Irman Saputra Real

Irman Saputra Real Baper Story World
Cerita novel & dracin yang bikin baper setiap hari

Ternyata ini rahasianya loh yang penasaran komen dulu mau di bawah !!!Btw kalian dari mana aja komen ya dan mari bertema...
23/07/2026

Ternyata ini rahasianya loh yang penasaran komen dulu mau di bawah !!!
Btw kalian dari mana aja komen ya dan mari berteman

04/07/2026

Hari ke 2 ngonten di Fbpro

Seluruh novel saya udah masuk sistem rekomendasi semua tapi kok penontonnya gitu gitu aja ya malahan gak nambah Bantu d*...
03/07/2026

Seluruh novel saya udah masuk sistem rekomendasi semua tapi kok penontonnya gitu gitu aja ya malahan gak nambah
Bantu d**g Thor ,ini kenapa ??

03/07/2026

Hari pertama ngonten di Fb pro

Yeah !!!akhirnya udah sampai 50k kata dan masuk sistem rekomendasi .Coba komen di bawah kalau udah masuk rekomendasi Vie...
29/06/2026

Yeah !!!akhirnya udah sampai 50k kata dan masuk sistem rekomendasi .
Coba komen di bawah kalau udah masuk rekomendasi Viewer kalian berapa udah sampai 1 juta belum coba komen ya?

Segera kunjungi Fizzo novel judul : Istri CEO nakalBab 16Perlombaan Melawan WaktuSuara alarm memenuhi seluruh gedung.Lam...
26/06/2026

