03/01/2026
Ada cinta yang tidak selalu disambut tepuk tangan. Ada kasih yang lahir bukan dari restu manusia, tetapi dari kesungguhan hati yang memilih untuk tetap tinggal—meski badai terus datang silih berganti.
Bayangkan seorang lelaki yang berdiri tegak, bukan karena ia tak pernah jatuh, tapi karena ia memilih untuk bangkit demi perempuan yang ia cintai. Bukan cinta yang manis di tepi pantai, bukan cinta yang dihiasi karangan bunga, melainkan cinta yang harus melewati duri, penolakan, air mata, dan tatapan yang sering kali tidak ramah.
Namun ia tetap berkata dalam hatinya,
“Kalau aku memilih dia, maka aku memilih untuk menjaga hatinya… seumur hidupku.”
Dan perempuan itu pun bukan tanpa luka. Ia pernah berdiri di persimpangan—antara cinta dan air mata. Antara bertahan atau pergi. Tetapi ia memilih percaya. Percaya pada laki-laki yang tak pernah berjanji muluk-muluk… hanya berjanji untuk setia.
Hari demi hari berlalu. Dunia mungkin tak melihat prosesnya. Dunia hanya melihat permukaannya. Tapi di balik pintu rumah yang sederhana itu, cinta perlahan tumbuh… bukan dari kata-kata, tapi dari tindakan.
Ia bekerja keras tanpa banyak bicara. Dan ketika orang bertanya apa buktinya ia mencintai istrinya, ia tidak menunjukkannya dengan kalimat indah… melainkan dengan satu keputusan besar:
Semua yang ia miliki, ia hadiahkan atas nama istrinya.
Bukan karena ia tak butuh. Bukan karena ia tak sayang pada dirinya sendiri. Tapi karena ia ingin istrinya merasa aman, merasa dihargai, merasa ditempatkan di tempat terhormat.
Karena baginya, cinta bukan tentang aku, tapi tentang kita.
Bukan tentang siapa yang paling benar, tapi siapa yang paling tulus bertahan.
Dan di suatu malam yang tenang, perempuan itu menangis dalam sujudnya. Bukan karena sedih… tapi karena haru. Ia pernah merasa sendirian. Pernah merasa tidak diinginkan. Tapi kini ada seseorang yang menggenggamnya erat, seolah berkata,
“Aku di sini. Kamu tidak sendirian lagi.”
Cinta itu sederhana.
Tidak butuh tepuk tangan.
Tidak perlu diakui dunia.
Selama dua hati masih saling menjaga, saling menguatkan, dan saling memuliakan… di situlah cinta menemukan rumahnya.
Dan kita belajar satu hal:
🫶 Cinta sejati tidak selalu lahir dari restu manusia, tapi selalu tumbuh dari hati yang tulus dan penuh keberanian.
Semoga siapa pun yang sedang memperjuangkan cinta yang baik… dikuatkan hatinya, dilapangkan jalannya, dan dipertemukan dengan bahagia yang menenangkan 🤍✨