zahara vlog

zahara vlog Bismillah dulu biar jdi Alhamdulillah

13/01/2026

Makan Bakso Bestie

17/12/2025

Tes Vokal Dulu Bestie



Een Zahara

NIAT MENEMPATI RUMAH KOSONG YANG BARU KUBELI, TAPI SETIAP MALAM AKU MALAH SERING MI-MPI B4-SAH. ADA APA DENGAN RUMAH TER...
25/09/2025

NIAT MENEMPATI RUMAH KOSONG YANG BARU KUBELI, TAPI SETIAP MALAM AKU MALAH SERING MI-MPI B4-SAH. ADA APA DENGAN RUMAH TERSEBUT? (7)

Tangan Jae semakin menek4n teng k*k Megan untuk memperdalam ciuman mereka. Bibirnya meraup bi bir Megan sembari melak*kan lum*tan demi lum*tan yang memberikan efek tegang yang menyeb*r ke seluruh syaraf.

Mata mereka sama-sama terpej am, kepala bergerak kanan dan kiri secara perlahan dan bergantian.

Mereka seakan menyalurkan rindu yang terpendam cukup lama melalui ci*man bi bir yang mereka lak*kan, dan ciuman itu semakin lama menjadi sema kin pa nas dan men*ntut, diiringi oleh napas yang semakin memberat.

Akan tetapi, Jae terlebih dahulu menyudahinya ciuman tersebut, karena dia tidak ingin sesuatu di bawah sana menjadi sesak dan akan merepotkannya.

Dengan senyuman yang tertera di b*birnya, dia mengelap sisa saliva yang terdapat di b*bir Megan menggunakan ujung ibu jarinya. Setelah itu, barulah dia mengemudikan mobil dan mulai meninggalkan area hotel tersebut.

Mereka tidak langsung menuju rumah yang ditempati oleh Megan, melainkan ke sebuah mall untuk membeli kebutuhan Megan ataupun barang-barang yang kurang di rumah Megan, sembari jalan-jalan bersama, karena sudah cukup lama mereka tidak menghabiskan waktu bersama akibat jarak yang membentang jauh yang memisahkan mereka.

Jae menghentikan mobilnya tepat di pusat perbelanjaan besar di kota tersebut. Mereka keluar dari mobil dan Jae menggandeng tangan Megan memasuki mall itu tanpa niatan untuk melepaskannya sedikit pun.

"Aku akan membelikan apa pun yang kamu inginkan," ucap Jae yang disambut dengan semangat oleh Megan.

Dengan penuh antusias, Megan menarik tangan Jae ke sebuah toko kosmetik dan memilih apa pun yang dia butuhkan. Jae sendiri pun juga terlihat bersemangat membantu kekasihnya itu dan memberikan masukan terhadap pilihan wanita tercintanya.

"Aku rasa itu terlalu gelap untuk kulitmu," ucap Jae setelah Megan mencobakan sebuah tester cushion di bagian sisi wajahnya.

"Bagaimana dengan yang ini?" tanya Megan setelah mencobakan shade lain.

Setelah mengamati warna tersebut, barulah Jae mengangguk dan mengatakan bahwa warna tersebut sudah cocok.

Setelah selesai di toko kosmetik dan sudah mendapatkan apa yang diinginkan oleh Megan, barulah mereka berjalan ke arah lain dan membeli kebutuhan Megan yang lain. Seperti pakaian, tas dan lain-lain.

Terakhir, mereka membeli cukup banyak makanan dan bahan masakan untuk di rumah Megan karena Jae berencana akan tinggal lama bersama kekasihnya itu.

"Apakah menurutmu ini cukup?" tanya Jae sembari mengalihkan pandangan ke arah Megan.

"Aku rasa itu sudah lebih dari cukup," jawab Megan. Menatap horor troli besar yang sudah dipenuhi oleh makanan yang saat ini didorong oleh Jae.

"Tapi aku merasa ini masih belum cukup," ucap Jae. Kemudian mengambil beberapa snack dan memasukkan ke dalam troli. Sedangkan Megan hanya bisa menghela napas melihat tingkah pria yang merupakan kekasihnya itu.

Setelah dirasa sudah membeli semua kebutuhan mereka untuk beberapa hari bahkan beberapa minggu ke depan, barulah mereka keluar dari mall sembari membawa begitu banyak barang belanjaan mereka.

"Masuklah terlebih dahulu, biar aku yang memasukkan barang-barang ini," ucap Jae setelah membuka bagasi.

Dia memasukkan hasil shopping Megan serta barang-barang yang dia beli tadi ke dalam bagasi tersebut sembari menatanya, terakhir dia pun menutup bagasi itu dan segera menyusul Megan ke dalam mobil.

Lagi-lagi, sebelum menjalankan mobil, dia kembali merebut sebuah ci-um*n di bi bir Megan, kemudian barulah menjalankan mobil tersebut.

Selama perjalanan, mereka bercerita berbagai hal, hingga tanpa sadar mereka sudah sampai di depan rumah yang ditempati oleh Megan.