Segera kunjungi Fizzo novel judul : Istri CEO nakal

Bab 16
Perlombaan Melawan Waktu
Suara alarm memenuhi seluruh gedung.
Lampu-lampu di langit-langit berkedip tanpa pola.
Asap tipis mulai merayap dari lorong-lorong yang gelap, membuat suasana semakin mencekam.
Adrian berdiri beberapa langkah dari Victor.
Tatapan keduanya saling bertemu.
Tidak ada lagi kata-kata yang perlu diucapkan.
Masing-masing memahami bahwa permainan telah mencapai titik akhirnya.
"Apa yang kau lakukan?"
tanya Adrian dengan suara tenang.
Victor tetap berdiri di dekat jendela.
"Ini bukan tentang menghancurkanmu."
jawabnya pelan.
"Ini tentang membuatmu merasakan bagaimana rasanya kehilangan kendali."
Adrian memperhatikan sekeliling ruangan.
Pintu otomatis terkunci.
Jendela dilapisi kaca tebal.
Alarm terus berbunyi.
Namun ia memaksa dirinya tetap tenang.
Kepanikan hanya akan menguntungkan lawan.
Di luar gedung.
Raka segera mengambil alih keadaan.
"Tim Alpha ke pintu utama!"
"Tim Bravo cari akses darurat!"
Para anggota keamanan bergerak cepat.
Namun mereka segera menemukan masalah.
Seluruh sistem pintu elektronik telah dinonaktifkan dari dalam.
Seolah seseorang memang telah mempersiapkan semuanya.
"Pak Raka!"
teriak salah seorang petugas.
"Sistem keamanan gedung diretas!"
Raka mengepalkan tangan.
"Victor..."
gumamnya.
Di dalam ruangan.
Adrian mencoba kembali menghubungi tim.
"Raka."
Tidak ada jawaban.
Hanya suara statis.
Ia mencoba lagi.
Tetap sama.
Victor memperhatikannya sambil tersenyum tipis.
"Kau tidak akan bisa menghubungi siapa pun."
katanya.
"Sinyalnya sudah kuputus."
Adrian menatap Victor tajam.
"Apa tujuanmu sebenarnya?"
Victor menarik napas panjang.
"Jawaban itu sudah ada di depan matamu."
Tiba-tiba terdengar suara retakan dari lantai bawah.
Bukan ledakan besar.
Melainkan suara besi yang mulai runtuh.
Gedung tua itu jelas tidak dirancang menghadapi gangguan seperti ini.
Debu mulai berjatuhan dari langit-langit.
Adrian menyadari mereka tidak punya banyak waktu.
"Ayo keluar."
katanya kepada Victor.
Victor menggeleng.
"Belum."
Sementara itu.
Di penthouse.
Alya duduk di ruang keluarga.
Televisi menyala tanpa benar-benar ia perhatikan.
Sejak Adrian berangkat, perasaannya tidak tenang.
Ponselnya berada dalam genggaman.
Ia terus menunggu kabar.
Namun yang datang justru panggilan dari Melisa.
"Alya."
Suara Melisa terdengar tergesa-gesa.
"Ada keadaan darurat."
Jantung Alya langsung berdegup kencang.
"Ada apa?"
tanyanya.
"Adrian terjebak di dalam gedung."
Kalimat itu membuat wajah Alya memucat.
Tanpa berpikir panjang, ia mengambil kunci mobil.
"Aku ke sana."
"Alya, jangan—"
Namun sambungan sudah terputus.
Di lokasi.
Raka akhirnya menemukan jalur masuk melalui ruang servis di bagian belakang gedung.
Empat anggota tim segera masuk.
Lorong-lorong dipenuhi asap.
Beberapa bagian plafon mulai runtuh.
"Mereka ada di lantai tiga."
kata salah satu petugas sambil melihat denah.
"Mari bergerak!"
Di dalam ruangan.
Victor mengambil sebuah map tua dari atas meja.
Ia menyerahkannya kepada Adrian.
"Buka."
Adrian menerimanya dengan hati-hati.
Di dalam map terdapat dokumen-dokumen lama.
Surat.
Foto.
Catatan rapat.
Dan sebuah buku harian kecil.
Adrian membuka halaman pertama.
Tulisan tangan ayahnya memenuhi halaman itu.
Ia membaca beberapa kalimat.
Wajahnya perlahan berubah.
Karena isi buku itu berbeda dari apa yang selama ini ia percayai.
Ayahnya ternyata pernah mencoba membantu Victor setelah pemecatan.
Bahkan diam-diam menawarkan pekerjaan di perusahaan lain.
Namun tawaran itu ditolak.
Victor lebih memilih menghilang.
Adrian mengangkat wajahnya.
"Kenapa kau tidak pernah menceritakan ini?"
Victor tertawa hambar.
"Karena kalau aku menerimanya..."
Ia berhenti sejenak.
"...aku harus mengakui bahwa aku juga bersalah."
Ruangan kembali sunyi.
Untuk pertama kalinya.
Topeng kemarahan Victor mulai runtuh.
Yang tersisa hanyalah seorang pria tua yang terlalu lama hidup bersama penyesalan.
Suara benturan keras terdengar dari luar.
Pintu bergetar.
"Pak Adrian!"
teriak Raka dari balik pintu.
"Kami di sini!"
Adrian langsung menghampiri pintu.
"Kami terjebak!"
Tim di luar segera mencoba membukanya.
Namun mekanisme pengunci rusak.
Butuh waktu.
Dan waktu adalah sesuatu yang semakin sedikit mereka miliki.
Asap mulai memenuhi ruangan.
Victor terbatuk beberapa kali.
Adrian memperhatikannya.
Pria tua itu tampak jauh lebih lemah daripada yang ia bayangkan.
"Ayo."
kata Adrian.
"Kita keluar bersama."
Victor menggeleng pelan.
"Tidak."
"Kau masih bisa memperbaiki semuanya."
Victor tersenyum tipis.
"Tidak semua kesalahan bisa diperbaiki."
Di luar.
Raka berhasil membuka sebagian pintu.
Celah kecil mulai terlihat.
"Cepat!"
teriaknya.
Beberapa petugas mendorong pintu bersama-sama.
Besi tua itu perlahan melengkung.
Akhirnya terbuka cukup lebar untuk dilewati.
Adrian segera membantu Victor berdiri.
"Aku tidak akan meninggalkanmu."
kata Adrian tegas.
Victor memandangnya beberapa detik.
Kemudian mengangguk pelan.
Mereka berlari menyusuri lorong.
Debu beterbangan.
Suara retakan terdengar dari berbagai arah.
Tim keamanan mengawal mereka menuju tangga darurat.
Baru beberapa anak tangga mereka turuni ketika sebagian langit-langit di belakang runtuh dengan suara menggelegar.
Semua refleks mempercepat langkah.
Sesampainya di luar gedung.
Mobil pemadam kebakaran dan ambulans telah memenuhi area.
Petugas medis segera memeriksa Adrian dan Victor.
Tak lama kemudian, sebuah mobil berhenti mendadak.
Alya keluar dan langsung berlari.
"Adrian!"
Adrian menoleh.
Begitu melihat Alya, ketegangan yang sejak tadi ditahannya perlahan menghilang.
"Aku tidak apa-apa."
katanya.
Alya menarik napas lega sebelum memeluknya erat.
Tak jauh dari mereka.
Victor duduk di atas tandu ambulans.
Ia memandangi gedung yang kini dipenuhi asap.
Tatapannya kosong.
Raka mendekatinya.
"Permainanmu sudah selesai."
Victor mengangguk pelan.
"Mungkin."
Ia kemudian menoleh ke arah Adrian dan Alya yang berdiri bersama.
"Sampaikan pada Adrian..."
katanya lirih.
"...jangan biarkan dendam menjadi warisan keluarga berikutnya."
Beberapa saat kemudian, Victor menundukkan kepala, kelelahan.
Malam itu.
Api akhirnya berhasil dipadamkan.
Namun bagi Adrian, yang berakhir bukan hanya kebakaran di gedung tua itu.
Sebuah babak panjang penuh kebencian akhirnya mulai menemukan ujungnya.
Meski demikian, masih ada satu pertanyaan yang belum terjawab.
Ke mana Hendra menghilang setelah operasi berlangsung?
Dan mengapa beberapa dokumen penting yang dicari Victor tidak ditemukan di dalam gedung?
Di tengah keramaian petugas, Raka menerima sebuah pesan dari nomor tak dikenal.
Isinya hanya satu kalimat:
"Kalian menyelamatkan orang yang salah."
Raka menatap layar ponselnya dengan wajah serius.
Ia perlahan mengangkat pandangannya ke arah Adrian.
Malam itu mungkin menjadi akhir bagi Victor.
Namun seseorang yang lain tampaknya baru saja membuka babak berikutnya.

