Papa Raziq

Papa Raziq konten random
konten viral
yang folow dan interaksi akan saya folow back dan interaksi balik

K4sus Viral!!! Hati-Hati Lowongan Kerja Online! Seorang pemuda asal Sumba D1sek4p dan Disiks4 selama 12 Jam di Bali.Sebu...
11/06/2026

K4sus Viral!!!
Hati-Hati Lowongan Kerja Online! Seorang pemuda asal Sumba D1sek4p dan Disiks4 selama 12 Jam di Bali.
Sebuah kabar mengerik4n sekaligus meny4yat hati menimpa seorang pemuda asal Sumba NTT, bernama Krisno (Kresno). Ia berniat merantau ke Bali demi mengadu nasib dan mencari nafkah, namun justru terjebak dalam lingkaran sindikat lowongan kerja palsu penipu kej4m yang hampir saja merenggut ny4wanya.
Kisah tr4gis yang dialami Krisno ini menjadi viral setelah beredar luas di media sosial lewat unggahan ibu korb4n. Kasus ini sontak memicu kemarahan besar warga Sumba, lantaran para pel4ku tega menyiksa korban secara brutal selama belasan jam.
Hal ini menjadi pengingat agar kita bisa lebih waspada dan tidak ada lagi korban berikutnya.
Kronologinya berawal dari iming-iming kerja online
1 Mei 2026: Krisno tiba di Bali dan menumpang di tempat kost sepupunya.
4 Mei 2026: Krisno mendapatkan tawaran pekerjaan secara online. Ia kemudian diundang untuk melakukan sesi wawancara di Hotel Libertas Seminyak. Agar korb4n percaya dan tidak curiga, pelaku mengaku sebagai sesama Kristen. Setelah sesi wawancara selesai, tabiat asli pelaku keluar. Semua barang pribadi milik Krisno langsung diambil secara paksa.
8 Mei 2026: Krisno dipindahkan ke Hotel Libertas Kedonganan. Di sana korb4n dituduh telah mencuri uang sebesar Rp. 2 jt dan dituduh melecehkan bos pelaku.
Penyiks4an brut4l selama 12 jam dari jam 5 Sore hingga jam 5 subuh dialami korb4n.
Di Hotel Libertas Kedonganan inilah penderit4an luar biasa harus dialami Krisno. Ia disek4p dan disiks4 secara s4dis oleh 3 orang bodyguard yang disewa oleh pel4ku utama. Selama setengah hari penuh, Krisno mengalami penyiks4an fisik yang sangat tidak m4nusiawi. Kep4la Krisno dipukul menggunakan sepatu high heels hingga robek, dipukul dan ditend4ng.
Pel4ku jg menghubungi ibu korb4n dan meminta uang tebusan sebesar Rp. 100jt dan mengancam akan menghabisi korb4n jika dikirimkan.
Tapi nasib mujur msh menghampirinya.
9 Mei sekitar pukul 04 dini hari, Krisno memanfaatkan kelalaian penjaga yg tertidur, dengan tubuh babak belur dan berlumuran d4r4h ia mengendap keluar dan meminta pertolongan di sebuah warung Madura yg buka 24 jam dgn meminjam ponsel pemilik warung lalu menghubungi kerabatnya di Bali lalu melapor ke polisi.
Saat ini polisi msh memburu para pel4ku yaitu otak kej4hatan 2 wanita sbg pel4ku utama dan 3 pria yg melakukan peng4niy4an.
Semoga prl4ku cepat tertangkap.
Dan semoga korb4n cepat pulih πŸ™

Pertamax Naik Tengah Malam, Apa Dampaknya?Pertamax tengah malam sudah naik jadi 16.250 per liter dari yang sebelumnya Rp...
10/06/2026

Pertamax Naik Tengah Malam, Apa Dampaknya?

Pertamax tengah malam sudah naik jadi 16.250 per liter dari yang sebelumnya Rp 12.300 per liter. Ini keknya bakalan naik lagi bisa sampai 20ribu. 🫣

Kalangan menengah makin tertekan dan turun kelas. Bentar lagi barang2 juga pasti akan naik, daya beli turun dan pengangguran meningkat. Sementara janji 19 juta lapangan kerja cuma sebatas omon2!

Beginilah kalau negara salah urus. Sementara program Makan bergizi gratis (MBG) dilakukan secara ugal-ugalan. Tuh lihat ribuan Motor listrik yang dibeli BGN mangkrak.

