Ndoro Djimat

Ndoro Djimat Penghuni Gang Keramat Espedisi - Penelusuran Mitos - Perburuan Misteri - Menapak Jejak Sejarah - Menghayati Makna Tradisi dan Kearifan Budaya

10/01/2026

Ratu Pandansari (Retno Dumilah).

Perempuan Pejuang Jawa Abad ke-17 dalam Pusaran Politik Mataram dan VOC
Ratu Pandansari, yang dalam sumber sejarah juga dikenal sebagai Ratu Retno Dumilah, adalah salah satu tokoh perempuan paling menonjol dalam sejarah Jawa awal abad ke-17. Ia hidup pada masa Kesultanan Mataram di bawah Sultan Agung Hanyokrokusumo, sebuah periode ekspansi militer besar-besaran yang mengubah peta politik Jawa.

Latar Belakang Keluarga dan Kedudukan.

Ratu Pandansari adalah putri Adipati Pragola II, penguasa Kadipaten Pati, salah satu daerah pesisir utara Jawa yang kaya dan strategis. Pati memiliki kekuatan ekonomi dan militer sendiri, sehingga tidak sepenuhnya tunduk pada Mataram.

Sejak awal, Kadipaten Pati kerap berada dalam hubungan tegang dengan Mataram, terutama karena Sultan Agung berusaha menyatukan seluruh Jawa di bawah kekuasaannya.

Perempuan Pemimpin Militer
Setelah Adipati Pragola II gugur dalam konflik dengan Mataram, Ratu Pandansari tidak mengambil posisi pasif sebagaimana stereotip perempuan pada zamannya. Sebaliknya, ia:
Mengambil alih kepemimpinan perlawanan Pati
Mengatur pertahanan wilayah
Mengobarkan semangat perlawanan terhadap dominasi Mataram.

Catatan babad dan tradisi lisan Jawa menggambarkan Ratu Pandansari sebagai perempuan cerdas, tegas, dan berani, bahkan terjun langsung dalam pengambilan keputusan strategis.

Ini menunjukkan bahwa dalam budaya politik Jawa lama, perempuan bangsawan dapat berperan aktif dalam urusan negara dan militer, terutama saat krisis.

Hubungan dengan VOC: Bukan Sekadar “Sekutu”
Perlu diluruskan secara historis:
Ratu Pandansari bukan pemimpin perlawanan langsung terhadap VOC, melainkan tokoh yang hidup di masa ketika VOC mulai ikut campur dalam konflik antar-kekuatan Jawa.

Dalam situasi terdesak menghadapi Mataram, beberapa penguasa pesisir (termasuk di wilayah Pati dan sekitarnya) menjalin komunikasi atau hubungan taktis dengan VOC. Bagi VOC, konflik internal Jawa adalah peluang politik dan ekonomi.
Artinya:
VOC bukan musuh utama Ratu Pandansari
VOC lebih berperan sebagai kekuatan asing yang memanfaatkan konflik
Hubungan bersifat pragmatis dan situasional, bukan ideologis
Narasi bahwa Ratu Pandansari “memimpin perlawanan terhadap VOC” adalah penyederhanaan modern yang tidak sepenuhnya sesuai konteks abad ke-17.

Penaklukan oleh Sultan Agung
Pada akhirnya, kekuatan militer Mataram yang sangat besar membuat Pati tak mampu bertahan lama. Ratu Pandansari berhasil ditundukkan dan dibawa ke Mataram.

Namun di sinilah letak keunikan sejarah: Sultan Agung tidak menghukum atau menyingkirkannya, melainkan justru:
Menghormati keberanian dan kepemimpinannya
Menjadikannya istri, sebuah langkah politik sekaligus simbol penyatuan
Dalam tradisi Jawa, pernikahan semacam ini bukan sekadar relasi pribadi, tetapi alat legitimasi dan rekonsiliasi kekuasaan.

Makna Sejarah Ratu Pandansari
Ratu Pandansari penting bukan karena ia “menang perang”, tetapi karena:
Ia membuktikan perempuan Jawa memiliki agensi politik dan militer
Ia menjadi simbol perlawanan daerah terhadap sentralisasi kekuasaan
Kisahnya menunjukkan bahwa sejarah Jawa tidak hitam-putih antara “penjajah vs pribumi”, melainkan penuh negosiasi kekuasaan.
Ia hidup di masa transisi ketika VOC mulai masuk, tapi belum dominan.

Ratu Pandansari adalah:
Perempuan bangsawan
Pemimpin perlawanan lokal
Tokoh politik dan militer
Simbol keberanian dan kecerdasan perempuan Jawa
Ia bukan mitos, bukan p**a tokoh romantis belaka, melainkan figur nyata yang tercatat dalam tradisi sejarah Jawa sebagai bagian penting dari dinamika Mataram Islam awal

09/01/2026

Tumenggung Wiraguna.

