17/07/2025
Senja merambat pelan dibalik jendela rumah kecil itu. Cahaya jingga menyapu lantai kayu yang sudah mulai lapuk, seperti menyentuh luka lama yang belum sembuh.
Dikursi rotan tua,duduklah Anita , seorang wanita berusia dua puluh delapan tahun, memeluk secangkir teh yang yang sudah dingin. matanya kosong menatap langit,seolah mencari jawaban yang tak pernah datang.
"Mas Danu sudah sepuluh tahun pergi tanpa kabar, bahkan kepergiannya bukan karena kematian, pergi melukai aku kenapa aku masih mengharapkan kembali", Bisik Anita dalam heningnya
Tiga bulan lalu, hidupnya berubah. Danu suaminya selama sepuluh tahun,pergi bukan karena kematian,bukan karena takdir, tapi karena wanita lain yang dia pilih.
Seorang wanita muda bernama Clara, yang katanya membuat Danu merasa "hidup kembali ".
Anita tak menangis saat Danu pergi mengucapkan kata perpisahan. Ia hanya diam seperti batu karang yang diterpa ombak. Tapi malam itu , saat semua orang tidur , ia menangis dalam diam. bukan karena Danu pergi , tapi karena janji yang dulu mereka ukir bersama kini tinggal kenangan.
Hari-hari berlalu. Anita belajar berdiri sendiri. Ia membuka kembali usaha menjahitnya yang dulu sempat dia tinggalkan demi berbakti pada Danu. Setiap helai kain yang Ia jahit , seolah menambal luka dihatinya. Tetangga mulai datang, memesan baju dan perlahan senyum kembali menghiasi wajahnya.
Suatu sore saat akan menutup kedai jahitnya, Clara datang. Ia berdiri didepan pintu, wajahnya pucat.
Danu meninggalkan saya", katanya lirih
Anita menatapnya, tak ada amarah, hanya iba. Ia mengajak Clara masuk , menyuguhkan teh, dan mendengarkan cerita yang dulu mungkin ia tak sanggup dengar.
Diakhir pertemuan, Anita Berkata ," Cinta yang dibangun diatas luka orang lain, tak akan pernah utuh."
Clara menangis . Anita tak membalas dengan dendam, hanya dengan keikhlasan. Ia tahu , luka tak selalu harus dibalas luka.
Kadang cukup dengan menjadi kuat.
Senja kembali datang. Anita duduk di kursi rotan, kali ini dengan senyum kecil. Ia tahu hidup tak berhenti karena seseorang pergi. Ia terus berjalan, dan ia memilih untuk berjalan dengan kepala tegak.