01/10/2026
Kalau ukuran keberhasilan seorang anak presiden adalah seberapa banyak harta, jabatan, atau proyek yang berhasil dikumpulkan, mungkin Guruh Soekarnoputra akan terlihat seperti orang yang salah memilih jalan.
Bayangkan…
Ia adalah putra bungsu Presiden Soekarno. Sejak lahir, ia sudah berada di lingkungan pusat kekuasaan Republik Indonesia.
Namun ketika dewasa, Guruh justru memilih dunia yang bagi sebagian orang mungkin terlihat “tidak menghasilkan banyak uang”.
Ia memilih tari, musik, kain tradisional, seni pertunjukan, dan kebudayaan Indonesia.
Bukan tambang.
Bukan bisnis kekuasaan.
Bukan mengejar kemewahan.
Melainkan seni.
Dan justru di situlah sisi lain Guruh yang sering luput dilihat.
Guruh memang lahir sebagai anak presiden. Tetapi dari kesaksiannya sendiri, kehidupan di Istana Merdeka tidak membuatnya merasa sebagai “anak raja”.
Saat masih kecil, taman kanak-kanaknya bahkan berada di sebuah gazebo di kawasan Istana. Teman-temannya bukan hanya anak pejabat, menteri, atau diplomat.
Ia bermain bersama anak tukang kebun, anak koki, anak pelayan Istana, pegawai sekretariat negara, hingga anak para pejabat.
Bagi Guruh kecil, mereka bukan bagian dari kelas sosial yang berbeda.
Mereka adalah teman.
Ia pernah menggambarkan kehidupannya di Istana sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja dan mengatakan bahwa kedua orang tuanya mendidiknya agar tetap dekat dengan rakyat.
Di situlah mungkin fondasi karakter Guruh mulai terbentuk.
Ia hidup di dalam istana, tetapi tidak dibesarkan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Bahkan pendidikan agama yang ia ceritakan dari masa kecil pun tidak datang melalui les khusus yang mewah.
Guruh mengisahkan bahwa ketika duduk di kelas satu SD, justru B**g Karno sendiri yang pertama kali mengajaknya salat Jumat ke masjid.
Bukan sekadar teori.
Tetapi contoh langsung dari seorang ayah kepada anaknya.
Lalu ada dunia yang akhirnya menjadi jalan hidup Guruh:
SENI.
Sejak kecil ia sudah menaruh perhatian pada tari, musik, dan sastra. Arsip Nasional mencatat bahwa Guruh mulai belajar berbagai tari tradisional sejak usia sekitar lima tahun, memainkan piano, hingga membentuk kelompok musik ketika remaja.
Dan ketika masuk ke dunia musik, ia tidak sekadar mengikuti arus.
Pada dekade 1970-an, lahirlah proyek Guruh Gipsy.
Guruh berkolaborasi dengan kelompok Gipsy—yang antara lain beranggotakan Keenan Nasution, Chrisye, Roni Harahap, Oding Nasution, dan Abadi Soesman—memadukan musik rock progresif dengan gamelan Bali.
Hasilnya adalah sebuah eksperimen musik yang pada zamannya terbilang berani.
Bukan meninggalkan budaya Indonesia demi modernitas.
Justru sebaliknya:
budaya Indonesia dibawa masuk ke ruang musik modern.
Album Guruh Gipsy mulai digarap pada 1975, direkam hingga 1976, dan dirilis pada 20 Maret 1977.
Tetapi Guruh tidak berhenti sebagai pencipta.
Ia juga menjadi guru.
Salah satu murid tarinya adalah Asri Welas.
Asri mengenang Guruh sebagai guru yang “gokil”. Latihan yang ia jalani bahkan pernah mencapai 12 jam sehari: enam jam setelah p**ang sekolah, kemudian dilanjutkan kembali hingga sekitar pukul dua dini hari.
Namun di balik latihan keras itu, Asri mengatakan Guruh justru menumbuhkan kecintaannya terhadap budaya Indonesia—mulai dari tari, kain, hingga sanggul.
Jadi mungkin kita bisa melihat Guruh dari sudut yang berbeda.
Ia tidak sedang membuang waktunya dengan seni.
Ia sedang membangun sesuatu yang tidak bisa dihitung hanya dengan uang.
Dan ada satu hal lain yang menarik.
Guruh pernah membicarakan gagasan Persada Soekarno, sebuah museum atau perpustakaan yang direncanakan menyimpan benda-benda seni milik B**g Karno.
Menurut Guruh, benda-benda tersebut bukan sekadar koleksi keluarga.
Ia menyampaikan bahwa B**g Karno pernah berwasiat agar benda-benda itu dipersembahkan untuk rakyat Indonesia.
Di titik inilah kita mungkin perlu mengubah cara melihat Guruh.
Tidak tepat jika mengatakan ia hidup miskin atau tidak menikmati fasilitas sebagai anak presiden.
Ia tetap lahir dari keluarga yang sangat istimewa.
Tetapi ukuran keberhasilannya memang berbeda.
Ia tidak menjadikan nama besar ayahnya semata-mata sebagai tiket untuk mengejar kemewahan.
Ia justru menggunakan dunia yang ia cintai untuk meninggalkan karya.
Tari.
Musik.
Kain.
Pertunjukan.
Dan kebudayaan.
Mungkin bagi sebagian orang, pilihan seperti itu terlihat aneh.
Bahkan bisa dianggap “bodoh” karena tidak memaksimalkan privilese yang dimilikinya.
Tetapi sejarah kadang punya ukuran yang berbeda dari rekening bank.
Tambang bisa habis.
Bangunan bisa runtuh.
Kekuasaan bisa berganti.
Tetapi sebuah karya seni bisa terus dimainkan.
Sebuah tarian bisa terus diwariskan.
Sebuah musik bisa kembali didengar puluhan tahun kemudian.
Dan sebuah kebudayaan bisa menjadi identitas sebuah bangsa.
Itulah sisi lain Guruh Soekarnoputra.
Ia lahir di tengah pusat kekuasaan Indonesia.
Tetapi hidupnya justru banyak dihabiskan untuk sesuatu yang tidak bisa diwariskan dalam bentuk harta:
kecintaan terhadap Indonesia.
Mungkin itulah warisan Guruh yang sesungguhnya.
Bukan tentang seberapa besar kekayaan yang berhasil dikumpulkan dari nama besar keluarganya.
Tetapi tentang seberapa banyak orang yang akhirnya mencintai budaya bangsanya karena pernah disentuh oleh karya-karyanya.
Dan mungkin, pada akhirnya, sejarah tidak akan bertanya:
“Berapa banyak yang berhasil ia miliki?”
Tetapi:
“Apa yang ia tinggalkan setelah ia pergi?”