Halak hita

Halak hita zona hiburan

Endorse/promosi
Langsung caht

Latapon 😁😁
06/11/2025

Latapon 😁😁

Agak lain
06/11/2025

Agak lain

05/11/2025

Hanya sebuah cerita
"Untuk Ibu, Dari Rumah Paling Ujung Gang"

Pagi itu, matahari baru muncul di atas atap seng rumah-rumah sempit di gang kecil itu. Suara ayam, deru motor, dan panggilan penjual sayur bersahutan.
Di rumah paling ujung, seorang wanita paruh baya bernama Ibu Wati sedang menyiapkan sarapan. Tangannya cekatan menggoreng tempe, sementara matanya sesekali menatap jam dinding yang sudah menguning di tepinya.

“Jangan lupa sarapannya, Nak!” katanya keras dari dapur.
“Sebentar, Bu!” suara dari kamar menjawab. Itu Dimas, anak semata wayangnya yang baru duduk di kelas 3 SMA.

Dimas keluar dengan kemeja putih agak kusut, rambut belum disisir rapi. Ia terlihat tergesa-gesa.
“Bu, nanti Dimas pulang agak sore, ada les tambahan.”
Ibu Wati tersenyum. “Iya, yang penting makan dulu.”
“Gak sempat, Bu. Nanti aja di sekolah.”

Ia berlari keluar. Ibu Wati hanya menghela napas, lalu membungkus nasi dan tempe itu dengan kertas cokelat.
Ia menaruhnya di atas meja kecil di dekat pintu, seperti kebiasaannya setiap pagi walau tahu, sering kali, makanan itu baru disentuh sore hari, saat sudah dingin.

Hidup mereka sederhana. Suami Ibu Wati sudah lama meninggal, dan untuk menyambung hidup, ia berjualan gorengan di depan SD dekat rumah. Tangan kirinya sudah mulai gemetar kalau memegang penjepit gorengan, tapi ia tetap bekerja.
Setiap sore, kalau hujan deras, ia memeluk kantong plastik berisi gorengan sisa sambil berjalan cepat pulang. Tapi ketika Dimas membuka pintu, wajah lelah itu selalu berubah jadi senyum.

“Dimas udah makan?”
“Belum, Bu. Ntar aja. Lagi capek.”
“Ya udah, gorengannya Ibu taruh di meja ya. Masih anget, lho.”

Ibu Wati sering diam-diam menatap anaknya yang belajar di ruang tamu. Ia tahu, Dimas pintar. Nilainya bagus. Tapi biaya kuliah... masih terlalu jauh untuk dipikirkan.

Kadang malam-malam, ketika Dimas sudah tertidur, Ibu Wati duduk di bawah lampu redup, menghitung recehan hasil jualan hari itu.
Rp127.000. Ia menulis di kertas kecil: “Tabungan kuliah Dimas.”

Suatu hari, Dimas pulang membawa amplop.
“Bu, ini ada lomba menulis, hadiahnya dua juta! Kalau Dimas menang, bisa bantu bayar formulir kuliah!”
Ibu Wati tersenyum lebar, matanya berkaca-kaca.
“Ya Allah, semoga dimudahkan ya, Nak. Ibu bangga banget.”

Beberapa minggu berlalu. Dimas kalah. Ia tidak banyak bicara.
Malam itu, Ibu Wati mendengar suara tangis pelan dari kamarnya. Ia pura-pura tidak tahu, hanya duduk di dapur, menatap panci kosong.
Ia menulis lagi di kertas kecil:
“Jangan menyerah. Ibu masih kuat jualan.”

Waktu berjalan. Dimas akhirnya diterima di universitas negeri lewat jalur beasiswa. Hari itu, Ibu Wati menunggu di depan rumah dengan pakaian terbaiknya — kebaya lama warna hijau muda.
Ketika Dimas pamit, ia memeluk anaknya erat-erat.

“Jaga diri ya, Nak. Kalau lapar, jangan cuma minum air putih. Ibu tau rasanya.”

“Bu…” suara Dimas bergetar. “Nanti kalau Dimas udah kerja, Ibu gak boleh jualan lagi.”

Ibu Wati tertawa kecil. “Iya, kalau Ibu masih ada.”

Empat tahun kemudian, Dimas pulang dengan setelan jas dan map cokelat di tangan.
Ia masuk ke rumah yang kini tampak sepi.
Di atas meja, ada kertas kecil — kertas yang sama seperti dulu — tertulis pelan dengan tulisan tangan yang bergetar:

> “Kalau Ibu gak sempat lihat Dimas wisuda, gak apa-apa.
> Ibu udah bahagia dari dulu, setiap kali lihat kamu berjuang.
> Jangan lupa makan, Nak. Dari Ibu.”

Dimas jatuh berlutut. Di luar, hujan turun pelan — seperti pagi-pagi dulu saat Ibu menunggunya sarapan.

Ia menatap meja itu lama sekali, sebelum berbisik,
“Bu… Dimas sudah berhasil. Tapi rumah ini hampa tanpa Ibu.”

Sejak hari itu, setiap pagi, Dimas selalu menaruh sebungkus nasi tempe di meja kecil dekat pintu seperti dulu ibunya lakukan.
Bukan untuk dimakan. Tapi sebagai cara untuk tetap pulang.

05/11/2025

Ai hina ma i 😁😁

04/11/2025

Anggo mambukka i nomor 1 😁😁😁

14/03/2025

Sala bukka 🤣🤣

14/03/2025

Sobinoto

14/03/2025

🤣🤣🤣🤣🤣

14/03/2025

Nabe jagal on hamuna

14/03/2025

Martangiang hita

14/03/2025

Otutu

14/03/2025

Marhua do goar nion di huta mu hamuna

Address

Medan

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Halak hita posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category