Ita Series

Ita Series ✅ Boleh baca & berkomentar
❌ Dilarang mengambil cerita & gambar
📌 Semua karya dilindungi hak cipta

Mertuaku selalu menghin4ku sebagai menantu pembawa sial. Bahkan, ia selalu membandingkan aku dengan menantu lain yang le...
10/06/2026

Mertuaku selalu menghin4ku sebagai menantu pembawa sial. Bahkan, ia selalu membandingkan aku dengan menantu lain yang lebih kay4.

Namun, saat aku buka usaha dan sukses. Ibu mertuaku kembali ...

Semua nomor yang menyimpan rasa sakit itu, ku blokir dari WhatsApp. Aku mengambil langkah ini, untuk menyelamatkan mentalku yang rusak dibuat mereka. Setiap hari aku menangis dibuat oleh mereka.

Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Siang harinya, saat aku sedang mengaduk adonan bolu pesanan tetangga, Mas Andi menghampiriku dengan raut wajah yang sulit diartikan.

"Kenapa, Mas? Mereka menerormu lagi?" tanyaku tanpa menghentikan mixer.

Mas Andi duduk di kursi kayu dapur, meletakkan ponselnya di meja. "Mereka mulai curiga, Salsa. Barusan Raisa meneleponku. Dia bilang, dia sudah mencoba mengirimkan detail seragam untuk pesta pernikahannya ke WhatsApp-mu, tapi hanya centang satu.”

Aku menghentikan mixer. Suara bising itu berganti dengan sunyi yang tajam. "Lalu? Apa jawabanmu?"

"Dia bertanya apakah kamu sengaja memblokir mereka. Dia merasa tersinggung karena merasa urusan pernikahan tidak boleh dicampur adukkan dengan masalah internal kita," Mas Andi mengusap wajahnya kasar. "Lucu sekali mereka. Mereka menghina kemarin, menuduhmu memakai dukun, tapi sekarang bicara soal acara pernikahan. Mereka memintamu untuk hadir, karena nggak enak nanti diomongin tetangga. Katanya mereka sebenarnya nggak butuh kita hadir, tetapi mereka mengundang kita supaya terlihat hubungan kita dan keluarga baik-baik saja.”

Aku menarik nafas nafas panjang, mencoba meredam denyut di pelipis. "Katakan pada mereka, Mas. Katakan bahwa WhatsApp-ku memang sudah mati. Aku nggak pakai WhatsApp lagi!”

Ponsel Mas Andi kembali bergetar. Sebuah pesan singkat (SMS) masuk dari Mbak Andira. Mas Andi membacanya keras-keras dengan nada sinis:

"Andi! Bilang sama istrimu yang sombong itu, jangan sok jual mahal! Raisa itu adik kandungmu. Kalau dia memblokir kami, itu tandanya dia memang benar-benar punya niat jahat untuk memutus silaturahmi. Apa dia takut rahasia 'dukunnya' terbongkar kalau bertemu kami di pesta nanti? Bilang padanya, buka blokirnya sekarang atau jangan harap kami menganggap kalian keluarga lagi!”

Mendengar itu, tanganku gemetar. Fitnah itu tidak juga berhenti. Mereka menggunakan momen pernikahan Raisa sebagai senjata untuk memojokkanku lagi.

Mas Andi tidak membalas pesan itu. Sebaliknya, ia langsung mematikan ponselnya dan meletakkannya di rak paling atas, jauh dari jangkauan.

"Mas?" aku menatapnya ragu.

"Biarkan saja, Salsa. Biarkan mereka berteriak,” ujar Mas Andi dengan suara yang kini jauh lebih tenang. "Mereka curiga kamu memblokir karena mereka merasa punya hak atas hidup kita. Mereka pikir, aku bodoh! mereka bisa menendangmu lalu memanggilmu kembali sesuka hati saat mereka butuh.”

Aku menatap sisa adonan bolu yang menempel di tanganku, lalu beralih menatap Mas Andi dengan sorot mata yang tak lagi bisa berkompromi. Hatiku sudah menjadi kerak, keras dan tak tersentuh oleh drama pencitraan mereka.

"Mas," panggilku, suaraku datar namun sangat dingin. "Bahkan jika Ibu sendiri yang datang bersujud di depan pintu rumah ini untuk memintaku hadir, jawabanku tetap satu: Aku tidak akan datang.”

Mas Andi terdiam, memberikan ruang bagiku untuk menumpahkan segala yang menyesak di dada.

"Mereka bilang nggak butuh kita hadir? Mereka hanya ingin kita jadi pajangan agar tidak malu di depan tetangga? Hebat sekali," aku tertawa sinis, tawa yang lahir dari luka yang paling dalam. "Setelah mereka membuangku ke kubangan hinaan, sekarang mereka mau meminjam wajahku untuk menjaga harga diri mereka? Tidak akan, Mas!”

"Aku tahu, Salsa. Aku tidak akan memaksamu," ucap Mas Andi pelan.

Judul: Menantu Sangat Terhina.
Penulis: Doris Ariesta.

Baca bab selanjutnya di Kbm App

Mertuaku selalu menghin4ku sebagai menantu pembawa sial. Bahkan, ia selalu membandingkan aku dengan menantu lain yang le...
09/06/2026

Mertuaku selalu menghin4ku sebagai menantu pembawa sial. Bahkan, ia selalu membandingkan aku dengan menantu lain yang lebih kay4.

