Padang Mangaji

Padang Mangaji Padang Mangaji | Wakatunyo kito mangaji!

26/04/2026



Buya Abdul Hakim bin Amir Abdat
- Hukum Ikut Membantu Tahlilan

| WAKATUNYO KITO MANGAJI

📎 SALAFIYAH BUKANLAH SEBUAH ORGANISASISalafiyun atau Salafiyah, dakwah mereka berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan...
22/04/2026

📎 SALAFIYAH BUKANLAH SEBUAH ORGANISASI

Salafiyun atau Salafiyah, dakwah mereka berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan pemahaman salaf. Mereka mengajak kepada jalannya salaf yang dibangun di atas Al-Qur'an dan As-Sunnah yang shahih.

Salafiyun tidak pernah membuat sebuah kelompok hizbiyah atau organisasi hizbiyah yang dipimpin oleh seorang diantara mereka, lalu mereka bangun Al-Wala' (cinta/loyalitas) dan Al-Bara' (benci/pengingkaran) diatas kelompok atau organisasi tersebut. Bukan seperti hizbiyah pada hari ini, mereka membangun Al-Wala' dan Al-Bara'-nya berdasarkan organisasi, mencintai dan membenci berdasarkan kelompok dan organisasi. Inilah hizbiyah ashabiyah.

Hizbiyah hari ini mencintai setiap orang yang satu organisasi atau satu pemikiran dengannya, walaupun terkadang aqidahnya beda pada sebagian perkara. Mereka membenci orang yang tidak satu organisasi atau satu pemikiran dengannya, walaupun dia adalah seseorang yang berada di atas Al-Qur'an dan As-Sunnah (salafiyah).

Salafiyah adalah jama'ah dan golongan yang diikat oleh tali Allah Ta'ala (Kitabullah dan Sunnah Rasulullah berdasarkan pemahaman salaf). Mereka adalah sebuah jama'ah dan golongan walaupun mereka berjauhan tempat dan zaman, satu di Makkah, satu di Indonesia, satu di Amerika, dan seterusnya. Salafiyun adalah jama'ah, walaupun tanpa ada organisasi yang menaungi mereka.

Berikut ini ucapan Asy-Syaikh Nashiruddin Al-Albani rahimahullah ketika beliau ditanya,

"Kenapa harus memakai nama Salafiyah? Apakah dia (Salafiyah) adalah dakwah hizbiyah atau dakwah kelompok madzhab? Ataukah ia adalah firqah (kelompok) baru dalam islam?"

Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah menjawab,

"Sesungguhnya kata "Salaf" sudah dikenal dalam bahasa Arab dan bahasa Syariat. Yang penting bagi kita disini adalah pembahasannya dari sisi syar'inya. Sesungguhnya telah shahih dari Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bahwa beliau bersabda kepada Fathimah radhiyallahu anha ketika beliau hendak meninggal dunia, 'Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah, karena sebaik-baik salaf (pendahulu) bagimu adalah aku'." (Hadits Riwayat Al-Bukhari no.5828, Muslim no.2450)

Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah pernah ditanya,

"Apakah Salafiyah merupakan hizb (kelompok/partai) dan apakah menisbatkan diri kepadanya adalah tercela?"

Asy-Syaikh hafizhahullah menjawab,

"As-Salafiyah adalah Al-Firqah An-Najiyah (golongan yang selamat), mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jama'ah, bukan hizb (partai) diantara hizb-hizb yang disebut dengan partai. Mereka hanyalah jama'ah yang berada di atas Sunnah dan agama.

Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, "Senantiasa akan ada kelompok dari umatku yang melaksanakan perintah Allah, menang diatas kebenaran, tidak akan membahayakan mereka orang yang menelantarkan mereka tidak p**a orang yang menyelisihi mereka." (Hadits Riwayat Muslim no.1920)

Beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam juga bersabda, "Umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya di neraka, kecuali satu". Para sahabat bertanya, "Siapakah kelompok itu, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Orang yang berada di atas sesuatu yang aku dan para sahabatku berada di atasnya hari ini." (Hadits Riwayat At-Tirmidzi no.2641, Al-Hakim no.444) (Majalah Al-Ashalah edisi ke-9/15 Sya'ban 1416H)

