herlin mogi

herlin mogi berkarir sebagai ibu rumah tangga

02/02/2026
08/11/2025

BERPIKIR VS MENGHAFAL.

:
Tulisan ini sudah pernah dipost tahun 2018. Tapi aku terlewat, tidak mencatat tanggalnya.
Lalu kurepost tanggal 29 Juni 2019.

****

Pada hari Selasa, 28 Maret 2016, 9 tahun yang lalu.... ada temanku, seorang guru, bertanya padaku :

“Na... kamu kan mendalami ilmu psikologi, critical thinking dan edukasi.... kira-kira, gimanaaaaa ya, menyiapkan generasi mendatang..?”

Aku bertanya balik :
“Lha apa yang diperlukan oleh anak-anak di masa depan?”

“Apa ya Na...?” Dia mengembalikan pertanyaanku.

Jadi kujawab:
“Menghafal ilmu pengetahuan? Buat apa ngafalin? Google sudah ada, wikipedia juga. Search engine lain juga bermunculan. Kalau mau tahu sesuatu, tinggal comot buku atau tinggal click internet. Ya kan?”

“Lha iya ya. Apalagi ilmu pengetahuan juga terus berkembang ya. Banyak temuan baru, sehingga ilmu lama jadi obsolete (obsolete artinya ‘basi’ atau sudah tidak terpakai lagi karena terbukti oleh kebenaran pengetahuan lain) ya, udah nggak berlaku lagi ya..?” jawabnya.

“Nah itulah, kan?”

“Lha njuk piye? Mosok anak-anak nggak perlu sekolah karena semua informasi dan ilmu sudah ada di internet?”

Aku ketawa. Ingat nasibku sendiri.

“Kukasih tahu ya, aku ini sebenernya kewalahan lho dengan arus informasi seperti sekarang. Rasanya seperti kena banjir bandang.”

“Lha nopo kok kaya kena banjir bandang?”

“Lha ya bayangin aja, setiap hari kita dikepung dengan berita. Aku harus TERUS-TERUSAN menganalisa data dan informasi yang ada. Lalu memilah-milahnya: mana yang benar dan mana yang hoax... belum lagi mencermati mana tulisan yang sedang satir, dan mana yang straight forward. Beberapa kali aku kecolongan, nggak sengaja upload berita dan foto hoax. Padahal sudah kupilih dari narasumber terpercaya.”

Aku diam sebentar, narik napas. Lalu kulanjut:

“Ternyata, mengandalkan narasumber yang seleb pun nggak menjamin, karena belum tentu mereka konsisten obyektif, kritis dan teliti terus-menerus. Aku harus betul-betul mencari kebenaran ke BERBAGAI SUMBER LAIN, dan kuanalisa sendiri. Aku harus mengandalkan diriku sendiri. Nggak bisa nyomot hasil olahan pikiran orang lain…”

“Lha terus?” temanku bertanya.

“Ya artinya, masalah generasi mendatang bukanlah KEKURANGAN ILMU.... tapi apakah MAMPU BERPIKIR untuk mengolah atau memproses semua informasi yang ada.....”

Lalu aku meneruskan,
“Artinya, sekolah-sekolah harus MEROMBAK KURIKULUMNYA. Harus mulai mengajarkan THINKING SKILL ke anak didik untuk memproses banyaknya info dan pengetahuan tersebut.”

Aku lalu bercerita........

*****

Beberapa tahun lalu, sekitar tahun 2010-2011, ketika anakku masih kelas 3 atau 4 SD, seorang ahli pendidikan dari Cambridge datang ke sekolah anakku. Bikin seminar singkat buat para orang tua murid.

Dia cuma mengajukan 3 pertanyaan yang bikin kami mikir njungkir-njempalik ketika itu :

1. Sambil mengacungkan HPnya ke atas, dia tanya "Dua puluh tahun lalu.... adakah yang bisa membayangkan bahwa telepon akan seperti sekarang ini? Bisa memotret, mencatat resep, berkirim surat dan dokumen, berkirim foto? Bisa menampilkan peta dan rute jalanan, bahkan bisa merekam kegiatan fisik anda sudah berjalan kaki sejauh berapa kilometer & sudah membakar berapa kalori? Sebuah telepon yang bisa dipakai membuat presentasi dan mengirimkannya ke benua lain?"

Saat itu... ruang auditorium bergemuruh dengan suara-suara ortu saling diskusi.

