Dwi Lestari Zulkarnain

Dwi Lestari Zulkarnain Bismillahirrahmanirrahim, Insya Allah berisi konten Islami berupa quote, tahsin tilawah, video Ai tilawah. Jika tidak, skip tanpa menghujat. ❤️

Semoga bermanfaat🥰 Jika suka: like, komen, share dan subscribe.

19/05/2026

Akun ini, lama banget kagak aku jenguk.

Jaman semono sedurunge ono FB Proo, akun ini selalu ramai. Tiap kali posting cerita bersambung, Alhamdulillah ada yang selalu menunggu. Sekarang? Boro boro, apa mungkin merasa rugi jika memberikan reaksi ke sesama akun?

25/04/2026

Jika rejeki seret, cek, bagaimana sikap kamu terhadap pasangan

Mertuaku berutang di bank sampai ratusan juta dengan menggunakan kartu identitasku, Tapi aku diperlakukan seperti pembok...
19/04/2026

Mertuaku berutang di bank sampai ratusan juta dengan menggunakan kartu identitasku,

Tapi aku diperlakukan seperti pembokat,

Maaf, aku pensiun jadi babu gratisan, ya.

Kalau bisa sekalian pensiun jadi menantu,

8

Tak tega dengan tingkahnya, aku pun bertanya.
"Mau sampai jam berapa kamu seperti ini, Mas? Sikapmu kekanak-kanakan. Tahu, nggak?"

Mas Hendra menatap tajam ke arahku. Matanya merah menyala menahan amarah.

"Kenapa?" tanyaku lagi.

"Kamu tahu nggak? Hari ini kamu sudah mengabaikan tugasmu sebagai istri!" kata Mas Hendra.

"Aku? Mengabaikan tugas sebagai istri?"

"Ya," jawabnya singkat.

Kutatap matanya dalam-dalam. Bukan dengan air mata, bukan p**a dengan amarah. Kalau Mas Hendra sadar, saat ini aku menatapnya penuh ejekan.

"Kamu milih lari ke orang tuamu, ketimbang melayaniku sebagai suamimu!"

"Haha, emang iya. Itu kamu sadar! Kenapa kamu masih menungguku? Kenapa kamu nggak belajar melayani dirimu sendiri?"

Lagi-lagi, lelakiku itu hendak mengandalkan kekuatan ototnya.
"Mau tampar? Mau tempeleng? Atau mau cekik leherku? Lakukan saja! Kenapa ragu," tantangku seraya membusungkan dada.

"Kalau kamu pikir kekerasan menyelesaikan masalah, dibunuh aku tak keberatan!" Aku berkata lagi dengan suara rendah dan tenang.

Kalau saja bisa lari, tentu aku memilih lari. Tapi kunci kamar ini ada di tabgan Mas Hendra. Lalu kalaupun bisa lari, ke mana tujuannya, tidak tahu. Secara tak langsung bapak dan ibu sudah mengusir. Mengirimku kembali ke kandang singa yang buas dan kelaparan.

Jadi bukankah lebih baik menantangnya?

"Arghhh, sialan!"

"Kamu tinggal bayangkan saja, Mas. Kalau aku mati di kamar ini, ke mana kau akan buang jasadku? Lagi p**a, pikirkan juga, apa nggak mungkin polisi segera menemukanmu? Lalu, ... "

"Cukup! Diam kamu!" penggal Mas Hendra dengan suara keras.

"Kenapa? Aku belum selesai! Jadi biarkan aku bicara! Selama ini aku sudah cukup diam," bantahku.

Aku mendekat ke arah lelaki yang sedang dikuasai emosi tapi tak tahu cara melampiaskannya itu.
"Dengar," ucapku lirih, tepat di daun telinganya.
"Kalau aku mati, aku beruntung. Cerita ini tamat. Riwayatku habis. Tapi Nasifa akan menjadi piatu, dan kamu menjadi buron."

Setelah membisikkan kalimat itu, aku tertawa lepas, meski tidak kencang. Menertawakan nasib diri, dan kondisi lelaki yang selalu berlindung di balik ketiak ibunya.

"Kamu gila, Arum!"

"Ya, aku memang gila, Mas! Itu semua terjadi karena ulah keluarga ini! Kalau saja minum racun langsung mati dan tidak berdosa, serta jaminannya surga, hal itu pasti sudah kulakukan jauh-jauh hari," jawabku panjang lebar, masih dengan nada mengejeknya.

"Hentikan, Arum. Hentikan!"

"Apa yang harus kuhentikan? Sedangkan aku nggak pernah memulai semuanya," bantahku lagi.

"Oke, aku ngaku salah. Aku minta maaf," kata Mas Hendra akhirnya.

Mas Hendra membuka kunci kamar, melongok keluar.
"Ayo keluar. Kita makan bersama. Walaupun hanya mie rebus," ajaknya.

"Nggak. Aku nggak lapar," jawabku menolak.

Saat Mas Hendra sudah menjauh dari kamar, aku menutup pintunya kembali dan mengancingnya dari dalam dengan grendel.

Malam ini, tak sudi aku tidur sekasur dengan Mas Hendra. Terserah, dia mau tidur di mana.

Setelah jarak satu jam kemudian, Mas Hendra mendorong pintu kamar tapi tak berhasil membukanya. Lalu ia memanggilku beberapa kali sambil mengetuk daun pintu.

Aku pura-pura tidur saja, jadi tak kujawab sama sekali, sampai dia kesal.

Sampai larut malam, aku tak bisa tidur. Dan baru kusadari bahwa ponsel tertinggal di rumah ibu. Padahal benda itu sangat vital, bagaimana bisa kok tidak kebawa.

Aku bingung. Bagaimana caranya menghubungi teman kerjaku. Motor pun di rumah bapak, karena tadi Bu Sarah memaksa untuk tidak membawanya.

Huft, kenapa pernikahan ini tidak memberi ketenangan dan ketentraman? Kenapa justru yang ada rasa sakit dan ribut yang tak berkesudahan?

"Arum! Keluar, kamu!" Teriakan Bu Sarah membelah sunyi kamar yang kutempati. Dari lubang ventilasi, memang sinar matahari sudah terang. Aku sengaja bermalas-malasan.

"Keluar, Arum! Lakukan tugasmu!" teriak Bu Sarah lagi.

Aku bangkit, membuka grendel pintu. Berdiri bersilang kaki dan tangan di dada di depan pintu.

Bu Sarah berdiri di hadapanku dengan wajah garangnya yang tampak tua, karena tak ber-make_up.

"Aku tidak tuli, Bu," ucapku pelan.

"Kenapa kamu bermalas-malasan?"

"Habis aku bingung. Mau pergi kerja, nggak punya motor," jawabku asal.

"Kenapa chat ibu nggak kamu balas? Ayo keluar! Lihat tumpukan piring di atas wastafel!"

"Maaf," kataku. Kututup kembali pintu kamar. Dan tak peduli dengan apa yang dikatakan Bu Sarah. Mau dia mengumpat, mengumbar sumpah serapah, aku tak takut lagi.

Bersambung, ...

Judul : MAAF, AKU PENSIUN JADI BABU GRATISAN
Penulis Asmarani
Akun kbm yanipurnom

Eksklusif

Mertuaku berutang di bank sampai ratusan juta dengan menggunakan kartu identitasku, Tapi aku diperlakukan seperti pembok...
18/04/2026

Mertuaku berutang di bank sampai ratusan juta dengan menggunakan kartu identitasku,

Tapi aku diperlakukan seperti pembokat,

Maaf, aku pensiun jadi babu gratisan, ya.

Kalau bisa sekalian pensiun jadi menantu,

7

Kalau saja aku tidak gesit mencengkram rem, mungkin tamat riwyat kami malam ini. Untung saja, aku sigap menarik tuas kedua rem motor yang kebetulan sehat.

Di depan sana, sebuah kecelakaan maut terjadi. Sebuah mobil menabrak beberapa kendaraan bermotor.

"Hampir saja, Arum. Kamu ngawur! Nyawa ibu hampir melayang," ucap Bu Sarah, membentakku.

Tubuhku gemetar hebat, tanganku pun sebenarnya tremor, tapi bibirku mengulas senyum penuh kemenangan.

Bukan nyawa ibu mertua saja yang hampir melayang. Nyawaku pun sudah di ujung tanduk tadi. Tapi demi membalas perbuatannya, aku berpura-pura kuat, dan seolah tak takut sedikit pun.

"Sekarang istirahat dulu, atau kalau nggak, gantian! Ibu yang di depan," ucapnya lagi. Tangan Bu Sarah mengambil alih stang sepeda motor.

Aku menarik napas halus, agar tidak ketahuan oleh Bu Sarah kalau sebenarnya gugup.
"Nggak usah. Nggak pantas, menantu sepertiku dibonceng ibu mertua yang terpandang dan terhormat," ucapku dengan penekanan nada di akhir kalimat.

Aku pun kembali mengambil alih stang motor, duduk di jok sebelah depan, dan meminta Bu Sarah untuk segera naik di belakangku.

Aku segera menarik gas pelan, setelah menghidupkan kembali mesin motor. Menyibak kerumunan orang-orang yang memenuhi lokasi kecelakaan.

"Hati-hati, Arum! Awas kalau ngebut lagi!" Bu Sarah mengancamku, tapi aku tak peduli.

Saat jalanan kembali lengang, kutarik gas dalam-dalam, sehingga motor kembali melaju kencang.

Ucapan ketakutan ibu mertua, justru menjadi pemicu adrenalin bagiku. Inilah saatnya balas dendam tipis-tipis.

"Awas Arum. Kita masih banyak utang! Kurangi kecepatan! Ibu takut, Arum," teriak Bu Sarah memelas, tapi aku cuek. Apalagi mendengar kata utang yang masih banyak, semangatku seperti terbakar untuk terus memacu kecepatan motor.

Bu Sarah melontarkan sumpah serapah yang hanya masuk kuping kanan dan keluar kuping kiri, hingga akhirnya motor berhenti di halaman sebuah bangunan kekinian tapi masih perlu polesan di sana sini.

Ya, inilah rumah Bu Sarah--ibu mertuaku alias rumah Mas Hendra--suamiku.

Turun dari motor, mertuaku terengah-engah. Napasnya putus nyambung. Ia duduk sambil memegangi dadanya.

Masuk di depan pintu, Mas Hendra menghadangku dengan rahang mengeras dan bahu yang tegang.

