Anak Turun Nusantara

Anak Turun Nusantara Kabar Nusantara Nenek moyangku orang pelaut.
(1)

Malam Satu Suro!!
15/06/2026

Malam Satu Suro!!

Mengingatkan Kembali. Mungkin lupa!😅
15/06/2026

Mengingatkan Kembali. Mungkin lupa!😅

Tan Malaka Meninggal Tahun 1949 Dan Dia Tidak salah ketika mengatakan ini semua!!
15/06/2026

Tan Malaka Meninggal Tahun 1949 Dan Dia Tidak salah ketika mengatakan ini semua!!

15/06/2026

Panorama Alam Alas Ketonggo Srigati Ngawi Disiang hari saat airnya kali tempur jernih.

Disinilah Di Kali Tempur Srigati Saat Malam Satu Suro ramai sekali dikunjungi orang dari berbagai daerah untuk melakukan tirakatan.

Serba-serbi Piala Dunia. CURACAO Bangsa Terjajah Yang Bisa Bangkit Dan Berdiri Sejajar Di Dunia. Ini Bukan Cuma Soal Sep...
15/06/2026

Serba-serbi Piala Dunia. CURACAO Bangsa Terjajah Yang Bisa Bangkit Dan Berdiri Sejajar Di Dunia. Ini Bukan Cuma Soal Sepakbola! ⚽️

Curacau Lolos Pertama Di Piala Dunia 2026 : "Mereka Pernah Dijajah. Kita Masih Dijajah!!"

Negara-negara yang main di Piala Dunia 2026 dulunya juga bangsa terjajah. Ceko lepas dari Uni Soviet. Maroko lepas dari Prancis. Pantai Gading lepas dari kolonial.

Dunia Menyaksikan CURACAO membuktikan bahwa Bangsa Terjajah tidak selamanya tertindas.

CURACAO baru merdeka tahun 2010 dan artinya usia Negara 16th masih muda dan untuk pertama kalinya bisa lolos piala dunia 2026 ini Hebat, bandingkan dengan Indonesia yg sudah 81th tahun ini belum pernah sama sekali lolos piala dunia, wajar lawan Tim selevel Jerman dibantai 7gol tapi cetak 1gol.

Sekali lagi Ini bukan soal Tim besar, atau Tim kecil, dan juga bukan soal kalah dan menang.

Tapi Ini soal Bangsa masih terjajah itu bisa bangkit dan mengangkat martabat kedaulatan bangsanya di panggung akbar Piala Dunia.

Hari ini semua team setiap negara, mereka berdiri setara. Bawa nama bangsa. Bawa nama negara, nama bangsa dan kibarkan bendera masing-masing diakui kedaulatannya didunia.

Dan sekali lagi, Ini bukan soal hedonisme dan eforia kosong. Tapi Ini soal kedaulatan!!

Di Papua, kita dilarang eforia untuk bangsa sendiri. Dituduh makar kalau kibarkan Bintang Kejora. Sementara di Papua, orang disuruh nonton bola untuk negara penjajah sambil pura-pura lupa.

Lihat Pasifik.

Ada Australia main atas nama Pasifik. Padahal Australia itu negara boneka migran Eropa di tanah Melanesia. Bukan wakil kita. Dan dari seluruh Melanesia, tidak satu pun negara Melanesia yang lolos Piala Dunia. Ini Tragis.

Why?
Kenapa?

Kata profesor Rocky Gerung mengatakan, "Papua merdeka Bisa Tetapi Tidak Bisa". Demikian juga dengan piala dunia juga sama, Tim Papua Bisa Bermain di piala dunia tetapi tidak bisa!!

Karena hanya negara merdeka yg berdaulat yg bisa membawa nama bangsanya ke panggung pesta akbar Sepakbola 4tahunan di dunia.

Papua bisa!!

Kalau West Papua merdeka, kita bisa jadi wakil Melanesia. Wakil Pasifik. Peserta Piala Dunia. Bukan mimpi kosong. Itu logika sejarah.

Pertanyaannya adalah :

Kalau sekarang tidak bisa, terus kapan?
Jawabannya simpel : Kami masih terjajah.
Solusinya juga simpel: Papua Merdeka dulu, baru bisa main di even Piala Dunia.

