24/10/2021
"Inti dari mental kaya (berkelimpahan) adalah memberi lebih, orang yg mampu memberi lebih alam telah menandai diri-nya sebagai orang kaya."
Kalimat di atas adalah kutipan dari status saya kemarin, seperti-nya banyak yg mengartikan sempit "memberi lebih" hanya sebatas "sedekah uang" Padahal memberi lebih lebih luas dari itu.
Saya teringat kisah seorang pedagang di pasar muslim, ia datang menemui Rosulullah dan mengadukan nasib nya "Ya Rosul, saya sudah mengikuti cara engkau berdagang, tapi tetap saja hasil dagangan kami tidak mencukupi, kalah dengan pedagang di pasar Yahudi"
"Cara yg mana yg engkau ikuti"
"Saya jujur ya Rosulullah, saya kasih pas takaran nya tidak kurangi sedikit pun, sehingga untungnya sedikit, sedang pedagang di pasar Yahudi mengurangi timbangan sehingga untung mereka lebih banyak"
"Engkau salah"
"Salah bagaimana ya rosul"
"Harusnya jangan pas, tapi kamu lebih-kan"
Akhirnya cara itu dipakai oleh semua pedagang muslim, saat menimbang daging misalnya, ketika sudah pas, ditambahin sedikit biar "anget" , dilebihkan.
Kabar tersebut menyebar ke seantero arab, orang2 mulai membandingkan, dan berbondong2 pindah berbelanja ke pasar muslim, kata mereka "enak belanja di pasar muslim, sekilo nya lebih berat daripada sekilo nya pasar yahudi"
.
Tidak hanya untuk pedagang dan pengusaha, praktik memberi lebih bisa dilakukan semua orang, misal anda pegawai yg digaji 4juta, tapi pelayanan dan etos kerja anda berikan senilai 10juta, itu tidak menunggu lama, anda akan dinaikan drajatnya oleh Alloh, kalau tidak di perusahaan yg sama, Allah akan pindahkan ke perusahaan yg lebih baik yg lebih menghargai anda, Insya allah.
Jadi jangan takut memberi lebih karena Alloh tidak tidur, Allah tahu, tapi dia menunggu, untuk memberikan kejutan bagi hambanya yg sabar.