Jadi, Salafiyah adalah kelompok yang berada di atas jalannya salaf berdasarkan sesuatu yang dijalani oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya. Salafiyah bukan partai diantara partai-partai (kelompok hizbiyah) masa kini yang ada sekarang, salafiyah hanyalah jama'ah (kelompok) lama Atsariyah dari zaman Rasulullah shallallahu alaihi wasallam terwarisi dan senantiasa istiqamah di atas kebenaran dan berjaya sampai hari kiamat sebagaimana yang dikabarkan oleh beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. (Al-Ajwibah Al-Mufidah hal.258-259)

Wallahu a'lam


Wakatunyo kito mangaji
❀━━━━━━❃❃❃━━━━━━❀

⭕ Informasi : https://linktr.ee/padangmangaji

08/04/2026



Buya Ali Musri Semjan Putra
- Apakah Syaikh Dr. Labib Najib Bermanhaj Salaf?

| WAKATUNYO KITO MANGAJI

📎 SIKAP PARA ULAMA SALAF TERHADAP ILMU KALAMOleh : Buya Abu Sa'id Neno TriyonoAda seorang doktor yang menjadi pimpinan s...
31/03/2026

📎 SIKAP PARA ULAMA SALAF TERHADAP ILMU KALAM

Oleh : Buya Abu Sa'id Neno Triyono

Ada seorang doktor yang menjadi pimpinan sebuah kampus Islam, kita berikan inisial Doktor Koplak; dalam postingan terbarunya, doi menebar syubhat lagi yang menggambarkan dirinya ingin menormalisasi ilmu Kalam, padahal para ulama Salaf telah memperingatkan umat atas bahayanya.

Al-Imam Abu Hanifah rahimahullah pernah mengatakan :

"aku telah menjumpai para ahli ilmu kalam. Hati mereka keras, jiwanya kasar, dan tidak peduli jika mereka bertentangan dengan Al-Qur`an dan as-Sunnah. Mereka tidak memiliki sifat wara dan takwa." (Siyar a'lamin Nubala` (VI/399).

Dalam kesempatan lain, al-Imam Abu Hanifah menjawab saat ditanya tentang pembicaraan yang diada-adakan oleh manusia mengenai sifat dan Dzat Allah, ia berkata :

"Ambillah hadits dan tempuhlah cara salaf, jauhi setiap hal baru karena ia adalah bid'ah". (Shaunul Mantiq wal Kalam (hal. 32).

Al-Qadhi Abu Yusuf rahimahullah -murid Abu Hanifah-, berkata kepada Bisyr al-Marisi :

"ilmu tentang kalam adalah suatu kebodohan dan bodoh tentang ilmu kalam adalah suatu ilmu. Seseorang manakala menjadi pemuka atau tokoh ilmu kalam, ia adalah zindiq atau dicurigai sebagai seorang zindiq (kafir)".

Beliau mengatakan p**a :

"barangsiapa yang belajar ilmu kalam ia akan menjadi zindiq. Barangsiapa yang mencuri harta dengan kimia, ia akan bangkrut, sedangkan orang yang mempelajari hadits-hadits aneh, ia akan menjadi pendusta." (Syarhul 'Aqidah ath-Thahawiyyah (hal. 75).

Asy-Syaikh DR. Abdul Karim al-Khudhoir hafizhahullah dalam darsnya terhadap Syarah aqidah Thahawiyyah beliau menerangkan yang dimaksud dengan kimia diatas :

الكيمياء ليس المراد بها ما يدرس الآن وما يعرف الآن، هي نوع من أنواع السحر يستعينون بها على قلب الأعيان فيجعلون من الحجر ذهبا على ما يزعمون، وهكذا تكلم عنها العلماء وابن خلدون تكلم في مقدمته عنها

"Kimia yang dimaksud bukan kimia yang dipelajari sekarang atau yang dikenal pada zaman ini. Itu dulu adalah jenis sihir yang membantu merubah suatu benda, mereka merubah batu menjadi emas menurut klaim mereka. Demikian yang dijelaskan oleh para ulama dan Ibnu Kholdun telah membahasnya dalam kitab mukadimahnya".

Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata : "penganut ilmu kalam adalah sejelek-jelek kaum. Tidak perlu mengucapkan salam kepada mereka dan menjauhi mereka lebih aku s**ai." (al-Intiqa` (hal. 34).

Imam Ahmad berkata :

"pemilik ilmu kalam tidak akan pernah beruntung. Para mutakalimin itu adalah orang-orang zindiq (kafir)." (Talbis Iblis (hal. 112).

