar,
Nisfu Sya'ban termasuk waktu yang Mustajabah untuk berdoa karena perisitiwa2 besar
terjadi di malam penuh berkah tersebut.
Demikian p**a dengan Malam Lailatul Qadar, memiliki keistimewaan yang sangat Agung.
Lailatul Qadar adalah malam yang diharapkan oleh setiap Muslim di seluruh penjuru Dunia.

Allah ﷻ Memperlihatkan Malam Nisfu Sya’ban kepada siapa pun.
Tidak ada yang dirahasiakan tentang terjadinya Malam Nisfu Sya’ban.
Waktu dan tanggalnya sudah jelas dan tidak berubah-ubah di setiap tahunnya,
yaitu malam tanggal 15 bulan Sya’ban.

Berbeda dengan Malam Lailatul Qadar Allah ﷻ sangat Merahasiakan
kapan Malam seribu bulan tersebut terjadi.
Bisa tanggal 21, 23, 25, 27 atau bahkan di sepanjang bulan Ramadhan terjadi Lailatul Qadar,
namun kapan persisnya benar-benar menjadi misteri.

Pertanyaannya kemudian, mengapa Allah ﷻ tidak Merahasiakan Malam Nisfu Sya’ban
tapi Merahasiakan Lailatul Qadar ?
Padahal, keduanya sama-sama Malam yang dipenuhi Limpahan Rahmat.

Syekh Abdul Qadir Al-Jilani رحمه الله‎ menegaskan bahwa Lailatul Qadar dirahasiakan
karena Lailatul Qadar lebih dominan sisi Rahmat dan Ampunan di dalamnya.
Barangsiapa menghidupi Lailatul Qadar, ia diberi Kemuliaan dan Pahala yang tidak terhingga.

Oleh karena itu, Allah ﷻ Merahasiakannya agar Umat Islam tidak mengandalkan Lailatul Qadar
sebagai satu-satunya waktu untuk Beribadah secara serius.
Dengan dirahasiakannya Lailatul Qadar, semakin tampak siapa Hamba yang betul-betul
menjaga konsistensi Ibadahnya dan siapa yang hanya Beribadah secara musiman.

Hal ini berbeda dengan Malam Nisfu Sya’ban. Meski di dalamnya dipenuhi Limpahan Rahmat,
namun pada malam tersebut lebih dominan sisi “Penentuan Nasib” seorang Manusia.

Di malam Nisfu Sya’ban, Amal perbuatan Manusia selama 1 tahun dilaporkan di Hadapan-Nya.
Manusia diuji selama satu tahun, apakah ia semakin dekat Dengan-Nya atau
justru semakin diperbudak oleh Nafsunya?.

Di Malam tersebut Allah ﷻ Memberi Keputusan siapa yang layak mendapat Ridha-Nya dan
siapa yang Tertimpa Azab-Nya. Di malam tersebut tampak siapa yang beruntung dan celaka.
Oleh karena hal tersebut maka Malam Nisfu Sya’ban tidak dirahasiakan oleh Allah ﷻ.

Syekh Abdul Qadir al-Jilani رحمه الله‎ mengatakan:

وقيل إن الحكمة في أن الله تعالى أظهر ليلة البراءة وأخفى ليلة القدر لأن ليلة القدر ليلة الرحمة
والغفران والعتق من النيران، أخفاها الله لئلا يتكلوا عليها

“Dikatakan, Hikmah Allah Memperlihatkan Malam Pembebasan (Nisfu Sya’ban) dan
menyamarkan Lailatul Qadar adalah bahwa Lailatul Qadar merupakan Malam Kasih Sayang,
Pengampunan dan Pemerdekaan dari Neraka.
Allah ﷻ Menyamarkan Lailatul Qadar agar Manusia tidak mengandalkannya".

وأظهر ليلة البراءة لأنها ليلة الحكم والقضاء وليلة السخط والرضاء ليلة القبول
والرد والوصول والصد، ليلة السعادة والشقاء والكرامة والنقاء فواحد فيها يسعد
والآخر فيها يبعد، وواحد يجزى ويخزى وواحد يكرم وواحد يحرم، واحد يهجر وواحد يؤجر

“Dan Allah Memperlihatkan Malam Pembebasan (Nisfu Sya’ban) karena ia adalah
Malam Penghakiman dan Pemutusan, Malam Kemurkaan dan Keridhaan,
Malam Penerimaan dan Penolakan, Malam Penyampaian dan Penolakan,
Malam Kebahagiaan dan Kecelakaan, Malam Kemuliaan dan Pembersihan.