Namun, saat aku buka usaha dan sukses. Ibu mertuaku kembali ...

Cahaya lampu kristal di ballroom hotel bintang lima itu memantul sempurna pada kap mobil HRV putih yang terparkir gagah di tengah ruangan. Harum aroma bunga lili mahal menyeruak, bercampur dengan parfum bermerek para tamu undangan. Di sana, di bawah sorot lampu yang menyilaukan, drama keluarga kami dipentaskan.

“Ini mobil HRV untuk Ibu. Hadiah ulang tahun spesial dari kami. Terima kasih ya, Bu, sudah menjadi mertua terbaik yang selalu menerima aku dengan tangan terbuka sebagai bagian dari keluarga besar ini,” ujar Andira, kakak iparku.

Andira adalah menantu sempurna cantik. Sebagai anak pengusaha sukses di properti, suaranya terdengar lembut namun memiliki resonansi kekuasaan yang tak terbantahkan. Setiap kata yang keluar dari bibirnya yang dip**as lipstik merah mahal itu penuh dengan aura kemewahan dan kepercayaan diri yang meluap.

“Ya ampun, Andira! Kamu memang menantu kesayangan Ibu! Ibu benar-benar tidak tahu harus berkata apa lagi. Mobil ini… ini benar-benar mobil impian Ibu selama ini!” Ibu mertuaku membalas dengan suara bergetar. Ia memeluk erat Andira, mengabaikan fakta bahwa kerutan di wajahnya tertutup riasan tebal yang dipesan khusus untuk malam ini. Matanya berkaca-kaca, berbinar penuh kebahagiaan yang meluap-luap.

Di sebelah Andira, Kak Bintang—kakak kandung suamiku—berdiri tegak. Ia merangkul bahu Ibu dengan senyum bangga yang tersungging di wajahnya. “Semoga Ibu senang dengan pemberian kami, Bu. Kami berdua hanya ingin memberikan yang terbaik. Kami percaya, rezeki seorang anak akan selalu mengalir deras jika ia mampu memuliakan orang tuanya dengan cara seperti ini.”

Ibu mengangguk mantap, lalu tatapannya yang semula hangat tiba-tiba berubah sedingin es saat beralih ke arah kami yang berdiri di sudut remang.

“Tentu saja! Kebanyakan anak-anakku memang memuliakan aku. Tapi… lihatlah!” Ibu mencibir, dagunya menunjuk ke arahku dengan sinis. “Adikmu yang satu ini, yang hidupnya susah, selalu saja membuat kepala Ibu pusing. Belum lagi cucu-cucu Ibu yang terkadang dititipkan di rumah. Ibu tahu, itu pasti akal-akalan Mamanya saja agar tidak perlu repot masak atau mengurus rumah, kan?”

Kalimat itu menghujam jantungku. Kak Bintang menimpali dengan tawa kecil yang meremehkan. “Bagaimana lagi, Bu? Mereka kan memang kurang mampu. Kalau mereka kaya seperti kami, pasti mereka juga bisa memberikan barang-barang mewah, bukan cuma memberikan beban.”

Ibu mertuaku tersenyum sinis, menatap tajam ke arahku dan suamiku, Mas Andi. “Sepertinya mereka tidak akan pernah kaya. Hidupnya akan begini-begini saja, stagnan, selamanya di bawah.”

Begitu tajam mulut mertuaku, langsung menghakimi bahwa anak kandungnya sendiri tak akan pernah bisa sukses hanya karena standar materi yang ia tetapkan. Aku yang berdiri di belakang suamiku hanya bisa menundukkan kepala dalam-dalam. Dadaku sesak, seolah oksigen di ruangan mewah ini mendadak hilang. Aku berusaha menarik sudut bibirku untuk tersenyum, namun otot wajahku terasa kaku dan lumpuh.

Perkataan itu bukan sekadar sindiran; itu adalah tamparan keras yang meninggalkan bekas luka tak kasat mata. Mas Andi melirikku. Ia bisa merasakan jemariku yang gemetar. Dengan lembut namun pasti, ia menggenggam erat tanganku, mencoba menyalurkan kekuatan di tengah badai penghinaan ini.

“Sayang, ayo kita maju. Kita ucapkan selamat ulang tahun pada Ibu,” bisik Mas Andi, suaranya berat, menahan beban emosi yang sama besarnya.

“Ya, Mas,” jawabku nyaris tak terdengar.

Judul: Menantu Sangat Terhina.
Penulis: Doris Ariesta.

Baca selengkapnya di KBM App

Seorang istri yang kini menyesali pernikahannya. Harus bergulat dengan suami yang perhitungan soal kebutuhan istri dan e...
08/06/2026

Seorang istri yang kini menyesali pernikahannya. Harus bergulat dengan suami yang perhitungan soal kebutuhan istri dan enggan membantu pekerjaan rumah. Kerutan di mata kini menjadi saksi bisu, bahwa aku kurang tidur.
Pagi hari di kamar, rasa capek semalam masih tersisa, akibat begadang semalaman menjaga Belle yang sakit. Aku mengoleskan bedak ke wajahku. Aku mengambil bedak tabur dari dalam laci. Bedak itu baru aku beli semalam dari supermarket.

Tepat disaat aku berkaca di depan cermin, muncul dari dalam kamar mandi suamiku, sudah rapi dengan kemeja kerjanya.

“Semalam aku lihat dari cctv, kamu ada keluar, ya?” tanya Mas Rendi.

“Iya, Mas.”

“Kemana?”

Menunjukan kemasan bedak yang habis. “Semalam aku ke supermarket sebentar, Mas. Beli bedak, soalnya bedakku sudah habis, Mas.”

Mas Rendi mengerutkan dahi, nadanya dingin dan mengecam. “Bedak lagi? Astaga, Citra. Seminggu yang lalu baru beli, kan? Kamu di rumah saja ketemu siapa? Boros sekali untuk hal yang tak penting. Uang listrik naik kamu malah fokus ke bedak.”

Aku merasa tercekat sekujur tubuhku menegang. Mencoba menahan gejolak di dada. Sejak kapan sih aku jadi istri boros? Selama ini aku selalu menghemat pengeluaran yang ada di rumah. Bahkan, untuk sekedar memberi reward untuk diri sendiri, terkadang ada perasaan sayang dengan uang. Bagaimana bisa suamiku mengatakan aku boros?.

Suaraku pelan dan mencoba tenang. “Mas Rendi, pakai bedak bukan harus bertemu orang, aku harus menjaga wajah biar terlihat terawat. Lagip**a,harganya tak sampai dua puluh ribu.”

“Tetap saja boros. Hemat, Cit. Jadi istri itu harus cerdas mengatur uang. Nggak penting perawatan, gak penting make-up sekarang ini. Sekarang ini lebih penting kebutuhan rumah, biaya anak dan tabungan. Kamu sudah menikah, Cit. Kamu sudah laku.”

Aku tersenyum getir batinku menjerit. Kebahagiaan macam apa yang harus kudapat. Kebahagiaan macam apa membuatku harus mengemis hak untuk membeli bedak.

“Udahlah, aku mau berangkat kerja. Besok kamu harus teliti menggunakan uang. Jangan sampai kita berdebat terus, karena masalah seperti ini terus.”

“Baik, Mas.”

Mas Rendi mengambil kunci mobil yang ada di nakas dengan gerakan yang cepat dan kasar. Seolah ingin mengakhiri perdebatan yang baru dimulai itu. Dia bahkan tak melirik anak-anak yang terbaring di ranjang. Ia meninggalkan keheningan yang terasa menusuk di hati.

Aku berdiri di depan cermin, bedak tabur terasa dingin, kata-kata Mas Rendi tadi masih menggema di kepalaku. “Kamu sudah laku, jadi tak perlu dandan.”

Sudah laku, seolah-olah pernikahan adalah transaksi di mana setelah barang diterima, nilai pemeliharaannya seakan otomatis turun.

Aku meletakkan bedak itu perlahan-lahan, jemariku menyentuh sudut kerutan mataku yang semakin menebal, karena kurang tidur semenjak punya anak. Kerutan mata ini menjadi saksi bisu, seorang ibu dengan begadang malamnya. Sehingga menjadi beban mental bagiku yang tak pernah mendapatkan pujian dari suami.

Aku menoleh ke tempat tidur, ketika anakku masih tertidur. Semalam aku harus mengompres Belle, mengecek suhu tubuhnya setiap malam, dan memastikan dia minum obat. Mas Rendi? dia tidur p**as kemarin. Beralasan tak mau ikut begadang semalaman, besok harus bekerja. Bahkan, ia tak tahu bekas bubur Belle kemarin belum sempat ku bersihkan dan tumpukan cucian masih menunggu.

Saat anak-anak masih tidur, aku memutuskan tidak membiarkan tumpukan baju semakin menggunung. Meskipun hati terasa sakit dan ingin berteriak. Kesehatan mentalku selalu diabaikan suami.

Sore itu, semua pekerjaan rumah telah aku bereskan. Lantai rumah sudah disapu dan dipel, bahkan saking semangatnya aku mencuci kain kotor di bak langsung mandi.

Aku merasa lega, setidaknya, jika Mas Rendi p**ang tak mengomel. Aku tak akan menemukan dia mengomel karena rumah kotor.

Tepat ketika aku keluar dari kamar mandi, rambut masih tergulung handuk, aku mendengar gelak tawa dari ruang tengah. Anak-anakku yang sedang bermain di ruang tengah, membuat ruang tengah berserakan. Main-mainan berserakan di karpet, buku-buku cerita yang tersimpan rapi di rak, kini tergeletak di lantai. Paling parahnya bantal sofa berserakan di lantai.

“Aduh!” Aku cepat-cepat menghampiri mereka. “Sayang, ini baru saja Mama bersihkan semua! Kenapa berantakan lagi?”

Stevan yang berusia tujuh tahun cemberut. “Tadi kami bosan, Ma. Mau main.”

“Iya, Ma. Please jangan marah,” Pinta Olive matanya memelas.

Belum sempat aku mengatur nafas, memulai untuk bersih-bersih lagi. Suara pintu depan terbuka dengan keras, diikuti dengan langkah kaki Mas Rendi yang tergesa-gesa.

Pria itu berdiri di ambang pintu tengah, seragam kerjanya masih rapi, tetapi wajahnya berubah merah padam.

“Citra, apa-apaan ini?” teriaknya, suara menggelegar memenuhi rumah.

Aku terkesiap. “Mas, tunggu dulu. Aku baru selesai mandi, tadi anak-anak baru main–”

Mas Rendi tak memberiku kesempatan untuk berbicara. Matanya semakin tajam, lalu menatapku dengan tatapan marah.

