27/01/2026
Pada suatu masa ketika Makkah masih diselimuti sunyi padang pasir dan tradisi jahiliah, Allah menitipkan sebuah cahaya ke dalam rahim seorang wanita mulia bernama Sayyidah Aminah binti Wahb.
Sejak awal mengandung, Aminah merasakan ketenangan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Tidak ada kegelisahan berlebih, tidak ada rasa takut akan masa depan.
Hatinya justru dipenuhi rasa damai, seakan Allah sedang menenangkan seorang ibu yang kelak akan diuji dengan perpisahan.
Pada malam kelahiran putranya, Aminah menyambut bayi itu dalam keadaan yatim. Ayahnya, Abdullah, telah wafat sebelum sempat mendengar tangisan pertama anaknya.
Ketika Aminah menggendong Muhammad kecil, ia menatap wajah mungil itu dengan mata yang basah.
Dalam pelukan itu, bercampur antara cinta, harapan, dan kesedihan yang tak terucap. Namun Aminah tidak mengeluh. Ia mendekap bayinya erat, seakan ingin berkata, “Engkau boleh kehilangan ayahmu, wahai anakku, tetapi engkau tidak akan pernah kekurangan cinta.”
Hari-hari berlalu, Aminah merawat Muhammad dengan kasih sayang yang utuh. Setiap kali ia menidurkannya, Aminah sering berbicara lembut meski sang bayi belum memahami kata-kata.
Ia mendoakan anaknya dalam diam, memohon agar Allah menjaga langkahnya, membersihkan hatinya, dan meninggikan derajatnya.
Dalam setiap tangis Muhammad kecil, Aminah adalah yang pertama datang, memeluk, dan menenangkan, seakan dunia tak lagi menakutkan selama berada di dadanya.
Aminah sering merasakan keistimewaan pada putranya. Wajah Muhammad kecil memancarkan keteduhan yang membuat hatinya luluh. Setiap kali memandangnya, Aminah merasa seolah sedang menatap amanah besar dari Allah.
Namun sebagai seorang ibu, ia tidak hanya melihatnya sebagai calon pemimpin atau sosok mulia, tetapi sebagai anak yang harus dicintai sepenuh hati.
Ketika tiba saatnya Muhammad diasuh oleh Halimah as-Sa‘diyah, hati Aminah terasa terbelah. Melepaskan seorang anak yang sangat dicintai bukan perkara mudah.
Saat Muhammad digendong untuk dibawa pergi, Aminah menahan air matanya. Tangannya gemetar saat menyentuh p**i anaknya. Ia mencium kening Muhammad lama sekali, seakan ingin menghafal setiap inci wajahnya.
Dalam hatinya ia berdoa, “Ya Allah, aku titipkan anakku pada penjagaan-Mu.”
Hari-hari tanpa Muhammad terasa panjang dan sunyi. Aminah sering menatap pintu rumah, berharap melihat sosok kecil itu berlari menghampirinya.
Setiap kabar tentang kebaikan dan keberkahan yang menyertai Muhammad kecil membuat hati Aminah bersyukur, meski rasa rindu tak pernah benar-benar terobati.
Ketika Muhammad kembali ke pangkuannya, Aminah memeluknya seakan tak ingin melepaskan lagi. Ia merasakan bahwa waktu kebersamaan mereka sangat singkat.
Maka setiap detik dimanfaatkan untuk menanamkan cinta, kelembutan, dan rasa aman ke dalam jiwa anaknya.
Puncak kasih sayang Aminah terlihat ketika ia mengajak Muhammad ﷺ yang masih kecil melakukan perjalanan ke Yatsrib (Madinah). Ia ingin memperkenalkan putranya kepada keluarga ayahnya, agar anak itu tahu dari mana ia berasal.
Dalam perjalanan itu, Aminah selalu menggenggam tangan Muhammad, seakan takut kehilangan. Setiap langkah adalah doa, setiap tatapan adalah cinta yang tak terucap.
Namun takdir Allah kembali berbicara. Dalam perjalanan p**ang, di sebuah tempat sunyi bernama Abwa’, Aminah jatuh sakit. Tubuhnya melemah, namun matanya terus mencari wajah Muhammad kecil.
Dalam kondisi antara sadar dan lemah, ia menatap putranya dengan cinta yang tak tergantikan. Tidak ada ratapan. Tidak ada penyesalan. Yang ada hanyalah keikhlasan seorang ibu yang tahu, waktunya hampir tiba.
Dalam hatinya, Aminah seakan berkata, “Wahai anakku, ibumu tidak lama lagi akan pergi. Tapi jangan takut. Allah tidak akan pernah meninggalkanmu.”
Dengan sisa tenaga, ia menyerahkan anaknya sepenuhnya kepada penjagaan Allah. Ia wafat dalam keadaan tenang, meninggalkan Muhammad kecil dalam pelukan takdir Ilahi.
Kasih sayang Aminah memang singkat usianya, namun pengaruhnya abadi. Dari sentuhan lembut seorang ibu yang hanya bersamanya beberapa tahun, tumbuhlah seorang nabi yang paling penyayang kepada anak yatim, paling lembut kepada manusia, dan paling luas rahmatnya kepada seluruh alam.
Seolah Allah ingin mengajarkan kepada dunia, bahwa kasih sayang seorang ibu, meski sebentar tetapi dapat membentuk jiwa yang agung dan mengubah sejarah umat manusia..