Kata kata Cinta & sindiran

Kata kata Cinta & sindiran Penulis Online. this is love

Pada malam ini, Ezio baru saja keluar dari pelatihan tertutupnya setelah menyelesaikan misi khusus untuk menyelamatkan A...
15/04/2026

Pada malam ini, Ezio baru saja keluar dari pelatihan tertutupnya setelah menyelesaikan misi khusus untuk menyelamatkan Artefak Suci Kerajaan. Dia memutuskan untuk langsung menyerap inti monster batu roh tingkat rendah puncak, dan tidak menghadiri acara penghargaan Kerajaan, lebih memilih untuk melanjutkan pelatihan tertutupnya.

Bagi Ezio, acara seperti itu tidaklah penting “energi yang luar biasa”guman nya pelan ia meremas kedua tangan nya seraya menutup matanya merasakan aliran energi yang baru ia serap, setelah puas meresapi serta merasakanya ia membuka matanya

“satu bulan sudah aku tidak bertemu Sari,aku merindukan nya aku harus pulang cepat”lirih nya pelan seraya melayang di atas ketinggian langit ia menuju kekediaman nya.

Pada saat sebelum nya Ezio memustuskan melakukan pelatihan tertutup di goa puncak bukit di belakang kediaman nya hanya berjarak sepuluh kilometer saja.

Terbang beberapa menit ia mendarat lalu memutuskan untuk masuk kediamannya namun aneh nya tidak ada penjaga serta bibi yang membantu keluarga mereka

“kemana mereka?Kenapa sepi sekali “lirih nya pelan serta mengedarkan pandangan nya ke kiri dan kanan.

Akan tetapi dia merasakan energi yang familiar di arah kamar nya tentu dia merasakan perasaan yang tidak enak

“bukankah itu suara Jendral?” guman nya lirih lalu melangkahkan kaki,

Tepat di balik pintu kamarnya yang terkunci hanya berjarak dua meter saja, Ezio melebarkan presepsi nya dan ia mendengar percakapan yang membuat hatinya hancur. Suara istri tercintanya, Sari Wulan, terdengar jelas, bercampur dengan suara Jenderal Garidha Mahesa, pria yang selama ini ia anggap sebagai sahabat dan juga atasanya.

“Kau yakin ini akan berhasil, Garidha?” tanya Sari, suaranya manja mendayu-dayu. “Aku tidak ingin ada kesalahan. Jika Ezio lolos, kita semua akan dalam bahaya sayang.”

Garidha tertawa dingin. “Tenang, sayang. Ezio sudah terjebak dalam skenario kita. Semua bukti sudah diatur. Tidak ada yang akan percaya padanya lagi. Dan dengan kekuatan pasukan kerajaan di tangan kita, dia tidak akan bisa melarikan diri. Setelah ia keluar dari pelatihan tertutup nya dia akan di tangkap”

Sari mendekatkan diri ke Garidha, tangannya meraih lengan sang Jenderal. “Aku hanya ingin ini selesai. Aku lelah berpura-pura mencintainya. Dia hanya batu sandungan bagi kita, sayang.”

Garidha menatap Sari dengan tatapan penuh nafsu. Ia memegang p**i Sari. “Setelah ini, kita akan menguasai Sebagian prajurit Sriwalaya bersama. Ezio hanya akan menjadi kenangan buruk yang terlupakan.” Perlahan-lahan, tangannya sudah menjalar ke area sensitif Sari.

Sari memejamkan matanya, menikmati sentuhan demi sentuhan dari Garidha dan ia sangat menyukainya.

Ezio, yang mendengar semua percakapan itu dari balik pintu, merasa dadanya sesak. Hatinya hancur.

‘Apa yang terjadi? Apa mereka melakukan pengkhianatan kepada kerajaan?Rencana apa yang ia lakukan kepadaku? Dan sejak kapan mereka dekat dan menjalin hubungan?’ Ia bertanya-tanya dalam hati, sambil terus mendengar rencana istri dan atasannya.