“Baru selesai mandi?” ia tertawa sinis. “Dari tadi kamu di rumah, kerjaanmu cuma itu? Tidur, mandi, membiarkan rumah seperti kandang babi! Astaga, Citra, saya capek-capek p**ang kerja di luar, p**ang maunya istirahat, malah disambut pemandangan sampah begini!”

Stevan dan Olive langsung meringkuk ketakutan di belakangku.

“Mas Rendi, jangan keras begitu! Mereka cuma main tadi. Tadi semua sudah bersih, aku baru selesai mencuci kain dan baru selesai mandi!” Aku membela diri, semua usahaku terasa sia-sia.

“Alasan! Selalu saja alasan! Saya mau lihat semuanya bersih! Boros kamu cepat, tapi membersihkan rumah harus menunggu anak-anak memberantakan dulu, baru kamu bersihkan?” Dia menunjuk tumpukan mainan dengan jijik saat itu. “Lihatlah, ini mainan dibeli dengan uang saya! Harganya mahal, dirawat dengan benar!”

Air mataku mulai menggenang, bukan karena ketakutan, melainkan frustasi. Di mata Mas Rendi, aku tak pernah bekerja. Aku tak pernah lelah, di matanya aku hanya tukang menghabiskan uangnya, makan dan tidur.

“Mas Rendi,” aku berkata dengan suara yang lebih rendah, namun penuh dengan ketegasan, mencoba menenangkan anak-anak yang ada di belakangku.

“Aku baru saja membereskan semua rumah ini. Kalau anak-anak main, ya wajar ada berantakan! Apa kamu mau anak-anak kita diam seperti patung? Kalau kamu mau, rumah ini bisa bersih 24 jam.”

“Maksudmu.”

Judul: Menyesal Telah Menikah.
Penulis: Doris Ariesta.

Baca selengkapnya di kbm app

Mertuaku selalu menghin4ku sebagai menantu pembawa sial. Bahkan, ia selalu membandingkan aku dengan menantu lain yang le...
08/06/2026

Mertuaku selalu menghin4ku sebagai menantu pembawa sial. Bahkan, ia selalu membandingkan aku dengan menantu lain yang lebih kay4.

Namun, saat aku buka usaha dan sukses. Ibu mertuaku kembali ...

"Anakku rugi punya istri seperti kamu, Salsa," suara tajam itu langsung menyambar bahkan sebelum aku sempat mencium tangannya.
Ibu mertuaku, Ibu Salma, duduk di sofa beludru dengan gaya angkuh. Matanya menatapku dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan merendah. "Karena menikah dengan kamu, hidup Andi jadi melarat begini. Lihat tuh menantu perempuanku yang lain, Andira. Mereka bisa hidup terpandang, punya kelas. Sedangkan kalian? Jangankan rumah mewah, mobil pun tak punya. Cuma motor butut dan tinggal di rumah yang lebih mirip gubuk daripada hunian manusia."

Deg. Jantungku serasa dihantam godam besar. Aku menarik napas panjang, mencoba menahan air mata yang mulai menggenang di sudut mata. Di sampingku, Mas Andi terdiam, tangannya mengepal kuat .

"Namanya proses kehidupan, Bu. Tak ada kesuksesan yang instan. Setiap orang sudah punya takaran rezeki masing-masing dari Yang Maha Kuasa," jawabku lirih, berusaha tetap tegar meski suaraku bergetar.

"Rezeki?" Ibu Mertuaku tertawa sinis, suara tawanya terdengar seperti pecahan kaca. "Iya, rezekinya macet karena punya istri beban seperti kamu! Kerja hanya mengandalkan keringat Andi sendirian. Kamu itu cuma benalu, Salsa! Tak pantas jadi menantuku. Hanya membawa sial dan kemiskinan ke keluarga ini!"

Kalimat itu bergema di telingaku, menghantam harga diriku hingga hancur berkeping-keping. Aku tercengang. Bagaimana bisa seorang ibu berkata sekeji itu di depan cucu-cucunya? Aku melirik anak-anakku yang mematung di belakang punggung ayahnya. Rasa kecewa yang kupendam selama bertahun-tahun seolah mencapai puncaknya hari ini.

"Bu... aku bawa roti dan rendang sapi. Rendangnya saya masak sendiri semalaman, Bu. Dagingnya pilihan, lembut sekali," ucapku mengalihkan pembicaraan, mencoba mencairkan suasana yang kaku. Aku meletakkan wadah itu di meja ruang tamu yang berkilau.

"Singkirkan itu!" bentaknya tanpa menoleh. "Aku tidak mau makan makananmu. Aku jijik membayangkan apa yang masuk ke dalam masakan menantu miskin seperti kamu. Pasti bahannya murahan, tidak higienis, dan rasanya pasti hambar. Selera saya ini kelas atas, Salsa!"

Air mataku akhirnya jatuh juga, luruh membasahi p**i. Di ruang tengah itu, saudara-saudara Mas Andi berkumpul. Mereka diam, tak ada yang menatap kasihan, namun lebih banyak yang memandang remeh. Ibu mertuaku mulai membanding-bandingkan lagi, memuja-muji Andira yang memang menantu idaman. Jabaran Kak Bintang suaminya sudah tinggi. Mereka punya rumah di kawasan elit, dan sering bepergian ke luar negeri. Sementara Mas Andi? Dia hanya pekerja serabutan yang bekerja keras dari fajar hingga petang demi sesuap nasi.

"Bu, saya masak ini dengan sepenuh hati. Bahannya pun saya beli dengan teliti, bukan barang sisa. Setiap kali kami datang membawa buah tangan, sedikit pun Ibu tak pernah menyentuh. Ibu seolah jijik dengan pemberian kami. Tapi kenapa kalau kakak ipar membawa Pizza, donat mahal, atau spaghetti, Ibu begitu bangga memamerkannya?" suaraku meninggi sedikit, rasa sesak di dada tak lagi terbendung.

"Diam! Tak perlu membela dirimu dan merasa paling benar. Sudah miskin, banyak bicara p**a!" Ibu Mertuaku berdiri dan menunjuk pintu keluar dengan kasar. "Jika kamu berani bicara satu kata lagi, silahkan keluar dari rumahku! Jangan ganggu suasana hatiku yang sedang baik. Masih untung aku mengundangmu di acara ulang tahun Andira ini!"

Aku tertunduk lesu. Bahuku terguncang menahan tangis yang kini pecah tanpa suara. Di dunia yang materialistis ini, ketulusan memang seringkali tidak memiliki harga.

Judul: Menantu Sangat Terhina.
Penulis: Doris Ariesta.

Baca selengkapnya di kbm app

Esoknya, suasana jauh lebih baik. Aku memilih untuk lebih luas lagi lapangnya. Berharap suamiku kelak berubah menjadi le...
08/06/2026

Esoknya, suasana jauh lebih baik. Aku memilih untuk lebih luas lagi lapangnya. Berharap suamiku kelak berubah menjadi lebih baik. Berharap ibu mertuaku, bisa menerima kehadiranku yang miskin ini.
Sesuai rencana, kami membawa anak-anak ke wahana permainan yang ramai. Suasana bercampur dengan suasana anak-anak yang bahagia.

“Mas, tolong bawakan tas ini sebentar. Aku mau gend**g Belle dulu,” kataku sambil menunjuk tas ransel berisi perlengkapan anak-anak yang semakin berat. Belle si bungsu yang baru berusia dua tahun, mulai merengek minta gend**g.

“Taruh saja di kursi tunggu sana, Dek. Tanggung, ini lagi seru banget main permainan,” jawabnya tanpa nada, seolah-olah gamenya jauh lebih penting dari kesulitan istri. Mas Rendi memasang mode sibuk. Wajahnya, bahkan tidak menoleh, matanya terpaku pada layar handphonenya.

Aku menghela nafas panjang dan berat. Ransel kubiarkan tersampir di bahu kananku. Sementara Belle kugend**g dengan erat. Kami memasuki tempat permainan anak-anak. Kedua anakku, dengan energi tak terbatas. Langsung berlarian ke sana kemari. Aku harus mengawasi mereka, memastikan mereka aman di tengah keramaian.

Sementara itu, Mas Rendi menemukan bangku kosong di sudut, langsung duduk, serta sibuk dengan handphonenya. Aku bisa melihat sekali-kali dia tersenyum atau menggelengkan kepalanya, terhibur dengan ponselnya. Seolah-olah dia adalah penonton kebetulan lewat, bukan sebagai seorang ayah yang menjaga anaknya.

Keringat mulai membasahi punggungku. Menggend**g Belle yang mulai minta turun meronta-ronta. Tapi disisi lain aku kelelahan, sambil memutar kepala mengawasi si sulung yang mulai naik perosotan dan si tengah hampir menabrak anak lain.

Setiap langkah terasa bebannya. Kakiku pegal, bahuku sakit menahan bobot ransel dan lengan kiriku kebas menopang Belle. Aku merasa seperti sendirian, menanggung seluruh beban keluarga. Suamiku seperti tak berguna di mataku.

Aku memutuskan untuk berjalan mendekat ke arahnya. Sekuat tenaga mencoba menahan getaran suara di bibirku.

“Mas,” panggilku pelan.

“Hmm,” dia hanya menggumam, tanpa mengalihkan pandangan.

“Aku capek banget, Mas. Aku … aku butuh bantuan.”

Akhirnya dia mengangkat kepalanya, wajahnya merasa seperti terganggu.

“Bantuan apa lagi, Dek? Itu anak-anak kan lagi main. Ya sudah, kamu duduk saja, sebentar lagi juga selesai, kan?” katanya, lalu kembali fokus ke handphonenya.

Lalu kemudian berapa menit kemudian, dia menutup handphonenya. “Sini Belle.”

Dia mengambil Belle dan menggend**gnya asal-asalan. Kembali memasang wajah bosan. Tatapan matanya, gesturnya, nafasnya dihela kasar menyiratkan semua karena terpaksa.

Mas Rendi menggend**g Belle. Namun, cara dia menggend**g terasa kaku dan canggung. Belle yang biasanya penurut, justru merasakan ketidaknyamanan dengan ayahnya. Tidak lama rengekan itu, berubah menjadi tangisan keras.

“Astaga, jangan rewel deh, Belle. Papa lagi capek juga,” desis Mas Rendi. Dia menggoyangkan tangannya, untuk menenangkan Belle digend**gannya.

Aku segera mengambil Belle dari gend**gan suamiku. Tangis anakku langsung reda. Aku mencoba menepuk punggungnya dengan lembut. Mencoba menenangkan Belle.

“Lihat, Mas. Dia rewel karena merasa nggak nyaman sama kamu,” ujarku, mencoba mempertahankan nada datar. Meskipun hatiku sudah bergemuruh.

Mas Rendi mendengus, matanya melirik ke arah Belle. “Ya ampun, drama banget sih. Anak kecil memang begitu, Dek. Dia dekat dengan Ibunya. Kamu terlalu mendramatisasi,” katanya sambil menyambar ponselnya. Sangat tidak peduli sebagai seorang ayah.

Nafasku tercekat. Terlalu dramatis? Apa aku ini sangat dramatis? Aku ini lelah, semua beban di bahuku. Kepekaan sebagai ayah diabaikan, semua dianggap sebagai drama sandiwara.

Setelah kusadari, aku yang terlalu buru-buru menikah. Aku butuh pasangan hidup. Bisa menjadi teman, bisa menjadi penolong, bisa tertawa bersama, tetapi semua hanya impian belaka.

“Mas Rendi,” panggilku, suaraku terdengar tegas, tanpa getaran rewel yang biasa aku dengar.

Dia akhirnya mend**gak, kali ini dengan alis terangkat, mungkin terkejut dengan nada suaraku.

“Aku mau p**ang, sekarang.”

“Hah, p**ang? Kan baru sebentar anak-anak main,” protesnya.

“Aku mau p**ang. Aku sudah tak sanggup. Kalau kamu nggak mau, biar aku p**ang naik taksi,” kataku, tanpa menunggu reaksinya. Segera aku memanggil anak-anakku.

“Kakak, Abang! Ayo cepat sini! Kita p**ang sekarang!” suaraku cukup keras memanggil mereka.

Mereka menoleh, wajahnya menunjukan kebingungan, karena sesi bermain berhenti mendadak. Namun, melihat wajahku yang serius. Mereka tidak berani bertanya. Kakak yang lebih besar, langsung menarik tangan adiknya.

“Ayo, Abang, Mama sudah calek,” kata Kakak pada adiknya. Kalimat polos itu menusuk hati Mas Rendi.

“Lho, Dek! Tunggu dulu! Jangan begini d**g! Anak-anak belum selesai main!” Mas Rendi bangkit dari bangku, memasukan ponselnya ke dalam tasnya.

“Mereka sudah selesai. Besok kamu bisa ajak mereka lagi ke sini. Kalau kamu tidak sibuk,” ujarku datar, tanpa menoleh, tanpa memberi pandangan sedikit pun.

Judul: Menyesal Telah Menikah.
Penulis: Doris Ariesta.

Baca selengkapnya di kbm app

Mertuaku selalu menghin4ku sebagai menantu pembawa sial. Bahkan, ia selalu membandingkan aku dengan menantu lain yang le...
07/06/2026

Mertuaku selalu menghin4ku sebagai menantu pembawa sial. Bahkan, ia selalu membandingkan aku dengan menantu lain yang lebih kay4.

Namun, saat aku buka usaha dan sukses. Ibu mertuaku kembali ...

Pagi itu, suasana ruang tamu terasa lebih tenang. Aku sedang sibuk mengemas bolu kukus langgananku. Namun, seketika aku menoleh ke arah mobil yang tiba-tiba terparkir di depan rumahku.
Jantungku mencelos. Aku tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. Bau parfum mahal yang menyengat segera menyeruak masuk ke teras rumah, merusak aroma wangi bolu yang baru matang.

Ibu mertuaku melangkah masuk dengan wajah yang masih kaku, kali ini didampingi oleh Raisa yang matanya sembab. Tanpa basa-basi, Ibu mertuaku langsung menggebrak meja kayu tempatku berjualan.

"Salsa! Apa-apaan ini?!" teriaknya tanpa mempedulikan ada tetangga yang sedang lewat. "Kamu benar-benar sudah tidak punya tata krama, ya? Kenapa kamu memblokir WhatsApp Mama dan seluruh keluarga ini? Kamu pikir kamu siapa, hah?!”

Raisa berdiri di samping Ibunya, menatapku dengan tatapan antara benci dan memohon. "Mbak, kenapa Mbak tega sekali? Aku mau kirim foto baju, mau tanya soal persiapan, tapi pesanku cuma centang satu. Mbak sengaja mau memutus silaturahmi?”

Aku menghentikan kegiatanku. Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan tanganku yang mulai gemetar. Mas Andi yang mendengar keributan itu langsung keluar dari dalam rumah, berdiri di sampingku dengan wajah yang sangat dingin.

"Mas Andi sudah jelaskan kemarin di rumah Mama, bukan? Jadi untuk apa Mama dan Raisa ke sini lagi?" tanya Mas Andi datar.

"Mama tanya istrimu, Andi! Bukan kamu!" Ibu mertua menunjuk wajahku dengan jari yang penuh cincin berlian. "Kamu, Salsa! Jawab! Apa maksudmu memblokir kami? Kamu mau menunjukkan kalau kamu itu berkuasa atas anakku? Kamu mau kami semua berlutut memohon padamu supaya kamu buka blokir itu?"

Aku menatap Ibu mertua tepat di matanya. Rasa takutku sudah hilang, berganti dengan rasa lelah yang amat sangat.

"Saya memblokir nomor Ibu dan yang lainnya karena saya ingin tenang," jawabku pelan namun tegas. "Setiap kali ada pesan dari keluarga ini, yang ada hanya cacian, hinaan, dan fitnah. Terakhir, Ibu menuduh saya menggunakan dukun. Untuk apa saya menyimpan nomor orang-orang yang menganggap saya begitu rendah?”

