Imtiyaz

Imtiyaz Imajinatif dan Sempurna dalam Berkarya

Merek

Al Amanah Junwangi
11/09/2019

Al Amanah Junwangi

Innalillahi wa innailaihi rojiun

Turut Berduka Cita atas Wafatnya beliau
Bacharuddin Jusuf Habibie
(Presiden Republik Indonesia Ke-3)
1936-2019

#bjhabibie
#alamanahjunwangi

KITA HARUS BERSYAHADAT LAGIOleh :KH. Nurcholis MisbahCatatan akhir, Imtiyaz edisi Juni 2018/ Ramadhan 1439 H
13/06/2018

KITA HARUS BERSYAHADAT LAGI
Oleh :KH. Nurcholis Misbah

Catatan akhir, Imtiyaz edisi Juni 2018/ Ramadhan 1439 H

13/06/2018

TIPS MUDIK BERKUALITAS SAAT RAMADHAN

Lebaran juga sebentar lagi, sudah menjadi tradisi masyarakat Indonesia yang sudah terkenal di dunia adalah mudik. Lalu, apa saja, sih, yang harus dipersiapkan sehingga mudiknya lebih berkualitas? So, kita simak, ya, tips-tipsnya.

1. Ingat Berdoa.
Memperbanyak doa dan dzikir sejak sebelum berangkat sampai pada tujuan merupakan hal yang disunnahkan sebab dalam perjalanan, doa-doa musafir, dalam hadis hasan Abu Hurairah dari Rasulullah, dikabulkan dan tidak diragukan. Selain dari pada itu, selama di perjalanan banyak kemungkinan terhadap hal-hal yang tidak diinginkan. Oleh karena itu, dianjurkan untuk terus meminta perlindungan dan pertolongan-Nya.

2. Menjaga Adab Singgah.
Menjadi seorang pembelajar di tempat yang jauh tentu sudah mempelajari bagaimana seharusnya bersikap, begitupun selama perjalanan. Ada beberapa dari santri yang jauh maupun anak rantau yang tidak langsung ke rumah saat liburan mudik tiba. Beberapa diantaranya singgah di rumah teman, masjid atau tempat istirahat lainnya selagi baik tempatnya. Sebaiknya tidak berlaa-lama dan segera menyelesaikan perjalanannya. Adapun selama perjalanan dianjurkan untuk bertakbir saat di tempat yang tinggi dan bertasbih di tempat yang rendah serta selalu mendawamkan (menjaga) wudlu.

3. Tetaplah Membaca.
Bawalah buku-buku atau kitab selama di pesanten untuk di-muthala’ah (mengulang pelajaran) kembali. Siapa tahu orang tua akan menguji apa yang kita dapatkan selama di tempat menimba ilmu, baik di pesantren maupun di perantauan. Setidaknya, meskipun kita tidak membawakan barang apapun, kita memiliki ilmu yang semoga bisa bermanfaat dan sangat membahagiakan keluarga.

4. Istiqamahkan Kebiasaan Baik.
Selama di pesantren ataupun di daerah rantau, otomatis seorang pembelajar memiliki kebiasaan-kebiasaan atau adat-adat pesantren yang sebaiknya kita bawa juga selama menikmati liburan di kampung halaman. Seperti shalat sunnah, jamaah, belajar, tersenyum dan kebiasaan baik lainnya. Sebab liburan tidak berarti libur juga dari aktifitas yang bisa dilakukan di rumah sebagaimana di pesantren atau di tanah rantau biasa dilakukan.

5. Kembalilah jika Sudah Selesai.
Usahakan kembali pada hari yang masih terang-terangnya, bukan pada malam hari. Sebab tidak baik mengetuk pintu atau gerbang malam hari. Selain itu, jika urusan sudah selesai, sebaiknya tidak berlama-lama sebab masih banyak hal yang bisa kita lakukan untuk memnfaatkan sisa liburan.

