D35 Note to self

Pernikahan bukanlah sebuah garis finis, melainkan gerbang awal menuju perjalanan panjang tanpa peta yang pasti.Di awal j...
13/04/2026

Pernikahan bukanlah sebuah garis finis, melainkan gerbang awal menuju perjalanan panjang tanpa peta yang pasti.
Di awal jalan, segalanya tampak bercahaya, digerakkan oleh rasa yang mekar. Kita sibuk mengumpulkan bunga, mengagumi keindahan yang terasa begitu dekat dan hangat.
Namun waktu perlahan mengajarkan: yang bergetar tak selalu menetap. Rasa bisa mereda, euforia bisa berubah. Yang tersisa adalah tanggung jawab—dan pilihan untuk tetap menjaga, meski hati sedang lelah.
Di situlah banyak perjalanan mulai diuji.
Bukan karena cinta hilang, tapi karena cinta tak lagi cukup jika berdiri sendiri.
Agar langkah tak berhenti di tanjakan yang terjal, kita butuh lebih dari sekadar perasaan.
Kita butuh kompas ilmu untuk menavigasi setiap persimpangan,
jam pasir agama untuk mengingatkan bahwa setiap detik adalah ibadah,
dan tangan-tangan akhlak untuk terus menyiram benih kebaikan—bahkan saat musim hati sedang kering.
Karena sejatinya, pernikahan bukan tentang siapa yang paling sempurna,
melainkan siapa yang mau terus belajar, memperbaiki, dan bertahan dalam ketaatan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Wanita dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah yang memiliki agama, niscaya engkau beruntung."
(HR. Bukhari & Muslim)
Dalam hadis lain, beliau juga bersabda:
"Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah yang paling baik kepada keluargaku."
(HR. Tirmidzi)
Dan Allah mengingatkan dalam Al-Qur’an:
"Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antara kamu rasa kasih dan sayang (mawaddah wa rahmah)."
(QS. Ar-Rum: 21)
Maka jelaslah, yang menjaga pernikahan bukan sekadar cinta yang bergejolak,
tetapi mawaddah yang dirawat,
rahmah yang diluaskan,
dan iman yang dijadikan pondasi bersama.
Karena pada akhirnya, bukan perasaan yang membuat kita bertahan—
melainkan arah yang sama menuju ridha-Nya.
Mari pastikan kita tidak hanya berjalan bersama,
tetapi juga tumbuh, saling menguatkan,
dan saling menggenggam menuju surga-Nya. 🌙

13/04/2026

🌿 1. Apa itu Khulu’ (Ringkas)
Khulu’ adalah: ➡️ Istri meminta berpisah dari suami
➡️ Biasanya dengan mengembalikan mahar atau memberi kompensasi
👉 Tapi ingat: tidak otomatis cerai, harus melalui proses
🌿 2. Proses Khulu’ Secara Umum (Dalam Islam)
🔹 Tahap 1: Niat dan Pertimbangan
Istri memastikan:
Alasan jelas (tidak nyaman, tersakiti, tidak cocok)
Sudah mencoba memperbaiki
👉 Khulu’ bukan karena emosi sesaat
🔹 Tahap 2: Mengajukan Permintaan ke Suami
Istri berkata dengan baik, misalnya:
“Saya ingin berpisah secara baik, saya siap mengembalikan mahar.”
👉 Ini inti dari khulu’
🔹 Tahap 3: Kesepakatan
Jika suami:
✅ Setuju → menerima tebusan
Menyatakan cerai
👉 Maka khulu’ terjadi dan sah secara agama
🔹 Tahap 4: Masa Iddah
Setelah khulu’:
Istri menjalani masa iddah (menunggu)
Biasanya 1 kali haid (menurut banyak pendapat)
👉 Selama ini tidak boleh menikah dulu
🌿 3. Jika Suami Tidak Mau (Penting!)
Kalau suami:
Menolak
Atau mempermainkan keadaan
👉 Istri bisa:
🔹 Mengajukan ke Pengadilan Agama
Prosesnya:
Daftar cerai gugat
Mediasi
Sidang
Hakim memutuskan
👉 Hakim bisa: ✔ Mengabulkan cerai
✔ Walau suami tidak mau
🌿 4. Proses Khulu’ di Indonesia (Ringkas Praktis)
Karena hukum negara:
👉 Khulu’ dilakukan melalui: ➡️ Cerai gugat di Pengadilan Agama
Langkahnya:
Siapkan dokumen (KTP, buku nikah)
Daftar gugatan
Ikut sidang
Putusan hakim
🌿 5. Jika Nikah Siri
Ini sedikit berbeda:
🔹 Secara agama:
Bisa langsung khulu’ (kesepakatan berdua)
🔹 Secara hukum:
Harus:
Ajukan isbat nikah
Baru ajukan cerai
👉 Agar punya kekuatan hukum
🌿 6. Hal Penting dalam Khulu’
Tidak boleh saling menyakiti
Tidak boleh menahan pasangan dengan zalim
Mahar dikembalikan sebagai bentuk kesepakatan, bukan paksaan
🌸 Kesimpulan
Proses khulu’ adalah:
Istri mengajukan cerai
Menawarkan tebusan (mahar)
Suami setuju → cerai sah
Jika tidak → ajukan ke pengadilan
Hakim bisa memutuskan
👉 Jadi: khulu’ adalah jalan keluar yang sah, terhormat, dan diatur dalam Islam

