11/09/2026
Ya Allah, Keracunan MBG Lagi, Kali Ini Giliran Pati
Belum selesai luka di Berastagi, Rembang, Sidoarjo, Agam, Tana Toraja, Nganjuk, Jember, dan Jombang, Pati menyusul. Daerah yang warganya terkenal kritis, sampai pagar DPR pun bisa dipanjat, kini mendapat “paket kejutan” makan gratis, bonus ambulans.
Nikmati MBG, eh salah, narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Lebih dari 50 ribu jiwa menjadi korban sejak program diluncurkan. Ada 560 kejadian di 245 kabupaten/kota pada 36 provinsi. Angkanya terus bergerak, seperti kereta yang remnya lupa dipasang.
Awal September saja, hampir 2.000 anak dan guru tumbang dalam tiga hari: 777 di Rembang, 664 di Sidoarjo, 344 di Agam yang terkontaminasi Bacillus cereus pada tahu dan cabai, 152 di Tana Toraja, serta puluhan di Nganjuk, Jember, dan Jombang.
Belum sempat orang tua menarik napas, Pati datang. Selasa siang, 8 September, nasi bakar ayam suwir, telur ceplok, orek tempe, lalapan, kerupuk udang, dan semangka dibagikan di tiga sekolah Kecamatan Gembong: SMPN 1 Gembong, MTsN 3 Pati, dan MTs Manbaul Ulum.
Menunya tampak normal. Tidak berbau. Tidak terlihat basi. Bahkan anak-anak senang. Ada yang minta tambah.
Lalu malam datang. Perut mulas. Muntah. Diare. Pusing. Sesak. Pingsan.
Rabu pagi, sekolah berubah menjadi ruang gawat darurat.
Sebanyak 259 hingga 265 siswa dan guru berjatuhan. Dua puluh sembilan ambulans dikerahkan. Belasan ambulans berjejer di depan gerbang, seperti iring-iringan menuju pemakaman. Bedanya, yang terbaring adalah anak-anak yang seharusnya sedang belajar.
Toilet penuh. Anak-anak berlari memegangi perut. Wajah pucat. Ada muntah di koridor, ada pingsan, ada sesak napas. Guru-guru ikut mual masih berusaha berdiri, sementara orang tua datang dengan wajah hancur.
“Anakku!”
“Kenapa bisa begini?”
“Makan gratis kok jadi sakit?”
Kalimat terakhir itu sederhana, tetapi bagi seorang ibu melihat anaknya terkapar, rasanya seperti ditusuk dari dalam.
Orang tua tidak meminta steak. Tidak meminta makanan mewah. Mereka cuma ingin anaknya makan siang, kenyang, lalu pulang sehat. Bukan makan siang, kemudian naik ambulans.
Yang paling ironis, makanan itu tidak memberi tanda bahaya. Tidak bau. Tidak basi secara kasatmata. Rasanya enak. Anak-anak malah minta tambah. Hanya pengirimannya terlambat, hampir melewati batas waktu aman konsumsi.
Akhirnya, tubuh anak-anak yang sedang tumbuh menjadi tempat membayar kelalaian.
Di rumah sakit, ibu-ibu menggenggam tangan anaknya sambil menangis. Diare berkali-kali. Muntah. Pusing. Ada yang tak sadarkan diri.
Di Karo, seorang siswi masih bergulat dengan kejang, gangguan bicara, dan hilang ingatan hampir sebulan setelah makan MBG.
Lima puluh ribu lebih korban. Lima puluh ribu!
Angka sebesar itu seharusnya membuat negara gemetar. Namun polanya terasa berulang. Dapur ditutup, ada suspensi, sertifikat higiene dibicarakan, evaluasi dilakukan, janji perbaikan diumumkan.
Lalu korban baru muncul. Tutup dapur. Evaluasi. Korban lagi.
Seolah negeri ini sedang memainkan kuis, “Hari ini, sekolah mana berikutnya?”
Masalahnya, hadiah kuis itu bukan piala. Bukan uang. Bukan tepuk tangan. Hadiah kuisnya rumah sakit.
Program ini disebut investasi generasi. Tetapi jangan sampai generasi itu belajar, makan siang dari negara harus disambut dengan rasa takut.
Pati bukan sekadar berita baru. Pati adalah alarm. Orang tua tidak membutuhkan seremoni, jargon, atau foto pejabat memegang omprengan. Mereka hanya ingin anaknya pulang membawa cerita tentang pelajaran, bukan muntah dan infus.
Sebab “gratis” tidak pernah lebih berharga dari “selamat”. Ya Allah, sampai kapan?
Saya tak tahu sampai kapan ini ironi berakhir. BGN sudah ganti nakhoda, bukan lebih baik, malah lebih parah. Kalau ditanyakan ke Kepala BGN Sudaryono, kita sudah tahu dan hafal jawabannya. "Prihatin, evaluasi, suspend SPPG, minta maaf." Begitu terus sampai dunia kiamat.
Anehnya, sampai detik tak satu pun bisa ditersangkakan. Kasus di Berastagi yang sampai ada 70 persen ingatan siswi hilang, tetap tak ada tersangka. Itu kalau makan ayam goreng KFC, siswa keracunan, esoknya sudah ditutup, pemiliknya langsung ditangkap dan dijebloskan ke penjara.
Yang paling saya khawatirkan, keracunan dianggap normal. Ah paling 0,006 persen saja. Kalau sudah demikian, keracunan MBG, bodo amat. Siapa lagi peduli? Semua tutup mata.
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani