26/12/2025
Di ujung desa, berdirilah sebuah rumah tua yang sudah lama tidak dihuni. Dindingnya kusam, atapnya berlumut, dan jendelanya selalu tertutup rapat. Anak-anak desa sering berbisik bahwa rumah itu tidak pernah benar-benar kosong.
Suatu malam, ketika bulan purnama menggantung pucat di langit, angin bertiup pelan membawa suara dedaunan kering. Jam menunjukkan tengah malam. Desa sudah terlelap dalam tidur.
Tiba-tiba, dari dalam rumah tua itu, muncul cahaya putih.
Cahaya itu melayang perlahan, seperti kain tipis yang tertiup angin. Ia terbang keluar melalui jendela, berputar-putar di halaman rumah, lalu naik ke udara. Warnanya putih bersih, berkilau lembut, tidak menakutkan—justru terlihat sedih.
Seorang anak bernama Laras, yang rumahnya tepat di seberang, terbangun karena merasa seperti sedang dipanggil. Dari balik jendela kamarnya, ia melihat penampakan putih itu terbang pelan, seolah mencari sesuatu.
Alih-alih lari ketakutan, Laras membuka jendela dan berbisik,
“Siapa kamu…?”
Penampakan itu berhenti. Perlahan, cahaya putih itu berubah menjadi bayangan seorang perempuan tua dengan wajah lembut dan mata penuh kerinduan.
“Aku hanya menjaga rumah ini,” suara itu terdengar pelan seperti angin.
“Di sinilah dulu tawa keluargaku tinggal.”
Laras mengerti. Rumah itu bukan berhantu—melainkan menyimpan kenangan.
Perempuan itu tersenyum, lalu tubuhnya kembali menjadi cahaya putih. Ia terbang perlahan ke langit dan lenyap bersama sinar bulan.
Sejak malam itu, rumah tua tak pernah lagi menampakkan cahaya putih. Namun suasananya terasa hangat. Beberapa bulan kemudian, rumah itu direnovasi dan kembali dihuni.
Dan Laras tahu,
bahwa penampakan putih itu bukanlah makhluk yang menakutkan,
melainkan penjaga kenangan yang akhirnya menemukan ketenangan.
TAMAT