Bab 11.Dosa Masa Lalu Keluarga WijayaHujan kembali turun malam itu.Rintik-rintik air menghantam kaca penthouse dengan ir...
23/06/2026

Bab 11.Dosa Masa Lalu Keluarga Wijaya

Hujan kembali turun malam itu.
Rintik-rintik air menghantam kaca penthouse dengan irama yang pelan namun konstan.
Di ruang keluarga, televisi masih menyala.
Wajah Richard Wijaya memenuhi layar.
Konferensi pers yang baru saja berakhir telah mengguncang dunia bisnis.
Namun dampak terbesarnya bukan terjadi di luar sana.
Melainkan di dalam keluarga Wijaya sendiri.
Alya duduk diam.
Tatapannya tertuju pada Adrian.
Menunggu.
Karena sejak tadi pria itu belum melanjutkan ceritanya.
Dan keheningan yang tercipta terasa lebih berat daripada kata-kata.
Akhirnya Adrian berdiri.
Berjalan menuju jendela.
Menatap kota yang diselimuti hujan.
"Semua orang mengira ayahku membangun perusahaan ini sendirian."
katanya pelan.
Alya mendengarkan.
"Tapi kenyataannya tidak sesederhana itu."
Suasana kembali hening.
"Ayah dan Richard membangun semuanya bersama."
Adrian menoleh.
Sorot matanya terlihat jauh.
Seolah sedang melihat masa lalu.
"Bertahun-tahun mereka bekerja sebagai partner."
"Lalu?"
tanya Alya.
"Lalu mereka mulai berbeda pandangan."
Tiga puluh tahun sebelumnya.
Perusahaan keluarga Wijaya masih kecil.
Belum sebesar sekarang.
Belum dikenal banyak orang.
Saat itu ayah Adrian dan Richard memiliki mimpi yang sama.
Membangun kerajaan bisnis.
Membawa keluarga mereka menuju kehidupan yang lebih baik.

Adrian mengangguk.
"Aku tahu."
"Lalu kenapa kamu terlihat bersalah?"
Pertanyaan itu membuat Adrian terdiam.
Lama.
Sangat lama.
Sampai akhirnya ia menjawab.
"Karena masih ada bagian lain dari cerita ini."
Di rumah keluarga Wijaya.
Ayah Adrian duduk sendirian di ruang kerjanya.
Televisi di depannya masih menayangkan berita tentang Richard.
Wajah pria tua itu terlihat lelah.
Lebih lelah daripada yang pernah dilihat siapa pun.
Karena ia tahu.
Rahasia yang selama ini disembunyikan akhirnya mulai muncul ke permukaan.
yang penasaran dengan kelanjutannya lansung kunjungi Fizzo judul : Istri CEO NAKAL

21/06/2026

BAB1. Pernikahan yang tampak sempurna

Hujan turun membasahi langit Jakarta malam itu.

Dari lantai tujuh puluh dua Menara Wijaya Group, gemerlap lampu kota terlihat seperti lautan bintang yang jatuh ke bumi. Mobil-mobil di jalan raya tampak seperti garis cahaya yang bergerak tanpa henti.

Di balik dinding kaca kantor mewah itu, seorang pria masih sibuk menatap layar laptopnya.

Adrian Wijaya.

CEO muda yang dikenal dingin, cerdas, dan nyaris tak pernah gagal dalam mengambil keputusan bisnis.

Di usianya yang baru menginjak tiga puluh tiga tahun, Adrian telah membangun kerajaan bisnis bernilai triliunan rupiah.

Banyak orang iri kepadanya.

Harta.

Kekuasaan.

Pengaruh.

Dan seorang istri yang begitu sempurna.

Namun malam itu, Adrian bahkan tidak sadar jam telah menunjukkan pukul sebelas malam.

Ponselnya bergetar.

Nama yang muncul di layar membuat tatapannya berhenti sesaat.

Alya ❤️

Istrinya.

Adrian menghela napas sebelum mengangkat telepon.

"Halo."

Suara lembut di seberang sana terdengar.

"Kamu p**ang malam lagi?"

Adrian menatap laporan keuangan di depannya.

"Masih ada pekerjaan."

"Aku sudah menyiapkan makan malam."

"Nanti saja."

Jawaban singkat itu membuat suasana menjadi hening.

Beberapa detik berlalu.

"Aku menunggumu."

Adrian menutup mata sesaat.

"Alya, jangan begadang."

Klik.

Panggilan berakhir.

Tanpa sadar Adrian langsung kembali menatap laptopnya.

Seolah panggilan tadi tidak pernah terjadi.

Sementara itu.

Di sebuah penthouse mewah yang menghadap pusat kota Jakarta, Alya masih berdiri di depan meja makan yang telah ia siapkan sejak dua jam lalu.

Lilin-lilin kecil masih menyala.

Steak favorit Adrian mulai dingin.

Begitu p**a harapannya.

Alya tersenyum kecil.

Senyum yang menyimpan rasa kecewa.

Sudah tiga tahun mereka menikah.

Dan semakin hari, Adrian terasa semakin jauh.

Bukan karena ada wanita lain.

Bukan karena mereka sering bertengkar.

Melainkan karena Adrian seolah menikahi pekerjaannya.

Setiap hari.

Setiap malam.

Hanya pekerjaan.

Alya berjalan menuju jendela besar apartemen.

Gaun satin berwarna hitam yang dikenakannya memantulkan cahaya lampu kota.

Banyak pria akan menganggap dirinya sempurna.

Tubuh proporsional.

Wajah cantik.

Pendidikan tinggi.

Kepribadian yang hangat.

Namun semua itu terasa sia-sia ketika orang yang paling ingin ia perhatikan justru tidak pernah benar-benar melihatnya.

Ponselnya bergetar.

Sebuah pesan masuk.

Dari sahabatnya.

Maya

"Masih sendirian?"

Alya tertawa kecil.

"Seperti biasa."