"Apakah ini rumah yang kamu tempati?" tanya Jae sembari menatap rumah tersebut.

Sebenarnya Megan sudah mengirimkan foto tampilan rumah itu kepada Jae, tetapi Jae tidak menyangka bahwa rumah tersebut jauh lebih besar dari yang tampak dari foto.

"Iya, aku beruntung mendapatkannya dengan harga murah, dan rumahnya juga sangat nyaman," jawab Megan sembari keluar dari mobil yang diikuti oleh Megan.

Mereka langsung menuju bagian belakang mobil untuk mengambil belanjaan mereka tadi, tetapi Jae sama sekali tidak mengizinkan Megan mengambil bagian yang berat.

Sehingga, dia memborong beberapa bagian sekaligus, membuat kedua tangannya dipenuhi oleh barang belanjaan tersebut.

Namun, hal itu membuatnya tidak sengaja menjatuhkan salah satu barang belanjaan mereka sehingga membuat isinya berceceran di lantai. Salah satu dari barang yang berceceran itu adalah sebuah kotak yang berisi k*ndom.

"Ini ...." Megan mengangkat kotak kecil tersebut sembari membawa pandangan ke arah kekasihnya, yang dibalas cenge ngesan oleh pria itu.

"Aku rasa aku sudah siap," ucap Megan sembari tersenyum. Dia membereskan barang-barang yang berserakan itu, kemudian berjalan terlebih dahulu ke arah pintu dan membuka pintu rumahnya. Setelah itu barulah mempersilahkan kekasihnya untuk masuk.

Jae pun memasuki rumah tersebut. Hawa aneh dan mencekam langsung menyambutnya, disertai rasa dingin yang men*suk tulang. Dia mengabaikan perasaan tersebut dan memilih untuk mengikuti Megan menuju ruang tengah.

Namun, semakin lama, dia merasakan sebuah tatapan tajam yang tertuju ke arahnya, membuatnya langsung mengalihkan pandangan ke arah tangga, tetapi dia tidak menemukan siapa-siapa di sana.

"Ada apa?" tanya Megan, menatap aneh kepada sang kekasih.

Menggeleng. "Tidak ada apa-apa," jawab Jae, tetapi tatapannya masih tertuju ke arah tangga. Meski dia tidak melihat siapa-siapa di sana, tetapi dia masih merasakan tatapan tajam penuh kemarahan yang tertuju kepadanya.

"Baiklah. Di lantai atas terdapat satu kamar dan itu yang aku tempati. Di lantai bawah ada beberapa kamar. Kamu ingin menempati yang mana?"

"Aku akan meletakkan barang-barangku di lantai bawah. Tapi tidur bersamamu," jawab Jae sembari terkekeh. Dia kembali mencuri ciuman di bibir Megan, kemudian keluar dari rumah untuk mengambil barang-barang yang masih tertinggal di dalam mobil.

***

Setelah memasukkan barang-barangnya ke dalam kamar di lantai bawah dan sudah membersihkan tubuh, Jae memutuskan untuk menyiapkan makan malam sembari menunggu Megan selesai mandi.

Dia mengeluarkan beberapa bahan makanan yang sudah dibelinya tadi, kemudian meletakkan di atas meja dapur.

Akan tetapi, perasaan diawasi oleh seseorang kembali dia rasakan, membuatnya dengan cepat mengalihkan pandangan ke arah belakang. Namun, Lagi-lagi dia tidak menemukan kehadiran siapa-siapa.

Menghela napas. Berusaha menghilangkan hal-hal negatif dari pikirannya dan mulai menyibukkan diri dengan bahan-bahan masakan, tetapi lagi-lagi perasaan diamati kembali menghantuinya.

Tangannya menggenggam pis*u dapur yang saat ini dia pegang. Mengambil napas dengan diam dan merasakan keberadaan seseorang mendekatinya.

Detik berikutnya, dia langsung melayangkan pisau itu ke arah belakang dengan sekuat tenaga.

"AAAAA!" Teriak Megan dengan suara yang melengking.

Judul : HANTU TAMPAN PENGHUNI RUMAH KOSONG
Penulis : SecretZR
Baca selengkapnya di aplikasi Dreame/Innovel ✅

Save moment
25/09/2025

Save moment



NIAT MENEMPATI RUMAH KOSONG YANG BARU KUBELI, TAPI SETIAP MALAM AKU MALAH SERING MI-MPI B4-SAH. ADA APA DENGAN RUMAH TER...
25/09/2025

NIAT MENEMPATI RUMAH KOSONG YANG BARU KUBELI, TAPI SETIAP MALAM AKU MALAH SERING MI-MPI B4-SAH. ADA APA DENGAN RUMAH TERSEBUT? (6)

Lampu kamar tiba-tiba mati. Kabut putih yang tebal menyelimuti kamar itu, menciptakan suasana misterius dan membingungkan. Terpaan angin yang tiba-tiba membuat udara semakin dingin, meskipun pintu kamar dan pintu balkon tetap tertutup rapat.

Megan masih terlelap dalam tidurnya, tidak menyadari perubahan yang terjadi di sekitarnya. Meskipun hawa dingin semakin menusuk, dia tetap dalam keadaan yang tenang dan tidak terganggu.

Dalam keadaan mata yang masih terpejam dan tertidur lelap, dia tiba-tiba berdiri dari posisi duduknya. Seperti terdorong oleh kekuatan tidak terlihat, langkahnya membawanya menuju balkon.

Tangannya yang lunglai dengan perlahan membuka pintu balkon, membiarkan angin malam memasuki ruangan. Hembusan angin yang kuat langsung meniup wajah dan tubuhnya, membuat pakaian dan rambutnya berkibar di udara. Akan tetapi dia masih tidak sadar dengan hal itu.

Dia berdiri selama beberapa saat dengan keadaan kepala yang menunduk dan hanya diam. Kepalanya kembali terangkat seakan dia tengah memandang ke arah depan, padahal matanya terpejam.

Kedua tangannya terjulur di depan dada. Kakinya kembali melangkah dengan perlahan, sehingga langkahnya mentok pada pagar pembatas di balkon.

Lagi-lagi dia hanya diam. Angin yang berhembus kencang dengan dingin yang menusuk tulang tidak dia rasakan. Sebelah kakinya dengan perlahan terangkat pada sisi pagar balkon, disusul oleh kaki selanjutnya.

Sehingga, saat ini dia duduk berjuntai pada pagar balkon tersebut dengan kedua tangan yang masih terulur ke arah depan dan kepala yang menunduk.

Setelah beberapa menit, dia kembali menu runkan kakinya dan berbalik badan kembali memasuki kamar, diikuti oleh pintu balkon yang tertutup.

Dia berjalan ke arah ranjang. Duduk di sini r*njang, kemudian merebahkan tu buhnya di sana dalam keadaan yang masih gelap.

Selimut yang berada di dekat kakinya tiba-tiba ter*ngkat dan membentang luas, lalu jatuh menutupi sebagian tubuhnya.

Beberapa saat kemudian, semuanya tampak normal. Lampu kamar kembali menyala, angin dan asap putih yang memenuhi kamar itu sudah tidak ada lagi.

Megan menggel iat dalam tidurnya, memilih posisi miring dan semakin terlelap di dalam tidurnya.

***

Pagi datang dengan lembut, membuka tirai malam dan mengusir kegelapan. Sinar matahari pertama menerobos celah awan, menyinari dunia dengan cahaya emas. Udara segar pagi memenuhi paru-paru, menjanjikan hari yang penuh semangat dan harapan.

Megan saat ini mulai menggeliat pelan sembari merentangkan kedua tangannya sembari menguap kecil.

Netranya masih terpej*m, tetapi beberapa saat kemudian dengan perlahan terbuka. Kemudian, tatapannya tertuju menatap langit-langit kamar sembari termenung selama beberapa saat.

Setelah 60 detik kemudian, dia pun membawa tubuhnya untuk bangkit dan menurunkan kakinya dari ranjang empuknya.

Namun, ketika tidak sengaja melihat ke arah meja belajar, dia baru menyadari bahwa semalam dia tertidur di meja belajar.

“Kenapa aku bisa tidur di r*njang?” gumamnya. Otaknya berusaha berpikir dengan keras dan berusaha untuk mengingat-ingat tentang semalam, tetapi bagaimanapun, dia sama sekali tidak ingat apa-apa, dan dia juga tidak ingat sudah berpindah.

“Apakah aku berjalan sembari tidur? Atau karena sudah mengantuk aku tidak sadar berjalan ke ranjang.” dia kembali bergumam, tetapi detik berikutnya dia menganggukkan kepalanya.

Dia membenarkan bahwa dia memang berjalan sendiri, karena hanya itulah kemungkinan yang terjadi.

Dengan langkah yang tegas, dia segera beranjak dari ranjang dan menuju kamar mandi. Tangannya dengan hati-hati melepaskan bathrobe yang masih rapi melingkari tubuhnya, memperlihatkan kulit yang terpapar udara segar.

Dia berdiri di bawah pancuran shower, membiarkan air mengalir dengan lembut di atas tubuhnya. Mengambil sabun dan shampoo, dengan cermat mengoleskannya ke telapak tangannya dan mulai menggosok sabun di seluruh tubuhnya, menciptakan busa yang harum dan lembut.

Tidak ingin meninggalkan sisa-sisa busa di tubuhnya, dia kembali menempatkan tubuhnya di bawah pancuran shower, membiarkan air mengalir dengan deras. Kedua tangannya terangkat, memijat lembut kepalanya untuk membersihkan sisa shampoo yang masih terdapat di rambutnya, mengalir bersama air.

Kedua matanya terpejam. Tangannya masih setia dengan aktivitasnya di bawah guyuran air shower. Namun, detik berikutnya dia mer*sakan sesuatu meny*ntuh d*danya.

Hal itu membuatnya segera membuka mata, tetapi matanya terasa perih karena busa shampoo sehingga dia tidak melihat dengan jelas. Akan tetapi, dia masih merasakan pij*tan pada d*danya.

Dia dengan segera mengus*p matanya dan mematikan shower. Membawa pandangan ke arah d*danya dengan perasaan horor, tetapi setelah melihat dadanya, ternyata hal itu disebabkan oleh busa yang mengalir di kedua g*nung kemb*rnya.

Meskipun dia sebelumnya merasakan rem*san yang jelas, tetapi dia tidak ingin berpikiran lain dan dia juga tidak terlalu percaya dengan hal-hal horor. Terlebih, dia sudah melihat sendiri bahwa ada busa yang mengalir. Membuatnya semakin yakin bahwa itu terjadi karena busa tersebut.

Dia segera menyelesaikan acara m*ndinya, kemudian keluar dari kamar mandi dan langsung bersiap-siap.

Setelah menyelesaikan semuanya, dia pun keluar dari kamarnya sembari membawa tas dan kunci mobil. Dia sengaja tidak sarapan di rumah karena ingin sarapan di luar.

***

Pada siang harinya, Megan mendapatkan telepon dari kekasih hatinya. Sangat kebetulan sekali kelasnya sudah bubar dan dia hendak pulang ke rumah.

Dia segera menggeser tanda hijau pada layar ponsel, kemudian mendekatkan benda pipih itu ke telinganya.

“Ya, Jae,” sapanya kepada sang kekasih yang bernama Ahn Jae, sebelah tangannya memasukkan iPad-nya ke dalam tas.

“ …. “

Megan langsung menghentikan kegiatannya. Senyuman ceria langsung terukir di bibirnya. “Benarkah? Kamu benar-benar berada di Belgia? Kenapa tidak mengabariku terlebih dahulu?” tanyanya dengan penuh bahagia.

“ …. “

“Iya, aku rasa ponselku bermasalah, tapi setelah diperiksa, malah tidak ada kesalahan apa-apa,” jawabnya.

“ …. “

“Baiklah. Aku akan segera ke sana,” ucapnya. Kemudian dia mengakhiri sambungan telepon tersebut.

“Apakah kekasihmu berada di sini sekarang?” tanya Rose yang tersenyum penuh arti, seakan tengah meledek Megan yang sebentar lagi akan bertemu dengan kekasihnya.

“Iya. Aku akan segera menjemputnya ke hotel. Bye!” Megan segera berdiri dari duduknya, menyambar tas miliknya, kemudian keluar dari ruangan itu.

Megan mengendarai mobilnya ke salah satu hotel yang disebutkan oleh kekasihnya. Membutuhkan waktu selama beberapa menit, akhirnya dia sampai di hotel tersebut.

Dia kembali merogoh ponselnya yang saat ini tidak ada kendala apa-apa, kemudian mengirimkan sebuah pesan singkat kepada kekasihnya, menyatakan bahwa dia sudah sampai di depan hotel yang ditempati oleh kekasih hatinya itu.

[Baiklah. Aku sudah di lobby. Aku akan segera keluar.] balas pesan tersebut.

Megan menunggu dengan sabar, sehingga seorang pria tampan yang sudah sangat dia rindukan keluar dari hotel sembari menyeret koper.

Senyuman seketika mengambang di bibirnya, dia pun keluar dari mobilnya dan berlari menghampiri pria itu yang langsung disambut oleh pelukan hangat dari pria tersebut.

“Aku merindukanmu,” ucapnya. Suaranya teredam oleh dada bidang Jae karena wajahnya berada pada bidang tersebut.

“Aku juga merindukanmu,” jawab Jae membalas membalas p3lukan Megan.

Cukup lama mereka berpelukan dan saling menumpahkan rindu, mereka pun melepaskan pelukan tersebut.

Tangan Jae langsung mengacak rambut Megan sembari tersenyum lebar. “Aku tidak menyangka kau berada seorang diri di sini,” ucapnya.

“Sudah aku katakan, aku bisa. Lagipula Uncleku juga ada di sini,” jawab Megan. Memperbaiki rambut yang sudah bersusah payah dia tata.

“Baiklah. Ayo pergi dari sini. Aku sekalian membawa barangku, karena aku lebih ingin tinggal bersamamu selama aku di sini, daripada di hotel,” ujar Jae.

Tangannya mer3ngkuh pingg*ng Megan, sedangkan sebelah tangannya menyeret kopernya menuju mobil Megan. Kemudian, dia memasukkan kopernya ke dalam mobil, lalu menempati kursi kemudi dan Megan duduk di sampingnya.

Namun, sebelum mengendarai mobil tersebut, dia menarik t3ngk*k Megan dan melu-m4t bi-bir Megan.