Semakin Ezio mendengar percakapan mereka, suara yang terdengar semakin mengarah ke arah sebuah suara desahan.

Sedangkan di balik pintu itu atau kamar Ezio dan Sari sudah terdengar suara jahanam.

“Aahhh… terus, sayang…”racau Jendral

“kau menyukai nya Garidha ?”tanya Sari yang terus menggoyangkan pinggul nya

akan tetapi sebelum Garidha menjawab sebuah suara gebrakan terdengar keras.

Brak!

Ezio menendang pintu itu hingga hancur berkeping-keping.

Ezio berdiri di ambang pintu, matanya menyapu ruangan dengan pandangan yang membara. Di depannya, Sari, istrinya, dan Garidha, atasannya yang ia percaya, terlihat dalam posisi yang tidak pantas. Tubuh mereka tanpa sehelai benang, Sari menindih Garidha dengan posisi women on top.

Suasana yang seharusnya intim justru memicu amarah yang meluap-luap dalam diri Ezio.

"Bajingan kalian!" pekik Ezio, suaranya menggelegar memecah keheningan.

Tanpa berpikir panjang, ia mengeluarkan pedangnya dari cincin penyimpanannya. Pedang itu berkilat di bawah cahaya redup lampu kamar, dan Ezio langsung menyerang, melesat ke arah mereka yang masih terkejut di atas kasur.

"Arrgg!" Sari berteriak kaget, tubuhnya yang polos langsung melompat berdiri, wajahnya pucat ketakutan. Garidha, yang awalnya terkejut, segera mengambil sikap. Matanya menyipit, dan dengan gerakan cepat, ia mengibaskan tangannya. Secarik energi keluar dari telapak tangannya, membentang cepat seperti perisai transparan yang kokoh.

Dentang!

Suara dentangan keras menggema saat pedang Ezio menghantam perisai energi. Getarannya membuat seluruh ruangan bergetar, dinding-dinding retak, dan perabotan berantakan.

Ezio tertegun sejenak, ia tidak terkejut jika serangannya bisa dihalau dengan mudah.

Garidha tak memberikan waktu untuk Ezio memulihkan diri. Dengan senyum licik yang mengiris, ia berdiri tegak, tubuhnya masih telanjang, tetapi aura kekuatannya tak terbendung. Dan mengintimidasi Ezio

"Kau pikir bisa melawanku, Ezio?" ejeknya sambil menghentakkan tangannya ke depan. Gumpalan energi besar melesat dengan kecepatan luar biasa, menghantam dada Ezio dengan kekuatan yang menghancurkan.

Bugh! Bunyi gedebuk keras terdengar

Ezio terlempar ke ujung dapur, tubuhnya menghantam meja kayu hingga hancur berkeping-keping. Ia memuntahkan seteguk darah, dadanya terasa seperti ditindih batu besar. Napasnya tersengal-sengal, dan matanya berkunang-kunang. Melawan Garidha, yang kekuatannya jauh di atasnya, terasa seperti bunuh diri.

"Sialan," Ezio menggerutu, berusaha bangkit dari puing-puing meja yang hancur. Perasaannya campur aduk kemarahan, pengkhianatan, dan rasa sakit hati yang mendalam. Namun, di balik semua itu, pikirannya tetap jernih. Ezio adalah jenius dari jenius, selalu mengedepankan logika sebelum emosi. Ia tahu, bertarung sekarang hanya akan berakhir dengan kematiannya.

Sambil berdiri, Ezio memandang ke arah Garidha dan Sari. Garidha masih tersenyum licik, matanya penuh kemenangan. Sari, yang kini sudah mengenakan selimut, memandang Ezio dengan tatapan dingin, tanpa sedikit pun penyesalan. "Kau tidak punya tempat lagi di sini, Ezio," ujar Garidha, suaranya penuh ancaman. "Aku akan menguasai Sriwalaya pujian dan penghormatan hanya akan menjadi milikku begitu juva Sari. Kau hanya sampah yang harus dibuang."

