18/04/2026
Judul : KONTRAK DARAH CEO
Pembuka : Di balik citra sempurna sebagai CEO muda, Kael Draven mengendalikan jaringan kriminal global bernama Obsidian Circle—organisasi yang mengikat anggotanya dengan kontrak darah: sekali masuk, tidak ada jalan keluar kecuali mati.
Suatu malam, Kael memilih satu wanita yang seharusnya tidak tersentuh oleh dunia itu—
Dia adalaj Nara Khile wanita dengan tatapan kosong dan masa lalu yang “hilang”.
Dia tidak memohon.
Dia tidak takut.
Dan itu… membuat Kael tertarik.
Titl🩸 BAB 1 — Undangan yang Tidak Bisa Ditolak
Hujan turun tanpa suara.
Bukan deras.
Bukan juga gerimis yang lembut.
Hanya saja cukup untuk membuat kota terlihat mati.
Lampu-lampu digedung tinggi memantul di jalan basah, menciptakan ilusi kehidupan yang sebenarnya kosong.
Dan di tengah itu semua, sebuah mobil hitam berhenti. Pintunya terbuka perlahan, Sepasang sepatu wanita menyentuh aspal.
Langkahnya tenang, Tidak terburu-buru, dan juga tidak ada keraguan. Dialan Nara Khile.
Dia berdiri sejenak, dan menatap ke atas. Gedung itu tinggi menjulang seperti sesuatu yang tidak seharusnya disentuh oleh manusia.
Dingin, bersih dan terlalu sempurna. Logo perusahaan yang berada di puncaknya menyala samar.
Semua orang mengenalnya. Tempat di mana kekuasaan dibuat dan dihancurkan.
Dan malam ini, dia diundang untuk masuk.
“Undangan Anda, Nona.” Seorang pria berseragam hitam berdiri di depan pintu masuk, suaranya datar. Tangannya terulur.
Nara tidak langsung menjawab, Dia hanya menatap amplop di tangannya. Berwarna Hitam, dan tanpa nama pengirim.
Hanya ada satu simbol kecil di sudutnya, sebuah lingkaran gelap seperti tinta yang menyebar.
Simbol yang seharusnya tidak ada, Simbol yang seharusnya suda hilang. Jarinya sedikit menegang, hanya sedikit. Cukup untuk menunjukkan bahwa ada sesuatu dalam dirinya yang mengenali ini.
Tetapi wajahnya tetap terlihat tenang. Dia menyerahkan undangan itu.
Pria itu memeriksanya sekilas, lalu membuka pintu.
“Selamat datang.” Nada suaranya berubah, lebih hormat dan lebih berhati-hati. Seolah-olah wanita di depannya bukanlah tamu biasa.
Lobi gedung itu terlalu sunyi, tidak ada satupun suara sepatu. Tidak ada percakapan, Bahkan musik pun tidak ada. Hanya suara langkahnya sendiri.
Tok… tok… tok…
Nara berjalan tanpa melihat ke kiri atau kanan.
Padahal, banyak mata mengawasinya.
Dari kamera.
Dari kaca.
Dari bayangan.
Dia tahu.
Dan dia tidak peduli.
Lift telah terbuka sebelum dia menekan tombol. Seseorang sudah menunggunya di dalam.
“Lantai paling atas,” kata pria itu singkat.
Nara masuk dan pintu lift tertutup.
Keheningan menyelimuti ruangan lift.
Lift bergerak naik dengan halus… terlalu halus.
Seperti tidak ingin memberi waktu bagi siapa pun untuk berpikir ulang.
“Tidak banyak orang yang menerima undangan ini.” Pria itu akhirnya berbicara.
Nara tidak menoleh.
“Banyak yang menolak?”
“Banyak yang tidak pernah mendapat kesempatan.”
Jawaban yang aman Jawaban yang tidak mengatakan apa-apa.
Nara tersenyum tipis. “Lalu apakah aku termasuk yang beruntung?”
Pria itu diam. Beberapa detik berlalu begitu ama.
“...Itu tergantung bagaimana Anda melihatnya.”
Ding.
Pintu lift terbuka.
Berhenti pada lantai paling atas. Dilantai tersebut Kosong, tidak ada resepsionis, tidak ada penjaga. Dan tidak ada siapa pun, hanya ada satu pintu besar di ujung lorong. Berwarna hitam, tanpa adanya pegangan dan tanpa tanda. Seolah-olah pintu itu, tidak ingin ditemukan.
“Masuklah.” Ucap pria itu datar, dia tetap berada di lift, dia tidak keluar.
Dia tetap berdiri di dalam, seperti tidak diizinkan melewati batas itu.
Nara melangkah keluar, berjalan sendirian. Terdengar pintu lift dibelakangnya mulai tertutup.
Dan untuk pertama kalinya pada malam itu, suara itu terasa, final.
Langkah kakinya menggema di lorong yang panjang.
Satu langkah.
Dua langkah.