Judul : HANTU TAMPAN PENGHUNI RUMAH KOSONG
Penulis : SecretZR
Baca selengkapnya di aplikasi Dreame/Innovel ✅

NIAT MENEMPATI RUMAH KOSONG YANG BARU KUBELI, TAPI SETIAP MALAM AKU MALAH SERING MI-MPI B4-SAH. ADA APA DENGAN RUMAH TER...
14/08/2025

NIAT MENEMPATI RUMAH KOSONG YANG BARU KUBELI, TAPI SETIAP MALAM AKU MALAH SERING MI-MPI B4-SAH. ADA APA DENGAN RUMAH TERSEBUT? (5)

Napas Megan ter*ngah-3ngah setelah meras akan badai keni-km*tan yang menghadang dirinya. Da danya kembang-kempis, keri ngat bercu curan dari tu buhnya, tetapi beberapa saat kemudian dia pun tersadar dengan apa yang dia lak*kan.

“Kau benar-benar me sum, Megan!” ru tuknya sembari memukul kepalanya sendiri karena sudah memimpikan hal yang tidak-tidak dan bahkan m*nyentuh tu buhnya sendiri.

Dia dengan segera beranjak dari r*njang dan memasuki ka mar ma ndi. Mele pas bath robe di tu buhnya dan menempatkan tu buhnya di bawah shower.

Namun, lagi-lagi dia terb*yang dengan mimpi yang sebelumnya dia alami, dan hal itu sukses membuatnya kembali mer asa ter*ngs*ng lagi, tetapi dia dengan segera menggelengkan kepala dan fokus dengan acara man dinya.

Dia ma ndi tidaklah lama. Keluar dari kamar ma ndi hanya menge nakan h*nduk yang menutupi bagian pentingnya.

Bukannya mengeringkan rambut terlebih dahulu, dia langsung berjalan ke arah ponselnya yang masih di-charge.

Dia memesan makanan dan minuman. Setelah itu, barulah menempatkan tu buhnya di kursi rias dan memperhatikan wajahnya yang tampak segar setelah ma ndi.

Hal pertama yang dia lak*kan adalah mengeringkan rambutnya, berdandan dengan mengenakan riasan tipis, setelah itu barulah menuju lemari dan mencari pakaian yang hendak dia kenakan saat ini.

Pilihannya jatuh pada croptop yang dipadukan dengan sebuah kulot. Dia melepaskan h*nduk yang ber ada di tu buhnya sehingga kembali membuat tu buhnya naked sepenuhnya.

B*ngk*han ran*mnya terpam pang jelas meng gantung begitu in dah. Ar*a s3ns-itifnya yang b3rsih dari bulu pun terlihat begitu saja dan begitu mengg*-da.

Namun, hal itu hanya terlihat sebentar karena Megan segera mengenakan pak aian. Kemudian dia menyemprotkan parfum di beberapa titik tu buhnya, setelah itu dia pun beranjak dari kamar tersebut sembari membawa tas dan kunci mobilnya.

Namun, dia merasakan sesuatu yang aneh ketika baru saja keluar dari kamar yang dia tempati, sehingga membuat langkahnya terhenti dan berbalik badan, memperhatikan pintu tersebut.

Dia merasakan seakan melintasi sesuatu, tetapi setelah diperhatikan, semuanya tampak baik-baik saja dan tidak ada yang aneh, sehingga dia kembali membawa langkahnya turun ke lantai utama sembari menunggu pengantar makanan yang mengantar pesanan makanan yang sudah ia pesan tadi.

Di saat yang sama, ponselnya berbunyi dan terdapat panggilan masuk dari kekasihnya. Tanpa menunggu lama, dia menjawab telepon tersebut dan memulai pagi yang mesra dengan sang kekasih.

Namun, sama halnya dengan semalam, ponselnya tiba-tiba mati begitu saja, padahal sebelumnya jelas-jelas dia melihat baterai ponselnya masih penuh karena semalam di-charge.

“Ponsel si*lan!” serunya dengan perasaan kesal dan marah. Segera memasukkan benda pipih itu ke dalam tasnya dan mendudukkan tubuhnya di ruang tamu dengan bersed ekap dada akibat masih merasa kes al.

Tidak berselang lama, dia disadarkan oleh suara bel yang berbunyi. Dia segera bangkit dari duduknya menuju ke arah pintu dan melihat pengantar makanan yang berdiri di depan pintu rumah.

Ekspresi yang diperlihatkan oleh pengantar makanan itu masih sama seperti pengantar makanan yang sebelumnya, meski orangnya berbeda. Seakan mereka tengah ket*kutan dan memberikan makanan dengan tergesa.

Hal itu membuat Megan bertanya-tanya dan sekaligus kebingungan, tetapi belum sempat dia bertanya, pengantar makanan tersebut langsung melarikan diri.

“Kenapa mereka ket*kutan? Apakah penampilanku menyeramkan? Atau memang seperti itu semua pengantar makanan di sini?” tanyanya.

Tidak ingin pusing, dia kembali menutup pintu dan membawa makanan tersebut memasuki rumah. Kemudian, langsung menikm*ti hidangan sarapan pagi yang cukup berat tersebut.