Belum lagi bicara program Kopdes merah putih yang dibangun serentak tapi gak jelas fungsinya. Banyak yang masih belum beroperasi. Bahkan sebagian terkesan asal bangun dan lokasinya di tengah hutan jauh dari pemukiman. Emang yang beli siapa? Jin tomang?

Beginilah kalau pemerintah dikritik tidak mau mendengar. Malah nuduh yang mengkritik anti NKRI, pemecah belah, Adu domba, agen asing, agen Soros, dll. Sekarang pemerintah kelabakan dan pontang-panting karena melihat ekonomi makin sulit.

Ujung-ujungnya penerimaan pajak digenjot dan dinaikkan, harga BBM dinaikkan, dan lagi-lagi rakyat yang diperas untuk mengurangi beban utang negara. Harusnya yang digenjot itu pendapatan hasil dari pengelolaan sumber daya alam.

Bukankah kita katanya negara yg kaya raya sumber daya alamnya? Lantas ke mana larinya semua itu?

Sebuah rekaman video mendadak viral di berbagai platform media sosial dan menjadi perbincangan hangat warganet. Video te...
27/05/2026

Sebuah rekaman video mendadak viral di berbagai platform media sosial dan menjadi perbincangan hangat warganet. Video tersebut memperlihatkan aksi nekat seorang pendeta asal Afrika yang mencoba meniru mukjizat Nabi Musa, yaitu membelah air laut. Namun, aksi tersebut tidak berjalan sesuai rencana dan berakhir dengan kepanikan.

Dalam video berdurasi singkat itu, terlihat sekelompok jemaat tengah berkumpul di tepi pantai yang berombak cukup besar. Di barisan depan, tampak seorang pria yang diduga sebagai pemimpin atau salah satu penatua jemaat, sedang berlutut di atas pasir sambil membaca ayat-ayat dari Kitab Suci dengan khusyuk di tengah terjangan buih ombak. Di belakangnya, para jemaat lain tampak mengangkat tangan sambil bersorak memberikan dukungan spiritual.

Tak lama kemudian, sang pendeta yang mengenakan jubah putih panjang muncul sambil memegang sebuah tongkat kayu besar di tangan kanannyaβ€”mirip dengan penggambaran tongkat Nabi Musa. Dengan penuh keyakinan, ia mulai berlari ke arah laut lepas dan menerjang ombak yang datang.

Sambil mengangkat tinggi-tinggi tongkatnya ke udara, sang pendeta terus berjalan semakin dalam ke arah laut, berharap air laut di hadapannya akan terbelah. Sial bagi sang pendeta, alih-alih terbelah, sebuah ombak besar yang datang justru langsung menghantam tubuhnya dengan keras.

Akibat hantaman ombak tersebut, sang pendeta kehilangan keseimbangan, terjatuh, dan sempat tergulung di dalam air. Menyadari bahaya yang mengancam nyawanya, ia pun segera berbalik arah dan berusaha menyelamatkan diri kembali ke bibir pantai. Beruntung, ia berhasil kembali ke daratan dengan selamat, meskipun jubah putihnya basah kuyup dan aksinya gagal total.

Video ini pun langsung memicu berbagai reaksi jenaka dari para warganet di media sosial. Banyak yang menyayangkan aksi nekat tersebut karena dinilai sangat membahayakan keselamatan.

"Dia memulainya seperti Nabi Musa, tapi hampir berakhir tragis seperti Firaun,"
😳😳😳😳

Up date kasus pem*rkosaan adik kakak di bawah umur oleh ayah tiri. Kemarin keluarga membawa korban, saksi dan barang buk...
19/05/2026

Up date kasus pem*rkosaan adik kakak di bawah umur oleh ayah tiri. Kemarin keluarga membawa korban, saksi dan barang bukti ke Polres Pesisir Selatan untuk melengkapi laporan. Mereka diperiksa dari pagi hingga sore. Lalu lanjut ke UPTD PPA untuk membuat laporan dan meminta pendampingan.

Untuk sementara tugas gw sebagai tetangga yang mengenal korban dan keluarga sudah selesai. Kini kita menunggu kinerja kepolisian untuk segera bergerak memburu pelaku. Jika tak ada pergerakan, yah gw akan bersuara kembali.

