Tulisanku

Tulisanku Ibu-ibu biasa, single fighter, hobi begadang sambil ngopi n curhat sama AI.

Hello...saya Yohana gunarti, Just an ordinary mom yang suka ngopi sambil nulis, jarang tidur tapi punya banyak mimpi.

Luka itu, seringkali bersembunyi di balik senyumku ☺️🥲
09/05/2026

Luka itu, seringkali bersembunyi di balik senyumku ☺️🥲

21/04/2026

“Dulu sering diremehkan.
Sekarang?
Masih… tapi aku sudah nggak peduli.
Karena perempuan yang benar-benar kuat,
adalah dia yang tetap setia
dan tetap berani merawat mimpi.”

20/03/2026

Seni Berdamai dengan Keadaan: Saat 'Biasa Saja' Menjadi Mewah

Melihat story WA dan linimasa belakangan ini, rasanya seperti melihat "medan tempur". Ramai teman-teman berbagi kesibukan mencari cuan: mulai dari spill list pesanan yang menumpuk, foto stoples kue setinggi gunung, sampai tangkapan layar mutasi rekening hasil panen Ramadan. Alhamdulillah, ikut senang melihatnya! 😊

Tapi jujur, melihat itu semua, ingatanku sering terlempar ke beberapa tahun silam...

Dulu, akulah orang yang ada di tengah keriuhan itu. Waktu usaha peninggalan almarhum suamiku masih berjaya, aku tahu rasanya pontang-panting memastikan stok ayam dan daging aman. Tidur cuma 2-3 jam sudah biasa, tidur cuma 1 jam saja juga pernah, demi memastikan pesanan pelanggan tidak ada yang meleset.

Bahkan jauh sebelumnya, aku pernah ada di fase mempekerjakan 4-5 orang dan menghabiskan kurang lebih 7 karung tepung untuk pesanan kue kering dan cake Idul Fitri. H-3 sampai H-1 menjelang Lebaran? Wah, itu puncak stres, cemas, dan panik tingkat dewa! 😅

Tapi, masa-masa itu sudah lewat.

Sejak kepergian suami dan usaha kami akhirnya gulung tikar, aku menjalaninya dengan "tenang dan biasa saja". Tidak ada lagi ambisi untuk ikut "bertempur" mencari cuan di tengah kondisi keuangan yang belum stabil.

Aku memilih tidak memaksakan diri. Bagiku sekarang, memikirkan baju baru, dekorasi rumah, atau peluang keuntungan berlipat ganda justru hanya akan menjadi beban yang menyiksa pikiran.

Apakah aku iri? Entahlah... tapi jujur, rasanya biasa aja sih melihat kehebohan-kehebohan mereka. Paling cuma senyum karo mbatin: "Aku pernah di fase itu, dan fase itu telah berlalu."

Secara spiritual, aku belajar tentang Qana’ah—sebuah konsep yang sering dibahas tokoh seperti Buya Hamka sebagai "kesehatan jiwa".

Merasa cukup dengan apa yang ada di tangan, sehingga hati tidak lagi diperbudak oleh apa yang belum dimiliki. Dalam psikologi, ini adalah cara terbaik untuk berhenti dari “Hedonic Treadmill”_elahnya mengejar keinginan materi yang tak pernah ada ujungnya.

Apa yang aku tulis ini bukan bentuk sinisme ya! Justru aku sangat menghargai keriuhan kalian sebagai bentuk antusiasme menyambut peluang dan momen lebaran. Aku malah berpikir: Dunia ini butuh keseimbangan, butuh orang-orang sibuk seperti kalian!

Bayangkan kalau semua orang mendadak jadi "penganut ketenangan dan bodo amat" sepertiku, lantas siapa yang akan memborong kue kering? Siapa yang akan menguras stok gamis di marketplace? Siapa yang bikin kurir ekspedisi lembur sampai malam takbiran? Kepanikan dan kesibukan kalianlah yang membuat suasana hari raya tetap hidup dan berkesan.

Beberapa tahun ini, mungkin dapurku tidak beraroma mentega, dan tidak ada kantong belanjaan baju baru di pintu. Tapi di dalam ruang kerja sederhana ini, ada sesuatu yang jauh lebih mewah: Ketenangan batin dan ruang untuk tetap kreatif.

Selamat menyongsong hari raya dengan cara kalian masing-masing. Karena pada akhirnya, yang penting bukan seberapa sibuk kita di luar, tapi seberapa damai kita di dalam._@ Yohana Gunarti ✨

Referensi & Inspirasi tulisan:
📖 Qana’ah sebagai Kunci Ketenangan Hati: https://islam.nu.or.id/tasawuf/qana-ah-kunci-kebahagiaan-dan-ketenangan-hati-9ZfHn
📖 The Power of Enough - Joshua Becker: https://www.becomingminimalist.com/the-power-of-enough/
📖 Why "Doing Nothing" is the Key to Happiness: https://www.bbc.com/worklife/article/20190812-why-doing-nothing-is-the-key-to-happiness

✨ “Mungkin ini bukan sekadar   , tapi catatan kecil tentang kehilangan yang meninggalkan jejak panjang di hati.”Kehilang...
30/09/2025

✨ “Mungkin ini bukan sekadar , tapi catatan kecil tentang kehilangan yang meninggalkan jejak panjang di hati.”

Kehilangan selalu meninggalkan jejak. Kadang samar, kadang begitu jelas hingga menyesakkan dada. Tapi dari setiap jejak itu, kita belajar: mencintai tak selalu harus menggenggam, kadang cukup dengan mengenang."

💬 Apa kenangan terindah yang masih kamu simpan hingga hari ini?




❤️

Kamu pasti pernah ketemu sosok manusia yang sombong, arogan atau sok-sok an—yang berlaku semena-mena atau memperlakukan ...
10/08/2025

Kamu pasti pernah ketemu sosok manusia yang sombong, arogan atau sok-sok an—yang berlaku semena-mena atau memperlakukan orang lain dengan tidak adil.

Mereka, manusia-manusia itu seringkali lupa alias tidak sadar bagaimana jika label seperti nama, gelar, jabatan, pekerjaan, status sosial, asal-usul, latar belakang, suku, agama, ras,gender, dan sebagainya… dilepaskan dari dirinya?

Atau...pernahkah kalian sendiri merenung dan bertanya pada diri sendiri_“Siapa aku… jika semua label yang melekat tentang diriku_ tadi menghilang? Bayangkan, suatu hari… namamu dilupakan. Gelar yang kau banggakan hilang. Jabatan dan status sosial lenyap.
Asal-usul, suku, agama, ras, gender—semuanya tak lagi jadi sebutan?

NOTHING!!!
Yes… we are nothing—just human.
Yang tersisa hanyalah esensi kita sebagai manusia_ hanya kesadaran, perasaan, pikiran, dan pengalaman hidup yang murni.

Ya, yang tersisa justru esensi paling murni dari diri kita sendiri_Kesadaran yang diam, yang mengamati tanpa menghakimi. Perasaan yang tulus, yang ingin mencintai menyayangi dan menghargai tanpa pamrih.
Keterhubungan yang dalam dengan manusia lainnya, yang tak mengenal batas “aku” atau “mereka.”

Dalam Buddhisme analogi ini disebut anatta, yakni menyadari bahwa kita bukan sekadar label.
Dan dalam sufisme, ini disebut fana, yakni lenyapnya ego, hingga yang tersisa hanyalah cinta_cahaya yang murni, diri yang sejati.

Ketika pemahaman kita sudah sampai di titik itu, kita akan mengerti bahwa,
Kita tak perlu menjadi “seseorang” untuk berharga.
Kita hanya akan dinilai dari apa yang kita lakukan dan bagaimana kita memperlakukan orang lain, bukan dari berbagai macam label yang melekat pada diri kita.

Jadi… berhentilah membanggakan label yang melekat pada dirimu, berhentilah membanggakan siapa dirimu,
Jadilah berharga karena hati dan tindakanmu.
Kita cukup menjadi manusia yang bisa memanusiakan manusia lainnya.
~ Diari Gunarti🌿

Sumber tulisan:
~Anatta – Konsep Tanpa-Diri dalam Buddhisme
https://plumvillage.org/thich-nhat-hanh-teachings/anatta-no-self
https://www.britannica.com/topic/anatta
~Fana – Lenyapnya Ego dalam Sufisme
https://www.britannica.com/topic/fana-Islam
https://medium.com//road-to-sufism-baqaa-and-fana-9c29d695593b






🌿

‎Surat Cinta dari Ibu‎‎Cinta...‎‎Begitulah Ibu memanggilmu. Karena memang sejak awal, kamu dan Kakakmu adalah cinta pert...
14/07/2025

‎Surat Cinta dari Ibu

‎Cinta...

‎Begitulah Ibu memanggilmu. Karena memang sejak awal, kamu dan Kakakmu adalah cinta pertama Ibu dan Almarhum ayahmu, setelah takdir menjadikan kami sebagai sosok orang tua, kamu adalah seberkas cahaya cinta yang dikirimkan Tuhan dalam wujud seorang anak perempuan yang manis, tangguh, dan menghangatkan.

‎Pesan dari Hati

‎Hari ini Ibu ingin menulis sesuatu untukmu,
Cintaaa..., Mungkin ini tak seberapa dibandingkan hadiah atau kejutan ulang tahun, tapi ini adalah sepenggal pesan yang lahir dari hati Ibu... yang tak pernah berhenti menyayangimu sejak pertama kali kau hadir dalam hidup ini.

‎Perjalanan Menuju Dewasa

‎Nak, Ibu tahu kamu bukan gadis kecil lagi. Hari-harimu kini mulai penuh dengan keputusan-keputusan yang kelak menentukan masa depanmu. Mungkin kadang kamu lelah, kadang merasa sendiri... tapi percayalah, Ibu selalu ada di sini — jadi tempatmu pulang kapanpun kamu butuh "rumah" yang menenangkan.

‎Nilai Hidupmu

‎Kau sudah Ibu lihat tumbuh menjadi gadis yang cerdas, kritis, sederhana tapi penuh keinginan untuk maju. Tak apa kita tak punya banyak, tak apa baju seragam mu tidak selalu licin dan wangi, tidak mengapa jika kamu ke sekolah tidak membawa bekal atau uang saku yang berlebih asal kau tahu bahwa nilai hidupmu dan kecerdasan mu tidak pernah diukur dari semua itu. Kau sudah membuktikan bahwa mandiri itu bukan soal umur, tapi soal kemauan untuk berjuang.

‎Usia 17 Tahun

‎Usia 17... usia yang katanya "rawan." Tapi Ibu percaya kamu bisa jaga diri, bisa memilih mana teman yang baik, mana yang sekadar singgah. Jangan terburu-buru dalam urusan cinta, karena cinta yang datang terlalu cepat kadang justru belum siap untuk menetap. Fokuslah membangun mimpimu, sebab saat kau sudah menjadi sosok yang utuh, kelak cinta yang datang pun akan lebih bijak menghargaimu.

‎Dukungan Ibu

‎Ibu mungkin tidak bisa selalu menyediakan kemudahan dan kemewahan, tapi Ibu selalu menyediakan hati, tangan, dan pelukan... yang kapanpun kamu butuhkan, tidak akan pernah menolakmu pulang.

‎Harapan dan Kebanggaan

‎Selamat bertumbuh, Cinta Mami..., Nadya Ratry Ayu Kinasih. Tetap jadi gadis yang kuat, cerdas, rendah hati, dan tahu caranya bahagia dengan cara yang sederhana. Ibu bangga dan sayang kamu — tanpa syarat, tanpa jeda.

With love, your mom🖤


Address

Samarinda
74321

Opening Hours

Monday 09:00 - 17:00
Tuesday 09:00 - 17:00
Wednesday 09:00 - 17:00
Thursday 09:00 - 17:00
Friday 09:00 - 17:00
Saturday 09:00 - 17:00
Sunday 09:00 - 17:00

Website

https://linktr.ee/Yohanagunarti, https://sociabuzz.com/gunarti

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Tulisanku posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Tulisanku:

Share