Kalau tidak, kita cuma jadi penonton bodoh yang eforia untuk penjajah. Mati nalar. Mati sia-sia di jalan, dengan status kaum terjajah.

INDONESIA! Kapan masuk Piala Dunia? Pertanyaan Dik Doank di RCTi cuma mimpi. Negara lebih sibuk korupsi daripada mikir Sepakbola olahraga pemersatu bangsa!!

Renungan jelang malam satu suro (Muharram)"Kesenjangan dunia Teks dan dunia Konteks adalah bagian dari sebuah proses ker...
15/06/2026

Renungan jelang malam satu suro (Muharram)

"Kesenjangan dunia Teks dan dunia Konteks adalah bagian dari sebuah proses kerinduan hamba pada Tuhan. Sebuah Pencerahan jiwa manusia pada Sang Kholiq-Nya, Hyang Widi"

Kesenjangan dunia ide-ide gagasan pikiran dengan aplikasi tindakan dalam kasunyatan adalah bentuk dari sebuah rasa pencarian akan kesejatian, sebuah bentuk rasa kesadaran diri, dan proses pendadaran akan naluri Keillahian"

Kegaduhan selamanya tak akan menyelesaikan persoalan, hanya akan memperkeruh keadaan,

Makanya kalau masih mampu, di atasi, dan jika memang sudah gak mampu yach harus dibagi.

Untuk bisa fokus, harus selalu bekerja totalitas sesuai dengan kapasitas dan kemampuan diri, bukan cuma karena omongan apa kata orang!!

"Ngelmu iku lelakune kanthi laku....(patrap)"

Dalam hidup kita sering dipaksa mengambil keputusan yg sulit, yg tidak mudah dipikirkan, tapi jika kita bisa tenang solusi jalan keluar itu datang sendiri, nggak usah repot harus dicari.

"T**i kolo mongso, cokromanggilingan....!!"

Kejernihan adalah kunci sebuah solusi.
Ketenangan adalah buah keyakinan hati.

Meski untuk mendapatkan pengalaman semua itu butuh waktu jam terbang panjang sekali.

Namun jika bisa menikmati semuanya itu bisa akan menjadi hobi. Keinginanlah sebenarya yg menjadi sumber kebahagiaan atau penderitaan jika bisa mengendalikan atau terbawa arus diri.

"Malam satu suro adalah malam peralihan dari yg gelap pekat menuju terang benderang atau sebaliknya. Malam satu suro adalah malam kelahiran atau kematian atas segala sesuatu yg tidak diperlukan. Malam satu suro adalah malam pencerahan, malam hijrah, dan pindah dari pola hidup, pola pikir kebiasaan lama yg menjadi kemelekatan lama ke pola yg baru!!"

Malam satu suro, ada sebagian menuju terbit dan ada sebagian yg tenggelam. Malam satu suro adalah sebagian yg lahir dan ada yg mati.

Matinya sesuatu yg buruk lahirnya sesuatu yg bermanfaat bagi kehidupan di alam semesta. Terbitnya harapan dan matinya keputusasaan.

"Assalamu alaikka Ayuuha Nabbiyyuu Aarakhmatulloh,,,...Assalamu alaiinna Waiillaibadillah Isholihhin.....!!" (.......)

*Jelang malam 1 suro, malam 1 muharram

sinau kemandirian

Mengapa saya masih s**a baca buku, kenapa masih senang sinau? Karena saya ingin tahu Bagaimana bisa masalalu menipu masa...
15/06/2026

Mengapa saya masih s**a baca buku, kenapa masih senang sinau? Karena saya ingin tahu Bagaimana bisa masalalu menipu masadepan.

Membaca adalah Kekuasaan dalam Keheningan.

Dia yang gemar membaca memiliki segalanya dalam jangkauannya.

Membaca bukan hanya aktivitas intelektual,
tapi juga latihan batin.

Dalam tradisi Agama M,embaca adalah cara untuk merawat pikiran, seperti tubuh yg butuh makanan,jiwa pun butuh asupan hikmah.

Buku memberi kita dunia baru tanpa harus meninggalkan kursi.

Ia (Membaca) melatih Nalar, memperluas pandangan, dan menumbuhkan empati.

Filsafat Agama menekankan pentingnya
membaca karya bijak agar kita tak terombang-ambing oleh dunia.