Ada hal lain untuk menguatkan kebinatangan pelaku yang juga kemarin gw terima. Seorang warga di kampung itu chat gw kemarin.

Ia menceritakan pengalaman buruk dengan pelaku yang berteman dengan abg nya. Berkali-kali pelaku mencoba memperk*sanya yang saat itu baru beranjak remaja, 14th. Kejadian 15th lalu.

Kejadian buruk yang tidak ia lupakan, saat ia tertidur di kamar, lalu tiba-tiba bajingan ini masuk dan naik ke tempat tidurnya, untungnya dia terbangun dan sekuat tenaga menendang pelaku dan keluar dari kamar itu. Berkali-kali upaya itu tak membuahkan hasil karena calon korban ini bisa kabur.

Ia menyimpan semua itu karena malu dan takut orang lain tak akan percaya. Ia baru menceritakan ke gw kemarin, betapa trauma itu ia rasakan sampai saat ini. Dan ia bersyukur, kelakuan buruk pelaku akhirnya terbongkar. Ia ingin pelaku ditangkap dan diadili dengan hukuman seberat-beratnya.

Bayangkan trauma yang dialami 2 anak yang diperk*sanya berkali-kali selama 3th terakhir? Mereka memang masih pergi sekolah, masih bermain, masih bisa tertawa, tapi luka dari kaca-kaca di mata mereka tak bisa menutupi derita.

Orang-orang yang memilih tak peduli, tidak ingin ikut campur, malah memilih menghujat sang ibu dan korban, nurani kalian di mana? Apakah kalian membenarkan tindakan pelaku dan menimpakan kesalahan pada ibu mereka? Taukah kalian luka yang mereka rasakan selama ini hingga tak tau cara membela diri?

Tidak bisakah kalian fokus kalau pelaku harus segera ditangkap, dan untuk keluarga yang melindungi pun harus mendapat sanksi sosial dan jika terbukti melindungi penjahat k*lamin ini pun bisa dituntut secara hukum.

Ingatlah, jika sesuatu yang buruk menimpa keluargamu, lalu orang sekelilingmu tak peduli, karena berpikir, itu urusan mereka, kira-kira apa rasanya? Keluarga korban diam bukan berarti tak berusaha, mereka diam karena menunggu polisi bergerak dan warga ikut turun membantu mereka.

Ingatlah, dalam hal kejahatan seperti ini, kita harus berada di posisi yang jelas, hitam atau putih, bukan abu-abu dengan dalih itu urusan mereka.

Terima kasih untuk semua teman yang ikut membantu dan support dengan share kasus ini sebanyak-banyaknya. Makin banyak yang tau, makin banyak yang dukung, makin semangat p**a polisi bekerja. Gw percaya, semua maaih punya hati nurani.

19/05/2026

Panen duku lagi gaes. 😊

Tragedi ini bermula dari sebuah rumah mewah berlantai dua di Jalan Beo No. 17, persimpangan Jalan Angsa, Kecamatan Medan...
16/05/2026

Tragedi ini bermula dari sebuah rumah mewah berlantai dua di Jalan Beo No. 17, persimpangan Jalan Angsa, Kecamatan Medan Timur. Dikelilingi pagar yang dibangun sangat tinggi dan selalu tertutup rapat, rumah ini menciptakan ilusi sempurna sebagai kediaman keluarga kaya yang terhormat sekaligus kantor bisnis yang bonafide. Fasad ini secara psikologis dan visual berhasil membuat tetangga sekitar maupun pihak berwenang tidak menaruh curiga sedikit pun terhadap aktivitas harian di dalamnya.

Di balik tembok tersebut, Syamsul Anwar dan istrinya, Bibi Randika, mengendalikan sebuah operasi berbendera CV Maju Jaya. Mereka mengklaim diri sebagai biro jasa penyalur asisten rumah tangga (ART) dan babysitter. Namun kenyataannya, CV Maju Jaya adalah entitas ilegal tanpa Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) yang sah, tidak terdaftar sebagai Lembaga Penempatan Tenaga Kerja Swasta (LPTKS), dan tak memiliki izin penampungan. Embel-embel "CV" hanyalah tameng untuk mengelabui aparat lingkungan dan meyakinkan para agen di luar daerah.

