Ita Series

Ita Series ✅ Boleh baca & berkomentar
❌ Dilarang mengambil cerita & gambar
📌 Semua karya dilindungi hak cipta

19/08/2026

Ca dar Aisyah di permasalahkan mertuanya 😭

Judul: Dicibir Mertua Gara-gara Cadar
Penulis: Ita Riwu

Bab lengkap ada di aplikasi Kbm App





Bab 4Hari itu, kelas Manajemen Risiko penuh seperti biasanya,mahasiswa-mahasiswa duduk dengan wajah penuh be ban hidup, ...
15/06/2026

Bab 4

Hari itu, kelas Manajemen Risiko penuh seperti biasanya,mahasiswa-mahasiswa duduk dengan wajah penuh be ban hidup, siap menerima materi yang katanya bikin otak ha ngu s, Gue duduk di depan, berdampingan sama laptop dan tumpukan modul.

Pak Reza masuk kelas dengan gaya khasnya,datar, cool, penuh aura tegas yang bikin semua orang otomatis diam.

Tapi kali ini dia bawa satu tas jinjing kecil.

Gue bisik, “Pak, itu tas istri bapak ya?”

Dia melirik gue. “Ini tas proyektor, Alya.”

“Oalah. Kirain tas make-up.”

Beberapa mahasiswa yang denger bisikan gue langsung cekikikan.

Pak Reza cuma geleng pelan, tapi gue liat sudut bibirnya naik dikit.

Yey, satu poin untuk asdos gokil.

Dia mulai ngejelasin materi soal "Identifikasi Risiko", sambil nunjuk ke layar proyektor. Semua berjalan lancar sampai...

BRAK.

Proyektor mati.

Layar jadi gelap,seluruh kelas langsung heboh.

“Waduh, mati listrik ya?”

“Nggak tuh, lampu masih nyala.”

“Pak, dosennya kepanasan kali ya, jadi mati mendadak?”

Gue reflek berdiri, panik. “Pak, saya cek kabelnya ya.”

Gue jongkok di bawah meja sambil cari sumber masalah. Setelah beberapa detik...

“AAAAAAAAHHHH!!!”

Gue teriak dan meloncat mundur kayak orang ke se trum.

Semua mata ke gue. Termasuk Pak Reza.

“Ada apa?” tanya dia tenang.

“Pak... di bawah meja... ADA CI CAK GEDE BANGET!”

Sudah TAMAT di Kbm App 🥰

Judul: Pacarku Dosen Galak
Penulis: Ita Riwu
Platform: Kbm App





Bab 3Besoknya, gue menyerahkan lamaran langsung ke ruang dosen. Pas gue ketuk pintu, suara berat yang udah familiar bang...
14/06/2026

Bab 3

Besoknya, gue menyerahkan lamaran langsung ke ruang dosen. Pas gue ketuk pintu, suara berat yang udah familiar banget menyapa.

“Masuk.”

Gue tarik napas dalam, lalu buka pintu.

Pak Reza duduk di balik meja, masih dengan ekspresi datar. Tapi ada secuil senyum yang muncul di ujung bibirnya waktu lihat gue berdiri canggung sambil megang map.

“Saya bawa lamaran, Pak,” kata gue cepat.

Dia mengangguk. “Silakan duduk.”

Gue duduk, nyodorin map, dan nunggu sambil nahan keringat dingin.

Dia buka mapnya, baca cepat, lalu... tersenyum kecil. “Menarik. Walau surat lamarannya pakai font Comic Sans, tapi isinya cukup meyakinkan.

GUE SALAH PILIH FONT.

Sumpah, gue udah minta bantuan Dina. KENAPA DIA PAKE COMIC SANS?

Sumpah, gue udah minta bantuan Dina. KENAPA DIA PAKE COMIC SANS?

Gue nyaris nangis malu, tapi Pak Reza langsung lanjut, “Saya sebenarnya sudah tahu kamu bakal daftar. Dan saya memang butuh asisten yang bisa bantu koreksi tugas, input nilai, dan bantu koordinasi kelas.”

Gue angguk-angguk. “Siap, Pak. Saya bersedia bantu apa pun.”

“Termasuk bawain kopi?”

“Selama nggak pakai ra cun, siap, Pak.”

“Baik. Mulai minggu depan, kamu resmi jadi asisten saya.”

Deg.

Gue keluar dari ruangan itu sambil nahan jerit kegirangan. Oke, sekarang status gue di kampus makin absurd, mahasiswi biasa pengirim boneka sapi asdos dosen kil ler. Karier gue benar-benar melonjak tanpa aba-aba.

---

Hari pertama jadi asisten dosen dimulai dengan deretan tugas administratif. Gue duduk di sudut ruangan dosen sambil buka laptop, ditemani suara printer dan aroma kopi sachet.

Pak Reza ngasih gue beberapa berkas, dan surprisingly… dia detail banget. Semua tugas mahasiswa ditandai, dikasih catatan, bahkan ada kode warna.

“Biru untuk jawaban bagus. Kuning buat yang hampir bener. Merah buat jawaban ngawur,” jelasnya.

“Kalau saya, Pak?” tanya gue iseng.

“Kalau kamu? Kamu biasanya jawab dulu, mikir belakangan.”

Beberapa dosen lain lewat dan ngelirik ke arah gue. Salah satunya bahkan bisik-bisik, “Oh, ini yang katanya pacarnya Reza ya?”

Gue langsung pengin nyungsep ke laci meja.

Untungnya, Pak Reza tetap tenang. Sikapnya profesional, walau kadang… dia lempar senyum diam-diam yang bikin gue susah fokus kerja.

Sudah TAMAT Di KBM APP

Judul: Pacarku Dosen Galak
Penulis: Ita Riwu




Bab 2Pak Reza ngelangkah ke arah gue. Suaranya tetap dingin, ekspresi tetap datar.   “Alya, kamu punya waktu sebentar?”G...
13/06/2026

Bab 2

Pak Reza ngelangkah ke arah gue. Suaranya tetap dingin, ekspresi tetap datar.

“Alya, kamu punya waktu sebentar?”

Gue mengangguk. Nggak bisa ngomong. Mulut udah kering, kayak abis makan kerupuk lima bungkus.

Lalu dia duduk di kursi depan gue. Dia buka tasnya… dan ngeluarin satu benda yang bikin gue hampir pingsan.

Sebuah boneka sapi,warna pink,ukurannya segede bantal.

“Kamu salah kirim ini ke saya,” katanya, sambil nyodorin boneka itu. “Dan chatnya juga.”

Gue langsung mau ga li tanah, masuk, dan tinggal di dalamnya sampai kia mat.

Oke, jadi gini,tiga hari lalu, gue iseng beli boneka pink buat gebetan lama.

Gue foto, kirim caption manis, “Semoga kamu bisa peluk ini kalau kangen aku.” Tapi sialnya… gue salah kirim. Bukan ke Rama, tapi ke Pak Reza.

Astaga naga gue nggak nyangka bakal ketahuan,gue pikir dia nggak bakal buka, atau paling enggak, pura-pura nggak lihat.

Tapi ini? Dia bawa buktinya ke kampus?

“Eh… s-saya... minta maaf, Pak,” suara gue cempreng. “Itu salah kirim… sumpah.”

Dia ngangguk pelan. “Saya tahu. Tapi karena saya sudah menerimanya, dan itu bentuknya lucu… saya jadi bingung.”

“Bingung, Pak?”

“Iya. Ini boneka paling imut yang pernah saya lihat. Saya... jadi pengin simpan.”

Gue membeku.

Dosen kil ler,paling galak. Mau nyimpen boneka pink sapi?

Pak Reza berdiri, matanya menatap tajam tapi senyumnya tipis, ya ampun, dia SENYUM!

“Mulai sekarang, Alya. Hati-hati. Jangan asal kirim pesan. Karena bisa aja… yang nerima jadi penasaran.”

Dan dia pergi. Ninggalin gue yang masih bengong, setengah takut, setengah... deg-degan.

***

Sudah TAMAT di Kbm App 🥰

Judul: Pacarku Dosen Galak
Penulis: Ita Riwu
Platform: Kbm App




Bab 1Nama gue Alya Ramadhani, umur dua puluh satu tahun,mahasiswi semester lima jurusan Manajemen di salah satu kampus s...
13/06/2026

Bab 1

Nama gue Alya Ramadhani, umur dua puluh satu tahun,mahasiswi semester lima jurusan Manajemen di salah satu kampus swasta yang kampusnya sih keren, tapi mahasiswanya… ya, gitu deh.

Termasuk gue, sering telat, s**a ngantuk di kelas, dan tugas seringnya dikerjain lima menit sebelum deadline.

Hebat, kan?

Gue pikir kuliah itu akan menyenangkan. Bangun siang, nongkrong di kantin, ngumpul bareng geng kampus, dan sesekali pura-pura pusing waktu ada kuis dadakan.

Tapi hidup gue mulai goyah waktu satu nama ini muncul di grup WA kelas.

"Guys, siapin mental ya. Dosen pengganti kita minggu depan Pak Reza Alfarizi. Kil ler banget katanya."

Dosen kil ler?

Oke,Gue kira itu cuma rumor,maksud gue, mana ada sih dosen muda, cakep, tapi galaknya minta ampun?

Biasanya yang kil ler itu dosen-dosen senior, yang udah hafal pola-pola mahasiswa malas.

Ternyata gue salah.

Hari pertama dia ngajar, suasana kelas langsung berubah jadi ruang pengadilan.

Dia masuk dengan kemeja putih, celana bahan, dan ekspresi dingin kayak kul kas dua pintu. Suaranya datar, tapi menusuk.

“Yang telat satu menit pun, silakan keluar. Saya tidak toleransi keterlambatan.”

Dan si alnya, hari itu gue telat dua menit. Dua menit! Dan beneran, gue disuruh keluar.

Diusir,di depan teman-teman satu kelas.

Gue cuma bisa nyengir kuda sambil nahan malu. Rasanya kayak ditolak pas nem bak gebetan, tapi ditonton satu RT.

Sejak saat itu, gue cap Dosen Reza sebagai public ene my number one.

Tapi semakin sering gue lihat dia di kampus, entah kenapa… gue malah jadi penasaran.

Kok dia kayak nggak pernah senyum, sih? Kok bisa segitu galaknya? Kok bisa tegas banget? Dan… kenapa ya, gue malah jadi mikirin dia terus?