Panglima Perang Sultan Agung
Tumenggung Wiraguna adalah panglima utama Mataram dalam ekspansi militer. Ia menjadi wajah kekuatan bersenjata Mataram yang disiplin dan terorganisir.

07/01/2026

Sultan Agung Hanyokrokusumo
Puncak Kejayaan Mataram Islam
Sultan Agung adalah raja terbesar Mataram. Ia menyatukan hampir seluruh Jawa, mereformasi kalender Jawa-Islam, dan menantang VOC. Sultan Agung memadukan kekuasaan militer, spiritual, dan budaya dengan sangat kuat.
Ia menjadikan Mataram bukan hanya kerajaan, tetapi peradaban Jawa Islam yang utuh.

06/01/2026

Panembahan Seda ing Krapyak
Penerus yang Menguatkan Struktur Kerajaan.

Putra Panembahan Senapati ini memperkuat struktur pemerintahan dan memperluas pengaruh Mataram. Ia melanjutkan ekspansi dengan lebih sistematis, meski masa pemerintahannya relatif singkat.
Namanya “Seda ing Krapyak” mencerminkan akhir hidupnya yang penuh simbol babad, menandai kerasnya perjuangan mempertahankan kerajaan muda.

05/01/2026

Ki Juru Martani.

Negarawan Sunyi dan Otak Strategi Mataram
Ki Juru Martani adalah penasehat utama Panembahan Senapati. Ia bukan panglima perang, melainkan perancang strategi politik, diplomasi, dan konsolidasi kekuasaan. Banyak keputusan besar Mataram diyakini lahir dari pemikiran Juru Martani.
Ia mewakili tradisi Jawa bahwa kebijaksanaan lebih utama daripada kekuatan senjata. Perannya jarang disorot, tetapi sangat menentukan stabilitas awal Mataram.

04/01/2026

Ki Ageng Pemanahan
Bapak Mataram dan Penata Wilayah Perdikan.

Ki Ageng Pemanahan adalah tokoh kunci sebelum berdirinya Mataram. Sebagai tokoh kepercayaan Sultan Hadiwijaya, ia menerima wilayah Mataram sebagai tanah perdikan. Dari sinilah fondasi sosial, ekonomi, dan spiritual Mataram dibangun.
Pemanahan dikenal sebagai pemimpin rendah hati, berwatak petani–resí, yang mampu menyatukan masyarakat desa dan bangsawan. Ia menyiapkan lahan bukan hanya secara fisik, tetapi juga batiniah bagi lahirnya kerajaan besar.

02/01/2026

Panembahan Senapati.
Pendiri Mataram Islam dan Arsitek Kekuasaan Pedalaman
Panembahan Senapati adalah pendiri Mataram Islam yang berhasil memindahkan pusat kekuasaan Jawa dari pesisir ke pedalaman. Berasal dari trah Ki Ageng Selo, Senapati membawa warisan laku batin Jawa yang kuat. Dalam babad, ia digambarkan menjalani tapa dan mendapatkan legitimasi kosmis, termasuk pertemuannya dengan Ratu Kidul—sebuah simbol penyatuan kekuasaan darat dan laut.

Secara politik, Senapati cerdas membaca kelemahan Pajang dan membangun Mataram secara bertahap, melalui loyalitas elite lokal dan kekuatan spiritual. Mataram lahir bukan sebagai kerajaan dagang, melainkan kerajaan agraris–mistis, sangat Jawa dalam wataknya.

02/01/2026

Ki Ageng Selo
Figur Legendaris dalam Jejaring Spiritual Pengging.

Ki Ageng Selo lebih dikenal sebagai tokoh legendaris penangkap petir dari wilayah Grobogan. Namun dalam konteks Pengging, ia sering ditempatkan sebagai bagian dari jejaring spiritual dan bangsawan Jawa pedalaman yang memiliki hubungan kultural dan laku batin serupa. Ia bukan tokoh Pengging secara administratif, tetapi berada dalam satu napas tradisi.
Ki Ageng Selo hidup pada masa ketika pusat kekuasaan Jawa mengalami pergeseran besar. Di tengah ketidakpastian politik, tokoh-tokoh spiritual seperti dirinya menjadi penjaga stabilitas batin masyarakat. Pengging, sebagai pusat laku dan pendidikan elite, memiliki hubungan erat dengan figur-figur semacam ini.

Legenda menangkap petir tidak semata-mata dipahami secara harfiah. Dalam simbolisme Jawa, petir melambangkan kekuatan liar zaman, perubahan mendadak, dan gejolak kosmik. Kisah Ki Ageng Selo “menangkap petir” dapat dibaca sebagai kemampuan mengendalikan gejolak perubahan, sebuah kualitas yang sangat dibutuhkan pada masa transisi Majapahit ke Jawa Islam.

