21/06/2026
BAB1. Pernikahan yang tampak sempurna
Hujan turun membasahi langit Jakarta malam itu.
Dari lantai tujuh puluh dua Menara Wijaya Group, gemerlap lampu kota terlihat seperti lautan bintang yang jatuh ke bumi. Mobil-mobil di jalan raya tampak seperti garis cahaya yang bergerak tanpa henti.
Di balik dinding kaca kantor mewah itu, seorang pria masih sibuk menatap layar laptopnya.
Adrian Wijaya.
CEO muda yang dikenal dingin, cerdas, dan nyaris tak pernah gagal dalam mengambil keputusan bisnis.
Di usianya yang baru menginjak tiga puluh tiga tahun, Adrian telah membangun kerajaan bisnis bernilai triliunan rupiah.
Banyak orang iri kepadanya.
Harta.
Kekuasaan.
Pengaruh.
Dan seorang istri yang begitu sempurna.
Namun malam itu, Adrian bahkan tidak sadar jam telah menunjukkan pukul sebelas malam.
Ponselnya bergetar.
Nama yang muncul di layar membuat tatapannya berhenti sesaat.
Alya ❤️
Istrinya.
Adrian menghela napas sebelum mengangkat telepon.
"Halo."
Suara lembut di seberang sana terdengar.
"Kamu p**ang malam lagi?"
Adrian menatap laporan keuangan di depannya.
"Masih ada pekerjaan."
"Aku sudah menyiapkan makan malam."
"Nanti saja."
Jawaban singkat itu membuat suasana menjadi hening.
Beberapa detik berlalu.
"Aku menunggumu."
Adrian menutup mata sesaat.
"Alya, jangan begadang."
Klik.
Panggilan berakhir.
Tanpa sadar Adrian langsung kembali menatap laptopnya.
Seolah panggilan tadi tidak pernah terjadi.
Sementara itu.
Di sebuah penthouse mewah yang menghadap pusat kota Jakarta, Alya masih berdiri di depan meja makan yang telah ia siapkan sejak dua jam lalu.
Lilin-lilin kecil masih menyala.
Steak favorit Adrian mulai dingin.
Begitu p**a harapannya.
Alya tersenyum kecil.
Senyum yang menyimpan rasa kecewa.
Sudah tiga tahun mereka menikah.
Dan semakin hari, Adrian terasa semakin jauh.
Bukan karena ada wanita lain.
Bukan karena mereka sering bertengkar.
Melainkan karena Adrian seolah menikahi pekerjaannya.
Setiap hari.
Setiap malam.
Hanya pekerjaan.
Alya berjalan menuju jendela besar apartemen.
Gaun satin berwarna hitam yang dikenakannya memantulkan cahaya lampu kota.
Banyak pria akan menganggap dirinya sempurna.
Tubuh proporsional.
Wajah cantik.
Pendidikan tinggi.
Kepribadian yang hangat.
Namun semua itu terasa sia-sia ketika orang yang paling ingin ia perhatikan justru tidak pernah benar-benar melihatnya.
Ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk.
Dari sahabatnya.
Maya
"Masih sendirian?"
Alya tertawa kecil.
"Seperti biasa."
Tak lama kemudian balasan datang.
"Besok ikut acara gala perusahaan suamimu?"
"Ya."
"Pakai gaun merah yang kemarin."
"Kenapa?"
"Karena kalau Adrian tidak sadar istrinya secantik apa, setidaknya seluruh ruangan akan sadar."
Alya menggeleng sambil tersenyum.
Meskipun demikian, kata-kata itu membuat hatinya sedikit hangat.
Keesokan malam.
Hotel bintang lima paling mewah di Jakarta dipenuhi para pengusaha, investor, dan tamu penting.
Acara tahunan Wijaya Group selalu menjadi pusat perhatian media.
Alya turun dari mobil dengan langkah anggun.
Gaun merah yang dikenakannya membuat banyak kepala menoleh.
Kamera wartawan langsung berkilat.
Beberapa orang bahkan berhenti berbicara hanya untuk melihatnya.
"Selamat malam, Bu Alya."
"Anda terlihat luar biasa malam ini."
"Terima kasih."
Alya membalas dengan senyum sopan.
Namun matanya terus mencari satu orang.
Adrian.
Tak lama kemudian ia melihat suaminya berdiri di dekat panggung bersama para direktur perusahaan.
Tampan.
Berwibawa.
Sempurna.
Persis seperti yang sering ditulis media.
Saat itu Adrian juga melihatnya.
Tatapan mereka bertemu.
Sesaat.
Hanya sesaat.
Sebelum Adrian kembali berbicara dengan para investor.
Senyum Alya perlahan memudar.
Lagi-lagi begitu.