Ezio mengerang kesakitan, tetapi senyum tipis muncul di bibirnya.

"Kau pikir ini sudah berakhir, Jendral Garidha?" gumamnya pelan. "Kau dan Sari akan menyesal telah mengkhianatiku."

Dengan sisa kekuatan yang ia miliki, Ezio melompat ke jendela dapur, menghancurkan tembok dan melarikan diri ke kegelapan malam.

Jendral Garidha menyipitkan matanya "Sialan, dia berhasil kabur!" ujar Garidha dengan nada kesal. Tanpa membuang waktu, ia menembakkan gumpalan energi ke langit, menciptakan bunga api yang menyala seperti kembang api. Itu adalah sinyal untuk memanggil prajurit-prajuritnya, tanda bahwa Ezio telah melarikan diri dan harus segera diburu.

Rumah itu hancur berantakan, dinding-dinding banyak yang retak dan hancur berkeping-keping, perabotan berantakan, dan suasana mencekam masih terasa. Garidha dan Sari tertawa kecil, yakin bahwa Ezio sudah tak lagi menjadi ancaman.

"Hahaha kita tidak repot-repot menjebak nya sayang, sekarang dia sendiri yang terjebak." Ujar Sari

Garidha tersenyum mengelus punggung sari.

"Mari kita lanjutkan." Ujarnya

Di sisi lain nya di kegelapan malam, Ezio berlari, hatinya dipenuhi tekad. Ia akan kembali, dan saat itu tiba, tidak ada yang akan selamat dari murkanya.

Ditemani kemarahan dan keinginan untuk bertahan hidup, Ezio ia harus kabur sebelum terlambat.

“awas kalian akan ku bongkar rencana busuk kalian” ia melesat cepat dengan terbang nya dada nya terasa mati rasa ia melihat kearah dada nya

“sialan,”

Berselang beberapa jam setelah kejadian itu dan pada titik ini di aula Kediaman yang mewah, Jendral Garidha berdiri dengan angkuh di depan ribuan pasukan kerajaan. Di sampingnya, Sari bergelayut manja, tersenyum puas. Garidha mengangkat tangannya, memberi isyarat untuk diam.

“Aku tidak mau tahu caranya. Kalian harus menangkap Ezio Raharja, hidup atau mati. Bawa kepalanya ke sini!” perintah Garudha dengan suara lantang. Matanya berbinar dengan kebencian dan ambisi.

Pasukan kerajaan serempak membungkuk dan menjawab, “Siap, Jendral!”

Poster buronan Ezio pun segera dicetak dan disebarkan ke seluruh penjuru kota yang ada di Kerajaan .Wajahnya yang dulu dihormati kini dicap sebagai pengkhianat Kerajaan.

Ini novel yang luar biasa untukmu:"Pertualangan Ezio" 🌟🌟🌟🌟🌟 Ayo, periksa sekarang.
https://www.fizzo.org/page/share/?bid=7558220916056915138&isNew=1&from=copy_link&group=2&d=7731191348340438778&u=7700750206752257277&language=id®ion=ID

01/04/2026

"Di dunia di mana kekuatan menentukan segalanya, yang lemah hanya punya dua pilihan: tunduk atau mati.
Harta berlimpah, kecantikan memikat, tapi bahaya mengintai di setiap sudut. Monster ganas berkeliaran, dan manusia ternyata jauh lebih kejam dari binatang buas.
Siapkah kamu mengikuti perjalanan Ezio yang penuh aksi, intrik, dan pertarungan mematikan?
🔥 Pertualangan Ezio — Novel yang bikin adrenaline kamu naik terus!
🌟🌟🌟🌟🌟
Baca gratis sekarang 👇
https://www.fizzo.org/page/share/?bid=7558220916056915138&isNew=1&from=copy_link&group=2&d=7731191348340438778&u=7700750206752257277&language=id®ion=ID"

Address

Padang
2523

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Kata kata Cinta & sindiran posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Kata kata Cinta & sindiran:

Shortcuts

Share