Orang yang rajin membaca,seolah memiliki pustaka kehidupan yang tak habis digali, Ia bisa belajar dari kesalahan masa lalu,mempersiapkan masa depan,dan memahami dirinya sendiri hari ini.

Membaca bukan soal menumpuk informasi,
tapi soal membentuk karakter.

Karena pada akhirnya, yg membedakan manusia adalah isi pikirannya.

Ngeyellan ternyata salah satu bentuk kritis rasa dahaga pada pengetahuan yg telah menuntun dan mengantarkanku pada rasa ingin tahu.

Selehing pikir menebhing ati.
Dyoning tyas,............. sejati.

sinau kemandirian

Renungan Malam 1 (Satu) Suro 3

"Budaya Tirakatan di Malam 1 (Satu) Suro"Oleh Nardi Wijaya ~ Anak Turun Nusantara Malam Satu Suro adalah hari pertama da...
15/06/2026

"Budaya Tirakatan di Malam 1 (Satu) Suro"
Oleh Nardi Wijaya ~ Anak Turun Nusantara

Malam Satu Suro adalah hari pertama dalam kalender Jawa di bulan Sura atau Suro di mana bertepatan dengan 1 Muharram dalam kalender hijriyah, karena Kalender jawa yang diterbitkan Sultan Agung mengacu penanggalan Hijriyah (Islam).

Malam Satu suro biasanya diperingati pada malam hari setelah magrib pada hari sebelum tangal satu biasanya disebut malam satu suro, hal ini karena pergantian hari Jawa dimulai pada saat matahari terbenam dari hari sebelumnya, bukan pada tengah malam.

Malam Satu Suro memiliki banyak pandangan dalam masyarakat Jawa, hari ini dianggap kramat terlebih bila jatuh pada jumat legi. Untuk sebagian masyarakat pada malam satu suro dilarang untuk ke mana-mana kecuali untuk berdoa ataupun melakukan ibadah lain.
Tradisi

Tradisi saat malam satu suro bermacam-macam tergantung dari daerah mana memandang hal ini, sebagai contoh Tapa Bisu, atau mengunci mulut yaitu tidak mengeluarkan kata-kata selama ritual ini. Yang dapat dimaknai sebagai upacara untuk mawas diri, berkaca pada diri atas apa yang dilakoninya selama setahun penuh, menghadapi tahun baru di esok paginya.

Tradisi lainnya adalah Kungkum atau berendam di sungai besar, sendang atau sumber mata air tertentu, Yang paling mudah ditemui di Jawa khususnya di seputaran Yogyakarta adalah Tirakatan (tidak tidur semalam suntuk) dengan tuguran (perenungan diri sambil berdoa) dan Pagelaran Wayang Kulit. Di antara tradisi tersebut ada juga sebagian masyarakat yang menggunakan malam satu suro sebagai saat yang tepat untuk melakukan ruwatan.

"Selamat TAHUN BARU ISALAM & JAWA"

Malam 1 Syuro di Alas Ketonggo Srigati
sinau kemandirian

Masuk malam 1 Suro (1447 Hijriyah), Alas Ketonggo atau biasa disebut Srigati yang berlokasi di Desa Babadan, Kecamatan Paron, Kabupaten Ngawi dipadati wisatawan selain dari manca negara, juga wisatawan domestik seperti Madiun, Solo, Yogjakarta, Semarang, Kediri dan Jakarta. Mereka pada umumnya melakukan ritual mistis dibeberapa tempat yang konon diyakini disini pusatnya kekuatan magis

Tempat tersebut diantaranya adalah, Palenggahan Agung Alas Ketonggo Srigati,

Kabar dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta kembali ramai dibicarakan. Kampus itu menegaskan akan memberi sanksi tega...
15/06/2026

Kabar dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta kembali ramai dibicarakan. Kampus itu menegaskan akan memberi sanksi tegas kepada mahasiswa yang terbukti melakukan tindakan LGBT. Sanksinya tidak ringan, bahkan bisa sampai dikeluarkan secara tidak hormat. Kebijakan ini merujuk pada aturan disiplin dan etika mahasiswa UMY yang menekankan pentingnya menjaga nilai Islam, integritas, dan ketertiban lingkungan akademik.