Aneh banget. Logikanya, gue harusnya benci. Tapi perasaan gue malah campur aduk.

Apalagi setelah insiden paling memalukan dalam hidup gue, salah kirim chat cinta ke nomornya, yang harusnya buat gebetan lama. Iya, gue salah kirim.

Dan dari situlah semuanya dimulai.

Gue, si cewek ceroboh dengan re pu ta si akademik setengah matang, harus berhadapan langsung dengan dosen paling ga lak sejagad raya.

Dan tanpa gue sadari, langkah demi langkah… gue mulai masuk ke dunianya. Dunia seorang Reza Alfarizi, yang ternyata… nggak sehitam putih yang gue kira.

Semenjak kejadian “pe ngu si ran mas sal” itu, gue jadi lebih hati-hati,paling enggak, kalau ada kelas Pak Reza, gue siap di kampus satu jam sebelum waktu mulai.

Gue nggak mau lagi jadi bahan tertawaan satu kelas cuma gara-gara telat dua menit.

Hari itu, kelas Pak Reza dijadwalkan jam delapan pagi. Gue udah duduk manis di barisan kedua, bawa buku catatan baru, lengkap sama pulpen warna-warni, niat banget mau jadi mahasiswi teladan.

Tapi semesta berkata lain.

Baru lima menit pelajaran berlangsung, kejadian paling absurd terjadi. Gue lagi fokus nulis materi, eh... tiba-tiba hape gue getar. Notifikasi WA masuk.

Dari Pak Reza Alfarizi.

“Alya, setelah kelas, saya ingin bicara penting.”

DEG.

Jantung gue langsung joget poco-poco. Otak gue udah mikir ke mana-mana. Gue salah apa lagi? Salah kostum? Salah duduk? Salah napas? Atau dia nemu video TikTok gue yang pakai sound ‘capek kerja’?

Gue panik,sampai-sampai salah tulis catatan jadi “manajemen emosi dosen gal ak” padahal aslinya “manajemen risiko usaha.”

Setelah kelas selesai, semua temen buru-buru cabut. Gue? Masih duduk. Nunggu. Jan tung makin nggak karuan.

Baca selengkapnya di Kbm App 🥰

Judul: Pacarku Dosen Galak
Penulis: Ita Riwu




Mertuaku selalu menghin4ku sebagai menantu pembawa sial. Bahkan, ia selalu membandingkan aku dengan menantu lain yang le...
10/06/2026

Mertuaku selalu menghin4ku sebagai menantu pembawa sial. Bahkan, ia selalu membandingkan aku dengan menantu lain yang lebih kay4.

Namun, saat aku buka usaha dan sukses. Ibu mertuaku kembali ...

Semua nomor yang menyimpan rasa sakit itu, ku blokir dari WhatsApp. Aku mengambil langkah ini, untuk menyelamatkan mentalku yang rusak dibuat mereka. Setiap hari aku menangis dibuat oleh mereka.

Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Siang harinya, saat aku sedang mengaduk adonan bolu pesanan tetangga, Mas Andi menghampiriku dengan raut wajah yang sulit diartikan.

"Kenapa, Mas? Mereka menerormu lagi?" tanyaku tanpa menghentikan mixer.

Mas Andi duduk di kursi kayu dapur, meletakkan ponselnya di meja. "Mereka mulai curiga, Salsa. Barusan Raisa meneleponku. Dia bilang, dia sudah mencoba mengirimkan detail seragam untuk pesta pernikahannya ke WhatsApp-mu, tapi hanya centang satu.”

Aku menghentikan mixer. Suara bising itu berganti dengan sunyi yang tajam. "Lalu? Apa jawabanmu?"

"Dia bertanya apakah kamu sengaja memblokir mereka. Dia merasa tersinggung karena merasa urusan pernikahan tidak boleh dicampur adukkan dengan masalah internal kita," Mas Andi mengusap wajahnya kasar. "Lucu sekali mereka. Mereka menghina kemarin, menuduhmu memakai dukun, tapi sekarang bicara soal acara pernikahan. Mereka memintamu untuk hadir, karena nggak enak nanti diomongin tetangga. Katanya mereka sebenarnya nggak butuh kita hadir, tetapi mereka mengundang kita supaya terlihat hubungan kita dan keluarga baik-baik saja.”

Aku menarik nafas nafas panjang, mencoba meredam denyut di pelipis. "Katakan pada mereka, Mas. Katakan bahwa WhatsApp-ku memang sudah mati. Aku nggak pakai WhatsApp lagi!”

Ponsel Mas Andi kembali bergetar. Sebuah pesan singkat (SMS) masuk dari Mbak Andira. Mas Andi membacanya keras-keras dengan nada sinis:

"Andi! Bilang sama istrimu yang sombong itu, jangan sok jual mahal! Raisa itu adik kandungmu. Kalau dia memblokir kami, itu tandanya dia memang benar-benar punya niat jahat untuk memutus silaturahmi. Apa dia takut rahasia 'dukunnya' terbongkar kalau bertemu kami di pesta nanti? Bilang padanya, buka blokirnya sekarang atau jangan harap kami menganggap kalian keluarga lagi!”

Mendengar itu, tanganku gemetar. Fitnah itu tidak juga berhenti. Mereka menggunakan momen pernikahan Raisa sebagai senjata untuk memojokkanku lagi.

Mas Andi tidak membalas pesan itu. Sebaliknya, ia langsung mematikan ponselnya dan meletakkannya di rak paling atas, jauh dari jangkauan.

"Mas?" aku menatapnya ragu.

"Biarkan saja, Salsa. Biarkan mereka berteriak,” ujar Mas Andi dengan suara yang kini jauh lebih tenang. "Mereka curiga kamu memblokir karena mereka merasa punya hak atas hidup kita. Mereka pikir, aku bodoh! mereka bisa menendangmu lalu memanggilmu kembali ses**a hati saat mereka butuh.”

Aku menatap sisa adonan bolu yang menempel di tanganku, lalu beralih menatap Mas Andi dengan sorot mata yang tak lagi bisa berkompromi. Hatiku sudah menjadi kerak, keras dan tak tersentuh oleh drama pencitraan mereka.

"Mas," panggilku, suaraku datar namun sangat dingin. "Bahkan jika Ibu sendiri yang datang bersujud di depan pintu rumah ini untuk memintaku hadir, jawabanku tetap satu: Aku tidak akan datang.”

Mas Andi terdiam, memberikan ruang bagiku untuk menumpahkan segala yang menyesak di dada.

"Mereka bilang nggak butuh kita hadir? Mereka hanya ingin kita jadi pajangan agar tidak malu di depan tetangga? Hebat sekali," aku tertawa sinis, tawa yang lahir dari luka yang paling dalam. "Setelah mereka membuangku ke kubangan hinaan, sekarang mereka mau meminjam wajahku untuk menjaga harga diri mereka? Tidak akan, Mas!”

"Aku tahu, Salsa. Aku tidak akan memaksamu," ucap Mas Andi pelan.

Judul: Menantu Sangat Terhina.
Penulis: Doris Ariesta.

Baca bab selanjutnya di Kbm App

Mertuaku selalu menghin4ku sebagai menantu pembawa sial. Bahkan, ia selalu membandingkan aku dengan menantu lain yang le...
09/06/2026

Mertuaku selalu menghin4ku sebagai menantu pembawa sial. Bahkan, ia selalu membandingkan aku dengan menantu lain yang lebih kay4.

Namun, saat aku buka usaha dan sukses. Ibu mertuaku kembali ...

Cahaya lampu kristal di ballroom hotel bintang lima itu memantul sempurna pada kap mobil HRV putih yang terparkir gagah di tengah ruangan. Harum aroma bunga lili mahal menyeruak, bercampur dengan parfum bermerek para tamu undangan. Di sana, di bawah sorot lampu yang menyilaukan, drama keluarga kami dipentaskan.

“Ini mobil HRV untuk Ibu. Hadiah ulang tahun spesial dari kami. Terima kasih ya, Bu, sudah menjadi mertua terbaik yang selalu menerima aku dengan tangan terbuka sebagai bagian dari keluarga besar ini,” ujar Andira, kakak iparku.

Andira adalah menantu sempurna cantik. Sebagai anak pengusaha sukses di properti, suaranya terdengar lembut namun memiliki resonansi kekuasaan yang tak terbantahkan. Setiap kata yang keluar dari bibirnya yang dip**as lipstik merah mahal itu penuh dengan aura kemewahan dan kepercayaan diri yang meluap.

“Ya ampun, Andira! Kamu memang menantu kesayangan Ibu! Ibu benar-benar tidak tahu harus berkata apa lagi. Mobil ini… ini benar-benar mobil impian Ibu selama ini!” Ibu mertuaku membalas dengan suara bergetar. Ia memeluk erat Andira, mengabaikan fakta bahwa kerutan di wajahnya tertutup riasan tebal yang dipesan khusus untuk malam ini. Matanya berkaca-kaca, berbinar penuh kebahagiaan yang meluap-luap.

Di sebelah Andira, Kak Bintang—kakak kandung suamiku—berdiri tegak. Ia merangkul bahu Ibu dengan senyum bangga yang tersungging di wajahnya. “Semoga Ibu senang dengan pemberian kami, Bu. Kami berdua hanya ingin memberikan yang terbaik. Kami percaya, rezeki seorang anak akan selalu mengalir deras jika ia mampu memuliakan orang tuanya dengan cara seperti ini.”

Ibu mengangguk mantap, lalu tatapannya yang semula hangat tiba-tiba berubah sedingin es saat beralih ke arah kami yang berdiri di sudut remang.

“Tentu saja! Kebanyakan anak-anakku memang memuliakan aku. Tapi… lihatlah!” Ibu mencibir, dagunya menunjuk ke arahku dengan sinis. “Adikmu yang satu ini, yang hidupnya susah, selalu saja membuat kepala Ibu pusing. Belum lagi cucu-cucu Ibu yang terkadang dititipkan di rumah. Ibu tahu, itu pasti akal-akalan Mamanya saja agar tidak perlu repot masak atau mengurus rumah, kan?”

Kalimat itu menghujam jantungku. Kak Bintang menimpali dengan tawa kecil yang meremehkan. “Bagaimana lagi, Bu? Mereka kan memang kurang mampu. Kalau mereka kaya seperti kami, pasti mereka juga bisa memberikan barang-barang mewah, bukan cuma memberikan beban.”