Iya ya..? Dulu kan telpon cuma bisa buat bicara aja ya?
Iya ya..? Dulu bisa SMSan aja udah berasa canggih ya..?

Lalu profesor dari Cambridge itu bertanya lagi :

2. “Sekarang, bisakah kita membayangkan... alat ini akan bisa apa saja dalam 10 th ke depan? Atau 20th ke depan?”

Ruang auditorium jadi senyap... Sehening kuburan di malam jumat kliwon.

Entah apa yang ada di kepala ortu lain; tapi aku berpikir jangan-jangan, 20 tahun lagi alat telpon sudah bisa jadi moda transport ke dimensi lain 😅😅😅

Sang profesor bertanya lagi :

3. “Jika kita bahkan tidak bisa membayangkan 25 th lagi kemajuan akan seperti apa... lalu bagaimana kita sebagai orang tua dan guru, bisa memberikan BEKAL kepada generasi muda? Bekal yang mana yang harus diberikan???”

Aku merasa seperti ulu hatiku ditonjok preman pelabuhan.

Aduh...!!!! Bener...!!!!
Lha wong SEKEDAR MEMBAYANGKAN masa depan saja, kita ini nggak mampu kok, terus gimana mau ngasih bekal ke anak-anak untuk menghadapi masa depan mereka????

*****

Temanku, guru itu, berseru,
“Modiarrrrr...!”

“ROMBAK ULANG SEMUA MATA PELAJARAN, d**g Na...?” Sambungnya dengan nada seru.

Betul. Sejak itu, sekolah anakku merombak sistem belajarnya:
70% waktu dipakai untuk belajar berpikir.
30% nya untuk mendalami materi.

Sebuah mata pelajaran baru diciptakan, namanya :
1. INQUIRY LEARNING.
Di pelajaran ini, anak-anak diajarkan :

—> CARA BERTANYA. Kenapa? Karena, dengan skill bertanya yang baik, seseorang akan mendapatkan banyak jawaban. Ingat para investigator...? Mereka tidak akan banyak mendapatkan informasi kalau nggak pintar bertanya.

Kita nggak perlu bekerja sebagai peneliti, polisi, penyidik dll untuk BELAJAR BERTANYA. Rakyat jelata pun tidak akan mudah tertipu hoax dan DFK (Disinformasi, Fitnah dan Kebencian) kalau mampu mengajukan pertanyaan kritis seperti ini:
- siapa/media apa yang bilang?
- seperti apa integritas dan track recordnya?
- apa latar belakang keilmuannya?
- tokoh/orang yang dibahas itu, punya track record apa?
- apakah informasi ini ‘nyambung’ dengan track record tsb?
- dia/media itu ada di kubu siapa? (Bisa dicek dengan: apakah beritanya berimbang ketika meliput atau membahas kedua kubu?)
Dst.

CARA BERTANYA ini juga sangat berguna bagi pedagang UMKM:
- apa yang sedang dibutuhkan oleh masyarakat di sekitarku?
- bagaimana menyediakan (menjual) itu?
- harga pasarannya berapa?
- kelemahan apa yang ada di pedagang lain, yang mampu kuatasi?
- bagaimana psikologi pasar?
- trend-nya ke mana?
- standar kualitas mereka seperti apa?
- daya belinya gimana?
- dll

—> MENCARI JAWABAN SECARA MANDIRI. Berapa banyak orang yang punya gadget..? Hampir semua orang punya kan...? Mulai dari anak SD, ibu rumah tangga, tukang jual bakso, sampai direktur. Tapi berapa banyak yang mampu mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan konstruktif mereka, lewat internet...? Lalu memilah-milah mana informasi yang valid dan yang tidak valid?

—> Jika anak dan siswa dibiasakan untuk mengajukan pertanyaan konstruktif dan kemampuan mencari jawaban secara mandiri… maka THINKING SKILLS (kemampuan berpikir kritis dan konstruktif) akan terbangun.

Berikutnya,
2. Pelajaran Matematika juga dirombak. Memakai metode baru di mana rumus tidak lagi harus baku, tapi guru memberikan kebebasan bagi murid untuk mencari jawaban dengan aneka cara, proses, dan jalan. Bahkan, guru matematika melarangku memasukkan anakku ke les matematika yang bersifat drilling. Kenapa..? Karena yang dituju saat ini adalah : terbangunnya LOGIKA MATEMATIKA pada anak didik. Bukan cepet-cepetan memberikan jawaban, sebagai hasil dari drilling.

:
Aku nggak berniat mengatakan bahwa les matematika atau kumon itu buruk ya. Tapi aku hanya menyampaikan ajuran gurunya anakku, secara apa adanya.

Mungkin, beliau (saat itu, tahun 2010-2011) melihat fakta yang harusnya ada: semua lembaga pendidikan (sekolah, kursus maupun les) mustinya mendevelop logika matematika juga. Syukur, jika sudah melatih berpikir. Bukan cuma drilling.

Lalu anak didik mulai diajak melakukan:
3. Experimental Science.
Pelajaran ini, tidak dilakukan secara ‘teoritis’ di kelas. Namun sekolah itu mengadakan acara ‘science fair’ yang terbuka untuk umum. Anak-anak berkelompok membuat eksperimen, seperti membangun gunung setinggi 30 cm dan ada letusan lava yang bisa keluar beneran. Ada juga yang membuat perangkat untuk menjelaskan erosi.

Setiap kelompok, mengisi 1 booth di pameran itu. Ortu dan masyarakat bisa datang, lalu bertanya di setiap booth. Anak-anak akan menjelaskan.

4. Riset dan presentasi.
Penjelasan mengenai ini, sudah kutulis di nomor 3. Setidaknya, itu yang kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri. Tetapi di kelas dan di laboratorium, kebiasaan presentasi sudah lama dilakukan, kata anakku. Pantesan, kupikir. Anak SD kok lancar banget kalau ditanya. Bukan jawab ‘Nggak tahu…’ lalu cengengesan.

5. Membaca 1 buku setiap hari. (Iya, setiap hari!)

Di sekolah anakku, kewajiban membaca ini 'dipaksakan' dari kelas 1 SD sampai kelas 4 SD. Tiap hari harus mengisi reading log/daftar bacaan yang sudah selesai dibaca, dan ortu harus ikut membaca lantas memberikan tanda tangan sebagai tanda komitmen.

Ortu harus bertanya ke anaknya:
- apa yg kamu tangkap dari bacaan ini?
Lantas ortu dan anak membangun diskusi terkait bacaan. Di sinilah kemampuan LITERASI dibangun.

Besoknya anak disuruh cerita di kelas, tentang isi bacaannya.

Meskipun awalnya diwajibkan, tapi lama-lama kebiasaan membaca terbentuk. Dan akhirnya menjadi kecintaan membaca.

Guru-guru di sekolah itu juga dituntut untuk menyemaikan thinking skills, salah satunya dengan cara membiasakan diskusi 2 arah untuk membangun keterampilan berpikir.

Topik geografi dan sejarah, tetap diajarkan, tetapi HANYA SEBAGAI MATERI BAHASAN (alias dipakai sebagai bahan diskusi) untuk mengembangkan KETERAMPILAN BERPIKIR yang tertuang di nomor 1, 3, dan 4 di atas.

Topik politik (apa ya namanya? PPKN?), agama, dan dinamika sosial juga diajarkan (dengan catatan: bukan sebagai bahan hafalan, tetapi sebagai latihan berpikir kritis dan mengembangkan nurani)

Semua pembelajaran Thinking Skills ini berlaku untuk SD dan SMP. Thinking skills digarap dengan sangat fokus di masa-masa ini.

Setelah ‘processor’ di kepalanya jadi, anak-anak akan siap memproses apa saja. Akan mampu memikirkan dan merenungkan apa saja.

Mereka akan siap menghadapi zaman, yang kita (para guru dan ortu) tidak mampu membayangkan....

********

Dulu, tahun 1970an, kakekku pernah berpesan :
banyaklah belajar. Jadilah GUDANG ilmu.

Tapi, di tahun 2025 ini aku akan menyampaikan pesan ayahku (yang pernah disampaikannya ke anakku, yang adalah cucunya): Kamu banyaklah berpikir. Jadilah PABRIK ilmu. Menciptakan ilmu dan temuan baru. Bukan cuma jadi gudang penyimpan atau penghafal ilmu.

Ya bener kan? Urusan menghafal itu biar dilakukan oleh google, AI dan semua kecerdasan buatan yang akan datang. Tugas manusia adalah: BERPIKIR, BERKREASI, MENYELESAIKAN MASALAH, MELAKUKAN TEROBOSAN BARU.