(Dinukil dari Manhaj Aqidah Imam asy-Syafi'i (hal. 82-83))

Al-Imam Syafi'i rahimahullah pernah berkata :

"Hukumanku bagi ahli kalam adalah mereka dipukul dengan pelepah kurma dan sandal, lalu diarak keliling ke kabilah-kabilah dan suku-suku, kemudian diserukan kepada khalayak: 'Inilah balasan bagi orang yang meninggalkan Al-Kitab (Al-Qur'an) dan As-Sunnah, lalu berpaling kepada ilmu kalam.'

Sungguh, aku telah mengetahui sisi dalam dari ahli kalam, sesuatu yang tidak pernah aku sangka akan diucapkan oleh seorang muslim. Seandainya seorang hamba diuji dengan segala sesuatu yang dilarang oleh Allah—selain syirik kepada Allah—itu masih lebih baik baginya daripada diuji dengan ilmu kalam." (Syarah Aqidah Thahawiyyah, lisyaikh Nashir al-Aql).

Wallahu a'lam


Wakatunyo kito mangaji
❀━━━━━━❃❃❃━━━━━━❀

⭕ Informasi : https://linktr.ee/padangmangaji

📎 Apakah Harus Selevel Kalau Mengkritik? - https://www.facebook.com/share/p/1CW3f2Nrt9/- https://www.facebook.com/share/...
29/03/2026

📎 Apakah Harus Selevel Kalau Mengkritik?

- https://www.facebook.com/share/p/1CW3f2Nrt9/

- https://www.facebook.com/share/p/18HBfbzBzK/

Berkata Asy-Syaikh Musthafa Mabram hafizhahullah :

‏إذا خفت من النصح أو النقد أو الرد وعدم الرجوع إلى الحق، فصن قلمك ولسانك، وكن حلس وهمك وخيالك، لأنك قد ضيعت بشريتك، والله المستعان.

"Jika engkau takut terhadap nasehat, atau kritikan, atau bantahan, dan tidak mau kembali kepada kebenaran, maka jagalah penamu dan lisanmu, dan jadilah alas bagi kesedihan dan khayalanmu, karena sesungguhnya engkau telah menyia-nyiakan kemanusiaanmu, hanya kepada Allah saja memohon pertolongan."

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata :

بعض الناس يرى في كل إنكار ونصيحة غلظة، لو قلت له: أنت مخطئ، أو هذا خطأ، أو هذه معصية، يقول: أنت متشدد وهذه غلظة، في حين أن ما قلته ليس من الغلظة في شيء، فالغلظة تختلف باختلاف الناس، والغلظة لا تجوز ما دام أنه يكفي عنها الرفق، أما إذا لم يكف عنها الرفق فلا بد منها.

"Sebagian orang menganggap semua bentuk pengingkaran dan nasehat sebagai sikap keras, seandainya engkau mengatakan kepadanya, 'Engkau keliru', atau, 'Ini salah', atau, 'Ini maksiat', dia akan menjawab, 'Engkau orang yang terlalu keras dan ini kasar', padahal engkau yang engkau katakan sama sekali tidak keras. Jadi sikap keras itu berbeda penerapannya sesuai perbedaan orang yang dihadapi, sikap keras tidak boleh selama cukup dengan kelembutan. Adapun jika kelembutan tidak cukup maka harus dengan sikap keras." (Ni’matul Amni wa Bayanu Muqawwimatih, hlm. 25).

Wallahu a'lam


Wakatunyo kito mangaji
❀━━━━━━❃❃❃━━━━━━❀

⭕ Informasi : https://linktr.ee/padangmangaji

📎 MAKSUD HATI INGIN MEMBELA, MALAH ADU DOMBAOleh : Buya Hasan Al-Jaizy"Kok saya doang yang kalian bully, dia ga? Padahal...
26/03/2026

📎 MAKSUD HATI INGIN MEMBELA, MALAH ADU DOMBA

Oleh : Buya Hasan Al-Jaizy

"Kok saya doang yang kalian bully, dia ga? Padahal ucapan saya ama dia sama loh!" kata si tukang gaduh yang sedang memainkan peran seolah victim (playing victim). Atau bukan dia deng yang bilang begitu, melainkan supporternya yang ingin terkesan inshaf dan moderat. "Kok cuma ust. Fulan (Abu Gaduh) yang ditahdzir, coba d**g tahdzir ust. Fulan (Abu Shohihan). Kan ucapannya sama."

