15/08/2026
Video proses mediasi kasus cekcok antara seorang pelanggan asal Lombok bernama Hilda dengan seorang penjahit di Bali viral di media social. Pasalnya dalam video tersebut, Hilda yang sebenarnya adalah korban justru tampak mendapat intimidasi. Proses mediasi tersebut difasilitasi oleh anggota DPD RI, AWK.
Warganet menilai proses yang seharusnya menjadi ruang penyelesaian adil justru memojokkan korban diskriminasi dan perlakuan merendahkan tersebut. Insiden bermula dari perselisihan terkait keterlambatan pesanan permak baju yang diwarnai umpatan bernada rasis dari pihak penjahit. Kendati kedua belah pihak sempat menandatangani kesepakatan damai di kantor polisi, rekaman sesi mediasi lanjutan di hadapan senator Bali tersebut justru memperlihatkan ruang intimidasi psikologis terhadap korban yang merekam dan mengunggah insiden awal ke media sosial.
Dalam rekaman video berdurasi singkat tersebut, AWK melontarkan serangkaian pertanyaan mencecar kepada korban sambil mempertanyakan kelangsungan hidup keluarga penjahit jika usaha mereka terganggu akibat narasi di media sosial.
"Masalah sepele uang Rp1.000 jadi begini gitu, enggak enak sekali loh. Sekarang kamu mau diapain ibu nih di depan kamu? Sekarang depan saya sekarang gimana maunya? Ibu nih memang ibunya salah, sekarang maunya gimana, mau ditutup?" ujar AWK dalam video tersebut, dikutip Kamis (13/8/2026) via AFU.id.
AWK kemudian menginstruksikan korban untuk memikirkan dampak sosial yang ditanggung oleh keluarga penjahit jika usaha tersebut berhenti beroperasi.
"Kalau misalkan ditutup nih, bapak ibu nih suaminya sama-sama penjahit loh, dia punya anak masih sekolah. Kalau kamu emosi, ibunya ditutup, digeruduk misalkan, mau kamu kasih makan? Mau enggak ngasih ibu ini kerjaan, mau tanggung jawab enggak? Ayo ngomong d**g depan kami," tuturnya.