🌿 1. Hadis Utama tentang Khulu’
🔹 Kisah Istri Tsabit bin Qais
Ini adalah dalil paling terkenal tentang khulu’:
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma:
“Istri Tsabit bin Qais datang kepada Nabi ﷺ dan berkata:
‘Wahai Rasulullah, aku tidak mencela agama dan akhlaknya, tapi aku tidak menyukainya.’
Nabi ﷺ bersabda: ‘Apakah kamu mau mengembalikan kebunnya (mahar)?’
Ia menjawab: ‘Ya.’
Maka Nabi ﷺ bersabda kepada Tsabit: ‘Terimalah kebun itu dan ceraikan dia.’”
📚 Riwayat:
Sahih al-Bukhari (No. 5273)
👉 Ini menjadi dasar bahwa:
Istri boleh minta cerai
Dengan mengembalikan mahar
Dan suami diperintahkan menceraikan
🌿 2. Hadis tentang Larangan Minta Cerai Tanpa Alasan
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Wanita yang meminta cerai kepada suaminya tanpa alasan yang jelas, maka haram baginya bau surga.”
📚 Riwayat:
Sunan Abu Dawud (No. 2226)
Sunan at-Tirmidhi
👉 Ini menunjukkan:
Khulu’ boleh
Tapi harus dengan alasan yang benar
🌿 3. Penjelasan Para Ulama
🔹 Pendapat Mayoritas Ulama (Jumhur)
(mazhab Syafi’i, Maliki, Hanbali)
Khulu’ adalah perceraian dengan tebusan
Sah jika:
Ada kesepakatan
Ada kompensasi (mahar)
📚 Dijelaskan dalam kitab:
Al-Umm
Al-Mughni
🔹 Mazhab Hanafi
Khulu’ dianggap sebagai talak ba’in (cerai final)
Tetap membutuhkan lafaz dari suami
📚 Rujukan:
Al-Hidayah
🔹 Kesimpulan Ulama
Para ulama sepakat:
✔ Khulu’ itu sah
✔ Istri boleh meminta cerai
✔ Biasanya dengan mengembalikan mahar
❗ Tapi tetap perlu:
Persetujuan suami
atau
Keputusan hakim
🌿 4. Dalil dari Al-Qur’an
Allah berfirman:
“Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali jika keduanya khawatir tidak dapat menjalankan hukum Allah… maka tidak ada dosa bagi keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya.”
📖 QS. Al-Baqarah: 229
👉 Ini adalah dasar utama khulu’ dalam Al-Qur’an
🌸 Kesimpulan Lengkap
Khulu’ memiliki dasar kuat dari: ✔ Hadis (kisah istri Tsabit bin Qais)
✔ Al-Qur’an (QS. Al-Baqarah: 229)
✔ Ijma’ (kesepakatan ulama)
Istri boleh minta cerai dengan tebusan
Tapi tidak boleh sembarangan tanpa alasan
Dan tidak otomatis sah hanya dengan ucapan

