12/06/2026
Kerbau Indonesia di Ambang Kehilangan: Ketika Ancaman Kepunahan Nyaris Tak Terdengar
Di tengah berbagai isu lingkungan yang ramai diperbincangkan, ada satu ancaman serius yang luput dari perhatian banyak orang: terus menyusutnya populasi kerbau di Indonesia. Hewan yang selama berabad-abad menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat pedesaan ini kini menghadapi masa depan yang mengkhawatirkan.
Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan IPB, Imam Supriatna, pernah mengingatkan bahwa jika tren penurunan populasi terus berlangsung tanpa upaya penyelamatan yang berarti, kerbau Indonesia berpotensi mendekati kepunahan pada sekitar tahun 2031. Peringatan tersebut terdengar mengkhawatirkan, namun sayangnya belum mendapat perhatian luas.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa jumlah kerbau nasional mengalami penurunan dalam dua dekade terakhir. Dari tahun ke tahun, populasinya terus menyusut, termasuk di Pulau Jawa yang seluruh provinsinya mencatat penurunan jumlah ternak kerbau. Dari puluhan provinsi di Indonesia, hanya sebagian kecil yang masih menunjukkan peningkatan populasi.
Berbagai faktor menjadi penyebab kemerosotan ini. Rendahnya tingkat reproduksi, pola pemeliharaan yang belum optimal, keterbatasan pakan saat musim kemarau, hingga berkurangnya lahan penggembalaan menjadi tantangan utama. Modernisasi sektor pertanian juga ikut berperan, karena banyak petani kini beralih menggunakan mesin sehingga kebutuhan terhadap tenaga kerbau semakin berkurang.
Padahal, kerbau merupakan salah satu ternak yang memiliki kemampuan adaptasi luar biasa. Hewan ini mampu bertahan di lingkungan yang sulit, termasuk wilayah dengan musim kering panjang maupun kawasan rawa. Kerbau juga dikenal efisien dalam memanfaatkan pakan berkualitas rendah untuk menghasilkan daging dan susu yang bernilai tinggi.
Indonesia sendiri memiliki beragam rumpun kerbau lokal yang menjadi kekayaan sumber daya genetik nasional. Mulai dari Kerbau Gayo di Aceh, Kerbau Pampangan di Sumatera Selatan, Kerbau Sumbawa di Nusa Tenggara Barat, hingga Kerbau Toraya di Sulawesi Selatan. Selain itu, Indonesia juga memiliki anoa, kerabat kerbau berukuran kecil yang hidup liar di hutan Sulawesi dan menjadi simbol penting bagi kelestarian ekosistem setempat.
Secara global, kerbau justru semakin dihargai sebagai sumber pangan masa depan. Susu kerbau memiliki kandungan lemak dan protein yang lebih tinggi dibandingkan susu sapi, sehingga banyak dimanfaatkan untuk produk olahan bernilai ekonomi tinggi seperti keju, yogurt, dan mentega. Daging kerbau juga dikenal memiliki kadar kolesterol yang relatif lebih rendah.
Dalam menghadapi perubahan iklim yang membuat suhu semakin panas dan kondisi lingkungan semakin menantang, kerbau dinilai memiliki kemampuan adaptasi yang lebih baik dibandingkan beberapa jenis ternak lainnya. Potensi ini sebenarnya dapat menjadi modal penting bagi ketahanan pangan Indonesia di masa depan.
Namun semua keunggulan tersebut bisa hilang apabila tidak disertai langkah konservasi dan pengembangan yang serius. Pemandangan kerbau yang dahulu mudah ditemukan di sawah, padang rumput, atau kawasan pedesaan perlahan menjadi semakin langka. Jika tidak ada perubahan kebijakan dan perhatian yang memadai, generasi mendatang mungkin hanya mengenal kerbau melalui foto, cerita, dan buku sejarah.
Menyelamatkan kerbau bukan sekadar menjaga satu jenis ternak. Upaya ini juga berarti melestarikan warisan budaya, menjaga keragaman hayati, serta mempertahankan sumber pangan yang berpotensi penting bagi masa depan Indonesia.
Sumber:
Mongabay Indonesia, "Kerbau Indonesia Diprediksi Punah pada 2031, dan Nyaris Tak Ada yang Peduli" (7 Juni 2026).
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Populasi Ternak Nasional.
Prihandini, P.W. dkk., Veterinary World (2023) tentang faktor penurunan populasi kerbau di Indonesia.