Sedangkan bapak mertua, hanya melihat sambil duduk di kursi rotan yang sudah mulai tampak usang.

Jadi ketika aku mengatakan bahwa Bu Sarah punya banyak utang untuk memenuhi gaya hidup, banyak orang tidak percaya. Yang mereka lihat hanyalah kesederhanaan di rumah ini.

Tapi, ketika Bu Sarah sedang berkumpul dengan ibu-ibu sosialita dari sekelas Bu Lurah, hingga Bu Camat, ia akan mengenakan banyak perhiasan yang sebagian asli emas, sebagian lain imitasi.

Jadi ke mana larinya uang yang diutang Bu Sarah?
Salah satunya untuk fashion, berganti gamis yang harganya tidak sedikit hampir setiap hari. Belum lagi, kalau hari ini dia makan ditraktir oleh teman sosialitanya, esok hari berganti dirinya yang gantian mentraktir. Tidak cuma satu orang, tapi banyak. Belasan.

Bisa dibayangkan kalau perkepala habis menu yang harganya di atas 100 ribu, kalikan jumlah orang, dan sebulan bisa 2 sampai 4 kali. Tekor, kan bandar.

Sejenak aku memperhatikan ruang tamu yang tak ada bagus-bagusnya ini, hingga sebuah tangan mencengkeram lenganku dengan kasar.

"Arum, sadar nggak kamu? Apa yang sudah kamu lakukan?" Mas Hendra bertanya dengan garang. Tangannya tak lepas dari tanganku.

"Lepas tanganku, Mas! Aku bukan kambing yang harus dihalau," kataku seraya meronta sekuat tenaga.

"Aku hanya menjadi kambing hitam di mata ibumu! Bahkan bapak dan ibuku lebih percaya pada ibumu! Puas kamu?" lirihku lagi.

Mas Hendra menyeretku ke kamar. Ia mendorong pintu dengan kasar, lalu setelah kami masuk, ia pun segera menguncinya dari dalam.

"Kamu bilang, kamu dikambinghitamkan? Kenapa sih kamu keras kepala? Apa susahnya menjadi Arumku yang penurut? Seperti yang kutahu selama ini?"

"Ya, seperti Arum yang diperbudak budaya patriarki di rumah ini! Aku capek! Mau tidur," timpalku.

Aku naik ke atas kasur. Menarik selimut, menutup kedua telinga dengan tangan, agar tak mendengar omelan suamiku.

Mas Hendra tak tinggal diam. Ia menarik selimut yang menutupi tubuhku, sehingga terjadi saling tarik menarik. Tapi akhirnya aku memilih diam, mematung tanpa kata. Mengabaikan semua ucapannya.

"Aku lapar! Masak buatku!"

"Kau punya kaki, punya tangan! Kenapa harus terus minta dilayani? Aku sudah katakan, maua tidur! Aku ngantuk!" balasku membentak.

Entah keras**an setan mana, yang ada pada diriku kini bukan lagi Arum yang begitu pasrah dan mengandalkan air mata.

Saat ini, aku justru lebih pasrah, terserah Tuhan, mau dibawa ke mana pernikahan ini. Aku sudah muak.

Mas Hendra kesal bukan main. Tangannya meninju tembok berkali-kali. Aku justru menikmati pemandangan ini sebagai sebuah hiburan. Apalagi saat melihat ia kesakitan dan wajahnya meringis.

Bersambung, ...

Judul : MAAF, AKU PENSIUN JADI BABU GRATISAN
Penulis Asmarani
Akun kbm yanipurnom

Eksklusif

Mertuaku berutang di bank sampai ratusan juta dengan menggunakan kartu identitasku, Tapi aku diperlakukan seperti pembok...
17/04/2026

Mertuaku berutang di bank sampai ratusan juta dengan menggunakan kartu identitasku,
Tapi aku diperlakukan seperti pembokat,

Maaf, aku pensiun jadi babu gratisan, ya.

Kalau bisa sekalian pensiun jadi menantu,

6

Tubuhku gemetar di dalam pelukan Bu Sarah yang sedang menjalankan akting sebagai mertua baik hati dan idaman semua menantu.

Ada amarah menggelegak di dalam dada dan ingin kulampiaskan seketika itu juga. Tapi aku tak berdaya.

"Bapak sudah menduga, Rum. Buat apa kamu berulah seperti ini? Bapak malu sekali kepada besan," ucap bapak berapi-api.

"Sudahlah, Pak Broto. Tidak mengapa. Saya memaklumi, kok. Wajar saja kalau sampai Arum berutang begitu besar, untuk menyesuaikan gaya di sirkle pergaulannya," timpal ibu mertua, yang membuat aku semakin muak. Bisa sekali dia memutar balik fakta. Dia yang bergaya hedon di sirkle pertemanannya, tapi aku yang dikenai getahnya.

Aku mati kutu saat ini. Membantah bapak, sama dengan mencari mati.

Ibu keluar dari ruang dalam membawa dua cangkir teh yang masih mengepulkan asap putih.

"Minumlah dulu, Bu Sarah. Pasti capek perjalanan dari rumah kemari," ujar ibu.

Bu Sarah mengangguk, sambil duduk dengan posisi seanggun mungkin. Pasti tujuannya untuk memperlihatkan betapa dia 'miyayi' di hadapan orang tuaku. Wanita licik ini pintar sekali bertingkah layaknya orang terpandang dan terhormat.

Setelah Bu Sarah dan bapak menyesap tehnya masing-masing, ibu pun angkat bicara.
"Kamu beruntung sekali, Arum. Punya mertua sebaik Bu Sarah. Pesan ibu, jangan ulang lagi bermain duit gede, apa pun itu alasannya," katanya.

Mulutku terbuka, hendak menjawab. Tapi kembali terkatup dan tanganku lunglai di atas meja, karena Bu Sarah sudah keburu menimpali ucapan ibu.

"Iya, Bu Broto. Saya sangat maklum. Saya juga pernah muda. Jadi untuk malam ini juga, saya akan membawa kembali Arum untuk p**ang. Saya yakin, Hendra juga pasti bisa memaafkannya," ucap Bu Sarah dengan gaya sangat sopan, sehingga siapa pun yang mendengar, pasti tak akan percaya dengan fakta yang ada.

"Silakan, Bu. Kami mengizinkannya," ucap bapak, enteng.

"Iya, Pak. Terimakasih. Maaf, saya yang terpaksa menjemput menantu kesayangan ini. Hendra masih bekerja. Banting tulang untuk membuat hidup keluarganya menjadi lebih layak," timpal Bu Sarah, semakin meyakinkan orang tuaku. Apalagi kata-katanya itu dipermanis dengan senyum palsu di bibir merahnya.

"Ehm, tapi Pak," ucapku, mencoba bernegosiasi dengan bapak.

"Apa lagi, Arum? Pulanglah! Tak baik perempuan meninggalkan kamar suami sendirian begini," sahut bapak dengan tangan melambai, seolah mengusir agar aku segera angkat kaki.

"Gimana dengan Sifa?"

"Oh, kalau soal itu, biar Sifa sementara di sini, Arum. Besok biar Hendra yang jemput. Pastinya Sifa juga ingin berlibur di tempat neneknya, bukan?" Lagi lagi, Bu Sarah menimpali dengan ucapan masuk akal dan body language yang sangat meyakinkan bapak dan ibu bahwa dia mertua tanpa cacat dan cela.

Aku sudah tak bisa apa-apa lagi, kecuali hanya menurut saja. Apalagi saat Bu Sarah kembali memeluk dan berbisik di telingaku sambil tangannya mencubit lenganku dengan cubitan kecil tapi kencang.
"Pulang malam ini juga, tidak usah menawar," katanya.

Aku mengulas senyum palsu. Sebenarnya aku ingin menjerit, menangis kalau perlu, tapi pasti itu tak akan mengubah keputusan bapak. Bisa jadi aku yang dianggap lebay.

Dengan berat hati, aku mengikuti langkah Bu Sarah yang keluar dari rumah bapak.

Di halaman sebuah motor matic berwarna hitam terparkir manis, sedang menunggu si empunya untuk kembali mengendarai.

"Aku pakai motor sendiri, Bu," ucapku dingin.

"Nggak usah. Bonceng ibu saja. Ibu nggak yakin kamu amanah! Bisa saja di jalan kamu balik lagi ke sini." Ibu menolakku, seakan tahu isi di hati ini.

"Ya elah, nggak percayaan amat," rutukku.

"Sudah, ayo! Keburu malam."

Setelah berpamitan sekadarnya dengan bapak dan ibu, aku pun menyalakan mesin motor milik Bu Sarah, dengan memboncengnya di belakang.

Motor kularikan kencang seperti orang kesetanan. Tak kupedulikan teriakan ibu mertua yang ketakutan. Salah sendiri main-main tadi di rumah. Ini hanya balasan awal, belum apa-apa.

"Arum! Kamu gila! Aku belum mau mati. Berhenti, Arum!" teriak Bu Sarah.

Aku tetap menarik tuas gas dalam-dalam, tak peduli apa pun.

"Awas di depan, Arum!" teriaknya lagi.
"Kamu membuatku jantungan," katanya kemudian.

Suara rem berdecit, beradu dengan aspal. Klakson bersahutan. Bu Sarah mencengkeram bahuku dengan sangat kencang.

Bersambung, ...

Judul : MAAF, AKU PENSIUN JADI BABU GRATISAN
Penulis : Asmarani
Akun KBM : yanipurnom

MAAF, AKU PENSIUN JADI BABU GRATISAN - Asmarani
Karena menuruti gaya hidup seperti orang kaya raya, mertuaku terjerat utang di mana-mana. Bahkan ket...

Baca selengkapnya di aplikasi KBM App. Klik link di kolkom:

Mertuaku berutang di bank sampai ratusan juta dengan menggunakan kartu identitasku, Tapi aku diperlakukan seperti pembok...
16/04/2026

Mertuaku berutang di bank sampai ratusan juta dengan menggunakan kartu identitasku,

Tapi aku diperlakukan seperti pembokat,

Maaf, aku pensiun jadi babu gratisan, ya.

Kalau bisa sekalian pensiun jadi menantu,

5

"Katakan Arum! Buat apa kamu berutang di bank sebanyak itu?"
Bapak mengetuk tangannya ke meja. Semarah apa pun beliau, tidak akan berbuat kasar kepada anaknya.

