09/10/2025
Bab 4
Rania menatap tanah yang masih basah. Gerimis sedikit mengguyur sekitar, membuat suasana duka lebih mendalam. Disana, dimana bapaknya baru saja dimakamkan sore itu.
Semua pelayat sudah pulang. Hanya tersisa Rania, Indah dan ibunya.
"Buk, kita pulang yuk," ajak Rania pada ibunya. Matanya masih menatap sendu tempat peristirahatan terakhir sang bapak.
Titin mengangguk, walau merasa enggan. Tapi sekarang bukan waktunya untuk bersedih. Harus kuat demi putrinya. "Kita pulang," ucapnya, sembari menyeka air mata yang tak kunjung reda.
Seorang ibu dengan dua orang putrinya, baru saja mengantarkan kepergian orang yang amat mereka cintai dan sayangi selama ini.
Di sebelah kanan ada Rania, tangannya mengapit erat lengan Titin. Sedangkan di sebelah kiri ada Indah.
Tak akan ada lagi tangan besar yang menguatkan mereka. Tak akan lagi ada nasihat penuh perhatian, dari suara berat yang biasanya terdengar mengganggu.
"Tenang disana, Pak. Rania pasti bakal baik-baik aja disini," batin Rania.
----
Kebetulan saat pulang, Rania tak menggunakan payung. Sehingga, begitu sampai rumah cepat-cepat ia mengganti bajunya yang sudau setengah basah.
"Ck! Lama banget kamu, Ran. Aku udah pegel loh ini gend**g Icha."
Rania yang baru membuka pintu kamar. Langsung disuguhkan Icha di depannya.
"Mas, kamu gak lihat? Aku masih setengah basah gini, loh. Kamu gend**g bentar ya. Aku ganti baju dulu," ujar Rania. Sedikit menggeser tubuh suaminya yang menghalangi jalannya.
"Dia udah haus, Ran," desak Bagas. Masih saja mengulurkan Icha yang menangis. Bukannya berusaha menenangkan, malah terus saja memaksa Rania untuk segera menggambil Icha.
"Kamu tenangin Icha sebentar kan bisa, Mas. Nanti dia bisa sakit kalau langsung aku gend**g, soalnya baju aku kena hujan tadi."
"Yaudah, cepat ya." Bagas sudah memasang wajah kesal. Walau begitu, masih setia menggend**g Icha.
Rania pun segera mengambil satu set pakaian ganti dan membawanya ke kamar mandi.
Karena hawa sore itu cukup dingin. Membuatnya bersin beberapa kali.
"Apa mau flu?" gumam Rania.
Tok ... tok ... tok!
"Ran, udah belum? Icha loh ini," teriak Bagas tak sabaran. Terus saja menggedor pintu kamar mandi.
"Kenapa sama Icha, Mas?" Suara Indah terdengar.
Rania di dalam kamar mandi semakin mempercepat kegiatannya.
Ceklek!
Rania keluar, rambutnya yang basah ia balut dengan handuk. Segera mengambil Icha dari gend**gan suaminya.
"Shut ... ibu disini, Cha. Diem ya. Mau susu?" Rania menimang Icha dengan penuh kelembutan.
"Urus anak kamu itu. Seharian ngurus Icha badanku jadi sakit." Bagas berlalu begitu saja. Tanpa memperdulikan perasaan sang istri yang jelas masih berduka atas kepergian orang tersayangnya.
"Mbak." Indah menyetuh pundak Rania. Jelas, dari raut wajah Indah menunjukkan keprihatinan.
"Mbak gak papa, kok. Kamu mau mandi, kan? Gih mandi, keburu masuk angin." Rania menyembunyikan kesedihannya. Segera mendorong sang adik masuk ke dalam kamar mandi.
"Mbak, tapi–"
"Ndah, Mbak gak papa. Mandi sana," usir Rania. Ia cepat-cepat memalingkan wajah, dengan tangan menyeka air mata yang hampir terjatuh.
"Oek ... oek ...." Icha menangis semakin keras.
"Sebentar ya, Sayang. Kita buat susu dulu."
Rania pun membawa Icha untuk membuat susu. Icha masih saja menangis. Seakan merasakan apa yang Rania rasakan saat ini.
