07/06/2026
TORAJA--Di balik dinding kayu Tongkonan Gorang, Kelurahan Sarira, Kabupaten Tana Toraja, sebuah sejarah yang sempat hilang kembali menampakkan dirinya.
Senin (1/6/2026), suasanas khidmat menyelimuti rumpun keluarga besar saat ritual Ma'kassai' Bayo-bayona Ne' Se'ka' digelar. Ritual ini menjadi jembatan waktu yang menghubungkan generasi masa kini dengan leluhur mereka dari tiga abad silam.
Ma'kassai' Bayo-bayona adalah ritual penggantian baju untuk Tau-tau, patung kayu representasi orang mati dalam tradisi Toraja.
Kali ini, penghormatan diberikanm kepada Tau-tau Ne' Se'ka' atau Lai' Se'ka', sosok perempuan yang merupakan pendiri sekaligus tonggak sejarah Tongkonan Gorang.
Perpaduan antara tradisi kuno dan kehidupan modern tampak jelas dalam prosesinya. Ritual ini dirangkaikan dengan ibadah syukur bersama, yang kemudian dilanjutkan dengan pemotongan babi sebagai bagian dari tatanan adat yang tak terpisahkan.
Usia patung kayu ini diperkirakan telah menginjak 300 tahun. Angka yang fantastis untuk sebuah mahakarya kayu yang terus bertahan melewati berbagai zaman.
"Tau-tau Ne' Se'ka' kini telah berusia 300 tahun. Hal ini dikuatkan oleh garis silsilah kami, di mana generasi Tongkonan Gorang saat ini jika dihitung sudah mencapai kurang lebih 500 keturunan," ujar Robby Dapy, salah seorang generasi penerus Tongkonan Gorang.
Secara historis, Ne' Se'ka' adalah istri kedua dari tokoh adat bernama Para'pak, setelah istri pertamanya yang bernama Tumba' Lombang. Dari pernikahan Ne' Se'ka' dan Para'pak, lahirlah tiga orang anak yang menjadi perintis garis keturunan di wilayah tersebut.
Asik, anak sulung yang kemudian mendiami Tongkonan Gorang. Tanggadatu anak kedua dan Para'pak, anak ketiga yang menyandang nama sang ayah.
Meskipun telahj berusia tiga abad, kondisi fisik Tau-tau Ne' Se'ka' tergolong luar biasa. Secara umum strukturnya masih utuh. Hanya saja, jejak-jejak waktu tidak bisa berbohong, terdapat beberapa lecet di bagian tubuh patung, dan guratan ukiran khasnya mulai memudar dimakan usia.
Eksistensi Tau-tau Ne' Se'ka' yang bisa disaksikan hari ini sebenarnya adalah sebuah keajaiban yang sarat drama.Pada awalnya, layaknya tradisi Toraja pada umumnya, Tau-tau ini diletakkan di liang batu tempat jenazah Ne' Se'ka' dimakamkan di wilayah Gorang.
Namun, nilai sejarah dan estetika tinggi yang melekat pada patung-patung kuno Toraja sering kali menjadikannya sasaran empuk pencurian benda c***r budaya. Tau-tau Ne' Se'ka' sempat dinyatakan hilang dari liangnya.
Kehilangan tersebut sempat memutus rantai visual sejarah keluarga. Beruntung, berkat solidaritas, kerja sama, dan pencarian intensif yang dilakukan oleh seluruh rumpun keluarga besar, replika fisik sang leluhur berhasil ditemukan dan diselamatkan kembali.
Belajar dari peristiwa kelam tersebut, keluarga besar mengambil keputusan penting demi alasan keamanan. Sejak ditemukan kembali, Tau-tau Ne' Se'ka' tidak lagi dikembalikan ke liang kubur terbuka, melainkan disimpan dengan aman di dalam rupa hangat Tongkonan Gorang.
Kini, di balik balutan baju barunya, Tau-tau Ne' Se'ka' tidak hanya berdiri sebagai simbol kematian, melainkan sebagai penjaga memori kolektif ratusan generasi Gorang yang akan terus dirawat hingga abad-abad berikutnya.
naskah :
foto :