Banana The Genk

Banana The Genk RANDOM POSTS

28/12/2025

Tahun berapa kamu main puzzle

Di sebuah jalan kampung yang gelap dan sepi, berdirilah seorang preman kampung. Wajahnya khas orang Indonesia: alis teba...
27/12/2025

Di sebuah jalan kampung yang gelap dan sepi, berdirilah seorang preman kampung. Wajahnya khas orang Indonesia: alis tebal, mata sipit ngantuk, kumis tipis tapi gaya sok sangar. Jaket hitamnya kebesaran, sendalnya jepit—jelas lebih lucu daripada menakutkan.

Jam menunjukkan hampir tengah malam.

Tiba-tiba melintas sebuah pickup tua. Mesinnya bunyi “ngrok-ngrok”, dan bak belakangnya ditutup terpal putih… yang bergerak-gerak.

Preman langsung berdiri tegap.
“BERHENTI!”

Pickup berhenti. Sopirnya, Pak Slamet, turun dengan wajah datar.
“Ada apa, Bang?”

Preman mendekat, pasang suara berat.
“Lewat sini ada uang jalan.”

Pak Slamet mengangguk pelan.
“Oh… uang jalan.”

Ia membuka sedikit terpal.

Preman mencondongkan badan.

Di dalam bak… berdiri tiga pocong, terikat rapi, melompat pelan-pelan.
“Hop… hop…”

Preman membeku.
“……”

Salah satu pocong miring ke arahnya.

“Bang…” kata Pak Slamet santai,
“Yang tengah itu sensitif. Jangan ditatap lama-lama.”

Preman menelan ludah.
“Itu… itu apa?”

“Penumpang,” jawab Pak Slamet.
“Pulang kampung. Udah lama nggak dijemput.”

Tiba-tiba pocong paling depan meloncat lebih tinggi.
“DOOOP!”

Preman teriak setengah nada,
“WADUH! DIA LOMPAT!”

“Iya Bang,” kata Pak Slamet.
“Kalau kaget, makin tinggi.”

Preman mundur pelan.
“K… kalau saya minta uang jalan?”

Pak Slamet mikir sebentar.
“Bisa sih… tapi bayarnya bukan uang.”

“Terus?”

Pocong di belakang menoleh pelan.
“Huuuu…”

Preman langsung panik.
“UDAH! UDAH! SAYA YANG BAYAR JALAN!”

Ia lari terbirit-birit sambil teriak,
“SAYA PREMAN, BUKAN PENGANTAR JENAZAH!”

Pak Slamet naik lagi ke pickup.
Terpal ditutup.

Pickup melaju pergi, terdengar suara pelan dari bak:
“Hop… hop…”

Sejak malam itu, preman tersebut tidak pernah lagi malak kendaraan malam-malam—
apalagi yang baknya ditutup kain putih dan meloncat sendiri.

TAMAT 👻😄

Di sebuah jalan desa yang panas dan sepi, berdirilah seorang preman kampung. Wajahnya khas orang Indonesia: p**i bulat, ...
27/12/2025

Di sebuah jalan desa yang panas dan sepi, berdirilah seorang preman kampung. Wajahnya khas orang Indonesia: p**i bulat, senyum setengah maksa, kumis tipis yang lebih mirip bayangan. Jaket hitamnya dipakai terbuka, padahal kaos dalamnya bertuliskan “Santai Dulu”.

Ia berdiri sambil menatap jalan, menunggu mangsa.

Tak lama kemudian, melaju sebuah pickup kecil. Dari belakangnya terdengar suara ramai tapi kecil:

“Cit cit cit cit cit!”

Preman mengangkat tangan.
“BERHENTI!”

Sopirnya, Pak Rojak, berhenti dengan wajah polos.
“Kenapa ya, Bang?”

Preman mendekat, nada suaranya dibuat berat.
“Lewat sini ada uang jalan.”

Pak Rojak mengangguk.
“Oh iya Bang… tapi saya bawa barang sensitif.”

Preman nyengir.
“Tenang. Saya preman profesional.”

Pak Rojak membuka bak pickup.

Di dalamnya ada ratusan anak ayam kuning, bergerak-gerak, saling tindih, bersuara serempak:
“CIT! CIT! CIT! CIT!”

Preman langsung terpaku.

“Ini… banyak amat?”
“Baru lahir semua, Bang,” jawab Pak Rojak santai.
“Masih gampang kaget.”