Nah, itu beberapa tips yang semoga bermanfaat. Selamat berlibur, Terakhir, jangan bersedih hati bagi yang belum bisa liburan dan mudik bersama keluarga di rumah, berdoalah dan nikmatilah bersamakeluarga di perantauan. Taqaballahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum, wa ja’alna minal ‘aidzin wan fa’izin. Aamiin....

#tipsmudiklebaran #mudiklebaran2018 #mudik1439H

13/06/2018

MUDIK : WAHANA PEMERAT HUBUNGAN MASYARAKAT DI INDONESIA

Bicara pasal lebaran tentu tak pernah jauh dari kata mudik. Sebuah tradisi tahunan yang tak pernah lepas dari masyarakat Indonesia. Mudik merupakan sebuah sikap saling mempererat persatuan dengan terus menyambung hubungan sillaturrahim. Hal ini sesuai dengan kebiasaan masyarakat Indonesia yakni merantau.

Rasa rindu menjadi alasan utama para pemudik. Bertemu dengan sanak saudara juga teman lama di kampung halaman menjadi kebahagiaan tersendiri bagi setiap orang.
Oleh karena itu tradisi mudik di Indonesia tak pernah terhapuskan bahkan berpotensi bertambah jumlah pemudik setiap tahunnya.

Mudik berasal dari Betawi
Kata “mudik” ini berlawanan dengan kata “milir” yang berarti pergi. Sehubungan dengan ini, ada yang berpendapat bahwa kaum urban di Sunda Kelapa sudah ada sejak abad pertengahan. Orang-orang luar Pulau Jawa, mencari nafkah ke daerah ini kemudian menetap lalu kembali ke kampungnya saat hari raya tiba. Karena itu mudik, dalam istilah betawi mengartikan menuju udik (pulang kampung).
Mudik Budaya Agraris

Ada yang mengatakan mudik merupakan tradisi primodial masyarakat petani Jawa. Mereka sudah mengenal tradisi ini sebelum kerajaan Majapahit berdiri. Biasanya, tujuan pulang kampung para petani ini hanya untuk membersihkan kuburan atau yang disebut dengan tradisi nyekar dan doa bersama untuk memohon diselamatkan kampung halamannya dari musibah. Adat ini hanya dilakukan setahun sekali. Hingga kini tradisi nyekar masih banyak ditemukan di Pulau Jawa.
Mudik Sudah Ada Sejak Zaman Nenek Moyang Bangsa Indonesia

Beberapa ahli mengaitkan tradisi ini ada karena masyarakat indonesia merupakan keturunan melanesia juga dari keturunan Yunan, China. Sebuah kaum yang dikenal sebagai pengembara yang menyebar ke berbagai tempat. Pada bulan-bulan baik, mereka akan mengunjungi keluarga di daerah asal. Biasanya mereka pulang untuk melakukan ritual-ritual kepercayaan atau keagamaan mereka.

Pada Kerajaan Majapahit, mudik juga tradisi yang dilakukan keluarga kerajaan. Sejak masuknya Islam, tradisi mudik dilakukan menjelang lebaran. Dalam bahasa Jawa ngoko, mudik juga berarti “mulih dilik”. Tapi, pada tahun 1970 diganti dengan kata “udik” yang juga berarti kampung. Itulah sepenggal sejarah asal-usul sebuah budaya yang kita kenal hingga saat ini, yakni mudik.

Fakta Unik Mudik:
1. Kepadatan Penduduk
Saat musim mudik, sadarkah kita bahwa hampir setengah penduduk kota hilang. Jalan macet pun menjadi lenggang bahkan sepi dari kendaraan, tidak seperti hari biasa yang sangat padat kendaraan pribadinya. Seperti halnya Kota Jakarta yang banyak masyarakat perantau, saat menjelang lebaran pun menjadi sepi akibat ditinggal mudik. Jumlah penduduk DKI Jakarta sendiri berdasarkan data Kementerian Dalam Negeri di awal 2015 yakni sebanyak 9.988.495 jiwa. Berarti saat musim mudik terjadi, sekitar 60 persen penduduk pergi meninggalkan Ibu Kota.