Mari kita kaji soal treatment, sikap dan mauqif tentang ini.

Membedakan perlakuan (treatment) terhadap dua individu dengan rekam jejak (track record) yang berbeda, meskipun keduanya menyoundingkan (emang ada ya ini kosakata?) kesimp**an keliru (menurut kita keliru) yang sama, adalah tindakan yang sangat wajar, rasional, adil, dan sejalan dengan prinsip kebijaksanaan (hikmah) dalam tradisi intelektual maupun syariat Islam. Ingat pointnya di rekam jejak zahir. Bukan di hal-hal yang tidak tampak bagi kita, seperti urusan dapurnya atau masalah keluarganya yang layak ditutupi.

Ini bukanlah standar ganda, melainkan sebuah bentuk proporsionalitas karena kita menilai bukan hanya dari konten yang diucapkan, tetapi juga dari konteks, intensi (maksud, mengarah ke mana) dan dampak yang berpotensi ditimbulkan. Tentu sangat penting melihat rekam jejaknya kan lebih-lebih? Apalagi rekam jejaknya dibangga-banggakan oleh Abu Gaduh. Kalau Abu Shohihan, rekam jejaknya kalem, misalnya, atau murni intensi ke ilmu dan amal, bukan mengarah ke seruan politik, atau cari panggung, atau indikasi lain yang kurang elok.

Dalam tradisi keilmuan Islam, ada konsep yang membedakan antara Zallah al-'Alim (ketergelinciran/kesalahan seorang yang berilmu dan tulus) dengan Ittiba' al-Hawa (mengikuti hawa nafsu untuk mencari panggung atau mengadu domba).

Kita personakan lagi ya jadi Abu Gaduh dan Abu Shohihan.

Untuk Abu Shohihan (ndak punya sejarah provokasi/bersih), maka asumsi dasarnya adalah kita mengedepankan husnuzhan. Kesalahannya murni dianggap sebagai cacat metodologi, salah membaca data, atau murni ijtihad yang keliru (menurut kita atau absolut keliru). Tujuannya adalah mencari kebenaran, bukan mencari keributan.
Treatment untuknya? Didekati dengan cara tabayyun (klarifikasi) secara tertutup, diajak berdiskusi ilmiah kalau kita bisa dan diberikan ruang untuk meralat tanpa harus dipermalukan di depan publik.

Nah, sementara itu...
Abu Gaduh (Punya rekam jejak s**a "menggesek" tema sensitif dan hobi ngeyek, lidah pait dan bikin hati gatel suram) maka asumsi dasarnya ya kita menggunakan pendekatan hadzar (kewaspadaan/kehati-hatian). Kesalahannya kemungkinan besar didorong oleh motif mencari engagement (keterikatan di media sosial), clout (pop**aritas), atau malah bisa saja memiliki agenda ideologis untuk memecah belah. Yoi ga sih?

Cari engagement ya supaya banyak yang komentar, nanti banyak pendukung. Kadang promo dagangan, seperti parfum (saya jual lho), atau sarung (itu juga saya jual), atau dagangan lainnya berupa sekolahan atau perkuliahan (ini dagangannya siapa I know you not well).

Atau murni cari pop**aritas aja karena pop**aritas bagi sebagian orang konyol itu satisfying. Well, sejatinya itu fake satisfying. Men always beg for another mountain if they get one.

Treatment untuknya? Pendekatannya harus lebih tegas. Bantahan sering kali harus dilakukan secara terbuka bukan untuk menyerang personalnya, melainkan untuk memitigasi kerusakan dan melindungi orang awam dari narasinya. Tapi yang awam seringkali ngeselin juga. Sudah diwanti-wantu supaya hati-hatu, eh malah kita yang kena getahnyu.

Terkadang, perlakuan terbaik adalah tarkul jawab (tidak meladeni secara langsung agar ia tidak mendapat panggung yang dicari). Kalau saya, biasanya awalnya toleran following para Abu Gaduhs. Kadang saya nasehati terbuka di kolom komentar, kadang via japri. Tapi kalau sudah makin mingkinan, saya unfollow.

Jadi, kalau Anda berposisi sebagai Sengkuni, eh...maksud saya Abu Gaduh di dunia dakwah, misalnya, lalu ada banyak orang berposisi sebagai oposisi, kemudian menyerang ide Anda yang biasanya bikin gaduh itu, maka harus maklumin lah. Saya melihat beberapa model Abu Gaduh ini sensitif sekali kalau dibantah. Punya banyak jam kerja di medsos untuk mengamati komentar di postingannya. Yang pro, dibiarkan. Yang kontra, dikomentrari. Kesel sendiri. Lalu kadang screenshot komentar yang kontra, atau status orang lain yang kontra. Kadang dicoret pakai X, walau ga pernah dicoret pakai Grok. Jam kerjanya di medsos tinggi euy, padahal gelarnya MA lho (nggak kok, saya ga sedang nyinggung doktor atau profesor). Kan kalau gelar tinggi semisal MA, itu harusnya menyontohkan ke kita supaya ga gemar debat, ga bertingkah konyol di publik dengan tulisan ngeselin. Makanya, yang Lc atau MA harus upgrade jadi doktor d**g biar proporsional sikapnya, plus banyak yang bela, apalagi kalau sama sesama almamaternya.

Kalau di almamater saya, kami tidak pernah diajarkan fanatik golongan atau individu. Kita berdasarkan Tauhid dan Sunnah, ceu nah. Kalau ada senior tukang gaduh, (idealnya) kita ga dukung gaduhnya dan ikut kebenaran, bukan malah sebaris karena kementang-mentangan. Gitu sih idealnya. Prakteknya sih ya kembali ke hawa nafsu atau inshaf masing-masing. (Emoticon ketawa tanpa emot karena selalu jaga wibawa).

Oke, jadi?

Sikap membedakan treatment ini menunjukkan kedewasaan kognitif dan sosial. Menyamakan perlakuan kepada pembuat onar (Abu Gaduh) dan pencari kebenaran (Abu Shohihan) hanya karena kalimat akhirnya kebetulan sama, justru merupakan bentuk ketidakadilan.

Saya memang ga setuju jika ada penyerangan terhadap individu, seperti mengubah nama (walaupun itu balasan dari Allah juga karena dulu ngubah nama), atau mengejek hal yang tidak substantif (walaupun....dst), tapi ya beginilah liarnya media sosial. Semua ngoceh. Filteringnya iman dan taqwa.

Abu Gaduh saja boleh ngoceh, masak saya tidak?

Wallahu a'lam


Wakatunyo kito mangaji
❀━━━━━━❃❃❃━━━━━━❀

⭕ Informasi : https://linktr.ee/padangmangaji

Ke-fanatik-an seseorang akan terlihat dari tulisannya yang membela secara berjilid-jilid
25/03/2026

Ke-fanatik-an seseorang akan terlihat dari tulisannya yang membela secara berjilid-jilid

📎 JANGAN TA'ASHUB (FANATIK) !

Asy Syaikh Rabi' bin Hadi al Madkhali hafizhahullahu berkata,

إذا أخطأ شيخك وانتقده شيخ آخر والحق مع هذا الشيخ الآخر كن مع هذا الآخر وانصح شيخك ،انصحه .
لا تتعصب لا يجوز لك أن تتعصب له ، إن تعصبت له يشبه شيخ الإسلام هذا الصفة من الصفات بالتتار تعصبات جاهلية هذه ، الإسلام والمنهج السلفي برئ منها ونحن على هذا نربي ونبرأ إلى الله من تربية تخالف هذه التربية التي ارتضاها الله لنا وشرعها لنا ، لو أخطأ ابن باز وابن تيمية ونقده أحد بحق فلا تتعصب له ، انتقده بعلم وحجة يريد وجه الله عزّوجلّ ، لا تقول هذا يتكلم على ابن باز ولا على ابن تيمية إذا كان بحق وبأدب واحترام لأن الهدف ربط الناس بمنهج الله ولا نربطهم بأخطاء البشر كائنا من كان .
حتى لو أخطأ صحابي ما نقبل خطأه ، ما نقبل خطأه

"Jika syaikhmu (da'i) salah dan dikritik oleh syaikh (da'i) yang lain dan ternyata kebenaran ada bersama syaikh yang mengkritik tersebut maka berjalanlah bersama syaikh tersebut dan berilah nasehat kepada syaikhmu yang telah terjatuh kepada kesalahan. Jangan ta'ashub (fanatik)!

Tidak boleh bagimu untuk berta'ashub kepada syaikhmu (da'i) yang salah tersebut! Jika engkau berta'ashub kepadanya, maka Syaikhul Islam mensifati yang seperti ini termasuk sifatnya kaum Tatar. Ini adalah bentuk ta'ashub jahiliyyah. Islam dan manhaj salaf berlepas diri dari sifat yang demikian.

Di atas prinsip inilah (yaitu tidak berbuat ta'ashub) kami mentarbiyah dan kami berlepas diri kepada Allah dari bentuk tarbiyah yang menyelisihi tarbiyah yang Allah ridhai dan syariatkan kepada kita.

Jika sekiranya Bin Baz dan Ibnu Taimiyyah berbuat kesalahan lalu ada seseorang yang mengkritik dengan benar maka jangan berta'ashub kepada mereka berdua. Dikritik dengan ilmu dan hujjah karena mengharapkan wajah Allah azza wa jalla.

Jangan kemudian kita mengatakan, "Orang ini telah mencela Bin Baz dan Ibnu Taimiyyah."

Jika memang kritikan itu benar serta disampaikan dengan penuh adab dan rasa hormat maka diterima.

Karena tujuan utama dari semua ini adalah mengikat manusia dengan manhaj Allah.
Sehingga jangan sampai kita mengikat manusia dengan kesalahan manusia, siapapun orangnya.

Bahkan kalau seandainya yang salah tersebut adalah seorang shahabat nabi, kita pun tidak akan mengikuti kesalahannya."

Wallahu'alam


Wakatunyo kito mangaji
❀━━━━━━❃❃❃━━━━━━❀

⭕ Informasi : https://linktr.ee/padangmangaji

Salah satu syubhat nya saudara YF atas postingan pembelaannya terhadap MAB terkait menyelisihi berhari raya dengan pemer...
24/03/2026

Salah satu syubhat nya saudara YF atas postingan pembelaannya terhadap MAB terkait menyelisihi berhari raya dengan pemerintah.

Coba tanyakan kepada saudara YF, jika pemerintah membolehkan demo maka kita boleh melakukan unjuk rasa di depan umum?

📎 HUKUM MENGGABUNGKAN NIAT QADHA PUASA DENGAN PUASA ENAM HARI  SYAWALAsy Syaikh Al-Allamah Al-Muhaddits Muqbil Ibn Hadi ...
22/03/2026

📎 HUKUM MENGGABUNGKAN NIAT QADHA PUASA DENGAN PUASA ENAM HARI SYAWAL

Asy Syaikh Al-Allamah Al-Muhaddits Muqbil Ibn Hadi Al-Wadi'i rahimahullah ditanya,

Apakah boleh puasa enam hari pada bulan Syawal sebelum dia mengqadha' (mengganti) hari hari yang dia tidak berpuasa di bulan Ramadhan?

Jawaban beliau,

Kalau dia mampu untuk mengqadha' hari-hari yang dia tinggalkan dibulan Ramadhan kemudian setelah itu dia puasa enam hari pada bulan Syawal, maka ini bagus.

Namun jika dia tidak mampu untuk (menggabungkan di bulan Syawal) puasa ini (qadha') dan ini (puasa Syawal), maka boleh baginya untuk puasa enam hari pada bulan Syawal terlebih dahulu yang Nabi Shalallahu 'Alaihi wa Sallam menyatakan tentang (keutamaan)nya.

Artinya :

"Barangsiapa yang puasa Ramadhan kemudian diikuti enam hari dari bulan Syawal maka seakan-akan dia puasa setahun penuh".

Kenapa kita katakan ini? Karena untuk mengqadha', waktunya adalah luas, (boleh dibulan Syawal dan diluar bulan Syawal) berbeda dengan puasa enam hari Syawal.

Adapun puasa enam hari Syawal maka dikerjakan hanya dibulan Syawal. Adapun waktu qadha' maka telah datang riwayat dari Aisyah (istri Rasulullah) radhiyallahu 'anha beliau mengatakan :

"Dahulu aku tidak mengqadha' kecuali dibulan sya'ban".

Dikarenakan kesibukan beliau radhiyallahu 'anha dalam melayani Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam. (http://muqbel.net/fatwa.php?fatwa_id=2278)

Ditanyakan oleh Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah :

امرأة قضت أياماً من رمضان في شهر شوال، ونوت صيام قضاء أيام من رمضان مع صيام ست من شوال فهل صيامها صحيح على هذا النحو؟

Ada seorang wanita yang mengqadha beberapa hari hutang puasa Ramadhan di bulan Syawal. Dia berniat untuk membayar hutang puasa Ramadhan sekaligus berpuasa enam hari Syawal. Apakah puasanya sah dengan cara seperti ini?