Tiba-tiba satu anak ayam loncat ke pinggir bak.
“Cit!”

Preman refleks mundur.
“Eh! Itu mau ke saya?”

“Bisa jadi,” kata Pak Rojak.
“Mereka s**a ngikutin yang kelihatan galak.”

Preman berkeringat.

“Kalau mau uang jalan,” lanjut Pak Rojak,
“biasanya bayarnya pakai hitungan.”

“Hitungan apa?”

“Hitung suara mereka.”

Pak Rojak mengetuk bak.

Sekejap kemudian, semua anak ayam bersuara bersamaan:
“CIT CIT CIT CIT CIT CIT!!!”

Preman menutup telinga.
“ASTAGA! RAMAI AMAT!”

Anak ayam makin ribut, beberapa lompat-lompat.
Preman panik.
“UDAH! UDAH! SAYA NGGAK JADI!”

Ia lari menjauh sambil teriak,
“SAYA MALAK MANUSIA, BUKAN PAUD AYAM!”

Pak Rojak naik lagi ke mobil sambil ketawa.
Pickup melaju pergi, suara anak ayam makin jauh:
“Cit… cit… cit…”

Sejak hari itu, preman tersebut kapok menghentikan kendaraan—
terutama yang bawa anak ayam banyak dan cerewet.

TAMAT 🐥😄

Di sebuah jalan desa yang sepi, berdirilah seorang preman kampung. Wajahnya khas orang Indonesia: alis tebal, kumis tipi...
27/12/2025

Di sebuah jalan desa yang sepi, berdirilah seorang preman kampung. Wajahnya khas orang Indonesia: alis tebal, kumis tipis, senyum sok sangar tapi kelihatan lucu. Jaket hitamnya kebesaran, sendalnya jepit.

Sore itu datang sebuah truk kecil. Dari bak belakang terdengar suara ramai:

“Wek wek wek wek!”

Banyak sekali bebek berdesakan, sampai kepalanya keluar dari terpal.

Preman mengangkat tangan.
“Berhenti!”

Sopir, Pak Udin, mengerem.
“Kenapa, Bang?”

Preman mendekat.
“Lewat sini ada uang jalan.”

Pak Udin mengangguk pelan.
“Oh… uang jalan ya.”

Ia turun, membuka sedikit terpal.

Seketika suara bebek meledak.
“WEK WEK WEK WEK!”

Preman kaget.
“Buset! Ini semua bebek?”

“Iya Bang. Lagi ngobrol,” jawab Pak Udin santai.

Salah satu bebek menatap preman dengan mata bulat.
“Wek.”

Preman refleks mundur selangkah.
“Kenapa dia ngeliatin saya?”

“Itu bebek ketua,” kata Pak Udin.
“Biasanya sensitif sama orang asing.”

Preman mulai berkeringat.

“Kalau duit nggak ada,” lanjut Pak Udin,
“biasanya bayarnya pakai suara.”

“Suara?”

Pak Udin mengetuk bak truk.

Bebek-bebek serempak teriak:
“WEK WEK WEK WEK WEK!”

Preman menutup telinga.
“UDAH! UDAH! KEPALA SAYA PECAH!”

Salah satu bebek loncat sedikit.
“WEK!”

Preman langsung kabur sambil teriak,
“SAYA KALAH SAMA BEBEK!”

Pak Udin naik lagi ke truk sambil ketawa.
“Makanya Bang, jangan malak yang rame.”

Truk melaju pergi, suara bebek makin jauh:
“Wek… wek… wek…”

Sejak hari itu, preman tersebut kapok malak sopir—
apalagi yang bawa bebek banyak dan kompak.

TAMAT 🦆😄

Di sebuah jalan kecil yang sepi, sore itu tampak seorang preman kampung berdiri dengan tangan di pinggang. Wajahnya sang...
27/12/2025

Di sebuah jalan kecil yang sepi, sore itu tampak seorang preman kampung berdiri dengan tangan di pinggang. Wajahnya sangar, jaket kulitnya sudah pudar, tapi gayanya tetap seperti penguasa jalanan.

Tiba-tiba melintas sebuah motor tua dengan keranjang besar di belakang. Sopirnya, Pak Wira, mengenakan helm setengah dan tersenyum santai.

“BERHENTI!” teriak preman itu.

Pak Wira menepi.
“Kenapa, Bang?”

Preman mendekat sambil melipat tangan.
“Lewat sini ada uang jalan.”

Pak Wira mengangguk pelan.
“Oh iya, Bang… tapi saya bawa barang hidup.”

Preman tersenyum miring.
“Tenang. Mau ayam, kambing, juga pernah.”

Pak Wira membuka keranjang.

Di dalamnya penuh ulat kepompong—gemuk, cokelat, menggeliat pelan.

Preman terdiam.

Salah satu kepompong bergerak.
“kriiit…”

Preman refleks mundur.
“Itu… apa?”

“Calon kupu-kupu, Bang,” jawab Pak Wira santai.
“Masih fase mikir.”

Preman menelan ludah.
“Kalau saya ambil… aman?”

“Aman sih,” kata Pak Wira.
“Tapi jangan dijatuhkan. Nanti stres.”

Preman mengernyit.
“Stres?”

“Iya. Kalau stres, dia bisa… keluar lebih cepat.”

Tiba-tiba satu kepompong retak sedikit.

Preman menjerit kecil.
“WADUH! GERAK!”

Pak Wira cepat-cepat menutup keranjang.
“Makanya, Bang. Mereka sensitif. Takut sama orang galak.”

Preman melompat ke belakang.
“UDAH! UDAH! NGGAK JADI MALAK!”

Pak Wira menyalakan motor.
“Santai, Bang. Ini bukan buat nakut-nakutin. Buat penelitian.”

Preman berdiri kaku sambil mengelap keringat.
“Iya… iya… saya lebih cocok malak yang bawa batu bata.”

Motor pun melaju pergi.

Sejak hari itu, preman tersebut tak pernah lagi menghentikan kendaraan berkeranjang—
takut isinya bukan duit, tapi makhluk fase hidup.

TAMAT 🐛😄

Di sebuah jalan sepi pinggir kota, sore itu matahari hampir tenggelam.Sebuah pickup tua melaju pelan. Di bak belakangnya...
26/12/2025

Di sebuah jalan sepi pinggir kota, sore itu matahari hampir tenggelam.
Sebuah pickup tua melaju pelan. Di bak belakangnya berdiri tiga ekor kambing yang sibuk mengunyah apa saja yang bisa dikunyah—termasuk tali bak.

Tiba-tiba, seorang preman berdiri di tengah jalan.

“BERHENTI!” teriaknya sambil pasang badan.

Sopir pickup, Pak Darto, mengerem.
“Kok berhenti, Bang?”

Preman mendekat dengan gaya sok jago.
“Lewat sini ada uang jalan.”

Pak Darto mengangguk pelan.
“Oh… uang jalan ya.”

Preman senyum menang.
“Nah, ngerti kan.”

Pak Darto turun dari mobil, membuka bak belakang, lalu menunjuk kambing-kambingnya.
“Ambil aja, Bang. Saya nggak bawa duit.”

Preman mengernyit.
“Maksudnya?”

“Duit nggak ada. Adanya kambing.”

Salah satu kambing tiba-tiba mengembik keras.
“Mbeeek!”

Preman kaget setengah mati.
“Itu… marah apa lapar?”

“Kedua-duanya,” jawab Pak Darto santai.

Preman mikir sebentar.
“Kalau saya ambil kambing, bisa saya jual kan?”

“Bisa,” kata Pak Darto.
“Tapi yang itu s**a nendang orang asing.”

Kambing yang ditunjuk langsung menyundul bak mobil. Duk!

Preman mundur selangkah.
“Yang kecil aja.”

“Itu betina galak,” kata Pak Darto.

Preman berkeringat.

Tiba-tiba kambing paling besar meloncat turun.
“MBEEEEK!”

Preman panik, lari tunggang-langgang sambil teriak,
“UDAH! UDAH! NGGAK JADI!”

Pak Darto naik ke mobil lagi sambil geleng-geleng.
“Kambing saya bukan buat dijual ke preman.”

Pickup melaju pergi, sementara dari kejauhan terdengar suara kambing:
“Mbeeek…”

Sejak hari itu, preman tersebut tidak pernah lagi malak sopir pickup—
terutama yang bawa kambing.