Begitu susu siap, Rania segera menyodorkannya pada Icha. Tangan mungil itu berusaha menggenggam botol sendiri, membuat sudut bibir Rania terangkat tipis—senyum kecil yang jarang sekali muncul belakangan ini.
Begitu susu mengalir ke perutnya, tangisan Icha perlahan mereda. Si kecil tampak tenang dalam gend**gan ibunya, membuat Rania berharap ia segera terlelap. Dan benar saja, tak butuh waktu lama, kelopak mata Icha mulai tertutup.
Namun, suara lantang dari ruang tamu langsung membuat tubuh mungil itu kembali tersentak dan mata kembali terbuka.
"Yak!" teriak Bagas.
Rania menggertakkan gigi, kesabarannya yang sejak tadi ia tata terasa runtuh seketika.
"Mas," panggilnya sambil mendekat ke arah Bagas, yang masih asyik menatap ponsel di tangannya.
"Hm? Apa?" sahut Bagas tanpa sedikit pun melirik istrinya.
"Bisa nggak kalau main hp jangan sambil teriak-teriak? Icha kaget, Mas. Baru saja mau tidur, sekarang kebangun lagi."
"Kebangun? Yaudah, tinggal tidurin lagi. Kamu kan ibunya. Gampang lah," jawab Bagas enteng.
"Gampang kamu bilang? Kalau memang gampang, ayo, Mas. Coba kamu yang tidurin," balas Rania, nadanya mulai meninggi.
"Aku udah capek, Ran. Dari pagi jagain Icha. Sekarang giliran kamu."
"Tapi, Mas—"
"Ekhem!" suara serak namun tegas memotong ucapan Rania
Rania menoleh. Marni, ibu mertuanya, sudah berdiri di ambang pintu.
"Bu," sapa Rania, menyodorkan tangannya. Namun, bukannya disambut, yang ia dapat hanya lirikan sinis.
"Kalau Bagas bilang capek ya capek, Ran. Jadi istri kok nggak ngerti-ngerti," cibir Marni.
Rania memejamkan mata, menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Ia mencoba menahan diri. Baru saja ibunya datang, bukannya memberi penghiburan setelah semua yang terjadi, malah langsung menyudutkannya. Padahal Marni pun tadi tak hadir di antara para pelayat.
"Masih diem aja? Sana bikinin teh buat Ibu," perintah Bagas. Tangannya sudah sibuk membuka bungkusan yang dibawa ibunya.
Rania tak menjawab. Namun, ia tetap berjalan ke arah dapur untuk membuatkan ibu mertuanya minuman.
"Sungguh, Mas. Sungguh keteralulan kamu dan ibumu itu," lirih Rania. Air matanya mulai berjatuhan. Entah sudah berapa kali ia menangis karena kelakuan yang ia terima selama ini. Kalau hidupnya terus saja seperti begini, sanggupkah dirinya bertahan?
----
Seminggu setelah kepergian bapak. Rania memutuskan untuk kembali ke kontrakannya. Seperti biasa juga, setiap pagi dirinya menyiapkan keperluan Mas Bagas sebelum berangkat bekerja.
Barulah, setelah sang suami pergi. Rania bisa sedikit bersantai. Pekerjaan rumah, bisa ia kerjakan perlahan sembari menjaga Icha.
"Loh, Rania?"
Rania baru saja menutup pagar kontrakannya segera berbalik, menatap seseorang yang sudah lama tidak bertemu.
"Tika! Kamu kok bisa sampai sini?"
"Iya, kebetulan aja tadi habis dari rumah saudara. Apa kabar kamu, Ran. Wah, anakmu sudah besar yah." Tika mengusap puncak kepala Icha yang terbalut topi rajut.
Rania tersenyum. "Ya, seperti yang kamu lihat, cukup baik. Kamu sendiri, kabarnya gimana?"
"Baik juga," jawab Tika. Pandangannya menatap kontrakan yang Rania tempati. "Kamu tinggal disini?"
"Hm. Mau mampir?" Rania hendak membuka kembali pagar.
Tika menggeleng. "Kayaknya gak usah sih. Gimana kalau aku traktir kamu. Perayaan hari ketemu kita lagi."
"Eh, tapi Tik."
"Gak usah tapi-tapian, ayo! Soalnya aku lagi seneng nih. Kita makan di warung soto depan gang sana aja."
Tika pun mengapit lengan Rania, membawanya menuju warung soto yang cukup terkenal di daerah sana.
