27/02/2026
Tragedi Ical Ferizal adalah tamparan keras bahwa bernaung di bawah atap yang sama dan memiliki ikatan darah tidak otomatis menciptakan sebuah "rumah". Kasus ini memperlihatkan betapa mengerikannya ketika ruang komunikasi dalam sebuah keluarga benar-benar mati‼️
Monster yang paling menakutkan seringkali tidak datang dari luar, melainkan lahir dan dibesarkan oleh keheningan panjang di ruang keluarga serta perasaan diabaikan yang dibiarkan membusuk di dada seorang remaja. Di balik pintu sebuah rumah di Jalan Perjuangan No. 22, Tanjung Rejo, Medan, tersimpan sebuah tragedi kelam yang mengguncang publik pada akhir tahun 1998.
Ini bukanlah kisah tentang perampokan atau serangan dari orang asing. Ini adalah kisah tragis tentang disfungsi keluarga, keheningan yang mematikan, dan seorang anak bungsu yang mengubah rumahnya menjadi ladang pembantaian. Namanya Muhammad Ferizal Batubara, akrab disapa Eri atau Ical.
1. Sosok di Balik Tragedi: Sang Anak Bungsu yang "Lugu" Pada saat peristiwa berdarah itu terjadi hingga masa persidangannya di awal 1999, Ical baru berusia 18 tahun dan masih berstatus sebagai siswa kelas 3 SMU. Jika melihatnya sekilas, tidak ada yang menyangka ia mampu melakukan kekejian luar biasa.
Catatan jurnalis yang meliput persidangannya menggambarkan Ical memiliki perawakan yang sangat normal. Pengunjung sidang bahkan menyebutnya memiliki wajah yang "lugu dan ganteng." Ical adalah anak bungsu di keluarga terpandang pasangan Dr. Arsyad Batubara (61) dan Delviarina Siregar (46).
Namun, di balik status sosial dan dinding rumah mereka, Ical menyimpan bara konflik yang perlahan membakar kewarasannya. 2. Akar Retak di Dalam Rumah: Keterasingan dan Pengekangan Tindakan Ical bukanlah ledakan emosi sesaat. Analisis kriminologi menyimpulkan bahwa kejahatan ini adalah hasil dari akumulasi masalah internal yang sudah lama mengakar.
Akar paling dasar adalah ketiadaan harmonisasi. Ical merasa "dianaktirikan" dan mendapat perlakuan diskriminatif dari orang tuanya dibandingkan dengan kakak-kakaknya. Rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung justru terasa seperti penjara yang menekan. Selain merasa diabaikan secara emosional, Ical juga merasa ruang geraknya dikekang. Keluarganya dinilai terlalu jauh mencampuri pergaulannya di luar rumah.
Sayangnya, Ical adalah sosok remaja yang tertutup. Kurangnya kemampuan bersosialisasi dan minimnya bimbingan moral membuatnya tidak memiliki saluran yang sehat untuk meluapkan stres. Ia cenderung memendam semuanya sendiri dan mengambil kesimpulan secara sepihak (distorsi kognitif). 3. Sumbu yang Menyala: Kandasnya Sebuah Asmara Jika disfungsi keluarga adalah bom waktu, maka krisis asmara di bulan Agustus 1998 adalah sumbu yang menyalakannya. Ical mengalami patah hati berat setelah hubungannya dengan sang kekasih, Poppy, kandas.
Bagi Ical yang merasa terasing di rumahnya sendiri, kehilangan sosok kekasih adalah pukulan telak. Di sinilah letak fatalnya pemikiran Ical: ia mengkambinghitamkan keluarganya secara penuh. Ia meyakini bahwa intervensi dan larangan dari orang tua serta kakak-kakaknya adalah penyebab utama Poppy meninggalkannya. Rasa frustrasi dan depresi itu perlahan bermutasi menjadi dendam kesumat yang terencana dengan sangat dingin. 4. Malam Eksekusi yang Senyap Dendam itu akhirnya mencapai puncaknya. Ical tidak bertindak spontan; ia merencanakannya.
Di dalam rumah mereka sendiri, Ical mengeksekusi enam anggota keluarga kandungnya secara berurutan: - Dr. Arsyad Batubara (Ayah kandung) - Delviarina Siregar (Ibu kandung) - Gun Chaled (Kakak) - Fitrisna (Kakak) - Vini Quita (Kakak) - Vidi Tinti (Kakak) Dari seluruh anak di keluarga tersebut, hanya satu yang selamat, yakni kakak perempuannya yang bernama Vita Junia (27 tahun). Ia selamat murni karena kebetulan sedang tidak berada di rumah pada malam jahanam tersebut.