Tak lama kemudian balasan datang.

"Besok ikut acara gala perusahaan suamimu?"

"Ya."

"Pakai gaun merah yang kemarin."

"Kenapa?"

"Karena kalau Adrian tidak sadar istrinya secantik apa, setidaknya seluruh ruangan akan sadar."

Alya menggeleng sambil tersenyum.

Meskipun demikian, kata-kata itu membuat hatinya sedikit hangat.

Keesokan malam.

Hotel bintang lima paling mewah di Jakarta dipenuhi para pengusaha, investor, dan tamu penting.

Acara tahunan Wijaya Group selalu menjadi pusat perhatian media.

Alya turun dari mobil dengan langkah anggun.

Gaun merah yang dikenakannya membuat banyak kepala menoleh.

Kamera wartawan langsung berkilat.

Beberapa orang bahkan berhenti berbicara hanya untuk melihatnya.

"Selamat malam, Bu Alya."

"Anda terlihat luar biasa malam ini."

"Terima kasih."

Alya membalas dengan senyum sopan.

Namun matanya terus mencari satu orang.

Adrian.

Tak lama kemudian ia melihat suaminya berdiri di dekat panggung bersama para direktur perusahaan.

Tampan.

Berwibawa.

Sempurna.

Persis seperti yang sering ditulis media.

Saat itu Adrian juga melihatnya.

Tatapan mereka bertemu.

Sesaat.

Hanya sesaat.

Sebelum Adrian kembali berbicara dengan para investor.

Senyum Alya perlahan memudar.

Lagi-lagi begitu.

Seolah dirinya hanya bagian dari dekorasi kehidupan Adrian.

"Bu Alya?"

Sebuah suara pria membuatnya menoleh.

Di hadapannya berdiri seorang pria tinggi dengan jas abu-abu gelap.

Usianya mungkin sekitar tiga puluh tahun.

Tatapannya tenang.

Raut wajahnya penuh percaya diri.

"Apa kita pernah bertemu?" tanya Alya.

Pria itu tersenyum tipis.

"Saya rasa belum."

"Kalau begitu?"

"Saya Raka Pratama."

Alya sedikit terkejut.

Nama itu tidak asing.

Beberapa minggu terakhir Adrian sering menyebutnya.

Direktur baru yang direkrut langsung dari Singapura.

Pria yang disebut-sebut sebagai aset masa depan perusahaan.

"Oh."

"Saya akhirnya bertemu langsung dengan wanita yang sering dibicarakan orang-orang kantor."

Alya mengangkat alis.

"Dibicarakan?"

"Tentu saja."

Raka tersenyum.

"Semua orang tahu bahwa CEO paling dingin di Indonesia memiliki istri yang sangat memikat."

Alya tertawa pelan.

Sudah lama sekali ia tidak menerima pujian seperti itu.

Dan entah mengapa, untuk pertama kalinya malam itu, ia merasa benar-benar diperhatikan.

"Mereka terlalu berlebihan."

"Saya tidak berpikir begitu."

Tatapan Raka terlihat tulus.

Bukan seperti para pria lain yang hanya ingin mencari perhatian.

Alya tiba-tiba merasa sedikit gugup.

Perasaan yang sudah lama tidak ia rasakan.

Dari kejauhan.

Adrian memperhatikan mereka.

Tangannya berhenti memegang gelas.

Entah kenapa.

Melihat Alya tersenyum saat berbicara dengan pria lain membuat sesuatu terasa mengganggu di dalam dadanya.

Perasaan yang selama ini tidak pernah ia pikirkan.

Perasaan yang bernama...

Cemburu.

Dan malam itu, tanpa seorang pun menyadarinya, sebuah perubahan besar mulai terjadi.

Perubahan yang perlahan akan menguji cinta, kesetiaan, dan pernikahan yang selama ini terlihat sempurna dari luar.

****

****

Adrian tidak menyukai perasaan yang sedang mengganggunya.

Selama bertahun-tahun ia terbiasa mengendalikan segala sesuatu.

Pasar saham.

Negosiasi miliaran rupiah.

Akuisisi perusahaan.

Bahkan emosi dirinya sendiri.

Namun malam itu, ketika melihat Alya tersenyum di hadapan Raka Pratama, ada sesuatu yang terasa berbeda.

Sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan.

Dan Adrian membencinya.

Dari tempatnya berdiri, ia melihat Alya tertawa kecil mendengar sesuatu yang dikatakan Raka.

Tawa yang ringan.

Tulus.

Tawa yang sudah lama tidak ia dengar.

Bahkan mungkin tidak pernah lagi ia dengar saat bersamanya.

"Pak Adrian?"

Suara seorang investor membuatnya tersadar.

"Maaf?"

Investor itu tersenyum.

"Saya sedang menjelaskan proposal kerja sama."

Adrian mengangguk.

Tetapi fokusnya sudah buyar.

Matanya kembali mencari sosok Alya.

Namun kali ini istrinya sudah tidak berada di tempat yang sama.

Entah kenapa, hal itu membuatnya semakin tidak nyaman.

Sementara itu, Alya sedang berdiri di balkon hotel.

Udara malam terasa sejuk.

Ia membutuhkan sedikit ketenangan setelah berada di dalam ruangan yang penuh orang.

"Anda sering menghilang dari keramaian?"

Suara yang familiar terdengar dari belakang.

Alya menoleh.

Raka.

Pria itu membawa dua gelas minuman.