Ibu mertuaku tersenyum sinis, menatap tajam ke arahku dan suamiku, Mas Andi. “Sepertinya mereka tidak akan pernah kaya. Hidupnya akan begini-begini saja, stagnan, selamanya di bawah.”

Begitu tajam mulut mertuaku, langsung menghakimi bahwa anak kandungnya sendiri tak akan pernah bisa sukses hanya karena standar materi yang ia tetapkan. Aku yang berdiri di belakang suamiku hanya bisa menundukkan kepala dalam-dalam. Dadaku sesak, seolah oksigen di ruangan mewah ini mendadak hilang. Aku berusaha menarik sudut bibirku untuk tersenyum, namun otot wajahku terasa kaku dan lumpuh.

Perkataan itu bukan sekadar sindiran; itu adalah tamparan keras yang meninggalkan bekas luka tak kasat mata. Mas Andi melirikku. Ia bisa merasakan jemariku yang gemetar. Dengan lembut namun pasti, ia menggenggam erat tanganku, mencoba menyalurkan kekuatan di tengah badai penghinaan ini.

“Sayang, ayo kita maju. Kita ucapkan selamat ulang tahun pada Ibu,” bisik Mas Andi, suaranya berat, menahan beban emosi yang sama besarnya.

“Ya, Mas,” jawabku nyaris tak terdengar.

Judul: Menantu Sangat Terhina.
Penulis: Doris Ariesta.

Baca selengkapnya di KBM App

Seorang istri yang kini menyesali pernikahannya. Harus bergulat dengan suami yang perhitungan soal kebutuhan istri dan e...
08/06/2026

Seorang istri yang kini menyesali pernikahannya. Harus bergulat dengan suami yang perhitungan soal kebutuhan istri dan enggan membantu pekerjaan rumah. Kerutan di mata kini menjadi saksi bisu, bahwa aku kurang tidur.
Pagi hari di kamar, rasa capek semalam masih tersisa, akibat begadang semalaman menjaga Belle yang sakit. Aku mengoleskan bedak ke wajahku. Aku mengambil bedak tabur dari dalam laci. Bedak itu baru aku beli semalam dari supermarket.

Tepat disaat aku berkaca di depan cermin, muncul dari dalam kamar mandi suamiku, sudah rapi dengan kemeja kerjanya.

“Semalam aku lihat dari cctv, kamu ada keluar, ya?” tanya Mas Rendi.

“Iya, Mas.”

“Kemana?”

Menunjukan kemasan bedak yang habis. “Semalam aku ke supermarket sebentar, Mas. Beli bedak, soalnya bedakku sudah habis, Mas.”

Mas Rendi mengerutkan dahi, nadanya dingin dan mengecam. “Bedak lagi? Astaga, Citra. Seminggu yang lalu baru beli, kan? Kamu di rumah saja ketemu siapa? Boros sekali untuk hal yang tak penting. Uang listrik naik kamu malah fokus ke bedak.”

Aku merasa tercekat sekujur tubuhku menegang. Mencoba menahan gejolak di dada. Sejak kapan sih aku jadi istri boros? Selama ini aku selalu menghemat pengeluaran yang ada di rumah. Bahkan, untuk sekedar memberi reward untuk diri sendiri, terkadang ada perasaan sayang dengan uang. Bagaimana bisa suamiku mengatakan aku boros?.

Suaraku pelan dan mencoba tenang. “Mas Rendi, pakai bedak bukan harus bertemu orang, aku harus menjaga wajah biar terlihat terawat. Lagip**a,harganya tak sampai dua puluh ribu.”

“Tetap saja boros. Hemat, Cit. Jadi istri itu harus cerdas mengatur uang. Nggak penting perawatan, gak penting make-up sekarang ini. Sekarang ini lebih penting kebutuhan rumah, biaya anak dan tabungan. Kamu sudah menikah, Cit. Kamu sudah laku.”

Aku tersenyum getir batinku menjerit. Kebahagiaan macam apa yang harus kudapat. Kebahagiaan macam apa membuatku harus mengemis hak untuk membeli bedak.

“Udahlah, aku mau berangkat kerja. Besok kamu harus teliti menggunakan uang. Jangan sampai kita berdebat terus, karena masalah seperti ini terus.”

“Baik, Mas.”

Mas Rendi mengambil kunci mobil yang ada di nakas dengan gerakan yang cepat dan kasar. Seolah ingin mengakhiri perdebatan yang baru dimulai itu. Dia bahkan tak melirik anak-anak yang terbaring di ranjang. Ia meninggalkan keheningan yang terasa menusuk di hati.

Aku berdiri di depan cermin, bedak tabur terasa dingin, kata-kata Mas Rendi tadi masih menggema di kepalaku. “Kamu sudah laku, jadi tak perlu dandan.”

Sudah laku, seolah-olah pernikahan adalah transaksi di mana setelah barang diterima, nilai pemeliharaannya seakan otomatis turun.

Aku meletakkan bedak itu perlahan-lahan, jemariku menyentuh sudut kerutan mataku yang semakin menebal, karena kurang tidur semenjak punya anak. Kerutan mata ini menjadi saksi bisu, seorang ibu dengan begadang malamnya. Sehingga menjadi beban mental bagiku yang tak pernah mendapatkan pujian dari suami.