Setelah perutnya kenyang, barulah dia beranjak dari kursi dan keluar dari rumah tersebut.

Lagi-lagi dia mendapati tatapan aneh dari para tetangga, tetapi dia mengabaikan hal itu dan segera memasuki mobilnya.

Dia langsung mengendarai mobilnya meninggalkan rumah tersebut, tetapi sebelum menuju kampus, dia menyempatkan diri untuk mampir terlebih dahulu ke sebuah konter.

Dia ingin memperbaiki ponselnya. Jika tidak memungkinkan untuk diperbaiki, maka dia akan membeli yang baru karena ponsel adalah benda yang cukup penting.

“Bagaimana? Apakah bisa diperbaiki atau dis3rvis?” tanyanya kepada orang konter tersebut.

Pria itu masih memperhatikan ponsel Megan sembari memeriksa, berikutnya mengembalikan ponsel tersebut kepada Megan.

“Tidak ada yang salah dengan ponsel Anda. Semuanya baik-baik saja,” ucap pria itu, membuat Megan seketika merasa bingung.

“Apakah Anda keliru? Semalam baterainya masih full, tetapi baru beberapa saat digunakan untuk menelepon langsung mati. Tadi pagi juga seperti itu, padahal sudah semalaman di-charger,” jelas Megan.

“Sungguh, tidak ada yang salah dengan ponsel Anda. Semuanya baik-baik saja dan baterainya saat ini masih full. Mungkin akan bertahan hingga sore bahkan jika Anda telponan seharian,” balas pria tersebut.

Lagi-lagi Megan merasa bingung, tetapi dia tidak ada pilihan lain selain meninggalkan tempat itu sembari membawa ponselnya.

Dia kembali memasuki mobilnya dan memperhatikan ponsel tersebut. Setelah itu, barulah dia benar-benar meninggalkan tempat itu sembari mengendarai mobilnya menuju kampus.

***

Seperti yang dikatakan oleh pria konter sebelumnya, hingga sore ponsel Megan masih baik-baik saja, padahal dia sudah membuktikan dengan cara selalu memainkannya dan menelepon orang tuanya, dan ponselnya masih baik-baik saja.

“Kami lumayan ada waktu luang sore ini hingga malam, maka kami akan ikut ke rumahmu,” ucap Rose kepada Megan yang diangguki teman yang lain.

“Baiklah, ayo!” ajak Megan. Mereka keluar dari pekarangan kampus dan mengendarai mobil masing-masing dengan jalanan yang dituntun oleh Megan.

Tidak membutuhkan waktu yang begitu lama, akhirnya mereka sampai di rumah yang ditempati oleh Megan, dan mereka berdecak kagum melihat rumah tersebut cukup besar dan terlihat mewah dari luar. Terlebih, Megan membelinya dengan harga yang sangat murah.

“Kamu yakin membelinya, bukan menyew*nya?” tanya seorang teman kepada Megan setelah mereka keluar dari mobil.

“Ya, aku membelinya dan rumah ini sudah atas namaku. Ayo, kita masuk!” ajak Megan.

Mereka berjalan ke arah pintu, tetapi mereka merasa aneh dengan tatapan para tetangga. Namun, mereka mengabaikan hal itu dan segera mengikuti langkah Megan ketika memasuki rumah tersebut.

Akan tetapi, hawa dingin yang mence kam langsung menyambut mereka dan mereka sedikit merasa merin ding.

“Kenapa rumahmu sangat dingin?” tanya Rose.

“Memang seperti ini semenjak pertama kali aku sampai di sini. Hitung-hitung menghemat bia ya AC. Mungkin karena rumahnya cukup tinggi,” jawab Megan.

Sama halnya dengan Megan, diantara teman-temannya tidak ada yang merasa curiga dengan rumah itu meski mereka merasa cukup merin ding.

Megan langsung meminta mereka untuk duduk dan mengeluarkan makanan dan minuman yang sempat mereka beli sebelumnya.

Kemudian, mereka pun berbincang-bincang dan memainkan beberapa game.

Ketika sudah malam, mereka pun berpamitan dan meninggalkan rumah Megan. Sehingga, saat ini suasana rumah tersebut kembali sepi.

Megan kembali memeriksa ponselnya yang masih menyala. Dia terlebih dahulu mengunci pintu rumahnya dan kembali ke lantai atas, menuju kamarnya.

Dia langsung mem*suki kam ar man di dan membersihkan tu-buhnya. Beberapa saat kemudian dia pun keluar dengan balutan bathrobe di tubuhnya dan rambutnya masih kering karena dia sengaja tidak ker*mas.

Dia meraih ponselnya dan mencoba menghubungi kekasihnya, tetapi tidak ada jawaban dari seberang sana, sehingga dia memutuskan untuk menempati meja belajarnya dan mulai mengerjakan tugas yang diberikan oleh dosennya.