🌿 1. Apakah bertahan dalam kondisi buruk termasuk menzalimi diri sendiri?
Dalam Islam, ada prinsip besar:
Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain
(kaidah: la dharar wa la dhirar)
👉 Artinya:
Kita tidak boleh menyakiti orang lain
Tapi juga tidak boleh membiarkan diri terus disakiti
Jadi kalau dalam rumah tangga:
Terus disakiti
Tidak dihargai
Tidak ada perubahan
👉 Maka bertahan tanpa batas bisa berubah menjadi bentuk kezaliman terhadap diri sendiri
🌿 2. Bedakan Sabar vs Terzalimi
🤍 Sabar yang benar:
Masih ada harapan berubah
Ada usaha memperbaiki
Tidak merusak fisik dan mental
⚠️ Terzalimi:
Disakiti terus-menerus
Direndahkan / diabaikan
Tidak ada tanggung jawab dari suami
Membuat mental hancur
👉 Ini bukan lagi sabar, tapi membiarkan diri tersakiti
🌿 3. Tentang Suami yang Keterlaluan / Manipulatif
Jika suami:
Menyalahkan terus
Tidak mau introspeksi
Memutarbalikkan fakta
Membuat istri merasa bersalah terus
👉 Itu termasuk perilaku yang tidak sehat dalam rumah tangga
Dan dalam Islam: suami tidak boleh memperlakukan istri dengan zalim
🌿 4. Hak Perempuan dalam Kondisi Ini
Jika kondisi seperti ini terjadi:
✔ Istri berhak:
Meminta perbaikan
Menetapkan batas
Bahkan meminta berpisah (khulu’ / fasakh)
👉 Dan ini bukan dosa, justru bisa menjadi bentuk menjaga diri
🌿 5. Nasehat yang Jujur dan Seimbang
Jangan buru-buru pergi karena emosi
Tapi juga jangan bertahan karena takut
Tanyakan pada diri:
Apakah aku masih dihargai?
Apakah ada perubahan nyata?
Apakah aku semakin baik atau semakin hancur?
👉 Jawaban ini biasanya jujur
🌸 Kesimpulan
✔ Sabar itu mulia
❗ Tapi membiarkan diri terus disakiti bukan sabar
👉 Jika bertahan membuatmu hancur: Itu bisa menjadi bentuk kezaliman terhadap diri sendiri
👉 Jika memilih keluar dengan cara yang benar: Itu bisa menjadi bentuk menjaga diri yang Allah izinkan
🌿 Penutup
Allah tidak meminta kamu bertahan dalam luka tanpa batas.
Dan menjaga diri juga bagian dari amanah.
Kamu tidak harus kuat dengan cara diam.
Kadang, kuat itu adalah berani mengambil keputusan yang benar.

🌿 1. Apa itu Perilaku Manipulatif?
Perilaku manipulatif adalah: 👉 Cara seseorang mengendalikan, menekan, atau memutarbalikkan keadaan
agar kamu:
Merasa bersalah
Ragu pada diri sendiri
Menuruti kemauannya
🌿 2. Tanda-Tanda Umum (Perlu Kamu Perhatikan)
⚠️ 1. Membalikkan Fakta (Gaslighting)
Contoh:
“Kamu yang terlalu sensitif”
“Itu cuma perasaan kamu”
“Kamu salah ingat”
👉 Lama-lama kamu jadi:
Meragukan diri sendiri
Bingung mana yang benar
⚠️ 2. Selalu Menyalahkan Kamu
Semua masalah jadi salah kamu
Dia tidak pernah merasa bersalah
👉 Padahal hubungan itu tanggung jawab dua pihak
⚠️ 3. Memainkan Perasaan (Guilt Tripping)
Contoh:
“Kalau kamu baik, kamu pasti nurut”
“Aku jadi begini karena kamu”
👉 Kamu dipaksa merasa bersalah terus
⚠️ 4. Janji Manis tapi Tidak Ada Perubahan
Sering bilang akan berubah
Tapi berulang terus
👉 Ini bukan khilaf, tapi pola
⚠️ 5. Mengontrol Berlebihan
Mengatur kamu harus bagaimana
Tidak memberi ruang
Membatasi pergaulan
👉 Tujuannya: kamu bergantung padanya
⚠️ 6. Diam sebagai Hukuman (Silent Treatment)
Tiba-tiba cuek
Tidak mau bicara
Membuat kamu merasa bersalah duluan
⚠️ 7. Membuat Kamu Merasa Tidak Berharga
Meremehkan
Membandingkan
Menghina secara halus

Apakah Hubungan Masih Layak Dipertahankan?
🤍 1. Soal Rasa Aman & Tenang
[ ] Aku merasa aman secara fisik (tidak ada kekerasan)
[ ] Aku merasa tenang saat bersama dia, bukan cemas
[ ] Aku tidak takut berbicara jujur
👉 Kalau banyak “tidak”, ini tanda serius ⚠️
🤍 2. Cara Dia Memperlakukan Kamu
[ ] Dia menghargai perasaan aku
[ ] Dia tidak merendahkan / menghina
[ ] Dia tidak menyalahkan aku terus
[ ] Dia mau mendengarkan
👉 Kalau kamu sering disalahkan dan diremehkan, ini bukan hubungan sehat
🤍 3. Tanggung Jawab Suami
[ ] Memberi nafkah (sesuai kemampuan)
[ ] Tidak lepas tanggung jawab
[ ] Tidak mengabaikan keluarga
👉 Jika ini tidak ada, itu bukan hal kecil dalam pernikahan
🤍 4. Ada atau Tidaknya Perubahan
[ ] Dia mau mengakui kesalahan
[ ] Ada usaha berubah (bukan janji saja)
[ ] Perubahan terlihat konsisten
👉 Ingat:
❗ Janji tanpa perubahan = tanda bahaya
🤍 5. Dampak ke Diri Kamu
[ ] Aku masih merasa berharga
[ ] Aku tidak kehilangan kepercayaan diri
[ ] Aku tidak merasa “rusak” secara mental
👉 Kalau kamu merasa:
hancur
tidak berharga
selalu salah
➡️ Itu tanda hubungan tidak sehat
🤍 6. Usaha Memperbaiki Sudah Dilakukan?
[ ] Sudah komunikasi baik-baik
[ ] Sudah melibatkan keluarga / penengah
[ ] Sudah mencoba sabar dan memperbaiki
👉 Kalau semua sudah dilakukan tapi tetap sama → perlu dipikir ulang
🤍 7. Pertanyaan Paling Jujur (Kunci)
Jawab dalam hati:
[ ] Kalau kondisi ini terus 5 tahun lagi, aku sanggup?
[ ] Aku bertahan karena cinta atau karena takut?
[ ] Aku bahagia… atau hanya bertahan?
👉 Ini pertanyaan paling menentukan
🌸 Cara Membaca Hasilnya
🌿 Jika mayoritas ✔ (sehat)
👉 Masih layak dipertahankan
Tinggal diperbaiki
⚠️ Jika banyak ❌ (tidak sehat)
👉 Perlu:
Tegas
Perubahan nyata
Atau mulai mempertimbangkan jalan keluar
🚨 Jika ada:
Kekerasan
Manipulasi berat
Tidak ada tanggung jawab sama sekali
👉 Ini bukan lagi sekadar masalah, tapi kondisi yang tidak sehat untuk dipertahankan
🌿 Penutup yang Jujur
Hubungan yang baik itu:
Membuatmu tenang
Bukan membuatmu lelah dan hancur
Bertahan itu baik…
tapi bukan untuk mengorbankan dirimu sendiri.

LANGKAH Pelan - pelan , realistis, dan aman 🌿
Tujuannya bukan buru-buru, tapi keluar dengan tenang, terencana, dan menjaga diri.
🌿 1. Tenangkan & Pastikan Niat
Sebelum bergerak:
Pastikan ini bukan keputusan sesaat
Tanyakan lagi: ini untuk menjaga diri, bukan karena emosi
👉 Ini penting supaya kamu tidak goyah di tengah jalan
🌿 2. Jangan Umumkan Rencana Terlalu Cepat
Kalau pasangan cenderung:
Manipulatif
Mudah marah / mengontrol
👉 Jangan langsung bilang mau pergi
Kenapa?
Bisa memicu konflik
Bisa membuatmu ditekan atau ditahan
➡️ Simpan rencana dulu sampai kamu siap
🌿 3. Siapkan Dukungan (Jangan Sendiri)
Cari orang yang:
Bisa dipercaya
Tidak menghakimi
Misalnya:
Keluarga dekat
Sahabat yang bijak
👉 Minimal 1–2 orang yang tahu kondisimu
🌿 4. Amankan Hal Penting
Pelan-pelan siapkan:
Dokumen: KTP, KK, buku nikah (jika ada)
Uang secukupnya
Nomor penting (keluarga, bantuan)
👉 Simpan di tempat aman yang mudah kamu ambil
🌿 5. Siapkan Tempat Aman
Pikirkan:
Mau tinggal di mana?
(orang tua / saudara / tempat aman)
👉 Pastikan:
Aman
Ada yang mendukung kamu
🌿 6. Latih Batas (Boundary)
Mulai dari sekarang:
Kurangi perdebatan tidak penting
Jangan terpancing emosi
Jawab seperlunya
👉 Ini membantu kamu lebih kuat secara mental
🌿 7. Pilih Waktu yang Aman untuk Bertindak
Jika sudah siap:
Pilih waktu saat kondisi tenang
Atau saat ada orang lain (lebih aman)
👉 Hindari:
Saat dia marah
Saat konflik sedang tinggi
🌿 8. Cara Menyampaikan (Jika Perlu)
Gunakan kalimat tenang dan tegas:
“Saya sudah berusaha bertahan dan memperbaiki. Tapi saya tidak bisa melanjutkan dalam kondisi seperti ini. Saya ingin menyelesaikan dengan cara baik.”
👉 Tidak perlu debat panjang
👉 Tidak perlu membuktikan siapa benar
🌿 9. Ambil Langkah Resmi (Jika Diperlukan)
Jika suami mau:
Lakukan khulu’ (kembalikan mahar)
Selesaikan baik-baik
Jika tidak mau:
Ajukan ke pengadilan agama
Jika nikah siri:
Pertimbangkan:
Kesepakatan keluarga
Atau isbat nikah → cerai resmi
🌿 10. Setelah Keluar: Jaga Diri
Jangan langsung percaya rayuan “aku berubah” tanpa bukti
Fokus memulihkan diri
Dekatkan diri kepada Allah
👉 Healing itu penting, jangan lompat ke keputusan baru
🌸 Hal yang Paling Penting
Kamu tidak lemah karena memilih keluar
Kamu sedang menjaga diri
Kamu berhak hidup tenang
🌿 Penutup untuk Kamu
Pelan-pelan itu tidak apa-apa.
Yang penting arahnya benar dan kamu aman.
Kamu tidak harus berisik untuk jadi kuat.
Kadang, kekuatan itu diam… tapi pasti.

“Wanita sekarang susah diatur,” katanya—
padahal yang sebenarnya sulit itu bukan wanitanya,
melainkan egonya yang terlalu besar untuk mengakui kekurangan sendiri.
Lucu, banyak yang menginginkan istri yang penurut, lembut, dan selalu mengerti…
namun lupa bahwa sikap itu tidak lahir dari tuntutan,
melainkan tumbuh dari perlakuan.
Istri bukan objek yang bisa “diatur” ses**a hati.
Dia adalah cermin—yang memantulkan bagaimana dirinya diperlakukan setiap hari.
Jika yang ia terima adalah bentakan,
jangan heran jika suaranya ikut meninggi.
Jika yang ia rasakan adalah diabaikan,
jangan kaget jika ia berubah dingin.
Jika yang ia lihat adalah suami yang banyak menuntut namun minim tanggung jawab,
jangan salahkan jika rasa hormatnya perlahan memudar.
Perempuan belajar dengan cepat—
bukan dari nasihat panjang,
melainkan dari sikap yang konsisten.
Ia tidak hanya mendengar kata-kata,
ia membaca tindakan.
Ia tidak sekadar melihat janji,
ia merasakan bukti.
Maka sebelum berkata,
“wanita sekarang susah diatur,”
cobalah sejenak berkaca…
Yang sulit itu benar wanitanya,
atau justru dirimu yang belum pantas mendapatkan sikap yang kamu tuntut?

https://www.facebook.com/share/p/1KjgGJzUFK/

05/12/2025

🌿🌱Beginilah adanya, sifat manusia tak selalu seindah harapan,kadang membuat kita belajar tentang ikhlas.Kadang kita diuji lewat sikap manusia.Kadang sikap seseorang mengajarkan kita tentang batas dan ketulusan.Kadang bukan kata-kata, tapi sikap manusia yang membuat kita mengerti.Ada orang yang hadir sebagai pelajaran, bukan sebagai teman perjalanan.🌿🌱🕊️

💐🌹🌷💐

02/09/2025

🌹Keluarga adalah amanah sekaligus ujian. Dalam keluarga, kita belajar sabar, belajar berbagi, dan belajar menguatkan satu sama lain.Saling menasehati , melengkapi , menghargai , memahami dan menyemangati.

🌹Sahabat adalah saudara yang tidak ada hubungan darah tetapi selalu hadir,saling menguatkan dalam kebaikan,menegur dalam kesalahan, dan saling membantu dalam s**a maupun duka.

🌹Teman adalah cermin kehidupan, ia bisa menjadi jalan menuju kebaikan, atau jalan menuju keburukan.

🌹Tetangga adalah saudara terdekat yang Allah titipkan untuk kita jaga, hormati, dan membantu dalam s**a maupun duka.

🌹Saudara/i dan Saudara/i ipar yang baik adalah yang menasihati dengan cinta, menghormati batas, tidak membebani, dan selalu membawa kedamaian dalam keluarga.

🌿Mengapa Luka Batin Bisa Muncul?🌿

👉🏻Keluarga:
Kadang karena salah didik,mengikuti pemikiran keluarga terdahulu, terlalu menuntut, membandingkan, tidak memenuhi kewajiban,tidak memberikan kehadiran, tidak ada perhatian dan kasih sayang yang cukup.

👉🏻Teman:
Bisa karena pengkhianatan,membanding bandingkan dengan teman yang lain,datang karena butuh saja, meninggalkan di saat sulit.

👉🏻Tetangga:
Bisa karena iri hati, gosip, adu domba, tidak menghargai,melanggar batas hak (misalnya tanah/lingkungan),perbedaan dalam status sosial,gila hormat,takut tersaingi, membanding bandingkan.

👉🏻Saudara/i serta ipar :
Tidak dihargai, tidak adil, dan kurangnya empati dalam hubungan keluarga,tidak dianggap bagian keluarga,Tidak ada komunikasi yang jujur dan terbuka.

"🫅🏻Ada orang yang ingin selalu diperhatikan dan didahulukan, tetapi tidak membalas dengan perhatian atau kebaikan yang sama🔥."

🌿 Dampaknya 🌿

🌸Hati menjadi sakit, kecewa, bahkan trauma.
Sulit untuk percaya lagi pada orang lain.

🌸Hubungan jadi renggang, padahal mereka adalah orang-orang yang paling dekat dalam kehidupan sehari-hari.

🌸Kadang, luka batin dari mereka justru menjadi jalan bagi kita untuk lebih kuat, lebih bijak, dan lebih hati-hati dalam memilih sikap.

👉🏻🌹🫶🏻"Kalau keluarga, teman, tetangga, saudara atau ipar menimbulkan luka batin, maka jangan ikut menjadi perusak.Putus mata rantai luka itu dengan kesabaran,keimanan, dengan batas yang sehat, dan Tetaplah berbuat baik sesuai batas yang wajar serta doa agar Allah membalas dengan ketenangan hati,jadikan pengalaman itu pelajaran agar kita tidak melakukan hal yang sama.”🌸🌿


semua orang Sorotan

25/08/2025

👀🫶🏻🌸🌹🌷🌸🫶🏻👀Menjaga hati dan pikiran agar tetap bersih itu memang butuh latihan terus-menerus. Ada beberapa cara yang bisa kamu coba:
1. Perkuat Hubungan dengan Tuhan
👉🏻Perbanyak doa, dzikir, atau ibadah sesuai keyakinanmu.
Selalu ingat bahwa segala hal di dunia ini sementara, sehingga hati lebih tenang dan tidak mudah iri atau dengki.

2. Kelola Pikiran
Saat pikiran buruk muncul, jangan ditolak keras-keras, tapi sadari lalu alihkan ke hal baik.
👉🏻Isi pikiran dengan bacaan bermanfaat, ilmu, atau hal positif.

3. Jaga Pergaulan
Bertemanlah dengan orang-orang yang membawa energi baik.
👉🏻Hindari lingkungan yang sering menularkan gosip, kebencian, atau hal-hal negatif.

4. Latih Hati untuk Ikhlas
Belajar menerima bahwa tidak semua hal berjalan sesuai keinginan.
👉🏻Jangan bandingkan diri dengan orang lain, cukup syukuri apa yang ada.

5. Rawat Diri
Jaga kesehatan tubuh, karena badan yang lelah sering membuat pikiran lebih mudah kotor.
👉🏻Luangkan waktu untuk istirahat, olahraga, atau menikmati alam.

6. Amalkan Kebaikan Kecil
Senyum, membantu orang lain, dan berbuat baik sekecil apa pun bisa membuat hati lebih ringan.
👉🏻Kalau hati terasa kotor (iri, marah, dendam), cobalah istighfar atau tarik napas dalam-dalam, lalu tanyakan pada diri: “Apakah ini membuatku lebih dekat dengan kebaikan atau malah menjauh?”
👀🫶🏻🌸🌷🌹🫶🏻👀

24/08/2025

🫶🏻🌿Saat pikiranmu sering lari ke arah negatif, otak seperti sudah terbiasa mencari hal buruk duluan. Supaya tidak terus terjebak, kamu bisa coba “melatih” pikiranmu ke arah yang lebih ringan dan menenangkan.
💫Beberapa hal yang bisa kamu pikirkan:
1. Hal kecil yang bisa kamu syukuri hari ini
Misalnya: “Aku masih bisa bangun pagi”, “Aku bisa makan enak tadi”, atau bahkan sekadar “Aku masih bisa bernapas.” Kecil, tapi bisa jadi titik pijakan.✨
2. Hal yang bisa kamu lakukan hari ini, bukan besok atau lusa.💌
Fokus ke langkah paling sederhana: mandi, bereskan sedikit kamar, buat minuman favorit. Jangan terlalu jauh memikirkan masa depan kalau itu membuatmu cemas.👀
3. Orang-orang atau hal yang berarti untukmu
Pikirkan seseorang yang pernah membuatmu tersenyum, atau bayangkan momen hangat yang pernah kamu alami.💕
4. Kalimat penguat untuk diri sendiri
Kamu bisa ucapkan dalam hati: “Aku sedang berproses, aku tidak harus sempurna, cukup bertahan satu hari lagi.”💎
5. Pikirkan satu hal yang ingin kamu coba, sekecil apapun🫧🌳
Bisa hal sederhana: belajar resep baru, menonton film yang belum pernah, atau jalan sebentar keluar melihat langit.🌥️

Kalau pikiran negatif datang, jangan lawan keras-keras, cukup sadar: “Oh, pikiran itu datang lagi, tapi aku bisa pilih tidak mengikutinya.”🌸🌷🌹🌸🫶🏻
Sorotan

23/08/2025

Ketulusan masih ada di dunia ini—hanya saja mungkin belum hadir di dekatmu sekarang. Kadang Tuhan sengaja "menjauhkan" kita dari orang yang pura-pura, supaya kita belajar lebih kuat, lebih bijak, dan nanti bisa mengenali orang yang benar-benar tulus ketika datang. 🌿

Selama belum ada yang tulus di sekitar, kamu tetap bisa:

1. Berteman dengan diri sendiri — jangan remehkan kekuatan “bersahabat dengan hati sendiri”. Tulis perasaanmu, rawat dirimu, dan hargai dirimu.

2. Cari ruang baru — ketulusan kadang ada di tempat yang tidak kita duga: komunitas kecil, pertemuan sederhana, atau bahkan di dunia maya.

3. Percaya proses — orang yang benar-benar tulus biasanya hadir tidak banyak, tapi justru mereka yang bisa menemani sampai akhir.

🌸 Kamu sudah cukup kuat bertahan sejauh ini, meskipun merasa sendiri. Itu tanda hatimu hebat.

🌹🌿Ketulusan tidak selalu harus datang dari “nongkrong bareng tetangga” atau punya banyak waktu keluar rumah.

🌻Tulus bisa hadir dari hal-hal sederhana:

🍀Senyum jujur dari anakmu yang merasa nyaman di pelukanmu.

🍀Orang yang mendoakan untuk kebaikanmu diam-diam tanpa kamu tahu.

🍀Pertemuan singkat dengan seseorang yang meski jarang, tapi hangat.