Beliau menjawab :

يعني: كأنها نوت اليوم عن القضاء والتطوع، وهذا لا يصح، ويكون صومها قضاءً فقط؛ لأن صيام ست أيام من شوال إنما يكون بعد انقضاء أيام رمضان.

Yakni sepertinya dia berniat dalam seharinya mengqadha (hutang puasa) sekaligus puasa sunnah (syawal), ini tidak sah.

Maka puasanya menjadi puasa qadha saja. Karena puasa enam hari syawal itu hanya bisa dikerjakan setelah selesai (membayar hutang) puasa Ramadhan. (Silsilah Al-Liqa Asy-Syahri pertemuan 42)

Beliau (Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah) juga mengatakan,

"أما صيام الست فلا يصح أن تجعلها عن قضاء رمضان؛ لأن أيام الست تابعة لرمضان فهي بمنزلة الراتبة للصلاة المفروضة."

"Adapun puasa enam hari (pada bulan Syawal), maka tidak sah engkau menjadikannya sebagai qadha puasa Ramadhan. Karena enam hari bulan Syawal tersebut mengikuti Ramadhan. Kedudukannya seperti shalat Sunnah Rawatib untuk shalat wajib." (Fatawa Nur alad Darb 175)

Masalah ini telah ditanyakan kepada al-‘Allamah ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah dan beliau menjawab,

نعم، تبدأ بالقضاء، ثم تصوم الست إذا أرادت، الست نافلة، إذا قَضَتْ في شوال ما عليها ثم صامت الست في شوال هذا خير عظيم، وأما أن تصوم الست بنية القضاء والست، فلا يظهر لنا أنه يحصل لها الأجر في ذلك، الست تحتاج لها نية خاصة في أيام مخصوصة

“Hendaknya engkau memulai dengan qadha Ramadhan kemudian jika engkau menginginkan puasa Syawal sebanyak enam hari, maka berpuasalah. Jika seseorang telah mengqadha utang puasa Ramadhannya pada bulan Syawal kemudian dia berpuasa enam hari, ini adalah kebaikan yang besar.

Adapun dia menggabung niat puasa Syawal enam hari dengan qadha Ramadhan, hal ini tidak jelas bagi kami bahwa dia akan mendapat pahala atas yang demikian itu sebab puasa Syawal enam hari membutuhkan niat yang khusus pada hari yang khusus.” (Fatawa Nur ‘ala al-Darb, Jilid 16, hlm. 446).

Wallahu a'lam


Wakatunyo kito mangaji
❀━━━━━━❃❃❃━━━━━━❀

⭕ Informasi : https://linktr.ee/padangmangaji

📎 DAHULUKAN BAYAR HUTANG RAMADHAN SEBELUM BERPUASA 6 HARI SYAWALAsy-Syaikh Al-'Allamah Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz r...
22/03/2026

📎 DAHULUKAN BAYAR HUTANG RAMADHAN SEBELUM BERPUASA 6 HARI SYAWAL

Asy-Syaikh Al-'Allamah Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah ta'ala ditanya,

هل يجوز صيام ستة من شوال قبل صيام ما علينا من قضاء رمضان؟

Apakah boleh berpuasa enam hari di bulan Syawal sebelum menunaikan qadha (hutang puasa) Ramadhan yang menjadi tanggungan kita?

Beliau menjawab :

قد اختلف العلماء في ذلك، والصواب أن المشروع تقديم القضاء على صوم الست وغيرها من صيام النفل؛ لقول النبي ﷺ: «من صام رمضان ثم أتبعه ستًا من شوال كان كصيام الدهر» خرجه مسلم في صحيحه.

"Para ulama telah berbeda pendapat dalam masalah ini. Namun yang benar adalah bahwa yang dianjurkan (disyariatkan) adalah mendahulukan qadha daripada puasa enam hari (Syawal) dan puasa sunnah lainnya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam : "Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa setahun penuh." (Diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Shahihnya).

