10/06/2026
Mertuaku selalu menghin4ku sebagai menantu pembawa sial. Bahkan, ia selalu membandingkan aku dengan menantu lain yang lebih kay4.
Namun, saat aku buka usaha dan sukses. Ibu mertuaku kembali ...
Semua nomor yang menyimpan rasa sakit itu, ku blokir dari WhatsApp. Aku mengambil langkah ini, untuk menyelamatkan mentalku yang rusak dibuat mereka. Setiap hari aku menangis dibuat oleh mereka.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Siang harinya, saat aku sedang mengaduk adonan bolu pesanan tetangga, Mas Andi menghampiriku dengan raut wajah yang sulit diartikan.
"Kenapa, Mas? Mereka menerormu lagi?" tanyaku tanpa menghentikan mixer.
Mas Andi duduk di kursi kayu dapur, meletakkan ponselnya di meja. "Mereka mulai curiga, Salsa. Barusan Raisa meneleponku. Dia bilang, dia sudah mencoba mengirimkan detail seragam untuk pesta pernikahannya ke WhatsApp-mu, tapi hanya centang satu.”
Aku menghentikan mixer. Suara bising itu berganti dengan sunyi yang tajam. "Lalu? Apa jawabanmu?"
"Dia bertanya apakah kamu sengaja memblokir mereka. Dia merasa tersinggung karena merasa urusan pernikahan tidak boleh dicampur adukkan dengan masalah internal kita," Mas Andi mengusap wajahnya kasar. "Lucu sekali mereka. Mereka menghina kemarin, menuduhmu memakai dukun, tapi sekarang bicara soal acara pernikahan. Mereka memintamu untuk hadir, karena nggak enak nanti diomongin tetangga. Katanya mereka sebenarnya nggak butuh kita hadir, tetapi mereka mengundang kita supaya terlihat hubungan kita dan keluarga baik-baik saja.”
Aku menarik nafas nafas panjang, mencoba meredam denyut di pelipis. "Katakan pada mereka, Mas. Katakan bahwa WhatsApp-ku memang sudah mati. Aku nggak pakai WhatsApp lagi!”
Ponsel Mas Andi kembali bergetar. Sebuah pesan singkat (SMS) masuk dari Mbak Andira. Mas Andi membacanya keras-keras dengan nada sinis:
"Andi! Bilang sama istrimu yang sombong itu, jangan sok jual mahal! Raisa itu adik kandungmu. Kalau dia memblokir kami, itu tandanya dia memang benar-benar punya niat jahat untuk memutus silaturahmi. Apa dia takut rahasia 'dukunnya' terbongkar kalau bertemu kami di pesta nanti? Bilang padanya, buka blokirnya sekarang atau jangan harap kami menganggap kalian keluarga lagi!”
Mendengar itu, tanganku gemetar. Fitnah itu tidak juga berhenti. Mereka menggunakan momen pernikahan Raisa sebagai senjata untuk memojokkanku lagi.
Mas Andi tidak membalas pesan itu. Sebaliknya, ia langsung mematikan ponselnya dan meletakkannya di rak paling atas, jauh dari jangkauan.
"Mas?" aku menatapnya ragu.
"Biarkan saja, Salsa. Biarkan mereka berteriak,” ujar Mas Andi dengan suara yang kini jauh lebih tenang. "Mereka curiga kamu memblokir karena mereka merasa punya hak atas hidup kita. Mereka pikir, aku bodoh! mereka bisa menendangmu lalu memanggilmu kembali sesuka hati saat mereka butuh.”
Aku menatap sisa adonan bolu yang menempel di tanganku, lalu beralih menatap Mas Andi dengan sorot mata yang tak lagi bisa berkompromi. Hatiku sudah menjadi kerak, keras dan tak tersentuh oleh drama pencitraan mereka.
"Mas," panggilku, suaraku datar namun sangat dingin. "Bahkan jika Ibu sendiri yang datang bersujud di depan pintu rumah ini untuk memintaku hadir, jawabanku tetap satu: Aku tidak akan datang.”
Mas Andi terdiam, memberikan ruang bagiku untuk menumpahkan segala yang menyesak di dada.
"Mereka bilang nggak butuh kita hadir? Mereka hanya ingin kita jadi pajangan agar tidak malu di depan tetangga? Hebat sekali," aku tertawa sinis, tawa yang lahir dari luka yang paling dalam. "Setelah mereka membuangku ke kubangan hinaan, sekarang mereka mau meminjam wajahku untuk menjaga harga diri mereka? Tidak akan, Mas!”
"Aku tahu, Salsa. Aku tidak akan memaksamu," ucap Mas Andi pelan.
Judul: Menantu Sangat Terhina.
Penulis: Doris Ariesta.
Baca bab selanjutnya di Kbm App