2. Barang Bawaan
Tak lupa baju dan makanan lebaran merupakan barang bawaan yang wajib di bawa saat mudik. Ternyata, sekitar 80 persen dari seluruh pemudik di tanah air memiliki kesamaan dari barang bawaannya saat mudik ke kampung halaman. Rata-rata barang bawaan pemudik adalah makanan dan baju baru untuk berlebaran mendominasi barang bawaan mereka. Hal tersebut pun terlihat dari banyaknya jumlah tas dan dus yang dibawa. Selain itu, satu benda yang tidak pernah luput saat lebaran yakni uang. bagi-bagi uang merupakan ritual wajib yang kebanyakan dinanti oleh anak-anak. Hal ini menjadi kebahagiaan baik pemberi maupun penerima.

3. Kebersihan
Apabila kita perhatikan kebersihan rumah kita, makin banyaknya orang yang berada di dalam rumah tentu sampah yang dihasilkan makin banyak. Hal ini berlaku juga dalam hukum mudik di Jakarta, jika arus mudik tiba warga Jakarta berhasil mengurangi produksi sampah perharinya sebanyak 25 persen. Volume sampah yang normalnya bisanya 5.681,02 ton setiap hari, di akhir Ramadan biasanya volume sampah berkurang hingga 25 persen

Mudik memang menjadi sebuah tradisi wajib bagi para perantau Indonesia. Terbayang betapa bahagianya saat lebaran saling bercengkrama degan sanak saudara yang sangat begitu dirindukan, berpelukan melepas rindu juga bersalaman saling bermaafan.

Selain menjadi sebagai sarana pelepas rindu, mudik juga merupakan wahana pemererat hubungan sillturahim. Tentu kita harus berbangga dengan tradisi mudik lebaran yang hanya ada Indonesia ini. Indonesia negeri berjuta kebudayaan namun tetap menyatu dalam balutan keharmonisan. Dengan ini kita haruslah terus menjaga kelestariannya, agar hubungan antar masyarakat tetap terjalin hingga membentuk sebuah persatuan yang kuat.

Opini Santri oleh : Rike, Zulfa, & Khoir

#selamatmudik2018 #mudiklebaran2018 #mudiklebaran1439H

MEMAKNAI TRADISI MUDIKTeruntuk pembaca yang akan mudik atau sedang dalam perjalanan mudik, semoga tulisan inin menambah ...
13/06/2018

MEMAKNAI TRADISI MUDIK

Teruntuk pembaca yang akan mudik atau sedang dalam perjalanan mudik, semoga tulisan inin menambah wawasan tentang mudik, selamat #mudik2018 #mudik1439H