Seolah dirinya hanya bagian dari dekorasi kehidupan Adrian.
"Bu Alya?"
Sebuah suara pria membuatnya menoleh.
Di hadapannya berdiri seorang pria tinggi dengan jas abu-abu gelap.
Usianya mungkin sekitar tiga puluh tahun.
Tatapannya tenang.
Raut wajahnya penuh percaya diri.
"Apa kita pernah bertemu?" tanya Alya.
Pria itu tersenyum tipis.
"Saya rasa belum."
"Kalau begitu?"
"Saya Raka Pratama."
Alya sedikit terkejut.
Nama itu tidak asing.
Beberapa minggu terakhir Adrian sering menyebutnya.
Direktur baru yang direkrut langsung dari Singapura.
Pria yang disebut-sebut sebagai aset masa depan perusahaan.
"Oh."
"Saya akhirnya bertemu langsung dengan wanita yang sering dibicarakan orang-orang kantor."
Alya mengangkat alis.
"Dibicarakan?"
"Tentu saja."
Raka tersenyum.
"Semua orang tahu bahwa CEO paling dingin di Indonesia memiliki istri yang sangat memikat."
Alya tertawa pelan.
Sudah lama sekali ia tidak menerima pujian seperti itu.
Dan entah mengapa, untuk pertama kalinya malam itu, ia merasa benar-benar diperhatikan.
"Mereka terlalu berlebihan."
"Saya tidak berpikir begitu."
Tatapan Raka terlihat tulus.
Bukan seperti para pria lain yang hanya ingin mencari perhatian.
Alya tiba-tiba merasa sedikit gugup.
Perasaan yang sudah lama tidak ia rasakan.
Dari kejauhan.
Adrian memperhatikan mereka.
Tangannya berhenti memegang gelas.
Entah kenapa.
Melihat Alya tersenyum saat berbicara dengan pria lain membuat sesuatu terasa mengganggu di dalam dadanya.
Perasaan yang selama ini tidak pernah ia pikirkan.
Perasaan yang bernama...
Cemburu.
Dan malam itu, tanpa seorang pun menyadarinya, sebuah perubahan besar mulai terjadi.
Perubahan yang perlahan akan menguji cinta, kesetiaan, dan pernikahan yang selama ini terlihat sempurna dari luar.
****
****
Adrian tidak menyukai perasaan yang sedang mengganggunya.
Selama bertahun-tahun ia terbiasa mengendalikan segala sesuatu.
Pasar saham.
Negosiasi miliaran rupiah.
Akuisisi perusahaan.
Bahkan emosi dirinya sendiri.
Namun malam itu, ketika melihat Alya tersenyum di hadapan Raka Pratama, ada sesuatu yang terasa berbeda.
Sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan.
Dan Adrian membencinya.
Dari tempatnya berdiri, ia melihat Alya tertawa kecil mendengar sesuatu yang dikatakan Raka.
Tawa yang ringan.
Tulus.
Tawa yang sudah lama tidak ia dengar.
Bahkan mungkin tidak pernah lagi ia dengar saat bersamanya.
"Pak Adrian?"
Suara seorang investor membuatnya tersadar.
"Maaf?"
Investor itu tersenyum.
"Saya sedang menjelaskan proposal kerja sama."
Adrian mengangguk.
Tetapi fokusnya sudah buyar.
Matanya kembali mencari sosok Alya.
Namun kali ini istrinya sudah tidak berada di tempat yang sama.
Entah kenapa, hal itu membuatnya semakin tidak nyaman.
Sementara itu, Alya sedang berdiri di balkon hotel.
Udara malam terasa sejuk.
Ia membutuhkan sedikit ketenangan setelah berada di dalam ruangan yang penuh orang.
"Anda sering menghilang dari keramaian?"
Suara yang familiar terdengar dari belakang.
Alya menoleh.
Raka.
Pria itu membawa dua gelas minuman.
"Aku hanya ingin mencari udara segar."
Raka menyerahkan satu gelas kepadanya.
"Kalau begitu kita punya kebiasaan yang sama."
Alya menerima gelas itu sambil tersenyum.
"Anda selalu seperti ini?"
"Seperti apa?"
"Mudah akrab dengan orang."
Raka tertawa pelan.
"Justru kebalikannya."
"Lalu kenapa dengan saya berbeda?"
Pria itu terdiam sesaat.
Tatapannya mengarah ke lampu-lampu kota yang berkelap-kelip di kejauhan.
"Karena Anda terlihat kesepian."
Jawaban itu membuat Alya membeku.
Tidak banyak orang yang mampu melihat perasaannya.
Bahkan keluarganya sendiri mengira hidupnya sempurna.
Namun pria yang baru dikenalnya malam ini justru bisa menebak apa yang sedang ia rasakan.