Jadi, kalau kita ingin anak-anak dan siswa-siswi kita mampu menghadapi masa depan, kita sudah tahu kan apa TUGAS KITA SEMUA sebagai ortu dan pendidik?

MEMBANGUN THINKING SKILLS!!!!!!!!!

Kisah ini, adalah kisah yang SUDAH TERJADI di tahun 2016. Artinya, ada 4 kebiasaan yang sudah terasah di diri anakku, yaitu:
1. membaca,
2. mengajukan pertanyaan konstruktif,
3. mencari jawabannya sendiri dan
4. berpikir kritis,
sudah dipraktekkan selama bertahun-tahun.

Apakah negeri ini terlambat jika pada tahun 2025 baru akan memulainya? Aku nggak bisa menyediakan jawabannya. Karena ‘urusan negara’ itu ada di luar kekuasaan kita.

Jadi???
Bagaimana jika KITA SAJA YANG MEMULAI DULUAN DARI DIRI KITA SENDIRI??? Kita mulai berpikir kritis. Lalu kita ajarkan anak-anak kita sendiri untuk terbiasa berpikir.

Karena memulai kebiasaan baik sekarang, itu selalu lebih baik dari pada memulainya nanti-nanti. Apalagi kalau tidak dimulai sama sekali.

DIDIK ANAK-ANAK KITA yuk. Anak-anak kita kan tanggung jawab kita…

Na Padmo OFC
11.09, Selasa Kliwon
22 Kalima 2936 Jawa
4 November 2025 Masehi

____

Sumber gambar: https://www.istockphoto.com/id/bot-wall?returnUrl=%2Fid%2Ffoto%2Frobot-dan-jari-manusia-menyentuh-bumi-di-latar-belakang-gm172438113-23515226

Percayalah, kalau ada perempuan berani duduk sendiri, tanpa mengkhawatirkan sekitarnya. Mentalnya sudah di atas rata - r...
18/05/2025

Percayalah, kalau ada perempuan berani duduk sendiri, tanpa mengkhawatirkan sekitarnya. Mentalnya sudah di atas rata - rata.

17/05/2025

💔 Ketika anda menghina anak anda, ia tidak berhenti mencintai anda tapi ia berhenti mencintai dirinya sendiri.

Anak-anak tidak tahu bagaimana cara membenci, mereka hanya tahu bagaimana cara mencintai.
Bahkan ketika mereka tidak diperlakukan dengan cinta.

Teriakan, ejekan, "kamu tidak berguna", "Tukang pemalas" dan lainnya; anda mungkin melupakannya keesokan harinya.
Tapi mereka mengulanginya diam-diam selama bertahun-tahun.
Dan mereka masih mengatakan bahwa anda adalah ibu atau ayah terbaik di dunia.
Karena cinta seorang anak tidak diperoleh tapi dipupuk.

👁‍🗨 Anda adalah cermin mereka.
Dan jika cermin itu pecah, begitu p**a harga diri mereka.

Cinta sejati tidak terletak pada hadiah.
Cinta sejati ada pada kesabaranmu, pada nada bicaramu, pada waktu yang kamu pilih untuk diberikan.
Tidak menyakiti dengan apa yang anda katakan ketika Anda kehilangan kendali.

Mendidik bukan berarti berteriak.
Melainkan mencintai dengan lebih sadar.

Karena apa yang anda katakan hari ini, akan menjadi suara yang akan kamu ucapkan sepanjang hidupmu.🌛

Kredit :Tentang Hidup

29/04/2025

Sandiwara Agung di Pelaminan: Sebuah Komedi Ritual Pernikahan Kita

Selamat datang di negeri antah berantah, eh, maksudnya Indonesia tercinta, di mana pernikahan bukan lagi sekadar menyatukan dua insan, tapi sebuah produksi teater kolosal yang wajib ditonton.

Jangan kaget kalau durasinya lebih panjang dari Avengers: Endgame, dan plotnya penuh dengan kejutan... yang sebenarnya sudah di-spoiler sejak peminangan tiga bulan lalu.

Mari kita mulai dengan adegan pembuka yang selalu sukses membuat mata berkaca-kaca: ritual "minta izin" sang mempelai wanita.

