16/04/2026
Mertuaku berutang di bank sampai ratusan juta dengan menggunakan kartu identitasku,
Tapi aku diperlakukan seperti pembokat,
Maaf, aku pensiun jadi babu gratisan, ya.
Kalau bisa sekalian pensiun jadi menantu,
5
"Katakan Arum! Buat apa kamu berutang di bank sebanyak itu?"
Bapak mengetuk tangannya ke meja. Semarah apa pun beliau, tidak akan berbuat kasar kepada anaknya.
"Maaf, Pak," ucapku dengan suara lemah, dan bergetar.
"Apa kamu sedang 'yoso'? Sedang membeli sesuatu yang besar tanpa sepengetahuan bapak? Apa kamu sudah membayar sebidang tanah dengan uang itu?"
Tanganku masih menjulur di atas meja besar keluarga. Sementara ibu di belakang, menenangkan Sifa.
Aku menggeleng lemah.
"Lantas buat apa uang sebanyak itu?"
"Bu Sarah, Pak. Ibu mertuaku yang memakainya," ucapku kemudian, pelan dan lirih.
Mata bapak membola, mengintimidasi.
"Jangan coba-coba bohongi orang tuamu, Arum. Yang bapak tahu, selama ini Bu Sarah baik," kata bapak.
"Bu Sarah begitu santun. Lagi p**a dia kaya," lanjut bapak lagi.
Aku seperti di-skakmat. Yang bapak ketahui dan kenyataan yang ada jauh berbeda. Mertuaku memang bisa sekali berkamuflase.
Setiap kali datang ke rumah bapak, Bu Sarah selalu membawakan oleh-oleh, yang tentu saja dengan dibalut sikap santun, layaknya orang yang kaya sesungguhnya.
Selama ini aku merasa tak perlu mengumbar aib orang tua suamiku. Dan kini semua itu justru berdampak pada diriku sendiri.
Setiap berkunjung, ibu mertua juga tidak mengenakan perhiasan yang mencolok. Jadi wajar kalau bapak tidak percaya bahwa uang itu Bu Sarah yang memakai.
"Pak, aku, ... "
"Jangan katakan apa pun kalau tujuanmu hanya untuk memfitnah Bu Sarah," penggal bapak.
Ibu masuk menuntun Sifa. Anakku itu tampak bahagia berada di samping neneknya.
"Sifa mau mandi, Bu. Habis itu mau jalan-jalan di sekitaran rumah sama nenek," ucap Sifa saat melewatiku dan masuk ke kamar yang ada di sebelah ruangan ini.
"Iya, Nak. Jangan nakal sama nenek, ya?" ucapku.
Bapak yang duduk berseberangan denganku hanya diam saja. Sepertinya beliau sedang dikuasai emosi, sehingga sekadar menyapa cucunya pun tak dilakukan.
Aku merasa pembicaraan ini tidak akan selesai saat ini. Oleh karena itu, kutinggalkan bapak masuk ke kamar membawa koper dan tas sekolah Sifa.
Di dalam kamar, hal yang sama juga kurasakan dari ibu. Beliau pun diam tak ubahnya bapak. Mereka berdua sangat kecewa dengan ini semua. Bagaimana caranya aku menjelaskan masalah ini.
Setelah memilih baju Sifa, ibu melewatiku begitu saja.
"Bu," sapaku.
Ibu menoleh sekilas.
"Bicarakan nanti saat anakmu sudah tidur," katanya, lalu berlalu begitu saja mengejar Sifa yang sudah berjalan lebih dulu.
Aku duduk di tepi kasur, menopang kepala dengan kedua tangan. Menunduk. Dahiku terasa pening. Ibu mertua yang hedon, tapi harga diriku yang saat ini hancur lebur. Bahkan di hadapan orang tua kandung sekalipun.
Petang merambat. Suara adzan maghrib terdengar dari berbagai penjuru perkampungan, dari masjid dan mushola serta langgar yang tersebar hampir di setiap RT.
Bapak menyandang baju taqwa dan sarung tenun serta peci, lalu pergi salat berjamaah. Masih diam tanpa kata. Pamit pun tidak.
Ibu mengambil air wudhu, mengenakan mukena, mengajak Sifa melakukan hal yang sama. Aku dibiarkan bengong sendiri tanpa disapa.
Rasanya aku seperti patung bernyawa tapi tak punya suara.
Waktu terasa melambat. Aku sudah tak sabar rasanya menjelaskan kepada ibu tentang utang itu. Tapi adzan isya pun rasanya tak kunjung datang. Padahal kalau isya sudah datang, itu artinya Sifa sudah jam tidur, sehingga kesempatan menjelaskan itu segera datang.
Sampai aku diserang kantuk, Sifa belum juga tidur. Hampir aku terlelap lebih dulu, kalau saja Sifa tidak menyentuh lenganku dan mengajak ke kamar untuk menemaninya tidur.
Akhirnya, Sifa tidur juga.
"Arum, bapak menunggumu di depan. Kita bicarakan semuanya," kata ibu yang melongokkan kepala lewat pintu.
Aku beringsut dari sisi Sifa, kemudian merapikan rambut yang berantakan, lalu keluar seperti yang ibu titahkan.
Di hadapan bapak, aku kembali mematung, tidak tahu harus mengawali pembicaraan dari mana.
"Arum, kalau memang uang itu untuk 'yoso', membeli sesuatu barang besar untuk masa depan kalian, sebaiknya kamu jujur saja, Nak," ucap ibu lembut.
Aku menunduk. Rasanya sia-sia saja memberikan penjelasan untuk mereka.
"Tapi kalau memang untuk hal begitu, bapak sangat menyesalkannya Arum. Buat apa berutang begitu besar, kalau bunganya pun besar. Rasanya tidak ada untungnya. Lebih baik menabung dulu saja, kalau sudah terkumpul nanti buat beli," timpal bapak.
Mereka benar. Tapi fakta lapangan yang salah. Bagaimana bisa aku menjelaskan tanpa bukti.
Di saat tegang seperti itu, pintu ada yang mengetuk disertai salam. Dan itu suara Bu Sarah--ibu mertuaku. Mau apa beliau ke sini.
Ibu membukakan pintu, mempersilakan tamu kehormatannya masuk.
Setelah berbasa-basi tentang kabar, Bu Sarah mendekatiku.
"Ya ampun, Arum. Kenapa kamu pergi bawa koper, Nak? Ibu nggak marah soal utang itu. Kembali ya, Nak. Kita p**ang bareng. Kita cari solusinya bersama," ucapnya tanpa rasa bersalah.
Aku sangat muak mendengar semua itu. Aktingnya sungguh lihai. Luar biasa. Dan aku tahu, setelah ini apa yang akan bapak lakukan.
Bersambung, ...
Judul : MAAF, AKU PENSIUN JADI BABU GRATISAN
penulis Asmaramu
Akun KBM : yanipurnom
Ekslusif
MAAF, AKU PENSIUN JADI BABU GRATISAN - Asmarani
Karena menuruti gaya hidup seperti orang kaya raya, mertuaku terjerat utang di mana-mana. Bahkan ket...
Baca selengkapnya di aplikasi KBM App. Klik link di kolom komentar: