26/03/2026
📎 MAKSUD HATI INGIN MEMBELA, MALAH ADU DOMBA
Oleh : Buya Hasan Al-Jaizy
"Kok saya doang yang kalian bully, dia ga? Padahal ucapan saya ama dia sama loh!" kata si tukang gaduh yang sedang memainkan peran seolah victim (playing victim). Atau bukan dia deng yang bilang begitu, melainkan supporternya yang ingin terkesan inshaf dan moderat. "Kok cuma ust. Fulan (Abu Gaduh) yang ditahdzir, coba d**g tahdzir ust. Fulan (Abu Shohihan). Kan ucapannya sama."
Mari kita kaji soal treatment, sikap dan mauqif tentang ini.
Membedakan perlakuan (treatment) terhadap dua individu dengan rekam jejak (track record) yang berbeda, meskipun keduanya menyoundingkan (emang ada ya ini kosakata?) kesimp**an keliru (menurut kita keliru) yang sama, adalah tindakan yang sangat wajar, rasional, adil, dan sejalan dengan prinsip kebijaksanaan (hikmah) dalam tradisi intelektual maupun syariat Islam. Ingat pointnya di rekam jejak zahir. Bukan di hal-hal yang tidak tampak bagi kita, seperti urusan dapurnya atau masalah keluarganya yang layak ditutupi.
Ini bukanlah standar ganda, melainkan sebuah bentuk proporsionalitas karena kita menilai bukan hanya dari konten yang diucapkan, tetapi juga dari konteks, intensi (maksud, mengarah ke mana) dan dampak yang berpotensi ditimbulkan. Tentu sangat penting melihat rekam jejaknya kan lebih-lebih? Apalagi rekam jejaknya dibangga-banggakan oleh Abu Gaduh. Kalau Abu Shohihan, rekam jejaknya kalem, misalnya, atau murni intensi ke ilmu dan amal, bukan mengarah ke seruan politik, atau cari panggung, atau indikasi lain yang kurang elok.
Dalam tradisi keilmuan Islam, ada konsep yang membedakan antara Zallah al-'Alim (ketergelinciran/kesalahan seorang yang berilmu dan tulus) dengan Ittiba' al-Hawa (mengikuti hawa nafsu untuk mencari panggung atau mengadu domba).
Kita personakan lagi ya jadi Abu Gaduh dan Abu Shohihan.
Untuk Abu Shohihan (ndak punya sejarah provokasi/bersih), maka asumsi dasarnya adalah kita mengedepankan husnuzhan. Kesalahannya murni dianggap sebagai cacat metodologi, salah membaca data, atau murni ijtihad yang keliru (menurut kita atau absolut keliru). Tujuannya adalah mencari kebenaran, bukan mencari keributan.
Treatment untuknya? Didekati dengan cara tabayyun (klarifikasi) secara tertutup, diajak berdiskusi ilmiah kalau kita bisa dan diberikan ruang untuk meralat tanpa harus dipermalukan di depan publik.
Nah, sementara itu...
Abu Gaduh (Punya rekam jejak s**a "menggesek" tema sensitif dan hobi ngeyek, lidah pait dan bikin hati gatel suram) maka asumsi dasarnya ya kita menggunakan pendekatan hadzar (kewaspadaan/kehati-hatian). Kesalahannya kemungkinan besar didorong oleh motif mencari engagement (keterikatan di media sosial), clout (pop**aritas), atau malah bisa saja memiliki agenda ideologis untuk memecah belah. Yoi ga sih?
Cari engagement ya supaya banyak yang komentar, nanti banyak pendukung. Kadang promo dagangan, seperti parfum (saya jual lho), atau sarung (itu juga saya jual), atau dagangan lainnya berupa sekolahan atau perkuliahan (ini dagangannya siapa I know you not well).
Atau murni cari pop**aritas aja karena pop**aritas bagi sebagian orang konyol itu satisfying. Well, sejatinya itu fake satisfying. Men always beg for another mountain if they get one.
Treatment untuknya? Pendekatannya harus lebih tegas. Bantahan sering kali harus dilakukan secara terbuka bukan untuk menyerang personalnya, melainkan untuk memitigasi kerusakan dan melindungi orang awam dari narasinya. Tapi yang awam seringkali ngeselin juga. Sudah diwanti-wantu supaya hati-hatu, eh malah kita yang kena getahnyu.
Terkadang, perlakuan terbaik adalah tarkul jawab (tidak meladeni secara langsung agar ia tidak mendapat panggung yang dicari). Kalau saya, biasanya awalnya toleran following para Abu Gaduhs. Kadang saya nasehati terbuka di kolom komentar, kadang via japri. Tapi kalau sudah makin mingkinan, saya unfollow.
Jadi, kalau Anda berposisi sebagai Sengkuni, eh...maksud saya Abu Gaduh di dunia dakwah, misalnya, lalu ada banyak orang berposisi sebagai oposisi, kemudian menyerang ide Anda yang biasanya bikin gaduh itu, maka harus maklumin lah. Saya melihat beberapa model Abu Gaduh ini sensitif sekali kalau dibantah. Punya banyak jam kerja di medsos untuk mengamati komentar di postingannya. Yang pro, dibiarkan. Yang kontra, dikomentrari. Kesel sendiri. Lalu kadang screenshot komentar yang kontra, atau status orang lain yang kontra. Kadang dicoret pakai X, walau ga pernah dicoret pakai Grok. Jam kerjanya di medsos tinggi euy, padahal gelarnya MA lho (nggak kok, saya ga sedang nyinggung doktor atau profesor). Kan kalau gelar tinggi semisal MA, itu harusnya menyontohkan ke kita supaya ga gemar debat, ga bertingkah konyol di publik dengan tulisan ngeselin. Makanya, yang Lc atau MA harus upgrade jadi doktor d**g biar proporsional sikapnya, plus banyak yang bela, apalagi kalau sama sesama almamaternya.
Kalau di almamater saya, kami tidak pernah diajarkan fanatik golongan atau individu. Kita berdasarkan Tauhid dan Sunnah, ceu nah. Kalau ada senior tukang gaduh, (idealnya) kita ga dukung gaduhnya dan ikut kebenaran, bukan malah sebaris karena kementang-mentangan. Gitu sih idealnya. Prakteknya sih ya kembali ke hawa nafsu atau inshaf masing-masing. (Emoticon ketawa tanpa emot karena selalu jaga wibawa).
Oke, jadi?
Sikap membedakan treatment ini menunjukkan kedewasaan kognitif dan sosial. Menyamakan perlakuan kepada pembuat onar (Abu Gaduh) dan pencari kebenaran (Abu Shohihan) hanya karena kalimat akhirnya kebetulan sama, justru merupakan bentuk ketidakadilan.
Saya memang ga setuju jika ada penyerangan terhadap individu, seperti mengubah nama (walaupun itu balasan dari Allah juga karena dulu ngubah nama), atau mengejek hal yang tidak substantif (walaupun....dst), tapi ya beginilah liarnya media sosial. Semua ngoceh. Filteringnya iman dan taqwa.
Abu Gaduh saja boleh ngoceh, masak saya tidak?
Wallahu a'lam
Wakatunyo kito mangaji
❀━━━━━━❃❃❃━━━━━━❀
⭕ Informasi : https://linktr.ee/padangmangaji