"Aku hanya ingin mencari udara segar."

Raka menyerahkan satu gelas kepadanya.

"Kalau begitu kita punya kebiasaan yang sama."

Alya menerima gelas itu sambil tersenyum.

"Anda selalu seperti ini?"

"Seperti apa?"

"Mudah akrab dengan orang."

Raka tertawa pelan.

"Justru kebalikannya."

"Lalu kenapa dengan saya berbeda?"

Pria itu terdiam sesaat.

Tatapannya mengarah ke lampu-lampu kota yang berkelap-kelip di kejauhan.

"Karena Anda terlihat kesepian."

Jawaban itu membuat Alya membeku.

Tidak banyak orang yang mampu melihat perasaannya.

Bahkan keluarganya sendiri mengira hidupnya sempurna.

Namun pria yang baru dikenalnya malam ini justru bisa menebak apa yang sedang ia rasakan.

"Apa saya terlihat sejelas itu?"

"Tidak."

"Lalu?"

Raka tersenyum tipis.

"Mungkin karena saya pernah berada di posisi yang sama."

Alya menatapnya.

Untuk pertama kalinya, ia merasa percakapan ini bukan sekadar basa-basi.

Mereka berbicara tentang kehidupan.

Tentang pekerjaan.

Tentang impian yang tertunda.

Tentang kesepian yang sering datang di tengah keramaian.

Dan tanpa disadari, waktu berlalu begitu cepat.

Di sisi lain ballroom.

Adrian akhirnya menemukan Alya.

Di balkon.

Bersama Raka.

Rahangnya mengeras.

Ia tidak tahu kenapa.

Mereka hanya berbicara.

Tidak ada yang salah.

Tidak ada yang berlebihan.

Tetapi tetap saja ada sesuatu yang mengusiknya.

Sangat mengusiknya.

Seorang direktur senior yang berdiri di dekatnya ikut melihat ke arah yang sama.

"Pak Raka memang cepat bergaul."

Adrian tidak menjawab.

Direktur itu melanjutkan.

"Orangnya cerdas juga. Banyak karyawan menyukainya."

Tetap tidak ada jawaban.

Karena perhatian Adrian sepenuhnya tertuju pada Alya.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia menyadari sesuatu.

Malam ini Alya terlihat sangat cantik.

Gaun merah itu membuatnya menonjol di antara semua wanita yang hadir.

Namun selama acara berlangsung, Adrian bahkan belum sempat mengatakan hal itu.

Acara berakhir hampir tengah malam.

Mobil hitam mewah melaju membelah jalanan Jakarta yang mulai lengang.

Di dalam mobil hanya ada Adrian dan Alya.

Biasanya mereka menikmati keheningan.

Tetapi malam ini suasananya terasa berbeda.

Lebih berat.

Lebih canggung.

"Kamu terlihat menikmati acara tadi."

Akhirnya Adrian membuka percakapan.

Alya menoleh.

Sedikit terkejut.

Karena biasanya Adrian bukan tipe yang memulai obrolan.

"Ya."

"Hmm."

Hening kembali.

Alya menghela napas.

"Ada apa?"

"Tidak ada."

"Kamu tidak pandai berbohong."

Adrian menatap ke luar jendela.

"Lama berbicara dengan Raka?"

Pertanyaan itu membuat Alya terdiam sesaat.

Jadi ini penyebabnya.

"Kami hanya mengobrol."

"Aku tahu."

"Kalau tahu kenapa bertanya?"

Adrian tidak menjawab.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak tahu harus berkata apa.

Karena ia sendiri tidak mengerti kenapa hal itu mengganggunya.

Mobil kembali dipenuhi keheningan.

Namun kali ini keheningan itu tidak terasa nyaman.

Sesampainya di rumah, Alya langsung menuju kamar.

Ia melepas anting-antingnya di depan cermin.

Pantulan dirinya terlihat lelah.

Tiga tahun lalu ia membayangkan pernikahan yang hangat.

Penuh cerita.

Penuh kebersamaan.

Namun kenyataannya jauh berbeda.

Adrian memang pria baik.

Tidak pernah kasar.

Tidak pernah mengkhianati.

Tidak pernah mempermalukannya.

Tetapi ia juga jarang hadir.

Secara fisik mungkin iya.

Namun secara hati?

Belum tentu.

Pintu kamar terbuka.

Adrian masuk.

Melepaskan jasnya.

Seperti biasa.

Seperti setiap malam.

Namun kali ini Alya tidak ingin berpura-pura semuanya baik-baik saja.

"Adrian."

Pria itu berhenti.

"Ada apa?"

"Kapan terakhir kali kita makan malam bersama?"

Adrian mengernyit.

"Aku tidak ingat."

"Nah."

Satu kata itu terasa lebih menyakitkan daripada kemarahan.

Alya berdiri.

Menatap langsung ke mata suaminya.

"Kapan terakhir kali kita pergi berlibur?"

Adrian diam.

"Kapan terakhir kali kamu p**ang sebelum jam sembilan malam?"

Tidak ada jawaban.

"Kapan terakhir kali kamu bertanya bagaimana hariku?"

Keheningan memenuhi ruangan.

Alya tersenyum pahit.

"Itulah masalahnya."

"Alya—"

"Tidak apa-apa."

"Tidak."

Suara Adrian terdengar lebih tegas dari biasanya.

"Aku tahu aku sibuk."

"Sibuk?"

Alya tertawa kecil.

"Bukankah itu kata yang selalu kamu gunakan?"

Adrian mulai merasa bersalah.

Perasaan yang jarang sekali muncul dalam hidupnya.

Karena untuk pertama kalinya ia benar-benar mendengar apa yang selama ini dirasakan istrinya.

"Aku melakukan semua ini untuk kita."

Alya menggeleng pelan.

"Kadang aku berpikir kamu melakukan semua ini untuk dirimu sendiri."

Kalimat itu menghantam Adrian tepat di dadanya.

Malam itu mereka tidur dalam keheningan.

Namun tidak satu pun benar-benar tertidur.

Alya memandang langit-langit kamar.

Sementara Adrian menatap kegelapan dari sisi tempat tidur yang lain.

Untuk pertama kalinya, ia mulai mempertanyakan banyak hal.

Tentang pekerjaan.

Tentang ambisi.

Tentang pernikahannya.

Tentang Alya.

Dan tentang kemungkinan bahwa selama ini ia telah mengabaikan hal yang paling berharga dalam hidupnya.

Keesokan harinya.

Kantor pusat Wijaya Group kembali sibuk.

Ratusan karyawan berlalu-lalang.

Suara rapat terdengar dari berbagai ruangan.

Namun pikiran Adrian tetap tidak tenang.

"Pak Adrian?"

Sekretarisnya masuk.

"Direktur Raka sudah datang."

"Suruh masuk."

Beberapa saat kemudian Raka memasuki ruangan.

Dengan sikap profesional seperti biasa.

"Selamat pagi, Pak."

"Pagi."

Mereka mulai membahas proyek perusahaan.

Awalnya berjalan normal.

Namun entah kenapa Adrian terus memperhatikan pria di depannya.

Raka memang mengesankan.

Cerdas.

Percaya diri.

Karismatik.

Tak heran banyak orang menyukainya.

Termasuk Alya?

Pikiran itu muncul begitu saja.

Dan Adrian tidak menyukainya.

Sama sekali.

"Pak Adrian?"

Raka terlihat heran.

"Ya?"

"Apakah ada yang perlu direvisi?"

Adrian tersadar bahwa dirinya melamun.

"Tidak."

Raka mengangguk.

Setelah rapat selesai, pria itu berdiri.

Namun sebelum keluar, ia berkata,

"Istri Anda wanita yang luar biasa."

Adrian membeku.

"Apa maksudmu?"

Raka tersenyum sopan.

"Saya hanya beruntung sempat berbincang dengannya kemarin."

Kemudian ia pergi.

Meninggalkan Adrian dengan pikiran yang semakin kacau.

Sore harinya.

Alya sedang berada di sebuah galeri seni.

Ini adalah salah satu hobinya sejak lama.

Tempat di mana ia bisa merasa bebas.

Tidak ada wartawan.

Tidak ada rapat.

Tidak ada tuntutan sebagai istri CEO.

Hanya dirinya sendiri.

Saat sedang menikmati sebuah lukisan, ponselnya bergetar.

Nama Adrian muncul di layar.

Alya sedikit terkejut.

Karena biasanya Adrian tidak pernah menelepon di jam kerja.

"Halo?"

"Kamu di mana?"

"Galeri seni."

"Oh."

Hening.

"Kamu butuh sesuatu?"

"Tidak."

Alya mengernyit.

"Lalu?"

Suara Adrian terdengar ragu.

Sesuatu yang sangat jarang terjadi.

"Aku hanya ingin tahu."

Jantung Alya berdetak sedikit lebih cepat.

Karena itu adalah pertanyaan sederhana yang sudah lama tidak ia dengar.

"Aku baik-baik saja."

"Bagus."

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Adrian tidak langsung menutup telepon.

Mereka berbicara beberapa menit.

Tentang hal-hal kecil.

Tentang cuaca.

Tentang aktivitas hari itu.

Tentang kehidupan biasa.

Hal yang seharusnya dilakukan pasangan suami istri sejak dulu.

Setelah panggilan berakhir, Alya memandang layar ponselnya cukup lama.

Ada perasaan aneh yang muncul.

Harapan.

Harapan kecil yang hampir lama mati.

Namun di tempat lain, seseorang juga sedang memikirkan dirinya.

Raka berdiri di depan jendela kantornya.

Menatap langit sore Jakarta.

Dan tanpa sadar, ia tersenyum ketika mengingat wanita bernama Alya.

Seorang wanita yang seharusnya tidak menarik perhatiannya.

Seorang wanita yang sudah memiliki suami.

Seorang wanita yang perlahan mulai mengisi pikirannya.

Tanpa seorang pun menyadari, benang-benang takdir mulai saling terhubung.

Dan badai yang akan mengubah hidup mereka bertiga baru saja dimulai.