Aku menoleh ke tempat tidur, ketika anakku masih tertidur. Semalam aku harus mengompres Belle, mengecek suhu tubuhnya setiap malam, dan memastikan dia minum obat. Mas Rendi? dia tidur p**as kemarin. Beralasan tak mau ikut begadang semalaman, besok harus bekerja. Bahkan, ia tak tahu bekas bubur Belle kemarin belum sempat ku bersihkan dan tumpukan cucian masih menunggu.

Saat anak-anak masih tidur, aku memutuskan tidak membiarkan tumpukan baju semakin menggunung. Meskipun hati terasa sakit dan ingin berteriak. Kesehatan mentalku selalu diabaikan suami.

Sore itu, semua pekerjaan rumah telah aku bereskan. Lantai rumah sudah disapu dan dipel, bahkan saking semangatnya aku mencuci kain kotor di bak langsung mandi.

Aku merasa lega, setidaknya, jika Mas Rendi p**ang tak mengomel. Aku tak akan menemukan dia mengomel karena rumah kotor.

Tepat ketika aku keluar dari kamar mandi, rambut masih tergulung handuk, aku mendengar gelak tawa dari ruang tengah. Anak-anakku yang sedang bermain di ruang tengah, membuat ruang tengah berserakan. Main-mainan berserakan di karpet, buku-buku cerita yang tersimpan rapi di rak, kini tergeletak di lantai. Paling parahnya bantal sofa berserakan di lantai.

“Aduh!” Aku cepat-cepat menghampiri mereka. “Sayang, ini baru saja Mama bersihkan semua! Kenapa berantakan lagi?”

Stevan yang berusia tujuh tahun cemberut. “Tadi kami bosan, Ma. Mau main.”

“Iya, Ma. Please jangan marah,” Pinta Olive matanya memelas.

Belum sempat aku mengatur nafas, memulai untuk bersih-bersih lagi. Suara pintu depan terbuka dengan keras, diikuti dengan langkah kaki Mas Rendi yang tergesa-gesa.

Pria itu berdiri di ambang pintu tengah, seragam kerjanya masih rapi, tetapi wajahnya berubah merah padam.

“Citra, apa-apaan ini?” teriaknya, suara menggelegar memenuhi rumah.

Aku terkesiap. “Mas, tunggu dulu. Aku baru selesai mandi, tadi anak-anak baru main–”

Mas Rendi tak memberiku kesempatan untuk berbicara. Matanya semakin tajam, lalu menatapku dengan tatapan marah.

“Baru selesai mandi?” ia tertawa sinis. “Dari tadi kamu di rumah, kerjaanmu cuma itu? Tidur, mandi, membiarkan rumah seperti kandang babi! Astaga, Citra, saya capek-capek p**ang kerja di luar, p**ang maunya istirahat, malah disambut pemandangan sampah begini!”

Stevan dan Olive langsung meringkuk ketakutan di belakangku.

“Mas Rendi, jangan keras begitu! Mereka cuma main tadi. Tadi semua sudah bersih, aku baru selesai mencuci kain dan baru selesai mandi!” Aku membela diri, semua usahaku terasa sia-sia.

“Alasan! Selalu saja alasan! Saya mau lihat semuanya bersih! Boros kamu cepat, tapi membersihkan rumah harus menunggu anak-anak memberantakan dulu, baru kamu bersihkan?” Dia menunjuk tumpukan mainan dengan jijik saat itu. “Lihatlah, ini mainan dibeli dengan uang saya! Harganya mahal, dirawat dengan benar!”

Air mataku mulai menggenang, bukan karena ketakutan, melainkan frustasi. Di mata Mas Rendi, aku tak pernah bekerja. Aku tak pernah lelah, di matanya aku hanya tukang menghabiskan uangnya, makan dan tidur.

“Mas Rendi,” aku berkata dengan suara yang lebih rendah, namun penuh dengan ketegasan, mencoba menenangkan anak-anak yang ada di belakangku.

“Aku baru saja membereskan semua rumah ini. Kalau anak-anak main, ya wajar ada berantakan! Apa kamu mau anak-anak kita diam seperti patung? Kalau kamu mau, rumah ini bisa bersih 24 jam.”

“Maksudmu.”

Judul: Menyesal Telah Menikah.
Penulis: Doris Ariesta.

Baca selengkapnya di kbm app

Mertuaku selalu menghin4ku sebagai menantu pembawa sial. Bahkan, ia selalu membandingkan aku dengan menantu lain yang le...
08/06/2026

Mertuaku selalu menghin4ku sebagai menantu pembawa sial. Bahkan, ia selalu membandingkan aku dengan menantu lain yang lebih kay4.

Namun, saat aku buka usaha dan sukses. Ibu mertuaku kembali ...

"Anakku rugi punya istri seperti kamu, Salsa," suara tajam itu langsung menyambar bahkan sebelum aku sempat mencium tangannya.
Ibu mertuaku, Ibu Salma, duduk di sofa beludru dengan gaya angkuh. Matanya menatapku dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan merendah. "Karena menikah dengan kamu, hidup Andi jadi melarat begini. Lihat tuh menantu perempuanku yang lain, Andira. Mereka bisa hidup terpandang, punya kelas. Sedangkan kalian? Jangankan rumah mewah, mobil pun tak punya. Cuma motor butut dan tinggal di rumah yang lebih mirip gubuk daripada hunian manusia."