Karena tak memiliki jalur resmi, Syamsul dan Bibi membangun jaringan perekrutan di akar rumput. Mereka menyebar "sponsor" atau calo ke pedesaan di Jawa Tengah (seperti Demak), Jawa Timur (Malang), hingga Madura dan NTT. Target mereka spesifik: perempuan dari keluarga ekonomi rendah, berpendidikan minim, dan sedang sangat membutuhkan pekerjaan. Para calo ini menebar iming-iming menggiurkan berupa pekerjaan ART di rumah mewah Medan atau disalurkan ke Malaysia, lengkap dengan fasilitas layak dan gaji berkisar Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta per bulan angka yang sangat besar bagi warga desa di tahun 2014. Ini adalah manip**asi psikologis dan eksploitasi kemiskinan yang terorganisir rapi agar korban datang menyerahkan diri ke dalam jebakan.

Titik Transisi Menuju Neraka

Begitu para korban termakan janji manis dan tiba di Medan, mereka dijemput oleh orang suruhan Syamsul. Momen melangkahkan kaki ke dalam rumah Jalan Beo No. 17 adalah titik batas antara dunia luar dan neraka penyekapan.

Seketika, seluruh barang bawaan, telepon seluler, uang tunai, hingga dokumen identitas seperti KTP dan ijazah dirampas. Ini adalah taktik isolasi total agar korban kehilangan identitas legal dan tak bisa meminta tolong kepada keluarga atau aparat. Setelah raga mereka dikuasai, pagar tinggi dikunci rapat. Rumah tersebut menerapkan penguncian ganda dengan jendela-jendela yang dipasangi teralis besi berlapis.

Para korban tidak ditempatkan di kamar layaknya pekerja. Mereka dimasukkan ke dalam ruangan isolasi sempit di lantai bawah, berdekatan dengan garasi atau gudang. Di "penjara bawah" berlantai semen tanpa alas layak inilah mereka tidur, menciptakan kontras yang menyayat hati dengan kemewahan lantai atas tempat keluarga pelaku tinggal. Lebih jauh lagi, rumah ini dilengkapi sistem pengawasan berteknologi. Titik-titik kamera CCTV difokuskan ke arah dalam dapur, ruang cuci, dan lorong memastikan para korban diawasi setiap detiknya agar tak memiliki celah merencanakan pelarian.

Ekosistem Kebiadaban

Di dalam tembok tersebut, janji pekerjaan hanyalah kedok perbudakan modern. Para ART dipaksa bekerja nyaris 24 jam penuh, sejak subuh hingga larut malam, untuk mengurus rumah besar tersebut, mencuci, hingga melayani seluruh kebutuhan keluarga pelaku tanpa waktu istirahat. Gaji yang dijanjikan tidak pernah diberikan, dan setiap tagihan hak selalu dibalas dengan ancaman atau pukulan.

Sadisme terus bereskalasi melalui teror pangan dan degradasi martabat. Alih-alih nasi, para korban dipaksa memakan dedak (pakan unggas) yang dicampur dengan duri atau tulang belulang ikan sisa makanan keluarga pelaku. Saat kehausan, akses air bersih dibatasi hingga memaksa korban meminum air dari kloset atau bekas pel lantai demi bertahan hidup. Tujuan keji ini jelas: melemahkan fisik agar korban tak sanggup melawan, sekaligus menanamkan rasa rendah diri yang ekstrem.

Setiap kesalahan kecil, seperti mengantuk atau menyapu kurang bersih, dihukum dengan penyiksaan di luar nalar. Pelaku menggunakan balok kayu, selang air, gagang sapu, hingga besi. Penyiksaan ekstrem berupa siraman air mendidih hingga punggung atau wajah yang disetrika panas menjadi rutinitas. Beberapa korban bahkan ditelanjangi di depan pekerja pria sebagai bentuk penghinaan mental, lalu disuruh berdiri berjam-jam atau dipukuli beramai-ramai.

Kekejian ini bukanlah aksi individual. Bibi Randika sering menjadi inisiator algojo, sementara Syamsul turut memukul. Mirisnya, sang anak kandung, MT, beserta keponakan dan pekerja pria seperti Feri dan Kiki Andika juga ikut menyiksa. Rumah itu telah bermutasi menjadi ekosistem kejahatan di mana penyiksaan dianggap sebagai kelaziman komunal. Di tengah pusaran neraka itu, terdapat fakta menyayat hati: polisi kelak menemukan seorang bayi laki-laki berusia 11 bulan, anak dari salah satu pekerja, yang terpaksa hidup dan menyaksikan siksaan di lingkungan yang sama, mempertegas hilangnya empati para pelaku.

Nyawa yang Terampas dan Jejak di Balik Kabut

Kondisi kelaparan kronis dan siksaan tanpa henti pada akhirnya memakan nyawa. Kematian pertama menimpa Yanti. Tubuhnya yang hancur tak mampu lagi menahan infeksi luka dan kelaparan. Kematiannya berhasil ditutupi dan tak pernah dilaporkan, sebuah keberhasilan yang justru mempertebal arogansi pelaku karena merasa kebal hukum.

Hingga tibalah akhir Oktober 2014. Hermin, ART asal Jawa Tengah yang akrab dipanggil Cici, menjadi target perundungan paling intens. Hanya karena pekerjaannya dianggap lambat akibat lemas kelaparan, ia dipukuli secara brutal dengan gagang sapu, selang air, dan balok kayu. Dalam kondisi penuh luka memar dan nyaris tak sadarkan diri, ia direndam air lalu dibiarkan sekarat tanpa pertolongan medis hingga menghembuskan napas terakhirnya.

Menyadari Cici tewas, Syamsul menginstruksikan konspirasi dingin penutupan jejak. Melibatkan anak kandung, keponakan, dan para pekerja prianya, jenazah dibungkus rapat bak paket barang. Malam itu, tubuh Cici diangkut menggunakan mobil menjauhi pusat Kota Medan, menuju dataran tinggi Barusjahe di Kabupaten Karo yang sepi dan berkabut. Di sanalah jenazah dibuang begitu saja.

Beberapa hari kemudian di awal November 2014, warga Karo digegerkan penemuan mayat "Miss X" yang penuh luka lebam tak wajar. Hasil otopsi Visum et Repertum RS Bhayangkara kelak menjadi bukti bisu yang tak terbantahkan: ada trauma retak tulang rusuk, luka parah di kepala akibat benturan keras, serta malnutrisi ekstrem yang membuktikan bahwa ia telah dibiarkan kelaparan kronis sebelum mati terbunuh.

Runtuhnya Tirai Besi

Awal mula keruntuhan kejahatan sempurna ini datang dari laporan intelijen masyarakat mengenai dugaan perdagangan manusia. Pada Kamis sore, 27 November 2014 (yang terus dikembangkan hingga awal Desember), Satreskrim Polresta Medan melakukan penggerebekan klimaks. Saat tiba, rumah terkunci rapat. Syamsul dan keluarganya sempat mencoba menghalangi penetrasi aparat.

Namun setelah berhasil mendobrak masuk dan menyisir rumah, polisi menemukan sel-sel pengap tempat para pekerja disekap. Di sana, mereka menyelamatkan Endang Murdianingsih (55), Rukmiyani (42), dan Anis Rahayu (31). Pemandangan ketiganya sangat mengiris hati: tubuh kurus kering akibat malnutrisi akut, penuh luka bakar bekas setrika dan air panas, serta trauma ketakutan luar biasa.

Di momen inilah plot twist terjadi. Di bawah lindungan polisi wanita, dengan suara bergetar para korban membongkar rahasia gelap itu: "Teman kami, Cici, sudah mati dipukuli, dan mayatnya dibawa pergi." Pengakuan ini langsung mengubah arah kasus dari sekadar penyekapan menjadi investigasi pembunuhan berencana. Polisi segera mencocokkan data Cici dengan tes DNA "Miss X" di Karo dan menemukan hasil identik. Hari itu juga, CV Maju Jaya disegel garis polisi dan seluruh penghuni rumah digiring ke Mapolresta Medan, mengejutkan warga sekitar yang selama ini tertipu oleh kedok kemewahan.

Sandiwara Pengadilan dan Palu Keadilan

Memasuki pertengahan 2015, persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Medan digelar dengan pengawalan barikade Sabhara yang ketat akibat tekanan massa yang menuntut hukuman mati. Untuk melindungi saksi, Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) menempatkan para korban selamat di safe house. Saat bersaksi, dengan tubuh gemetar dan tangis histeris akibat teror psikologis yang masih mengakar, para korban menunjuk langsung wajah para algojo mereka.