Dalam jejaring Pengging, tokoh seperti Ki Ageng Selo diposisikan sebagai peneguh spiritual, bukan penguasa politik. Ia menjadi rujukan laku batin bagi bangsawan dan calon pemimpin, memastikan bahwa kekuasaan tidak berjalan tanpa kendali diri.
Keterkaitan Ki Ageng Selo dengan trah Mataram—sebagai leluhur Panembahan Senapati—juga menunjukkan kesinambungan nilai Pengging ke kerajaan-kerajaan berikutnya. Spirit pengendalian diri, kesabaran, dan keselarasan kosmis menjadi fondasi kepemimpinan Mataram.
Dengan demikian, meskipun Ki Ageng Selo sering ditempatkan dalam wilayah legenda, perannya dalam sejarah Jawa tidak bisa diabaikan. Ia adalah penjaga dimensi batin dari perubahan besar yang berlangsung di dunia lahiriah.








29/12/2025

Raden Patah (Versi Pengging)
Putra Bangsawan Jawa dan Awal Legitimasi Demak.

Raden Patah adalah tokoh yang menandai perubahan paling besar dalam sejarah Jawa: lahirnya kekuasaan Islam pertama yang mapan. Namun asal-usulnya tidak pernah tunggal. Dalam versi Pengging, Raden Patah tidak dipahami sebagai figur “asing” atau semata-mata pendatang, melainkan sebagai kelanjutan darah bangsawan Jawa lama yang berakar pada trah Majapahit–Pengging.

Tradisi Pengging menyebut bahwa Raden Patah memiliki hubungan darah langsung dengan Ki Ageng Kebokenanga dan jaringan bangsawan Pengging. Dengan demikian, Islamisasi Jawa tidak datang sebagai kekuatan luar yang merobohkan tatanan lama, tetapi sebagai transformasi dari dalam, melalui garis keturunan yang sudah diterima secara sosial dan budaya oleh masyarakat Jawa.

Narasi ini penting karena menjelaskan mengapa Demak dapat diterima luas oleh elite pedalaman. Jika Raden Patah hanya dipahami sebagai tokoh asing atau sepenuhnya “luar Jawa”, maka penerimaan cepat terhadap Demak menjadi sulit dijelaskan. Versi Pengging justru memberi kunci: Demak adalah pewaris sah Jawa, bukan pemutusnya.

Dalam konteks budaya Jawa, legitimasi kekuasaan sangat bergantung pada trah, restu spiritual, dan kesinambungan nilai. Raden Patah, dalam versi ini, mewarisi bukan hanya darah bangsawan, tetapi juga laku batin Pengging—kesederhanaan, keheningan, dan keseimbangan antara agama dan adat. Karena itu, Islam Demak tampil moderat, adaptif, dan tidak konfrontatif terhadap budaya lokal.
Secara politik, posisi Raden Patah juga mencerminkan strategi baru elite Jawa. Jika Majapahit runtuh karena konflik internal dan ketegangan pusat–daerah, maka Demak hadir dengan model kepemimpinan yang lebih cair: menggabungkan kekuatan santri, bangsawan lama, dan jaringan dagang pesisir.

Historiografi modern sering memisahkan Raden Patah dari Pengging, namun dalam babad Jawa, keterkaitan ini justru sangat kuat. Pengabaian terhadap versi Pengging sering kali bukan karena lemah, melainkan karena tidak cocok dengan kerangka sejarah kolonial yang cenderung menekankan diskontinuitas.
Dengan membaca Raden Patah dari sudut Pengging, kita melihat Demak bukan sebagai “kerajaan baru yang asing”, melainkan sebagai kelanjutan ruh Jawa yang menemukan bentuk baru sesuai zamannya.








28/12/2025

Ki Ageng Kebokenanga
Simpul Darah Pengging, Demak, dan Legitimasi Jawa Baru.

Ki Ageng Kebokenanga adalah salah satu tokoh paling strategis dalam narasi sejarah Jawa, meskipun namanya sering muncul samar dan terpecah dalam berbagai versi babad. Dalam tradisi Pengging, ia dipandang sebagai lanjutan trah bangsawan Kebo Kenanga, sekaligus figur yang membawa darah Pengging memasuki babak baru sejarah Jawa Islam.
Nama “Kebokenanga” sendiri mengandung makna simbolik. Kebo melambangkan kekuatan bumi dan keteguhan laku, sementara kenanga adalah bunga wangi yang sering diasosiasikan dengan kehalusan batin dan dunia spiritual. Ini mencerminkan karakter Ki Ageng Kebokenanga sebagai tokoh yang tidak menonjolkan kekuasaan lahiriah, tetapi memiliki pengaruh dalam jaringan elite dan spiritual.
Dalam beberapa versi tradisi lisan dan babad, Ki Ageng Kebokenanga disebut sebagai ayah atau leluhur langsung Raden Patah. Versi ini penting karena memberikan legitimasi Jawa kepada Kesultanan Demak, bukan semata-mata legitimasi asing. Dengan demikian, Demak dapat dipahami bukan sebagai kekuasaan yang memutus sejarah Jawa, melainkan sebagai kelanjutan trah bangsawan.

