24/04/2026
*Kepala Dompet Daging Ala Sikka*
_Gais, dengar baik-baik...
Di tanah Sikka, ada gelar yang tak ditulis di KTP, tapi ditimbang di meja makan: *Kepala Dompet Daging*.
Dialah bapa, mama, atau tua adat yang dompetnya boleh tipis,
tapi tangannya tak pernah kering memberi.
Pisaunya tak pernah tumpul memotong,
dapur kayunya tak pernah dingin apinya.
Inilah kepala dompet ala Sikka,
yang percaya: *tamu datang bukan bawa beban, tapi bawa berkat*.
Maka daging babi, ayam kampung, ikan laut,
wajib ngebul di atas piring rotan.
“Gais, makan dulu!”
Kalimat sakti yang bikin malu pulang kalau perut masih kosong.
Karena di Sikka, pantang ada tamu pulang dengan tangan hampa,
pantang ada cerita “kami ke sana, tapi cuma minum air putih”.
Kepala dompet daging tak hitung untung rugi.
Dia hitung: berapa senyum yang pulang,
berapa doa yang dititipkan tetamu.
Sebab dia tahu warisan leluhur: *wawi nean tahan no’ong, atan naha no’ong* –
babi besar habis dimakan, nama baik tinggal selamanya.
Maka jangan heran,
di rumah kepala dompet daging, hidangan tak pernah habis.
Habis sepaha, turun paha lain.
Habis hati, masih ada dendeng.
Sampai anak kecil pun tahu: kalau main ke rumahnya,
pulang-pulang p**i minyak, tas kresek isi berkat.
Itulah adat kami.
Bukan pamer, tapi pelihara _wue-wari_: persaudaraan.
Bukan boros, tapi percaya: *tangan yang memberi takkan kekurangan*.
Gais, kalau ke Maumere, cari rumah yang asap dapurnya tebal.
Ketuk pintu, bilang “tabe”.
Di situ ada kepala dompet daging,
yang ajarkan kita: kekayaan sejati bukan isi brankas,
tapi isi piring yang dibagi tanpa dihitung.