Deg. Jantungku serasa dihantam godam besar. Aku menarik napas panjang, mencoba menahan air mata yang mulai menggenang di sudut mata. Di sampingku, Mas Andi terdiam, tangannya mengepal kuat .

"Namanya proses kehidupan, Bu. Tak ada kesuksesan yang instan. Setiap orang sudah punya takaran rezeki masing-masing dari Yang Maha Kuasa," jawabku lirih, berusaha tetap tegar meski suaraku bergetar.

"Rezeki?" Ibu Mertuaku tertawa sinis, suara tawanya terdengar seperti pecahan kaca. "Iya, rezekinya macet karena punya istri beban seperti kamu! Kerja hanya mengandalkan keringat Andi sendirian. Kamu itu cuma benalu, Salsa! Tak pantas jadi menantuku. Hanya membawa sial dan kemiskinan ke keluarga ini!"

Kalimat itu bergema di telingaku, menghantam harga diriku hingga hancur berkeping-keping. Aku tercengang. Bagaimana bisa seorang ibu berkata sekeji itu di depan cucu-cucunya? Aku melirik anak-anakku yang mematung di belakang punggung ayahnya. Rasa kecewa yang kupendam selama bertahun-tahun seolah mencapai puncaknya hari ini.

"Bu... aku bawa roti dan rendang sapi. Rendangnya saya masak sendiri semalaman, Bu. Dagingnya pilihan, lembut sekali," ucapku mengalihkan pembicaraan, mencoba mencairkan suasana yang kaku. Aku meletakkan wadah itu di meja ruang tamu yang berkilau.

"Singkirkan itu!" bentaknya tanpa menoleh. "Aku tidak mau makan makananmu. Aku jijik membayangkan apa yang masuk ke dalam masakan menantu miskin seperti kamu. Pasti bahannya murahan, tidak higienis, dan rasanya pasti hambar. Selera saya ini kelas atas, Salsa!"

Air mataku akhirnya jatuh juga, luruh membasahi p**i. Di ruang tengah itu, saudara-saudara Mas Andi berkumpul. Mereka diam, tak ada yang menatap kasihan, namun lebih banyak yang memandang remeh. Ibu mertuaku mulai membanding-bandingkan lagi, memuja-muji Andira yang memang menantu idaman. Jabaran Kak Bintang suaminya sudah tinggi. Mereka punya rumah di kawasan elit, dan sering bepergian ke luar negeri. Sementara Mas Andi? Dia hanya pekerja serabutan yang bekerja keras dari fajar hingga petang demi sesuap nasi.

"Bu, saya masak ini dengan sepenuh hati. Bahannya pun saya beli dengan teliti, bukan barang sisa. Setiap kali kami datang membawa buah tangan, sedikit pun Ibu tak pernah menyentuh. Ibu seolah jijik dengan pemberian kami. Tapi kenapa kalau kakak ipar membawa Pizza, donat mahal, atau spaghetti, Ibu begitu bangga memamerkannya?" suaraku meninggi sedikit, rasa sesak di dada tak lagi terbendung.

"Diam! Tak perlu membela dirimu dan merasa paling benar. Sudah miskin, banyak bicara p**a!" Ibu Mertuaku berdiri dan menunjuk pintu keluar dengan kasar. "Jika kamu berani bicara satu kata lagi, silahkan keluar dari rumahku! Jangan ganggu suasana hatiku yang sedang baik. Masih untung aku mengundangmu di acara ulang tahun Andira ini!"

Aku tertunduk lesu. Bahuku terguncang menahan tangis yang kini pecah tanpa suara. Di dunia yang materialistis ini, ketulusan memang seringkali tidak memiliki harga.

Judul: Menantu Sangat Terhina.
Penulis: Doris Ariesta.

Baca selengkapnya di kbm app

Esoknya, suasana jauh lebih baik. Aku memilih untuk lebih luas lagi lapangnya. Berharap suamiku kelak berubah menjadi le...
08/06/2026

Esoknya, suasana jauh lebih baik. Aku memilih untuk lebih luas lagi lapangnya. Berharap suamiku kelak berubah menjadi lebih baik. Berharap ibu mertuaku, bisa menerima kehadiranku yang miskin ini.
Sesuai rencana, kami membawa anak-anak ke wahana permainan yang ramai. Suasana bercampur dengan suasana anak-anak yang bahagia.

“Mas, tolong bawakan tas ini sebentar. Aku mau gend**g Belle dulu,” kataku sambil menunjuk tas ransel berisi perlengkapan anak-anak yang semakin berat. Belle si bungsu yang baru berusia dua tahun, mulai merengek minta gend**g.

“Taruh saja di kursi tunggu sana, Dek. Tanggung, ini lagi seru banget main permainan,” jawabnya tanpa nada, seolah-olah gamenya jauh lebih penting dari kesulitan istri. Mas Rendi memasang mode sibuk. Wajahnya, bahkan tidak menoleh, matanya terpaku pada layar handphonenya.

Aku menghela nafas panjang dan berat. Ransel kubiarkan tersampir di bahu kananku. Sementara Belle kugend**g dengan erat. Kami memasuki tempat permainan anak-anak. Kedua anakku, dengan energi tak terbatas. Langsung berlarian ke sana kemari. Aku harus mengawasi mereka, memastikan mereka aman di tengah keramaian.

