Afia Rekomendasi

Afia Rekomendasi Rekomendasi cerita online. Fizzo, KBM, Klaklik, dll.

Bab 4Rania menatap tanah yang masih basah. Gerimis sedikit mengguyur sekitar, membuat suasana duka lebih mendalam. Disan...
09/10/2025

Bab 4

Rania menatap tanah yang masih basah. Gerimis sedikit mengguyur sekitar, membuat suasana duka lebih mendalam. Disana, dimana bapaknya baru saja dimakamkan sore itu.

Semua pelayat sudah pulang. Hanya tersisa Rania, Indah dan ibunya.

"Buk, kita pulang yuk," ajak Rania pada ibunya. Matanya masih menatap sendu tempat peristirahatan terakhir sang bapak.

Titin mengangguk, walau merasa enggan. Tapi sekarang bukan waktunya untuk bersedih. Harus kuat demi putrinya. "Kita pulang," ucapnya, sembari menyeka air mata yang tak kunjung reda.

Seorang ibu dengan dua orang putrinya, baru saja mengantarkan kepergian orang yang amat mereka cintai dan sayangi selama ini.

Di sebelah kanan ada Rania, tangannya mengapit erat lengan Titin. Sedangkan di sebelah kiri ada Indah.

Tak akan ada lagi tangan besar yang menguatkan mereka. Tak akan lagi ada nasihat penuh perhatian, dari suara berat yang biasanya terdengar mengganggu.

"Tenang disana, Pak. Rania pasti bakal baik-baik aja disini," batin Rania.

----

Kebetulan saat pulang, Rania tak menggunakan payung. Sehingga, begitu sampai rumah cepat-cepat ia mengganti bajunya yang sudau setengah basah.

"Ck! Lama banget kamu, Ran. Aku udah pegel loh ini gend**g Icha."

Rania yang baru membuka pintu kamar. Langsung disuguhkan Icha di depannya.

"Mas, kamu gak lihat? Aku masih setengah basah gini, loh. Kamu gend**g bentar ya. Aku ganti baju dulu," ujar Rania. Sedikit menggeser tubuh suaminya yang menghalangi jalannya.

"Dia udah haus, Ran," desak Bagas. Masih saja mengulurkan Icha yang menangis. Bukannya berusaha menenangkan, malah terus saja memaksa Rania untuk segera menggambil Icha.

"Kamu tenangin Icha sebentar kan bisa, Mas. Nanti dia bisa sakit kalau langsung aku gend**g, soalnya baju aku kena hujan tadi."

"Yaudah, cepat ya." Bagas sudah memasang wajah kesal. Walau begitu, masih setia menggend**g Icha.

Rania pun segera mengambil satu set pakaian ganti dan membawanya ke kamar mandi.

Karena hawa sore itu cukup dingin. Membuatnya bersin beberapa kali.

"Apa mau flu?" gumam Rania.

Tok ... tok ... tok!

"Ran, udah belum? Icha loh ini," teriak Bagas tak sabaran. Terus saja menggedor pintu kamar mandi.

"Kenapa sama Icha, Mas?" Suara Indah terdengar.

Rania di dalam kamar mandi semakin mempercepat kegiatannya.

Ceklek!

Rania keluar, rambutnya yang basah ia balut dengan handuk. Segera mengambil Icha dari gend**gan suaminya.

"Shut ... ibu disini, Cha. Diem ya. Mau susu?" Rania menimang Icha dengan penuh kelembutan.

"Urus anak kamu itu. Seharian ngurus Icha badanku jadi sakit." Bagas berlalu begitu saja. Tanpa memperdulikan perasaan sang istri yang jelas masih berduka atas kepergian orang tersayangnya.

"Mbak." Indah menyetuh pundak Rania. Jelas, dari raut wajah Indah menunjukkan keprihatinan.

"Mbak gak papa, kok. Kamu mau mandi, kan? Gih mandi, keburu masuk angin." Rania menyembunyikan kesedihannya. Segera mendorong sang adik masuk ke dalam kamar mandi.

"Mbak, tapi–"

"Ndah, Mbak gak papa. Mandi sana," usir Rania. Ia cepat-cepat memalingkan wajah, dengan tangan menyeka air mata yang hampir terjatuh.

"Oek ... oek ...." Icha menangis semakin keras.

"Sebentar ya, Sayang. Kita buat susu dulu."

Rania pun membawa Icha untuk membuat susu. Icha masih saja menangis. Seakan merasakan apa yang Rania rasakan saat ini.

Begitu susu siap, Rania segera menyodorkannya pada Icha. Tangan mungil itu berusaha menggenggam botol sendiri, membuat sudut bibir Rania terangkat tipis—senyum kecil yang jarang sekali muncul belakangan ini.

Begitu susu mengalir ke perutnya, tangisan Icha perlahan mereda. Si kecil tampak tenang dalam gend**gan ibunya, membuat Rania berharap ia segera terlelap. Dan benar saja, tak butuh waktu lama, kelopak mata Icha mulai tertutup.

Namun, suara lantang dari ruang tamu langsung membuat tubuh mungil itu kembali tersentak dan mata kembali terbuka.

"Yak!" teriak Bagas.

Rania menggertakkan gigi, kesabarannya yang sejak tadi ia tata terasa runtuh seketika.

"Mas," panggilnya sambil mendekat ke arah Bagas, yang masih asyik menatap ponsel di tangannya.

"Hm? Apa?" sahut Bagas tanpa sedikit pun melirik istrinya.

"Bisa nggak kalau main hp jangan sambil teriak-teriak? Icha kaget, Mas. Baru saja mau tidur, sekarang kebangun lagi."

"Kebangun? Yaudah, tinggal tidurin lagi. Kamu kan ibunya. Gampang lah," jawab Bagas enteng.

"Gampang kamu bilang? Kalau memang gampang, ayo, Mas. Coba kamu yang tidurin," balas Rania, nadanya mulai meninggi.

"Aku udah capek, Ran. Dari pagi jagain Icha. Sekarang giliran kamu."

"Tapi, Mas—"

"Ekhem!" suara serak namun tegas memotong ucapan Rania

Rania menoleh. Marni, ibu mertuanya, sudah berdiri di ambang pintu.

"Bu," sapa Rania, menyodorkan tangannya. Namun, bukannya disambut, yang ia dapat hanya lirikan sinis.

"Kalau Bagas bilang capek ya capek, Ran. Jadi istri kok nggak ngerti-ngerti," cibir Marni.

Rania memejamkan mata, menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Ia mencoba menahan diri. Baru saja ibunya datang, bukannya memberi penghiburan setelah semua yang terjadi, malah langsung menyudutkannya. Padahal Marni pun tadi tak hadir di antara para pelayat.

"Masih diem aja? Sana bikinin teh buat Ibu," perintah Bagas. Tangannya sudah sibuk membuka bungkusan yang dibawa ibunya.

Rania tak menjawab. Namun, ia tetap berjalan ke arah dapur untuk membuatkan ibu mertuanya minuman.

"Sungguh, Mas. Sungguh keteralulan kamu dan ibumu itu," lirih Rania. Air matanya mulai berjatuhan. Entah sudah berapa kali ia menangis karena kelakuan yang ia terima selama ini. Kalau hidupnya terus saja seperti begini, sanggupkah dirinya bertahan?

----

Seminggu setelah kepergian bapak. Rania memutuskan untuk kembali ke kontrakannya. Seperti biasa juga, setiap pagi dirinya menyiapkan keperluan Mas Bagas sebelum berangkat bekerja.

Barulah, setelah sang suami pergi. Rania bisa sedikit bersantai. Pekerjaan rumah, bisa ia kerjakan perlahan sembari menjaga Icha.

"Loh, Rania?"

Rania baru saja menutup pagar kontrakannya segera berbalik, menatap seseorang yang sudah lama tidak bertemu.

"Tika! Kamu kok bisa sampai sini?"

"Iya, kebetulan aja tadi habis dari rumah saudara. Apa kabar kamu, Ran. Wah, anakmu sudah besar yah." Tika mengusap puncak kepala Icha yang terbalut topi rajut.

Rania tersenyum. "Ya, seperti yang kamu lihat, cukup baik. Kamu sendiri, kabarnya gimana?"

"Baik juga," jawab Tika. Pandangannya menatap kontrakan yang Rania tempati. "Kamu tinggal disini?"

"Hm. Mau mampir?" Rania hendak membuka kembali pagar.

Tika menggeleng. "Kayaknya gak usah sih. Gimana kalau aku traktir kamu. Perayaan hari ketemu kita lagi."

"Eh, tapi Tik."

"Gak usah tapi-tapian, ayo! Soalnya aku lagi seneng nih. Kita makan di warung soto depan gang sana aja."

Tika pun mengapit lengan Rania, membawanya menuju warung soto yang cukup terkenal di daerah sana.

"Anakmu gak keganggu, kan?" tanya Tika, sedikit melirik ke arah Icha yang berada di dalam gend**gan.

"Gak kok, dia anteng."

"Bagus, deh."

Karena jaraknya tak jauh. Rania dan Tika telah sampai di warung soto. Segera, Tika memesan dua mangkok soto.

"Agak ramai. Mungkin, karena jam makan siang yah. Gak papa kan, kita duduk di pinggir sini?" tanya Tika, sedikit tak enak pada Rania. Karena temannya itu membawa bayi.

"Gak papa, kok. Aku malah yang gak enak. Jadi ngrepotin kamu."

"Ih, gak lah. Kayak sama siapa aja. Kita hampir tiga tahun bareng terus dulu di SMA."

Rania tersenyum. Apa yang Tika ucapakan memang benar. Tiga tahun mereka berteman begitu dekat. Tapi, setelah ia keluar dari sekolah. Saat itu juga hubungannya dengan Tika tak lagi sama. Tika yang mulai sibuk ujian dan dirinya yang disibukkan rumah tangganya.

"Ngomong-ngomong, rumah tangga kamu baik-baik aja, kan?" tanya Tika dengan suara yang terdengar hati-hati.

Rania menghela napas, lalu tersenyum hambar. "Nggak sebaik yang kamu lihat. Saran aku, jangan buru-buru nikah, Tik."

Tika menunduk, jemarinya meremas ujung baju. Raut wajahnya jelas menyimpan kegelisahan.

"Ada apa? Ngomong aja," desak Rania, mulai menangkap ada sesuatu yang tak beres.

"Kamu … sama suami kamu, masih tinggal bareng?"

"Iya, masih. Kenapa? Kok kamu jadi aneh gini?"

"Aku cuma mau memastikan aja," jawab Tika pelan.

"Apa sih? Jangan bikin aku takut," ucap Rania, tiba-tiba merinding tanpa alasan.

Tika lalu mengeluarkan ponselnya dari tas, menyalakan sebuah video, dan menyerahkannya pada Rania. "Coba kamu lihat sendiri."

Di layar, tampak suasana sebuah rumah makan. Awalnya biasa saja, sampai pandangan Rania tertumbuk pada sosok yang sangat ia kenal. Bagas. Duduk berhadapan dengan seorang wanita lain dan di sebelahnya, ada Marni, ibu mertuanya.

"Ran, kamu oke?" Tika menyentuh pelan pundaknya.

"Mas Bagas … selingkuh?" lirih Rania, suaranya hampir hilang.

"S-sorry kalau ini bikin kamu sakit hati. Tapi aku nggak tega nutupin lagi, apalagi habis ketemu kamu tadi."

Rania mencoba tersenyum, meski hatinya serasa diremukkan. "Nggak papa. Justru aku harusnya berterima kasih. Berkat kamu, mataku jadi kebuka lebih lebar."

"Aku juga awalnya nggak yakin, makanya sempat ragu. Tapi pas aku zoom videonya, jelas banget itu dia. Aku kan ingat banget ibu mertua kamu yang doyan ngomel itu. Dan Bagas … ya, aku kaget sih. Aku masih ingat gimana dulu dia waktu pacaran sama kamu."

Senyum getir menghiasi wajah Rania. Ingatannya melayang ke masa lalu. Saat masih sekolah, Bagas memperlakukannya seperti ratu. Kerja di pabrik dengan gaji lumayan, dia selalu royal, bahkan menghadiahi barang-barang yang mustahil dimiliki anak seusia mereka. Semua perhatian itu yang akhirnya menjerat Rania, sampai ia terlena, sampai masuk dalam lingkaran napsu yang seharusnya tak pernah terjadi. Padahal dulu, ia termasuk siswi berprestasi yang disegani.

"Aku kira kalian udah pisah. Habisnya, Bagas keliatan deket banget sama cewek itu. Apalagi ada ibu mertuamu juga," lanjut Tika pelan.

Rania cepat-cepat memalingkan wajah, menahan perih yang kembali menusuk. "Belum, Tik. Kita memang belum pisah. Tapi entahlah nanti." Suaranya kali ini terdengar benar-benar mati rasa.
Lanjut KBM App
Judul : Aku Hempas Suami Pemalas
Karya : Afiaanicma19

Bab 3"Hati-hati, Mas! Semangat ya," teriak Rania di ambang pintu. Tangannya mengepal, lantas melakukan tinjuan di udara....
06/10/2025

Bab 3

"Hati-hati, Mas! Semangat ya," teriak Rania di ambang pintu. Tangannya mengepal, lantas melakukan tinjuan di udara. Senyumnya merekah melihat sang suami akhirnya kembali bekerja, setelah seminggu lebih berdiam diri di rumah.

"Hm. Jaga Icha yang bener." Bagas menatap ke arah sang istri sejenak. Lalu kakinya mulai mengayun pada selahan motor.

Brum ... tronton ... ton ...

Bunyi knalpot glonggongan, memenuhi teras kontrakan kecil itu. Asap cukup besar mengepung sekitar begitu motor menyala. Tapi semua tidak menjadi masalah, asalkan benda roda dua tersebut masih dapat menggelinding mengantarkan tuannya untuk pergi.

"Eh, Mas! Sebentar, aku hampir lupa." Rania menepuk kening. Bekal yang sudah ia siapkan sejak pagi hampir saja tertinggal. Walau hanya berisi nasi dan telur ceplok. Namun, setidaknya bisa untuk mengganjal perut saat siang nanti. Dari pada harus beli makanan di luar.

"Nih, Mas." Masih dengan senyuman. Rania menyodorkan kotak makan yang warnanya sudah pudar.

Bagas mengintipnya dari bawah kotak makan yang transparan. "Telor lagi?" tanyanya.

Rania meringis. "Itu dulu lah. Nanti kalau uangmu udah turun, baru ganti menu. Pakai daging deh."

"Ck! Iya deh, iya. Yaudah, aku berangkat." Bagas mengulurkan tangannya pada Rania.

Rania pun dengan senang hati menyambutnya. Mengecup penuh sayang, di selingi doa baik.

Motor pun mulai melaju, meninggalkan kontrakan. Meninggalkan Rania yang masih menatap punggung sang suami. Setelah usahanya membujuk sehari semalam, akhirnya Mas Bagas mau untuk menerima proyekan ini. Kalau tidak begini, mereka akan makan dari mana?

"Seenggaknya, Mas Bagas berangkat dulu ya, kan? Lagian, udah seminggu lebih dia cuma malas-malasan di rumah," gumam Rania. Tangannya bergerak menutup pintu rumah. Tapi, gerakannya terhenti. Kala mendengar suara ibu mertuanya di rumah seberang kontrakan.

"Pagi sekali, Bu Marni kesininya?" sapa salah seorang tetangga kontrakan Rania.

"Jelas d**g, Bu. Kalau gak gini anak saya gak makan nanti."

"Loh, kok begitu?"

"Ya iya. Menantu saya kan pemalas banget, Bu. Tiap saya dateng aja, makanan belum ada. Bahkan bisa sampai siang. Gimana anak saya jadi gak kurus? Pokoknya, anak saya makin gak ke urus sekarang."

"Tapi, Bu Marni. Saya lihat tadi Bagas baru aja pergi naik motornya itu. Saya lihat juga, Rania bawain kotak bekal, Bu."

"Halah, itu cuma akal-akalan Rania. Cari muka aja. Saya yang tahu betul gimana anak itu."

Di ambang pintu, jemari Rania bergerak membentuk kepalan. Selalu saja, ibu mertuanya itu menjelekkannya di belakang. Salahkan anaknya itu, kenapa setiap dia datang selalu tidak ada makanan. Bagaimana mau ada? Kalau uang saja dirinya tak pegang. Jangankan pegang, Mas Bagas saja jarang memberinya .

Lagi ... suara mertuanya, kembali menusuk perasaannya.

"Tahu gak, Bu. Kalau aja Rania gak ngegoda anak saya dan merayunya. Anak saya gak bakal kejebak sama anak petani miskin kayak dia. Pastinya, Bagas udah dapat wanita jauh di atas dia. Dulu aja, Bagas udah deket sama Lisa. Anak lurah desa sebelah. Tapi, gara-gara si Rania ini, mereka jadi putus."

"Ah, masa sih, Bu?"

"Ck! Masa kamu gak percaya sama saya. Rumor kalau Rania itu penggoda, udah kesebar kemana-mana, loh. Kalau aja–"

"Ibu!" teriak Rania. Dirinya memberanikan diri mendekat. Hatinya jelas sudah tidak tahan. Ibu mertuanya itu terus aja memebicarakan hal tak benar tentangnya.

"Kamu? Ngapain kesini?" Marni menunjukkan raut wajah tak s**a.

"Eh, Rania. Sini, Nak." Tetangga Rania menyapa dengan ramah.

"Ibu mau sampai kapan? Ngejelekin aku di depan orang-orang? Apa ibu gak cukup, marah-marahin aku setiap hari? Dan masih harus begini di belakang."

"Kenapa? Kamu gak terima? Bukannya ini semua kenyataan. Tahu diri kamu Rania. Kamu hanya benalu di kehidupan anak saya. Kalau aja, Bagas gak nikah sama kamu. Hidupnya gak bakal sengsara seperti sekarang. Dia gak bakal di pecat dari pabrik. Dulu hidupnya udah enak, tapi sejak nikah sama kamu mendadak hidupnya berantakan. Pembawa si4l memang kamu."

"Bu ...." Air mata Rania kini tak lagi dapat terbendung. Ibu mertuanya, kenapa bisa selancar itu mengatainya.

Tapi, harusnya sang ibu mertua berkaca sendiri pada keadaan. Penyebab utama Mas Bagas diberhentikan bekerja.

Usut punya usut. Sekitar tiga bulan Rania memang sempat merasakan hidup tentram bersama Mas Bagas dan berkecukupan. Namun, semua seakan hilang begitu saja. Saat dirinya menemukan Mas Bagas mulai kecanduan game online dan judi online. Mungkin, dua penyebab itu salah satu alasan sang suami diberhentikan tak jelas dari pabrik.

Sejak saat itu, Rania harus pontang panting menyiasati setiap pemas**an. Bahkan, harus rela berhutang di warung demi memenuhi kebutuhan hidup. Jadi? Yang benalu siapa? Ia atau anaknya itu?

----

Setelah kejadian lagi tadi, Rania memilih duduk lama di dalam kamar. Sembari menemani Icha yang masih tidur tidur. Gara-gara itu, banyak pekerjaan rumah yang ia tinggalkan.

"Kayaknya, emang aku harus cari kerja. Gak mungkin, kan? Aku diam aja di rumah. Tapi, kalau aku kerja Icha sama siapa? Gak mungkin juga aku bawa."

Rania menunduk dalam-dalam. Otaknya penuh pemikiran yang membuatnya pusing. Sudah seperti benang kusut.

Tok ... tok ...

Suara pintu diketuk, membuat Rania menoleh. "Ya!"

"Mbak, ini aku Indah."

"Indah? Ngapain dia kesini?" gumam Rania. Lalu cepat-cepat membukakan pintu untuk adiknya itu.

"Ndah, tumben kesini. Ada apa?" tanya Rania begitu pintu terbuka.

Indah yang masih lengkap memakai seragam sekolah, menatap sang kakak dengan mata berkaca-kaca. "Bapak, Mbk. Bapak ...."

Deg!

Jantung Rania berdegub kencang. Mendadak perasaannya menjadi tak baik. "K-kenapa sama bapak?" tanyanya pelan.

"Aku tadi dapat kabar dari tetangga. Kondisi bapak semakin buruk, Mbak. Kita disuruh kesana."

Tak banyak bicara lagi. Rania bergegas masuk ke dalam rumah, menggend**g Icha dan menyambar tas selempang.

"Ayo, kita ke rumah sakit," ucap Rania. Jemarinya benar-benar terasa dingin. Ia tak sanggup mendengar kabar lebih buruk dari ini.

"Semoga bapak baik-baik aja." Rania terus merapalkan doa sepanjang jalan.

Beruntung, kali ini ada tetangganya yang baik memberikan ia dan adiknya tumpangan menuju rumah sakit.

Sepanjang perjalanan, pikiran Rania tak tenang sama sekali. Pikiran buruk semakin menjadi. Padahal, semalam ia mendapat kabar kalau kondisi bapak semakin membaik. Bahkan, beliau sudah mau makan sendiri. Kenapa mendadak sekarang malah ngedrop?

Lorong panjang bernuansa putih, menjadi pemandangan pertama kali Rania begitu turun dari atas mobil. Aroma obat begitu kuat, menusuk indera penciumannya.

"Rania, Nak!" panggil Titin, ibunya.

"Bu, bapak gimana?"

Titin menyeka air matanya. Lalu mengusap punggung putri pertamanya itu. "Kamu masuk, gih. Bapak pengen ngomong katanya."

Rania mengangguk, lalu memberikan Icha pada ibunya.

Saat memegang gagang pintu, mendadak tangannya bergetar. Jantungnya tak kalah berdegub kencang.

"Bapak," lirih Rania. Air matanya tak terbendung lagi, melihat cinta pertamanya terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.

"Gimana kabar, Bapak?" Rania menarik kursi dan duduk di sebelah ranjang. Tangannya menggenggam erat, tangan yang dulu selalu meraihnya ketika terjatuh dari atas sepeda.

"R-rania ... itu kamu, Nak?" Ahmad mencoba tersenyum, dibalik rasa sakit yang semakin menjadi.

"Gak usah banyak bicara dulu, Pak. Bapak baik-baik aja, ya."

Ahmad menggeleng. "Kamu yang harus baik-baik aja, Rania."

"Pak ...."

"Bapak tahu, hidup kamu gak mudah. Pulang aja, Nak. Rumah selalu terbuka untuk kamu. Bapak juga ... Hah ... hah ... hah ...."

Napas Ahmad mulai tersengal. Tangannya mulai dingin menggenggam erat tangan Rania.

"Pak!" Mata Rania membola. "Jangan bikin Rania takut."

Cepat-cepat Rania menekan tombol yang terletak di atad ranj4ng. Membuat seorang dokter dan beberapa perawat masuk ke dalam ruangan. Saat semua itu tepat berada di depan matanya. Sungguh, bagai di sayat ribuan kali hatinya melihat semuanya.

"Apa ia akan kehilangan bapak?" gumam Rania. Yang hanya bisa diam mematung, melihat kumpulan orang berbaju putih masih mencoba menolong bapaknya.
Lanjut KBM App
Judul : Aku Hempas Suami Pemalas
Karya : Afiaanicm19

Bab 2"Ndah, gimana keadaan bapak?" tanya Rania dengan nafas tersengal. Tangannya sedikit gemetar memegang Icha yang sena...
05/10/2025

Bab 2

"Ndah, gimana keadaan bapak?" tanya Rania dengan nafas tersengal. Tangannya sedikit gemetar memegang Icha yang senantiasa masih dalam gend**gannya.

Indah menggeleng. "Belum tahu, Mbk. Dokter masih di dalam. Tadi juga tiba-tiba banget kejadiannya."

Rania melangkah sedikit maju di depan pintu dan mengintip dari kaca pembatas. Disana bapaknya terbaring lemah di atas ranjang. Banyak selang-selang yang menempel pada tubuh.

Tidak menyangka, bapaknya yang penuh kasih dan selalu merangkulnya, kini bisa sampai di tahap seperti ini.

"Aku bahkan belum bisa bikin bapak bangga," lirih Rania.

Rania lalu duduk di kursi tunggu. Tepat di samping ibunya yang sedang menangis.

"Ran, kamu dateng?" Titin–Ibu Rani menoleh, dengan mata sembabnya.

Rania mengangguk.

"Kamu bawa Icha juga?" Titin membelai cucu pertamanya penuh kasih sayang. "Sebaiknya kamu pulang aja, Ran. Disini ada ibu sama Indah. Kasian Icha kalau disini lama-lama, gak baik buat bayi."

Rania kembali menatap Icha yang berada di dalam gend**gannya. Mungkin, ada benarnya kalau disini terlalu baik untuk keadaan Icha yang masih rentan akan penyakit.

"Tapi, nanti kasih kabar ya, Buk. Kalau bapak udah siuman."

"Hm. Iya, Ran. Kamu hati-hati ya di jalan."

Rania mengangguk. Lalu meraih tangan ibunya dan mengecup punggung tangan yang telah membesarkannya itu.

Saat Rania sudah berjalan beberapa langkah. Sang ibu kembali memanggilnya.

"Ran!"

Rania berbalik. "Ya, Buk?"

Titin merogoh sesuatu dalam saku bajunya, lalu meletakkan sesuatu di atas telapak tangan Rania. "Buat beli susu Icha."

"Buk, tapi ini–"

"Ibu paham. Kamu butuh itu, Ran."

"Tapi bapak di rumah sakit. Ibu lebih butuh." Mata Rania mulai berkaca-kaca.

"Kamu gak usah pikirin ibu. Ibu masih punya, kok." Titin mencoba tersenyum. Tangannya membelai wajah yang terlihat lebih menyusut. Ia paham betul, bagaimana kondisi Rania setelah menikah. Tapi, apa mau di kata? Nasi telah menjadi bubur.

Dengan tangan yang gemetar, Rania segera memasukkan satu lembar berwarna merah itu ke dalam saku celananya. Padahal ia tahu betul, sang ibu pasti tak kalah membutuhkannya. Tapi, uang itu justru dengan rela diberikan kepadanya.

Dalam perjalanan pulang, pikiran Rania terus berkelana. Ia sadar, tak mungkin selamanya bergantung pada orang tuanya setiap kali kesusahan datang. Bagaimanapun, kini ia sudah berkeluarga dan harus berdiri di atas kaki sendiri.

"Aku harus cari kerja," bisiknya lirih, namun penuh tekad.

Tatapannya jatuh pada wajah mungil Icha yang tertidur pulas di pelukannya. Rania mengusap p**i lembut putrinya, senyum getir terbit di bibir.

"Kamu doain Ibu ya, Cha. Semoga Ibu segera dapat kerja. Kerja yang bisa bawa kamu juga. Kita bakal lewatin semua ini sama-sama," ucapnya pelan, seolah menanam janji pada diri sendiri.

----

"Mas, kamu bisa jaga Icha sebentar? Aku lagi masak, nih."

"Ck! Bentar, Ran. Satu ronde lagi. Lagian Icha juga masih tidur."

"Huh! Takut aja kalau bangun, Mas. Dia kadang bangun gak nangis loh."

"Iya-iya, bentar ya."

Rania menghela napas, lalu lanjut mengaduk sop yang berada dalam panci. Namun, pandangannya sesekali melirik ke arah kamar. Takut-takut kalau Icha terbangun dan sudah tengkurap.

Satu panci penuh sop sayur akhirnya matang. Kepulan asap menguar. Aromanya begitu menggugah, membuat Bagas yang semula sibuk bermain game, mulai mengalihkan perhatiannya.

"Udah mateng, Ran?"

"Iya, udah mateng. Kamu mau makan dulu?"

"Hm. Siapin kopi juga ya."

"Kopi? Gak ada kopi, Mas," ucap Rania dengan nada kurang mengenakkan.

"Ck. Kemarin kan kamu baru dikasih ibu kamu. Kenapa gak di sisain buat beli kopi, sih."

Rania melotot tajam. "Yang bener aja kamu, Mas. Uang itu buat beli susu Icha. Lagian, kenapa kamu malah ngarepin uang dari ibu aku? Harusnya kamu kerja dan bantu keluarga aku. Bapak aku masih di rumah sakit dan ibu masih rela kasih aku uang, loh. Kamu sebagai kepala keluarga apa gak malu?"

Prang!

Setelah mengatakannya. Rania meletakkan piring dengan kasar. Selalu saja, ada perdebatan antara dirinya dan Mas Bagas. Kenapa suaminya itu tak kunjung punya pemikiran yang dewasa, padahal usianya sudah 24 tahun.

"Ran, jadi istri yang nurut kenapa? Banyak nuntut ya kamu."

"Apa?" Tangan Rania mengepal kuat. Kepalanya bahkan terasa mendidih ketika mendengar ucapan sang suami. "Kalau aku gak nuntut kamu? Kamu mau jadi apa, Mas? Malas-malasan di rumah dan cuma pegang hp seharian. Game terus aja di otak kamu. Dalam seminggu ini aja kamu gak kerja loh, Mas. Gimana kita ada pemas**an? Uang kontrakan juga udah nunggak bulan kemarin. Bulan ini kita udah harus bayar. Kamu–"

"Stop, Ran! Aku mau makan. Gak usah nyerocos terus kayak tukang sales panci. Capek aku dengerin kamu yang begini."

"Apalagi aku, Mas. Lebih capek lagi. Batin aku juga tertekan. Tiap hari makan ati, apalagi denger ucapan ibu kamu itu."

"Cih, berani ngomong kalau gak ada ibu," decak Bagas.

Rania hanya melirik sekilas ke arah suaminya. Lalu sebuah pikiran mendadak terlintas di benaknya.

"Mas," panggilnya pelan.

"Hm, apalagi?" sahut Bagas tanpa menoleh.

"Aku yang kerja aja, gimana?"

Bagas tersedak minumannya. "Uhuk! Kamu gila, Ran? Kalau kamu kerja, Icha sama siapa?"

"Sama kamu, lah. Kamu kan cuma di rumah, malas kerja. Tahu gitu, aku aja yang cari uang."

Bagas mendengus sinis. "Cuma lulusan SMP. SMA aja nggak lulus. Mau kerja apa kamu, hah?"

"A-aku .…" Rania tercekat. Rasa ingin bekerja begitu besar, tapi kenyataan membuat lidahnya kelu. Ia tahu, dengan hanya berbekal ijazah SMP, mencari pekerjaan tidak akan mudah.

"Udahlah, jangan kebanyakan tingkah!" Bagas meninggikan suara. "Kamu udah enak tinggal di rumah. Perempuan itu kodratnya di rumah, beberes, ngurus anak, sama ngelayanin suami."

Rania terdiam. Tanpa sadar, setetes air mata jatuh membasahi p**inya. Ia lelah. Sangat lelah. Dan setiap kata dari mulut suaminya hanya membuat beban itu semakin berat.
Lanjut KBM App
Karya : Afiaanicma19
Judul : Aku Hempas Suami Pemalas

Bab 1"Oek ... oek ...." Suara tangisan bayi yang baru berumur lima bulan, terdengar memenuhi rumah kontrakan. Rania–ibu ...
04/10/2025

Bab 1

"Oek ... oek ...."

Suara tangisan bayi yang baru berumur lima bulan, terdengar memenuhi rumah kontrakan.

Rania–ibu dari bayi itu, terlihat sibuk bercampur panik di area dapurnya yang kecil. Tempat susu untuk anaknya terlihat sudah kosong, tidak tersisa bubuk susu barang sedikit pun.

"Rania! Buatkan aku kopi. Cepat ya." Teriakan dari Bagas di ruang tamu. Membuat Rania kesal setengah mati. Hanya kopi saja pikiran dari suaminya itu. Bukannya segera membantu menenangkan bayi mereka yang sedari tadi terus menangis.

"Mas!" panggil Rania.

"Hm. Mana kopinya?" Bagas bertanya. Pandangannya tak teralihkan dari ponsel.

"Mas, ih! Kopi terus. Susu Icha udah abis. Minta duit, d**g."

"Ck! Baru juga kemarin aku kasih kamu uang, Ran. Masa udah abis aja."

Mata Rania membola. "Mas, kemarin kamu cuma kasih aku lima pulih ribu. Ya, mana cukup. Buat beli gas dan nyicil hutang di warung, terus cuma sisa sedikit buat aku belikan lauk."

"Boros banget sih kamu, Ran. Lima puluh ribu itu banyak loh."

"Banyak apaanya? Pergi ke warung aja kurang, Mas. Apalagi aku punya hutang dimana-mana yang harus aku bayar."

"Lagian, hutang kok di jadiin hobi."

Rania mengepalkan tangan. "Mas, kalau aku gak hutang. Kita gak bakal bisa makan tiap hari tahu, gak!"

Rania yang kesal langsung merampas begitu saja ponsel yang sedang Bagas mainkan.

"Heh, Rania! Balikin ponsel aku, Ran," teriak Bagas.

"Kasih aku uang dulu. Baru aku balikin. Kalau gak kamu kasih, aku bakal gadaikan ini ponsel buat beli susu Icha." Rania mengangkat tinggi ponsel milik suaminya itu. Jangan harap, Bagas bisa mengambilnya sebelum memberikan dirinya uang.

"Oek ... oek!" Tangisan Icha dari dalam kamar terdengar semakin keras. Rania pun menoleh.

"Urusin dulu anak kamu itu. Berisik banget sih, Ran. Dan sini balikin hp aku." Bagas mendekat dan mencoba meraih ponsel yang Rania pegang. Namun, gagal. Rania masih menggenggam erat benda p**ih itu.

"Gak, Mas. Icha butuh susu. Uang dulu, baru aku kasih hpnya." Rania menggeleng.

Kalau saja as1nya keluar, ia pasti tidak akan sesulit ini ketika Icha kehausan dan ingin meminum susu. Melihat Icha yang terus menangis, membuat Rania bingung. Terus melanjutkan meminta uang atau menggend**g anaknya terlebih dulu?

Karena umur Rania belum genap 19 tahun. Dirinya tergolong masih sangat muda ketika menyandang gelar seorang ibu. Membuat sifat kekanakannya masih sering keluar dan tindakannya jelas kurang perhitungan.

Brak!

Pintu depan terbuka dengan sekali hentakan. Marni–ibu mertua Rania datang dengan plastik kresek di tangan.

"Ada apa ini? Icha kenapa nangis? Pasti kamu gak becus ngurus anak ya?" tanyanya dengan nada kurang mengenakkan.

Rania hanya bisa menelan ludah perlahan. Tangannya yang ia angkat, segera diturunkan. "Rania haus, Bu," lirihnya.

"Haus?" Marni melirik Rania dengan sinis. Tangannya menepuk sofa yang telah usang lalu duduk disana. "Kalau haus ya beri susu lah."

"Susunya habis, Bu."

"Beli lah. Gitu aja kok repot," ucap Marni. "Lagian, badanmu semok begitu kenapa as1 saja gak bisa keluar sih, heran aku."

"Masalahnya aku gak ada uang, Bu. Mas Bagas belum ngasih juga buat beli susu Icha."

"Belum ngasih? Bukannya kemarin ibu udah ngasih ke Bagas uang lima puluh ribu. Pasti udah di kasih ke kamu, kan? Kamu kemanakan itu uangnya, hah? Pasti buat beli seblak ya, kan?"

"Uangnya habis. T-tapi buat beli kebutuhan–"

"Halah, gak usah ngeles kamu Rania. Lima puluh itu banyak. Kalau cuma buat kebutuhan harusnya masih bisa itu kamu sisain beli susu Icha. Bukannya malah kamu habisin buat yang lain," potong Bagas.

"Mas, tapi–"

"Halah-halah, udah. Stop! Kamu cepet gend**g Icha sana. Gak denger? Dia udah nangis dari tadi."

Rania menghentakkan kakinya, lalu masuk ke dalam kamar. Tangannya meraih bayi yang baru saja menginjak usia lima bulan.

Walau sudah dalam gend**gan, Icha masih saja menangis. Rania tahu, putrinya itu kehausan.

"Lebih baik aku kasih Icha air putih dulu. Lalu ke rumah ibu buat minjem uang," gumam Rania.

Dengan kain jarik yang membalut tubuh Icha untuk menggend**gnya, Rania keluar dari kamar. Kakinya berhenti sejenak di ambang pintu menatap sang suami dan mertua yang asik menyantap sarapan. Tanpa memperdulikannya, yang masih kesusahan menenangkan Icha.

Krucuk!

Bunyi perut Rania, sedikit membuat Bagas menoleh. Menatap sang istri. "Kenapa? Kamu laper?" tanyanya.

Rania mengangguk.

"Ekhem. Yaudah sini makan dulu." Bagas merasa sedikit tidak tega, menyodorkan bungkusan nasi uduk yang telah dibuka olehnya.

Plak!

Marni memukul tangan Bagas dan menatap tajam putranya. "Itu buat kamu, Gas. Ngapain kamu kasi juga ke istri kamu itu. Lagian salah dia sendiri, kenapa gak siapin sarapan."

"Bu, tapi kasihan Rania. Dia juga harus ngurus Icha." Bagas menggaruk tengkuk bingung.

Memang dasarnya Bagas. Pria yang plinplan tak seakan tak punya pendirian. Karena selalu disetir oleh ibunya.

"Dengerin omongan ibu. Rania itu gak becus ngurus anak, gak becus ngurus kamu, gak becus ngurusin urusan rumah. Biarin aja dia nahan laper sedikit, buat pelajaran dia."

Rania hanya diam. Tangannya meremat kuat botol susu yang ia bawa.

"Yaudah, Mas. Aku juga gak laper lagi, sekarang udah kenyang. Oh iya, aku mau ke rumah ibu dulu."

Rania maju dan mengulurkan tangannya.

"Makan gorengan dulu deh kalau gitu." Bagas mengambilkan sebuah tempe goreng.

Rania melirik sang ibu mertua. "Gak, Mas. Makasih. Aku pergi dulu."

Ucapan ibu mertua yang selalu menyakitinya sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Rania. Sementara Bagas, pria yang seharusnya ia andalkan justru hanya sibuk dengan hobinya bermain game. Sifatnya manja, malas, dan nyaris tak ada satu pun kelebihan yang bisa membuat Rania merasa tenang di sisinya.

Mungkin memang salahnya, terlalu cepat mengambil keputusan hanya karena terbuai rayuan manis. Kini hidupnya terjebak dalam kesengsaraan. Mengeluh pun percuma, karena semua ini adalah hasil dari pilihannya sendiri.

"Sabar ya, Icha. Kita sebentar lagi sampai rumah Uti. Habis itu, Ibu belikan susu, kok," bisik Rania, mencoba menenangkan sambil terus melangkah.

Beruntung, Icha sudah terlelap dalam gend**gannya. Mungkin terlalu lelah menangis sejak tadi.

Namun, langkah Rania terhenti begitu hampir tiba di halaman rumah orang tuanya. Matanya menangkap kerumunan orang yang memenuhi teras. Suasana tampak gaduh.

"Rania!" panggil salah satu tetangga ibunya.

"Budhe, ada apa? Kok rumah ramai sekali?" Rania menoleh panik, matanya celingukan.

Tetangganya mendekat, wajahnya penuh cemas. "Bapakmu, Ran … bapakmu jatuh di kamar mandi tadi."

Gend**gan pada Icha semakin erat, tubuhnya mendadak lemas. Suara itu terasa bagai petir yang menyambar. "B-bapak?" lirihnya, terbata.
Lanjut KBM App
Judul : Aku Hempas Suami Pemalas
Karya : Afiaanicma19

Address

Bagelen
Purworejo
54174

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Afia Rekomendasi posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share