08/06/2026
Seorang istri yang kini menyesali pernikahannya. Harus bergulat dengan suami yang perhitungan soal kebutuhan istri dan enggan membantu pekerjaan rumah. Kerutan di mata kini menjadi saksi bisu, bahwa aku kurang tidur.
Pagi hari di kamar, rasa capek semalam masih tersisa, akibat begadang semalaman menjaga Belle yang sakit. Aku mengoleskan bedak ke wajahku. Aku mengambil bedak tabur dari dalam laci. Bedak itu baru aku beli semalam dari supermarket.
Tepat disaat aku berkaca di depan cermin, muncul dari dalam kamar mandi suamiku, sudah rapi dengan kemeja kerjanya.
“Semalam aku lihat dari cctv, kamu ada keluar, ya?” tanya Mas Rendi.
“Iya, Mas.”
“Kemana?”
Menunjukan kemasan bedak yang habis. “Semalam aku ke supermarket sebentar, Mas. Beli bedak, soalnya bedakku sudah habis, Mas.”
Mas Rendi mengerutkan dahi, nadanya dingin dan mengecam. “Bedak lagi? Astaga, Citra. Seminggu yang lalu baru beli, kan? Kamu di rumah saja ketemu siapa? Boros sekali untuk hal yang tak penting. Uang listrik naik kamu malah fokus ke bedak.”
Aku merasa tercekat sekujur tubuhku menegang. Mencoba menahan gejolak di dada. Sejak kapan sih aku jadi istri boros? Selama ini aku selalu menghemat pengeluaran yang ada di rumah. Bahkan, untuk sekedar memberi reward untuk diri sendiri, terkadang ada perasaan sayang dengan uang. Bagaimana bisa suamiku mengatakan aku boros?.
Suaraku pelan dan mencoba tenang. “Mas Rendi, pakai bedak bukan harus bertemu orang, aku harus menjaga wajah biar terlihat terawat. Lagip**a,harganya tak sampai dua puluh ribu.”
“Tetap saja boros. Hemat, Cit. Jadi istri itu harus cerdas mengatur uang. Nggak penting perawatan, gak penting make-up sekarang ini. Sekarang ini lebih penting kebutuhan rumah, biaya anak dan tabungan. Kamu sudah menikah, Cit. Kamu sudah laku.”
Aku tersenyum getir batinku menjerit. Kebahagiaan macam apa yang harus kudapat. Kebahagiaan macam apa membuatku harus mengemis hak untuk membeli bedak.
“Udahlah, aku mau berangkat kerja. Besok kamu harus teliti menggunakan uang. Jangan sampai kita berdebat terus, karena masalah seperti ini terus.”
“Baik, Mas.”
Mas Rendi mengambil kunci mobil yang ada di nakas dengan gerakan yang cepat dan kasar. Seolah ingin mengakhiri perdebatan yang baru dimulai itu. Dia bahkan tak melirik anak-anak yang terbaring di ranjang. Ia meninggalkan keheningan yang terasa menusuk di hati.
Aku berdiri di depan cermin, bedak tabur terasa dingin, kata-kata Mas Rendi tadi masih menggema di kepalaku. “Kamu sudah laku, jadi tak perlu dandan.”
Sudah laku, seolah-olah pernikahan adalah transaksi di mana setelah barang diterima, nilai pemeliharaannya seakan otomatis turun.
Aku meletakkan bedak itu perlahan-lahan, jemariku menyentuh sudut kerutan mataku yang semakin menebal, karena kurang tidur semenjak punya anak. Kerutan mata ini menjadi saksi bisu, seorang ibu dengan begadang malamnya. Sehingga menjadi beban mental bagiku yang tak pernah mendapatkan pujian dari suami.
Aku menoleh ke tempat tidur, ketika anakku masih tertidur. Semalam aku harus mengompres Belle, mengecek suhu tubuhnya setiap malam, dan memastikan dia minum obat. Mas Rendi? dia tidur p**as kemarin. Beralasan tak mau ikut begadang semalaman, besok harus bekerja. Bahkan, ia tak tahu bekas bubur Belle kemarin belum sempat ku bersihkan dan tumpukan cucian masih menunggu.
Saat anak-anak masih tidur, aku memutuskan tidak membiarkan tumpukan baju semakin menggunung. Meskipun hati terasa sakit dan ingin berteriak. Kesehatan mentalku selalu diabaikan suami.
Sore itu, semua pekerjaan rumah telah aku bereskan. Lantai rumah sudah disapu dan dipel, bahkan saking semangatnya aku mencuci kain kotor di bak langsung mandi.
Aku merasa lega, setidaknya, jika Mas Rendi p**ang tak mengomel. Aku tak akan menemukan dia mengomel karena rumah kotor.
Tepat ketika aku keluar dari kamar mandi, rambut masih tergulung handuk, aku mendengar gelak tawa dari ruang tengah. Anak-anakku yang sedang bermain di ruang tengah, membuat ruang tengah berserakan. Main-mainan berserakan di karpet, buku-buku cerita yang tersimpan rapi di rak, kini tergeletak di lantai. Paling parahnya bantal sofa berserakan di lantai.
“Aduh!” Aku cepat-cepat menghampiri mereka. “Sayang, ini baru saja Mama bersihkan semua! Kenapa berantakan lagi?”
Stevan yang berusia tujuh tahun cemberut. “Tadi kami bosan, Ma. Mau main.”
“Iya, Ma. Please jangan marah,” Pinta Olive matanya memelas.
Belum sempat aku mengatur nafas, memulai untuk bersih-bersih lagi. Suara pintu depan terbuka dengan keras, diikuti dengan langkah kaki Mas Rendi yang tergesa-gesa.
Pria itu berdiri di ambang pintu tengah, seragam kerjanya masih rapi, tetapi wajahnya berubah merah padam.
“Citra, apa-apaan ini?” teriaknya, suara menggelegar memenuhi rumah.
Aku terkesiap. “Mas, tunggu dulu. Aku baru selesai mandi, tadi anak-anak baru main–”
Mas Rendi tak memberiku kesempatan untuk berbicara. Matanya semakin tajam, lalu menatapku dengan tatapan marah.
“Baru selesai mandi?” ia tertawa sinis. “Dari tadi kamu di rumah, kerjaanmu cuma itu? Tidur, mandi, membiarkan rumah seperti kandang babi! Astaga, Citra, saya capek-capek p**ang kerja di luar, p**ang maunya istirahat, malah disambut pemandangan sampah begini!”
Stevan dan Olive langsung meringkuk ketakutan di belakangku.
“Mas Rendi, jangan keras begitu! Mereka cuma main tadi. Tadi semua sudah bersih, aku baru selesai mencuci kain dan baru selesai mandi!” Aku membela diri, semua usahaku terasa sia-sia.
“Alasan! Selalu saja alasan! Saya mau lihat semuanya bersih! Boros kamu cepat, tapi membersihkan rumah harus menunggu anak-anak memberantakan dulu, baru kamu bersihkan?” Dia menunjuk tumpukan mainan dengan jijik saat itu. “Lihatlah, ini mainan dibeli dengan uang saya! Harganya mahal, dirawat dengan benar!”
Air mataku mulai menggenang, bukan karena ketakutan, melainkan frustasi. Di mata Mas Rendi, aku tak pernah bekerja. Aku tak pernah lelah, di matanya aku hanya tukang menghabiskan uangnya, makan dan tidur.
“Mas Rendi,” aku berkata dengan suara yang lebih rendah, namun penuh dengan ketegasan, mencoba menenangkan anak-anak yang ada di belakangku.
“Aku baru saja membereskan semua rumah ini. Kalau anak-anak main, ya wajar ada berantakan! Apa kamu mau anak-anak kita diam seperti patung? Kalau kamu mau, rumah ini bisa bersih 24 jam.”
“Maksudmu.”
Judul: Menyesal Telah Menikah.
Penulis: Doris Ariesta.
Baca selengkapnya di kbm app