"Halah! Itu kan cuma alasanmu saja!" sahut Ibu mertua sinis. "Kamu memblokir kami karena kamu takut, kan? Takut kalau kebohonganmu terbongkar? Sekarang buka blokirnya! Raisa mau bicara soal pesta!"

"Mbak, tolonglah..." Raisa menyela dengan suara serak. "Pernikahanku tinggal sebentar lagi. Aku butuh kepastian. Kenapa Mbak picik sekali mencampuradukkan urusan sakit hati Mbak dengan hari bahagiaku?”

Mendengar kata "picik", aku tertawa miris. "Picik, Raisa? Siapa yang lebih picik? Orang yang memblokir WhatsApp demi kesehatan mentalnya, atau keluarga yang mengundang orang hanya demi pencitraan di depan tetangga agar tidak malu?"

Aku menatap Raisa dengan pedih. "Kamu bilang ini hari bahagiamu? Lalu di mana kamu saat aku menangis karena difitnah Ibumu dan kakak-kakakmu? Kamu diam, Raisa. Kamu menikmati semua hinaan itu seolah itu tontonan gratis. Sekarang, saat kamu butuh kehadiranku untuk melengkapi 'foto keluarga bahagia', kamu baru datang memohon?”

Ibu mertuaku kembali berteriak, "Salsa! Jangan kurang ajar! Cepat ambil ponselmu dan buka blokirnya sekarang juga!"

"Tidak akan, Bu," potong Mas Andi cepat. Suaranya menggelegar, membuat Ibu mertua terdiam seketika. "Salsa tidak akan membuka blokir itu. Dan ponselnya sudah saya simpan. Mulai sekarang, kalau ada yang perlu disampaikan, sampaikan lewat saya. Itu pun kalau saya mau dengar.”

Judul: Menantu Sangat Terhina.
Penulis: Doris Ariesta.

Baca bab selanjutnya di Kbm

Malam itu aku tidak bisa tidur. Membayangkan ayah terbaring lemah. Sementara aku tak berdaya tak memberikan bantuan. Leb...
07/06/2026

Malam itu aku tidak bisa tidur. Membayangkan ayah terbaring lemah. Sementara aku tak berdaya tak memberikan bantuan. Lebih menghancurkan lagi, suamiku tak mau memberikan bantuan. Baginya keluargaku bagaikan benalu yang hanya memanfaatkan situasi.

Aku harus menyelesaikan perdebatan ini dengan Mas Rendi. Aku harus lebih keras dan mengertaknya, serta perhitungan yang sama dinginnya dengannya.

Keesokan paginya, setelah Mas Rendi sarapan dan bersiap berangkat kerja, aku mencegatnya di ambang pintu kamar. Wajahku datar, tanpa emosi, sebuah topeng yang jarang kukenakan di depannya.

“Mas Rendi, aku sudah putuskan,” kataku tanpa basa-basi.

Mas Rendi memasang wajah penasaran dan muak. “Putuskan apa? Jangan mulai lagi, Citra. Aku sudah telat.”

“Jika Mas tak memberikan uang juta pada hari ini juga, aku mulai mencari pekerjaan di luar rumah.”

Dia tertawa sinis, tawa yang menusuk tulang. “Bekerja? Emangnya kamu bisa apa? Siapa yang mau mempekerjakan ibu-ibu dengan tiga anak. Serta penampilan biasa aja. Zaman sekarang persyaratan kerja itu harus good looking dan berpenampilan menarik.”

“Aku akan mencari pekerjaan, apa pun itu. Anggap saja ini sebagai penghasilan tambahan. Sayang banget sekolah sampai sarjana, nggak dimanfaatkan menjadi wanita karir. Daripada ngemis terus, minta uang listip sama suami perhitungan. Setelah aku kerja, aku nggak akan nuntut Mas lagi. Aku nggak akan menggunakan uang Mas lagi,” balasku tegas, mengabaikan penghinaannya.

“Silahkan kalau kamu mau. Buktikan sama aku, kalau kamu bisa apa-apa,” jawab Mas Rendi tertawa sinis seperti menghina.

“Tentu saja, jika aku bekerja, Mas harus membayar. Bukan membayar gajiku, melainkan membayar pengganti yang beres rumah. Aku akan bekerja penuh waktu. Berarti Mas harus bertanggung jawab dengan konsekuensinya.”

Mas Rendi mengerutkan dahi, matanya penuh dengan kecurigaan. “Konsekuensi apa yang kamu maksud?”

“Tanggung jawabku selama di rumah ini, setara dengan gaji dua pekerja. Jika aku bekerja di luar, Mas harus mempekerjakan dua orang. Satu baby sitter, untuk mengurus Stevan dan Olive. Karena kita berdua akan bekerja, tak ada yang mengurus mereka, jika kita tak mempekerjakan baby sitter. Satu ART, untuk membersihkan rumah, mencuci, memasak, memastikan rumah tidak menjadi ‘kandang babi’ lagi.”

Aku melihat wajah Mas Rendi yang tadinya merah padam, kini perlahan memucat. Ia mulai menghitung cepat di kepalanya.

“Berapa biaya untuk pekerja di rumah, Citra?!” teriaknya, suaranya naik satu oktaf.

