17/04/2026
Terkadang, dalam setiap pergerakan aksi yang mengatasnamakan “kepentingan rakyat”, selalu ada kemungkinan hadirnya individu—layaknya penjahat kambuhan—yang sengaja memanfaatkan situasi demi mencari celah keuntungan.
Realitanya, ladang keuntungan tidak selalu
berasal dari tempat yang semestinya.
Kemarahan, kekecewaan, bahkan ketidakpercayaan masyarakat pun dapat dijadikan bahan dagangan politik oleh oknum tertentu.
Semua itu dimanfaatkan sebagai peluang untuk meraup keuntungan
—baik bersumber dari para donatur besar yang siap menyokong aksi,
—maupun bersumber dari negosiasi diam-diam di belakang layar bersama pihak lawan yang awalnya menjadi sasaran kritik.
Ironisnya, ketika sebagian masyarakat tergerak untuk berpartisipasi atas dasar ketulusan dan panggilan perjuangan, ada saja oknum yang justru memfasilitasi gerakan tersebut bukan karena idealisme, melainkan karena kepentingan finansial.
Berbagai fenomena ini mengajarkan bahwa kita perlu bersikap lebih bijak dan kritis.
Jangan lagi berjalan dengan mata tertutup.
Jangan mudah percaya hanya karena seruan terdengar lantang.
Jangan mudah ikut hanya karena Massa terlihat besar.
Tanyakan. Telusuri. Kenali.
Siapa yang menggerakkan ?
Bagaimana rekam jejaknya ?
Karena jika kita lengah,
perjuangan yang seharusnya suci
bisa berubah menjadi panggung ambisi—
milik mereka yang mencari keuntungan.
Dan kita—
tanpa sadar—
hanya dijadikan alat !
Sudah saatnya kita bukan hanya berani bersuara,
tetapi juga berani bersikap kritis.
Agar setiap langkah yang kita ambil,
setiap pengorbanan yang kita berikan,
benar-benar Final untuk rakyat—
bukan untuk diperalat oleh mereka
yang bersembunyi di balik nama perjuangan