Sementara itu, Mas Rendi menemukan bangku kosong di sudut, langsung duduk, serta sibuk dengan handphonenya. Aku bisa melihat sekali-kali dia tersenyum atau menggelengkan kepalanya, terhibur dengan ponselnya. Seolah-olah dia adalah penonton kebetulan lewat, bukan sebagai seorang ayah yang menjaga anaknya.

Keringat mulai membasahi punggungku. Menggend**g Belle yang mulai minta turun meronta-ronta. Tapi disisi lain aku kelelahan, sambil memutar kepala mengawasi si sulung yang mulai naik perosotan dan si tengah hampir menabrak anak lain.

Setiap langkah terasa bebannya. Kakiku pegal, bahuku sakit menahan bobot ransel dan lengan kiriku kebas menopang Belle. Aku merasa seperti sendirian, menanggung seluruh beban keluarga. Suamiku seperti tak berguna di mataku.

Aku memutuskan untuk berjalan mendekat ke arahnya. Sekuat tenaga mencoba menahan getaran suara di bibirku.

“Mas,” panggilku pelan.

“Hmm,” dia hanya menggumam, tanpa mengalihkan pandangan.

“Aku capek banget, Mas. Aku … aku butuh bantuan.”

Akhirnya dia mengangkat kepalanya, wajahnya merasa seperti terganggu.

“Bantuan apa lagi, Dek? Itu anak-anak kan lagi main. Ya sudah, kamu duduk saja, sebentar lagi juga selesai, kan?” katanya, lalu kembali fokus ke handphonenya.

Lalu kemudian berapa menit kemudian, dia menutup handphonenya. “Sini Belle.”

Dia mengambil Belle dan menggend**gnya asal-asalan. Kembali memasang wajah bosan. Tatapan matanya, gesturnya, nafasnya dihela kasar menyiratkan semua karena terpaksa.

Mas Rendi menggend**g Belle. Namun, cara dia menggend**g terasa kaku dan canggung. Belle yang biasanya penurut, justru merasakan ketidaknyamanan dengan ayahnya. Tidak lama rengekan itu, berubah menjadi tangisan keras.

“Astaga, jangan rewel deh, Belle. Papa lagi capek juga,” desis Mas Rendi. Dia menggoyangkan tangannya, untuk menenangkan Belle digend**gannya.

Aku segera mengambil Belle dari gend**gan suamiku. Tangis anakku langsung reda. Aku mencoba menepuk punggungnya dengan lembut. Mencoba menenangkan Belle.

“Lihat, Mas. Dia rewel karena merasa nggak nyaman sama kamu,” ujarku, mencoba mempertahankan nada datar. Meskipun hatiku sudah bergemuruh.

Mas Rendi mendengus, matanya melirik ke arah Belle. “Ya ampun, drama banget sih. Anak kecil memang begitu, Dek. Dia dekat dengan Ibunya. Kamu terlalu mendramatisasi,” katanya sambil menyambar ponselnya. Sangat tidak peduli sebagai seorang ayah.

Nafasku tercekat. Terlalu dramatis? Apa aku ini sangat dramatis? Aku ini lelah, semua beban di bahuku. Kepekaan sebagai ayah diabaikan, semua dianggap sebagai drama sandiwara.

Setelah kusadari, aku yang terlalu buru-buru menikah. Aku butuh pasangan hidup. Bisa menjadi teman, bisa menjadi penolong, bisa tertawa bersama, tetapi semua hanya impian belaka.

“Mas Rendi,” panggilku, suaraku terdengar tegas, tanpa getaran rewel yang biasa aku dengar.

Dia akhirnya mend**gak, kali ini dengan alis terangkat, mungkin terkejut dengan nada suaraku.

“Aku mau p**ang, sekarang.”

“Hah, p**ang? Kan baru sebentar anak-anak main,” protesnya.

“Aku mau p**ang. Aku sudah tak sanggup. Kalau kamu nggak mau, biar aku p**ang naik taksi,” kataku, tanpa menunggu reaksinya. Segera aku memanggil anak-anakku.

“Kakak, Abang! Ayo cepat sini! Kita p**ang sekarang!” suaraku cukup keras memanggil mereka.

Mereka menoleh, wajahnya menunjukan kebingungan, karena sesi bermain berhenti mendadak. Namun, melihat wajahku yang serius. Mereka tidak berani bertanya. Kakak yang lebih besar, langsung menarik tangan adiknya.

“Ayo, Abang, Mama sudah calek,” kata Kakak pada adiknya. Kalimat polos itu menusuk hati Mas Rendi.

“Lho, Dek! Tunggu dulu! Jangan begini d**g! Anak-anak belum selesai main!” Mas Rendi bangkit dari bangku, memas**an ponselnya ke dalam tasnya.

“Mereka sudah selesai. Besok kamu bisa ajak mereka lagi ke sini. Kalau kamu tidak sibuk,” ujarku datar, tanpa menoleh, tanpa memberi pandangan sedikit pun.

Judul: Menyesal Telah Menikah.
Penulis: Doris Ariesta.

Baca selengkapnya di kbm app

Address

Sabu

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Ita Series posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share