02/01/2026
Dulu kita pikir, bekerja di luar negeri itu soal “mengubah nasib” dan bikin bangga keluarga.
Tapi makin lama, yang terasa justru beban yang ikut membesar.
Karena setiap kali dengar kabar dari kampung, selalu ada ekspektasi yang tak pernah kita minta:
“Pulang nanti rumahnya harus bagus ya.”
“Beli tanah d**g, biar kelihatan sukses.”
“Masa kerja jauh-jauh cuma gitu doang hasilnya?”
Perlahan-lahan, standar yang tidak pernah kita sepakati itu berubah jadi tekanan.
Bikin banyak perantau termasuk TKI/PMI takut pulang.
Bukan karena nggak cinta keluarga…
tapi karena takut dicap gagal hanya karena belum memenuhi imajinasi orang lain.
Yang lebih menyakitkan?
Kita akhirnya ikut masuk ke lingkaran itu.
Mulai memaksa diri terlihat “berhasil”, ikut-ikutan standar yang sebenarnya nggak realistis.
Nambah jam lembur, potong makan, mengorbankan tabungan…
hanya demi pulang dengan citra yang “dipandang orang”.
Padahal yang menilai itu kadang cuma orang-orang yang tidak benar-benar peduli proses dan perjuangan kita.
Mereka hanya lihat hasil—bukan luka, bukan lelahnya.
Dan jujur saja…
tekanan terbesar itu sering datang dari diri kita sendiri.
Kita yang takut dianggap gagal.
Kita yang membandingkan diri.
Kita yang lupa bahwa perjalanan setiap orang itu beda.
Kalau kamu lagi ada di fase ini:
ingat…
hak kamu untuk pulang tidak pernah ditentukan oleh berapa banyak barang yang kamu bawa.
Tapi oleh dirimu sendiri yang selama ini kamu rawat, kamu tahan, kamu kuatkan jauh dari rumah.
Pulang itu bukan soal pencapaian.
Pulang itu soal kembali menjadi manusia yang utuh.
Apa kamu merasakan hal yang sama ??