"Maaf, Pak," ucapku dengan suara lemah, dan bergetar.

"Apa kamu sedang 'yoso'? Sedang membeli sesuatu yang besar tanpa sepengetahuan bapak? Apa kamu sudah membayar sebidang tanah dengan uang itu?"

Tanganku masih menjulur di atas meja besar keluarga. Sementara ibu di belakang, menenangkan Sifa.

Aku menggeleng lemah.

"Lantas buat apa uang sebanyak itu?"

"Bu Sarah, Pak. Ibu mertuaku yang memakainya," ucapku kemudian, pelan dan lirih.

Mata bapak membola, mengintimidasi.
"Jangan coba-coba bohongi orang tuamu, Arum. Yang bapak tahu, selama ini Bu Sarah baik," kata bapak.

"Bu Sarah begitu santun. Lagi p**a dia kaya," lanjut bapak lagi.

Aku seperti di-skakmat. Yang bapak ketahui dan kenyataan yang ada jauh berbeda. Mertuaku memang bisa sekali berkamuflase.

Setiap kali datang ke rumah bapak, Bu Sarah selalu membawakan oleh-oleh, yang tentu saja dengan dibalut sikap santun, layaknya orang yang kaya sesungguhnya.

Selama ini aku merasa tak perlu mengumbar aib orang tua suamiku. Dan kini semua itu justru berdampak pada diriku sendiri.

Setiap berkunjung, ibu mertua juga tidak mengenakan perhiasan yang mencolok. Jadi wajar kalau bapak tidak percaya bahwa uang itu Bu Sarah yang memakai.

"Pak, aku, ... "

"Jangan katakan apa pun kalau tujuanmu hanya untuk memfitnah Bu Sarah," penggal bapak.

Ibu masuk menuntun Sifa. Anakku itu tampak bahagia berada di samping neneknya.

"Sifa mau mandi, Bu. Habis itu mau jalan-jalan di sekitaran rumah sama nenek," ucap Sifa saat melewatiku dan masuk ke kamar yang ada di sebelah ruangan ini.

"Iya, Nak. Jangan nakal sama nenek, ya?" ucapku.

Bapak yang duduk berseberangan denganku hanya diam saja. Sepertinya beliau sedang dikuasai emosi, sehingga sekadar menyapa cucunya pun tak dilakukan.

Aku merasa pembicaraan ini tidak akan selesai saat ini. Oleh karena itu, kutinggalkan bapak masuk ke kamar membawa koper dan tas sekolah Sifa.

Di dalam kamar, hal yang sama juga kurasakan dari ibu. Beliau pun diam tak ubahnya bapak. Mereka berdua sangat kecewa dengan ini semua. Bagaimana caranya aku menjelaskan masalah ini.

Setelah memilih baju Sifa, ibu melewatiku begitu saja.

"Bu," sapaku.

Ibu menoleh sekilas.
"Bicarakan nanti saat anakmu sudah tidur," katanya, lalu berlalu begitu saja mengejar Sifa yang sudah berjalan lebih dulu.

Aku duduk di tepi kasur, menopang kepala dengan kedua tangan. Menunduk. Dahiku terasa pening. Ibu mertua yang hedon, tapi harga diriku yang saat ini hancur lebur. Bahkan di hadapan orang tua kandung sekalipun.

Petang merambat. Suara adzan maghrib terdengar dari berbagai penjuru perkampungan, dari masjid dan mushola serta langgar yang tersebar hampir di setiap RT.

Bapak menyandang baju taqwa dan sarung tenun serta peci, lalu pergi salat berjamaah. Masih diam tanpa kata. Pamit pun tidak.

Ibu mengambil air wudhu, mengenakan mukena, mengajak Sifa melakukan hal yang sama. Aku dibiarkan bengong sendiri tanpa disapa.

Rasanya aku seperti patung bernyawa tapi tak punya suara.

Waktu terasa melambat. Aku sudah tak sabar rasanya menjelaskan kepada ibu tentang utang itu. Tapi adzan isya pun rasanya tak kunjung datang. Padahal kalau isya sudah datang, itu artinya Sifa sudah jam tidur, sehingga kesempatan menjelaskan itu segera datang.

Sampai aku diserang kantuk, Sifa belum juga tidur. Hampir aku terlelap lebih dulu, kalau saja Sifa tidak menyentuh lenganku dan mengajak ke kamar untuk menemaninya tidur.

Akhirnya, Sifa tidur juga.

"Arum, bapak menunggumu di depan. Kita bicarakan semuanya," kata ibu yang melongokkan kepala lewat pintu.

Aku beringsut dari sisi Sifa, kemudian merapikan rambut yang berantakan, lalu keluar seperti yang ibu titahkan.

Di hadapan bapak, aku kembali mematung, tidak tahu harus mengawali pembicaraan dari mana.

"Arum, kalau memang uang itu untuk 'yoso', membeli sesuatu barang besar untuk masa depan kalian, sebaiknya kamu jujur saja, Nak," ucap ibu lembut.

Aku menunduk. Rasanya sia-sia saja memberikan penjelasan untuk mereka.

"Tapi kalau memang untuk hal begitu, bapak sangat menyesalkannya Arum. Buat apa berutang begitu besar, kalau bunganya pun besar. Rasanya tidak ada untungnya. Lebih baik menabung dulu saja, kalau sudah terkumpul nanti buat beli," timpal bapak.