22/05/2018

Zero Waste Academy: Mari Mengenal Sampah!
Senja telah menggantung di langit barat. Perlahan gelap mulai menghampiri langit Sidoarjo. Saat itulah kami melihat Pak Budi (47 tahun) turun dari motor pinjamannya dengan wajah cerah. Maghrib sudah menjelang, tetapi raut Pak Budi tak sedikitpun menunjukkan lelah. Dengan semangat Pak Budi menyambut kami sambil memperkenalkan tempat kebanggaannya: TPA Jabon. TPA (Tempat Pembuangan Akhir) ini merupakan satu-satunya TPA di Sidoarjo sehingga dapat dipastikan bahwa sebagian besar sampah rakyat Sidoarjo terkumpul di TPA tersebut.
Di sinilah cerita bermula. Dengan semangat Pak Budi menceritakan tentang Zero Waste Academy; sebuah komunitas bentukan pemerintah untuk menanggulangi masalah sampah di Sidoarjo. Berikut hasil wawancara eksklusif kru Imtiyaz kepada Pak Budi, seorang pegawai Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kabupaten Sidoarjo sekaligus aktivis Zero Waste Academy.
Bagaimana Zero Waste Academy Sidoarjo terbentuk?
“Pada awalnya, Zero Waste Academy ini digagas oleh Bapak M. Bahrul Amiq yang pada saat itu menjabat sebagai Kepala Dinas (Lingkungan Hidup) di Kabupaten Sidoarjo. Saat ini beliau sudah pindah ke Dinas Perhubungan. Pada saat itu, tahun 2016, Zero Waste Academy didirikan dan ditujukan khusus untuk kalangan anak muda. Masing-masing kecamatan mengirimkan delegasi untuk diberikan edukasi menganai pengelolaan sampah. Pada tahun 2017, Zero Waste Academy berubah sasaran menjadi kader lingkungan, yaitu masyarakat umum yang aktif dalam kegiatan pelestarian lingkungan.
Mengapa dinamakan Akademi?
“Karena beliau (Pak Amiq) mencoba untuk menformulasikan sesuatu yang baru. Jika biasanya akademi itu terkesan formal, kali ini dicoba untuk menjadikan akademi hidup di masyarakat, tidak lagi di ruang-ruang kelas. Akhirnya, Daerah Sidoarjo dibagi menjadi lima kelompok: Kelompok 1, terdiri dari kecamatan Buduran, Sidoarjo, Candi, dan Tulangan. Kelompok 2, Kecamatan Tanggulangin, Jabon, Krembung, dan Porong. Kelompok 3, Kecamatan Balongbendo, Tarik, Krian, dan Prambon. Kelompok 4, Kecamatan Taman, Sukodono, dan Wonoayu. Kelompok 4, Kecamatan Gedangan, Sedati, dan Waru. Masing-masing desa mengutus 3 kader untuk penggiat lingkungan. Zero Waste Academy meliputi kegiatan persampahan di Sidoarjo dengan harapan bahwa komunitas ini akan membantu pemerintah dalam merealisasikan program Indonesia bebas sampah pada tahun 2020.
Mengapa Akademi dilaksanakan langsung di Masyarakat?
Karena masyarakat harus peduli dalam menanggulangi masalah sampah. Masalah di Sidoarjo adalah padatnya kependudukan, bukan karena angka kelahiran melainkan karena urbanisasi. Maka dari itu, masyarakat menghasilkan sampah yang juga besar. Semua masyarakat di Sidoarjo membuang sampah di TPA Jabon desa Kupang. Jika tidak mulai sekarang diberi edukasi, maka TPA akan cepat penuh, dan menjadi musibah.
Kegiatan apa saja yang dilakukan oleh Zero Waste Academy?
Beberapa kegiatan yang dilakukan adalah Trash Mob, Pembinaan Sampah Beres di Tempat dengan cara briefing, pemberian materi, dan akhirnya memberi edukasi kepada masyarakat. Masih banyak orang yang membuang sampah liar dan membuang sampah di sungai. Setidaknya Zero Waste Academy akan membantu mengurangi hal tersebut. Pemerintah Kabupaten Sidoarjo melalui DLHK menyediakan dan membangunkan beberapa TPST (Tempat Pengolahan Sampah Terpadu), bukan sekedar TPS (Tempat Pembuangan Sampah. TPST tidak hanya menampung melainkan juga mengolah sampah sesuai jenisnnya; basah, kering, dan residu. Harapannya, masyarakat bisa memanfaatkan sampah. Contohnya, sampah organik bisa diolah menjadi kompos, ternak cacing, dan ternak belatung, sedangkan sampah anorganik bisa diolah menjadi barang yang memiliki nilai ekonomis. Dengan begitu, hanya sampah residu yang akan dibuang ke TPA.
Ada Berapakah Jenis Pengelolaan Sampah di TPA dan Apa Pengertiannya?
Ada tiga jenis pengelolaan limbah sampah yang dilakukan di TPA, yakni Open Damping, Controlled Landfill, dan Sanitary Landfill.Open Damping adalah menimbun sampah secara terbuka begitu saja. Jadi sampah hanya dikumpulkan di satu tempat dan menjadi gunung sampah. Cara ini sangat tidak ramah lingkungan karena selain baunya yang menyengat, gunung sampah juga berpotensi untuk longsor selain itu, cairan dari limbah sampah juga berpotensi mencemari aliran air tanah. Sistem kedua adalah Controlled Landfill. Sistem ini merupakan sistem penampungan sampah yang menutupi sampah dengan tumpukan tanah. Misalkan ada sampah setinggi satu meter, maka tumpukan tanahnya juga satu meter. Kemudian ditumpuk sampah lagi, diaratakan, ditumpuk dengan tanah lagi, dan seterusnya. Sistem ini bertujuan untuk mengurangi bau dan mencegah longsornya gunung sampah. Kekurangan dari sistem ini adalah pencemarannya terhadap tanah. Oleh karena itu, sistem yang paling ideal adalah sistem Sanitary Landfill. Sistem tersebut hampir sama dengan sistem Controlled Landfill, tetapi dengan cara mengeluarkan cairan dalam sampah yang akan mencemari tanah sebelum ditimbun dengan tanah. Sayangnya, sistem paling ideal ini tidak mudah untuk direalisasikan serta membutuhkan waktu dan dana yang tidak sedikit.
Apa Pengalaman yang Paling Berkesan bagi Pak Budi Selama Menjadi Pegiat Lingkungan?
Pengalaman berharga yang saya dapatkan adalah bahwa saya tidak pernah merasa lelah, rugi, apalagi menyesal selama berkecimpung di dunia ‘persampahan’ ini. Ketika saya kemanapun pasti ada teman yang bisa dikunjungi. Itu kesan yang mendalam sekali bagi saya.
Apa Pesan Bapak kepada Para Santri Al-Amanah Serta Seluruh Masyarakat Indonesia?
Kenalilah sampah sejak dini. Setelah kenal dan mencintai sampah, kita harus mulai belajar memilah dan mengolah sampah.

Imtiyaz Edisi April 2018

“Merawat Jiwa”Jiwa adalah realita walau tak terlihat indra. Jiwa lebih penting jika memang harus memilih. Badan ini ta i...
03/05/2018

“Merawat Jiwa”

Jiwa adalah realita walau tak terlihat indra. Jiwa lebih penting jika memang harus memilih. Badan ini ta indah karena ada ruh. Tanpa ruh, badan akan menjadi seonggok daging busuk makanan belatung. Memelihara keduanya, jasmani dan rohani adalah amanah. Dengan itu manusia akan menjadi makhluk mulia, termulia dibanding makhluk-makhluk.

Ini adalah sekelumit mukaddimah dalam buku Bapak Pengasuh yang berjudul “Merawat Jiwa, Jalan Kebahagiaan”.

Buku sederhana ini ditulis dengan tujuan sederhana, “sekedar” ingin menggugah dan menumbuhkan kesadaran betapa pentingnya hati dan ruhani serta menumbuhkan semangat untuk bisa menjaga dan merawatnya...

Semoga buku ini bisa memberi manfaat...

02/05/2018

“Buku adalah pengusung peradaban, mesin perubahan, dan perawat ingatan. Tanpa buku sejarah diam, sastra bungkam, sains suram, pemikiran akan terancam.” -AY

02/05/2018

KERTAS: SI PENJELAJAH DI ERA TANPA BATAS
Oleh: Ana Yulvia, S.Si
Seorang Alumnus Pesantren Modern Al-Amanah, Penerima Program Beasiswa Santri Berprestasi
S1-Kimia Universitas Airlangga Surabaya

Kertas; Rahim Peradaban
Kertas memang bukan peradaban tertua, tapi kertas punya tempatnya sendiri di hati banyak peradaban. Merunut pada garis historis, patut untuk diketahui bahwasanya kelahiran dari peradaban umat manusia yang ditandai dengan ditemukannya tradisi tulisan, menjadi bagian utuh dari terciptanya kertas. Temuan Ts’ai Lun pada abad kedua masehi itu telah memelihara ‘janin-janin’ yang kelak menjadi ‘bayi-bayi’ peradaban, yaitu gagasan besar. Gagasan besar dikandung dalam kertas, dirawat ribuan tahun, dan terlahir kembali dalam ribuan aksi sejarah. Tidak berlebihan bila kertas disebut sebagai salah satu media yang bertanggung jawab dalam mempercepat kelahiran peradaban.
Karya-karya agung penulis zaman dahulu pun dapat sampai pada era sekarang, tak luput dari peran kertas sebagai media. Dari kertas berisi teks suci, tindakan-tindakan besar pun bermunculan. Teks suci itu, salah satunya pada abad ke-8 M, menginspirasi Dinasti Abbasiyah memarakkan publikasi ilmiah, dan mendirikan Perpustakaan Bayt al-Hikmah Baghdad, yang menjadi pusat peradaban dunia saat itu. Kertas (yang telah diproduksi oleh industri kertas muslim di Samarkand, Irak, pada abad ke-8 M) menjadi medium maraknya kelahiran peradaban setelah itu.