Majapahit–Pengging dalam bentuk baru.

Peran Ki Ageng Kebokenanga tampaknya lebih banyak dimainkan di balik layar. Ia tidak dikenal sebagai pendiri kerajaan atau pemimpin perang, tetapi sebagai penjaga garis keturunan dan jaringan sosial. Dalam budaya Jawa, peran semacam ini justru sangat menentukan, karena legitimasi kekuasaan tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer, melainkan oleh darah, restu spiritual, dan penerimaan budaya.

Ki Ageng Kebokenanga juga sering dikaitkan dengan lingkungan santri awal dan tokoh-tokoh Islam Jawa generasi pertama. Namun, seperti tokoh Pengging lainnya, pendekatannya bersifat sinkretik dan kontekstual. Islam diterima tanpa menafikan adat dan tata nilai Jawa lama, sehingga perubahan berlangsung relatif damai.

Secara historiografi modern, sosok Ki Ageng Kebokenanga kerap diperdebatkan karena keterbatasan sumber tertulis. Namun justru di sinilah letak signifikansinya: ia menunjukkan bahwa sejarah Jawa tidak hanya ditulis oleh prasasti dan kronik istana, tetapi juga oleh ingatan kolektif, silsilah, dan tradisi tutur yang hidup di masyarakat.
Ki Ageng Kebokenanga dapat dipandang sebagai penyambung darah dan makna, pengikat antara Pengging yang redup, Demak yang bangkit, dan Jawa yang sedang menemukan wajah barunya.








27/12/2025

Ki Ageng Pengging.

Bangsawan–Resi Penghubung Majapahit dan Jawa Islam
Ki Ageng Pengging adalah figur kunci dalam sejarah Jawa karena posisinya berada tepat di titik peralihan besar peradaban: dari Jawa Hindu-Buddha Majapahit menuju Jawa Islam. Ia bukan raja besar dengan prasasti, tetapi justru tokoh yang pengaruhnya terasa panjang karena perannya sebagai bangsawan spiritual, guru laku, dan penjaga kesinambungan nilai.

Sebagai putra dari Kebo Kenanga, Ki Ageng Pengging mewarisi darah bangsawan lama yang telah ditempa oleh konflik dengan Majapahit.

Berbeda dengan ayahnya yang memilih jalur politik terbuka, Ki Ageng Pengging menempuh jalan yang lebih halus dan dalam: jalan spiritual dan kultural. Pilihan ini mencerminkan perubahan strategi elite Jawa saat pusat kekuasaan lama tidak lagi stabil.
Dalam berbagai babad, Ki Ageng Pengging digambarkan sebagai tokoh yang tekun bertapa, menguasai ilmu kebatinan, dan menjadi tempat berguru banyak tokoh muda. Pengging di masanya berkembang bukan sebagai pusat militer, melainkan pusat laku spiritual dan pendidikan elite, tempat nilai lama dan ajaran baru bertemu tanpa benturan keras.

Peran terpenting Ki Ageng Pengging adalah sebagai jembatan kultural. Ia tidak memutus hubungan dengan tradisi Hindu-Buddha Jawa, tetapi membuka ruang bagi masuknya Islam secara perlahan, berlapis, dan kontekstual. Inilah pola khas Islamisasi Jawa: tidak meruntuhkan, melainkan menyerap dan mengolah.
Dari lingkungan Ki Ageng Pengging inilah lahir Jaka Tingkir, tokoh yang kelak menjadi Sultan Pajang. Dengan demikian, meskipun Ki Ageng Pengging tidak mendirikan kerajaan besar, ia adalah arsitek tak kasatmata dari lahirnya kekuasaan Islam Jawa di pedalaman.

Secara historiografi, Ki Ageng Pengging sering tersisih karena tidak meninggalkan prasasti atau monumen besar. Namun dalam tradisi Jawa, tokoh seperti inilah yang disebut wong waskitha—orang bijak yang menggerakkan sejarah dari balik tirai. Tanpa memahami peran Ki Ageng Pengging, sejarah Jawa akan tampak seolah terputus, padahal sesungguhnya ia mengalir halus dan berkesinambungan.
Ki Ageng Pengging bukan tokoh pinggiran, melainkan penjaga inti nilai Jawa di masa perubahan.








Address

Jalan Gang Keramat
Pujon

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Ndoro Djimat posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Ndoro Djimat:

Share

Category