25/09/2025
NIAT MENEMPATI RUMAH KOSONG YANG BARU KUBELI, TAPI SETIAP MALAM AKU MALAH SERING MI-MPI B4-SAH. ADA APA DENGAN RUMAH TERSEBUT? (6)
Lampu kamar tiba-tiba mati. Kabut putih yang tebal menyelimuti kamar itu, menciptakan suasana misterius dan membingungkan. Terpaan angin yang tiba-tiba membuat udara semakin dingin, meskipun pintu kamar dan pintu balkon tetap tertutup rapat.
Megan masih terlelap dalam tidurnya, tidak menyadari perubahan yang terjadi di sekitarnya. Meskipun hawa dingin semakin menusuk, dia tetap dalam keadaan yang tenang dan tidak terganggu.
Dalam keadaan mata yang masih terpejam dan tertidur lelap, dia tiba-tiba berdiri dari posisi duduknya. Seperti terdorong oleh kekuatan tidak terlihat, langkahnya membawanya menuju balkon.
Tangannya yang lunglai dengan perlahan membuka pintu balkon, membiarkan angin malam memasuki ruangan. Hembusan angin yang kuat langsung meniup wajah dan tubuhnya, membuat pakaian dan rambutnya berkibar di udara. Akan tetapi dia masih tidak sadar dengan hal itu.
Dia berdiri selama beberapa saat dengan keadaan kepala yang menunduk dan hanya diam. Kepalanya kembali terangkat seakan dia tengah memandang ke arah depan, padahal matanya terpejam.
Kedua tangannya terjulur di depan dada. Kakinya kembali melangkah dengan perlahan, sehingga langkahnya mentok pada pagar pembatas di balkon.
Lagi-lagi dia hanya diam. Angin yang berhembus kencang dengan dingin yang menusuk tulang tidak dia rasakan. Sebelah kakinya dengan perlahan terangkat pada sisi pagar balkon, disusul oleh kaki selanjutnya.
Sehingga, saat ini dia duduk berjuntai pada pagar balkon tersebut dengan kedua tangan yang masih terulur ke arah depan dan kepala yang menunduk.
Setelah beberapa menit, dia kembali menu runkan kakinya dan berbalik badan kembali memasuki kamar, diikuti oleh pintu balkon yang tertutup.
Dia berjalan ke arah ranjang. Duduk di sini r*njang, kemudian merebahkan tu buhnya di sana dalam keadaan yang masih gelap.
Selimut yang berada di dekat kakinya tiba-tiba ter*ngkat dan membentang luas, lalu jatuh menutupi sebagian tubuhnya.
Beberapa saat kemudian, semuanya tampak normal. Lampu kamar kembali menyala, angin dan asap putih yang memenuhi kamar itu sudah tidak ada lagi.
Megan menggel iat dalam tidurnya, memilih posisi miring dan semakin terlelap di dalam tidurnya.
***
Pagi datang dengan lembut, membuka tirai malam dan mengusir kegelapan. Sinar matahari pertama menerobos celah awan, menyinari dunia dengan cahaya emas. Udara segar pagi memenuhi paru-paru, menjanjikan hari yang penuh semangat dan harapan.
Megan saat ini mulai menggeliat pelan sembari merentangkan kedua tangannya sembari menguap kecil.
Netranya masih terpej*m, tetapi beberapa saat kemudian dengan perlahan terbuka. Kemudian, tatapannya tertuju menatap langit-langit kamar sembari termenung selama beberapa saat.
Setelah 60 detik kemudian, dia pun membawa tubuhnya untuk bangkit dan menurunkan kakinya dari ranjang empuknya.
Namun, ketika tidak sengaja melihat ke arah meja belajar, dia baru menyadari bahwa semalam dia tertidur di meja belajar.
“Kenapa aku bisa tidur di r*njang?” gumamnya. Otaknya berusaha berpikir dengan keras dan berusaha untuk mengingat-ingat tentang semalam, tetapi bagaimanapun, dia sama sekali tidak ingat apa-apa, dan dia juga tidak ingat sudah berpindah.
“Apakah aku berjalan sembari tidur? Atau karena sudah mengantuk aku tidak sadar berjalan ke ranjang.” dia kembali bergumam, tetapi detik berikutnya dia menganggukkan kepalanya.
Dia membenarkan bahwa dia memang berjalan sendiri, karena hanya itulah kemungkinan yang terjadi.
Dengan langkah yang tegas, dia segera beranjak dari ranjang dan menuju kamar mandi. Tangannya dengan hati-hati melepaskan bathrobe yang masih rapi melingkari tubuhnya, memperlihatkan kulit yang terpapar udara segar.
Dia berdiri di bawah pancuran shower, membiarkan air mengalir dengan lembut di atas tubuhnya. Mengambil sabun dan shampoo, dengan cermat mengoleskannya ke telapak tangannya dan mulai menggosok sabun di seluruh tubuhnya, menciptakan busa yang harum dan lembut.
Tidak ingin meninggalkan sisa-sisa busa di tubuhnya, dia kembali menempatkan tubuhnya di bawah pancuran shower, membiarkan air mengalir dengan deras. Kedua tangannya terangkat, memijat lembut kepalanya untuk membersihkan sisa shampoo yang masih terdapat di rambutnya, mengalir bersama air.
Kedua matanya terpejam. Tangannya masih setia dengan aktivitasnya di bawah guyuran air shower. Namun, detik berikutnya dia mer*sakan sesuatu meny*ntuh d*danya.
Hal itu membuatnya segera membuka mata, tetapi matanya terasa perih karena busa shampoo sehingga dia tidak melihat dengan jelas. Akan tetapi, dia masih merasakan pij*tan pada d*danya.
Dia dengan segera mengus*p matanya dan mematikan shower. Membawa pandangan ke arah d*danya dengan perasaan horor, tetapi setelah melihat dadanya, ternyata hal itu disebabkan oleh busa yang mengalir di kedua g*nung kemb*rnya.
Meskipun dia sebelumnya merasakan rem*san yang jelas, tetapi dia tidak ingin berpikiran lain dan dia juga tidak terlalu percaya dengan hal-hal horor. Terlebih, dia sudah melihat sendiri bahwa ada busa yang mengalir. Membuatnya semakin yakin bahwa itu terjadi karena busa tersebut.
Dia segera menyelesaikan acara m*ndinya, kemudian keluar dari kamar mandi dan langsung bersiap-siap.
Setelah menyelesaikan semuanya, dia pun keluar dari kamarnya sembari membawa tas dan kunci mobil. Dia sengaja tidak sarapan di rumah karena ingin sarapan di luar.
***
Pada siang harinya, Megan mendapatkan telepon dari kekasih hatinya. Sangat kebetulan sekali kelasnya sudah bubar dan dia hendak pulang ke rumah.
Dia segera menggeser tanda hijau pada layar ponsel, kemudian mendekatkan benda pipih itu ke telinganya.
“Ya, Jae,” sapanya kepada sang kekasih yang bernama Ahn Jae, sebelah tangannya memasukkan iPad-nya ke dalam tas.
“ …. “
Megan langsung menghentikan kegiatannya. Senyuman ceria langsung terukir di bibirnya. “Benarkah? Kamu benar-benar berada di Belgia? Kenapa tidak mengabariku terlebih dahulu?” tanyanya dengan penuh bahagia.
“ …. “
“Iya, aku rasa ponselku bermasalah, tapi setelah diperiksa, malah tidak ada kesalahan apa-apa,” jawabnya.
“ …. “
“Baiklah. Aku akan segera ke sana,” ucapnya. Kemudian dia mengakhiri sambungan telepon tersebut.
“Apakah kekasihmu berada di sini sekarang?” tanya Rose yang tersenyum penuh arti, seakan tengah meledek Megan yang sebentar lagi akan bertemu dengan kekasihnya.
“Iya. Aku akan segera menjemputnya ke hotel. Bye!” Megan segera berdiri dari duduknya, menyambar tas miliknya, kemudian keluar dari ruangan itu.
Megan mengendarai mobilnya ke salah satu hotel yang disebutkan oleh kekasihnya. Membutuhkan waktu selama beberapa menit, akhirnya dia sampai di hotel tersebut.
Dia kembali merogoh ponselnya yang saat ini tidak ada kendala apa-apa, kemudian mengirimkan sebuah pesan singkat kepada kekasihnya, menyatakan bahwa dia sudah sampai di depan hotel yang ditempati oleh kekasih hatinya itu.
[Baiklah. Aku sudah di lobby. Aku akan segera keluar.] balas pesan tersebut.
Megan menunggu dengan sabar, sehingga seorang pria tampan yang sudah sangat dia rindukan keluar dari hotel sembari menyeret koper.
Senyuman seketika mengambang di bibirnya, dia pun keluar dari mobilnya dan berlari menghampiri pria itu yang langsung disambut oleh pelukan hangat dari pria tersebut.
“Aku merindukanmu,” ucapnya. Suaranya teredam oleh dada bidang Jae karena wajahnya berada pada bidang tersebut.
“Aku juga merindukanmu,” jawab Jae membalas membalas p3lukan Megan.
Cukup lama mereka berpelukan dan saling menumpahkan rindu, mereka pun melepaskan pelukan tersebut.
Tangan Jae langsung mengacak rambut Megan sembari tersenyum lebar. “Aku tidak menyangka kau berada seorang diri di sini,” ucapnya.
“Sudah aku katakan, aku bisa. Lagipula Uncleku juga ada di sini,” jawab Megan. Memperbaiki rambut yang sudah bersusah payah dia tata.
“Baiklah. Ayo pergi dari sini. Aku sekalian membawa barangku, karena aku lebih ingin tinggal bersamamu selama aku di sini, daripada di hotel,” ujar Jae.
Tangannya mer3ngkuh pingg*ng Megan, sedangkan sebelah tangannya menyeret kopernya menuju mobil Megan. Kemudian, dia memasukkan kopernya ke dalam mobil, lalu menempati kursi kemudi dan Megan duduk di sampingnya.
Namun, sebelum mengendarai mobil tersebut, dia menarik t3ngk*k Megan dan melu-m4t bi-bir Megan.
Judul : HANTU TAMPAN PENGHUNI RUMAH KOSONG
Penulis : SecretZR
Baca selengkapnya di aplikasi Dreame/Innovel ✅