Era Digital, Kertas Ditinggal?
Derasnya arus digitalisasi berimplikasi besar terhadap tereduksinya peranan dan fungsi kertas. Hal ini merupakan imbas dari dikedepankannya peran teknologi yang sophisticated dengan membentuk suatu realitas maya dan pada akhirnya proses demikian menyebabkan peran kertas terpinggirkan dengan sendirinya. Semua menjadi serba praktis dengan hanya mengklik pada smartphone maupun perangkat elektronik lainnya.
Pertanyaan yang menggelitik pikiran adalah “Apakah peran e-book di masa mendatang akan dapat menggantikan sepenuhnya fungsi dari sebuah buku? Apakah buku menjadi alat pembelajaran dan dokumentasi yang sudah kuno dan tidak bisa diterapkan lagi di masa kini? Apakah sudah saatnya kita menggeser semua buku dan berganti ke hal yang lebih modern?”. Menurut opini saya pribadi hal itu tidak akan pernah terjadi. Kehadiran e-book hanya membawa banyak kebiasaan dan cara berpikir baru dalam budaya membaca, dimana cukup dengan berbekal satu alat baca digital atau e-reader sebesar 7 x 5 inci saja, seseorang dapat menenteng ratusan, bahkan ribuan buku dalam sebuah perjalanan. Pencinta buku pun tidak lagi harus menyediakan ruangan dan rak khusus buku bermeter-meter panjangnya untuk menyimpan koleksinya.
Mungkin e-book akan menjadi sebuah alat yang membuat dunia kita praktis dan akan terus digunakan kedepannya, namun menurut saya modernitas mestilah dipahami secara berimbang. Bukan melulu tentang hal praktis, namun harus disandarkan pada kebutuhan secara manusiawi. Kemudahan yang ditawarkan oleh perangkat teknologi memang tidak bisa dihindari, tetapi tidak dapat kita pungkiri bahwa kemajuan teknologi tidak selalu berbanding lurus dengan kemajuan peradaban ataupun keilmuan. Dapat dikatakan di satu sisi, kemajuan teknologi mampu menjadi bumerang yang justru merugikan bagi masyarakat sebagai pengguna. Hal tersebut, menjadi alasan kuat untuk tetap mempertahankan fungsi kertas dalam kehidupan masyarakat.
Selain itu, kertas sungguh memiliki kekuatan magis yang tidak akan bisa tergantikan dengan alat pengganti apapun. Kertas-kertas pada buku konvensional yang kita pegang secara fisik, serta bau unik dari kertas buku itu sendiri terkadang adalah hal yang menjadi kekuatan dari sebuah buku. Ketika kita berbicara isi dari sebuah kumpulan tulisan yang sangat kita kagumi, yang benar-benar dapat menghipnotis kita dengan isinya, membuat kita terbang ke dunia lain, maka sebuah e-book tidak akan pernah bisa menggantikan efek magis dari membaca, mencium bau khasnya, serta menyentuh langsung sebuah kertas. Itulah alasan dari opini penulis kenapa sangat yakin bahwa buku konvensional tidak akan pernah hilang dan tergantikan.
Kertas memang bisa lebur dilabrak bencana, tidak seperti wadah digital. Namun, bila bencana digital terjadi suatu hari nanti, peradaban kertas menjadi bank data yang masih bisa dirujuk. Mereka yang menggoreskan gagasan lewat kertas tak akan tersela oleh notifikasi apapun. Pemikiran-pemikiran yang dicecahkan melalui tulisan itu secara tidak langsung telah mengabadikan seseorang dalam sejarah manusia. Sebagaimana dikatakan Pramudya Ananta Toer, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, Ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah sebab menulis adalah bekerja untuk keabadian”. Bahkan, gagasan yang menari di atas kertas yang biasa kita kenal dengan judul “Max Havelaar” mampu menghancurkan kolonialisme Belanda dan menjadi pemercepat kemerdekaan Indonesia.
Atas refleksi inilah mengapa kita perlu untuk memahami peran kertas secara subtansial. Arus digitalisasi dan modernitas yang mengemuka mestinya tidak serta merta meminggirkan peran kertas. Sadar ataupun tidak, bahkan sumbangsih atas keilmuan dan kemajuan peradaban manusia yang mengantarkan pada era digital tak luput dari peran kertas sebagai media yang mengakomodir berbagai literatur penelitian dan akademik ilmuan maupun pakar teknologi. Maka dari itu, adalah “Ibarat kacang lupa pada kulit” apabila pada era sekarang ini peran kertas justru dipinggirkan bahkan ditinggalkan.