Bayangkan, setelah bertahun-tahun pacaran diam-diam di belakang Bapak, setelah chatting maraton sampai kuota jebol, dan setelah mantap memilih dia sebagai nahkoda kapal rumah tangga, tiba-tiba di hari H, kita pura-pura bertanya,

"Bolehkah saya menikah, Ayah?"

Tentu saja boleh, Nak! Kalau tidak boleh, tenda resepsi seharga mobil baru itu mau diapakan?

Catering dengan menu prasmanan seratus macam itu mau dikemanakan?

Undangan digital yang sudah tersebar ke seluruh kontak WhatsApp itu mau ditarik lagi?

Ini bukan lagi soal izin, tapi soal event organizer sudah booking tanggal cantik.

Ini adalah performance yang harus kita mainkan demi menjaga image keluarga dan memenuhi ekspektasi para tetangga kepo.

* * *

Lanjut ke adegan berikutnya, yang tak kalah dramatis: pihak keluarga pria datang dengan wajah memelas, mengulang permintaan yang sebenarnya sudah disetujui saat acara lamaran yang penuh seserahan (yang isinya kadang lebih banyak dari isi kulkas kosan).

"Dengan segala kerendahan hati, kami memohon..."

Begitulah dialognya, seolah-olah calon pengantin pria ini adalah buronan yang sedang meminta suaka.

Padahal, jauh sebelum hari ini, peta lokasi KUA sudah di-share di grup keluarga.

Ini adalah seremoni basa-basi, sebuah formalitas yang harus dilalui agar alurnya "sesuai pakem".

* * *

Di belahan bumi lain, pernikahan mungkin hanya dihadiri oleh segelintir teman dekat, tanpa drama air mata buatan dan pidato-pidato protokoler yang panjangnya bisa mengalahkan khotbah Jumat.

Mereka mungkin heran melihat kita bersusah payah menciptakan "sandiwara" ini.

Mereka mungkin bertanya, "Bukankah yang terpenting adalah cinta dan komitmen antara dua orang?"

Oh, polosnya mereka!

Di sini, pernikahan adalah proyek keluarga besar. Ada gengsi yang dipertaruhkan, ada status sosial yang harus dipertahankan, dan tentu saja, ada bahan perbincangan seru di arisan minggu depan.

Semakin mewah pestanya, semakin tinggi "nilai tawar" keluarga di mata masyarakat.

Pernikahan bukan lagi tentang "kita", tapi tentang "kata orang".

Maka, mari kita nikmati "sandiwara agung" ini. Anggap saja ini adalah pentas seni budaya yang unik dan penuh ironi.

Kita semua adalah aktor dan aktris yang memainkan peran masing-masing dengan apik.

Calon pengantin wanita dengan air mata buatan yang memesona, orang tua yang berusaha tegar padahal sudah menghitung amplop dari jauh hari.

Dan para tamu undangan yang datang bukan hanya untuk memberi selamat, tapi juga untuk menilai dan membandingkan dengan pernikahan anak mereka nanti.

Selamat datang di pesta walimah, sebuah komedi situasi yang dibalut tradisi, di mana skenarionya sudah ditulis jauh sebelum janji suci diucapkan.

Tepuk tangan meriah untuk kita semua yang berhasil memainkan peran dengan sempurna!

Semoga "sandiwara" ini berujung pada kebahagiaan yang nyata, bukan hanya sekadar di atas panggung pelaminan.

Tempuyung (Sonchus arvensis) adalah tanaman herbal yang dikenal dalam pengobatan tradisional Indonesia. Berikut adalah b...
20/04/2025