Next chapter

Lanjut baca https://www.effectivecpmnetwork.com/cx5tvg6cx0?key=0c14644660c7afc577636256bbf73a5c

Fizzo novel : Istri CEO nakal

Ternyata fizzo memang membayar ya ,sayang nya novel aku yang ini udah tamat dan lagi nulis buku baru yang judulnya PENGE...
21/06/2026

Ternyata fizzo memang membayar ya ,sayang nya novel aku yang ini udah tamat dan lagi nulis buku baru yang judulnya PENGEMIS CANTIK TERNYATA CEO ,yang s**a novel teman CEO dan MAFIA serta perjalanan yang menegangkan gak ada salah nya baca Novel satu ini lansung aja ke Fizzo dan cari novel ini judulnya PENGEMIS CANTIK TERNYATA CEO
Berikut bentuk Ceritanya semoga kalian s**a
Bab 32: Simbol Garuda Bermata Satu
Matahari mulai tenggelam ketika petugas kepolisian memasang garis pembatas di sekitar rumah tua keluarga Prameswari.
Asap tipis masih mengepul dari beberapa bagian bangunan yang hangus terbakar.
Para petugas forensik sibuk memeriksa lokasi.
Sementara itu, Alina, Arga, Surya, dan Bastian berkumpul di bawah sebuah tenda darurat.
Di atas meja terletak sebuah foto simbol yang digambar oleh pelaku sebelum meninggal.
Seekor garuda dengan satu mata tertutup.
Semua memandang gambar itu dalam diam.
Bastian mengusap dahinya perlahan.
"Aku pernah melihat lambang ini."
Alina langsung menoleh.
"Di mana?"
"Aku sedang berusaha mengingat."
Doni yang berdiri di belakang ikut memperhatikan.
Beberapa saat kemudian wajahnya berubah.
"Pak..."
"Apa?"
"Saya juga pernah melihatnya."
"Di mana?"
"Di sebuah cincin."
Arga langsung teringat sesuatu.
"Cincin bermata hitam!"
Doni mengangguk.
"Benar."
"Beberapa orang kepercayaan Herman memakai cincin dengan ukiran garuda yang sama."
Surya segera mencatat.
"Berarti simbol ini adalah tanda kelompok mereka."
Namun pertanyaan baru muncul.
Apakah Herman bekerja sendirian?
Atau ia memimpin sebuah organisasi rahasia yang telah bergerak selama puluhan tahun?
Malam itu, semua dokumen yang berhasil diselamatkan dipindahkan ke ruang arsip khusus di kantor Prameswari Group.
Pengamanan diperketat.
Puluhan petugas berjaga di setiap pintu.
Alina sendiri memilih tetap berada di kantor.
Ia duduk di ruang kerja ayahnya yang selama ini jarang ia gunakan.
Di depannya tergeletak surat terakhir Pramudya.
Ia kembali membaca setiap kalimat.
"Jangan percaya pada siapa pun yang terlalu mudah mendapatkan kepercayaan."
Kalimat itu membuatnya terdiam.
Selama ini Herman memang selalu menjadi orang yang paling dipercaya.
Bahkan oleh ayahnya sendiri.
Pintu diketuk perlahan.
Arga masuk membawa dua gelas teh hangat.
"Aku pikir kamu belum makan."
Alina tersenyum tipis.
"Aku belum lapar."
"Kamu harus menjaga dirimu."
Arga meletakkan teh di meja.
"Kita sudah sejauh ini."
"Jangan sampai kamu tumbang sebelum semuanya selesai."
Alina memandang pria di depannya.
Sejak awal mereka bertemu, Arga tidak pernah berubah.
Tetap sederhana.
Tetap tulus.
Di tengah dunia yang penuh tipu daya, ketulusan itu menjadi tempat paling aman baginya.
Di sebuah rumah mewah di pinggir kota, Herman Wijaya sedang menikmati makan malam seorang diri.
Meja panjang dipenuhi berbagai hidangan.
Namun pria tua itu hanya meminum secangkir teh.
Seorang anak buah masuk dengan wajah cemas.
"Pak."
"Bagaimana hasilnya?"
"Mereka berhasil menyelamatkan semua dokumen."
Herman tersenyum kecil.
"Sudah kuduga."
"Apakah kita harus mengambilnya?"
"Tidak."
Anak buah itu tampak bingung.
"Tapi bukankah itu berbahaya?"
Herman berdiri lalu berjalan menuju jendela.
"Dokumen hanya akan berguna kalau mereka memahami seluruh isinya."
"Maksud Bapak?"
"Hanya ada satu orang yang mampu menjelaskan semuanya."
"Siapa?"
Herman menoleh perlahan.
"Dan orang itu sekarang ada di tanganku."
Anak buah itu langsung mengerti.
Rendra.
Selama Rendra masih disekap, sebagian besar rahasia tetap belum bisa dipahami.
Keesokan harinya, Surya bersama tim hukum mulai memeriksa seluruh dokumen.
Ruang rapat dipenuhi map dan berkas.
Salah seorang auditor mengangkat sebuah kontrak lama.
"Pak Surya."
"Ada apa?"
"Tanda tangan ini aneh."
Surya mendekat.
Kontrak itu adalah perjanjian pembagian saham antara Pramudya dan Bastian.
Sekilas tampak asli.
Namun setelah diperiksa menggunakan alat khusus, terlihat bekas penghapusan tinta.
"Ini dipals**an."
Semua langsung terdiam.
Surya membuka dokumen lain.
Hasilnya sama.
Sebagian besar dokumen penting ternyata telah dimanip**asi.
Alina yang ikut menyaksikan mengepalkan tangan.
"Berarti selama ini ayahku juga menjadi korban."
Surya mengangguk.
"Sepertinya begitu."
"Beliau mungkin sempat membuat kesalahan."
"Tapi bukan pelaku utama."
Alina menutup matanya.
