31/12/2023
𝐊𝐚𝐦𝐩𝐚𝐧𝐲𝐞 𝐁𝐞𝐫𝐤𝐞𝐝𝐨𝐤 𝐁𝐚𝐠𝐢-𝐛𝐚𝐠𝐢 𝐒𝐞𝐝𝐞𝐤𝐚𝐡?
𝐎𝐥𝐞𝐡 : 𝐏𝐮𝐭𝐫𝐚 𝐒𝐚𝐝𝐞𝐠𝐚
Kurang dari dua bulan lagi Indonesia akan melangsungkan Pemilu yang jatuh pada 14 Februari 2024 nanti. Oleh sebab itu wajar apabila saat ini dimasa kampanye banyak kandidat capres-cawapres mulai menunaikan blusukan dari ujung timur sampai ujung barat Indonesia.
Meski tak jarang kampanye yang dilakukan terkesan ekstrem, karena menggunakan cara-cara berlebihan guna menjaring suara rakyat. Misalnya lewat serangan fajar, dimana politik uang atau money politic mulai dijalankan.
Seperti yang ditunaikan Gus Miftah, dimana ia tertangkap kamera tengah bagi-bagi uang. Aktivitas yang dilakukan Gus Miftah awalnya biasa-biasa saja, karena apa yang dilaksanakannya sudah menjadi bagian dari rutinitasnya untuk bersedekah.
Namun yang jadi sorotan ialah dibalik aktivitas bagi-bagi cuan itu ada muatan politisnya, dimana Gus Miftah sendiri menyanyikan senandung dengan unsur Prabowo-Gibran, kemudian ia juga mengacungkan dua jari sebagai simbol nomor urut paslon 02, pun saat ia membagi-bagikan uang tepat dibelakangnya terlihat seseorang membentangkan kaos bergambar Prabowo.
“Apakah itu melanggar hukum dan aturan?” Entahlah, namun hal-hal seperti ini tidaklah etis untuk dilakukan. Mengingat Gus Miftah sendiri pendukung Prabowo, bahkan saat debat cawapres saja Gus Miftah membersamai Prabowo.
Kalaupun dari aktivitas yang dilakukan Gus Miftah bukan bagian dari kampanye berkedok sedekah, lantas mengapa dirinya harus membawa-bawa nama Prabowo sekaligus berpose dua jari. Mengingat ini musim kampanye dan dua jari adalah nomor urut Prabowo-Gibran?
Sesungguhnya apa yang dilakukan Gus Miftah sangat jomplang dengan ucapannya saat khutbah. “𝑌𝑜 𝐾𝑦𝑎𝑖 𝑚𝑒𝑛𝑒ℎ𝑖 𝑠𝑢𝑟𝑖 𝑡𝑎𝑢𝑙𝑎𝑑𝑎𝑛 𝑢𝑠𝑤𝑎𝑡𝑢𝑛 𝑘ℎ𝑎𝑠𝑎𝑛𝑎ℎ, 𝑜𝑗𝑜 𝑛𝑔𝑎𝑛𝑡𝑖 𝐾𝑦𝑎𝑖 𝑖𝑠𝑜ℎ 𝑑𝑖𝑡𝑢𝑘𝑢, 𝑚𝑒𝑛 𝑢𝑚𝑎𝑡 𝑒 𝑗𝑢𝑔𝑎 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑏𝑖𝑠𝑎 𝑑𝑖𝑏𝑒𝑙𝑖.” kelakar Gus Miftah.
Namun apakah sekarang Gus Miftah berlaku demikian, menjadi suri tauladan yang baik untuk pengikutnya? Sama sekali Tidak!
Gus Miftah yang dulu bukanlah yang sekarang, dulu ia senantiasa bekerja dalam rangka memberikan pembelajaran tentang pentingnya kebaikan dan mengajarkan keteladanan, namun saat ini ia telah jauh berbeda. Entah hal apa yang membuatnya berubah, tapi semakin famous justru beliau semakin lupa pada daratan.
Melihat fenomena seperti ini, justru berbanding terbalik dengan pernyataan dan sikap Gus Miftah sebelumnya. So, apakah sudah bisa disebut jika Gus Miftah dapat dibeli dengan uang? Ya apapun itu, selama menguntungkannya pasti akan di sikat. Berbeda jika orang tersebut benar-benar berintegritas dan tahan godaan jabatan maupun kekayaan, pasti tidak akan mau bagi-bagi uang dengan embel-embel sedekah, tapi menyertakan kaos berlogo salah satu capres dan pose dua jari.
Dari semua masalah demi masalah yang dihasilkan oleh tim 02, nyatanya membuat sibuk tim TKN Prabowo-Gibran atas ulahnya sendiri. Kendati demikian, sepertinya tugas TKN 02 gak hanya mengkampanyekan sosok capres-cawapresnya saja nih, tapi juga jadi Tim Klarifikasi Nasional. Hehehehe.