Sebagai kampus yang berada di bawah naungan Muhammadiyah, sikap UMY sebenarnya tidak datang tiba-tiba. Sejak awal, identitas kampus ini memang dibangun di atas nilai pendidikan Islam. Jadi ketika kampus menegaskan batasan perilaku mahasiswanya, itu bukan sekadar urusan administratif. Ada nilai yang ingin dijaga, ada karakter yang ingin dibentuk, dan ada lingkungan akademik yang ingin dipastikan tetap sesuai dengan prinsip lembaga.

Di titik ini, publik perlu melihat persoalannya dengan lebih jernih. Kampus bukan ruang tanpa aturan. Mahasiswa memang datang untuk belajar, berkembang, dan mencari masa depan, tetapi bukan berarti semua hal bisa dibungkus dengan alasan kebebasan pribadi. Setiap lembaga pendidikan punya aturan main. Apalagi kampus berbasis Islam, tentu ada batas moral yang sejak awal sudah menjadi bagian dari identitasnya.

LGBT sendiri sering salah dipahami dalam percakapan publik. LGBT bukan sebuah gender tunggal. Istilah ini adalah payung yang mencakup orientasi seksual dan identitas gender. Le***an, gay, dan biseksual berkaitan dengan ketertarikan seksual, sedangkan transgender berkaitan dengan identitas gender. Namun dalam kacamata Islam yang dianut Muhammadiyah, perilaku LGBT dipandang sebagai penyimpangan dari fitrah dan tidak bisa dinormalisasi begitu saja, apalagi dalam lingkungan pendidikan Islam.

Karena itu, sikap UMY bisa dipahami sebagai upaya menjaga batas nilai di lingkungan kampus. Kampus ingin menegaskan bahwa dunia akademik bukan hanya soal nilai ujian, gelar, dan ijazah. Pendidikan juga bicara tentang akhlak, tanggung jawab, dan cara hidup. Kalau sejak awal lembaga sudah menyatakan dirinya berlandaskan Islam, maka wajar jika aturan yang dibuat juga mengikuti nilai Islam.

Tapi ada satu hal yang sangat penting. Kata kuncinya adalah terbukti. Bukan katanya. Bukan dugaan. Bukan gosip. Bukan karena cara bicara, cara berpakaian, atau karena seseorang terlihat berbeda dari kebanyakan. Kalau sanksinya bisa sampai dikeluarkan secara tidak hormat, maka prosesnya juga harus serius. Harus ada pembuktian, pemeriksaan, hak jawab, dan mekanisme yang adil.

Ini penting karena aturan moral yang tegas bisa berubah berbahaya kalau dijalankan asal-asalan. Jangan sampai aturan yang niatnya menjaga kampus justru menjadi alat untuk saling menjatuhkan. Di zaman media sosial, tuduhan bisa bergerak lebih cepat daripada kebenaran. Sekali nama seseorang terseret, hidupnya bisa berubah, bahkan sebelum proses resmi berjalan. Maka kampus harus tegas, tetapi juga harus sangat hati-hati.

Menolak perilaku LGBT dalam pandangan agama tidak berarti membuka ruang untuk menghina manusia. Ini garis yang sering hilang dalam keramaian media sosial. Ada orang yang merasa sedang membela moral, tetapi caranya justru jauh dari akhlak. Ada yang merasa sedang menjaga agama, tetapi yang keluar malah cacian, perundungan, dan penghakiman. Kalau cara menegakkan nilai justru merusak martabat manusia, maka ada yang perlu dikoreksi dari cara memahami nilai itu sendiri.

Kampus Islam seharusnya tidak hanya menjadi tempat memberi sanksi, tetapi juga tempat membina. Kalau ada perilaku yang dianggap menyimpang dari nilai agama, pendekatannya tidak cukup hanya dengan ancaman. Perlu ada edukasi, pendampingan, pembinaan karakter, dan ruang untuk kembali. Pendidikan bukan hanya soal mengeluarkan yang dianggap bermasalah, tetapi juga membentuk manusia agar bisa memahami batas dan tanggung jawabnya.

Namun UMY juga punya pekerjaan rumah yang tidak kalah penting, yaitu konsistensi. Kalau kampus ingin tegas terhadap pelanggaran nilai Islam, maka ketegasan itu harus berlaku untuk semua pelanggaran moral. Bukan hanya LGBT. Bagaimana dengan kekerasan, pelecehan, perundungan, plagiarisme, judi online, mabuk, pacaran bebas, atau penyalahgunaan jabatan organisasi? Semua itu juga merusak lingkungan kampus. Semua itu juga bertentangan dengan nilai Islam.

Di sinilah ujian sebenarnya. Ketegasan akan dihormati kalau berlaku adil. Kalau hanya keras pada satu isu yang sedang ramai, tetapi lunak pada pelanggaran lain yang lebih dekat dengan keseharian mahasiswa, publik bisa melihatnya sebagai ketegasan yang pilih-pilih. Dan biasanya, ketegasan yang pilih-pilih lebih mirip panggung pencitraan daripada penegakan nilai.

Kadang moral baru terlihat penting ketika sedang viral. Kalau sudah ramai di media sosial, aturan langsung naik ke permukaan. Tapi untuk pelanggaran lain yang pelan-pelan merusak budaya kampus, sering kali suaranya tidak sekencang itu. Padahal rusaknya lingkungan pendidikan tidak selalu datang dari satu isu besar. Kadang justru datang dari kebiasaan kecil yang dibiarkan terlalu lama.

Maka kalau UMY ingin menjaga lingkungan akademik yang islami, tugasnya bukan hanya membuat ancaman sanksi. Tugasnya adalah membangun budaya kampus yang sehat dari hulu sampai hilir. Mulai dari ruang kelas, organisasi mahasiswa, relasi antar warga kampus, sampai cara kampus menangani laporan pelanggaran. Nilai Islam tidak cukup ditulis di aturan. Nilai itu harus terasa dalam cara kampus bersikap.

Mahasiswa juga perlu memahami bahwa masuk ke sebuah lembaga berarti ikut menerima aturan lembaga itu. Tidak semua hal bisa dipaksakan masuk dengan alasan hak pribadi. Ada ruang publik, ada komunitas, ada nilai bersama, dan ada aturan yang mengikat. Kalau sebuah kampus sejak awal membawa identitas Islam, maka konsekuensinya adalah mengikuti batas yang ditetapkan oleh nilai Islam tersebut.

Namun masyarakat juga perlu dewasa. Isu seperti ini tidak perlu dijadikan bahan perburuan sosial. Tidak perlu ada aksi mempermalukan, menyebar identitas, atau menghakimi orang di ruang publik. Kalau ada pelanggaran, serahkan pada mekanisme kampus. Kalau ada aturan, jalankan dengan tertib. Jangan sampai semangat menjaga moral berubah menjadi tontonan kasar yang justru membuat ruang sosial semakin tidak beradab.

Pada akhirnya, kebijakan UMY ini bukan hanya soal LGBT. Ini soal apakah kampus masih berani punya karakter. Ini soal apakah lembaga pendidikan masih mau menjaga nilai yang selama ini menjadi dasar pendiriannya. Ini juga soal bagaimana aturan moral dijalankan.

UMY berhak menjaga nilai Islam di lingkungan kampusnya. Mahasiswa juga wajib memahami aturan tempat mereka belajar. Tetapi ketegasan itu harus dijalankan dengan bukti yang jelas, proses yang adil, dan cara yang tetap beradab. Sebab menjaga agama tidak cukup hanya dengan melarang. Menjaga agama juga harus terlihat dari cara memperlakukan manusia.

Kalau kampus ingin disebut islami, maka yang diuji bukan hanya keberaniannya memberi sanksi. Yang diuji juga keberaniannya berlaku adil, membina dengan benar, dan tegas pada semua bentuk pelanggaran moral. Sebab nilai Islam tidak hanya tampak dari apa yang ditolak, tetapi juga dari bagaimana cara menegakkan kebenaran tanpa kehilangan akhlak.

---sumber tulisan Pecah Telor*

:Tulisan ini merupakan ulasan sederhana terkait fenomena bisnis atau industri untuk digunakan masyarakat umum sebagai bahan pelajaran atau renungan. Walaupun menggunakan berbagai referensi yang dapat dipercaya, tulisan ini bukan naskah akademik maupun karya jurnalistik.

Address

Jalan Raya Slamet Riyadi Timur Pasar Pojok Kwadungan
Ngawi
63283

Telephone

+6285733060772

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Anak Turun Nusantara posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Anak Turun Nusantara:

Share