Mereka benar. Tapi fakta lapangan yang salah. Bagaimana bisa aku menjelaskan tanpa bukti.

Di saat tegang seperti itu, pintu ada yang mengetuk disertai salam. Dan itu suara Bu Sarah--ibu mertuaku. Mau apa beliau ke sini.

Ibu membukakan pintu, mempersilakan tamu kehormatannya masuk.

Setelah berbasa-basi tentang kabar, Bu Sarah mendekatiku.
"Ya ampun, Arum. Kenapa kamu pergi bawa koper, Nak? Ibu nggak marah soal utang itu. Kembali ya, Nak. Kita p**ang bareng. Kita cari solusinya bersama," ucapnya tanpa rasa bersalah.

Aku sangat muak mendengar semua itu. Aktingnya sungguh lihai. Luar biasa. Dan aku tahu, setelah ini apa yang akan bapak lakukan.

Bersambung, ...

Judul : MAAF, AKU PENSIUN JADI BABU GRATISAN
penulis Asmaramu
Akun KBM : yanipurnom

Ekslusif

MAAF, AKU PENSIUN JADI BABU GRATISAN - Asmarani
Karena menuruti gaya hidup seperti orang kaya raya, mertuaku terjerat utang di mana-mana. Bahkan ket...

Baca selengkapnya di aplikasi KBM App. Klik link di kolom komentar:

Mertuaku berutang di bank sampai ratusan juta dengan menggunakan kartu identitasku, Tapi aku diperlakukan seperti pembok...
15/04/2026

Mertuaku berutang di bank sampai ratusan juta dengan menggunakan kartu identitasku,

Tapi aku diperlakukan seperti pembokat,

Maaf, aku pensiun jadi babu gratisan, ya.

Kalau bisa sekalian pensiun jadi menantu,

4

"Kenapa dua orang itu kemari? Bener-bener keterlaluan Mas Hendra," rutukku dalam hati.

"Bu, mereka mau apa?" Sifa bertanya sambil memegang ujung blues yang kukenakan. Sepertinya ia ketakutan.

Tanganku mengusap gusar kepala anakku.

"Mereka yang sering marah-marah sama Eyang Uti setiap kali datang, Bu. Aku s**a dengar omongan mereka yang kasar juga. Kenapa sekarang ke sini? Aku takut, Bu?"

Badan Sifa gemetar. Aku bingung jadinya. Tak tahu harus memintanya bersembunyi di mana. Bapak dan ibu juga belum p**ang dari ladang, jadi kami memang belum bisa masuk.

"Selamat sore, Bu Arum," sapa salah seorang dari mereka.

"S sore," jawabku singkat dengan suara gugup. Bukan takut kepada dua orang ini, tapi malu kalau sampai ada tetangga melihat.

"Kami datang untuk menagih angsuran yang sudah menunggak dua bulan, Bu!" ucap mereka.

"Ta- tapi, bukan saya yang pakai uangnya, Pak. Sudah benar kalian menagih di rumah Bu Sarah--ibu mertua saya. Beliau yang pakai semua uangnya," jawabku dengan sedikit tekanan dan suara sedikit berantakan.

"Ini mana yang benar? Utang anda itu nggak kecil! Hampir 200 juta berikut bunganya!" bentak salah seorang dari mereka yang berbadan tinggi besar.

Saat awal menagih waktu itu, mereka sangat ramah. Tapi ketika angsuran sudah mangkir dua bulan, mereka berubah menjadi garang seperti ini.

"Yang benar itu, kalian menagih di rumah Bu Sarah. Saya tidak memakai uangnya sedikit pun," jawabku lagi.

Ketika itu, suara motor tua bapak berhenti di halaman. Di jok belakang motor, sarat muatan kacang panjang yang sudah diikat rapi.

Bapak menurunkan muatan itu, menaruhnya di atas teras. Lalu mendekati kami.

"Ada apa ini?" tanya bapak dengan wajah lelahnya.

"Kami menagih utang," jawab mereka.

"Kamu berutang, Arum?"

"Enggak, Pak. Bukan Arum," jawabku membela diri.

"Jangan bohong! Utang anda sangat banyak. Hampir 200 juta!"

Bapak terperangah. Matanya menatapku penuh selidik.

Aku menggeleng. Wajahku mulai basah. Selama ini, yang bapak tahu rumah tanggaku baik-baik saja. Sekarang beliau dihadapkan dengan fakta nama putrinya disebut-sebut berutang dalam jumlah besar bagi penduduk kampung seperti kami.

Beberapa saat kemudian di tengah ketegangan, ibu datang dengan sepeda onthelnya dari ladang.

"Arum, kamu datang dengan koper begini? Ada tamu tidak dipersilakan masuk? Ada apa ini?"

Ibu bertanya, sambil tangannya sibuk meminta kunci rumah dari bapak. Lalu pintu pun terbuka.

"Masuklah ke dalam rumah. Bicarakan baik-baik," pinta ibu seraya tangannya mempersilakan kami untuk masuk.

"Maaf! Tugas kami menagih utang. Katakan ada atau tidak uangnya," sergah petugas dari bank.

"Sudah saya bilang. Yang memakai uangnya Bu Sarah. Tagihlah ke sana," ucapku berang.

Tetangga yang kebanyakan petani seperti orang tuaku, sudah berseliweran p**ang dari ladang sedari tadi. Sebagian dari mereka ada yang mencuri dengar. Ada yang berlalu begitu saja. Ada juga yang berbisik-bisik satu sama lain.

Mereka yang lewat pasti sedang membicarakan keluarga ini. Malu. Itulah yang kurasakan saat ini.

"Berapa besaran angsuran anak saya?" tanya ibu tak sabaran.

"Besar, Bu. Total pinjaman 150 juta. Berikut bunga 12% per tahun. Jadi total angsuran 5 juta 700 ribu rupiah," jawab petugas, lugas.

Bapak masuk ke rumah tanpa bicara. Aku tahu, setelah ini pasti akan ada drama.

"Tunggu sebentar," ucap ibu. Beliau pun masuk ke rumah. Tak berapa lama keluar lagi dengan lembaran merah cukup banyak di tangan.

"Ini angsuran bulan ini. Dan silakan tinggalkan rumah kami!" ucap ibu sambil menyodorkan uang itu.

Tetangga yang menyaksikan, bubar satu persatu. Tapi aku bisa menebak, bahwa kejadian ini pasti akan menjadi trending topik sebentar lagi.

Ibu masuk kembali ke rumah. Sifa mengikuti di belakang neneknya.

Aku bingung, apa yang harus aku lakukan. Bagaimana nanti kata bapak. Apa yang harus kujelaskan.

Aku pun melangkah masuk ke rumah menyeret koper yang sedari tadi teronggok di teras.

Kulihat bapak meletakkan kasar topi yang dipakainya setiap kali ke sawah. Lalu beliau duduk di bangku panjang dengan meja kayu nangka yang panjangnya dua meter dengan lebar satu meter lebih. Meja kayu simbol kebanggaan masyarakat zaman dulu.

"Arum! Duduk!" ucap bapak. Nadanya sangat dingin.

Badanku menggigil. Bapak akan marah besar sepertinya.

Dengan tangan gemetar, aku duduk di bangku yang berseberangan dengan tempat bapak duduk. Tangan kuletakkan di meja, seolah seperti seorang pesakitan yang siap menerima hukuman apa pun sebentar lagi.

Mata bapak menatap tajam. Aku tak kuasa menentangnya, sehingga lebih memilih menunduk saja.

"Buat apa kamu berutang begitu banyak? Apa yang bapak kasih selama ini masih kurang untuk memenuhi kebutuhan kalian?"

Aku masih menunduk. Apa pun yang akan kukatakan, pasti bapak tak akan percaya begitu saja. Aku benar-benar seperti seorang terdakwa sekarang.

Bersambung, ...

Judul : MAAF, AKU PENSIUN JADI BABU GRATISAN
Penulis : Asmarani
Akun KBM : yanipurnom

Eksklusif

MAAF, AKU PENSIUN JADI BABU GRATISAN - Asmarani
Karena menuruti gaya hidup seperti orang kaya raya, mertuaku terjerat utang di mana-mana. Bahkan ket...

Baca selengkapnya di aplikasi KBM App. Klik link di kolom komentar:

Mertuaku berutang di bank sampai ratusan juta dengan menggunakan kartu identitasku, Tapi aku diperlakukan seperti pembok...
13/04/2026

Mertuaku berutang di bank sampai ratusan juta dengan menggunakan kartu identitasku,

Tapi aku diperlakukan seperti pembokat,

Maaf, aku pensiun jadi babu gratisan, ya.

Kalau bisa sekalian pensiun jadi menantu,


2

Mas Hendra tampak kebingungan dengan permintaan ibunya. Sekilas ia menatapku, seperti meminta pertimbangan. Aku justru membuang muka.

"Tunggu apa lagi, Hendra? Ayo talak istri kurang ajar ini!" Ibu berseru lagi. Tangannya menunjuk-nunjuk wajahku.

Aku tetap bergeming. Tidak gentar sedikit pun, tapi tak juga membantah ucapan wanita dengan penampilan mencolok dengan warna bibir merah menyala, dan emas kecil-kecil di tangannya.

"Ibu, sebenarnya apa yang ibu inginkan?" tanya Mas Hendra melunak.

"Masih juga kamu bertanya? Kurang jelas penjelasan ibu tadi? Duit! Mana duit? Di luar orang bank sudah nunggu lama," jawab ibu.

"Arum, aku pakai dulu uangmu, ya?"

Aku melongo, menatap Mas Hendra.
"Uangku? Uang yang mana? Apa kamu pikir seminggu 200 ribu, kadang malah 100 ribu, seringnya juga nggak ngasih apa masih bisa aku punya tabungan?" Aku menjawab sesuai fakta.

"Tapi kamu bekerja, kan, Rum?"

"Iya, tapi bukan berarti kamu bebas meminta, Mas. Lagi p**a aku belum gajian," jawabku, berdusta.

"Dasar istri durhaka! Keluarga suami susah malah nggak mau bantu!" sergah ibu.