Sebagian orang beruntung, sebagian yang lain dijauhkan dari Rahmat-Nya,
ada yang dibalas Pahala, ada p**a yang dihinakan, ada yang di Muliakan,
ada p**a yang dicegah dari Rahmat-Nya, salah seorang di diamkan, salah seorang diberi Pahala".

Semoga bermanfaat
Silahkan share

Sumber :
Kitab : Ghunyah al-Thalibin, hal. 283
Karya : Syekh Abdul Qadir Al-Jilani رحمه الله‎,

Pada suatu masa ketika Makkah masih diselimuti sunyi padang pasir dan tradisi jahiliah, Allah menitipkan sebuah cahaya k...
27/01/2026

Pada suatu masa ketika Makkah masih diselimuti sunyi padang pasir dan tradisi jahiliah, Allah menitipkan sebuah cahaya ke dalam rahim seorang wanita mulia bernama Sayyidah Aminah binti Wahb.

Sejak awal mengandung, Aminah merasakan ketenangan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Tidak ada kegelisahan berlebih, tidak ada rasa takut akan masa depan.

Hatinya justru dipenuhi rasa damai, seakan Allah sedang menenangkan seorang ibu yang kelak akan diuji dengan perpisahan.

Pada malam kelahiran putranya, Aminah menyambut bayi itu dalam keadaan yatim. Ayahnya, Abdullah, telah wafat sebelum sempat mendengar tangisan pertama anaknya.

Ketika Aminah menggendong Muhammad kecil, ia menatap wajah mungil itu dengan mata yang basah.

Dalam pelukan itu, bercampur antara cinta, harapan, dan kesedihan yang tak terucap. Namun Aminah tidak mengeluh. Ia mendekap bayinya erat, seakan ingin berkata, “Engkau boleh kehilangan ayahmu, wahai anakku, tetapi engkau tidak akan pernah kekurangan cinta.”

Hari-hari berlalu, Aminah merawat Muhammad dengan kasih sayang yang utuh. Setiap kali ia menidurkannya, Aminah sering berbicara lembut meski sang bayi belum memahami kata-kata.

Ia mendoakan anaknya dalam diam, memohon agar Allah menjaga langkahnya, membersihkan hatinya, dan meninggikan derajatnya.

Dalam setiap tangis Muhammad kecil, Aminah adalah yang pertama datang, memeluk, dan menenangkan, seakan dunia tak lagi menakutkan selama berada di dadanya.

Aminah sering merasakan keistimewaan pada putranya. Wajah Muhammad kecil memancarkan keteduhan yang membuat hatinya luluh. Setiap kali memandangnya, Aminah merasa seolah sedang menatap amanah besar dari Allah.

Namun sebagai seorang ibu, ia tidak hanya melihatnya sebagai calon pemimpin atau sosok mulia, tetapi sebagai anak yang harus dicintai sepenuh hati.

Ketika tiba saatnya Muhammad diasuh oleh Halimah as-Sa‘diyah, hati Aminah terasa terbelah. Melepaskan seorang anak yang sangat dicintai bukan perkara mudah.

Saat Muhammad digendong untuk dibawa pergi, Aminah menahan air matanya. Tangannya gemetar saat menyentuh p**i anaknya. Ia mencium kening Muhammad lama sekali, seakan ingin menghafal setiap inci wajahnya.

Dalam hatinya ia berdoa, “Ya Allah, aku titipkan anakku pada penjagaan-Mu.”
Hari-hari tanpa Muhammad terasa panjang dan sunyi. Aminah sering menatap pintu rumah, berharap melihat sosok kecil itu berlari menghampirinya.

Setiap kabar tentang kebaikan dan keberkahan yang menyertai Muhammad kecil membuat hati Aminah bersyukur, meski rasa rindu tak pernah benar-benar terobati.

Ketika Muhammad kembali ke pangkuannya, Aminah memeluknya seakan tak ingin melepaskan lagi. Ia merasakan bahwa waktu kebersamaan mereka sangat singkat.

Maka setiap detik dimanfaatkan untuk menanamkan cinta, kelembutan, dan rasa aman ke dalam jiwa anaknya.

Puncak kasih sayang Aminah terlihat ketika ia mengajak Muhammad ﷺ yang masih kecil melakukan perjalanan ke Yatsrib (Madinah). Ia ingin memperkenalkan putranya kepada keluarga ayahnya, agar anak itu tahu dari mana ia berasal.