"Anakmu gak keganggu, kan?" tanya Tika, sedikit melirik ke arah Icha yang berada di dalam gend**gan.
"Gak kok, dia anteng."
"Bagus, deh."
Karena jaraknya tak jauh. Rania dan Tika telah sampai di warung soto. Segera, Tika memesan dua mangkok soto.
"Agak ramai. Mungkin, karena jam makan siang yah. Gak papa kan, kita duduk di pinggir sini?" tanya Tika, sedikit tak enak pada Rania. Karena temannya itu membawa bayi.
"Gak papa, kok. Aku malah yang gak enak. Jadi ngrepotin kamu."
"Ih, gak lah. Kayak sama siapa aja. Kita hampir tiga tahun bareng terus dulu di SMA."
Rania tersenyum. Apa yang Tika ucapakan memang benar. Tiga tahun mereka berteman begitu dekat. Tapi, setelah ia keluar dari sekolah. Saat itu juga hubungannya dengan Tika tak lagi sama. Tika yang mulai sibuk ujian dan dirinya yang disibukkan rumah tangganya.
"Ngomong-ngomong, rumah tangga kamu baik-baik aja, kan?" tanya Tika dengan suara yang terdengar hati-hati.
Rania menghela napas, lalu tersenyum hambar. "Nggak sebaik yang kamu lihat. Saran aku, jangan buru-buru nikah, Tik."
Tika menunduk, jemarinya meremas ujung baju. Raut wajahnya jelas menyimpan kegelisahan.
"Ada apa? Ngomong aja," desak Rania, mulai menangkap ada sesuatu yang tak beres.
"Kamu … sama suami kamu, masih tinggal bareng?"
"Iya, masih. Kenapa? Kok kamu jadi aneh gini?"
"Aku cuma mau memastikan aja," jawab Tika pelan.
"Apa sih? Jangan bikin aku takut," ucap Rania, tiba-tiba merinding tanpa alasan.
Tika lalu mengeluarkan ponselnya dari tas, menyalakan sebuah video, dan menyerahkannya pada Rania. "Coba kamu lihat sendiri."
Di layar, tampak suasana sebuah rumah makan. Awalnya biasa saja, sampai pandangan Rania tertumbuk pada sosok yang sangat ia kenal. Bagas. Duduk berhadapan dengan seorang wanita lain dan di sebelahnya, ada Marni, ibu mertuanya.
"Ran, kamu oke?" Tika menyentuh pelan pundaknya.
"Mas Bagas … selingkuh?" lirih Rania, suaranya hampir hilang.
"S-sorry kalau ini bikin kamu sakit hati. Tapi aku nggak tega nutupin lagi, apalagi habis ketemu kamu tadi."
Rania mencoba tersenyum, meski hatinya serasa diremukkan. "Nggak papa. Justru aku harusnya berterima kasih. Berkat kamu, mataku jadi kebuka lebih lebar."
"Aku juga awalnya nggak yakin, makanya sempat ragu. Tapi pas aku zoom videonya, jelas banget itu dia. Aku kan ingat banget ibu mertua kamu yang doyan ngomel itu. Dan Bagas … ya, aku kaget sih. Aku masih ingat gimana dulu dia waktu pacaran sama kamu."
Senyum getir menghiasi wajah Rania. Ingatannya melayang ke masa lalu. Saat masih sekolah, Bagas memperlakukannya seperti ratu. Kerja di pabrik dengan gaji lumayan, dia selalu royal, bahkan menghadiahi barang-barang yang mustahil dimiliki anak seusia mereka. Semua perhatian itu yang akhirnya menjerat Rania, sampai ia terlena, sampai masuk dalam lingkaran napsu yang seharusnya tak pernah terjadi. Padahal dulu, ia termasuk siswi berprestasi yang disegani.
"Aku kira kalian udah pisah. Habisnya, Bagas keliatan deket banget sama cewek itu. Apalagi ada ibu mertuamu juga," lanjut Tika pelan.
Rania cepat-cepat memalingkan wajah, menahan perih yang kembali menusuk. "Belum, Tik. Kita memang belum pisah. Tapi entahlah nanti." Suaranya kali ini terdengar benar-benar mati rasa.
Lanjut KBM App
Judul : Aku Hempas Suami Pemalas
Karya : Afiaanicma19