06/05/2026
Dalam forum yang sama, Aktivis HAM dan mantan tahanan politik Papua, Selpius Bobii, menekankan pentingnya membongkar motif di balik peristiwa sebagai kunci memahami tragedi Dogiyai. Ia mengapresiasi buku tersebut sebagai dokumen awal yang otentik, namun menilai kronologi masih perlu diluruskan karena adanya perbedaan versi.
Selpius mengungkap sejumlah kejanggalan dalam kematian Bripda Juventus Edowai, mulai dari lokasi penemuan jenazah yang diragukan sebagai tempat pembunuhan, tidak adanya darah di lokasi, hingga tidak jelasnya pelaku.
“Diduga korban dibunuh di tempat lain lalu dibuang di lokasi penemuan,” ujarnya.
Berdasarkan analisisnya, ia menyimpulkan bahwa kematian tersebut diduga bukan sekadar tindak kriminal biasa.
“Korban diduga dijadikan tumbal untuk menciptakan situasi,” katanya.
Selengkapnya: https://nadipapua.com/post-kapolres-dogiyai-tak-hadir-forum-buku-tragedi-ungkap-minimnya-dokumentasi-dan-akar-masalah-1445
Ketidakhadiran Kapolres Dogiyai dalam diskusi peluncuran buku tragedi Dogiyai menuai sorotan. Aktivis dan perwakilan perempuan menyoroti minimnya dokumentasi serta dugaan pelanggaran HAM, sementara Komnas HAM mengungkap kendala serius dalam mengumpulkan bukti dan mengungkap fakta di lapangan.