Dalam perjalanan itu, Aminah selalu menggenggam tangan Muhammad, seakan takut kehilangan. Setiap langkah adalah doa, setiap tatapan adalah cinta yang tak terucap.

Namun takdir Allah kembali berbicara. Dalam perjalanan p**ang, di sebuah tempat sunyi bernama Abwa’, Aminah jatuh sakit. Tubuhnya melemah, namun matanya terus mencari wajah Muhammad kecil.

Dalam kondisi antara sadar dan lemah, ia menatap putranya dengan cinta yang tak tergantikan. Tidak ada ratapan. Tidak ada penyesalan. Yang ada hanyalah keikhlasan seorang ibu yang tahu, waktunya hampir tiba.

Dalam hatinya, Aminah seakan berkata, “Wahai anakku, ibumu tidak lama lagi akan pergi. Tapi jangan takut. Allah tidak akan pernah meninggalkanmu.”

Dengan sisa tenaga, ia menyerahkan anaknya sepenuhnya kepada penjagaan Allah. Ia wafat dalam keadaan tenang, meninggalkan Muhammad kecil dalam pelukan takdir Ilahi.

Kasih sayang Aminah memang singkat usianya, namun pengaruhnya abadi. Dari sentuhan lembut seorang ibu yang hanya bersamanya beberapa tahun, tumbuhlah seorang nabi yang paling penyayang kepada anak yatim, paling lembut kepada manusia, dan paling luas rahmatnya kepada seluruh alam.

Seolah Allah ingin mengajarkan kepada dunia, bahwa kasih sayang seorang ibu, meski sebentar tetapi dapat membentuk jiwa yang agung dan mengubah sejarah umat manusia..

26/01/2026

‼️Wadah yg tepat & benar untuk merebus Ramuan Herbal / Makatanah.

Inilah wadah yg memang benar utk mereka2 yg ingin menempuh Kesembuhan dan Kesehatan dgn cara Ramuan2 Herbal / Tradisional / Makatanah.


Bi idznillaah cepat sembuh yah... 🤲🏻🤲🏻🤲🏻🤗
21/01/2026

Bi idznillaah cepat sembuh yah...
🤲🏻🤲🏻🤲🏻🤗


‼️KEISTIMEWAAN BULAN SYA'BANAda beberapa peristiwa penting yang terjadi pada bulan Sya’ban yang berimbas pada kehidupan ...
21/01/2026

‼️KEISTIMEWAAN BULAN SYA'BAN

Ada beberapa peristiwa penting yang terjadi pada bulan Sya’ban yang berimbas pada kehidupan beragama seorang Muslim.

1. Turunnya Ayat tentang Perintah Shalawat Kepada Rasulullah SAW.
Pada bulan Sya'ban diturunkannya ayat tentang anjuran untuk bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Yakni dalam QS. Al-Ahzab ayat 56.

اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا ۝٥٦

"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya."

2. Penyerahan Rekapitulasi Tahunan Keseluruhan Amal Kepada Allah SWT.
Dalam riwayat An-Nasa'i yang meriwayatkan dialog sayyidina Usamah bin Zaid dengan Nabi Muhammad SAW.
"Wahai Nabi, aku tidak melihatmu berpuasa di bulan-bulan lain sebagaimana engkau berpuasa di bulan Sya'ban?"
Kemudian Rasulullah SAW menjawab, "Banyak manusia yang lalai di bulan Sya'ban. Pada bulan itu semua amal diserahkan kepada Allah SWT. Dan aku s**a ketika amalku diserahkan kepada Allah dalam keadaanku sedang berpuasa."

3. Peralihan Kiblat.
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa peristiwa perubahan arah kiblat terjadi pada bulan Sya'ban tepatnya pada tanggal ketiga belasnya. Abu Hatim Al-Bustiy berkata : "Kaum muslimin melaksanakan shalat menghadap ke arah Baitul Maqdis selama 17 bulan lebih tiga hari, kemudian Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk shalat menghadap ke Ka'bah pada hari ke-13 pertengahan bulan Sya'ban."

(kitab Ma Dza fi Sya’ban karya Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki)
Wallahu A'lam...


Address


Opening Hours

Monday 09:00 - 17:00
Tuesday 09:00 - 17:00
Wednesday 09:00 - 17:00
Thursday 09:00 - 17:00

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Al-Fatih 12RA posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

  • Want your business to be the top-listed Media Company?

Share