Menghadapi meja hijau, arogansi Syamsul dan Bibi runtuh digantikan oleh taktik mengulur waktu. Mereka berulang kali mengklaim sakit parah, mulai dari diabetes hingga komplikasi lambung. Mereka datang menaiki ambulans, duduk di kursi roda, dan Bibi bahkan sengaja pingsan di ruang tunggu tahanan hingga harus dibopong. Di sisi lain, para pekerja pria bermanuver mencoba mencabut Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dengan dalih diintimidasi polisi. Namun, majelis hakim menolak mentah-mentah pencabutan BAP tersebut karena bukti forensik dan kesaksian sangat kuat, serta memaksa sidang tetap dilanjutkan melalui pemeriksaan medis independen.

Palu keadilan akhirnya diketuk dalam sidang terpisah. Sang anak, MT divonis 1 tahun 8 bulan penjara. Para pekerja lapangan divonis antara 2,5 hingga 5 tahun. Puncaknya, pada Agustus dan September 2015, Bibi Randika dan Syamsul Anwar masing-masing dijatuhi hukuman 17 tahun penjara, denda puluhan juta, serta diwajibkan membayar restitusi kepada korban selamat dan ahli waris Hermin. Hakim menegaskan perlakuan mereka tidak manusiawi dan tidak ada penyesalan yang tulus. Tuntutan 17 tahun ini (dari awal 20 tahun) tergolong vonis kelas berat di Indonesia untuk kasus non-terorisme dan non-narkoba.

Sebagai epilog yang membingkai poetic justice, hukum karma bekerja di balik jeruji besi Lapas Tanjung Gusta. Tiga tahun setelah vonis dijatuhkan, tepatnya pada Maret 2018, Syamsul Anwar tewas akibat serangan jantung. Istrinya, Bibi Randika, juga dilaporkan meninggal dunia saat menjalani masa hukuman. Mereka yang dulu merasa memiliki kuasa mutlak, pada akhirnya harus meregang nyawa tak berdaya di balik dinginnya tembok penjara.

Motif di Balik Tembok Mewah

Tragedi Jalan Beo pada akhirnya adalah sebuah cermin retak yang menelanjangi ilusi peradaban. Kengerian sejati dari anatomi kasus ini ternyata bukanlah sekadar keserakahan ekonomi demi memeras tenaga tanpa upah. Kekuatan yang menggerakkan tangan mereka untuk menumpahkan air panas, menyuapkan dedak, dan membuang jenazah manusia layaknya limbah adalah God Complex rasa superioritas tak terbendung.

Dehumanisasi bekerja sempurna di rumah itu. Ketika identitas dirampas dan empati dimatikan secara komunal oleh seluruh anggota keluarga, mereka terjangkit ilusi kekuasaan absolut. Mereka yakin bahwa mereka adalah "tuhan" di dalam rumah tersebut yang memegang kendali atas hidup dan mati properti bernyawa milik mereka. Fakta paling gelap dari seluruh rangkaian ini adalah bahwa monster yang sesungguhnya tidak bersembunyi di hutan antah berantah, melainkan hidup berdampingan dengan kita, berlindung di balik fasad kesejahteraan, dan merasa berhak menghancurkan nyawa manusia lain hanya karena mereka mampu melakukannya.

Kok bisa Komnas HAM perempuan menolak hukuman kebiri Ashari yang jelas jelas sudah banyak mel3cehkan perempuan, harusnya...
15/05/2026

Kok bisa Komnas HAM perempuan menolak hukuman kebiri Ashari yang jelas jelas sudah banyak mel3cehkan perempuan, harusnya sesama perempuan itu saling mendukung dan saling melindungi..

Komisi Nasional (Komnas) Perempuan menyatakan ketidaksetujuan terhadap usulan penggunaan hukuman kebiri terhadap Kiai Ashari. Ashari merupakan tersangka kasus dugaan pencabulan terhadap sejumlah santriwati di Pondok Pesantren (Ponpes) Ndolo Kusumo, Desa Tlogosari, Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

Ketua Komnas Perempuan Maria Ulfah Anshor menilai, meskipun Undang-Undang Perlindungan Anak mengatur soal hukuman kebiri bagi pelaku kekerasan seksual, namun dalam perspektif hak asasi manusia (HAM), penghukuman sebaiknya dilakukan dengan cara yang lebih manusiawi. Menurutnya, martabat kemanusiaan pelaku harus tetap dihormati dalam proses hukum.