Tempuyung (Sonchus arvensis) adalah tanaman herbal yang dikenal dalam pengobatan tradisional Indonesia. Berikut adalah beberapa manfaat tempuyung dan cara menggunakannya:
1. Menghancurkan Batu Ginjal
• Manfaat: Tempuyung memiliki sifat diuretik yang dapat membantu melancarkan aliran urin dan membantu menghancurkan batu ginjal, sehingga mencegah nyeri ginjal.
• Cara Menggunakan: Seduh beberapa lembar daun tempuyung segar atau kering dalam air panas. Minum airnya secara rutin 1-2 kali sehari untuk hasil maksimal.
2. Menurunkan Tekanan Darah Tinggi
• Manfaat: Tempuyung mengandung kalium dan flavonoid yang berperan membantu melebarkan pembuluh darah dan mengurangi tekanan darah tinggi.
• Cara Menggunakan: Konsumsi air rebusan daun tempuyung atau campurkan daun tempuyung ke dalam jus sayuran.
3. Mengurangi Nyeri Sendi dan Rematik
• Manfaat: Kandungan anti-inflamasi pada tempuyung dapat meredakan nyeri sendi, rematik, dan peradangan pada otot.
• Cara Menggunakan: Tempelkan daun tempuyung yang telah dihancurkan sebagai kompres pada area yang terasa nyeri. Diamkan beberapa menit, lalu bersihkan.
4. Mengatasi Bisul dan Penyakit Kulit
• Manfaat: Sifat antiseptik dan anti-inflamasi pada tempuyung berguna untuk mengobati bisul, ruam, dan infeksi kulit ringan.
• Cara Menggunakan: Hancurkan daun tempuyung segar, lalu tempelkan pada area kulit yang bermasalah. Biarkan selama 15-20 menit, kemudian bilas dengan air bersih.
5. Melancarkan Buang Air Kecil
• Manfaat: Sifat diuretik dalam tempuyung membantu melancarkan buang air kecil, bermanfaat bagi yang memiliki masalah retensi cairan.
• Cara Menggunakan: Minum rebusan daun tempuyung secara rutin untuk membantu mengeluarkan racun dalam tubuh.

Namanya Pecut Kuda. Manfaat Pecut Kuda1.) Untuk amandel dan rematik:Siapkan 50 gr daun pecut kuda(segar) dicuci bersih k...
19/04/2025

Namanya Pecut Kuda.
Manfaat Pecut Kuda
1.) Untuk amandel dan rematik:
Siapkan 50 gr daun pecut kuda(segar) dicuci bersih kemudian direbus dengan 3 gelas air hingga tersisa 1 gelas air. Dinginkan dan saring. Minum 2 kali sehari, masing-masing 1/2 gelas.

2.) Untuk batuk dan radang tenggorokan:
Siapkan 50 gr tanaman pecut kuda segar ,2 rimpang kencur ukuran sedang dan 2 siung bawang putih. Kemudian ditumbuk sampai halus. Tambahkan 1/2 gelas air gula batu, campur sampai merata, kemudian saring. Minum 3 kali sehari.

3.) Untuk mengatasi keputihan:
Siapkan 50 gr akar pecut kuda (segar) direbus dengan 3 gelas air hingga tersisa 1 gelas air. Dinginkan dan minum 2 kali sehari.

4.) Untuk hepatitis A:
Rebus 10 tangkai bunga pecut kuda dan gula batu secukupnya dengan 3 gelas air
Hingga tersisa 1 gelas. Saring, dinginkan dan minum setiap hari sampai sembuh

Sukun: Pohon Kehidupan, Pangan Masa DepanDi tengah tantangan krisis pangan dan perubahan iklim, berdirilah tegak sebuah ...
16/04/2025

Sukun: Pohon Kehidupan, Pangan Masa Depan

Di tengah tantangan krisis pangan dan perubahan iklim, berdirilah tegak sebuah pohon dengan dedaunan lebar dan batang kokoh bernama sukun. Ia bukan hanya pohon biasa, melainkan simbol kemandirian pangan yang tumbuh dari bumi tropis. Di desa-desa, ia hadir tenang, memberi makan tanpa banyak tuntutan.

Faktanya, sukun memang layak disebut sebagai pangan masa depan:

Tumbuh tanpa ribet: Bisa hidup di berbagai jenis tanah, tahan kekeringan, dan tidak perlu banyak perawatan.

Hasil melimpah: Satu pohon bisa menghasilkan 50–150 buah per tahun, dengan berat 1–3 kg per buah.

Gizi tinggi: Mengandung karbohidrat kompleks, vitamin C, serat, kalium, dan bebas gluten—bisa jadi alternatif sehat pengganti beras dan gandum.

Bisa diolah jadi apa saja: Tepung, keripik, kukus, goreng, makanan bayi, hingga roti.

Tanaman tahunan yang ramah lingkungan: Tidak perlu ditanam ulang tiap musim, hemat air dan energi, cocok untuk pertanian lestari.

Sudah dibuktikan: Di banyak negara tropis seperti di Pasifik dan Polinesia, sukun adalah makanan pokok dan disebut the tree of life.