"Ibu yang mertua durjana! Bukankah selama ini Ibu yang ikut menghabiskan penghasilan Mas Hendra untuk menutupi gaya hidup? Ibu ingin mendapat pengakuan sebagai orang kaya, tapi itu tidak sesuai fakta yang ada!" Aku membantah dengan vokal. Tak ada niat menentang apalagi memusuhi ibu mertua. Semua ini terjadi, karena aku sudah tidak kuat lagi menyimpan emosi ini sendiri.

Mas Hendra keluar tanpa sepatah kata.

"Awas kamu! Siap-siap jadi janda saja!" ancam ibu mertua. Tangannya menyentuh jidatku, lalu ia melangkah mengejar anak lelakinya.

Sepeninggal mereka, aku kembali masuk ke kamar, dan menutup pintu dari dalam.

Tubuhku luruh ke lantai. Wajahku basah oleh air mata. Lelah ini sungguh mendera. 8 tahun berumah tangga dengan Mas Hendra, hanya derita yang menjadi teman setia.

Sejak awal menikah, aku sudah diperlakukan tak semestinya sebagai menantu. Semua cucian baju keluarga ini dibebankan di pundakku. Meskipun mencuci dengan mesin, tapi rasanya diri ini tiada harganya.

Penghasilan Mas Hendra sebagian kecil saja yang diberikan kepadaku. 75% gajinya, diambil ibu mertua untuk menutupi gaya hidup yang tidak masuk akal.

Ayah mertua memiliki jabatan tidak krusial sebenarnya, hanya sebagai ketua RT. Tapi pergaulan ibu mertua seperti wanita sosialita. Sering makan-makan di tempat mahal, dengan bergantian mentraktir di antara teman-temannya.

Perhiasan? Ibu pun tak mau kalah dengan mereka yang memang betulan mampu. Meskipun beli yang imitasi, ibu mengenakan perhiasan yang nggenjreng di tubuhnya.

Demi mengejar penampilan ibunya, Mas Hendra tega mengesampingkan nafkah untukku dan putri kecil kami.

Aku tergagap dari lamunan. Punggung tangan kanan mengusap wajah yang basah oleh tangis.

"Aku tidak boleh menangis. Lelah ini sudah di ujung. Pilihannya adalah, aku pergi, atau tetap tinggal tapi tetap selalu disakiti," bisikku dalam hati.

Aku pun bangkit, meraih koper kecil di atas lemari. Koper yang dulu mengantarku ke rumah ini sebagai seorang menantu. Koper yang sempat menyimpan harapan, bahwa rumah tangga ini akan membawa ketenangan, ketentraman dan keberkahan. Tapi rasanya itu semua kini harus ku kubur dalam-dalam.

Aku harus bangkit berjuang demi Nasifa.

"Ibu?" Suara Nasifa membuyarkan konsetrasi. Gadis kecilku yang baru bangun tidur, mengucek matanya seraya memperhatikanku.

"Ibu mau ke mana? Kenapa masukin baju-baju ke dalam koper?" tanyanya lembut.

"Kita akan ke rumah nenek, di kampung ibu," jawabku.

"Sama ayah juga, Bu? Kita mau liburan? Tapi kan aku harus sekolah, Bu?" Nasifa memberondongku dengan pertanyaan beruntun.

"Sama ibu saja, Sifa. Nanti ayah menyusul," jawabku asal.

Nasifa tak lagi menjawab. Ia turun dari kasur, membuka lemarinya. Antusias sekali mengambil baju-bajunya yang selama ini ia tahu dibelikan dengan uang ayahnya. Padahal, itu hasil jerih payahku sendiri demi dia seperti anak yang lainnya.

"Aku bawa tas sekolah ya, Bu. Sekalian baju-baju bagus ini aku masukin, supaya kopernya nggak kepenuhan," ucap Nasifa. Aku hanya mengangguk. Lagi, punggung tangan mengusap wajah, mengahalau air mata yang nyaris keluar. Tidak. Aku tak ingin tampak lemah di hadapan Nasifa. Ia harus bahagia.

"Ayo, Bu. Aku mandi tempat nenek saja. Keburu kangen," ucap Nasifa polos, setelah selesai beberes.

Aku pun tak ingin membuang waktu. Tangan Nasifa kugandeng, lalu berjalan keluar.

"Arum, Sifa? Kalian mau ke mana?" tanya Mas Hendra saat aku menyambar kunci motor.

Aku diam. Hanya menjawab dengan bahasa isyarat jari telunjuk agar dia diam dan tetap berada di tempatnya. Terlebih di sana masih ada Mas Mas yang datang menagih utang ibu.

Aku tak mau mendengar semua, memilih segera pergi saja.

Mas Hendra tak bisa apa-apa. Tapi aku yakin mereka bakal kebakaran jenggot setelah ini. Biarlah, ...

Bersambung, ...

Judul : MAAF, AKU PENSIUN JADI BABU GRATISAN
Penulis Asmarani
Akun kbm yanipurnom

Eksklusif

MAAF, AKU PENSIUN JADI BABU GRATISAN - Asmarani
Karena menuruti gaya hidup seperti orang kaya raya, mertuaku terjerat utang di mana-mana. Bahkan ket...

Baca selengkapnya di aplikasi KBM App. Klik link di bawah di komentar

Address

Purworejo

Telephone

+6281578051081

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Dwi Lestari Zulkarnain posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Dwi Lestari Zulkarnain:

Share