Selama bertahun-tahun ia hidup dengan beban rasa bersalah atas dosa yang bahkan belum tentu dilakukan ayahnya sepenuhnya.
Kini sedikit demi sedikit kebenaran mulai muncul.
Sementara itu, Bastian kembali ke rumah lamanya.
Rumah yang sudah puluhan tahun tidak ia masuki.
Di loteng, ia membuka peti kayu peninggalan ayahnya.
Di dalamnya terdapat berbagai barang kenangan.
Foto.
Jam tangan tua.
Dan sebuah kotak musik kecil.
Saat ia memutar kotak itu, terdengar melodi lama yang pernah dimainkan ibunya.
Namun ada sesuatu yang membuatnya berhenti.
Di bagian bawah kotak musik terdapat ruang rahasia kecil.
Ia membukanya.
Di dalam tersimpan sebuah kunci kuningan dan secarik kertas.
Di atas kertas tertulis:
"Kalau Herman berkhianat, buka lemari nomor tujuh."
Bastian memandang tulisan itu dengan napas tertahan.
"Ayah..."
"Kenapa aku baru menemukannya sekarang?"
Siang hari, ia membawa kunci itu ke gudang arsip perusahaan lamanya.
Gudang tersebut hampir tidak pernah dibuka lagi.
Dengan bantuan Doni, ia mencari lemari bernomor tujuh.
Setelah menemukannya, Bastian memasukkan kunci.
Klik.
Pintu lemari terbuka.
Di dalam hanya ada satu kotak besi.
Kotak itu dikunci menggunakan kombinasi angka.
Di bagian atas terdapat petunjuk.
Tanggal ulang tahun persahabatan.
Bastian memejamkan mata.
Ia mengingat kembali masa mudanya bersama Pramudya.
Hari pertama mereka bertemu.
Hari pertama mereka mendirikan perusahaan.
Dengan tangan gemetar, ia memasukkan angka tersebut.
Kotak terbuka.
Di dalamnya terdapat kaset video lama dan sebuah buku harian.
Doni segera membawa alat pemutar.
Layar televisi tua menyala.
Muncul wajah ayah Bastian.
Pria itu tampak berbicara langsung ke kamera.
"Kalau video ini diputar..."
"Berarti aku sudah gagal menghentikan Herman."
Bastian membeku.
"Aku baru mengetahui bahwa Herman memanip**asi laporan keuangan dan memals**an beberapa dokumen."
"Aku dan Pramudya sudah sepakat akan menyerahkannya kepada polisi."
"Namun aku merasa dia mulai mengawasi kami."
Air mata mulai mengalir di wajah Bastian.
Selama ini ia percaya Pramudya mengkhianati ayahnya.
Padahal kenyataannya...
Mereka justru bekerja sama untuk melawan Herman.
Video berlanjut.
"Kalau sesuatu terjadi pada kami..."
"Tolong jangan biarkan anak-anak kami mewarisi kebencian ini."
Layar kemudian mati.
Ruangan menjadi sunyi.
Bastian terduduk lemas.
Seluruh hidupnya terasa seperti kebohongan.
Sore harinya, ia datang ke kantor Prameswari Group.
Tanpa banyak bicara, ia menyerahkan kaset dan buku harian itu kepada Alina.
Perempuan itu membacanya perlahan.
Tangisnya pecah.
"Jadi Ayah dan ayahmu..."
Bastian mengangguk.
"Mereka tidak pernah menjadi musuh."
"Mereka hanya dipaksa saling mencurigai."
Arga yang berada di ruangan itu ikut terdiam.
Konspirasi yang disusun Herman ternyata jauh lebih dalam daripada yang mereka kira.
Ia bukan sekadar memals**an dokumen.
Ia memals**an hubungan antarmanusia.
Mengubah sahabat menjadi musuh.
Dan membiarkan dendam hidup selama puluhan tahun.
Menjelang malam, Surya menerima laporan baru dari tim penyelidik.
"Pak."
"Ada perkembangan."
"Apa?"
"Kami berhasil melacak salah satu properti atas nama perusahaan milik Herman."
"Di mana?"
"Di pegunungan sebelah utara."
"Apa yang istimewa?"
"Menurut warga sekitar..."
"Tempat itu selalu dijaga ketat."
"Tidak ada yang boleh masuk."
Surya menunjukkan foto udara.
Di tengah kawasan hutan terdapat sebuah vila besar yang dikelilingi pagar tinggi.
Di bagian belakang vila terlihat bangunan bawah tanah yang luas.
Alina memandang foto itu dengan serius.
"Bagaimana kalau Rendra disembunyikan di sana?"
Surya mengangguk.
"Itu kemungkinan terbesar."
Bastian mengepalkan tangan.
"Kalau begitu kita tidak bisa menunggu lagi."
Mereka mulai menyusun rencana penyelamatan.
Namun tidak seorang pun menyadari bahwa di balik foto udara itu, ada satu sosok yang berdiri di balkon vila sambil memandang langit malam.
Herman Wijaya.
Di sampingnya, Rendra duduk terikat dengan tubuh yang semakin lemah.
Herman tersenyum tipis.
"Besok mereka akan datang."
Rendra menatapnya tajam.
"Mereka akan menghentikanmu."
Herman tertawa pelan.
"Mungkin."
"Tapi sebelum itu..."
Ia mengeluarkan sebuah map tua dari dalam brankas.
Di bagian depan map tertulis satu nama yang membuat Rendra membelalakkan mata.
"Akta Kelahiran Asli Alina Prameswari."
Dan untuk pertama kalinya, Rendra tampak benar-benar panik.

Address

Jalan Prof Drive Hamka No 2a
Padang
25132

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Irman Saputra Real posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Irman Saputra Real:

Shortcuts

Share