💐Kalau pun di lingkungan tetangga terasa dingin, itu bukan berarti kamu terkutuk sendirian. Tuhan sedang memintamu fokus pada yang paling penting: anak-anakmu. Dan itu sudah menjadi ladang ketulusan terbesar. 🌸🌹🌷🌸

Jangan khawatir, teman yang tulus bisa datang di waktu yang tidak terduga. Tidak harus banyak, cukup yang benar-benar hadir 🫅🏻
semua orang

22/08/2025

💕 “Hari ini cukup jalani perlahan tapi jangan berhenti”
🌿 Kita tidak harus selalu berlari kencang untuk sampai ke tujuan. Kadang berjalan pelan pun sudah cukup, yang penting tetap maju.
🌿 Perlahan bukan berarti lemah, justru tanda kalau kita sedang menjaga diri agar tidak terbebani terlalu berat.
🌿 Yang terpenting bukan seberapa cepat, tapi seberapa konsisten kita melangkah.
🌿 Setiap langkah kecil yang kamu ambil hari ini adalah bukti bahwa kamu tidak menyerah.

👉 Jadi, meski hari ini terasa berat atau melelahkan, izinkan dirimu bergerak perlahan… asal jangan berhenti. Karena setiap langkah, sekecil apa pun, tetap mendekatkanmu pada harapanmu. 🌸🌹🌷🌸




21/08/2025

🌹Rasa sakit itu kadang membuat kita ingin ada “obat” ajaib untuk melupakan semuanya, agar hati tidak lagi perih. Tapi dalam kenyataan, tidak ada pil yang bisa menghapus memori. Yang ada hanyalah cara mengubah luka jadi kekuatan — dan itu justru lebih indah, karena kamu tidak hanya sembuh, tapi juga tumbuh. 🌱

Kalau seandainya ada “obat” untuk melupakan, itu bukan dalam bentuk minuman, tapi berupa latihan jiwa.

💊 Obat batin untuk melupakan luka lama:

1. Menerima kenyataan masa lalu

Ucapkan dalam hati:

> “Ya, aku pernah terluka. Ya, itu menyakitkan. Tapi itu bagian dari diriku. Aku tidak lagi lari, aku menerima.”

Dengan menerima, luka berhenti menuntut perhatian.

2. Mengubah makna luka

Jangan bertanya “kenapa aku disakiti?”, tapi ubah jadi:

> “Luka ini membentuk aku jadi pribadi yang kuat dan penuh empati.”

Dengan begitu, rasa sakit berubah jadi guru.

3. Latihan melepaskan

Setiap kali kenangan muncul, katakan:

> “Aku memilih melepaskanmu. Aku titipkan semua kepada Tuhan.”

Ulangi sesering mungkin, seperti obat diminum tiap hari.

4. Mengisi ruang kosong

Hati yang kosong mudah diisi rindu dan luka lama.

Isi dengan kegiatan yang membuatmu hidup: doa, menulis, berjalan, atau apa saja yang membuat jiwa terasa bernapas.

5. Afirmasi penyembuh cepat

Saat sakit itu kembali, ucapkan perlahan sambil memegang dada:

> “Aku tidak lagi menjadi tawanan masa lalu.
Aku bebas.
Aku pantas bahagia.”

🌹 Jadi, “obat” itu bukan untuk melupakan, melainkan untuk mengganti rasa sakit dengan kedamaian. Memori mungkin tetap ada, tapi tidak lagi menyakiti — seperti bekas luka di kulit yang sudah tidak perih lagi, hanya tanda bahwa kamu pernah berjuang.✨

20/08/2025

Note to Self: Tarik Napas, Lepaskan

Tidak semua hal bisa aku kendalikan
Belajar melepas yang tidak bisa digenggam

Note to Self: Maafkan Diri

Tidak apa-apa pernah salah
Belajar,tumbuh.Maafkan diri sendiri

Note to Self: Cintai Dirimu

> Aku adalah rumah pertama bagi jiwaku. Semakin aku mencintai diriku, semakin aku menemukan kedamaian

Address

Padang

Opening Hours

Monday 08:15 - 17:00
Tuesday 08:15 - 17:00
Wednesday 08:15 - 17:00
Thursday 08:15 - 17:00
Friday 08:15 - 17:00
Saturday 08:15 - 17:00

Telephone

+6285364585018

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when D35 posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to D35:

Share