Namun, hingga pukul dua belas malam dia masih mengerjakan tugas tersebut. Dia merasakan matanya mulai berat dan dengan perlahan dia menempatkan kepalanya di atas meja. Detik itu juga matanya mulai terpejam.

Aura dingin dari ruangan itu seketika semakin terasa mence kam, tetapi Megan masih tertidur lelap di meja belajarnya sembari tu buhnya masih mengenakan bathr obe.

Judul : HANTU TAMPAN PENGHUNI RUMAH KOSONG
Penulis : SecretZR
Baca selengkapnya di aplikasi Dreame/Innovel ✅


NIAT MENEMPATI RUMAH KOSONG YANG BARU KUBELI, TAPI SETIAP MALAM AKU MALAH SERING MI-MPI B4-SAH. ADA APA DENGAN RUMAH TER...
14/08/2025

NIAT MENEMPATI RUMAH KOSONG YANG BARU KUBELI, TAPI SETIAP MALAM AKU MALAH SERING MI-MPI B4-SAH. ADA APA DENGAN RUMAH TERSEBUT? (4)

Tepat pada pukul dua dini hari dan ketika Megan tengah tertidur lelap, pintu balkon tiba-tiba terbuka. Langit malam seketika terpa par dan angin kencang berhembus ke dalam kamar Megan.

Bukannya terbangun karena hal itu, tidur Megan malah semakin pul as.

Sebuah kursi yang berada di depan meja rias tiba-tiba bergeser dan berganti posisi menghadap ke arah Megan yang saat ini tengah tertidur. Pintu lemari di kamar tersebut dengan perlahan pun terbuka, dan rasa dingin kian mence ngkam.

Megan yang tengah tertidur lelap, seakan tidak ada niatan untuk bangun sedikit pun, dan jika dia bangun, mungkin dia akan langsung ping san melihat pemandangan yang begitu ho ror tersebut.

Angin kencang makin berhembus memasuki kamar, membuat hordeng-hordeng berkibaran. Pintu lemari semakin terbuka dan tertutup menimbulkan bunyi yang mence kam, dan juga terdapat suara de citan di kamar tersebut.

Detik berikutnya, lampu kamar itu tiba-tiba mati, membuat kamar itu gelap gulita yang disinari oleh rembulan yang berasal dari luar.

Selimut tebal yang menutupi tu buh Megan tertarik ke ba wah dan dengan perlahan memperlihatkan t*buh Megan yang tertidur menggunakan bath robe.

Tali bath robe tersebut mulai terle pas dan bath robe yang dikenakan oleh Megan pun tersib*k. Sehingga, saat ini t*buh naked bagian depan Megan terp*mpang jel*s.

D*da r*num terlihat memb*s*ng dengan ind*h, p*rut rata terlihat begitu mempes*na, dan bagian ar ea s*nsi-tif yang tidak t*mbuhi b*lu tersebut terlihat begitu mengg*da. Cahaya rembulan dari arah luar membuat t*buh tersebut sangat mena wan.

S*ntuhan demi s*ntuhan mulai menj*lar di area dada Megan. G*n*ng k*mbarnya yang terlihat sangat mena ntang tersebut dipi jat dengan lembut, sehingga sebuah des isan kedinginan dan juga nikm*t menga lun dari bi bir Megan dengan keadaan mata yang saat ini masih terpe jam.

Pija tan yang terjadi sebelumnya, saat ini sudah berubah menjadi rema san-rema san kecil yang membuat putik menggemaskan Megan menge ras dan men3gang.

“Nghhhh….” Megan mend*sah di dalam tidurnya.

Tu buhnya mengg eliat kecil menikm*ti sent uhan nik mat tersebut, matanya kian terpejam dan des*han penuh ken*km*tan kian terdengar dari bi birnya.

“Ahhhh…,” lagi-lagi des*han mengalun begitu saja dari bi birnya, dan ar*a s*ns-itifnya di bawah sana mulai ba sah karena r*ngs*ngan yang begitu nikm*t.

“Engg … nghhh … ahhhh,” mulutnya tidak henti-hentinya mer*cau karena keni-km*tan itu, terlebih g*n*ng kemb*rnya saat ini masih dir3-mas dengan begitu nikm*t. Hal itu membuat bagian ba wahnya sema kin ba sah.

Rasa dingin yang tadi bersarang di telinganya, saat ini kembali turun ke lehernya dan semakin turun sehingga berada pada gunung ranumnya yang terlihat padat, berisi dan menantang.

Sesaat kemudian, dia merasakan sebuah kenikm*tan ketika d*danya seakan tengah diji-l*t. Meskipun terasa dingin, tetapi dia sangat menikm*ti, dan putiknya terasa dis3-dot dengan kuat, membuat tu buhnya mengg3-linjang sembari semakin membus ungkan d4da.

Tidak hanya itu, g*nung sebelahnya seakan tidak dibiarkan menganggur begitu saja, saat ini putik merah mudanya semakin dij3-pit dan terkadang dip3-lintir, membuat r*cauan Megan semakin tidak terk3-ndali.

Meski yang dia rasakan adalah dingin yang meny*ntuh tu buhnya, tetapi Megan sama sekali tidak merasakan kedinginan, seakan suhu tu-buhnya menyatu dengan suhu tu buh makhluk itu.

Pinggulnya meng geliat, pa hanya semakin rapat dan bagian ba wahnya sem*kin ter*sa ba sah.

Namun, beberapa saat kemudian, dengan perlahan lututnya tertek*k dan p*hanya terbuka lebar, sehingga memperlihatkan lub*ng sur ganya yang belum pernah dim*-suki oleh siapapun.

Megan mer4sa ada sesuatu yang b3sar dan ker4s yang saat ini berada tepat pada ar3a s*nsi-tifnya, tetapi detik berikutnya dia semakin mer*c*u ketika benda tersebut mengg3-sek mi-liknya, memberikan kenik matan yang selama ini belum pernah dia rasakan.

“Ahhh … ahhh … ahhhh … oughhh …,” r*caunya ketika g3-sekan itu semakin bertambah cepat.

B3-nda ker*s dan bes*r tersebut seakan bergerak cepat mengg3-sek mi-liknya dan menyapu ca irannya yang kian keluar, serta ca iran itu semakin membuat li cin g3-sekan di ba wah sana.

Tangan Megan tidak tinggal diam. Sekarang tangannya meny3-ntuh da danya sendiri, memberikan ken-ikm*tan kepada dirinya sendiri dengan cara mer3-m*snya, sembari mulut kian mer*c*u penuh keni-km*tan.

“Ohhh … ahhhh … yeahhh … ahhhh …,” r*caunya dengan tangan yang kian mere-m*s d*-danya dan pinggulnya bergerak seakan mengikuti irama g3-sekan sesuatu yang ke ras di ba wah sana.

“Ahhh … ahhh … semakin cepat, please! … ahhh, yeahhh, seperti itu! … ahhh … ahhh … ahhh … oughhh! Aku sudah tidak t4han!”

“Oughhhhhhhh!” l3-nguhan panjang mengalun dari bi-birnya, disertai dengan tu buhnya yang mengg3-linjang hebat dan napas yang ters*ngal-s*ngal.

Namun, g3-sekan di bawah sana tidak mereda sehingga beberapa saat kemudian dia kembali mend*sah, dan lagi-lagi c*irannya semakin menambah nikm*t ges-ekan milik mereka berdua.

Tepat mendapatkan dua pelepasan, barulah g3-sekan itu berhenti. Tu buh Megan seakan sangat lelah meskipun saat ini dia mengira tengah tertidur. Kantuk menyerangnya dan dia tertidur di dalam tidurnya.

Angin yang tadinya berhembus kencang yang saling bers4hutan dengan des*han Megan, sekarang sudah berhenti. Lampu pun mulai menyala kembali, memperlih*tkan tu buh Megan yang meng3-naskan setelah dilanda kenikm*tan yang luar biasa.

Bagian ar*a s3-ns*tif Megan yang masih ba sah oleh ca iran kenikm*-tan Megan itu terlihat memer*h karena g3-sekan tadi adalah nyata.

***

Pada pagi harinya, Megan terbangun ketika matahari menyeruak masuk melalui gorden yang menutup pintu kaca balkon.

Dia segera membuka matanya dan mendudukkan tu buhnya sembari melihat sekeliling. Namun, semuanya tampak normal, dan selimut yang dia kenakan pun masih berada di tu buhnya, meski tali bathrobe-nya memang terlepas.

Dia menyibak selimutnya, sehingga menampakkan tu buhnya yang ter3-kspos begitu saja karena bathrobe yang dia kenakan juga ikut tersib4k.

Bayangan semalam berputar di pikirannya. Dia mengira itu adalah mimpi, tetapi terasa begitu nyata.

Bahkan, hanya dengan membayangkan sentuhan dan rasa nikm*t itu, kembali membuat b4-gian ba wahnya menjadi ba sah.

Tangan Megan tertuju ke arah ba wahnya, meny3-ntuh ca iran tersebut, tetapi semakin dia memikirkan mimpinya, semakin tangannya bertindak n*kal dan m3-nyentuh ba gian s*nsi-tifnya sendiri.

Sehingga, tu buhnya menggel-injang oleh ulahnya sendiri dan matanya terpejam erat membayangkan apa yang terjadi di dalam mimpinya.

Tidak berselang lama, dia pun m*ndes*h hebat ketika ba dai ken-ikm*tan mengh4dangnya, dan dia mer*sakan sesuatu yang meledak dari dalam tu buhnya, diiringi oleh l3-nguhan panjangnya.

Judul : HANTU TAMPAN PENGHUNI RUMAH KOSONG
Penulis : SecretZR
Baca selengkapnya di aplikasi Dreame/Innovel ✅


Address

Jalan Taqwa Mata Merah Perumahan Intan Residen Blok D20
Palembang
30162

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when zahara vlog posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share