04/01/2026
Tangisan yang Tak Terdengar di Antara Deru Scroll
Setiap hari, jari kita bergerak lebih cepat daripada hati.
Satu layar, satu sentuhan, lalu berganti.
Wajah tertawa muncul sebentar, lalu hilang.
Kesedihan orang lain lewat tanpa sempat singgah.
Di antara deru scroll yang tak pernah lelah,
ada tangisan yang tidak bersuara.
Ia bukan tangisan yang dramatis.
Tidak ada isak, tidak ada air mata yang jatuh di depan kamera.
Ia tersembunyi rapi di balik foto senyum,
di balik caption singkat yang terdengar baik-baik saja.
Kita hidup di zaman di mana luka belajar menyamar.
Di mana hati yang remuk memilih diam
karena takut dianggap lemah,
atau lebih buruk : diabaikan.
Mungkin kamu pernah menjadi bagian dari itu.
Mungkin kamu juga pernah menahan napas lebih lama
saat malam datang dan notifikasi mulai sepi.
Di saat dunia terlihat ramai,
tapi jiwamu terasa kosong.
Tangisan itu ada
saat seseorang memegang ponselnya terlalu lama
bukan karena menunggu pesan,
melainkan menunda kenyataan bahwa tidak ada yang benar-benar menanyakan,
“kamu baik-baik saja?”
Ia ada pada jeda singkat
ketika layar dimatikan
dan sunyi tiba-tiba terasa terlalu jujur.
Kita terbiasa mengukur hidup dari apa yang terlihat.
Jumlah like. Jumlah views. Jumlah validasi.
Padahal yang paling butuh diperhatikan
seringkali justru yang tidak berani muncul ke permukaan.
Tangisan yang tak terdengar itu
bukan meminta dikasihani.
Ia hanya ingin diakui.
Bahwa lelah itu nyata.
Bahwa bertahan saja sudah merupakan keberanian.
Jika hari ini kamu membaca ini
dan hatimu terasa berat tanpa sebab yang jelas,
ketahuilah:
kamu tidak rusak.
Kamu hanya manusia
yang sedang kehabisan ruang untuk didengar.
Dan jika kamu bisa,
berhentilah sejenak dari deru scroll itu.
Tarik napas.
Dengarkan dirimu sendiri.
Karena kadang,
hal paling berani yang bisa kita lakukan
bukan terus bergerak maju,
melainkan mengakui bahwa kita sedang terluka—
meski tak ada satu pun yang melihat.
Dan di keheningan itu,
semoga kamu menemukan satu hal sederhana:
bahwa tangisanmu,
meski tak terdengar oleh dunia,
tetap layak untuk dipeluk.