Lebih dari sekadar makanan, sukun adalah harapan. Ia bisa ditanam di pekarangan, di ladang, atau di sela-sela kebun agroforestri. Saat dunia gelisah mencari pangan berkelanjutan, sukun diam-diam menawarkan jawabannya—dengan akar yang kuat, buah yang murah hati, dan jejak karbon yang rendah.

Sukun bukan makanan masa lalu, melainkan pangan masa depan. Tumbuh tanpa gaduh, memberi tanpa pamrih. Mari jaga, tanam, dan muliakan sukun sebagai warisan alam yang layak kita rawat bersama.

16/04/2025

Coba lihat kebun kita, ada singkong, kelapa, kopi, cabe, jahe, kunyit, kencur, pohon pisang, dan semua itu bukan hanya tumbuhan mereka adalah arsip rasa.

Mereka menyimpan cerita bagaimana orang dulu bertahan hidup tanpa supermarket, mereka juga menyembuhkan sakit tanpa apotek dan mereka merawat bumi tanpa pupuk kimia.

Menanam pangan lokal adalah bentuk perlawanan terhadap budaya instan, ini bukan romantisme masa lalu, ini adalah masa depan yang berakar.

Chiasmodon Si Pemangsa Nekat memangsa ikan yang lebih besar dari tubuhnya di Laut DalamDi kedalaman laut yang gelap dan ...
14/04/2025

Chiasmodon Si Pemangsa Nekat memangsa ikan yang lebih besar dari tubuhnya di Laut Dalam

Di kedalaman laut yang gelap dan nyaris tanpa cahaya, hidup makhluk yang menantang logika anatomi: Chiasmodon, alias black swallower. Ikan ini bukan hanya dikenal karena penampilannya yang menyeramkan, tapi juga karena kemampuannya yang luar biasa dan tragis.

Chiasmodon bisa menelan mangsa hingga 10 kali ukuran tubuhnya sendiri. Bayangkan ibarat seekor serigala biasa yang menelan seekor sapi utuh itulah yang di lakukan ikan ini, begitu ekstrimnya kemampuan predator ini. Rahasianya terletak pada perutnya yang elastis luar biasa. Lambung Chiasmodon bisa meregang seperti balon, menyimpan seluruh tubuh mangsa, lalu perlahan mencernanya seiring waktu.

Namun, keahlian ini bukan tanpa risiko. Banyak Chiasmodon ditemukan mati bukan karena diburu, tapi karena keserakahan mereka sendiri. Terkadang mangsa yang terlalu besar menyebabkan lambung mereka pecah, dan bukannya kenyang, mereka justru kehilangan nyawa.

Kisah Chiasmodon adalah pengingat unik dari mahluk hidup untuk kita, bahwa sesuatu yang berlebihan juga tidak baik untuk diri sendiri.



12/04/2025
10/04/2025

MANFAAT KUNYIT UNTUK TERNAK KTA
Kunyit ( Curcuma Domestica ). atau Curcuma Longa L,dapat meningkatkan kesehatan dan performa ayam, seperti nafsu makan, pencernaan, dan daya tahan tubuh. Kunyit juga dapat membantu mengatasi penyakit dan cacingan pada ayam.
Manfaat
Penjelasan
Meningkatkan nafsu makan
Kunyit dapat meningkatkan nafsu makan ayam, sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan dan efisiensi produksi
Meningkatkan daya tahan tubuh
Kunyit kaya akan antioksidan yang dapat mencegah radikal bebas
Meningkatkan pencernaan
Kunyit dapat meningkatkan kerja organ pencernaan, merangsang keluarnya getah pankreas, dan memperbaiki penyerapan makanan
Mengobati cacingan
Kunyit mengandung senyawa flavonoid, tanin, dan saponin yang berpotensi sebagai anthelmintik
Meningkatkan kualitas telur
Kunyit dapat membantu meningkatkan kualitas cangkang telur dan kandungan nutrisi pada kuning telur
Mempercepat penyembuhan luka
Kunyit memiliki kandungan antibakteri yang dapat dengan cepat menyembuhkan luka
Mencegah stres dan kekurangan vitamin
Kunyit dapat membantu mencegah stres dan kekurangan vitamin
Mengeraskan kulit kaki
Kunyit memiliki sifat anti inflamasi yang baik untuk menjaga kesehatan kaki ayam
Kunyit dapat diolah menjadi tepung untuk meningkatkan daya simpan dan mempermudah pemberiannya.
0

Address

Oja Baru
Mauponggo
86463

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when herlin mogi posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share