"Apa saya terlihat sejelas itu?"
"Tidak."
"Lalu?"
Raka tersenyum tipis.
"Mungkin karena saya pernah berada di posisi yang sama."
Alya menatapnya.
Untuk pertama kalinya, ia merasa percakapan ini bukan sekadar basa-basi.
Mereka berbicara tentang kehidupan.
Tentang pekerjaan.
Tentang impian yang tertunda.
Tentang kesepian yang sering datang di tengah keramaian.
Dan tanpa disadari, waktu berlalu begitu cepat.
Di sisi lain ballroom.
Adrian akhirnya menemukan Alya.
Di balkon.
Bersama Raka.
Rahangnya mengeras.
Ia tidak tahu kenapa.
Mereka hanya berbicara.
Tidak ada yang salah.
Tidak ada yang berlebihan.
Tetapi tetap saja ada sesuatu yang mengusiknya.
Sangat mengusiknya.
Seorang direktur senior yang berdiri di dekatnya ikut melihat ke arah yang sama.
"Pak Raka memang cepat bergaul."
Adrian tidak menjawab.
Direktur itu melanjutkan.
"Orangnya cerdas juga. Banyak karyawan menyukainya."
Tetap tidak ada jawaban.
Karena perhatian Adrian sepenuhnya tertuju pada Alya.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia menyadari sesuatu.
Malam ini Alya terlihat sangat cantik.
Gaun merah itu membuatnya menonjol di antara semua wanita yang hadir.
Namun selama acara berlangsung, Adrian bahkan belum sempat mengatakan hal itu.
Acara berakhir hampir tengah malam.
Mobil hitam mewah melaju membelah jalanan Jakarta yang mulai lengang.
Di dalam mobil hanya ada Adrian dan Alya.
Biasanya mereka menikmati keheningan.
Tetapi malam ini suasananya terasa berbeda.
Lebih berat.
Lebih canggung.
"Kamu terlihat menikmati acara tadi."
Akhirnya Adrian membuka percakapan.
Alya menoleh.
Sedikit terkejut.
Karena biasanya Adrian bukan tipe yang memulai obrolan.
"Ya."
"Hmm."
Hening kembali.
Alya menghela napas.
"Ada apa?"
"Tidak ada."
"Kamu tidak pandai berbohong."
Adrian menatap ke luar jendela.
"Lama berbicara dengan Raka?"
Pertanyaan itu membuat Alya terdiam sesaat.
Jadi ini penyebabnya.
"Kami hanya mengobrol."
"Aku tahu."
"Kalau tahu kenapa bertanya?"
Adrian tidak menjawab.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak tahu harus berkata apa.
Karena ia sendiri tidak mengerti kenapa hal itu mengganggunya.
Mobil kembali dipenuhi keheningan.
Namun kali ini keheningan itu tidak terasa nyaman.
Sesampainya di rumah, Alya langsung menuju kamar.
Ia melepas anting-antingnya di depan cermin.
Pantulan dirinya terlihat lelah.
Tiga tahun lalu ia membayangkan pernikahan yang hangat.
Penuh cerita.
Penuh kebersamaan.
Namun kenyataannya jauh berbeda.
Adrian memang pria baik.
Tidak pernah kasar.
Tidak pernah mengkhianati.
Tidak pernah mempermalukannya.
Tetapi ia juga jarang hadir.
Secara fisik mungkin iya.
Namun secara hati?
Belum tentu.
Pintu kamar terbuka.
Adrian masuk.
Melepaskan jasnya.
Seperti biasa.
Seperti setiap malam.
Namun kali ini Alya tidak ingin berpura-pura semuanya baik-baik saja.
"Adrian."
Pria itu berhenti.
"Ada apa?"
"Kapan terakhir kali kita makan malam bersama?"
Adrian mengernyit.
"Aku tidak ingat."
"Nah."
Satu kata itu terasa lebih menyakitkan daripada kemarahan.
Alya berdiri.
Menatap langsung ke mata suaminya.
"Kapan terakhir kali kita pergi berlibur?"
Adrian diam.
"Kapan terakhir kali kamu p**ang sebelum jam sembilan malam?"
Tidak ada jawaban.
"Kapan terakhir kali kamu bertanya bagaimana hariku?"
Keheningan memenuhi ruangan.
Alya tersenyum pahit.
"Itulah masalahnya."
"Alya—"
"Tidak apa-apa."
"Tidak."
Suara Adrian terdengar lebih tegas dari biasanya.
"Aku tahu aku sibuk."
"Sibuk?"
Alya tertawa kecil.
"Bukankah itu kata yang selalu kamu gunakan?"
Adrian mulai merasa bersalah.
Perasaan yang jarang sekali muncul dalam hidupnya.