"Komnas Perempuan berpendapat sebaiknya tidak dengan kebiri, karena hal itu bersentuhan dengan isu HAM. Ada cara penghukuman lain yang tetap tegas namun tetap menghormati martabat manusia," kata Maria, Selasa (12/5/2026).

Maria mendorong agar selain dijatuhi hukuman fisik, pelaku juga wajib menjalani proses rehabilitasi. Ia berpendapat bahwa akar masalah kekerasan seksual sering kali bersumber pada cara pandang pelaku yang merendahkan perempuan, anak-anak, maupun penyandang disabilitas sebagai objek.

Lebih lanjut, Maria menjelaskan bahwa tanpa adanya perubahan pola pikir pada pelaku, hukuman fisik semata tidak menjamin hilangnya perilaku predator di masa depan. Oleh karena itu, rehabilitasi yang mendalam mengenai perspektif gender dan perlindungan anak dinilai jauh lebih krusial untuk jangka panjang.

Komnas Perempuan juga mendesak agar perhatian publik maupun pemerintah tidak hanya terfokus pada perdebatan jenis hukuman bagi pelaku. Maria menekankan bahwa aspek yang jauh lebih mendesak adalah memastikan proses pemulihan sosial dan psikologis bagi para korban yang terdampak langsung.

"Tujuan akhirnya adalah menciptakan kawasan bebas kekerasan di mana setiap anak merasa aman. Ini bukan hanya soal menghukum pelaku, tapi soal bagaimana kita melindungi dan memulihkan korban secara utuh," pungkas Maria.

Sebelumnya, usulan hukuman kebiri kimia terhadap tersangka Ashari disuarakan oleh keluarga para korban dan didukung oleh Yayasan Pesantren Ramah Anak (YPRA). Usulan tersebut muncul sebagai bentuk desakan untuk memberikan efek jera kepada pelaku.

Kasus dugaan pencabulan puluhan santriwati di Ponpes Ndolo Kusumo ini sendiri telah mencuat sejak April 2025. Proses penanganan perkara di kepolisian sempat dikeluhkan warga karena dinilai lamban, hingga memicu aksi unjuk rasa pengepungan pondok pesantren sebelum akhirnya polisi menangkap tersangka Ashari.
Bagaimana menurut anda??

Bapak Kamaruddin Simanjuntak, Sosok pengacara yang berani ambil sikap dalam memperjuangkan keadilan, saat ini sedang sak...
13/05/2026

Bapak Kamaruddin Simanjuntak, Sosok pengacara yang berani ambil sikap dalam memperjuangkan keadilan, saat ini sedang sakit.
Siapa yang tak kenal beliau seorang pengacara kondang yang dengan keberaniannya membela kebenaran memberi keadilan bagi korb4n

Beliau dengan gagahnya berdiri di depan ketika ada yg mengalami ketidakadilan.

Sekarang keadaannya sungguh jauh berbeda dari sebelumnya, kurus dan tak bisa berbuat apa2..sakitnya tak dapat di deteksi oleh dokter, dan banyak yg bilang sakitnya sakit non medis atau pekerjaan Ib1isπŸ₯²

Semoga cepat sembuh Pak Kamarudin Simanjuntak πŸ™πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»
Bapak Kamaruddin Simanjuntak, Sosok pengacara yang berani ambil sikap dalam memperjuangkan keadilan, yang Kini Di duga dapat peny4kit kiriman..

Kasus dugaan penc*b*l*n yang menjerat oknum pengasuh Pondok Pesantren Ndolo Kusumo di Desa Tlogosari, Pati, Jawa Tengah,...
13/05/2026

Kasus dugaan penc*b*l*n yang menjerat oknum pengasuh Pondok Pesantren Ndolo Kusumo di Desa Tlogosari, Pati, Jawa Tengah, memasuki babak baru. Tersangka berinisial AS alias Kiai Ashari akhirnya mengakui perbuatan bejatnya di hadapan penyidik Satreskrim Polresta Pati.

Dalam pemeriksaan intensif, tersangka mengakui telah melakukan tindakan as*s*la terhadap santriwatinya secara berulang kali. Aksi tidak terpuji ini dilakukan dalam kurun waktu yang cukup lama, yakni sejak tahun 2020 hingga 2024.

Address

Merangin

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Papa Raziq posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share