08/03/2025
Tahun 2025 ini ut4ng mu akan segera lunas
Ketik # untuk mengabulkan nya
Semuaorang Sorotan
Aku bangun tidur dengan sebuah pertanyaan besar di kepala: kenapa kalau kita minjem uang, kita yang harus balikin? Kenapa nggak uangnya aja yang balik sendiri ke kita? Aku coba eksperimen, aku taruh uang seribu di meja, aku tunggu. Lima menit, sepuluh menit, satu jam. Nggak gerak sama sekali. Uang itu diem aja, kayak nggak ngerti kalau dia harus balik ke pemiliknya. Aku mulai curiga, mungkin selama ini kita salah. Mungkin uang itu bukan alat tukar, tapi makhluk hidup yang cuma berpura-pura mati biar kita yang kerja buat dia.
Aku ambil dompet, buka isinya. Kosong. Aku goyang-goyangin dikit, berharap ada sesuatu yang jatuh, mungkin sekeping koin, mungkin keajaiban. Tapi yang jatuh cuma setetes air mata. Aku menatap ke luar jendela, melihat burung yang terbang bebas. Burung nggak punya dompet, nggak punya utang, nggak perlu mikirin cicilan motor. Kenapa hidup burung lebih simpel dari manusia? Aku mulai iri. Aku berpikir keras, mungkin solusinya adalah kita semua berhenti jadi manusia dan berubah jadi burung. Tapi kalau semua orang jadi burung, siapa yang bakal bikin nasi goreng?
Di tengah kebingungan itu, aku ingat sesuatu. Aku punya utang ke temen. Aku buka HP, lihat chat terakhir. βBro, jangan lupa utangnya ya.β Aku baca ulang. Aku tutup HP. Aku buka lagi. Masih sama. Aku mulai bertanya-tanya, apakah dalam semesta paralel ada versi diriku yang nggak punya utang? Apakah ada dunia di mana uang itu nggak eksis dan semua orang bisa makan gratis? Tapi kalau semua gratis, gimana caranya tukang bakso beli bahan? Apakah di dunia itu bakso tumbuh di pohon? Dan kalau iya, apa yang terjadi kalau angin kencang? Apakah bakal ada hujan bakso?
Aku sadar pikiranku udah makin jauh. Aku balik ke kenyataan. Aku lihat meja, uang seribu yang tadi aku taruh masih ada di situ, tetap diam, tetap pura-pura mati. Aku nyoba ngomong ke dia. βKamu nggak mau balik ke dompetku gitu?β Dia tetap diam, cuek. Aku mulai curiga, mungkin uang juga punya perasaan. Mungkin dia capek bolak-balik dari satu tangan ke tangan lain. Mungkin dia cuma pengen diem, rebahan, menikmati hidup tanpa harus ditransfer terus-menerus.
Di tengah semua ini, aku denger suara perutku bunyi. Aku sadar, semua pemikiran ini nggak akan ngubah kenyataan. Aku tetap butuh makan, butuh uang buat beli makan, dan utang tetap harus dibayar. Aku ambil uang seribu itu, masukin ke kantong, dan pergi cari warung terdekat. Mungkin hari ini aku nggak bisa menyelesaikan misteri tentang uang, tapi setidaknya aku bisa beli gorengan. Dan dalam dunia yang penuh ketidakpastian ini, kadang satu gorengan lebih berharga daripada filosofi yang terlalu dalam.