Ia semakin dekat ke pintu, dan semakin berat udara di sekitarnya. Seolah-olah tempat ini, menolak kehadiran orang yang hidup.
Nara berhenti tepat di depan pintu, disana tidak ada tombol. Tidak ada sensor yang terlihat. Tapi sebelum dia menyentuh apa pun—
klik.
Pintu itu terbuka sendiri, Perlahan. Ruangan di baliknya begitu luas, tetapi nuasa gelap menyelimuti dengan pekat. Cahaya hanya datang dari jendela besar di belakang. Siluet seseorang berdiri di sana.
Tinggi. Tegak. Tidak bergerak. Menatap kota di bawahnya.
Seolah-olah seluruh dunia… ada dalam genggamannya.
“Masuk.”
Suaranya dalam dan datar. Tidak keras, tapi cukup untuk mengunci langkah siapa pun.
Nara berjalan masuk. Pintu dibelakangnya menutup dengan sendirinya.
Sekali lagi.
Tanpa suara.
Beberapa detik berlalu.
Tidak ada yang berbicara.
Hanya dua orang dalam satu ruangan, dan ketegangan yang tidak terlihat.
Akhirnya, pria itu berbalik.
Langkahnya pelan dan terukur.
Wajahnya mulai terlihat dalam cahaya remang.
Terlalu tenang.
Terlalu sempurna.
Dan terlalu dingin untuk disebut manusia biasa.
Dia adalah Kael Draven.
Tatapan mereka bertemu.
Tidak ada senyum.
Tidak ada basa-basi.
Hanya diam… yang berbicara lebih banyak dari kata-kata.
Kael berhenti beberapa langkah di depan Nara, Menatapnya dalam dan tajam. Seolah-olah mencoba membongkar setiap lapisan yang dia miliki.
“Kau datang.” Bukan sebuah pertanyaan.
Nara sedikit memiringkan kepala. “Bukankah aku diundang?” Nada suaranya tenang. Hampir terlihat santai. Kesalahan, untuk tempat seperti ini.
Ada jeda pendek.
Tapi cukup untuk membuat udara disekitar terasa lebih berat.
“Sebagian besar orang,” kata Kael perlahan, “datang ke sini dengan rasa takut.” Matanya tidak lepas dari Nara.
“Mereka gemetar. Mereka ragu.” Satu langkah mendekat.
“Dan beberapa… bahkan tidak sanggup menatapku.”
Diam.
“Tapi kau tidak.”
Nara menatap balik.
Tanpa berkedip.
Tak gentar.
“Haruskah aku?”
Untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang berubah di mata Kael.
Bukan emosi, Lebih seperti sebuah ketertarikan. Senyum tipis muncul di sudut bibirnya, bukan senyuman yang hangat. Lebih seperti seseorang yang baru menemukan sesuatu mainan yang langka.
“Menarik.”
Keheningan kembali menyelimuti, Tapi kali ini berbeda. Melainkan penuh dengan sesuatu yang belum dinamai.
Kael berbalik, berjalan menuju meja di tengah ruangan.Mengambil satu dokumen tipis, berwarna hitam. Dan meletakkannya di atas meja.
“Duduk.”
Nara tidak langsung bergerak, beberapa detik. Lalu dia berjalan mendekat dan duduk didepan Kael tanpa ragu.
Kael mendorong dokumen itu ke arahnya. “Baca.”
Nara tidak langsung membuka, hia hanya melihatnya. Beberapa detik berjalan agak lambat, Seolah-olah dia sudah tahu… isi di dalamnya.
“Kontrak,” katanya pelan.
Kael tidak menjawab.
“Dengan harga yang tidak tertulis,” lanjut Nara.
Sekarang Kael yang terdiam.
Nara akhirnya membuka dokumen itu, matanya bergerak cepat. Tidak ada perubahan ekspresi dalam wajahnya, tidak ada keterkejutan. Dan itu… cukup untuk membuat Kael semakin yakin.
“Biasanya,” kata Kael pelan, “di bagian ini… orang mulai bertanya.”
Nara menutup dokumen itu, lalu mengangkat pandangannya langsung ke mata Kael. “Apa yang membuatmu berpikir aku ‘biasanya’?”
Jeda.
Senyum itu muncul lagi, kali ini lebih jelas. “Tidak,” kata Kael.
“Kau jelas bukan.” kemudian diia mengambil sebuah pena. Tapi bukan pena biasa, ujungnya tajam.
Dan meletakkannya di depan Nara.
“Kalau begitu…” suara Kael turun satu nada, lebih dalam dan lebih berbahaya. “Buktikan.”
Nara menatap pena itu, Lalu tanpa ragu dia mengambilnya. Menusukkan ujung tajam itu ke salah satu jarinya sendiri. Setetes darah jatuh, mengenai kertas hitam itu.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, Kael Draven benar-benar terdiam. Karena sekarang dia tahu satu hal, wanita ini tidak masuk ke dalam permainan. Dia sudah pernah berada di dalamnya.