Karena untuk pertama kalinya ia benar-benar mendengar apa yang selama ini dirasakan istrinya.
"Aku melakukan semua ini untuk kita."
Alya menggeleng pelan.
"Kadang aku berpikir kamu melakukan semua ini untuk dirimu sendiri."
Kalimat itu menghantam Adrian tepat di dadanya.
Malam itu mereka tidur dalam keheningan.
Namun tidak satu pun benar-benar tertidur.
Alya memandang langit-langit kamar.
Sementara Adrian menatap kegelapan dari sisi tempat tidur yang lain.
Untuk pertama kalinya, ia mulai mempertanyakan banyak hal.
Tentang pekerjaan.
Tentang ambisi.
Tentang pernikahannya.
Tentang Alya.
Dan tentang kemungkinan bahwa selama ini ia telah mengabaikan hal yang paling berharga dalam hidupnya.
Keesokan harinya.
Kantor pusat Wijaya Group kembali sibuk.
Ratusan karyawan berlalu-lalang.
Suara rapat terdengar dari berbagai ruangan.
Namun pikiran Adrian tetap tidak tenang.
"Pak Adrian?"
Sekretarisnya masuk.
"Direktur Raka sudah datang."
"Suruh masuk."
Beberapa saat kemudian Raka memasuki ruangan.
Dengan sikap profesional seperti biasa.
"Selamat pagi, Pak."
"Pagi."
Mereka mulai membahas proyek perusahaan.
Awalnya berjalan normal.
Namun entah kenapa Adrian terus memperhatikan pria di depannya.
Raka memang mengesankan.
Cerdas.
Percaya diri.
Karismatik.
Tak heran banyak orang menyukainya.
Termasuk Alya?
Pikiran itu muncul begitu saja.
Dan Adrian tidak menyukainya.
Sama sekali.
"Pak Adrian?"
Raka terlihat heran.
"Ya?"
"Apakah ada yang perlu direvisi?"
Adrian tersadar bahwa dirinya melamun.
"Tidak."
Raka mengangguk.
Setelah rapat selesai, pria itu berdiri.
Namun sebelum keluar, ia berkata,
"Istri Anda wanita yang luar biasa."
Adrian membeku.
"Apa maksudmu?"
Raka tersenyum sopan.
"Saya hanya beruntung sempat berbincang dengannya kemarin."
Kemudian ia pergi.
Meninggalkan Adrian dengan pikiran yang semakin kacau.
Sore harinya.
Alya sedang berada di sebuah galeri seni.
Ini adalah salah satu hobinya sejak lama.
Tempat di mana ia bisa merasa bebas.
Tidak ada wartawan.
Tidak ada rapat.
Tidak ada tuntutan sebagai istri CEO.
Hanya dirinya sendiri.
Saat sedang menikmati sebuah lukisan, ponselnya bergetar.
Nama Adrian muncul di layar.
Alya sedikit terkejut.
Karena biasanya Adrian tidak pernah menelepon di jam kerja.
"Halo?"
"Kamu di mana?"
"Galeri seni."
"Oh."
Hening.
"Kamu butuh sesuatu?"
"Tidak."
Alya mengernyit.
"Lalu?"
Suara Adrian terdengar ragu.
Sesuatu yang sangat jarang terjadi.
"Aku hanya ingin tahu."
Jantung Alya berdetak sedikit lebih cepat.
Karena itu adalah pertanyaan sederhana yang sudah lama tidak ia dengar.
"Aku baik-baik saja."
"Bagus."
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Adrian tidak langsung menutup telepon.
Mereka berbicara beberapa menit.
Tentang hal-hal kecil.
Tentang cuaca.
Tentang aktivitas hari itu.
Tentang kehidupan biasa.
Hal yang seharusnya dilakukan pasangan suami istri sejak dulu.
Setelah panggilan berakhir, Alya memandang layar ponselnya cukup lama.
Ada perasaan aneh yang muncul.
Harapan.
Harapan kecil yang hampir lama mati.
Namun di tempat lain, seseorang juga sedang memikirkan dirinya.
Raka berdiri di depan jendela kantornya.
Menatap langit sore Jakarta.
Dan tanpa sadar, ia tersenyum ketika mengingat wanita bernama Alya.
Seorang wanita yang seharusnya tidak menarik perhatiannya.
Seorang wanita yang sudah memiliki suami.
Seorang wanita yang perlahan mulai mengisi pikirannya.
Tanpa seorang pun menyadari, benang-benang takdir mulai saling terhubung.
Dan badai yang akan mengubah hidup mereka bertiga baru saja dimulai.
Next chapter
Lanjut baca https://www.effectivecpmnetwork.com/cx5tvg6cx0?key=0c14644660c7afc577636256bbf73a5c
Fizzo novel : Istri CEO nakal