TAMAT 🐐😄

Di sebuah rumah tua di pinggir kampung, warga sering mendengar suara aneh setiap tengah malam.Ada suara rantai diseret…a...
26/12/2025

Di sebuah rumah tua di pinggir kampung, warga sering mendengar suara aneh setiap tengah malam.
Ada suara rantai diseret…
ada pintu berderit…
dan kadang terdengar suara,
“Uuuuu…”

Semua yakin: rumah itu berhantu.

Suatu malam, Budi, anak kos yang baru pindah, nekat tidur di rumah itu karena sewanya murah. Sangat murah. Murah yang mencurigakan.

Tepat jam 12 malam, lampu tiba-tiba mati.

Angin dingin berhembus.
Tirai bergerak sendiri.
Lalu… muncullah penampakan putih melayang dari dapur ke ruang tamu.

Budi gemetar.
Keringat dingin mengalir.

Penampakan itu mendekat… semakin dekat…
hingga berdiri tepat di depan Budi.

Dengan suara berat, penampakan itu berkata,
“Uuuuuu… aku hantu….”

Budi menelan ludah.
“Mas… maaf. Saya baru pindah.”

Hantu itu terdiam.

“…oh,” kata hantu itu pelan.
“Pantesan wajah kamu asing.”

Budi dan hantu saling menatap.

“Mas hantu ngapain jam segini?” tanya Budi gugup.

Hantu menghela napas.
“Sebenernya mau nakutin… tapi dari tadi lupa niat. Tua.”

Budi bengong.

Hantu lalu duduk di sofa.
“Kamu punya kopi nggak? Tengah malam gini s**a masuk angin.”

Sejak malam itu, rumah itu tetap seram…
tapi setiap jam 12 malam,
terdengar suara bukan jeritan…

melainkan:
“Budiii… kopinya kurang gula.”

Dan warga kampung pun akhirnya tahu:
bukan semua hantu ingin menakut-nakuti—
ada juga yang cuma butuh teman ngobrol.

TAMAT 👻😄

Di ujung desa, berdirilah sebuah rumah tua yang sudah lama tidak dihuni. Dindingnya kusam, atapnya berlumut, dan jendela...
26/12/2025

Di ujung desa, berdirilah sebuah rumah tua yang sudah lama tidak dihuni. Dindingnya kusam, atapnya berlumut, dan jendelanya selalu tertutup rapat. Anak-anak desa sering berbisik bahwa rumah itu tidak pernah benar-benar kosong.

Suatu malam, ketika bulan purnama menggantung pucat di langit, angin bertiup pelan membawa suara dedaunan kering. Jam menunjukkan tengah malam. Desa sudah terlelap dalam tidur.

Tiba-tiba, dari dalam rumah tua itu, muncul cahaya putih.

Cahaya itu melayang perlahan, seperti kain tipis yang tertiup angin. Ia terbang keluar melalui jendela, berputar-putar di halaman rumah, lalu naik ke udara. Warnanya putih bersih, berkilau lembut, tidak menakutkan—justru terlihat sedih.

Seorang anak bernama Laras, yang rumahnya tepat di seberang, terbangun karena merasa seperti sedang dipanggil. Dari balik jendela kamarnya, ia melihat penampakan putih itu terbang pelan, seolah mencari sesuatu.

Alih-alih lari ketakutan, Laras membuka jendela dan berbisik,
“Siapa kamu…?”

Penampakan itu berhenti. Perlahan, cahaya putih itu berubah menjadi bayangan seorang perempuan tua dengan wajah lembut dan mata penuh kerinduan.

“Aku hanya menjaga rumah ini,” suara itu terdengar pelan seperti angin.
“Di sinilah dulu tawa keluargaku tinggal.”

Laras mengerti. Rumah itu bukan berhantu—melainkan menyimpan kenangan.

Perempuan itu tersenyum, lalu tubuhnya kembali menjadi cahaya putih. Ia terbang perlahan ke langit dan lenyap bersama sinar bulan.

Sejak malam itu, rumah tua tak pernah lagi menampakkan cahaya putih. Namun suasananya terasa hangat. Beberapa bulan kemudian, rumah itu direnovasi dan kembali dihuni.

Dan Laras tahu,
bahwa penampakan putih itu bukanlah makhluk yang menakutkan,
melainkan penjaga kenangan yang akhirnya menemukan ketenangan.

TAMAT

26/12/2025

ces magik

25/12/2025

puhs rek

10/12/2025

push renkk

Address

Medan

Telephone

+6281210815884

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Banana The Genk posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share