Maka, Biarkan Sebuah Buku Bercerita
Bila kita berbicara sejarah maka sudah barang tentu kita berbicara bagaimana sebuah buku bercerita. Seorang yang terkungkung tubuhnya tidak akan pernah merasa dirinya terpenjara jikalau jiwanya telah terlanjur terbang bersama buku yang dibacanya. Seorang anak kecil yang berada di kamarnya sendiri terkadang jiwanya sudah berada di istana megah, ikut serta hadir dalam pesta bersama cinderella karena membaca sebuah dongeng. Seorang gadis perempuan belia dalam hatinya sudah berjalan menuju altar pernikahan bersama suaminya yang sempurna karena membaca sebuah novel romansa. Seorang mahasiswa yang ruhnya sudah di masa depan berdiri di antara ribuan orang yang memberinya selamat dari pencapainnya karena menerapkan ilmu yang dibacanya dari buku di pojok perpustakaan.
Buku sesungguhnya telah menjadi candu yang sangat kuat bagi otak manusia. Membuat mimpi-mimpi liar manusia berhamburan keluar tanpa rantai pengekang dari kepalanya. Buku telah membawa kita ke cerita para utusan Tuhan yang begitu heroiknya melangkah melewati setiap rintangan yang ia terima. Buku telah menjadi pendistribusi non-resmi dari seluruh ideologi yang ada di dunia.
Sebuah buku terkadang dapat mengubah pemikiran seseorang yang begitu kaku menjadi lebih fleksibel. Sebuah sudut pandang yang sempit menjadi lebih terbuka. Pada titik itulah akan disadari bahwa kata-kata “buku adalah jendela dunia” bukanlah omong kosong orang mabuk. Buku dapat membawa seseorang ke Paris, Antartika, Mars, Hutan, hingga alam fantasi. Buku memberikan pengetahuan yang tidak akan pernah seseorang tahu sebelumnya. Buku telah membantu mengetahui sifat-sifat manusia berdasarkan tempat tinggalnya tanpa jasad kita berada disana. Buku telah membantu mengetahui keadaan alam di setiap sudut dunia tanpa harus terbang mengelilinginya.

“Buku adalah pengusung peradaban, mesin perubahan, dan perawat ingatan. Tanpa buku sejarah diam, sastra bungkam, sains suram, pemikiran akan terancam.” -AY

@Majalah Imtiyaz Edisi Februari 2018-

Address

Junwangi - Krian
Sidoarjo
61262

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Imtiyaz posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Imtiyaz:

Category

Nearby media companies


Other Magazines in Sidoarjo

  • Beat Magz

    Beat Magz

    SMKN 2 BUDURAN
  • TruckMagz

    TruckMagz

    SectionOne F7-F11 Jl. Rungkut Industri I, Kendangsari, Tenggilis Mejoyo
Show All