ومن قدم الست على القضاء لم يتبعها رمضان، وإنما أتبعها بعض رمضان، ولأن القضاء فرض، وصيام الست تطوع، والفرض أولى بالاهتمام والعناية. وبالله التوفيق

Dan barangsiapa yang mendahulukan puasa enam hari daripada qadha, maka dia belum (secara sempurna) mengikuti puasa Ramadhan, melainkan hanya mengikuti sebagian Ramadhan saja. Selain itu, karena qadha adalah kewajiban (fardhu) sedangkan puasa enam hari adalah sunnah (tathawwu'), dan perkara yang wajib lebih utama untuk diperhatikan dan diprioritaskan. Dan hanya kepada Allah kita memohon taufiq." (Min Dhimni As-As'ilah Al-Muwajjahah Lishamahatihi min (al-Majallah al-'Arabiyyah), (Majmu' Fatawa wa Maqalat al-Syaikh Ibn Baz 15/392) (Sumber : https://binbaz.org.sa/fatwas/12670/المشروع-تقديم-القضاء-على-صوم-الست)

Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah ta'ala berkata :

صيام ستة أيام من شوال لا يحسب ثوابها إلا إذا كان الإنسان استكمل شهر رمضان، فمن عليه قضاء من رمضان فإنه لا يصوم ستة أيام من شوال إلا بعد قضاء رمضان، لأن النبي صلى الله عليه وسلم يقول: «من صام رمضان، ثم أتبعه بستة من شوال»، فمن عليه قضاء من رمضان لم يكن قد صام رمضان، وعلى هذا فنقول لمن عليه القضاء: صم القضاء أولا، ثم صم ستة أيام من شوال.

"Puasa enam hari pada bulan Syawal tidak akan diperoleh pahalanya kecuali jika seorang telah menyempurnakan puasa pada bulan Ramadhan.

Maka barangsiapa yang masih memiliki hutang puasa Ramadhan, maka hendaknya dia tidak berpuasa enam hari pada bulan Syawal sebelum ia mengqadha puasa Ramadhannya.

Karena Nabi Shalallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda : "Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian mengiringinya dengan puasa enam hari pada bulan Syawal".

Seseorang yang masih memiliki hutang puasa Ramadhan maka dia teranggap belum menyempurnakan puasa Ramadhan.

Oleh karena itu kami mengatakan kepada orang yang masih memiliki hutang puasa Ramadhan: " Lengkapilah terlebih dahulu puasa Ramadhanmu, kemudian setelah itu engkau lanjutkan berpuasa enam hari pada bulan Syawal." (Fatawa nur 'ala ad darb - kaset nomor 146)

Pertanyaan masalah ini juga ditanya kepada Al-Lajnah ad-Daimah lil Buhutsil Ilmiyah wal Ifta.

Seseorang berpuasa enam hari dari bulan Syawal setelah Ramadhan, tetapi belum menyempurnakan puasa Ramadhannya selama seratus hari karena alasan syar’i. Apakah dia tetap mendapatkan pahala orang berpuasa Ramadhan secara sempurna dan mengikutinya dengan puasa enam hari pada bulan Syawal sehingga seperti orang yang berpuasa setahun penuh? Mohon berikan jawaban yang bermanfaat bagi kami. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan balasan kepada Anda.

Jawaban :

Penetapan pahala amalan yang dilakukan oleh hamba karena Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah hak Allah secara khusus. Apabila seorang hamba mencari pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bersungguh-sungguh dalam ketaatan, Dia tidak akan menyia-nyiakannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجۡرَ مَنۡ أَحۡسَنَ عَمَلًا

“Sesungguhnya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan baik.” (Surah al-Kahfi : 30)

Orang yang memiliki utang puasa Ramadhan semestinya mengqadanya dahulu, baru berpuasa enam hari pada bulan Syawal. Dengan demikian, dia mengamalkan (sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam),

… ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ …

“Mengikuti puasa Ramadhan dengan enam hari pada bulan Syawal.”

Berbeda halnya kalau dia sudah telanjur menyempurnakan puasa enam hari pada bulan Syawal (tanpa tahu hukumnya).

Allah Subhanahu wa Ta’ala-lah yang memberi taufik. Semoga shalawat dan salam-Nya tercurah kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, keluarganya, dan para sahabatnya.

Wallahu a'lam


Wakatunyo kito mangaji
❀━━━━━━❃❃❃━━━━━━❀

⭕ Informasi : https://linktr.ee/padangmangaji

Address

Padang

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Padang Mangaji posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Padang Mangaji:

Share