“Jika dihitung-hitung, gaji baby sitter dan ART menginap, biayanya jauh mungkin melebihi uang dua juta yang Mas anggap boros,” jawabku tenang, membiarkan angkanya bekerja dalam benaknya.

Mas Rendi terdiam. Kalkulator keuangannya bekerja dengan keras. Dibandingkan dengan mengeluarkan dua juta sekali bayar untuk ayahku. Dia minimal harus mengeluarkan uang minimal lima sampai enam juta setiap bulannya, untuk gaji pekerja rumah tangga. Jelas, merupakan mimpi buruk baginya.

Dia menarik nafas kasar, wajahnya menegang. Tiba-tiba, kekejamannya yang dingin mereda. Dia semakin panik dan ogah mengeluarkan uang minimal enam juta setiap bulannya.

“Kamu mengancamku, Citra? Kamu jangan konyol! Tidak perlu berlebihan! Memang kamu tega, meninggalkan anak-anak dijaga orang asing?”

“Aku lebih tidak tega, membiarkan ayahku meninggal di rumah sakit, karena kekurangan biaya, Mas. Lagip**a, Mas sendiri yang bilang, aku harus cerdas mengatur uang. Ini adalah solusi paling cerdas: Mas berikan uang itu sekarang, Mas tak perlu membayar gaji dua pekerja.”

Keheningan yang terjadi semakin terasa, Mas Rendi menatapku, berusaha mencari celah, namun dia tidak menemukannya. Dia tahu aku serius.

Akhirnya, dengan gerakan cepat penuh kekesalan, dia merogoh sakunya dan mengambil uangnya.

“Baik, ini satu juta dulu. Sisanya nanti aku transfer. Tapi, ingat, Citra! Ini terakhir kalinya kita membahas uang untuk orang tuamu.”

“Ya, Mas. Terima kasih. Aku akan transfer uang ini sama Ibu,” jawabku, meskipun kemenangan ini terasa hambar. Setidaknya ayahku kini aman.

Mas Rendi bergegas keluar, membanting pintu mobilnya. Dia meninggalkan aku sendirian, aku sekarang mengerti jika ingin dihargai dalam pernikahan, aku pun harus tegas.

Aku menunggu suara deru mobil Mas Rendi benar-benar menghilang di kejauhan. Nafasku yang tertahan sejak tadi, akhirnya ku hembuskan secara perlahan-lahan.

Aku segera masuk ke dalam kamar, tanganku bergetar saat mengambil ponsel. Aku harus segera menghubungi ibu sebelum Mas Rendi sempat membatalkan transfernya. Takut dia berubah pikiran di jalan.

Aku menekan nomor ibu, dering kedua ibu mengangkat teleponku. Suaranya masih terdengar sangat cemas.

“Halo, Citra. Bagaimana, Nak?”

“Bu, tenang. Aku sudah dapat uangnya,” kataku, berusaha agar suaraku terdengar stabil dan menyakinkan. “Aku baru saja transfer uang yang ibu butuhkan, dua juta rupiah ke rekening Ibu. Tolong segera di cek, ya.”

Aku transfer lebih dulu, dengan mengambil uang tabungan kami lebih dulu, sebelum Mas Rendi transfer dan uang cash satu juta yang diberikan Mas Rendi, akan aku masukan lagi ke atm. Rencananya nanti siang, aku akan ke ATM untuk setor uang itu.

Terdengar suara isak yang tertahan dari seberang telepon. Bukan isak kesedihan, melainkan isak kebahagiaan.

“Terima kasih, Nak. Terima kasih banyak, Citra. Ibu lega sekali, sampai Ibu bingung harus bagaimana tadi pagi.”

Aku menggigit bibirku, air mata mulai mengenang. Rasa lega bercampur sakit. Karna harus memperjuangkan uang itu sekerasnya. Andai saja aku bisa p**ang, melihat keadaan ayah yang terbaring lemah, aku ingin memeluknya supaya terasa tenang. Tapi ini hanya ilusi, mana mungkin suamiku memberikan ijin aku p**ang kampung. Setelah menikah yang dahulu, aku adalah anak cemara yang dekat dengan keluarga. Setelah menikah suamiku mulai memberikan batasan, bahkan tak memberi ruang untuk keluargaku. Selama menikah Mas Rendi, setiap ada acara keluargaku, ia jarang ikut dan perwakilannya adalah aku. Sedangkan dalam acara keluarga besarnya, aku harus berperan dan ikut.

“Bagaimana kondisi ayah sekarang, Bu? Ibu jangan terlalu panik, ya. Uangnya sudah ada, sekarang fokus ke pengobatan ayah.”

“Ayah belum bisa p**ang, Nak. Tapi kata dokter sudah lebih baik. Jadi kamu jangan kuatir juga disana ya, Nak.”

“Bagus, Bu. Ibu jangan kesehatan di sana, ya. Kalian harus hidup lebih lama. Karna, aku udah jadi Ibu pun, aku masih butuh sosok ayah dan ibu.” Aku pun meneteskan air mata.

“Iya, Nak. Kita harus sama-sama sehat ya, Nak. Ibu juga nggak bisa hidup, tanpa kedua anak ibu. Ibu urus administrasinya dulu, ya. Nanti Ibu hubungi balik.”

“Iya, Bu.”

Judul: Menyesal Telah Menikah.
Penulis: Doris Ariesta.

Baca selengkapnya di kbm.

Address

Sabu

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Ita Series posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share